Disclaimer:

Semua trademark dalam fanfic ini dimiliki oleh pemegang copyright masing-masing (Kantai Collection oleh Kadokawa/DMM), kecuali plot dan hasil pemikiran penulis. Fanfic ini dibuat hanya untuk hiburan semata dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan material apapun.

Peringatan Pengarang:

Fic ini mengandung retcon, info yang diciptakan, dan hal yang tidak canon secara umum. Membaca fic ini dapat menyebabkan bingung mana yang canon dan mana yang bukan, memiringkan kepala, facepalm, dan dalam kasus ekstrim dapat menimbulkan rasa sakit di bagian-bagian tubuh tertentu. Kehati-hatian pembaca sangat dianjurkan. Penulis berusaha menyajikan komedi, tapi tidak dijamin lucu untuk semua orang. Lirik ditulis miring-ditengahkan.


Jancuk!

A KanColle Drabble Collection

Chapter 3: Lagu-lagu Tanah Jauh


Asrama destroyer, pukul delapan pagi.

"Fuah… yang tadi itu betul-betul sulit ya, Hibiki-chan," ujar seorang gadis berambut hitam panjang sambil menggantung topi hitamnya di gantungan baju. Nampaknya ia baru saja kembali dari tugas malam.

"Ya, lumayan," ujar sang lawan bicara yang berambut putih sambil melakukan hal yang sama. "Ingat Akatsuki, kita dijadwalkan untuk masuk perbaikan jam dua belas."

"Yah, moga-moga bekernya nggak seperti kemarin…" ujar Akatsuki sambil melirik sebuah gundukan di bawah selimut tempat tidur yang biasanya kosong. "Oh, Ikazuchi dan Inazuma sudah pulang?"

"Mm, nampaknya begitu," balas Hibiki sambil menghampiri sosok di tempat tidur itu. "Inazuma. Ikazuchi nampaknya sudah bangun dan pergi entah kemana."

"Mungkin dia disuruh laporan pagi ke kantor Laksamana," ujar Akatsuki sambil meregangkan tangan dan duduk di kursi meja belajar bersama di ruangan itu. Tanpa sadar ia menduduki sebuah benda berbentuk kapsul, menekan entah tombol apa di permukaannya.

Burungnya, burungnya cucakrawaa~ panjang ekornya si cucakrawaa~

"W-whaa! Suara apa itu, Hibiki?" seru Akatsuki terlompat karena kaget.

"Tenang, Akatsuki," ujar Hibiki tenang sambil menunjuk sumber suara. "Ini pemutar MP3 dengan speaker. Nampaknya tadi kau mendudukinya dan alat itu menyala."

"Aduh… dasar Ikazuchi, naruh barangnya masih suka sembarangan…" omel Akatsuki sambil memberikan benda yang masih bersuara itu pada Hibiki. "Jadi… itu lagu? Tak terdengar seperti lagu Jepang… nampaknya?"

"Ya, mungkin memang bukan," ujar Hibiki sambil mengeraskan suara pemutar musik itu. Inazuma masih saja pulas tertidur. "Mereka ditugaskan ke Surabaya di Indonesia, kan? Mungkin ini musik daerah di sana."

"…Aku jadi penasaran. Hibiki, coba lagu berikutnya," pinta Akatsuki sambil duduk kembali.


Nan di langit ada bintang, sayangku~ Aku menunggu datangmu~


" Hmm, suaranya penyanyinya bagus…" komentar Hibiki sambil tersenyum. "Sepertinya aku suka lagu ini."

"Iya, suaranya enak didengar…" timpal Akatsuki.

Beberapa menit berlalu hingga lagu itu selesai, dan pemutar itu pun memutar lagu berikutnya.


Aaa, aa… tes tes. Oke, mulai…


"…Itu suaranya Ikazuchi, kan?" tanya Akatsuki heran.

"Berarti pemutar ini juga punya fitur perekam," ujar Hibiki masih tenang.


Nanja kore, nanja kore nanja kore~ Ojijii~ bajin na hoshii~ bajin mainichi kowaii~ jijii no ooki no tori kowaii~

Tori wa, tori no cucakrowo~ Nagai shippo no cucakrowo~ Cucakrowo, kebukai oo~ Mawari ma-wari aah kimochi~


"…Kenapa Ikazuchi nyanyi lagu mesum seperti itu! Ganti, ganti!" seru Akatsuki dengan wajah yang memerah seperti udang rebus.

"…Setuju. Nanti kita mesti minta lagu ini dihapus," timpal Hibiki sambil cepat-cepat mengganti lagu dengan lagu berikutnya.


Eeeh, kok aku mesti nyanyi juga sih…


"…Semoga ini bukan lagu mesum," ujar Akatsuki sambil mendengus ketika mendengar suara yang ia kenali sebagai suara Inazuma.

"Semoga," balas Hibiki mengamini. Beberapa saat lagu mengalun di antara mereka.

"Ini… seperti lagu pembukaan anime lama…?" tanya Akatsuki heran.

"Iya… rasanya kita dulu pernah nonton di komputernya Yuubari-san…" imbuh Hibiki sambil garuk-garuk kepala.


Mergo kowe nang kene~ mergo sisuk sik ono~ mergo aku ora iso urip awakku dewe~ yen diroso… kowe iku nang kene~ opo'o iki tresno~


"Iya… sekarang aku yakin. Ini kan lagu pembuka anime fmoff itu…" ujar Hibiki sambil menggaruk dagu. "Tapi bahasanya bukan bahasa Jepang… mungkin ini bahasa Indonesia? Menarik…"

"Memang bahasanya lain sekali, ya," timpal Akatsuki sambil mengangguk-angguk.

"Dan… merdu juga," tambah Hibiki sambil tersenyum lalu menguap.

"Duh, ngantuk…" balas Akatsuki sambil beranjak menuju ranjang Hibiki yang ada di bawah ranjang susun mereka.

"Aaah, curaaang…" ujar Hibiki sambil mendesak minggir Akatsuki yang keburu meniduri ranjang Hibiki itu. Tak berapa lama kemudian, mereka pun tertidur pulas dengan pemutar musik masih memutar lagu-lagu asing. Tanpa terasa, waktu berlalu.

"Fhwah…" ucap Inazuma yang baru terbangun dari tidur. "Kok ada suara lagu-lagu…?"

Penasaran, Inazuma melihat ke sekeliling, mencari sumber suara. Matanya segera menemukan sumber suara, yang tergeletak dekat kepala Hibiki yang mendengkur pelan. Di sampingnya Akatsuki tidur menyamping menghadap sang gadis berambut putih.

"Ya ampun," ucapnya sambil tersenyum melihat polah kedua saudara satu divisinya itu.


A/N:

Lagu-lagunya diterjemahkan karena menghindari pelanggaran aturan :3