Thanks sebelumnya buat yang udahh baca dan review..
Ini balasannya reviewnya.. ^_^
Mifta Cinya : Ehehe.. Thanks buat reviewnya *hug*. Naru ada kok, tapi emang ngga muncul di chap 1. Sebenernya chap 1 masih prolog, jadi kaya yang ngga nyambung sama summary yang Yoru tulis. Ceritanya baru bener-bener mulai di chap 2 dan member angkatan Naru bakal mulai menampakkan diri. Untuk keterangan selanjutnya, silahkan dibaca. Happy reading Mifta-san. ^_^
By : Yoru Nyan
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T+
Genre : Supernaturan/ Romance
Main Pair : SasuNaru/ SasuKyu
Other Pair : mengikuti cerita
.
.
WARNING : OOC, Shounen Ai, TYPO, Aneh, Gaje,dsb
Cerita yang terinspirasi dari Vampire Knight (Matsuri Hino) namun hanya mengambil tema cerita yang sama. Alur cerita original kreasi Yoru. Selamat membaca.. ^_^
-THE TRUTH LEFT BEHIND-
~2014~
"KYAAAA! SS Class datang!" teriak tak jelas para gadis.
Oke, perkenalkan aku adalah Uzumaki Naruto dan ini adalah kelasku, kelas 7-A atau yang biasa dikenal Rose class. Jika kalian ingin bertanya kenapa gadis gadis ini berteriak, alasannya adalah makhluk-makhluk berpredikat SS class yang sedang berjalan memasuki gerbang. Yah.. kuakui status sosial para SS class memang tinggi, bagaimana tidak? Mereka adalah kumpulan anak bangsawan, pejabat, artis, maupun orang-orang penting lainnya. Walaupun begitu, sekarang mereka adalah orang-orang berengsek dimataku. Inuzuka Kiba, Nara Shikamaru, Akimichi Chouji adalah orang-orang berengsek itu. Jangan lupakan Uchiha Sasuke, dia adalah si berengsek dari semua orang berengsek.
.
.
"Hey, Naruto! Kau tidak akan pulang?"
"Eh.. Iya.. Maksudku ayo pulang. Hehehe" aku tertawa konyol sambil keluar kelas bersama Gaara.
Sambil berjalan, mataku tak henti hentinya memandang keluar jendela. Para berengsek itu sepertinya baru akan masuk.
"Kau melihat mereka lagi, Naruto?"
"Hey, Gaara! Menurutmu, kenapa para SS class baru masuk kelas saat senja? Tidakkah itu aneh?" aku mengutarakan hal yang telah mengganggu pikiranku selama ini.
"Menghindari orang aneh sepertimu mungkin." Jawab Gaara spontan.
"HA? Kau menyebalkan, Gaara!"
"Lagipula untuk apa kau memikirkan tentang mereka sih? Masih tentang Sakura? Sudah kukatakan berkali-kali jangan kau pikirkan perkataan Sakura. Emosi dan pikirannya terganggu. Temari-nee mengatakan sendiri padaku." Ucap Gaara panjang lebar.
"Kau lupa siapa anak siapa mereka? Bisa saja mereka menyuap kepolisian dan membuat pernyataan palsu." Aku masih berusaha protes.
"Jadi maksudmu kakakku disuap oleh mereka untuk membuat pernyataan palsu? Aku tersinggung, Naruto."
"Eeeh? Bukan.. Maaf." Aku tak bisa protes lagi jika Gaara sudah seperti ini. Tapi aku tetap berpikir bahwa mereka menggunakan orang dalam untuk memalsukan kasus itu. Aku tak mencurigai Temari-nee, tapi bisa saja bukti yang sebenarnya telah diubah sebelum sampai ketangan Temari-nee.
.
.
"Bagaimana Kakashi? Sudah kau temukan bukti-buktinya?"
"Saya telah menyelidiki sesuai dengan kriteria yang anda berikan, Tsunade-sama. Semua cocok kecualu satu hal." Jawab Kakashi.
"Apa itu?"
"Dia.. Manusia." Ucap Kakashi pasti.
.
.
Aku sedang berbaring diatas kasur kamarku. Pikiranku melayang jauh memikirkan Sakura. Bagaimana keadaannya? Ini sudah sebulan semenjak terakhir kali aku melihatnya. Aku sudah mencoba menanyakan keadaannya kepada Yamanaka Ino (sahabatnya) tapi ia pun mengatakan tak tau.
Mungkin kalian merasa heran dengan kepedulianku pada Sakura. Tidak seperti yang kalian pikirkan, aku dan Sakura bukanlah pasangan kekasih. Bisa dikatakan cintaku bertepuk sebelah tangan. Namun, bukan berarti kita menjadi musuh atau jauh, kita berdua sepakat untuk tetap berteman. Dan apa yang kulakukan sekarang tak lebih dari kepedulianku pada seorang teman. Aku adalah orang yang menghargai teman-temanku.
"Naruto!" Ino mendobrak masuk ke kamarku dan langsung mengangkat kerah bajuku.
"Sakura! Sakura masuk ke SS class!" aku terbelalak mendengar ucapan Ino. Sakura yang setelah satu bulan tidak ada kabarnya kini malah masuk ke SS class. Bualan macam apa ini.
"Kau bercanda." Cemoohku.
"Kau pikir aku akan membual tentang hal seperti ini? Sakura adalah temanku! Dia telah menghilang selama sebulan. Kau tau kan betapa khawatirnya aku?!" Ino histeris.
"Kau benar-benar yakin itu adalah Sakura? Kapan kau melihatnya?" tanyaku sambil berusaha menenangkan Ino.
"Tadi aku dan Hinata pulang sedikit terlambat karena anak yang lain membolos tugas piket. Dan saat kami akan pulang, kami berpapasan dengan Sakura yang mengenakan bawahan kotak-kotak milik SS class. Aku dan Hinata sempat berhenti dan mengajaknya bicara. Namun ia seolahh tak mengenali kami dan pergi bersama anak SS class lain. Apa yang harus kulakukan Naruto?"
Setelah mendengar semua yang Ino katakan, aku semakin curiga dengan anak-anak berpredikat SS class itu. Siapa mereka? Dan bagaimana bisa Sakura menjadi bagian dari mereka?
.
.
"Hey, Uchiha. Aku masih merasa ini bukan ide yang bagus untuk memasukkan anak berambut pink itu kedalam SS class."
"Kiba, Sasuke tak akan mau menjawab jika kau memanggilnya Uchiha."ucap Chouji sambil asik memakan keripik kentangnya.
"Tapi memang benar Sasuke adalah Uchiha kan? Tak salah jika aku memanggilnya seperti itu. Yang seharusnya kau benci itu bukan nama Uchiha. Tapi nama Itac.."belum sempat Kiba menyelesaikan ucapakknya, lantai sekitar Kiba berdiri mulai membeku.
"Stop, Sasuke! Kau juga minta maaf, Kiba!" Shikamaru melerai keduanya.
"Kau juga jangan lupa posisimu, Sasuke. Tsunade-sama tak akan senang jika kau membuat kaki anak anjing itu malfungsi." Tambah Shikamaru.
Wajah Kiba merah padam. Ia kesal namun apa mau dikata. Sasuke jauh jauh jauh lebih kuat dari mereka bertiga. Walaupun mereka bertiga berusaha melawan Sasuke bersamaan, tetap saja akan sangat merepotkan.
"Sorry" Kiba mengucapkan maaf dalam bahasa inggris dengan sangat tidak niat.
"Ck.. kalian semua memang menyusahkan." Shikamaru manggaruk kepalanya kesal lalu berkata lagi, "Kakashi-san lah yang meminta Tsunade-sama untuk memindahkan anak berambut pink itu. Lagi pula kurasa itu adalah tindakan yang tepat. Mengingat misi kita untuk mendekati si rambut pirang itu."
.
.
Aku yang sudah malas mendengar mereka pun keluar dari rest room. Ku langkahkan kakiku mendekati bangunan anak-anak biasa. Mengapa anak-anak biasa? Sudah jelas karena aku, 3 makhluk tadi dan bahkan seluruh anak SS class bukanlah anak biasa.
Sebenarnya tak hanya manusia yang bersekolah disini. Witch, Vampire, Manusia setengah hewan, dan mungkin Hunter juga ada di sekolah ini. Aku sendiri adalah Vampire, Akamichi Chouji adalah WarePig, Inuzuka Kiba adalah Werewolf dan Nara Shikamaru adalah WereCat. Jangan lupakan anak berambut pink yang bernama Haruno Sakura. Mulai hari ini ia resmi menjadi WereWolf. Jika kalian tanya kenapa, seperti kisah kuno, manusia yang digigit oleh WereWolf saat bulan purnama akan menjadi WereWolf. Tapi tidak seperti rumor yang beredar, bukan Kiba yang membuatnya seperti itu. WereWolf liar lah yang melakukannya. Kami hanya dalam keadaan tidak beruntung karena menemukannya saat ia sudah dicabik-cabik dan dijamahi oleh makhluk sialan itu.
Belum selesai aku bermonolog dengan pikiranku, aku dikagetkan dengan sosok yang berdiri dihadapanku. Kami saling menatap hingga tiba-tiba ia melayangkan tendangan dan pukulan ke arahku walaupun bisa kuhindari dengan mudah.
"Tak kusangka Rose class memiliki sikap yang begitu barbar dan tak berkelas seperti ini." Cemoohku pada sosok yang masih mencoba menyerangku.
"Berisik kau dasar Teme!"
"Teme? Lancang sekali Dobe!" balasku padanya.
Kami berdua masih saling hajar hingga Shikamaru dan yang lainnya datang menghentikan rubah kecil ini.
"Aha! Kurasa aku tak perlu mencari kalian. Maju kalian Berengsek!"
"Jika masalahmu adalah anak berambut pink itu kurasa kau salah paham. Tapi jika kau ingin penjelasan, si pantat ayam ini bisa memberikannya." Shikamaru berusaha meminimalisir pertarungan yang tak perlu. Dan aku hanya berdecak kesal karena dilempari tugas yang merepotkan.
"Ikut denganku, Dobe!" Kutarik tanggannya menuju tempat aman. Dan kurasa aku tak perlu menjelaskan kenapa aku harus membawanya ketempat aman.
"Kau mau membawaku kemana, Teme?"
"Markasku." Jawabku singkat.
Markasku sebenarnya masih dalam wilayah kampus. Namun sedikit tersembunyi. Hanya beberapa anak SS yang memiliki tempat semacam ini. Salah satu yang memilikinya adalah Nara Shikamaru, dan tempatnya adalah tempat kami berempat mengobrol tadi.
"Jadi, bualan apa yang ingin kau sampaikan Te-Me?"
"Berhentilah memanggilku Teme, Naruto!"
"Baiklah. Jadi apa yang mau kau katakan, Berengsek?"
Aku hanya menghela nafasku, tak berniat melanjutkan debat yang tak berguna ini.
"Sekarang lihatlah dengan mata kepalamu sendiri." Aku menyodorkan video CCTV dari tempat kejadian saat si pink diserang kepada Naruto. Masalah keberadaan makhluk macam diriku dan teman-temanku rasanya tak perlu kusembunyikan. Rasanya akan lebih mudah mendekati Naruto dengan cara ini.
"Kau mengerti sekarang? Dan jika kau mau tau, gadis pink itu adalah salah satu dari kami sekarang. Dan jangan limpahkan kesalahan pada kami lagi. Bukankah kami sudah berbaik hati karena mau menerima dia sebagai salah satu dari kami. Atau.. kau ingin semua orang tau siapa dia sekarang dan semua orang akan memanggilnya dengan sebutan.." Ku hentikan ucapanku sejenak dan membisikkan kata terakhir di telinga Naruto.
"Monster" dan kata terakhirku berhasil membuat rubah kecil ini terpaku. Bisa kurasakan perasaan takut menjalar keseluruh tubuhnya. Tak salah bukan jika aku memanfaatkan keadaan?
.
.
Kakiku melangkah lemas. Aku masih tak percaya dengan apa yang baru aku lihat. Vampire? WereWolf? Mereka hanyalah makhluk mitos. Akal sehatku menolak untuk percaya.
"Tak akan ada yang lebih buruk dari apa yang kualami tadi." Gumamku frustasi.
"Bagaimana jika ada yang lebih buruk?" sosok dengan jubah hitam berlambang awan merah muncul dihadapanku dan menyerangku tiba-tiba. Aku mencoba melawan sekuat tenagaku. Namun sepertinya lawanku bukan manusia, siapa dia aku tak tahu.
Pukulan terakhirnya telak mengenai dadaku. Bisa aku rasakan bahwa tulang rusukku retak atau bahkan patah. Aku sudah mencapai batasku. Tak ada yang bisa kulakukan lagi. Aku pasrah. Anggap saja aku beramal meberi makan binatang yang lapar.
Satu..
Dua..
Tiga..
Empat..
Lima..
Enam..
Tujuh..
Delapan..
Sembilan..
Sepuluh..
...
Ada apa dengan makhluk itu? Apa aku tak jadi dimakan? Hahaha.. Mungkin dagingku memang tak enak. Sudahlah.. aku ingin tidur.
"Naruto! Naruto! Bangun, Naruto!"
Ah.. ada yang memanggilku. Siapa? Sial.. mataku sudah tak mau tebuka.
.
.
To be continue..
.
.
Yosh.. Chap 2 selesai... ^_^ *applause*
Bagaimana? Nice? Good? Or Bad?
Mulai nyambung kan sama summary nya? Huehehe..
Pokonya thanks for all readers..
Kalau bisa, sempatkan waktunya mencorat-coret review spot yah..
Arigatou.. *deep bow*
