.
Chapter II
Lied and the Truth
Tanggal 5 September 2020.
Hari ini aku memeriksakan kembali diriku ke rumah sakit. Dokter sudah sering kali memvonis diriku, akan tetapi kemarin aku dengar ada seorang yang mengidap penyakit ini sembuh.
'Mungkin masih ada harapan untukku,' batinku.
Sekarang kami sudah berada di semester 3, dan Gumi hanya tinggal 2 smester lagi dia lulus. Mungkin ini sedikit membuatku bahagia, karena aku sangat iri padanya. Dia sangat cerdas dengan nilai ujian yang sangat bagus sekali. Tetapi aku curiga dengan nilai dia, karena selama ini aku sering melihat dia hanya bermain-main saja. Dan dia selalu meminta sesuatu kepada Len.
Selama 3 smester terakhir, aku dan Len selalu bersama. Aku selalu membuatkan dia bekal, dan dia selalu menerimanya. Meski dengan wajah yang cukup dingin. Kami berbicara banyak, meski dia lebih sering menceritakan Gumi.
Keesokan harinya, Len datang apartemenku dan mengajakku untuk pergi besok ke pantai. Besok libur karena akan diadakan rapat, Universitas kami akan mengadakan bulan seni, yang akan diadakan 2 bulan lagi. Akan tetapi aku menolak, karena aku sangat takut dengan pantai dan juga laut. Saat aku berumur 10 tahun, aku hanyut terbawa ombak. Saat itu aku diajak oleh pamanku bermain di tepi pantai untuk memancing, akan tetapi saat itu cuaca tiba-tiba menjadi buruk. Aku tergelincir dan terjatuh ke dalam laut, dan terseret oleh ombak sejauh 20 meter dari pantai. Saat itu aku berfikir akan mati saja, akan tetapi ada seorang laki-laki menyalamatkanku. Samar-samar wajah orang yang menyelamatkanku mirip dengan Len, aku pernah menanyakan ini. Akan tetapi Len mengaku tidak pernah ke pantai sebelumnya.
Len terlihat kecewa.
Aku mencari ide lain agar Len tidak terlihat kecewa lagi.
"Hmm, aku ingin sekali ke rumahmu, bagaimana keadaan orang tuamu?" tanyaku.
Len terlihat murung.
"Sebenarnya orang tuaku sudah lama meninggal. Saat orang tuaku ingin pergi menghadiri pesta pernikahan saudaraku, Pesawat yang ditumpanginya terbakar dan meledak di udara dan jatuh di laut. Sampai sekarang jasad mereka belum di temukan," ucap Len sambil meneteskan air mata.
"Ma-maaf, bu-bukan maksudku," ucapku.
"Tidak masalah, aku berhutang budi kepada orang tua Gumi yang menyekolahkanku dan membiayaiku selama ini," kata Len.
'Ja-jadi begitu,' batinku.
Setelah mengetahui itu aku merasa sangat bersalah.
Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi setelah itu. Len pamit untuk pergi.
Keesokan harinya.
Hari ini 6 September, hari ini aku benar-benar merasa sakit sekali. Nafasku tersentak, jantungku terasa akan berhenti berdetak. Aku segera bergegas mengambil obat penahan rasa sakit. Obat ini tidak akan berpengaruh banyak, meski begitu aku merasa baikan sekali. Aku kembali menulis kenanganku di diary milikku.
Setelah tubuhku baikan, aku keluar dari apartemenku untuk membeli obat. Saat aku membuka pintuku, aku melihat Gumi dan Len sedang berbicara. Aku kembali menutup, akan tetapi aku sangat penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Aku mengintip.
"Hey sayang, 3 minggu lagi aku ada ujian. Aku meminta bantuanmu seperti biasa," ucap Gumi.
Len terlihat diam.
"Kau tahu kan, apa maksudku?" tanya Gumi.
Kali ini Len hanya mengangguk.
Lalu Gumi menciumnya sambil berkata.
"Oke aku tunggu ya," ucap Gumi lalu pergi.
Aku sedikit kaget, dia mencium orang yang sudah lama aku suka. Sebenarnya itu mungkin saja hal biasa bagi orang yang sedang berpacaran. Akan tetapi menurutku itu bukanlah hal baik.
Aku berfikir sejenak, mungkin karena bantuan Len, Gumi mendapat nilai baik di kelasnya. Bukankah itu tidak bagus sama sekali? Jika terus-terusan dibantu, dia tidak akan pernah menjadi mandiri.
Lalu aku teringat sesuatu, Len berhutang budi kepada orang tua Gumi. Mungkin Len membalasnya dengan cara seperti ini? Tidak. Len juga bercerita kalau dia benar-benar menyukainya. Dan saat itu hatiku benar-benar sakit mendengarnya.
Aku tidak jadi membeli obat, dan kembali ke kamarku.
5 hari sesudahnya, kelasku berencana mengadakan drama untuk bulan seni yang akan diadakan 2 bulan lagi. Judul yang diambil adalah kisa Romeo Juliet. Akan tetapi naskah yang digunakan berbeda dengan naskah aslinya, dan sekenarionya tiap adegan juga berbeda dari skenario aslinya. Aku dipilih menjadi Juliet sedangkan Len menjadi Romeonya. Aku sangat senang menerima peran yang akan dimainkan 2 bulan lagi.
1 minggu berlatih. Len benar-benar sangat hebat dalam memainkan drama. Bahkan dia benar-benar memainkan perannya.
Saat di ruang latihan.
"Kau benar-benar hebat dalam akting yah, Len," pujiku kepada Len.
"Tidak juga, ini hanya seni Art of War. Di mana kau berpura-pura untuk kalah, dan kau membalikannya menjadi kemenangan," ucap Len.
"Hehehehe, sepertinya buku itu telah mencuci otakmu," kataku sambil tertawa terpaksa.
Aku benar-benar binggung dengan apa yang dia bicarakan.
"Aku ingin membeli minum, kau ingin sesuatu?" tanyaku.
"Aku ingin jus rasa pisang saja," jawab Len.
"Memangnya ada?" tanyaku lagi.
"Haa, kalau tak ada belikan rasa jeruk saja," jawabnya.
"Oke," kataku lalu pergi.
Sebenarnya membeli minum hanya alasanku saja untuk pergi sebentar darinya karena penyakitku kambuh.
Aku pergi tanpa arah, penyakitku membuat benar-benar kehilangan arah. Tanpaku sadari aku sudah sampai di belakang Universitas kami.
Aku mendengar percakapan.
"Sayang, katanya kau mencintaiku? Kenapa laki-laki itu tidak kau putuskan saja?" tanya seorang laki-laki.
"Aku masih membutuhkannya, sebentar lagikan ujian," jawab wanita tersebut.
"Kau juga ingin nilai sempurnakan? Jadi bersabarlah," tambah gadis itu.
'Suara itu? Sepertinya aku mengenalnya,' batinku.
Aku mencoba mengintip.
'Gumi? Lalu siapa laki-laki itu?' batinku.
"Aku tidak dapat menunggu lagi sayang, aku sangat tidak suka kau menciumnya," ucap laki-laki itu.
"Jadi kau menginginkannya juga?" tanya Gumi.
"Tentu," jawab laki-laki tersebut.
Gumi mendekat kewajah pria tersebut, akan tetapi sebelum kejadian itu terjadi tanpa sadar aku keluar dan meneriaki mereka.
"Gu-Gumi?!" teriakku.
Mereka berdua melihatku.
"Siapa gadis itu sayang? Kau kenal dia?" tanya pria berambut hijau tersebut.
Kami cukup lama tatap menatap.
"Bukan siapa-siapa," ucap Gumi lalu mereka pergi.
Tetapi sebelum mereka pergi aku berteriak, "Ka-kau menipu Len? Padahal dia benar-benar mengaggap serius. Ta-tapi kau?"
Mereka menghentikan langkahnya, Gumi berbalik badan.
"Kau tau apa? Kau ini hanya seorang gadis yang pemalu dan lemah. Memang benar aku hanya memanfaatkannya. Lagian itu sudah kewajibannya. Dan satu hal lagi. Mana mungkin aku menikahi seorang gembel yang diselamatkan Ayahku? Saudaranya saja tidak mengaggap dia ada," ucap Gumi.
Aku benar-benar terkejut.
Aku mendekat ke arahnya.
"Kau ini wanita macam apa? Mempermainkan perasaan orang itu adalah tindakan yang sangat tidak baik, ak-aku akan mengadukan-" ucapanku terputus.
Dia menampar wajahku.
"Jika kau berani mengadukan ini padanya, akanku pastikan kau hancur," ucapnya sambil menamparku lalu mendorongku.
Aku jatuh tersungkur.
Lalu mereka pergi.
.
Tanpa disadari, ada seorang yang sedang mengawasi mereka.
.
Aku terdiam cukup lama, lalu aku kembali menuju ruang latihan. Len menungguku di sana, tetapi aku tidak membawa apa-apa.
Aku beralasan jika tempat yang menjual minumannya tutup.
Lalu Len melemparkan minuman jus jeruk ke arahku.
"Kau terlihat tidak enak badan. Minumlah itu," ucapnya lalu pergi.
'Sepertinya dia akan semakin membenciku karena membohongi seperti ini,' batinku.
'Tetapi, haruskah aku memberi tahu kenyataan ini? Aku khawatir jika dia mengecapku wanita aneh karena memfintah kekasihnya. Sebaiknya aku diam saja,' batinku lagi.
Hari ini latihan drama berakhir. Aku kembali pulang ke apartemenku, dan mengunci diriku.
Keesokannya aku melihat Gumi cukup mesra dengan Len, dia menatapku seakan tidak terjadi apa-apa.
26 September 2020, hari ini ujian akan dilaksanakan selama 5 hari, dan pengumuman dapat dilihat setelah 1 minggu kemudian. Sebelum ujian aku biasanya bertemu dengan Len dan belajar bersama. Akan tetapi setelah kejadian itu, aku tidak pernah bermain ke tempatnya, meski begitu aku sering memasakan makanan untuknya. Aku sudah mempersiapkan ujian ini dengan baik. Karena aku berfikir mungkin ini adalah ujian terakhirku.
Setelah ujian terakhir berlangsung, Len menemuiku dan menanyaiku.
"Kenapa kau akhir-akhir ini jarang berbicara padaku? Padahal aku-" ucapan Len terputus karena ucapanku.
"Aku harus segera pulang," kataku.
Saat aku sudah berada di pintu kelas Gumi datang, langkahku terhenti sejenak karena dia menyapaku dengan penuh senyuman palsu sambil berkata.
"Terima kasih tidak mengatakan apa-apa kepadanya, mungkin kau gadis yang berguna juga," ucap Gumi kepadaku.
"Aku tidak bermaksud untuk seperti itu, aku hanya tidak ingin Len berfikir yang aneh-aneh tentang diriku. Karena dia sangat percaya padamu," kataku.
"Terserah kau saja," ucapnya lalu masuk ke kelas untuk menemui Len.
Sejak saat itu aku benar-benar takut untuk menemui Len.
1 minggu kemudian, aku tidak dapat hadir di sekolah, karena sakitku semakin parah. Akan tetapi aku mendengar bahwa Len dan Gumi sedang ribut karena suatu hal. Aku tidak terlalu peduli tentang itu.
Saat ini aku berada di rumah sakit, Dokter mengatakan aku harus segera menelpon keluargaku, dan memberi ini kepada mereka. Akan tetapi aku menolaknya.
Dokter juga mengatakan bahwa aku hanya dapat bertahan selama 1 minggu lagi.
Aku membuka diaryku, lalu menuliskan semua yang terjadi.
Aku berdoa kepada Tuhan agar aku dapat bertahan lebih lama. Setidaknya sampai drama itu diselengarakan.
'Kali ini aku harus melampaui batasanku, aku harus bertahan,' batinku sambil meneteskan air mataku.
7 November 2020.
Besok drama akan dimulai, hari ini aku datang ke Universitas untuk berlatih. Orang-orang terkejut karena sudah lama tidak melihatku, bahkan di antara mereka berfikir bahwa aku tidak bersekolah lagi di sini. Beberapa bulan sebelumnya aku tidak masuk, karena sakitku ini semakin parah. Aku sudah menghubungi pihak kampus, agar tidak menelpon orang tuaku. Pengurus kemahasiswaan juga pernah menjengukku, dia menyarankan agar memberitahu ini kepada semua, akan tetapi aku tidak ingin semua tahu tentang keadaanku ini.
Aku bertemu Len.
"Selamat pagi Len," sapaku.
"Sudah lama tidak bertemu," kataku.
Hari ini Len terlihat berbeda.
"Pagi Rin, bagaimana keadaanmu? Kau terlihat sangat pucat, seharusnya kau istirahat saja," ucapnya.
"Tidak masalah, aku harus berlatih untuk esok, oh ya. Apa aku masih bisa menjadi Juliet-nya?" tanyaku.
"Tentu, bahkan kami mengharapkan kehadiranmu. Oh ya, naskah berubah, dan judulnya juga berubah," kata Len.
"Judulnya berganti, Last Hope, dan nama tokoh dalam drama itu juga menjadi nama asli," tambah Len menjelaskan perubahan tersebut.
"Dan kau tetap menjadi putrinya, dan aku tetap menjadi pangerannya. Cerita ini mengambarkan seorang pangeran yang menyalamatkan seorang putri cantik dari mimpi buruknya," ucap Len.
Aku senang karena aku masih menjadi karakter utamanya.
"La-lalu bagaimana dengan naskahnya?" tanyaku.
"Kau tidak perlu khawatir, ucapkan saja tanpa naskah, ini pembicaraan bebas tetapi mengikuti alur," jawabnya.
Aku benar-benar bingung, tetapi seluruh mata telah tertuju kepadaku. Mereka sangat percaya aku dapat melakukan hal ini.
Setelah latihan aku langsung pulang dan istirahat. Aku menelpon orang tuaku agar menghadiri acara tersebut. Orang tuaku berjanji akan datang besok.
'Last Hope, aku rasa cerita ini akan menjadi ending yang baik,' batinku.
Tiba-tiba tubuhku sangat sakit, aku meneteskan air mata karena menahan sakit yang teramat.
'Aku mohon bertahanlah sebentar, aku harus mengakhiri ini dengan baik,' batinku sambil meneteskan air mata.
Sakit itu tidak hilang, bahkan setelah aku meminum obat pereda sakit.
Keesokannya aku berangkat pagi-pagi sekali, aku tidak bisa tidur sampai pukul 3, akan tetapi aku cukup sehat sekarang.
Aku berdiri di tengah-tengah panggung tempat drama akan dilaksanakan.
'Tuhan, jika hari ini adalah akhirnya, aku harap aku dapat menyatakan untuk yang terakhir kalinya. Hanya kau yang tahu perasaanku, jadi aku mohon. Seandainya aku tidak dapat berkata sejujurnya, tolong tunjukan padanya jika aku sayang padanya,' batinku berdoa sambil meneteskan air mata.
Pukul 9.00 pagi.
Sebelum drama dimulai, aku bertanya kepada Len.
"Apa kau benar-benar tidak ingat kejadian saat kita SD dulu?" tanyaku.
"Aku tidak ingat, tapi aku yakin kau dulu teman yang baik," jawabnya sambil tersenyum kepadaku.
Aku membalas senyumannya.
"Lalu, apa kau mengingat semua kejadian tersebut?" tanya Len kepadaku.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Kau sendiri tidak ingat, kau ini bagaimana," kata Len.
"Bersiap-siaplah, sebentar lagi drama akan dimulai," ucap Len lalu pergi.
"Aku tidak pernah melupakan saat-saat itu, karena semenjak saat itu aku benar-benar jatuh hati kepadamu Len," kataku pelan.
Drama dimulai, orang tuaku juga hadir saat itu.
Semua adegan berjalan dengan baik. Hingga tiba akhir adegan. Tiba-tiba penyakitku muncul.
'Aku harus menahan ini,' batinku.
Len memasuki ruangan, dan adegan terakhir dimulai.
"Putri Rin, apa kau mendengarku?" tanya Len.
Aku keluar dari ruangan dan masuk menuju panggung.
"Aku mendengarmu Pangeranku," jawabku.
Dia mendekat ke arahku, dia menatap mataku.
"Aku sudah menunggu lama untuk saat ini wahai putriku," ucap Len.
"Aku selalu mengikuti mimpiku, aku selalu mengikuti takdirku, aku bertahan untuk ini. Aku juga sudah lama menanti kehadiranmu wahai pangeranku," kataku.
"Kalau begitu, ijinkan aku menyelamatkanmu," ucap Len.
Dia duduk sambil mengenggam tanganku.
"Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu. Kali ini, kali ini bukanlah sebuah akting belaka," ucap Len.
Mataku berkaca-kaca.
"Aku akan menjadi seorang raja, apakah kau mau menjadi ratunya?" tanya Len.
"Aku akan menjadi pahlawan, agar aku dapat selalu melindungimu," tambahnya.
"Aku tidak perlu hal-hal nyata, yang kubutuhkan hanya dirimu saja," kata Len lalu bangkit.
"Jadi, maukah kau menjadi ratuku?" tanyanya sekali lagi.
Aku tersenyum.
"Aku bertahan sampai saat ini hanya untukmu. Aku bertahan sampai saat ini hanya untuk menunggu saat-saat seperti ini," ucapku sambil meneteskan air mata.
Penonton mulai berkaca-kaca.
"Jadi?" tanya Len.
Aku menangguk.
"Aku baru menyadari, kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi. Dari hari ini sampai akhir cerita kita, aku berjanji akan bersamamu selamanya," ucap Len dengan senyum di wajahnya.
Setelah itu tirai tutup menandai bahwa cerita kami telah berakhir. Semua orang bertepuk tangan kepada kami, semua teman-teman sekelas yang membantuku juga bertepuk tangan kepada kami. Mereka mengatakan kami sangat hebat dalam berakting.
Aku hanya tersenyum setelah mendengar pujian dari mereka. Aku membuka diaryku lalu menuliskan semua.
Setelah itu, aku terjatuh. Tubuhku sudah melampaui batasnya, dan inilah puncaknya. Len yang melihatku terjatuh langsung menghampiriku dan menggendongku. Wajahnya sangat panik sekali.
"Panggil ambulan cepat, Rin aku mohon bertahanlah," ucapnya kepadaku.
"Bawa dia ke ruang kesehatan dulu," ucap seorang yang membantu Len membawaku.
Setelah itu aku tidak sadarkan diri.
Setelah beberapa lama, akhirnya aku sadarkan diri. Aku berada di dalam ambulan, dan Len duduk di sampingku sambil menangis.
Aku mengusap air matanya sambil berkata.
"Aku mohon, jangan menangis," pintaku.
"Rin, bertahanlah. Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit, dan kau akan selamat. Jadi bertahanlah," kata Len sambil mengenggam tanganku.
"Aku akan bertahan, asal kau berjanji tidak menangis hingga akhir," kataku.
"Apa maksudmu?" balas Len.
"Senyumanmu membuatku semangat," kataku lagi.
"Baiklah, tapi kau harus berjanji juga untuk tetap bertahan oke," balas Len sambil tersenyum kepadaku.
Aku mengangguk.
"Saat aku berada di ruang gawat darurat nanti, maukah kau membaca diaryku?" tanyaku.
Len terkejut
Aku memberikan diaryku.
"Kau suka membaca buku bukan? Kali ini, tolong bacalah bukuku," pintaku.
"Baiklah," balas Len.
Kami sampai ke rumah sakit. Aku langsung dibawa menuju unit gawat darurat.
.
Len membaca diary Rin.
10 Agustus 2019.
Hari ini aku bertemu dengan teman masa kecilku. Aku sangat senang dapat melihat wajahnya kembali. Meski dia melupakan hal terpenting, tapi aku berjanji. Aku akan membuat kenangan agar dia tidak melupakanku lagi.
Len membuka lembaran selanjutnya.
11 Agustus 2019.
Kemarin ada beberapa anak yang ingin melukaiku, Len menyalamatku dari mereka. Aku dibawanya ke rumah sakit. Aku sangat senang karena dia yang menyelamatkanku. Saat aku berada di rumah sakit juga aku berbicara banyak kepadanya.
Len membuka lembaran selanjutnya.
Len tersenyum dengan apa yang dia bacanya, hingga beberapa bacaan terakhir yang membuatnya terdiam.
8 November 2020.
Hari ini adalah hari yang aku tunggu, aku sudah melampaui batasanku untuk saat-saat ini.
"Apa maksudmu melampaui batas Rin?" tanya Len sendirinya.
Lalu dia melanjutkan bacaannya.
Aku akan jujur, aku memiliki penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Alasanku bertahan hanya untuk hari ini. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar dapat mengucapkannya langsung. Akan tetapi mungkin Tuhan berkata lain.
Hari ini drama akan dimulai, aku harap tidak terjadi hal yang tidak aku ingingkan.
"Penyakit apa itu?" kata Len dengan sendirinya, lalu Len berdiri.
Len sangat khawatir, 1 jam berlalu, akan tetapi Dokter belum keluar dari ruangannya.
Lalu dia kembali membaca diary Rin.
Aku menanyakan hal yang sama, yaitu apa dia mengingat masa SD dulu. Lalu dia menjawab dengan hal yang sama pula, dia tidak ingat sama sekali. Dia menanyakan apa aku ingat dengan kejadian masa SD dulu juga. Mulutkan mengatakan tidak mengingatnya, akan tetapi hatiku berbicara lain. Aku tidak akan pernah lupa dengan kejadian saat itu. Karena sejak saat itu, aku selalu berfikir tentang dirinya. Sejak saat itu, aku selalu berharap bersamanya. Dan karena sejak saat itu aku dapat bertahan sampai sekarang ini.
Len meneteskan air matanya.
Len kembali membaca.
Hari ini masih hari yang sama. Aku selesai dengan dramanya, semua terlihat senang. Aku tidak pernah berakting sehebat ini, tetapi itu bukanlah akting. Itu adalah isi hatiku. Aku selalu ingin mengatakan itu padanya. Aku sangat senang ketika Len mengatakan semua itu.
Sebelum aku menyelesaikan diaryku ini, aku berharap kepada Tuhan agar aku dapat bersamanya. Aku selalu berdoa kepadaNya agar aku disembuhkan. Tetapi Tuhan berkata lain. Aku sudah sampai titik batasku, bahkan sampai saat ini aku tidak dapat berucap langsung kepadanya.
Tuhan, seandainya aku tidak dapat berkata langsung padanya, aku mohon setidaknya kau yang mengatakan ini padanya. Jika aku tidak dapat bersamanya, aku harap dia dapat memiliki wanita yang tulus mencintainya, aku berharap agar Len selalu tersenyum. Dan aku harap dia tidak akan pernah melupakanku lagi.
Setelah itu Len membaca lembaran terakhir.
Dokter keluar dari ruangan, dengan wajah yang cukup tidak meyakinkan.
Len berlari menuju Dokter sambil menanyakan keadaan Rin.
Dokter tersebut hanya menggelengkan kepalanya, dan meminta maaf.
Len menjatuhkan diary Rin dan berlari menuju Rin, terbukalah lembaran terakhir yang bertuliskan.
Aku selalu menunggu saat ini, di saat mulutku tidak mampu berbicara, di saat tanganku tidak dapat menggapaimu. This is my last hope, please don't sad if you lost me. Because if you're sad, i'll be sad too. Aku akan selalu mengingat semua kenangan saat kita berjumpa sampai saat ini. Aku akan membawa kenangan itu bersamaku selamanya.
Aku benar-benar mencintaimu sejak saat itu. Aku tidak pernah berhenti memikirkanmu. Meski kita tidak dapat bersama, tetapi aku harap kau mendapatkan yang lebih dariku.
Aku selalu mengikuti mimpiku, aku selalu mengikuti takdirku, dan sekaranglah waktunya aku mengucapkan perpisahan.
Bye, I love you.
"Rin, aku benar-benar menyesal. Aku tidak pernah melupakan sejak saat kita bertemu. Aku tidak pernah melupakan masa SD kita dulu. Karena sejak saat itu juga aku mencintaimu!" teriak Len sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rin.
"Jadi aku mohon sadarlah, aku berjanji aku akan bersamamu selamanya," ucapnya.
"Aku minta maaf, aku tidak pernah mengakui perasaanku padamu," ucapnya sambil menangis.
"Rin, mengapa harus begini!" teriaknya sambil menangis.
Beberapa hari kemudian.
Di pemakaman.
'Aku mencintaimu, seharusnya dari dulu aku katakan, sekarang aku menemukannya dan aku tidak akan melepasnya,' batin Len.
Len menaruh sebuah buku di atas kuburan tersebut.
Dari kejauhan, Rin membawa buku diarynya, dia terlihat senang hingga air matanya menetes di pipinya.
.
.
.
To be continued...
A/N: Mohon review-nya untuk chapter ini.
.
.
.
Another Ending, Miracle
