"Memangnya kalian bekerja di kantor yang sama hingga urusan bisnisnya harus diselesaikan berempat?!" Suara Henry terdengar sedikit sinis. Entah apa yang membuat moodnya sedikit buruk hari ini. Masalah pribadi, mungkin?

"Aku memang sekantor dengan Donghae dan Kyuhyun. Siwon sekantor dengan Youngwoon dan Hangeng hyung." Jongwoon terpaksa menjawab saat mendapati tak satupun dari teman-temannya yang berencana membuka mulut, "Dan sepertinya kau terlihat agak gemuk, Henry-ya. Pipimu semakin chubby,"

Henry hanya memutar bola mata dan mengerucutkan bibirnya mendengar kalimat terakhir Jongwoon. Sepertinya kalimat 'kau terlihat gemuk' ialah alasan mengapa mood lelaki imut itu agak buruk. Jika diingat-ingat, Jongwoon adalah orang ketiga yang menyebutku seperti itu setelah Jungsoo hyung dan Sungmin hyung, pikir Henry.

Rate: T

Genre: Romance, Friendship

Cast: Super Junior

Pairing: All OFFICIAL pairing

Warning!AU, BoyxBoy, Gaje plot, typo(s), Umur tidak sesuai(?) de el el

DON'TLIKE, DON'T READ!

Love Story © Jvnq

Chapter2 : New Day, New Life

Suara ketukan pada daun pintu yang disusul derap langkah seseorang menuruni tangga memecah keheningan pagi di kediaman keluarga Kim. Suara ketukan itu berhenti setelah Kim Jaejoong, pria berwajah cantik yang juga anak sulung di keluarga tersebut, membuka pintu setelah sebelumnya berlari dari kamarnya yang terletak di lantai dua. Detik berikutnya, terdengar suara alat-alat masak yang beradu, yang selanjutnya kita ketahui pasti akibat aktifitas masak sang ibu.

"Ternyata kau Jongwoon-ah, ku kira siapa yang datang pagi-pagi begini," Jaejoong menyapa pria tampan yang tadi mengetuk pintu, Kim Jongwoon, seraya mengatur napasnya. "Menjemput Ryeowook? Masuklah, dan pergi ke kamarnya. Anak pemalas itu sepertinya belum bangun."

Jongwoon mengucapkan terima kasih dan menganggukan sedikit kepalanya, kemudian setelah Jaejoong bergeser dan memberinya jalan, ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar Ryeowook yang juga terletak di lantai dua, bersebelahan dengan kamar Jaejoong. Terdiam sekitar satu menit, Jongwoon memutuskan untuk membuka pintu kamar Ryeowook setelah sebelumnya mendekatkan telinganya pada daun pintu dan tak mendengar suara apapun. Mungkin kata-kata Jaejoong hyung benar, batin lelaki itu.

Jongwoon segera menyesali keputusannya saat akhirnya ia terdiam mematung di depan pintu yang terbuka. Di sana, sekitar dua meter darinya, tampak Ryeowook tengah mematung juga di hadapan lemari pakaian yang terbuka. Ia hanya memakai celana sekolahnya, sementara tubuh bagian atasnya tidak tertutup sehelai benang pun. Tampaknya Ryeowook baru saja selesai mandi dan sedang mencari kemeja sekolahnya hingga kemudian dikejutkan oleh kehadiran Jongwoon yang membuka pintu kamarnya. Suasana canggung seketika menyelimuti ruangan tersebut.

LoveStory © Jvnq

Setelah menatapi kepergian Jongwoon, Jaejoong segera melangkahkan kakinya menuju dapur kemudian duduk di salah satu kursi yang tersedia di sekeliling meja makan. Tampak ibunya tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga mereka.

"Siapa yang datang, Joong-iie?"

"Jongwoon, Eomma. Dia menjemput Ryeowook." Kim ahjumma mengangguk mendengar jawaban Jaejoong, ia pun melanjutkan acara memasaknya dengan riang. Lima menit kemudian, Kim ahjussi bergabung bersama mereka.

LoveStory © Jvnq

"Mengapa kau kemari, hyung?"

Tidak nyaman dengan kecanggungan yang tercipta, Ryeowook memutuskan untuk membuka percakapan seraya kembali menekuni kegiatannya, mencari kemeja sekolahnya. Lagipula untuk apa merasa canggung seperti itu, keduanya sama-sama lelaki, kan? Walaupun tak dapat dipungkiri, Ryeowook agak malu saat Jongwoon melihatnya topless. Pipinya sempat merona tadi.

"Oh? Itu… aku ingin mengajakmu berangkat bersama. Jaejoong hyung menyuruhku langsung ke kamarmu karena mengira kau masih tidur," jelas Jongwoon setelah berhasil mengendalikan ekspresi serta jantungnya yang tadi berdetak tak karuan. Ia benar-benar tidak menyangka Ryeowook memilik punggung yang ehem―indah. Kulitnya nampak begitu mulus, dan tetesan air yang menghiasi punggung itu menambah keindahannya, membuat Jongwoon ingin―cukup, Kim Jongwoon! Apa yang kau pikirkan?!

"Oh. Baiklah, bisa kau pegang ini sebentar? Aku ingin memasang dasiku." Ryeowook menyerahkan tas serta jas sekolahnya pada Jongwoon setelah selesai berpakaian. Ia lalu mengambil dasi yang tergeletak di meja belajarnya kemudian berjalan menuju ruang makan dengan Jongwoon yang menyusul di belakangnya.

"Yaa, Jongwoon-ah! Kau menjemput Ryeowook? Ayo sarapan bersama kami," suara Kim ahjussi menyapa telinga keduanya saat mereka memasuki ruang makan. Beliau tampak tampan dalam balutan jas formal, tak kalah dengan anak-anaknya meskipun usianya sudah tak lagi muda. Jongwoon mengangguk, kemudian menempatkan dirinya di salah satu kursi tepat di samping Jaejoong, masih memegang tas milik Ryeowook sementara pria imut itu duduk berhadapan dengannya.

LoveStory © Jvnq

Usai sarapan bersama, sekitar pukul setengah tujuh, Ryeowook dan Jongwoon pun berangkat. Mereka berjalan bersisian menuju halte yang terletak tak jauh dari rumah Ryeowook. Keheningan menguasai keduanya, seolah tak satupun dari mereka yang berniat berbicara atau sekedar mengeluarkan suara.

"Jongjin kemana, hyung?"

Ryeowook membuka percakapan setelah mereka menempuh setengah perjalanan menuju halte. Tak biasanya mereka berdua seperti ini, padahal dulu bahan pembicaraan mereka seolah tak pernah habis. Sekarang? Mereka justru tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aneh sekali.

"Ia berangkat lebih pagi, katanya ada urusan. Lagipula ini hari pertamanya di sekolah Korea." Hening kembali menguasai usai Jongwoon mengutarakan jawabannya. Hingga akhirnya mereka tiba di halte hampir bersamaan dengan kedatangan bus yang akan membawa mereka ke sekolah.

Ryeowook naik terlebih dulu, disusul Jongwoon tepat di belakangnya. Bus tampak tidak begitu penuh, sebagian besar penumpangnya ialah murid yang akan berangkat sekolah. Ada juga beberapa pegawai kantoran yang terlihat masih mengantuk. Ryeowook berjalan menuju bangku paling belakang. Di sana hanya ada satu orang, yang selanjutnya teridentifikasi sebagai laki-laki berpipi mochi yang memakai hoodie abu-abu, dengan headset putih yang menggantung di kedua telinganya. Laki-laki itu tengah menatapi jalanan yang mulai ramai oleh lalu-lalang kendaraan yang melintas. Pandangannya teralihkan sedetik setelah Ryeowook mendudukkan diri di sebelahnya.

"Ryeowook-ah? Kebetulan sekali kita naik bus yang sama. Kau dengan sia—"

Perkataan laki-laki yang ternyata Henry Lau itu terpotong begitu saja saat menyadari bahwa pria yang duduk di sisi kiri Ryeowook ialah Jongwoon, laki-laki yang menjadi bahan pembicaraan hampir seluruh siswi di SM High School sejak kedatangannya pertama kali. Lelaki tampan yang digosipkan memiliki suara yang indah serta kemampuan bermain basket yang cukup hebat, lelaki yang baru ia sadari memiliki mata yang begitu menawan. Ya, sepasang obsidian yang sewarna dengan langit tengah malam yang menarik perhatiannya dalam sekejap saat mereka tak sengaja bertatapan.

"Kau kenapa, Henli-ya?" Ryeowook mengerutkan dahinya bingung karena ucapan Henry yang terhenti tiba-tiba. Ia kemudian menyusuri arah pandang lelaki imut itu dan menemukan Jongwoon tengah menatap Henry. Apa temannya ini menyukai Jongwoon? Ryeowook mengangkat bahu kemudian melambaikan tangan tepat di depan wajah Henry, mengembalikan kesadarannya.

"A-apa? Ti-tidak. Aku… aku tidak apa-apa, Ryeowook-ah," jawab Henry seraya tersenyum kemudian memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona merah yang muncul di kedua pipi chubby-nya. Ryeowook menatap Jongwoon yang juga membalas tatapannya, kemudian mengangkat bahu dan bersandar pada sandaran bangku penumpang, memejamkan matanya, menikmati lagu milik boyband yang tengah merajai chart-chart musik di Korea, Shinhwa, yang diputar sepanjang perjalanan menuju sekolah.

Love Story © Jvnq

Ryeowook tengah berusaha menulikan pendengarannya dari kasak-kusuk pembicaraan siswa-siswi SM High School yang melihatnya berjalan berdampingan bersama Jongwoon. Huh... sepertinya Jongwoon benar-benar populer di sekolah ini, padahal belum genap seminggu ia bersekolah di sini. Memangnya apa sih kelebihan pemuda itu selain ukuran kepalanya yang di atas rata-rata? *plakkk '-'

"Eum, aku... ke kantin dulu ya Jongwoon hyung, Henry-ya. Kalian duluan saja." Ryeowook langsung berlalu begitu melihat anggukan dari kedua orang itu. Sesampainya di kantin, ia duduk di salah satu meja dan menelungkupkan kepalanya. Uh, ia memang tak pernah suka menjadi pusat perhatian semua orang. Itu seperti... ada yang salah dengan pakaianmu, atau wajahmu, atau bahkan dirimu sendiri. Dan Ryeowook tidak nyaman dengan perasaan seperti itu.

"Apa kau Kim Ryeowook?" Suara seorang gadis berhasil membuat Ryeowook mengangkat kepalanya. Ia mengerutkan keningnya, berusaha mengingat siapa gerangan gadis cantik ini. "Aku Kwon Yuri, dari kelas XI-A."

" , aku Ryeowook. Ada apa mencariku?" Pemuda itu merasa ia sama sekali tak ada urusan dengan gadis ini, mengenalnya pun tidak.

"Kau... ada hubungan apa dengan Jongwoon oppa?"

Eh? Untuk apa gadis ini menanyakan kura-kura bodoh itu? Apa jangan-jangan Jongwoon hyung punya hutang yang belum dibayar? Atau mungkin gadis ini ingin meminta pertanggungjawaban? Heuh, dasar kura-kura mesum! Kira-kira begitulah pemikiran bodoh seorang Kim Ryeowook.

"Aku hanya... tetangganya." Ya, tetangga. Memang benar, kan? Ryeowook tak ingin membayangkan apa yang akan dilakukan Yuri jika tahu kalau ia dan Jongwoon ialah sahabat sejak kecil. Bisa saja gadis itu melakukan sesuatu padanya, kan?

"Benarkah? Kalau begitu, istirahat nanti... bisa aku titip sesuatu untuknya?" Yuri tampak senang, matanya begitu berbinar layaknya seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan es krim gratis.

"Aku juga ya, Ryeowook-ssi?" —Seul Gi, XI-A.

"Aku juga." —Hyoyeon, XI-D.

"Aku." —Sunny, XI-E.

"Aku juga, ya?" —Sulli, X-A.

"Aku sekalian deh, Sunbae." —Luna, X-C.

"Aku boleh, kan?" —Jessica, XII-B.

"Eh? Aku juga deh." —Moon Geun Young, XII-E

Ryeowook tampak kebingungan menghadapi permintaan gadis-gadis itu. Huh, apa Jongwoon hyung se-populer itu hingga para sunbae dan hoobae saja tertarik padanya? Dan lagi, apa ia bisa membawa 'sesuatu' yang bisa dibilang cukup banyak itu? Mau tak mau, Ryeowook mengangguk.

"Eum, baiklah. Simpan saja di lokerku. Aku akan mengambilnya saat waktu pulang nanti." Pemuda itu tersenyum memandang gerombolan gadis yang menjauh, yangsebelumnya sudah mengucapkan terima kasih padanya terlebih dahulu. Ia kemudian beranjak menuju kelasnya karena bel tanda masuk sudah berbunyi.

oOo

Waktu istirahat telah tiba. Para siswa berbondong-bondong menuju kantin guna mengisi tenaga mereka setelah menerima pelajaran yang bagaikan 'neraka dunia' bagi sebagian di antaranya. Ada juga yang tetap di kelas, baik mengerjakan tugas untuk pelajaran berikutnya ataupun mengisi waktu dengan tidur. Sementara di lapangan basket sekolah, tampak Jongwoon, Donghae, Kyuhyun, dan Siwon tengah bermain basket. Jongwoon satu tim dengan Donghae, sementara Kyuhyun dengan Siwon. Di pinggir lapangan, terlihat Ryeowook, Kibum, Heechul dan Hyukjae tengah menonton permainan mereka.

"Sepertinya kau sudah lama mengenal Ryeowook ya, Jongwoon hyung?" Siwon membuka pembicaraan. Jongwoon hanya mengangguk sebagai respon, ia masih berusaha untuk merebut bola dari Kyuhyun. "Sejak kapan?"

Jongwoon berhenti sejenak, bola sudah ada di tangannya. "Sejak lahir," jawabnya singkat. Kyuhyun yang tadinya ingin memanfaatkan keadaan untuk merebut kembali bola dari tangan Jongwoon malah terjerembab karena Jongwoon sudah terlebih dahulu berpindah. Lelaki itu men-dribble beberapa kali untuk selanjutnya melemparkan bola ke arah ring. Dan... masuk!

Siwon mendecih sementara Jongwoon melayangkan seringaiannya—yang sukses membuat beberapa siswi di sana berteriak histeris—kemudian ber-highfive ria dengan Donghae. Gerutuan terlontar dari bibir Kyuhyun yang masih terduduk lesu.

"Huh, apa sih bagusnya Jongwoon hyung? Ukuran kepalanya saja tidak normal," tukas Ryeowook sadis. Ia memutar bola matanya kala mendengar teriakan histeris di belakangnya. Kalau saja ia tak memiliki belas kasih, mungkin ia akan melempar pisau ke arah leher gadis-gadis itu agar mereka berhenti mengeluarkan suara. "Tsk! Mereka benar-benar berisik!"

"Aish, kau ini! Jongwoon itu tampan, tahu! Ia memiliki pesona tersendiri, terutama dari matanya. Aku serasa akan meleleh saat ia menatapku dengan matanya yang indah itu." Ryeowook berpura-pura ingin muntah mendengar jawaban Heechul, dibalas lirikan tajam dari sang diva.

"Sesuai perjanjian, Siwon, Kyu. Karena kalian kalah, kalian yang beli makanan," Donghae berucap seraya mengatur napasnya. Walaupun tidak bermain serius, tetap saja menguras tenaga, bukan?

"Tsk! Baiklah, baiklah." Siwon menarik Kyuhyun agar pemuda penyuka game itu berdiri. Ia kemudian menyeretnya menuju kantin, masih dengan gerutuan yang terlontar dari mulut Kyuhyun.

"Hey! Aku titip minuman, ya!" Teriak Heechul yang disambut anggukan dari keduanya.

"Boleh aku duduk di sini?" Tanya seseorang yang membawa kotak makan berwarna biru.

"Eoh? Henry-ya? Aish, duduklah. Kau tak perlu meminta izin," ucap Ryeowook seraya menggeser duduknya, memberi ruang di antara ia dan Hyukjae. Henry mengangguk kemudian duduk di sana setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih.

"Woaa~ Kau bawa apa Henry-ya?" Donghae berujar antusias. Ia menerima botol air dari sang kekasih, Hyukjae, kemudian duduk tepat di hadapan pemuda hiperaktif itu.

"Sushi, eh?" Jongwoon tiba-tiba duduk di depan Ryeowook, mengejutkan pemuda manis itu. Henry mengangguk.

"Aku boleh minta tidak, Henry-ya?"

"Ya! Heechul hyung! Tumben sekali kau meminta terlebih dahulu, biasanya juga langsung ambil saja." Kyuhyun yang baru tiba langsung mengomentari sikap Heechul yang menurutnya aneh itu. Seorang Kim Heechul bersikap sopan? Peristiwa itu sepertinya harus dimasukkan dalam Guinness Book of World Record. *author ditabok Heechul*

"Sudahlah kalian, ini hyung, silakan ambil." Henry menyodorkan kotak bekalnya pada Heechul, dan pemuda cantik itu langsung mengambil satu sushi.

Pada akhirnya mereka memakan bekal Henry bersama-sama. Kebetulan sekali pemuda berpipi mochi itu membawa banyak. Siwon juga membagikan minuman serta cemilan yang ia dan Kyuhyun beli di kantin sebelumnya.

"Aish, kau ini seperti anak kecil. Membuka minuman kaleng saja tidak bisa," komentar Jongwoon melihat Ryeowook yang meminta bantuan pada Kyuhyun. Pemuda manis itu tampak menghisap ibu jari kanannya yang terluka.

"Tanganku lelah karena hukuman mengangkat tangan tadi, tahu!" ujar Ryeowook seraya mengerucutkan bibirnya. Astaga, tak tahukah kau jika para 'seme'—kecuali Jongwoon, Donghae, Siwon dan Kyuhyun tentu saja—tengah menatapmu dengan tatapan 'lapar'?

"Salah sendiri tidak mengerjakan tugas," ucap Jongwoon santai. Ya, saat pelajaran Sejarah tadi, Ryeowook memang tak mengerjakan tugas karena lupa. Ia dihukum diluar kelas, mengangkat kedua tangannya sepanjang jam pelajaran.

"Aish, kau ini tidak pengertian sekali, sih!" ucap Ryeowook sinis kemudian menendang tubuh Jongwoon, membuat lelaki tampan itu terdorong ke belakang hingga posisi terlentang. Ia mendelik tatkala riuh tertawaan terdengar dari teman-temannya. Ia hanya mendecih kesal. Sementara Henry menatap keduanya dengan pandangan yang tak bisa diartikan.

oOo

Jongwoon tampak menggerak-gerakkan kakinya kesal. Sudah lima belas menit ia berdiri di dekat gerbang untuk menunggu Ryeowook yang katanya sedang mengambil sesuatu yang tertinggal. Tsk! Memang apa sih yang ketinggalan sampai selama ini? Apa pemuda mungil itu meninggalkan seekor gajah dan kesulitan untuk membawanya?

Mata Jongwoon melebar—walau tetap saja terlihat sipit—saat melihat Ryeowook tengah membawa tumpukan kotak dengan kedua lengannya. Saking tingginya tumpukan itu, Jongwoon hanya bisa melihat helaian rambut serta sepasang mata karamel dari keseluruhan kepala Ryeowook. Darimana ia mendapatkan semua itu? Seingatnya, ulang tahun Ryeowook sudah berlalu sekitar sebulan yang lalu.

"Ini semua milikmu?" tanya Jongwoon begitu Ryeowook sampai di hadapannya. Ia mengangkat sebelah alisnya saat Ryeowook menggelengkan kepala. Ia pun mengambil separuh dari jumlah kotak yang dibawa pemuda itu, hitung-hitung meringankan beban pemuda itu, kan? "Lalu?"

"Ini untukmu," ucap Ryeowook terengah. Ternyata membawa kotak-kotak dengan beragam ukuran, warna serta hiasan itu dari lokernya menuju gerbang cukup menguras tenaganya. Huh, Jongwoon harus membayarnya, nih. Mungkin dengan semangkuk jajangmyeon, ramyun, sushi, dan beberapa minuman cukup untuk hal ini. "Dari para penggemarmu."

"Penggemar?" Jongwoon mengernyit. Memangnya dia punya penggemar? Artis saja bukan. Laki-laki itu mengangkat bahunya kemudian berjalan meninggalkan Ryeowook. "Ya sudahlah, ayo pulang."

"A-apa? Hei! Setidaknya bantu aku membawa semua ini! Ini kan milikmu!"

oOo

"…lat, surat, coklat lagi, bunga, jam tangan, sapu tangan. Eum.. apa ini?"

Jongwoon tersenyum tipis mendengar sayup suara Ryeowook yang tengah sibuk dengan acara 'mari mengidentifikasi hadiah dari fans Kim Jongwoon' itu. Mereka kini tengah berada di kamar Jongwoon, tidak sih, Jongwoon tengah di dapur membuat minuman. Jongjin belum pulang, ada kerja kelompok di rumah teman katanya─ia memberitahunya saat berangkat sekolah tadi.

"Woaa, kau dapat strap berbentuk awan dengan ukiran namamu, Hyung!"

Jongwoon mengernyit saat ia memasuki kamarnya dengan dua buah gelas berisi minuman di tangannya. Di sana, di atas ranjangnya lebih tepatnya, sseorang Kim Ryeowook tengah memandang sebuah strap dengan mata berbinar. Aish, bisakah kau kendalikan sedikit keimutanmu itu, Ryeowook-iie? Jongwoon berujar dalam hati.

"Kau menyukainya? Kalau begitu untukmu saja." Ucap Jongwoon seraya menyodorkan gelas ke arah Ryeowook. Laki-laki manis itu meraihnya kemudian meminumnya.

"Aku memang menyukainya. Tapi, tidak, terima kasih Hyung. Aku bias diamuk fans yang memberikan ini jika ketahuan aku yang memakainya."

"Kau tinggal bilang aku memberikannya padamu, Ryeonggu."

"Kau ini, kau akan dicap sebagai orang yang tidak menghargai pemberian orang lain. Sudah, ini akan tetap menjadi milikmu," ucap Ryeowook dengan nada final. Ia kemudian menaruh strap tersebut di atas nakas yang terletak di samping tempat tidur. "Jongwoon hyung, aku menginap, ya? Aku mengantuk dan malas pulang ke rumah."

Jongwoon lagi-lagi mengernyit. Padahal kan rumahnya bersebelahan denganku, mengapa malas pulang? Jongwoon menatap Ryeowook yang kini telah membaringkan tubuhnya di atas ranjang Jongwoon seraya memeluk guling. Tampak nyaman dan 'like a baby'. Laki-laki itu menghela napas kemudian bergerak untuk merapikan hadiah-hadsiah yang telah Ryeowook bongkar. Ia juga membuang kotak-kotak pembungkus hadiah tersebut

Selang setengah jam, tepat pukul sembilan malam, Jongjin pulang dengan raut lelah yang begitu kentara di wajahnya. Ia terkejut begitu melihat sosok Kim Ryeowook tengah tertidur pulas di atas ranjang kakaknya.

"Loh? Ryeowook hyung…"

"Ia menginap di sini, aku tidur denganmu, Jongjin-ah."

Kim Jongjin mengangguk, sudah terlalu lelah untuk sekedar berdebat dengan sang kakak. Jongwoon menatap sang adik yang menyeret langkahnya menuju kamarnya. Kemudian ia mengalihkan pandangan menuju laki-laki manis yang kini berubah posisi dalam tidurnya. Ia tersenyum sendu, kemudian melangkah mendekat. Laki-laki itu membungkuk, tampak sedikit ragu, kemudian mendaratkan bibir kissablenya di dahi Kim Ryeowook.

"Selamat tidur, Ryeonggu."

To be continued

Annyeong'-')/ saya bawa lanjutan fic ini '-'

Gomawo untuk yang sudah membaca, memfollow, dan memfavorite fic abal ini, terlebihyang sudah berbaik hati mereview, saya seneng baca reviewnya entah kenapa xD Dan maaf kalo lanjutannya lama banget, saya sibuk *dilempar

Dan fic ini saya ubah setting waktunya, jadi tahun kedua ya, bukan tahun terakhir'-'

Akhir kata, do you wanna build a snowman? *diinjek

Maksudnya, do you wanna gimme some reviews? *aegyo gagal