Mungkin, kata 'gila' lebih pantas jika melihat keadaan Luhan sekarang. Berteriak sekencang kencangnya di dalam dorm. Untung saja Yoona, sang kakak sekaligus manager sedang keluar sebentar saan Luhan meneriakan kebahagiaannya. Jika tidak, Yoona akan melemparinya dengan semua koleksi boneka rusa milik Luhan –oke ini berlebihan-.

Setelah lelah berteriak, Luhan berguling guling di atas tempat tidur sambil tertawa. Karena secara tidak langsung, kejadian tadi merupakan upaya Luhan untuk menerima orang lain dihatinya. Dia akan merubah prinsipnya. Setinggi apapun bintang yang ia ibaratkan itu Sehun. Dia akan meraihnya dan takkan pernah ia lepaskan.

Luhan seperti ini bukan hanya karena mencium Sehun tadi siang –ia, mencium-. Tetapi karena jawaban ya-nya Sehun atas permintaan meminta sang namja berkulit putih pucat menjadi kekasihnya untuk berjaga-jaga kalau Kris –bahkan Sehun baru tahu namja angry bird itu bernama Kris- mengganggunya lagi. Padahal inginnya dia benar-benar jadi pendamping hidup seorang Oh Sehun. Tapi, ya bagaimana lagi. Luhan kembali tersenyum saat memandangi layar ponselnya. Apalagi kalau bukan foto Oh Sehun yang menjadi wallpapernya.


Apa yang dilakukan Sehun sekarang? Makan! Ini tidak bercanda. Sehun memang mengaplikasikan moodnya dengan makan atau bertindak sesukanya. Sehun masih terjaga di depan televisi kamarnya. Menggenggam setoples kue kering buatan sang eomma. Dia kadang heran kenapa badannya tetap krempeng.

Dia sebenarnya ingin melamar langsung saja Luhan/? Tapi itu sungguh tak mungkin. Maka, saat Luhan memintanya untuk berpura-pura jadi kekasihnya. Langsung saja disetujui Sehun.


Flashback

Sehun sedang menyantap makan malam di rumah nya. Sudah kebiasaan Sehun hanya makan sedikit dan banyak mengambil lagi kemudian. Makanya kali ini dia makan sedikit.

Setelah makan malamnya habis, sehun mengalihkan perhatiannya dari tumpukan piring bekas makan malam ke televisi ruang tengah. Ini hari Kamis yang artinya cuci piring diambil(?) oleh Baekhyun –karena mereka bertiga bagi tugas untuk pekerjaan rumah, kecuali hari minggu karena mereka akan makan di rumah orang tua mereka- kyungsoo memutuskan untuk naik duluan ke kamarnya di lantai dua untuk beristirahat, kemudian disusul oleh baekhyun yang selesai mencuci piring.

Sehun menonton televisi sembari menimang-nimang ponselnya. Karena dia mendapat pencerahan(?) seseorang akan meneleponnya malam ini. Sehun memang terlalu peka terhadap panggilan telepon. Padahal saat itu dia tak tahu siapa yang akan meneleponnya. Mungkin saja itu Sungmin Hyung yang mengingatkan jam berapa mereka berangkat besok. Atau mungkin Jongin yang kadang kadang menelepon dirinya hanya untuk mencari tahu sedang apa Kyungsoo noona sekarang, dan jawaban sehun selalu sama, 'Kenapa kau meneleponku? Tanya sendiri sana, aku bukan Kyungsoo"

Dan benar saja, dalam kurun 5 menit sejak ia mengecilkan volume televisi, benda putih berlayar datar tersebut bergetar, memunculkan inisial Unknown Number. Tadi sudah diceritakan, sehun sangat peka terhadap benda yang dianggap laknat bagi Chanyeol, sutradaranya. Jadi sehun langsung menggeser layar hijau kurang dari 5 detik.

"yeoboseyo?"

"Ye, benarkah ini ponselnya Sehun ?" Sehun mengernyit. Ia kenal dengan suara ini.

"ye. Ini sehun. Nugu-seyo?"

"ah, Sehun. Ini aku, Luhan" suara lembut itu kembali terdengar di telinga Sehun.

"a-ah iya Luhan-ssi. Ada apa?" Sehun rasa dia sekarat sekarang. Jantungnya mempercepat degap jantungnya.

"Soal yang tadi siang,umm—Gomawo."

"Iya, sama-sama" Sehun merutuki bibirnya yang malah mengatakan kata-kata itu.

"Umm. Sehun? Bisakah aku minta bantuanmu?"

"tentu saja."

"apapun?"

"Ya, apapun Luhan-ssi."

"Umm, sebaiknya kau menghilangkan embel-embel 'ssi' "

"ah, ya. Maaf. Apa yang harus kulakukan untukmu? Membunuh si Angry Bird?" terdengar kikikan kecil di sebrang.

"tidak. Bi—bisakah kau pura-pura jadi kekasihku?"

'menjadi kekasih sungguhan juga aku mau. Bahkan jadi suami/?' batin sehun.

"Eh?" hanya kata itu yang keluar dari bibir tipis sehun.

"emm, mungkin sedikit aneh. Tapi, aku—aku benar-benar butuh kau" suara lembut itu berubah menjadi sedikit lirih.

"ah, maaf. Tentu. Apa saja, asal kau tak marah padaku lagi"

"kapan aku marah padamu, Sehunnie?"

"k—kau panggil aku apa tadi?"

"Sehunnie. Wae? Kau tak suka? Padahal itu manis."

"tidak. Suka kok suka. Jad—jadi kau tak marah?"

"tentu saja tidak."

Setelahnya terjadi perbincangan kecil.

Sehun menyimpan kontak Luhan, menamainya 'MaDeer' dan kemudian tersenyum puas.

Flashback End


Sehun kembali tersenyum dan akhirnya memejamkan matanya. Berangkat menuju dunia mimpi.

Pagi harinya. Kediaman Hunbaeksoo yang memang tak pernah hening mulai ramai. Seperti biasa. Baekhyun menyiram tanaman peliharaannya, Kyungsoo membereskan sisa sarapan, dan Sehun menyapu dan mengepel. Jangan kira sebagai seorang idol apalagi Sehun yang notabene orang 'berada', namja berpostur 184 cm itu tetap 'diperbudak' oleh kedua Noona kesayangannya.

"HUN. KAU SUDAH SIAP? SUNGMIN OPPA MENJEMPUTMU TUH" suara melengkin Baekhyun terdengar. Sehun langsung melesat bagai anak panah. Tempat Shooting kali ini 'sedikit' istimewa. Apalagi shooting sekarang adalah yang terakhir. Jadi Sehun ingin segera sampai ke lokasi, ditambah keberadaan Luhan yang membuat kadar semangat sehun meningkat drastis.


"Pagi semua! Pagi Chan Hyung! Pagi Sooyoung Noona! Pagi err Luhan"

Sehun dengan penuh semangat menyapa seluruh crew dan para cast. Sepertinya Setan Gembira menyerang Sehun. Baru sampai saja, sehun sudah begitu.

"Pagi uri Baby" goda Chanyeol.

"Ya! Aku sudah lulus skripsi! Tinggal wisuda!" sehun menjawab dengan ketus. Tapi, bibir tipisnya maju dua cm.

"Aigoo, Sehunnie marah, ne?" godanya lagi.

"Diam. Atau kujodohkan kau dengan si Eyeliner."

"MWO! KAU TAHU AKU SANGAT-TIDAK-SUDI DENGAN NONA OH BESAR!"

"sama-sama. Siapa dulu scenenya?" Oh Sehun, seorang peri rumah raksasa—ups maaf, kau membuat dirimu akan jadi sasaran sutradaramu sediri Oh.


"Luhan!" sehun menyentuh pundak luhan. Darah sang yeoja rusa mendesir. Detak jantungnya berpacu dengan waktu.

"Lu? Kau baik? Apa kau akan mengacuhkan bayi manismu ini?" Tanya Sehun lagi, jangan lupakan fakta kadar kenarsisan sehun yang cukup tinggi.

"ah, ya! Tidak. Maaf. Ayo kita take." Mendengar jawaban itu. Sehun terkekeh.

"kau tak mendengar Chanyeol bicara, eoh? Dia bilang, kita take jam 2 siang. Sekarang, biarkan para senior dulu."sehun mendaratkan bokongnya di sebelah Luhan.

"eh. Benarkah?"

"kau sedang melamunkan apa sih? Apa kau tadi terlalu terlarut pada ketampananku?" apa yang kau katakan Oh Sehun? Itu membuat Luhan merona hebat kau tahu?

Luhan menunduk. "sepertinya…" bisik luhan nyaris tak terdengar.

"aku bercanda. Bagaimanapun, aku memang hanya sebatas orang yang membantumu, Lu. Pastinya aku tak bisa menggantikan sosok 'dia' dihatimu." Ujar sehun. Luhan terkesiap. Dia ingat, Sehun benar dan tahu, Luhan hanya memanfaatkan Sehun, dan dirinya berusaha membantunya.

Tapi entah mengapa dadanya terasa sesak. Apakah dirinya salah? Apakah cara ini hanya membuat Luhan dibenci Oh Sehun? Dan apa sehun hanya merasa, Luhan hanya menganggapnya pelampiasan si angry bird saja walau hanya dalam hubungan yang bahkan hanya sebuah tipu belaka? Apa sehun benar benar tak berarti di hidup luhan?


Pikiran keduanya melayang jauh sampai suara pekikan dan teriakan menggema tak jauh dari tempat mereka duduk.

"AKU HANYA INGIN MELIHAT SAHABAT DAN ADIKKU SHOOTING! SUTRADARA KELEBIHAN KALSIUM"

"CIH! KLASIK. DASAR BAYI KELINCI"

"UNTUK APA MENJENGUKMU, DASAR TIANG LISTRIK!"

"baekki STOP! Adikmu disana, sudah!" kini suara sungmin terdengar.

"ne oppa, HUH! RAKSASA JELEK!"

"APA KAU—"

"SUDAH HENTIKAN"

"baekhyun?" luhan menyapa duluan sang pelaku penyebab kegaduhan.

"Annyeong, Lu!" Baekhyun memeluk Luhan. Lalu menyipit-nyipitkan matanya yang padahal sudah satu garis untuk melihat siapa yang menemani sang putri tidur.

"pacarmu?" Tanya Baekhyun. "err ya, wae?" Baekhyun merasa familiar dengan namja yang membelakanginya itu.

"aku rasa aku ken—OH SEHUN?" pekiknya. "An—annyeong, Noona"

"ka-kau mengenal nya? Ha-hanya sebatas fans kah?" Tanya luhan.

"NONONO. Kau tahu Lu? Dia itu adik-bungsu-menyebalkan-ku."

"ne?" bukannya menjawab, Baekhyun mendekat pada Sehun dan memukul kepalanya. Dan tentu saja Sehun ti—

"Ah, wae?"

—dak menerimanya .

"Sejak kapan, eoh? Sejak kapan kau mengencani sahabatku?"

"tadi malah sih, eh? Lu? Kau tahan dekat dengan monster ini?" Sehun agak melenceng.

Dan mengakibatkan satu pukulan manis jatuh lagi di kepalanya.

"aww, Noona! Sekali lagi kau memukulku, akan ku nikahkan kau dengan Chanyeol" luhan agak terkekeh. Dia sama sekali tidak menyangka sehun adalah adik dari sahabatnya sendiri. Dan dia berpikir kembali. Jadi, dari dulu, dia mengejar seseorang yang ternyata sang kakak sendiri menjodohkan dirinya dengan namja itu, begitu? Oke ini bahasanya belibet.

"tapi, umm, CHUKKAE! Akan kukatakan pada Eomma. Kau tahu, lu? Eomma Sangaaaat menyukaimu, bahkan eomma akan memaksamu menikah dengan pacarmu jika kau ternyata tak terlibat apa apa dengan anak bungsunya"

"silahkan saja aku tak takut ji—mwo? Eomma? ANDWAEEEE!" dan bagaimana sehun lupa dengan sang eomma yang telalu terobsesi untuk menjadikan luhan menantunya..


ToBeContinued

Uwaahh… chapter ini selesai dengan ke-gaje-annya. Saya tau, makin lama ff ini makin gaje yekan? Tapi saya sebagai author pemula minta kritik dan sarannya. Maafin kalo banyak banget typo yang mangkir dimari,. Sekian dari saya, terima kasih..

FanSyie^