Disclaimer:
Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing (Kantai Collection oleh Kadokawa/DMM), kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.
Peringatan Pengarang:
Fic ini mengandung retcon, info yang diciptakan, dan hal yang tidak canon secara umum. Membaca fic ini dapat menyebabkan bingung mana yang canon dan mana yang bukan, memiringkan kepala, facepalm, dan dalam kasus ekstrim dapat menimbulkan rasa sakit di bagian-bagian tubuh tertentu. Kehati-hatian pembaca sangat dianjurkan. Penulis berusaha menyajikan komedi, tapi tidak dijamin lucu untuk semua orang.
Jancuk!
A KanColle Drabble Collection
Chapter 2: Memasak Bandeng
Matahari beranjak semakin tinggi. Houshou yang baru selesai membereskan segunung barang titipan Ikazuchi itu menghela nafas. Mungkin memang sebaiknya hari ini dia tutup saja, agar sore hari dia bisa sekalian masak besar untuk pesta penyambutan Ikazuchi dan Inazuma.
Masalahnya sekarang, masak apa? pikir sang kan-musu senior sambil menghela nafas.
Ia bisa saja menunggu Inazuma yang katanya akan datang membawa resep bandeng. Ikazuchi juga tadi sempat bilang bahwa bandeng bisa digoreng sebentar. Ia juga bisa bereksperimen sendiri, toh dapur restoran kecil itu lengkap dengan bahan dan bumbu. Setelah makan siang, barulah ia akan memasak untuk makan malam. Semua kegiatan non-tempur di markas ini baru akan selesai pukul setengah enam sore dan para kan-musu baru akan menyerbu setelah mereka selesai mandi, sekitar pukul setengah tujuh.
Pertama-tama, sebaiknya ia menggantung papan pemberitahuan di depan.
Hari ini tutup
PS: Ada pesta perayaan pulangnya Ikazuchi & Inazuma jam 6.30, datang ya!
Untuk percobaan pertama, Houshou memilih untuk mencoba membuat bandeng panggang garam. Hidangan ini sederhana dan nyaris tak mungkin gagal, paling tidak kalau dicoba dengan ikan yang biasa ada seperti sanma dan buri[1]. Lagipula, ia harus mencoba dulu bagaimana rasa daging ikan misterius ini.
Tak lama setelah Houshou menaruh daging bandeng yang sudah dibumbui di atas panggangan, pintu restorannya diketuk agak keras. Dengan helaan nafas, Houshou meninggalkan beberapa potong bandeng cabut duri yang sudah dilumuri campuran bumbu itu di atas pemanggang listrik. Ia yakin daging ikan itu tak akan gosong dengan mudah.
"Siapa ya-" ujar Houshou sambil membuka pintu. "Oh, Sendai-chan?"
"Kok hari ini tutup?" tanya gadis berambut coklat pendek itu. "Aku ketinggalan jatah sarapan, nih…"
"Ya ampun…" ujar Houshou sambil menghembuskan nafas. "Ketiduran di mana lagi hari ini?"
"Err… di bawah dermaga," jawab gadis yang dipanggil Sendai itu. "Tapi malam ini aku menenggelamkan sebuah kelas-Ni sendirian lho!"
"Ya baguslah," gumam Houshou sambil tertawa kecil. "Ada nasi, kok. Kebetulan aku perlu kelinci percobaan untuk masakan pesta sore ini."
"Pesta?" tanya Sendai sambil memiringkan kepala.
"Iya. Ikazuchi dan Inazuma baru pulang kemarin malam," jawab Houshou sambil mempersilahkan Sendai masuk. "Mereka bawa banyak oleh-oleh, kupikir sekalian saja pesta."
"Hoo~ Boleh deh, yang penting makan pagi dulu," ujar Sendai sambil nyengir kuda.
"Ah, ikannya sudah mau matang," balas Houshou sambil mengendus udara.
"Ikan? Mereka jauh-jauh pergi ke selatan cuma buat bawa pulang ikan?" imbuh Sendai sambil tertawa. "Kalau cuma ikan sih, di Jepang sini juga banyak!"
"Well, katanya sih ini ikan tambakan," ujar Houshou sambil menghidangkan daging ikan yang sudah dipotong-potong di atas sebuah piring ceper beserta sewadah nasi panas dan dua mangkuk sup miso. Dua set mangkuk nasi dan sumpit pun disediakan. "Tadi sih ikan ini masih ada kepala dan ekornya, tapi entah kenapa tulangnya sudah dibuang semua."
"Itadakimasu~" ujar Sendai sambil menyeruput sup miso sembari menunggu Houshou mengisi mangkuknya dengan nasi.
"Yah, sekaranglah saatnya…" ujar Houshou yang sudah selesai membagi nasi itu. Dengan pandangan kurang begitu yakin, mereka pun mulai makan.
"…Rasanya unik," komentar Sendai setelah beberapa suapan. "Kulitnya agak tebal, tapi rasa dan tekstur dagingnya nggak seperti ikan yang ada di sini."
"Mmhm," Houshou mengiyakan. "Dagingnya ada rasanya, tapi tak sekuat sawara[1]… dagingnya juga tak terlalu kaku seperti ikan laut lepas. Sepertinya fillet ini cocok untuk dipanggang dan sejenisnya."
"Kulonuwu- uh, maksudku selamat siang!" ujar sebuah suara yang mengiringi suara pintu geser dibuka. "Oh, ada Sendai-san juga…?"
"Ah, Inazuma-chan~" ujar Sendai sambil melambai ke arah Inazuma. "Makasih oleh-olehnya ya! Enak nih!"
"Ah, iie… Itu semua oleh-oleh dari Pakd- eh, Laksamana Timbul…" balas Inazuma sambil tertawa kecil. "Mm, ini bandeng cabut duri ya?"
"Iya," balas Houshou sambil beranjak untuk mengambilkan satu set alat makan lagi untuk Inazuma. "Baru percobaan pertama sih, jadi ya cuma dipanggang garam."
"Houshou-san, Ika nggak bawain sambel kecapnya?" ucap Inazuma sambil duduk di samping Sendai. "Makan bandeng itu belum lengkap kalau belum pakai saus khasnya…"
"Oh ya? Rasanya tak ada saus di dalam kemasannya…" ujar Houshou sambil melongok ke arah kemasan yang sudah dibuang ke tempat sampah.
"Memang, karena sausnya dipak terpisah," ujar Inazuma sambil menaruh kantung plastik berisi sebuah botol di meja. "Ini, saus khususnya…"
"Hmm…" ujar Houshou sambil mengambil mangkuk saus dan menuang saos itu. "Hmm… warnanya seperti soyu tapi kental ya… terus nampaknya ada… biji-bijian di dalamnya? Itu, yang putih-putih…"
"Kalau di sana, ini disebutnya sambel kecap," ujar Inazuma sambil mengambil nasi dari dalam wadah. "Itu bikinan Bude Timbul sendiri, katanya sih resep khusus."
"Oh begitu ya…" ujar Houshou sambil mencelupkan sepotong daging bandeng ke dalam saos, membalik-baliknya sebentar, lalu menyuapkannya ke dalam mulut. Sendai pun melakukannya. Sejenak mereka mengunyah potongan daging itu, membiarkan rasa yang ada berpadu dalam mulut.
"… wah wah wah," ucap Houshou sambil bangkit berdiri, mengambil sebuah jug berisi teh hijau hangat dan tiga gelas.
"…Makin enak!" seru Sendai sambil menyuapkan nasi. "Panas di mulut, tapi bikin dagingnya tambah sedap! Apa isinya ini, wasabi?"
"Mm… banyak sih, dan nggak semua rahasianya dibuka sama Bude Timbu-… er, istri Laksamana Timbul," ujar Inazuma setelah menelan sesuap nasi.
"Katanya kamu ke sini bawa resep-resep bandeng, Inazuma-chan?" tanya Houshou setelah menuang teh untuk mereka bertiga.
"Iya…" ujar Inazuma sambil merogoh kantong roknya, mengeluarkan sebuah buku catatan dari sana. "Ada banyak istilah yang nggak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, jadi kalau Houshou-san mau masak, biar kubantu…"
"Boleh, boleh~" balas Houshou sambil tersenyum. "Sendai-chan, mau ikut membantu?"
"Uh, nggak deh, aku ada tugas ekspedisi," ujar Sendai sambil bangkit dan nyengir kuda. "Tapi rasanya Jintsuu mau ke sini nanti siang, culik aja."
"Eh… eheheheh…" Inazuma tertawa sambil menggaruk-garuk kepala.
Glossarium:
[1]: Sanma itu sejenis ikan tenggiri kecil, makanan Jepang khas musim gugur. Buri itu sejenis ikan kuwe. Sawara itu sejenis tenggiri/makerel, tapi ukurannya biasanya lebih besar daripada sanma.
A/N:
Iwak segoro~
