Title : Mr. B?

Cast : Chanbaek feat kaisoo and hunhan

Rating : T

.

.

.

.

.

WARNING! THIS IS BOYSLOVE FANFIC! DONT LIKE, DONT READ!

PLAGIATRISM, BASHER, SILENT READERS, GO AWAY!

.

.

.

HAPPY READING^^

.

.

.

#sebelumnya~

"dari siapa? kau?"

"bukan, ada kartunya. Baca saja" petugas itu menunjuk sebuah kartu kecil yang disematkan di antara pita-pita, "kalau begitu, permisi"

Baekhyun membuka kartu kecil itu. Tertulis dengan tulisan tangan 'pangeran mu nomor satu'.

.

.

.

CHAPTER 4

.

.

.

.

.

Matahari turun perlahan. Teriknya sudah tidak sepanas tadi. Hari berubah menjadi sore. Udara menjadi sejuk sedikit berawan. Dikamar nya baekhyun bersantai-santai di kasur nya. ia langsung senang begitu melihat ibu nya datang sambil membawa... bingkisan lagi! Beruntungnya baekhyun. baru saja baekhyun menghabiskan cup cake yang tadi dia terima. Tadinya dia sedikit tidak tega memakan hiasan cantik di atas nya. tapi kue itu untuk di makan kan?

"sepertinya ada yang kau sembunyikan dari ibu"

"ahh.. ibu!" baekhyun melompat girang sambil memandang bingkisan yang baru datang. Sekotak bola coklat aneka isi, juga kartu di tulis tangan sama seperti kartu sebelum nya, yang berbunyi 'aku kecewa kalau kau tidak memakan pemberian ku'.

Dasar bodoh! Tentu saja akan baekhyun makan!

"apa kau tidak ingin menceritakan nya dengan ibu?"

"tidak ada yang perlu diceritakan" baekhyun mendorong ibunya pelan keluar dari kamar. "ini rahasia" baekhyun melonjak. Baekhyun senang.

"dasar" ibu nya baekhyun hanya dapat geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya sambil menutup pintu kamar. baekhyun memeluk kotak coklat itu. Hatinya meleleh.

"sore, ajhumma"

Kyungsoo!

Baekhyun terkesiap kaget. Baekhyun waswas. Sepertinya kyungsoo punya indra keenam. Bisa-bisa nya dia muncul disaat baekhyun baru saja mencurangi diet nya dan akan melakukan yang kali kedua dengan bola coklat. Baekhyun memandang kotak ditangan nya. kyungsoo tidak boleh melihat hadiah dari penggemar rahasia nya. kalau dia melihat makanan manis yang baekhyun pegang, bisa-bisa malah dia yang merebut dan menelan isinya.

Jangan sampai itu terjadi. Bukan nya pelit, baekhyun mau saja membagi makanan nya dengan kyungsoo. Ia bukan tipe orang gendut yang protektif pada makanan. Ambil saja kalau mau. Tapi, kali ini. Ini adalah satu mimpi baekhyun, ketika dia merasa istimewa dengan hadiah-hadiah kecil dari orang asing bukan keluarganya.

"sore" sahut ibunya baekhyun. beliau tidak kaget dengan kedatangan kyungsoo tiba-tiba. Kyungsoo memang sering datang kerumah baekhyun, jadi tidak perlu lagi permisi. Dia bebas keluar masuk rumah baekhyun. kedatangan kyungsoo membuat rumah baekhyun bertambah ramai.

Dengan cepat baekhyun membuka lemari dan menaruh hadiah nya di rak paling bawah. Dengan gugup, baekhyun memasukkan kotak bola-bola coklat itu diantara tumpukan baju. Baekhyun menghembuskan napas lega. Diluar kamar, kyungsoo dan ibu nya masih mengobrol.

"pas sekali, tadi barusan baekhyun mendapat..."

Oh tidak! Napas lega baekhyun keluar. Rahasia nya akan terbongkar oleh ibunya. Tidak. Ini tidak boleh terjadi.

Langkah kaki baekhyun bergema, pintu kamar berdebam menghantam dinding. Kyungsoo dan ibunya baekhyun hanya bengong melihat baekhyun berdiri di pintu kamar sambil ngos-ngosan. Belum hilang rasa kaget, sekuat tenaga baekhyun berteriak sok gembira, sambil berhamburan memberi pelukan ke kyungsoo, "Do Kyungsoo! Kau datang"

"hah?" badan kyungsoo dipaksa ikut melonjak-lonjak oleh baekhyun

"tumben sekali kau datang"baekhyun menarik tangan kyungsoo masuk ke dalam kamar

Kyungsoo dan ibunya baekhyun saling pandang. Apanya yang tumben? Hampir setiap hari kyungsoo datang kerumah baekhyun.

"kau sakit?" ibunya baekhyun yang sama bingung nya dengan kyungsoo mencoba menyentuh kening baekhyun.

"tidak, aku tidak sakit" baekhyun gugup menghindari. Adanya ibunya baekhyun membahayakan rahasia kecil nya. ia harus cepat-cepat masuk ke kamar.

"tingkah mu aneh." Kata ibunya baekhyun. "apa mungkin ini karena kau baru saja..."

Baekhyun berteriak, "Aaaa!" sambil menarik kyungsoo masuk kedalam kamar. ditutup nya pintu kamar dan diteruskan nya dengan berpura-pura berteriak sambil bersenandung dan berjoget tak jelas. Sambil cengar-cengir, baekhyun memasang telinganya dengan baik-baik. Begitu langkah ibunya menghilang di kejauhan, barulah dia berhenti bersenandung tak jelas.

"kau sepertinya menyembunyikan sesuatu" mata kyungsoo menyipit curiga.

"tidak, aku tidak menyembunyikan apa pun" baekhyun menghindari tatapan elang kyungsoo. Ditutupinya tingkah gugup dengan tertawa. "apa yang bisa aku sembunyikan?"

Kyungsoo mengangkat bahu. "mungkin, kau melanggar diet mu"

Deg.

Tawa gugup baekhyun kembali terdengar. "tidak, mana mungkin aku mencurangi diet ku sendiri" buru-buru baekhyun mengalihkan perhatian kyungsoo.

"by the way, ada apa kau kesini?" baekhyun sok antusias mengomentari pakaian kyungsoo. Kaus katun putih dan celana pendek selutut bahan kain.

"oh" perhatian kyungsoo teralih, "aku ingin menemanimu lari sore."

Baekhyun tidak tahu mana yang lebih baik. Rahasianya terbongkar atau lari sore.

"tunggu apa lagi? Cepat ganti baju."

.

.

.

.

.

Bayang-bayang pohon menciptakan mozaik bergerak di permukaan jalan. Angin bertiup pelan lumayan menyegarkan. Sepatu olahraga baekhyun sesekali beradu dengan kerikil. Ritme langkah nya sudah tak beraturan. Di sebelah nya, kyungsoo mengikutinya dengan mengayuh santai sepeda baekhyun.

"seperti itu saja sudah lelah?" kyungsoo agak kepayahan mengatur kayuh pedal sepeda karena baekhyun sudah begitu lambat. Kalau ia mengayuh seperti biasa, baekhyun sudah tertinggal jauh dari tadi. Sepeda tidak bisa dikayuh sangking lambatnya. Akhirnya, kyungsoo turun. Ia mengikuti baekhyun dengan mendorong sepeda. "kita belum lari terlalu jauh."

Baekhyun mendengus kesal. Keringat bercucuran dari dahi nya. bajunya lembab karena keringat. "itu sudah jauh. Coba kau ikut lari. Kau naik sepeda, karena itu kau bisa berbicara seperti itu."

Kyungsoo menggaruk tengkuk nya sambil tertawa. "aku.. sebenarnya ingin juga lari menemani mu, tapi... seseorang mengatakan pada ku kalau aku ikut lari dengan mu aku akan semakin kecil"

Baekhyun melotot. "siapa orang yang mengatakan itu ?"

"sudahlah, lupakan. Lagi pula kan aku berjaga-jaga saja kalau kau tiba-tiba pingsan." Kyungsoo menyengir kuda.

"maksudnya?"

"maksudnya, aku bisa langsung pergi pura-pura tidak kenal seandainya kau pingsan" kyungsoo terkekeh melihat baekhyun melotot lagi. "tidak, bercanda, byun. Tentu saja sepeda itu buat berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu dan kau butuh bantuan secepatnya"

Logis, pikir baekhyun. namun sepertinya, alasan kyungsoo sebenarnya adalah kyungsoo ingin mengawasi baekhyun tanpa harus ikut merasa lelah. Tapi? Tunggu, siapa yang kyungsoo bilang seseorang tadi?

"kyungsoo seseorang itu—"

"kau boleh istirahat sekarang" kyungsoo yang mengetahui arah pembicaraan baekhyun langsung mengalihkan nya.

"ide bagus" baekhyun menyeret kakinya ke pinggir, menjatuhkan pantat nya ke trotoar dan menyenderkan badan nya ke batang pohon peneduh. Kyungsoo ikut duduk disamping baekhyun. sepeda dibiarkan nya tergeletak di pinggir jalan.

"ini," kyungsoo memberikan handuk. Baekhyun meraih handuk itu dan mengelap keringat nya. dengan handuk itu pula baekhyun mengipas-ngipas lehernya yang masih terasa gerah. "semoga saja jarak lari mu semakin panjang. Kalau hanya sejauh ini, sepertinya tidak memberi banyak pengaruh"

Di kondisi biasa, baekhyun akan melotot dan berteriak keras, "aku melakukan ini setiap hari! Kurang jauh apanya? Kau ingin membuat kaki ku putus?" yah, hal-hal biasa semacam itu. Rasa lelah membuat baekhyun hanya mengangguk saja, tidak menjawab perkataan kyungsoo.

Langit biru membentang luas. Jernih dan sangat biru. Hari ini sangat terang, tetapi tidak panas. Baekhyun ingin membaringkan dirinya. Namun, tempat nya sekarang tidak memungkin kan nya untuk tertidur. Selain di trotoar, banyak orang yang berlalu lalang akan menganggapnya gila.

Padahal, langit sore ini sangat sempurna untuk diamati. Memandang langit adalah salah satu kesukaan baekhyun. ia biasa nya memandang langin dari balkon kamar nya. biasanya dia membaringkan diri di lantai.

Baekhyun akan merentangkan tangan, melebarkan ruang di antara jari jemarinya dan menarik napas dalam-dalam. Baekhyun akan membuka mata nya lebar-lebar, selebar matanya dapat merekam luas nya langit.

Kebiasaan aneh memang. Namun, baekhyun menyukainya.

"baekhyun, sebenarnya, apa yang kau sukai dari chanyeol?" pertanyaan kyungsoo membuyarkan lamunan baekhyun. "maksudku, kau sudah mengetahui sikap nya yang buruk. Bahkan, sesuka-sukanya kau dengan chanyeol, kau sampai tidak menyadari sikapnya yang buruk? Dia sering gonta-ganti kekasih. Menurutku, itu sudah menjadi tanda-tanda kalau dia bukan orang baik"

Tatapan baekhyun beralih dari langit kepada kyungsoo. "aku tau, aku merasakan itu, tapi perasaan itu aku hilangkan. Aku Cuma memikirkan apa yang aku ingin lihat. Aku memilih untuk tidak percaya. Hidup dalam ilusi itu sangat menyenangkan, kau tau? Chanyeol yang baik, chanyeol yang pengertian, chanyeol yang sopan,. Maka saat itu,aku mengetahui dia yang seperti sekarang ini, aku sedikit terguncang. Tapi, bodohnya aku, entah kenapa dalam hatiku, sedikit kepercayaan chanyeol yang sebenarnya...," baekhyun menarik nafas dalam. "sebenarnya sama seperti ilusiku"

"baekhyun..."

Baekhyun tertawa lirih, "kenapa kita menjadi melankolis seperti ini? Aku malah menceritakan hal-hal yang tak berguna. Ayo, lari lagi" usaha baekhyun menyingkirkan atmosfer sendu di antara mereka tidak berhasil. Kyungsoo masih larut dengan curahan hati baekhyun tadi.

"baekhyun..."

"tenang saja. Ini akan membuat ku kuat" baekhyun berdiri dan menepuk debu-debu halus dari pantatnya. "ayo, sudah cukup istirahat nya". baekhyun lari mendahului kyungsoo. Ia tiak ingin memperpanjang-panjang cerita karena jika diteruskan . baekhyun pasti..., menangis.

.

.

.

.

.

Malam nya baekhyun mendapatkan kejutan lagi. Penggemar baekhyun mengirim paket berisi lollipop warna warni di ikat manis dengan pita merah jambu. Ada secarik pesan di atas nya. pesan nya sangat manis. Tertuliskan dengan sangat rapi.

'kau tau? aku disini setiap detik selalu memikirkan mu. kau terlalu indah untuk di pikirkan setiap saat. Aku suka kau apa ada nya. jangan dengarkan mereka. Disini aku memikirkan sebalik nya. terima lah hadiah ku, byun baekhyun'

.

.

.

.

.

*seminggu kemudian

"aku tidak mengerti apa nya yang salah" kyungsoo tampak kecewa. "kau tetap olah raga. Kau diet. Kau melakukan semua program yang aku anjurkan. Salahnya dimana? Berat mu malah bertambah. Apa yang salah"

Baekhyun menunduk diam di kursi kantin. Tentu saja baekhyun tau jelas apa yang salah. Penggemarnya. Penggemar baekhyun tidak pernah berhenti mengirimkan hadiah-hadiah kecil, penuh gula, berlumur lemak, dan tentu saja membuat baekhyun bertambah berat badan. Kyungsoo tidak tau tentang penggemar ini karena kalau dia tau sudah pasti baekhyu tidak akan boleh sedikit pun menikmati hadiah-hadiah itu. Sayang sekali. Baekhyun bisa memberikan nya ke orang lain, tetapi hadiah-hadiah itu untuk dirinya. Jadi, memang hak baekhyun untuk menikmatinya. Lagi pula, kartu-kartu itu mengatakan agar semua hadiah nya harus dihabiskan.

"kau berfotosintesis? Tidak mungkin !" kyungsoo kesal menepuk keras meja kantin.

Rasa bersalah menekan baekhyun. sebisanya, baekhyun mencoba menenangkan kyungsoo. "jangan menyerah, kyungsoo. Aku yakin minggu depan berat ku turun." Baekhyun merayu. "nanti aku diet lebih keras lagi. Aku janji akan rajin berolahraga"

"hei" sebuah suara membuat baekhyun dan kyungsoo menoleh. Baekhyun hapal suara itu. Mengganggu saja.

Apa dia tidak melihat sedang ada krisis disini?

Dengan tatapan segarang mungkin, baekhyun mentap chanyeol dan kelompok nya terkecuali luhan tentu nya. ingat? luhan adalah orang baik. Dalam pikiran nya, ia mengucapkan matra, semoga kau sial selamanya, park chanyeol...semoga kau sial selamanya... semoga kau sial selamanya...

Di ulang-ulang agar hasil nya efektif.

"apa? Kau ingin berbuat apa lagi?" kata baekhyun

Chanyeol mengangkat tangannya. Gaya takutnya dibuat-buat. Ia meletakkan sebuah bungkusan di meja kantin. Tingkah chanyeol seperti pembantu di tindas majikan. Itu membuat emosi baekhyun naik ke ubun-ubun. Tangan nya gatal ingin menarik telinga caplang canyeol. Pasti puas rasanya melihat chanyeol memohon-mohon ampun. Tapi hatinya berkata lain. Baekhyun tidak bisa bohong kalau kaki nya tetap lemas bila chanyeol di dekat nya. jantungnya berdegup lebih kencang. Darah nya berdesir. Perutnya mulas karena senang.

Tidak.

Baekhyun berhenti menyukai si jail ini. Ia harus berhenti menyukainya. Semua tunas-tunas merah muda –baik yang mekar maupun yang masih kuncup di hatinya- akan ia babat. Cara halus atau cara paksa keduanya sah-sah saja. Asalkan ia dapat berhenti menyukai orang ini.

"itu." Chanyeol menujuk bingkisan yang diletakkan nya di depan baekhyun. "titipan buat mu, byun"

Baekhyun merengut kearah bingkisan yang di taruh chanyeol. Mau tidak mau baekyun tersenyum. Lagi-lagi dari penggemarnya. Baekhyun penasaran. Siapa orang ini? Dia berlaku begitu manis. Baekhyun senang sekali kalau dia bisa mengalihkan perasaan nya. penggemarnya tidak perlu tampan seperti chanyeol. Yang penting dia orang baik.

Hanya saja, mengapa harus chanyeol yang mengantar kan untuknya? Ada banyak anak lain yang masih bisa dimintai tolong. Mengapa harus chanyeol?

Namun, biarlah. Mungkin ini adalah keuntungan terselubung. Baekhyun mengeluar kan bungkusan wajah gembira. Dia ingin menunjukkan ke chanyeol bahwa dia juga memiliki penggemar.

Di bawah tatapan tidak setuju kyungsoo, baekhyun mencomot tiramisu sambil membuka kartu yang tersemat di bungkusan luarnya.

'dasar bakpao bodoh! Berat mu naik kan? Jangan harap menang!'

Apa?

Apa?

Apa?!

Kunyahan di mulut baekhyun terhenti. Muka baekhyun seketika pucat ketika mendengar tawa chanyeol dan kelompok nya, termasuk luhan.

Bahu baekhyun merosot.

Jadi selama ini, hadiah-hadiah yang ia terima adalah dari chanyeol? Tak ada penggemar? Hanya chanyeol dan keusilannya? Baekhyun mual. Ia ingin mengeluarkan semua hadiah yang chanyeol kirim kepada nya.

"terima kasih buat kalian berdua" chanyeol menepuk bahu sehun dan merangkul luhan. "kalian telah banyak membantu. Dan luhan terimakasih telah membantu sehun untuk mengantar hadiah-hadiah itu ke rumah si bakpao ini"

"ja-jadi, luhan? Kau—"

"maaf byun, aku hanya menjalankan perintah teman dari kekasihku ini." Luhan tersenyum kearah chanyeol.

"jahat. Kalian jahat" baekhyun menjatuhkan tiramisu ke lantai.

Chanyeol tersenyum. "ini perang. Semua cara sah di dalam dunia pertempuran" chanyeol mendekat kearah baekhyun dan berbisik "kau menantang orang yang salah. Aku pastikan, kau akan kalah byun baekhyun"

.

.

.

.

.

"kyungsoo!" baekhyun berseru gemas.

"apa lagi?" ujar kyungsoo malas-malasan. Suaranya tidak jelas. "kau mau balas dendam? Kau ingin apa?"

Baekhyun membetulkan letak ponselnya, "aku ingin—"

"ingin bergulat dengan chanyeol? Bilang saja kau ingin dipeluk dengan nya"

"siapa juga yang mau dipeluk dengan nya. kau dengar tidak yang tadi aku bilang? Aku ingin balas dendam. Aku kesal, seperti ingin meledak."

"iya, dari tadi kau bilang begitu. Sudah dulu ya, aku ada acara."

"acara apa?" kening baekhyun berkerut.

"aku ingin pergi dengan- sudah lah. Bye~"

Pip

Sambungan terputus.

Baekhyun menekan ulang nomor kyungsoo. Yang menjawab suara mesin. Maaf nomor yang anda tuju sedang sibuk.

Kyungsoo sedang marah dengan nya akibat kejadian waktu itu. Niat nya hari ini dia ingin mengajak kyungsoo untuk menonton film di bioskop dan mereka akan berbaikan. Tapi, sepertinya dia sedang sibuk dengan acaranya.

Kalau sudah begini, harus bagaimana?

Baekhyun sudah berpakaian rapi dan siap untuk pergi menjemput kyungsoo tetapi yang akan di jemput tidak ada. Apa boleh buat. Dia pergi sendiri.

.

.

.

.

.

Mal tidak begitu penuh. Baekhyun berjalan melewati etalase-etalase toko. Tidak di duga, dari ujung tampak sosok yang tidak ingin baekhyun lihat. Malas bertengkar, baekhyun membalikkan badan nya. baekhyun pasti kalah adu mulut dengan chanyeol. Apa lagi saat ini chanyeol tengah berduaan dengan kekasih baru nya.

Tunggu dulu.

Baekhyun tidak pernah berfikir jahat. Berdasarkan ajaran ibunya, baekhyun harus menjaga hatinya dari hal-hal jahat –pengecualian untuk chanyeol-. Pikirnya, kalau chanyeol bisa dengan sembarangan melakukan sabotase dan mengganggu usahanya memenangkan taruhan, ia pun dapat melakukan hal yang sama.

Chanyeol bersama seorang pria cantik dan bertubuh kecil berkulit putih itu sekarang sedang bergandengan. Senyum sumringah mewarnai wajah keduanya. Baekhyun menggit bibirnya mencari cara merusak kencan chanyeol. Sampai kening nya berkerut dalam pun, tidak ada satu ide yang melintas di kepala baekhyun. chanyeol dan pria bertubuh seperti kyungsoo itu semakin menjauh dari pandangan. Baekhyun memukul-mukul kepalanya. Pasti ada satu ide.

Baekhyun hampir berteriak kegirangan saat ia menemukan sebuah ide brilian. Ini kejailan nya yang pertama. Tapi dia sangat puas dengan ide nya. dijamin berhasil. Baekhyun hampir terbahak-bahak. Baikalah, akan aku lakukan. Tekat baekhyun sudah bulat. Kali ini dia akan memberikan sebuah pengalaman yang tidak akan chanyeol lupakan.

Baekhyun berlari menyusul mereka yang ternyata sudah berada di perkiran. Dengan cepat, baekhyun menghadang chanyeol dan kekasihnya itu lalu...

Plak

Cap merah berbentuk tangan menghiasi pipi chnayeol. Chanyeol tertegun. Kekasih nya pun tertegun. Kekasihnya ternyata berparas cantik walaupun dia pria. Ketika kaget pun dia masih terlihat anggun. Baekhyun hampir tertawa ketika melihat muka bodoh chanyeol.

Pulih dari kesadaran nya, chanyeol maju sambil berteriak. "hei! Apa-apaan ini-"

Baekhyun paham, chanyeol akan mengamuk ditampar tiba-tiba. Wajar.

Kekasihnya pun ikut marah. Wajar juga.

Saat chanyeol ingin mencengkram baekhyun, baekhyun mengeluarkan rencana keduanya.

"hwaaaa!" raungan baekhyun pecah. Dengan sekuat tenaga, baekhyun mendorong pundak chanyeol. Harus sekuat tenaga, belum tentu dia akan mendapatkan kesempatan emas seperti ini lagi.

"hei, baekhyun. apa-apaan ini?" chanyeol kembali mendekat kearah baekhyun. begitu pula dengan gandengan chanyeol.

Kekasih chanyeol mendorong pundak baekhyun, "apa-apaan kau!" pacar chanyeol tidak senang.

"jahat..., kau jahat" baekhyun kemudian terduduk di lantai dengan gaya mengenaskan. Mukanya menunduk. Cengiran nya tidak bisa dia sembunyikan.

"kau bilang kalau kau mencintai aku. Kau bilang kalau hanya aku seorang kekasih mu..." baekhyun tersedak pilu. Sepertinya dia ada bakat untuk menjadi seorang artis.

"h-hei!" chanyeol tergagap tidak siap dengan akting baekhyun. terlebih lagi, kekasih chanyeol yang tadi siap membela chanyeol sekarang kini berbalik menatap chanyeol marah.

"baekhyun, kau jangan main-main. Kapan aku bilang kalau aku mencintai mu?" tanya chanyeol.

"ini siapa, yeol?" tunjuk kekasih chanyeol ke arah baekhyun.

Bahkan, baekhyun saja merasakan aura negatif yang mengancam dibalik pertanyaan itu. Sesaat, chanyeol panik. Berkat jam terbangnya chanyeol mengendalikan diri. Dia bisa dengan santai mengendalikan kekasihnya yang mulai emosi.

"teman sekolah..., bukan, dia musuh di sekolah" chnayeol menarik baekhyun untuk berdiri. "aku tak mengerti apa yang kau lakukan?"

Bahaya. Bahaya.

Baekhyun mengelak dari tarikan chanyeol. Sekarang baekhyun kembali duduk di lantai sambil menutupi muka nya. "teman?" baekhyun menangis keras. "teman, yeol?"

"oh. Teman. Kalau memang teman kenapa dia menangis seperti ini?" tanya kekasih chanyeol dengan nada seram.

Chanyeol langsung mengerti akal bulus baekhyun. dengan mata menyipit mengancam, chanyeol memandang pundak baekhyun yang bergetar. Cih! Kutuk chanyeol dalam hati. Sungguh amatir. Chanyeol dapat ber akting lebih baik dari itu.

Plak

Fokus chanyeol kembali pada kekasih nya. Sekarang, malah kekasih nya yang menangis.

"seharusnya, aku mendengarkan teman-teman ku. Kau memang bajingan!" setelah berkata seperti itu, pria yang tadinya di gandeng chanyeol itu berlari sambil menangis seperti di drama.

"hei, xiumin!" teriak chanyeol.

Baekhyun, sambil meneruskan tangis palsunya, melihat kepergian kekasih chanyeol dari sela-sela jari tangan nya. untuk jaga-jaga dia meneruskan tangis palsunya. Begitu kekasih chanyeol sudah tidak terlihat, tangisan baekhyun berhenti. Berganti dengan kikikan tawa. Perutnya sakit. Geli.

Baekhyun tidak sadar, dibelakang nya chanyeol berdiri sambil menahan emosi. "puas?"

Baekhyun berdiri, mencoba berdiri tegak dengan cengiran di wajah nya. "sangat puas. Ternyata mengerjai seseorang sungguh menyenangkan. Dengan begini, kita impas" dengan muka riang, ditepuk nya pundak chanyeol. "pacarmu ini pulang dulu, oke. Hahah"

Baekhyun tertawa. Kakinya baru mulai melangkah, saat tangan nya di cengkram chanyeol. "mau pergi kemana,hm? Kau pikir, aku akan membiarkan mu?" chanyeol tersenyum. Bukan senyum ramah tentunya. Muka jail mewarnai wajah chanyeol. "kita akan bersenang senang, pacarku"

Tawa baekhyun menghilang. Dengan cepat, chanyeol menarik baekhyun tanpa di duga, lengan chanyeol melingkar protektif di pundak baekhyun. "aku janji, kencan kali ini akan benar-benar seru"

"he-hei! Tunggu sebentar" baekhyun bergerak mencoba lepas. Jantungnya langsung melompat begitu badan chanyeol menempel pada badan nya. "chanyeol ! ugh..."

"apa sayang?" chanyeol menoleh. Matanya berkilat.

"maaf. Aku minta maaf" baekhyun memohon ampun. Selain karena malu, juga karena demi kesehatan jantung nya. begitu dekat dengan chanyeol, jantungnya benar-benar berdetak tidak terkendali. Baekhyun kawatir jika jantung nya akan berhenti berdetak tiba-tiba.

Dalam rencananya, tidak ada bagian baekhyun jatuh ke pelukan chanyeol.

"chanyeol... lepas!" baekhyun berontak semakin kuat.

Chanyeol berbisik di telinga baekhyun. rangkulannya mengetat. "kalau kau berontak, tak ada cara lain...," di sela-sela bisikan nya, senyum jail chanyeol semakin melebar. "cium. Sekarang. Di depan umum"

Baekhyun syok. Badanya langsung kaku. Ditatapnya chanyeol dengan pandangan ngeri. Badan baekhyun panas dingin. Chanyeol gila! Gila! Baekhyun tau chanyeol serius. Chanyeol sanggup melakukan hal-hal kacau, yang tidak apat diterima dengan akal sehat. Setidak nya dengan akal sehat baekhyun.

"jadi, bersikaplah kooperatif. Kalau kau mencoba kabur...," chanyeol mengacak lembut rambut baekhyun. "aku sudah memperingatkan mu..., sayang"

Dalam hati, chanyeol tertawa. "kita kemana? Bioskop? Cafe? Ada usulan?"

Baekhyun cemberut. "pulang"

"baiklah, kita pulang. Kerumah aku atau kerumah mu?" chanyeol berlagak bodoh. "kalau mau kerumah ku, kau harus janji jangan menyerang duluan, oke? Di depan umum saja kau berani menampar, apalagi dirumah yang tidak ada siapa pun"

Ya ampun. Dahi baekhyun berkerut. "makan. Kita makan saja. Lalu, sehabis itu kita pulang"

"baiklah" ekspresi kemenangan tidak dapat di sembunyikan oleh chanyeol. Tetap merangkul baekhyun, sambil masuk kedalam mall dan mecari cafe.

Jika dipandang, chanyeol dan baekhyun seperti kembar siam. Keduanya berjalan santai, tetapi sedikit kaku. Rangkulan chanyeol dan badan besar baekhyun membuat kaki keduanya tidak singkron berjalan seirama. Baekhyun melirik chanyeol. Dipandang nya chanyeol sembunyi-sembunyi. Tampaknya, chanyeol tidak keberatan dengan langkah kaku mereka. Namun, baekhyun sadar. Itu membuat baekhyun tidak nyaman.

Selain itu, pandangan orang lain membuat baekhyun risih. Tanpa perlu dikatakan, sosok nya dan chanyeol yang terpantul di kaca-kaca etalase sudah cukup menyatakan apa yang ada di benak orang-orang. Beauty and the beast. Beauty nya chanyeol dan beast nya baekhyun.

Mungkin, baekhyun berlebihan. Baekhyun tidak terlalu jelek. Kulitnya putih, halus, apalagi ditambah perawatan dari produk body lotion yang luhan beli kan untuk nya waktu itu, membuat segalanya menjadi lebih sempurna.

Kalau chanyeol, terlepas dari tabiat nya yang jelek, Dia berkilau menyita perhatian. Entah bagaimana, chanyeol termasuk orang yang keberadaan nya menyita banyak perhatian.

Orang-orang –terutama perempuan- setidaknya, menoleh kepala saat chanyeol lewat. Mungkin karena dia tinggi. Mungkin pula karena karisma nya. atau gerak-gerik nya. seolah, ada lampu sorot yang mengikuti chanyeol kemana saja berjalan. Chanyeol mampu memaksa orang-orang untuk melihat nya.

Baekhyun risih dipandangi. Karena itu dia mencoba untuk melepaskan diri dari rangkulan chanyeol.

Sadar baekhyun telah berontak, chanyeol mengeluarkan ancaman sekali lagi. "kau minta dicium?"

Baekhyun mengelak, sambil menjauhkan diri. "panas"

Chanyeol terkekeh. Dilepasnya rangkulan di bahu baekhyun. saat baekhyun bernapas lega, tangan chanyeol menggenggam jemari baekhyun. "kalau seperti ini tidak apa kan?"

Baekhyun hanya bisa mengeluh di dalam hati. Perasaan baekhyun bercampur aduk. Otak nya bilang berhenti mengagumi chanyeol, tapi hati nya berkata sebaliknya. Bisa-bisa baekhyun gila.

Chanyeol membawa baekhyun ke sebuah cafe temaram dengan alunan musik. Saat duduk, bukannya duduk di depan baekhyun, chanyeol malah mengambil tempat di samping baekhyun. tentu saja diiringi kerlingan mata main-main.

Melihat chanyeol yang terlalu percaya diri, ingin sekali baekhyun menggaruk muka chanyeol dengan garpu ditangan nya. Namun, bagian dari dirinya yang lain melayang ketika melihat tatapan chanyeol.

Sesekali bahu chanyeol bersinggungan dengan bahu baekhyun. baekhyun merengut risih, tetapi jantungnya berdetak lebih cepat. Seorang wanita datang membawa buku menu. Mata nya lebih banyak memandang chanyeol ketimbang baekhyun.

Sialan! Kutuk baekhyun dalam hati. Apakah pelayan ini tidak bisa menutupi kebenarannya? Baekhyun sangat sadar dirinya tidak pantas bersayang-sayangan dengan orang semacam chanyeol. Namun, dengan tatapan heran siapa pun akan kesal.

Chanyeol tebar pesona. Sedikit menggombal di sana, sedikit menggoda di sini, sukses membuat pelayan itu memerah malu.hei apakah dia tidak sadar kalau ada orang lain disini?

Kali ini baekhyun ingin menggaruk muka chanyeol dan pelayan ini.

Chanyeol memesan banyak makanan. Banyak. Ketika baekhyun hendak membuka menu, chanyeol tanpa permisi mengambil menu yang di pegang baekhyun dan memberikan nya kepada pelayan tersebut. Katanya pesanan yang dia pesan tadi untuk dua orang. Baekhyun mendengus begitu pelayan itu akhirnya undur diri.

"ada apa?" dengusan baekhyun ternyata membuat chanyeol penasaran. "kalau kau ingin berkomentar, bilang saja terus terang"

Baekhyun mencibirkan bibirnya. "kau... berengsek" baekhyun mengeluarkan kata yang tabu di ucapkan oleh bibirnya. Ada perasaan aneh ketika kata berengsek keluar dari bibir mungil nya.

Baekhyun mengira chanyeol akan marah, setidaknya tertohok dengan perkataan baekhyun. diluar dugaan, chanyeol malah tertawa. "sudah sering mendengar kata itu"

Otak baekhyun jungkir balik. Chanyeol yang dipikiran nya berbeda dengan apa yang sebenarnya. Chanyeol yang dipikiran nya merupakan versi nyata dari buku dongeng. Populer, jago olahraga, pintar dan baik hati. Pokoknya, versi sempurna dari impian semua kaum.

Baekhyun salah. Chanyeol yang asli cacat mental. Dia memang populer, jago olahraga, dan pintar. Namun, sifat nya jauh dari perkiraan baekhyun. chanyeol adalah orang yang berengsek. Dia sembarangan, keras kepala, dan suka memaksa. Chanyeol adalah orang yang mampu menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan orang lain. Chanyeol yang asli adalah licik. Chanyeol yang asli adalah penuh tipu daya.

Herannya, perasaan baekhyun tak hilang.

"dasar berengsek!" baekhyun mulai merasakan emosinya naik. "berengsek, berengsek, berengsek" sebagian dari dirinya marah dengan chanyeol yang mampu membolak-balik emosinya. Sebagian lagi untuk dirinya yang tidak mampu mematikan perasaan nya dengan orang sebrengsek chanyeol.

Chanyeol menutup mulut baekhyun. tentu saja baekhyun refleks menepis tangan chanyeol. Dipelototi nya chanyeol, "dasar bajingan!"

"jangan memaksakan diri untuk mengumpat orang, kau bukan tipe orang seperti itu"

"oh, memang nya aku orang seperti apa? Memangnya kau kenal berapa banyak orang seperti ku?" baekhyun mengepalkan tangan.

Chanyeol meneliti muka baekhyun sekilas. "bukan Cuma kenal. Aku sudah pernah berpacaran dengan orang yang seperti kau"

"apa?"

"kalian mudah ditebak. Sangat mudah jatuh cinta dengan ilusi. Tampan, pintar, jago olahraga. Hal-hal seperti itu sangat mudah membuat orang sepertimu jatuh cinta" chanyeol memajukan badan kearah baekhyun. "benarkan?"

Tampang baekhyun gugup sudah cukup menjadi jawaban. Baekhyun menghindari tatapan chanyeol dengan memandang ke arah lain.

"dengan sedikit rayuan, perhatian, dan akting yang tepat, semuanya selesai. Murni permainan. Biasanya aku memilih pacar yang cantik. Yang jelek langsung aku tolak. Baru kali ini ada orang jelek yang memaksa. Ini menarik. Aku penasaran dengan akhirnya"

"berengsek" baekhyun berbisik pelan. Chanyeol terang-terangan mengatakan kalau baekhyun jelek. Ubun-ubun baekhyun ingin meledak.

Chanyeol tertawa. "bisa di bilang begitu. Hanya saja orang sepertimu juga sama kejam nya. bukankah setelah pacaran, perlahan tapi pasti kekasih nya akan diubah menjadi boneka? Mulai menuntut ini itu. Ah ya, aku yakin kau belum pernah pacaran"

"bukan urusan mu" baekhyun tergagap.

"sadar atau tidak, setelah pacaran, kalian lebih menyukai drama pertengkaran dengan kekasihnya. Begitu bertengkar, harus kami yang mengucapkan maaf. Terlalu tipikal. Kalau kau," chanyeol memandang baekhyun lekat-lekat. "aku tidak pernah membayangkan di dekat ku ada bocah seperti kau. Pemalu, tapi nekat kalau di tekan. Kau manis, aku belum tau apa itu yang sebenarnya atau hanya sandiwara seperti yang lain. Kejujuran dan kebodohan sepertimu jarang ditemukan. Baru kali ini ada orang yang tidak membosankan setelah lebih dari dua minggu"

Ini salah satu sihir milik chanyeol. Kata-kata yang terdengar tulus membuat baekhyun bingung harus bertingkah bagaimana. Celaan disampaikan dengan nada lembut seperti ini tidak pernah baekhyun dapatkan. Ini kali pertama, ada orang mengtakan baekhyun jujur dan bodoh pada saat bersamaan.

"hentikan, aku tak tau kalau kau benar-benar sialan. Kalau aku tau kau punya penyakit berengsek seperti ini aku tidak akan menyukai mu"

"tapi, kau menyukai ku. Tidak terbantahkan. Kau tergila-gila dengan ku, sampai berteriak-teriak tidak terima ketika aku menolak mu, kan?" chanyeol menyeringai.

Baekhyun tidak membantah. Namun, pelayan yang membawa makanan pesanan chanyeol menghentikan kata-katanya. Lagi-lagi, mereka saling menggoda. Sungguh, baekhyun ingin berteriak, lalu berdiri dan mengambil kursi untuk dibanting di meja. Sisa-sisa akal sehat nya membuat baekhyun mampu menahan diri.

"kau... kasihan kalau ada orang yang benar-benar serius dengan mu. apa kau tidak pernah berfikir ke sana?"

Chanyeol hampir tersedak tertawa. Dengan dua tegukan air, chanyeol menelan makanan yang dikunyah didalam mulut.

"aku masih sekolah, jauh sekali dari pemikiran kata serius. Suka itu sulit didefinisikan. Aku masih terlalu muda. Banyak hal yang ingin ku gapai dan kurasakan. Aku butuh banyak pengalaman. Temaksud..." chanyeol mencondongkan tubuhnya. Nada suara chanyeol turun drastis menjadi bisikan. Gayanya yang penuh rahasia mengundang baekhyun untuk mendekat. "termaksud orang yang cinta dengan ku hingga rela ku tiduri"

"bohong" baekhyun terhenyak. "kau pasti bohong. Tidak mungkin. Gila!" baekhyun tidak sadar dirinya mengguncang-guncang bahu chanyeol.

Reaksi baekhyun yang seperti ini memang sudah di duga chanyeol. Pipi tembam bersemu merah.

"terserah kalau kau tidak percaya. Tapi apa yang aku bilang itu benar" chanyeol menyeruput jus nya.

Baekhyun ternganga, "jadi..." dirinya masih tidak mempu mencerna fakta bahwa chanyeol pernah meniduri seseorang. Kerongkongan baekhyun rasanya kering saat baekhyun bertanya. "kau benar pernah meniduri nya?"

Mata chanyeol bersinar. "menurutmu apa aku orang yang mampu bertingkah sejauh itu?"

"chanyeol!" baekhyun merasa dirinya sedang dipermainkan. Bergosip bukan kebiasaan baekhyun. namun, cerita ini dan respon chanyeol menyita perhatian baekhyun. baekhyun lupa kekesalan nya dengan chanyeol. Baekhyun lupa sekarang dia tengah bersama dengan orang yang tengah menyabotase diet nya waktu itu. Bahkan, baekhyun lupa dengan taruhan yang dia dan chanyeol buat. "tapi kalau kau, mungkin saja" sambung baekhyun.

Chanyeol menjitak kepala baekhyun. "aku tau batas"

"tapi, kenapa kau tak tertarik? Bukan nya dia akan memberikan dirinya untuk mu?" satu jitakan lagi melayang ke kepala baekhyun. ingin rasanya chanyeol mengacak-acak rambut baekhyun, mencubit pipinya yang tembam dan mencolek hidungnya.

"kau tau kucing? Banyak kucing kalau ditawarkan dengan ikan maka dia akan berliur. Tapi kucing yang satu ini" chanyeol menunjuk dirinya sendiri, "kucing yang satu ini menunggu ikan yang tepat untuk dilahap"

Maksudnya apa? Kening baekhyun mengkerut. "maksudnya, nanti saat ada orang yang menawarkan itu dan kau juga menginginkan itu maka kau akan melakukan itu, begitu?"

"Órang yang tepat, saat yang tepat, dan waktu yang tepat" chanyeol gemas dengan kebodohan baekhyun. "kau ternyata sulit mencerna kiasan. Aku percaya, cinta sejati itu menunggu. Walau aku berengsek tapi aku menghargai seseorang yang ingin mendekat kearah ku"

Baekhyun manggut-manggut. Ternyata, orang berengsek ada klasifikasinya. Orang berengsek yang tau aturan dan tidak. Dan chanyeol termaksud dalam orang berengsek yang tau aturan.

"syukur lah kalau begitu, kalau kau mengenali norma. Berarti, ancaman mu tadi hanya bualan." Baekhyun tertawa. "kalau saja kau tau betapa takutnya aku ketika kau akan mencium ku di depan umum. Memalukan"

Cup

Baekhyun mematung. Chanyeol dengan cepat mencondongkan badan nya dan mencium pipi baekhyun. hanya sekilas dan ringan. Tapi, itu jelas ciuman. Jelas sekali bibir chanyeol menempel di pipi baekhyun.

Chanyeol tersenyum, "aku tidak pernah bilang ancaman ku hanya omong kosong" lanjutan kalimat chanyeol membuat baekhyun semakin bengong, "percayalah, lain kali, aku bisa mencium mu. bisa saja bukan di pipi"

Detail bagaimana baekhyun melewati makan bersama dengan chanyeol hanya merupakan bayangan samar-samar. Baekhyun hanya mengingat chanyeol melancarkan sihir nya. baekhyun berusaha menyangkal sihir chanyeol dengan berdoa di dalam hati. Dalam doa nya, baekhyun meminta pertolongan tuhan agar dirinia tidak melambung terlalu jauh keatas. Sebab semakin tinggi baekhyun melambung maka semakin sakit juga ia akan jatuh. Setidak nya, baekhyun meminta tuhan memberikan bantalan agar baekhyun tidak terlalu cidera saat jatuh nanti.

Mencoba menghentikan chanyeol menebar pesona sama saja menghentikan ikan untuk bernapas di air. Mustahil. Karena itu, harus baekhyun yang mengendalikan diri. Saat chanyeol mengantarkan nya pulang dengan motor mahal nya, baekhyun tidak mampu menahan pikiran nya untuk berkhayal. Beginilah rasanya diantar pulang oleh pacar. Beginilah rasanya kencan, duduk berdua dan mengobrol dengan seru.

Namun chanyeol bukan kekasihnya. Satu-satunya agar chanyeol jadi kekasihnya hanya lewat pemaksaan. Lewat taruhan nekat yang dilontarkan baekhyun. motor chanyeol berhenti di depan rumah baekhyun. baekhyun turun dan melepas helmnya kemudian mengembalikan nya kepada chanyeol.

"A-ada satu hal yang ingin aku bicarakan" baru begitu saja telapak tangan baekhyun sudah berkeringat.

"jangan bilang kalau kau ingin dicium" goda chanyeol.

Baekhyun merengut. "bukan, aku Cuma ingin tahu, kalau aku misalnya menang dari taruhan itu maka-"

"aku kira kau ingin di cium" chanyeo tertawa. "ternyata tentang taruhan kita"

"kalau seandainya aku menang... kau... kau.." sulit sekali mengeluarkan isi pikiran nya. pipi baekhyun mulai bersemu merah.

"aku akan minta kamu jadi kekasih ku di depan umum. Kamu akan mempermalukan ku dengan cara menolak ku mentah-mentah" bantu chanyeol. "ada apa dengan itu?"

"iya, itu dia masalah nya" baekhyun berdeham. "kalau seandainya... ini hanya seandainya, aku tidak... menolak mu? kira-kira berapa lama aku bisa menjadi kekasih mu?"

Chanyeol langsung tersenyum lebar.

Sial.

"itu... jangan salah sangka, aku Cuma ingin menyiksamu. Tadi, kau bilang kalau benci sekali dengan kekasih sok mengatur. Mengingat kalau kau telah keterlalulan dengan ku, mendepak mu didepan umum rasanya kurang menyakitkan. Aku pikir..., aku pikir, cara menyiksa perlahan lebih pas untuk mu" baekhyun menaikkan dagunya. Berusaha menyembunyikan rasa gugup yang melanda.

"jujur saja, bilang terus terang kalau kau sebenar nya ingin jadi kekasih ku. Ternyata, kau benar-benar menyukai ku. Kau penasaran juga rupanya. Kau ingin merasakan jadi kekasih ku kan?" chanyeol cengar-cengir percaya diri.

Baekhyun mengedip-ngedipkan matanya gugup. "lu-lupakan saja" baekhyun menggerutu. "seharusnya aku tau, orang kacau sepertimu sulit diajak berkomunikasi" baekhyun berbalik, membuka pintu pagar nya.

"satu bulan"

Hah?

Gerakan baekhyun terhenti. Ia ingin menepuk pipinya. Ini bukan mimpi kan? Ini nyatakan? Baekhyun memutar tubuh nya perlahan. Ditatap nya chanyeol yang sedang menghidupkan mesin motor nya. "satu bulan. Sama dengan lamanya hari ketika kau menjadi pembantu dirumah ku saat kau kalah nanti"

"O-oh.., oke" hanya itu respon baekhyun.

Tanpa berkata-kata lagi, chanyeol melesat meninggalkan baekhyun. motor chanyeol berbelok di ujung jalan rumah baekhyun, meninggalkan baekhyun yang masih kaget dengan persetujuan chanyeol.

Chanyeol bilang setuju. Chanyeol bilang setuju pada permintaan baekhyun. "Aaaaa!" baekhyun berteriak girang. Tanpa malu dia loncat-loncat sambil menari girang.

.

.

.

.

.

Sementara itu...

"Aaaa!" teriakan keras baekhyun terdengar jauh hingga keujung jalan.

Chanyeol tertawa pelan. Dia penasaran dengan reaksi baekhyun. motornya sengaja dia hentikan di tikungan jalan. Kepalanya melongo mengintip baekhyun.

"dasar bodoh, itu kalau kau menang" dibalik tutup helm nya, senyum terukir di wajah chanyeol saat ia memacu motornya pergi.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED!

.

.

.

.

bagaimana? bagaimana dengan chapter kali ini? keren kah? atau membosan kan kah?

yang nebak chanyeol yang jadi secret admirer pas di chapter kemaren tepat sekali. tapi chanyeol dibantu luhan dan sehun ya :) dan di chapter kemaren banyak yang suka luhan ya? hahah ternyata semua itu tipuan hahah :) ternyata luhan baik karena disuruh chanyeol supaya baekhyun gak curiga dengan luhan yang pengen tau alamat rumah nya baekhyun.

oia, aku kasih tau nih.. sebentar lagi fanfic ini bakalan end. yey \(^-^)/ makanya pantengin terus fanfic ini. dan jangan lupa buat review!

review kalian itu sangat penting demi kelanjutan fanfic ini :)

yaudah deh klo gitu! bye~ :*