Title : Mr. B?

Cast : Chanbaek feat kaisoo and hunhan

Rating : T

.

.

.

DONT LIKE, DONT READE

SAY NO TO PLAGIATRISM, SILENT READERS, AND BASHER

.

.

.

WARNING ! THIS FANFIC FULL OF YAOI.

.

.

.

.

.

HAPPY READING^^

.

.

.

.

.

#sebelumnya~

Chanyeol menunduk, mendekatkan wajahnya dengan wajah baekhyun dan memegang pundak baekhyun. "kau tau? aku tak akan melepaskan mu. kau tidak akan bisa menghapus rasa cinta mu padaku. Walaupun benar terjadi, aku akan membuat mu jatuh cinta dengan ku lagi"

"tidak, tidak akan" baekhyun menggeleng pelan

"ya. Aku pastikan, selama aku belum ingin melepaskan mu, kau tak akan bisa lari dari ku" chanyeol pergi keluar dari ruangan klinik sekolah meninggalkan baekhyun sendirian dalam keheningan.

"aku tak akan kalah" ujar baekhyun lirih. Tekat nya sudah bulat. Dengan cara apapun diet nya harus berhasil.

.

.

.

.

.

CHAPTER 6

.

.

.

.

.

Apel, air putih.

Air putih, apel.

Air putih, air putih.

Air putih.

Baekhyun nekat. Baekhyun sangat menderita dengan dietnya. Rambut baekhyun perlahan-lahan mulai rontok karena terlalu stres. Baekhyun tidak peduli, yang penting badan nya kurus. Telapak tangan baekhyun warnanya berubah dari biasanya. Muka nya kini menjadi lebih pucat dan kantong matanya berwarna hitam. Akibat diet nya, wajah baekhyun menjadi lebih kusam. Orang-orang tidak menyadari itu berkat masker dan vitamin yang di belikan luhan waktu itu. Luhan membelikan nya banyak stok masker dan vitamin hingga sampai sekarang pun belum habis. Benda-benda itu sedikit banyak membantu kulit wajah baekhyun untuk tetap terlihat lembab.

Baekhyun benar-benar nekat. Biaya yang sudah dia keluarkan untuk proyek ini menguras saldo tabungannya. Chanyeol harus kalah! Tidak ada ceritanya baekhyun menjadi pembantu. Chanyeol tidak pantas mendapatkan pembantu seperti baekhyun. baekhyun harus menang.

Harus diet. Harus diet.

Baekhyun menemukan cara menurunkan berat badan yang ampuh. Apel dan air putih. Dua kombinasi yang sangat sempurna untuk menurunkan berat badan. Kalau lapar, minum air putih lagi dan lagi. Timbangan baekhyun turun drastis! Beratnya semula 90 kilo sekarang menjadi 58 kilo dalam waktu hampir 2 bulan – 3 minggu diet tak benar penuh gangguan dan 3 minggu diet dengan minum air putih dan apel saja serta seminggu sekali makan semangkuk nasi dengan telur rebus-. Dengan begitu dia akan menang melawan chanyeol.

Baju dan celana yang di belikan luhan waktu itu ternyata bisa masuk ke badan nya sekarang. Yang dulu dianggapnya baju dan jeans terkecil di dunia itu sekarang muat dengan nya. itu sudah prestasi yang sangat hebat. Baekhyun tidak sabar menyelesaikan ini. Ia ingin semua lemak nya hilang, tanpa jejak.

Baekhyun semakin keras melakukan diet nya. diet ala model internasional, itu julukan baekhyun bagi program barunya. Tidak butuh tiga bulan bukan? Tiga minggu sudah cukup.

Seragam baekhyun mulai kedodoran. Celana sekolah nya seharusnya sudah diganti. Namun, baekhyun memilih untuk tidak menggantinya. Sebagai kenang-kenangan ujar nya.

Dari semua kemajuan yang dialami nya, hanya satu masalah yang tersisa. Kyungsoo yang biasa nya cerewet masalah diet sekarang malah menjadi orang nomor satu yang paling menentang diet baekhyun. katanya, baekhyun menuju ke sakit psikologis.

Seperti kemarin. Hari itu, hujan turun. Sekolah sudah mulai sepi. Baekhyun dan kyungsoo duduk di bangku koridor sekolah sambil menunggu hujan reda. Setelah itu, baekhyun mengeluh badannya lemas. Melihat baekhyun kepayahan seperti itu, mau tak mau kyungsoo menunggui baekhyun. sebenarnya kyungsoo hari ini diantar pulang oleh kai. Tapi kebetulan baekhyun sendirian di saat hujan seperti ini, dan kondisinya baekhyun tak bisa ikut masuk kedalam mobil sport kai, alhasil kyungsoo menyuruh kai untuk pulang tidak usah menungguinya.

"kyung, tanah sehabis hujan itu mirip tiramisu ya?" gumam baekhyun dengan tatapan seperti terhipnotis.

Kyungsoo melirik kearah mata baekhyun memandang.

Astaga.

Kubangan kotor coklat seperti itu tidak ada mirip-miripnya dengan tiramisu. Lumpur seperti itu lebih seperti tempat kerbau mandi sehabis berladang disawah. Otak baekhyun sepertinya macet. Pikiran nya berhalusinasi tentang makanan.

Itu menyeramkan.

"baek, astaga, kau diet terlalu keras. Bisa bahaya "

Kyungsoo semakin cemas melihat baekhyun bergeming mendengar komentarnya.

"kau masih joging? Mulai sekarang berhenti saja, oke? Diet dan olahraga mu tak seimbang. Badan mu bisa rusak."

Baekhyun meringis, bukan karena mendengar perkataan kyungsoo melainkan ikat rambut berwarna putih di kepala seseorang siswi yang melintas didepan baekhyun dan kyungsoo. Di mata baekhyun, ikat rambut itu tampak seperti krim kue tart. Sebesar itulah rindu baekhyun terhadap makanan. Baekhyun rindu pancake madu, juga banana split, nugget, dan bayang-bayang makanan lezat lain nya.

"baekhyun! kau dengar aku kan? Aku kawatir kalau kau tak berhenti, kau bisa meninggal, byun!" kyungsoo menyentuh tangan baekhyun. baekhyun hanya menoleh sambil mengerutkan kening.

Berlebihan sekali

Ada satu masalah kecil lainnya. Kepala baekhyun sering pusing sejak diet nya ala model internasional itu. Sakitnya muncul dan tenggelam tanpa bisa diduga. Awalnya jarang. Setiap timbangan nya turun, maka frekuensi pusing nya akan menjadi bertambah.

Seperti yang terjadi hari ini. Baekhyun duduk bertopang dagu. Materi di kelas tidak ada yang masuk kedalam kepala nya. perutnya perih. Kepalanya pusing. Apel yang dimakan nya tadi pagi tidak cukup mengganjal perutnya ternyata.

Lapar.

Baekhyun sudah terbiasa dengan rasa lapar. Atasi dengan minum air putih banyak-banyak. Tangan baekhyun bergetar saat dia mengambil botol air minum dari dalam tasnya. Kyungsoo ternyata tidak konsentrasi dengan pelajarannya. Dia memandang baekhyun dengan kawatir.

Baekhyun memberi senyum menenangkan. Ia akan baik-baik saja. Ia harus baik-baik saja.

Baekhyun menenggak minuman nya dengan banyak. Rasa perih di perutnya sudah berkurang. Hanya saja, rasa pusing yang ada dikepalanya mulai tidak tertahan kan. Pusing yang di alami baekhyun sepertinya mulai tidak tertahan kan. Baekhyun ingin berbaring.

Apa aku ke klinik sekolah saja?, pikir baekhyun.

"kyungsoo.." panggil baekhyun pelan, "aku ingin ke klinik sekolah"

Kyungsoo memegang tangan baekhyun. "aku antar"

Baekhyun menggeleng. "tak usah, aku bisa sendiri"

"tapi—"

"nanti, kau akan disangka kabur pada jam pelajaran sedang berlangsung" baekhyun mencoba bercanda. Tidak berhasil rupanya. Kyungsoo masih cemas. Baekhyun meremas tangan kyungsoo. "tenang saja, aku janji akan makan karbohidrat nanti saat istirahat"

Kyungsoo mendesah. "hentikan taruhan konyol ini, byun baekhyun. aku takut kau akan sakit"

Baekhyun menggeleng. Muka nya mengerut keras kepala. "sudah terlanjur. Sebentar lagi selesai" baekhyun berdiri sambil mengangkat tangan kanan nya.

"pak, saya izin ke klinik sekolah"

Izin langsung diberikan karena baekhyun memang benar-benar pucat. Langkahnya benar-benar tidak mantap. Pusing kepala baekhung bertambah parah saat berjalan keluar kelas.

Baekhyun menarik napas. Rasa berdenyut-denyut merambat di kepala baekhyun. matanya mulai kabur.

Baekhyun menyusuri koridor dengan berpegangan dengan dinding. Badan baekhyun sesekali merosot. Ia benar-benar ingin berbaring. Namun berbaring di koridor sekolah? Tidak, terima kasih. Baekhyun berhenti berjalan sambil menunggu sakit kepalanya berkurang. Saat dirasanya sedikit mereda, ia mulai melanjutkan jalan nya. begitu beberapa kali.

Sakit. Terlalu sakit

Baekhyun memegangi kepalanya. Badannya doyong kedepan. Kemudian lengan nya ditangkap. Baekhyun menoleh. Matanya berbayang-bayang.

Siapa?

Perlahan mata baekhyun mulai fokus. Ya tuhan..., jangan chanyeol. Siapa pun boleh melihat nya dalam keadaan menyedihkan seperti ini, kecuali tiang listrik ini. Tindakan ku yang lalu sudah memalukan. Ini yang paling memalukan. Ujar baekhyun dalam hati.

"keras kepala. Menyerah saja" chanyeol menggerutu. Tangan nya menegakkan bahu baekhyun. "ayo ke kantin. Kau butuh makan"

Baekhyun tersenyum dan menepis tangan chanyeol. "tanggung. Aku hampir menang" tanah tampaknya tidak berkompromi dengan baekhyun. kaki baekhyun merasa lemas dan tanah disekitar nya terlihat seperti bergelombang dan bergoyang. "lebih baik kau pergi"

Chanyeol mendecak kesal. Ia ingin memegangi tubuh baekhyun, tapi sekali lagi baekhyun menepis tangan chanyeol. Sambil melongos angkuh, baekhyun mulai berjalan lagi. Kaki nya mati-matian menahan supaya dia tidak jatuh. Chanyeol masih ada di belakang nya. dia tidak boleh terlihat lemah di depan chanyeol.

"aku menyerah"

Telinga baekhyun berdenging. Rasanya dia salah mendengar perkataan chanyeol. Baekhyun perlahan membalikkan badan nya. "apa?"

Chanyeol menghela napas dan menatap manik mata baekhyun. " aku menyerah. Ayo kita ke kantin. Makan. Kau butuh makan" sungguh, chanyeol tidak tau mengapa dia gelisah. Rasa tidak nyaman ini tarasa semakin membesar kala baekhyun mendadak kurus. Ingin sekali chanyeol menyatakan dia tak ada hubungan dengan semua perubahan baekhyun. namun, disela sela keberengsekan yang sudah mendarah daging di hati chanyeol, ia tau ada sebagian dari perubahan itu akibat dorongan dari dirinya. "aku menyerah, Mr. B"

Baekhyun ingin tertawa. Ingin sekali tertawa. Namun, kalau dia tertawa. Kepalanya akan semakin sakit. Pandangan nya mulai berkunang-kunang. Padahal, ini adalah momen kejayaan bagi baekhyun. membalas semua kelakuan chanyeol yang kurang ajar dengan nya.

Baekhyun mengerjap-ngerjapkan matanya. Mencoba menghilangkan bayang-bayang bintik-bintik di matanya. "kau kalah, park chanyeol"

"apa itu penting?" chanyeol mendekat

"penting sekali, itu... itu artinya, kau..." tak tahan. Baekhyun sudah tak tahan lagi. Tubuhnya lemas. Mata-baekhyun menutup perlahan-lahan, tidak bisa ditahan lagi. Chanyeol berteriak memanggil baekhyun. penuh kekhawatiran. Lalu suara chanyeol tak terdengar lagi.

Semua nya gelap.

.

.

.

.

.

Minum air. Minum air..

Timbangan ku turu, minum air..

Minum iar, minum air..

Timbangan ku turun lagi, dan minum pun makin banyak...

Minum air, minum air...

Ah tidak, aku gemetar hampir pingsan...

Aku makan apel, dua butir apel..

Lalu aku..

Minum air lagi...

Lalalala... lala.. minum air...

Lagu aneh bergema dikepala baekhyun. di ulang-ulang dengan lirik mengejek baekhyun. baekhyun ingin berteriak berhenti, tetapi mulutnya kaku. Ia ingin menutup telinga nya, tapi tangan nya kaku. Baekhyun seperti mengambang diatas udara.

Gelas. Timbangan. Apel.

Benda-benda itu terbang mengelilingi baekhyun. mengejek baekhyun, pastinya. Tidak bisa berbuat apa-apa, baekhyun menutup kedua kelopak matanya. Ini hanya mimpi, batin baekhyun.

Dan perlahan-lahan punggungnya mulai merasakan empuk nya kasur. Ia yang menguasai mimpinya.

Perlahan baekhyun membuka matanya, dan langsung disuguhi pemandangan serba putih dan bau menyengat obat.

"baek... byun baekhyun?" suara bass khas milik chanyeol membuat baekhyun menoleh dan mendapatkan chanyeol yang sedang menatap nya khawatir. Tepat di sebelah nya ada seorang perawat membereskan peralatan. Baekhyun mengangkat tangan nya. ada infus disana. Dia di infus?

"suster"

Suster yang berada di sebelah chanyeol itu menoleh, lalu mendorong tangan baekhyun ke tempat tidur. "istirahat saja, kau ada dirumah sakit" ujar suster tersebut.

Sambil tersenyum menyenangkan, dia berlalu membawa peralatan medis ditangan nya.

"chany—" belum sempat baekhyun melanjutkan perkataan nya, kepala baekhyun sudah di jitak pelan. Baekhyun melotot menatap chanyeol yang dengan berani nya menjitak orang yang sedang sakit.

Wajah chanyeol antara kawatir, kesal dan menahan tawa. "jangan buat orang khawatir" chanyeol mengelus raambut baekhyun. "bodoh"

Baekhyun tersenyum. "aku menang" setelah itu pun baekhyun tertidur.

.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun merengek dalam tidurnya. Suara deham ibunya memaksa baekhyun membuka mata. Kesadaran baekhyun belum terkumpul semua saat ibunya mulai mengoceh, memarahinya. Ibunya marah besar. Dengan tegas, ibunya memerintahkan baekhyun untuk menghentikan segala tingkah konyol nya. diet dan segala bentuk usaha menjadi kurus dilarang keras.

Saat seperti ini, baekhyun mengangguk saja. Sebagai pihak yang terpojok, memberi argumen hanya akan memperpanjang masalah.

Ibunya mengatakan bahwa lambung nya terkena iritasi. Perutnya harus diisi makanan yang lembut dulu. Ibunya menyuapkan sesendok bubur dengan campuran daging ayam yang di potong kecil-kecil.

"roti saja, bu" baekhyun mendorong mangkuk bubur nya. ibunya melotot. Tatapan ibunya ternyata ampuh, buktinya baekhyun langsung memasukkan sesendok bubur kedalam mulut nya.

"habiskan. Ibu akan membayar administrasi. Jangan disisahkan. Kalau kau menyisahkan bubur itu, maka ibu tak segan-segan menyuruh mu makan semangkuk lagi."

"iya, bu" baekhyun mengangguk

"dengarkan apa kata ibu. Jangan berbuat konyol seperti itu lagi, oke?"

"iya, bu. Aku juga tak mungkin kemana-mana" baekhyun cemberut

"makan bubur itu sampai habis!" ibunya keluar sambil mengacungkan jari mengancam.

"iya, tak usah bilang sampai dua kali juga aku sudah mengerti" gerutu baekhyun sambil menyantap bubur nya perlahan.

Sampai di rumah nanti, ia pasti akan diawasi makan seperti anak balita oleh ibunya.

"terimakasih sudah menolong baekhyun tadi siang" Di luar pintu, ibunya baekhyun menyapa ramah seseorang. "baekhyun memang agak keras kepala. ajhumma juga heran kenapa baekhyun sampai nekat untuk diet. Sampai-sampai masuk rumah sakit seperti ini"

Baekhyun menelan bubur nya. dengan siapa ibunya berbicara?

"tidak tau juga, ajhumma. Boleh saya masuk kedalam?"

Chanyeol!

Baekhyun gelagapan. Bagaimana ini?! . panik menyerang baekhyun. ia tidak tahu arus bagaimana mengahadapi chanyeol. Pingsan akibat kekurangan nutrisi di depan musuh sangatlah tidak elegan. Buru-buru, baekhyun meletakkan mangkuk buburnya di nakas samping ranjangnya. Mulut nya yang berlepotan bubur dilap dengan punggung tangan nya, lalu baekhyun mengambil posisi tidur.

"boleh. Ajhumma ingin membayar administrasi dulu. Tolong jaga baekhyun "

Oh.. ayolah, ibunya terlalu berlebihan.

Baekhyun menarik selimut tipis yang di taruh di ujung kasur, lalu menutup matanya. Dicobanya untuk berakting tidur. Pintu terbuka, chanyeol masuk.

Semakin dekat langkah chanyeol ketempat baekhyun berbaring, semakin cepat detak jantung baekhyun berdetak. Malu. Chanyeol meletakkan sesuatu di meja. Mungkin buah-buahan untuk baekhyun. Bunyi kursi di geser jelas menandakan chanyeol duduk di dekat baekhyun sekarang.

Tangan baekhyun mengetat. Seprai ditangan nya di genggam kuat. Baekhyun ingin menghindari chanyeol. Rasa malunya belum hilang. Kalau perlu, dia ingin bersekolah di luar negri. Semakin jauh dari chanyeol semakin baik.

Baik chanyeol maupun baekhyun, kedua nya terdiam selama beberapa saat. Baekhyun dengan posisi tidur pura-puranya, sementara chanyeol dengan posisi duduk nya di sebelah baekhyun. saat baekhyun tidak bergeak bangun juga, chanyeol menyerah. Kursinya digeser dan ia melangkah. Pintu dibuka, lalu beberapa detik kemudian berdebam menutup.

Baekhyun mendesah lega. Bisa juga dia lolos dari chanyeol. Mata baekhyun terbuka, dia mengambil posisi duduk di kasur. Saat mata nya melirik ke pintu. Mata baekhyun terbelalak sempurna.

Ya tuhan!

Chanyeol masih didepan pintu dengan kedua tangan masuk kedalam saku celana. Matanya yang usil bersinar jenaka dan bibir nya membuat cengiran lebar khas nya.

Baekhyun tak sanggup berkata-kata. Muka nya memerah. Benar-benar merah. Apalagi ketika chanyeol mulai mendekatinya. Dengan santai, chanyeol duduk di kursi. Walau tanpa suara, jelas chanyeol sedang menertawakan nya!

Baekhyun menutup muka nya dengan kedua tangannya. Lalu berbaring memunggungi chanyeol. Ini benar-benar diluar apa yang mampu ditanggung baekhyun. rasa malunya sudah tak tertahan lagi.

Dasar licik.

Baekhyun tidak memikirkan kemungkinan chanyeol akan pura-pura keluar, membuka pintu dan menutupnya. Akal jail chanyeol memang tidak dapat diduga.

Chanyeol berdeham. "akting mu tidak bagus. Payah" chanyeol menarik bahu baekhyun agar menghadap kearah nya.

"pergi! Aku tak mau melihat muka mu" baekhyun berteriak kecil.

Chanyeol hanya berdecak. "begini kau memperlakukan orang yang sudah menolong mu? seharusnya, aku mendapatkan minimal ciuman atau ucapan terima kasih dari mu. yang aku dapatkan malah bentakan dari mu" Nada pura-pura kecewa Chanyeol membuat Baekhyun menggigit bibir nya.

"hei," kali ini tarikan chanyeol di bahu baekhyun lebih kuat. " aku bukan ingin berbicara dengan punggung"

Baekhyun terus mengelak.

Chanyeol mendesah. "kalau kau tidak ingin melihat ku, baiklah, tak apa. Ada yang ingin ku katakan" Chanyeol terdiam sesaat. "aku Cuma ingin berterimakasih atas kehadiran mu akhir-akhir ini. Ada warna baru yang belum pernah aku alami. Kau memberikan ku pengalaman unik. Aku bersyukur telah bertemu orang seperti mu"

Baekhyun membuka kedua tangan nya dari muka. Perasaan nya tidak enak. Ia ingin membalikkan badan nya, tapi entah kenapa dia tidak bergerak.

"jujur saja, aku tersanjung. Aku berterimakasih atas rasa suka mu" chanyeol tertawa. "aku belum pernah disukai seseorang sampai segila ini. Sampai dia kehilangan 30 kilo berat tubuh nya hanya karena rasa suka nya. aku belum pernah di tantang untuk bertaruh sampai seperti ini. Semua orang yang suka dengan ku Cuma bertahan sebentar saja, tapi, kau," baekhyun dapat merasakan tatapan chanyeol pada punggung nya. "kau masih bertahan"

Ada apa dengan park chanyeol-nya?

"aku tidak mengerti apa itu cinta. Aku tidak mengerti orang-orang yang menyukai ku. Tapi, kau.. berbeda. Coba saja, kau..." jeda panjang membuat perasaan baekhyun dingin.

"kalau saja kau datang lebih cepat, mungkin kita dapat bersenang-senang lebih lama"

Apa maksud nya?

Chanyeol berdeham. "baekhyun, aku... aku akan pindah ke jepang. Orang tua ku pindah karena tugas kantor. Hari ini adalah hari terakhirku di sini. Maaf aku tidak memberitahu mu lebih awal"

Baekhyun merasakan dadanya sesak. Tangan nya tanpa sadar mengepal sampai kuku-kuku jari nya memutih.

Chanyeol dengan berat hati melanjutkan ucapannya. "terimakasih untuk semuanya. Lain kali, kalau kita memang berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi. Selamat tinggal"

Chanyeol berdiri dari duduknya.

Baekhyun merasakan matanya basah. "tidak adil" bisiknya lirih. Chanyeol yang hendak pergi, menghentikan langkahnya. Suara baekhyun masih tertangkap di telinga nya.

"baekhyun?"

"tidak adil" baekhyun terisak lebih keras sambil berusaha duduk di kasur nya. ia memandang chanyeol dengan air mata yang mulai menurun dari kelopak mata nya. "kau seharusnya tidak boleh pergi. Taruhan kita belum selesai. Aku belum mempermalukan mu didepan seluruh penjuru sekolah. Masih banyak urusan yang belum selesai. Aku..." air mata baekhyun menderas.

"baekhyun..." chanyeol mendekat kearah baekhyun. tangannya terulur ingin menyentuh pipi baekhyun, tetapi ditepis oleh laki-laki bermarga byun itu.

"kau seenaknya saja masuk dan keluar di kehidupan ku. Aku bukan mainan mu. ini tidak adil!" baekhyun mencoba berdiri di samping kasur nya

"baekhyun..." kedua tangan chanyeol terulur memegang lengan baekhyun. ia takut baekhyun akan jatuh. Dia belum benar-benar pulih. Baekhyun berontak, tetapi pegangan chanyeol yang kuat membuat baekhyun menyerah. "dengarkan aku..."

"banyak yang ingin aku katakan. Banyak yang aku ingin ceritakan. Aku... aku..." tangis menghentikan kata-kata baekhyun. yang ia lakukan hanya terisak. Tubuh baekhyun lemas. Ia hanya bertumpu pada pegangan chanyeol.

"hei, Mr. B. Lihat aku..." chanyeol memaksa mata baekhyun menatap nya.

Baekhyun merasa sakit. Ia kehilangan. Walau chanyeol berengsek, ia orang yang disukai seorang byun baekhyun. Baekhyun tidak berfikir akan sesakit ini. Padahal dia bukan siapa-siapanya chanyeol. Teman bukan, kekasih juga bukan. Namun, kabar chanyeol akan pindah membuat baekhyun seperti ditinggal... selamanya.

"kalau kau pergi, aku bagaimana?" baekhyun perlahan menatap chanyeol.

"memangnya..." chanyeol memberikan ekspersi sedih seperti baekhyun. kata-kata itu menggantung di udara. Baekhyun mulai gusar. Chanyeol yang mengerti kegusaran baekhyun pun melanjutkan kalimat nya.

"memangnya Cuma kau yang bisa akting, hm?" tatapan sendu chanyeol berubah menjadi cengiran khas nya. "aku juga bisa akting" chanyeol mendudukkan baekhyun di kasur dan melepaskan pegangan tangan nya di lengan baekhyun. ia tertawa puas. Sangat puas.

Hah?

Seluruh emosi baekhyun surut tiba-tiba. Sakit, sedih, dan air mata nya tadi seperti hilang begitu saja. "A-apa?"

"kau berakting. Aku juga bisa" chanyeol berjalan menuju bingkisan berisi buah yang di letakkan nya di meja tadi. "hanya saja, aku tidak menyangka reaksi mu akan se-emosional ini. Kau benar-benar tidak bisa kehilangan ku. Rasanya, aku tak percaya perkataan mu waktu itu."

"apa?" baekhyun masih bengong

"kau mengatakan kau tidak akan mencintaiku lagi. Aku tak percaya" chanyeol berjalan mendekat kearah baekhyun sambil membawa sebuah apel.

"hah?"

Chanyeol merasakan perubahan emosi baekhyun. "aku hanya bercanda." Chanyeol tertawa. "mau aku kupasi apel nya?"

Dan sebuah apel melayang di kepala chanyeol.

.

.

.

.

.

Baekhyun duduk di kursinya sambil melihati ibunya yang sibuk merapikan ruangan yang sudah di huninya selama 3 hari ini.

"ibu, sebaiknya istirahat saja" baekhyun membenari letak bantal di belakang punggungnya. "muka ibu pucat. Ibu butuh istirahat. Aku hanya sakit biasa. Aku sudah sembuh. Tak usah terlalu memikirkan ku"

"apanya yang sakit biasa?" ibunya melotot.

Astaga, mulai lagi.

Dia tidak ingin mendengar ocehan panjang ibunya yang menyeramahi diet ketat nya waktu itu.

"kau bilang itu han—" perkataan ibunya terhenti ketika suara derit pintu yang di buka terdengar. Chanyeol ! kau memang penyelamat, batin baekhyun.

"ah.. lagi pula ada chanyeol disini. Dia bisa menjaga ku untuk hari ini" chanyeol yang baru saja datang dengan membawa beberapa kantong plastik yang sepertinya berisi makanan itu pun terdiam. Dia menatap baekhyun bingung.

"iya kan, yeol?" baekhyun menatap chanyeol mengisyaratkan kalau dia dalam situasi gawat.

"hm.. i-iya" chanyeol mengangguk dan baekhyun bernapas lega. Ibunya pun luluh.

"baiklah, aku percaya padamu, chanyeol-ssi" ibunya baekhyun menepuk pundak chanyeol. "aku akan beristirahat seharian ini. Tolong jaga baekhyun, ya?"

Chanyeol sedikit ragu. Bagimana tidak, dia yang baru saja datang sudah di jadikan sebagai penengah yang tak tau apa-apa. Chanyeol menoleh kearah baekhyun. dan baekhyun menggerakkan mulut nya tanpa suara mengatakan 'Please'

"iya" angguk chanyeol mantap. Dan ibunya baekhyun pun melemparkan senyum kearah chanyeol dan baekhyun.

"kalau begitu ibu pulang dulu, baekhyun. sampai jumpa nanti malam" ujar ibunya sambil membawa tasnya keluar dari ruangan.

Begitu dipastikan ibunya sudah tak terdengar lagi langkah nya, baekhyun pun bernapas lega.

"hei, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba membawa-bawa nama ku?" chanyeol yang tidak terima dengan keputusan sepihak baekhyun pun merajuk.

"maaf, situasi genting" baekhyun hanya memberikan senyuman minta maaf nya kepada chanyeol.

Baiklah, chanyeol menyerah. Dia pun berjalan kesebuah kursi dan menarik nya untuk mendekat dengan kasur baekhyun. di duduki nya kursi tersebut sambil memencet beberapa nomor di layar ponsel nya, kemudian di arahkan nya di dekat telinga.

"halo" ujar chanyeol mengawali pembicaraan nya di ponsel milik nya. baekhyun mengerutkan kening nya. Seolah mengerti dengan kerutan di kening baekhyun, chanyeol menggerakkan mulut nya tanpa suara berkata 'sehun'. Baekhyun mengangguk.

"aku tidak bisa ikut dengan kalian hari ini... ada seseorang yang dengan seenak nya menyuruh ku menjaga nya seharian ini" baekhyun mem-poutkan bibir nya ketika menyadari bahwa chanyeol menyindirnya.

"kai? Tidak bisa juga? Dia belum sampai, mungkin seben—" perkataan chanyeol terhenti ketika suara pintu terbuka dan diikuti suara teriakan.

"BYUN BAEKHYUN!" dan itu suara kyungsoo.

"kau dengar kan suara itu? Kai dan pujaan hatinya sudah sampai disini" chanyeol berkata sambil melirik kearah kai dan kyungsoo yang mulai mendekati ranjang milik baekhyun.

Mengetahui akan ada kegaduhan di ruangan ini, chanyeol yang sedang menelpon pun keluar ruangan sambil tetap menempelkan ponsel nya di telinga.

"baekhyun, aku merindukan mu." kyungsoo memeluki tubuh kurus baekhyun. kai hanya mendengus melihat tingkah kekasihnya. Dia memilih untuk duduk di sofa dan memainkan ponsel nya.

"kau baru saja kemarin menjenguk ku" baekhyun terkekeh begitu melihat ekspresi kesal kyungsoo. Kyungsoo pun duduk di kursi yang tadi sempat di duduki chanyeol.

"kelas terasa sepi tanpa mu" baekhyun tersenyum manis kearah kyungsoo. Dia merasa beruntung mempunyai sahabat seperti kyungsoo.

"mungkin aku besok sudah bersekolah, bersabarlah, Kim kyungsoo" kai dan kyungsoo yang mendengar perkataan baekhyun pun melotot kearah nya. bukan masalah perkataan nya, tapi masalah baekhyun menyebut nama kyungsoo yang bermarga Do malah menjadi Kim.

"hei, Dia belum menjadi Kim, bersabarlah. Park baekhyun" baekhyun terhenyak mendengar perkataan kai. Kyungsoo dan kai hanya tertawa puas telah membully teman nya.

"terserah" ujar baekhyun kesal. Park baekhyun? menjadi kekasih saja belum.

Suara pintu terbuka pun terdengar. Chanyeol masuk dengan santai. "hei, kita akan dibunuh Sehun besok" ujar chanyeol sambil duduk di sebelah kai.

"kenapa?" kai masih fokus dengan ponselnya dan membuat chanyeol geram.

"oh, ayolah.. Luhan hari ini ulang tahun. Dan sehun ingin meminta bantuan kita untuk merayakan nya bersama, tapi kita..." chanyeol melirik ke arah baekhyun dan kyungsoo yang asik mengobrol, dan di ikuti dengan kai.

"asalkan kyungsoo senang, di bunuh Sehun pun tak apa" kai menatap lurus sambil tersenyum, chanyeol memutar bola mata nya jengah.

"dasar kyungsoo maniak" chanyeol bersandar pada sandaran sofa yang di duduki nya.

Mereka pun saling mengobrol satu sama lain. Maksud nya baekhyun mengobrol dengan kyungsoo, kai dengan ponsel nya dan chanyeol dengan pikiran nya. Entah apa yang dipikirkan chanyeol sedari tadi. Sehingga terlihat seperti memikirkan masalah yang pelik.

Dan ketika sebuah senyum menghiasi wajah nya, kai pun yang disebelah nya merasakan hawa yang tak baik.

"ada apa?" tanya kai agak ragu. Chanyeol masih tersenyum kearah nya. dan itu membuat sedikit bulu roma nya merinding.

"kau ingin membantu ku?"

.

.

.

.

.

"aku senang kau mengajak ku jalan-jalan seperti ini" baekhyun merentangkan tangan nya sambil melompat-lompat kecil di kursi roda nya. "sudah 3 hari ini aku tidak mengirup udara segar"

"ini bukan ide ku, tapi ide tiang listrik itu" kyungsoo yang mendorong kursi roda baekhyun hanya memberi tatapan sinis ke arah chanyeol. Dan yang di tatap sinis hanya sibuk mengobrol dengan kai "seharus nya kau tetap di kamar mu"

"aku membutuhkan udara segar, kyung. Kalau di ruangan itu aku bisa mati gara-gara jenuh" baekhyun tersenyum menghadap kyungsoo, dan kyungsoo pun luluh. Teman nya yang satu ini memang tidak bisa di sangkal.

"hei, siapa yang kau bilang tiang listrik tadi?" ternyata walaupun chanyeol tengah berbincang dengan kai, dia masih tetap dapat mendengar perkataan kyungsoo.

"heheh kau" kyungsoo menyengir, dan chanyeol hanya menghela napas.

Baekhyun merasa perutnya di penuhi jutaan kupu-kupu. Perasaan nya sangat senang. Dia senang bisa melihat pepohonan lagi. Sedikit berlebihan memang, tapi inilah baekhyun. tanpa baekhyun sadar, Chanyeol melihat baekhyun dengan tersenyum. Melihat Baekhyun tersenyum pun dia jadi ikut tersenyum.

Chanyeol menatap kai dan memberi isyarat berupa anggukan kepadanya. Kai yang mengerti isyarat chanyeol pun ikut mengangguk.

"kyungie, aku hari ini ada latihan dance. Aku ingin pulang. Ayo aku antar kau pulang" kai memegang pundak kyungsoo dan menarik nya menjauh dari kursi roda baekhyun.

"tapi... baekhyun—"

"dia sudah bersama chanyeol. Ayo kita pulang, aku sudah telat" chanyeol mengambil alih dorongan di kursi roda baekhyun. kyungsoo pun menurut dengan perkataan kai.

"baekhyun, aku pulang dulu, oke? Cepat sembuh" kyungsoo mengusak rambut baekhyun pelan.

Baekhyun cemberut. "cepat sekali"

Kai hanya tersenyum ramah dan kemudian menarik tangan kyungsoo untuk segera berjalan.

Begitu sudah sampai di parkiran, kyungsoo baru teringat bahwa kai hari ini tidak ada jadwal latihan dance.

Kyungsoo melepaskan genggaman tangan nya dengan kai. Kai mengerutkan kening nya. "ada apa?"

"bukan nya kau tidak ada latihan dance hari ini. Bukan nya lusa?" kyungsoo menatap kai selidik. Kai hanya terkekeh sambil mencubit pipi kyungsoo.

"ada kala nya kau harus memberikan dirimu menjauh dari nya dan membiarkan seseorang mendekat dengan sahabat mu itu " kai tersenyum dan melanjutkan langkah nya menuju mobil nya dan meninggalkan kyungsoo yang masih mencoba mencerna perkataan kai.

.

.

*sementara itu

.

.

"cepat sekali" baekhyun menghela napas nya. "padahal dia barusan datang" chanyeol yang melihat perubahan ekspresi baekhyun ketika kyungsoo pergi pun mendorong kursi roda baekhyun ke sebuah kedai es krim.

"mau es krim?" tanya chanyeol dan di balas dengan kerutan di kening baekhyun. "aku tau kau sudah lama tak makan es krim dan kau mengingin kan nya"

Baekhyun semeringah. " stoberi satu, tuan park" baekhyun mengancungkan tangan nya.

Chanyeol mengusak rambut baekhyun pelan. "tunggu disini sebentar" chanyeol masuk kedalam kedai eskrim.

Memang sedikit aneh menanggapi prilaku manis chanyeol, mengingat kebrengsekan apa yang pernah ia lakukan kepada nya. Dan sedikit ada kebahagian ketika melihat prilaku baik chanyeol. Ini yang dia ingin kan, bukan? Chanyeol yang baik dan sopan.

Baekhyun tersentak begitu melihat dua orang anak kecil sedang bertengkar tak jauh dari tempat nya. Baekhyun melirik ke sekitar anak kecil tersebut tapi tak terlihat ada orang tua yang menjaga mereka. Di arahkan nya kursi roda nya menuju kedua anak kecil yang sedang bertengkar itu.

"itu milik ku... itu es krim ku!" teriak seorang anak yang menggunakan baju biru kepada anak yang menggunakan baju kuning.

"ayolah.. berbagi dengan teman itu sebuah hal yang baik" si baju kuning itu terus menjilati es krim yang di pegang nya.

"kau bisa beli sendiri!" teriak si baju biru tak terima.

"hei hei hei... ada apa ini?" baekhyun melerai kedua anak tersebut. Dan dilihat nya anak berbaju biru itu sedang menangis.

"e-es krim ku... aku tak ingin berbagi dengan nya. tapi dia mengambil punya ku" si baju biru menyeka air mata nya dengan cepat.

"kau harus membaginya dengan ku!" teriak si baju kuning sambil mendorong pelan si baju biru.

"hei, sudah... jangan bertengkar" baekhyun yang menggunakan kursi roda sedikit kerepotan melerai kedua bocah tersebut.

"ada apa ini?" suara bass chanyeol mengagetkan baekhyun. Chanyeol yang sedang memegang dua es krim di tangan nya pun mendapatkan senyuman dari baekhyun. Di ambilnya eskrim coklat milik chanyeol dan di berikan nya kepada anak kecil berbaju biru.

"nah ini punya mu. sebagai ganti eskrim mu yang di minta oleh nya. jadi jangan berkelahi lagi" eskrim di tangan baekhyun diterima dengan ragu-ragu oleh anak kecil berbaju biru itu.

"terima kasih" anak kecil berbaju biru itu pun mencium pipi baekhyun kemudian berlari menjauh, diikuti oleh si baju kuning.

Baekhyun tersenyum melihat tingkah kedua bocah yang pergi tersebut. Tapi berbeda dengan ekspresi chanyeol.

"itu eskrim milik ku, kau tau?" chanyeol duduk di bangku taman rumah sakit di sekitar nya. baekhyun pun mengikuti chanyeol, ikut duduk di samping chanyeol –dengan kursi rodanya-.

"maafkan aku, berikan eskrim ku" baekhyun mengambil eskrim stoberi milik nya dari tangan chanyeol. Chanyeol yang terlahir dengan otak jail nya pun mulai melancarkan akal bulus nya.

"Baekhyun! ada cicak di eskrim mu!" baekhyun yang mendengar teriakan chanyeol pun langsung melempar es krim milik nya ke tanah.

"mana? Mana?" baekhyun yang panik pun langsung mendapatkan senyuman jail dari chanyeol.

"aku tak makan es krim, begitu juga dengan mu" chanyeol menyenderkan punggung nya ke senderan bangku taman. "supaya adil"

Baekhyun menyesal telah berfikir bahwa chanyeol berubah. Chanyeol tidak pernah berubah. Chanyeol tetaplah Chanyeol si jail dan brengsek.

"kau!" baekhyun memukul lengan chanyeol kuat dan itu membuat chanyeol menjerit kesakitan. "rasakan itu!"

Sebenar nya pukulan baekhyun tidak terlalu sakit, namun chanyeol berpura-pura seakan lengan nya merasakan sakit akibat pukulan baekhyun.

Chanyeol meringis sambil memegangi lengan nya. "kalau aku mati, bagaimana?" chanyeol melotot pura-pura kesal. "kuat juga pukulan mu"

"memang itu tujuan nya. aku harap kau benar-benar mati" seru baekhyun kesal.

Melihat ekspresi chanyeol yang terlihat kesakitan, baekhyun sebenarnya ingin tertawa tetapi di tahan nya.

"kalau begitu aku pulang saja" chanyeol berdiri dari duduk nya. "kau pulang ke ruangan mu sendiri, oke?"

Baekhyun yang merasa bersalah pun memajukan kursi roda nya dan menarik tangan chanyeol. "jangan pergi. maafkan aku, apa itu tadi benar-benar sakit?" baekhyun menatap chanyeol sendu.

Chanyeol yang melihat tatapan baekhyun pun hanya bisa mengacak-acak rambut baekhyun pelan sambil tersenyum. "tentu saja tidak, pukulan mu seperti pijitan buat ku" chanyeol kembali duduk.

Baekhyun berasa tertipu dua kali dengan chanyeol. Akhir nya dia pun memilih untuk diam.

"benarkah kau ingin aku mati? Kau ingin aku benar-benar pergi?" ujar chanyeol memecah keheningan.

Oh , tuhan!

Baekhyun tidak mampu membuat hatinya tetap tenang. Kulit putih nya tidak mampu menyembunyikan rona merah di pipinya. Posisi chanyeol saat ini begitu dekat dengan baekhyun. wajah chanyeol begitu dekat dengan nya. Begitu dekat hingga napas chanyeol bisa terasa di pipi baekhyun.

"chanyeol.." seru baekhyun pelan. "jangan menanyakan hal yang tak penting"

"kau benar menginginkan ku mati?"

Baekhyun mengelak sambil mendorong badan chanyeol jauh-jauh. Sambil memegangi pipinya, baekhyun mengeluh kesal. Kepalan tangan baekhyun memukul kecil bahu chanyeol. "Jahat. Kau Jahat. Kau tau bagaimana perasaan ku sebenar nya"

"apa? Perasaan yang mana?" bersyukur chanyeol kembali duduk manis di bangku nya. Sialnya, chanyeol mulai memainkan permainan pikiran yang sudah biasa ia lakukan. Kalau sudah begini pasti baekhyun yang akan kalah. Baekhyun tak pernah bisa bermain tarik-ulur kata dengan chanyeol.

"aku tak ingin menjawab. Aku tak ingin terjebak dengan pertanyaan mu"

Chanyeol menyilangkan tangannya di depan dada. "astaga, siapa yang memasang jebakan? Kau menuduh ku? Tolong bantu aku mengerti. Apa maksud dari jebakan? Lagi pula, aku tidak tau perasaan apa yang kau maksud. Kalau ku ingat-ingat kebelakang. Banyak sekali perasaan yang kau tunjukkan padaku" chanyeol pura-pura berfikir.

Dia mulai lagi.

"benci sudah pasti. Kesal, sepertinya setiap hari. Lalu, ada marah dan ada senang. Dan lebih banyak lagi perasaan yang kau utarakan pada ku"

"sudah lupakan" baekhyun mulai tersulut emosi. Dan chanyeol hanya terkekeh.

"aku ingin bertanya sekali lagi, tapi jawablah dengan jujur" baekhyun menggigit bibirnya. Chanyeol menatapnya penasaran. "apa kau pernah memikirkan ku seperti orang penting yang pernah ada di hidup mu?"

Kerutan di kening chanyeol jelas sekali kerutan main-main sok berfikir. "sebentar, maksudnya seperti sesuatu yang spesial?"

Baekhyun mengangguk. Baekhyun merasa dia akan terbang begitu chanyeol melihat nya lekat.

"sesuatu seperti ramen dengan kuah spesial di campur daging sapi?"

Tidak diragukan lagi, baekhyun ingin meninju muka chanyeol. Tawa chanyeol tersembur. Dia mencolek pipi baekhyun. "seberapa besar rasa spesial mu kepada ku mungkin kadarnya sama seperti aku terhadap mu"

Lagi! Jawaban main-main chanyeol yang tidak baekhyun suka. Chanyeol tidak serius. Sudahlah. Memang sulit untuk berkomunikasi secara waras dengan orang ini.

"aku ingin pulang ke kamar" baekhyun mendorong tangan nya yang berada di roda kursi rodanya meninggalkan chanyeol. "aku lelah. Aku ingin istirahat. Aku ingin cepat sembuh. Aku ingin pulang kerumah. Aku ingin bersekolah. Aku ingin memukul seseorang. Aku ingin melempar piring. Aku ingin—"

"kau tidak ingin tau alasan ku datang kesini selain menjenguk mu?"

Baekhyun merengut. "untuk apa aku tau? paling, kau ingin bercanda seperti tadi. Ingin main-main dengan perasaan seseorang. Aku lelah." Baekhyun mulai emosi.

Chanyeol mengangkat bahu tidak peduli. "terserah. Kalau begitu aku pulang. Padahal aku ingin membahas tentang taruhan kita" baekhyun menghentikan laju kursi roda nya.

"kau tau? aku kalah karena aku menyerah terlebih dahulu. Tadinya aku ingin membahas konsekuensi apa yang harus aku terima. Dengan begiu semuanya jelas. Tapi, kalau kau tidak mau membahas nya sekarang, lebih baik di lupakan saja. Anggap tak pernah ada" chanyeol berbicara sambil menatap punggung baekhyun.

"tunggu dulu" baekhyun memutar kursi roda nya dengan susah payah. "maksud mu..."

Chanyeol berdiri menghampiri baekhyun dengan senyum tampan yang belum pernah dilihat oleh baekhyun sebelum nya."yaa?" chanyeol berlutut di depan baekhyun sambil senyum masih menempel di wajah nya.

Taruhan itu. Konsekuensi kalau chanyeol kalah. Itu berarti...

Chanyeol memegang tangan baekhyun yang masih terimpus. " tentang perkataan mu tadi, kalau aku mati, nanti kau pacaran dengan siapa?"

Oh.. tuhan!

Senyum baekhyun mengembang.

"Mr. B, would you be mine?"

Dan sejak itu lah baekhyun menyatakan bahwa chanyeol memang si brengsek yang mengagumkan.

.

.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

Aaaaa! akhir nya ending juga ! bagaimana dengan chap terkahir ini ? seru kah? gak jelas kah?

aku seneng deh udah banyak yang dukung aku dengan fanfic ini. ^^

maaf gak bisa bales review satu-satu. heheh

by the way, akhir nya baekhyun bersatu dengan chanyeol. dan chanyeol sudah benar-benar bertekuk lutut dengan baekhyun nih.. heheh

oia, jangan lupa rewiew yang banyak ya di chap ini. aku mau lihat perkembangan ending fanfic ini. heheh

yaudah deh, sekian cuap-cuap dari aku. sampai bertemu di fanfic berikut nya^^

bye~