Terima kasih untuk yang mau review.

Kita balas review dulu,

putrifibrianti96: Ini udah lanjut, Parinya kasih tahu g ya? #plak# tunggu aja kelanjutannya okey!

sayakanoicineo: Okey, ini udah dilanjut.

flamintsqueen: Ini udah lanjut. Autor juga bingung siapa nanti pairnya#kekeke... ketawa nisata author..# boeh tuh, ntr author bikin kontrak dulu sama Chanyeol hehe... untuk judulnya kenapa Insomnia? author juga kurang tahu, tapi tunggu aja chapter selanjutnya.

HanRii03: Ini udah lanjut. Ia author juga tahu itu. tunggu aja chap selanjutnya kenapa ini bisa berjulul Insomnia kenapa bukan Amnesia saja? KrisKai bisa ada hub tunggu di chap selanjutnya juga. pasti ingatan Jongin akan pulih kok tenang aja. kalau udah pulih gmana ya? pastinya Jongin langsung balik aa Sehun#plak digampar Kris#

Yoon Hee: Ini udah dilanjut. Makasih atas pujiannya. Pairnya aouthor juga masih belum tahu keke... pasti kok ingatan Jongin akan pulih dan ingat Sehun lagi, tenang ajah.

nadia: Makasih. Iya kasihan ya, tapi biarin aja soalnya author suka nistain Jongin sih*apa-apaan lu tor, loh fans gue bukan sih? manyun Jongin.* Moment KrisKai tunggu aja, tapi di chap ini agak ada moment mereka karena chap ini flasback dari Sehun.

stedr: Ini udah lanjut. Tinggalin Sehun donk cari yang lain#ditabokSehun#

Kaisooship: Ia TBC. Kai uke coz autor suka sih*hehe...* iya Kai nya lupa ingatan. KrisKai udah pacaran. Tinggalin Sehun gitu aja susah kan ada Kris#Tor lu mau gue disiksa Sehun?# biarin aja sekali-kali.

WONHAESUNG LOVE: Iya ini udah lanjut.

askasufa: yang dipilih Jongin? terserah author donk#egois baget lu tor?#

: Ini udah dilanjut. Seharusnya sih ia, tapi tunggu Chap selanjutnya aja kenapa ini ff bisa berjudul Insomnia. kalau mau nungguin Chap selanjutnya sih.

yongchan: Iya Kris cinta Kai. KrisHo tunggu aja pasti ada Koq tenang aja tapi bukan di chap ini. hihihi...

kikikyujunmyun: KrisHo dan KaiHun? author juga suka, tunggu aja chap selanjutnya.

Keepbeef Chiken Chubu: Emang g nyambung, kan author udah bilang dichap 1 paling atas. #npa thoel2? ntar Jongin marah lho*kekeke* Author juga suka. Lup u too :)


Chapter 2

Insomnia

.

Warning: Yaoi, OOC, Typo's, Gaje, dll

.

Don't Like Don't Read

.

Sehun Pov

Jonginnie? Oh Tuhan kenapa semua ini harus terjadi padaku, Kim Jongin seorang namja manis yang sangat, sangat kucintai. Kenapa? Kenapa harus mengalami amnesia. Rasanya kenapa sesakit ini ketika orang yang kita cintai melupakan kita, kenapa semuanya harus terulang kembali. Apa dosaku, kenapa Tuhan menghukum ku seperti ini? Aku merasa dipermainkan oleh taqdir, semuanya terasa tidak adil untukku.

Aku tahu bagaimana perasaan Joonmyeon hyung, aku tahu bagaimana sakitnya perasaannya. Aku tahu semuanya.

Sakit. Kecewa, itulah yang kurasakan sekarang ini.

.

Dua tahun yang lalu sebelum aku bertemu dengannya, Kim Jongin seorang namja yang sampai saat ini mengisi ruang hatiku yang paling tinggi. Aku tak mungkin dapat melupakannya begitu saja, dialah orang yang selalu menghiburku ketika aku sedih, dialah orang yang selalu ada untukku.

Waktu itu sepulang sekolah aku tidak langsung pulang kerumah, aku lebih memilih pergi kesebuah taman dekat pemukiman rumahku. Waktu itu aku baru saja putus dengan kekasihku Jung Seojung namanya namun ia lebih suka dipanggil Krystal, entah apa alasannya mungkin karena dia lama tinggal di Amerika sehingga ia memiliki nama barat itu.

Aku duduk dibangku taman dekat sungai, disinilah biasanya aku menghabiskan waktuku ketika aku punya suatu masalah. Suasana disini cukup tenang hingga dapat membuat kepalaku dingin kembali. Disinilah aku dapat melupakan masalah yang sedang kuhadapi.

"Monggu, kau dimana?" tiba-tiba sebuah suara membuyarkan semua lamunanku namun aku masih tak begeming dari tempatku. "Chogiyo, apa kau melihat anak anjing berwarna coklat?" suara itu membuatku mendongakkan kepala, kulihat pemuda manis itu tengah menanti jawabanku mungkin.

"Eh, aku tak melihatnya." Jawabku singkat, kulihat dia nampak khawatir.

"Oh, baiklah. Maaf mengganggumu." Katanya, aku hanya mengangguk singkat. Tidak lama dia pergi, aku kembali memikirkan apa salahku sehingga orang yang kucintai samapi memutuskanku padahal dia tahu kalau aku sungguh mencitainya.

Guk

Kembali sebuah suara membuyarkan lamunanku, tapi kali ini bukan suara manusia melainkan seekor anjing kecil dengan bulunya yang berwarna coklat tebal. Lucu satu kata itulah yang menggambarkan sosok itu.

Guk

Dia menggonggong lagi, aku merunduk meraih binatang lucu itu dan membawanya kepangkuanku. "Hei, kau sendirian? Kemana pemilikmu?" aku bicara pada hewan sudah seperti orang gila, tapi aku tidak peduli. Dia hanya menggonggong sebagai jawabannya. "Apa kau ditinggalkan pemilikmu juga, kalau begitu nasib kita sama. Tapi aku ditinggalkan oleh seseorang yang kucintai." Aku terus mengoceh pada anjing lucu dipangkuanku.

Oh sepertinya aku ingat tadi ada seorang pemuda yang bertanya padaku tentang anjing berbulu coklat jangan bilang ini anjing miliknya. Sebaiknya aku mencari pemuda tadi, mungkin saja dia masih disekitar sini. Kasihan kalau sampai ia tidak menemukannya.

Aku bangkit dari dudukku dan mulai mencari pemuda tadi, mengelilingi taman. Namun setelah lama aku mencarinya aku tidak menemukannya, sudah pulang mungkin. Hari sudah semakin larut hingga aku memutuskan pulang tentu saja membawa anjing lucu ini kerumah, kasihan kalau dia harus tinggal dijalanan. Lebih baik besok aku mencari pemuda itu lagi.

.

.

.

Author Pov

Sehun memasuki rumahnya, ia langsung menuju kamarnya dilantai atas namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara sang ayah.

"Darimana saja, kenapa pulang larut?" tanya Tuan Oh, ia sedang duduk santai diruang tengah sambil meminum teh. "Apa yang kau bawa?"

"Aku dari taman, ini…"

"Ya ampun lucu sekali, apa kau membelinya?" belum sempat Sehun menyelesaikan ucapannya Tuan Oh lebih dulu memotong dan menghampiri sang putra yang tengah menggendong seekor anak anjing.

"Eh, bukan appa aku menemukannya ditaman. Sepertinya ia kehilangan majikannya." Jelas Sehun, Tuan Oh mengangguk.

"Appa kira kau membelinya, ya sudah kau bersihkan dulu dirimu setelah itu makan malam."

"Kau tunggu disini, aku mandi dulu." Ujarnya pada anjing itu yang dijawab gonggongannya, membuat Sehun tersenyum dan mengelus kepalanya hingga anjing itu merasa nyaman dengan perlakuan Sehun.

.

Setelah selesai makan malam Sehun keluar dari rumahnya menuju minimarket yang tidak jauh dari rumahnya, dia sekarang harus mengurus anak anjing itu dan dirumahnya tidak ada makanan untuk hewan tersebut.

Ia merapatkan jaketnya ketika dirasanya udara malam yang dingin menyentuh kulitnya, namun langkahnya terhenti ketika melihat siluet seseorang dengan kemeja putih lengan panjangnya yang dilipat sebatas sikunya. Ia memperhatikan pemuda itu yang berjalan sambil menunduk, sesekali ia mendengar rancauannya.

"Monggu kau dimana? Kenapa meninggalkanku?" ujarnya terdengar sedih ditelinga Sehun, ia mengerutkan dahinya serasa pernah mendengar nama itu.

Monggu? Bukankah itu pemuda yang tadi siang menanyakan anjing kecil? Batin Sehun, namun ia tidak terlalu memikirkannya hingga ia kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.

insomnia

"Jonginnie, kau darimana saja?" seorang pemuda dengan kulit putihnya bertanya pada sosok yang dipanggilnya Jongin yang baru saja memasuki kediamannya. "Astaga, ada apa?" tanyanya panic ketika melihat wajah mendung sosok itu.

"Hyung, monggu hilang…" ujarnya lemah, yang dipanggil hyung menghembuskan nafasnya pelan. Pantas saja wajah sang adik terlihat mendung, memang akan selalu begitu ketika monggu nya menghilang dari rumah, sang adik memang sangat menyayangi anak anjing itu.

"Kita cari besok, sekarang sudah larut kau harus istirahat." Ujarnya, dilihat sang adik menggeleng.

"Aku harus mencarinya hyung, kasihan dia kalau harus tinggal dijalanan."

"Hyung tahu, tapi ini sudah sangat larut. Kita cari besok."

"Baiklah." Ujar Jongin lirih. Joonmyeon sebut saja begitu, ia menggelengkan kepalanya sebelum beranjak menuju dapur membuat segelas susu coklat dan membawanya kekamar sang adik, ia tahu adiknya itu tidak akan bisa tidur apalagi monggu tidak ada dengannya.

Kim Jongin keluar dari kamar mandi dan langsung duduk termenung diranjangnya, Joonmyeon yang melihatnya hanya bisa diam tidak tahu harus berbuat apa.

"Tidurlah, hyung tahu kau lelah." Ia menyodorkan segelas susu yang tadi dibuatnya yang langsung diterima oleh sang adik. Setelah habis ia mengembalikan gelas tersebut ketangan Joonmyeon dan selanjutnya ia langsung bergelung ditempat tidurnya yang nyaman. Joonmyeon menyelimuti sang adik hingga sebatas dada, mematikan lampu kamar dan setelahnya keluar menutup pintu dengan perlahan.

Sepeninggal Joonmyeon, Jongin bangun dari tidurnya sebenarnya ia belum tidur hanya saja tidak ingin membuat hyung nya itu khawatir karena ini sudah tengah malam, jadi ia tadi pura-pura tidur. Sebenarnya ia memang susah sekali untuk tidur, ia selalu terjaga hingga pagi dan akan tidur hanya 3 jam dalam sehari semalam. Sejak dulu ia memang susah untuk tidur, kata orang itu namanya insomnia penyakit susah tidur.

Jongin bangkit dari ranjangnya ia berjalan kearah jendela, membukanya perlahan. Seketika tubuhnya meremang begitu udara dingin menerpanya, tapi ia tidak peduli dan memilih memandangi langit malam yang bertabur bintang. Inilah kegiatannya ketika ia tidak bisa tidur, dia akan selalu memandangi langit malam biasanya Monggu akan menemaninya duduk dipangkuannya tapi sekarang anjing kecil itu tidak ada.

Waktu berjalan begitu cepat jam sudah menunjukkan pukul 05.10 Jongin merasakan matanya mulai berat, ia merasakan kantuknya sekarang hingga akhirnya ia bangkit menuju ranjangnya merebahkan tubuhnya disana. Tidak peduli dengan jendela yang masih terbuka lebar, ia memejamkan matanya.

.

.

Cklek

Pintu terbuka menampakan refleksi Joonmyeon yang menghampiri sang adik yang sudah memakai seragam sekolahnya dengan rapi.

"Hyung, hari ini aku akan pulang terlambat. Aku akan mencari Monggu setelah pulang sekolah." Katanya.

"Baiklah, kebetulan hari ini hyung kuliah sampai jam 11 siang. Hyung juga akan mencarinya untukmu." Jongin tersenyum mendengarnya, ia mengangguk. "Kajja kita berangkat." Lanjutnya.

Insomnia

Hari sudah sore, kelas Sehun baru saja bubar hari ini kelasnya ada pelajaran tambahan hingga sore hari. Ia bergegas berhambur keluar ketika Seonsaengnim keluar dari kelasnya. Ia berjalan tergesa-gesa, tubuhnya sudah lelah sekarang yang ia inginkan hanya secapatnya untuk sampai dirumah dan mengistirahatkan tubuhnya diranjangnya yang empuk.

Untung saja hari ini ia membawa mobil sehingga tidak perlu berdesak-desakan didalam bus. Ia segera saja melajukan mobilnya meninggalkan halaman sekolahnya dengan kecepatan diatas rata-rata.

.

Sepi. Itulah ketika ia sampai dirumahnya, ayahnya belum pulang dari kantor ia akan pulang ketika jam makan malam dan pergi saat setelah selesai sarapan. Sendiri itulah Sehun, ia selalu sendirian ketika samapi dirumahnya.

Guk

Gonggongan anjing kecil memasuki indera pendengarannya, ia tersenyum ketika mengingat sosok anjing kecil itu menghampirinya sambil dan mengusakan kepalanya dikaki Sehun.

Ah ia baru ingat kalau sejak semalam ia ditemani sosok kecil lucu itu, ia jadi tidak ingin mengembalikannya sekarang. Oh apa yang harus ia lakukan sekarang? mengembalikannya dan kau akan sendirian lagi. Atau tetap menahannya dirumah agar kau memiliki teman. Setidaknya itu yang ada dipikirannya sekarang.

Egois itulah Sehun, kalau dia sudah menginginkan sesuatu dia tidak akan membiarkan sosok itu pergi dari hidupnya. Jadi ia memilih untuk mengurus anjing kecil itu, setidaknya ia akan memiliki teman untuk saat ini.

Ia segera mengangkat anjing kecil itu dan membawanya kekamarnya, menaruhnya di sofa yang ada disana ketika ia mengganti seragamnya dengan pakaian santai.

"Aku harus memberi nama apa untukmu, aku tidak punya nama yang bagus." Ia berujar sendiri sambil memakai kaos biru langit. "Hei, apa nama yang bagus untukmu?" tanyanya.

"Emm bagaimana kalau Scooby?" tanyanya pada anjing itu setelah duduk disofa dimana sang anjing tengah duduk dengan manisnya.

"Tidak-tidak itu terlalu err… ah bagaimana kalau Case." Tanyanya lagi, yang dijawab dengan gonggongan, Sehun kembali berpikir. "Kau ini laki-laki atau perempuan? Ah sepertinya laki-laki. Bagaimana kalau Jjangah?" tanyanya lagi, Sehun sudah seperti tidak waras sepertinya berbicara dengan hewan dan kau menjawabnya sendiri. Sepertinya ia harus segera ke spikeater setelah ini.

"Jjangah tidak buruk," ia membelai bulu-bulu halus itu dan membawanya kepangkuannya.

.

.

.

Tidak terasa hari sudah malam, dua orang namja dengan warna kulit yang kontraks terlihat berjalan berdampingan.

"Hyungie kita sudah mencarinya kemana-mana, tapi Monggu tidak ketemu juga. Bagaimana kalau dia diculik hyung, terus penculiknya minta tebusan dan—"

"Tidak mungkin, bukankah Monggu anjing pintar. Kalau ia diculik sudah pasti sipenculik sudah menghubungi kita dari kemarin." Joonmyeon mencoba menenangkan sang adik. Meski sebenarnya ia juga memiliki pemikiran yang sama, siapa yang tidak akan tergiur dengan anjing lucu nan menggemaskan satu itu. tapi kalau diculik rasanya tidak mungkin, mereka bukan keluarga kaya jadi untuk apa mereka meminta tebusan dari mereka, pikir Joonmyeon.

"Tapi Hyung, kita tidak menemukannya." Katanya matanya sudah berkaca-kaca ketika pemikiran yang tidak-tidak menghampiri kepalanya.

Guk

Tiba-tiba terdengar suara yang begitu dikenalnya, Jongin segera membalikan tubuhnya kebelakang dan mendapati sosok yang begitu dikenalnya menghampirinya.

"Monggu, akhirnya kau ketemu." Ujarnya riang, ia segera membawanya kedala pelukannya.

"Astaga, Jjangah kenapa larimu kencang sek—" terlihat sosok pemuda tampan menghampiri mereka.

"Eh, nuguya?" tanya Suho, ketika melihat sosok yang sekarang ada dihadapannya. Jangan tanya Jongin ia sudah asyik dengan Monggunya.

"Bukankah kau…" Jongin yang mendengar suara sang hyung segera mengalihan pandanganyan pada sosok pemuda lain yang ada dianatara mereka.

"Sehun, Oh Sehun." Katanya memperkenalkan diri, ah Sehun ingat sekarang ternyata sosok itu adalah pria manis yang ia temui ditaman waktu itu yang menanyakan anjingnya yang hilang. "Jadi kau pemilik anjing ini," tanyanya.

"Ya. Err bukankah kau yang waktu itu?" tanya Jongin malu-malu, entah kenapa sekarang wajahnya sudah berubah warna. Pengaruh cuaca yang mulai dingin mungkin? Mengingat hari sudah larut.

"Kau menemukan Monggu dimana?" suara Suho memecah diantara mereka, ia melihat Sehun dan Jongin yang masih saling menatap. Sehun yang sadar duluan segera mengalihkan pandangannya pada Suho.

"Itu ketika ditaman, dua hari yang lalu." Jelasnya.

"Tapi bukankah waktu itu kau bilang tidak melihatnya, jangan-jangan kau—"

"Tidak. Aku memang menemukannya ketika kau sudah berlalu waktu itu, aku berniat menggembalikannya namun aku tak menemukanmu lagi ditaman hingga larut malam. Dan yah akhirnya aku membawanya kerumah." Jelas Sehun panjang lebar, ya, memang itu kenyataannya meski ia tidak menggembalikannya samapai sekarang hingga akhirnya anjing lucu itu sendiri yang menemukan pemilik aslinya.

"Maaf kalau selama ini Monggu merepotkanmu, Sehun-ssi." Joonmyeon berujar canggung, karena adiknya hampir saja mengatakan Sehun yang tidak-tidak. Sehun tersenyum.

"Tidak merepotkan sama sekali, aku malah senang ia bersamaku. Aku jadi tidak kesepian." Ketika mengatakan hal terakhir entah mengapa Jongin menangkap kesedihan disana, tapi ia tidak terlalu peduli mungkin hanya perasaannya saja.

Monggu meronta dari pelukkan Jongin, anjing itu meronta minta turun, ketika Jongin menurunkannya Monggu langsung menghampiri Sehun—minta digendong.

"Oh sepertinya Monggu menyukaimu, Sehun-ssi." Ujar Joonmyeon, Sehun tersenyum yang terlihat tambah tampan dimata Jongin. Ah Jongin sepetinya kau jatuh cinta? Lol

"Kau harus kembali ke majikanmu," Sehun mengelus kepala Monggu sayang, rasanya ia tidak mau pisah dengan anjing itu.

"Oh ya kami belum memperkenalkan diri, aku Joonmyeon dan ini adikku Jongin." Joonmyeon memperkenalkan dirinya dan adiknya.

"Senang berkenalan dengan kalian Joonmyeon-ssi, Jongin-ssi"

"Tidak usah seformal itu cukup panggil Jongin saja, dan kau bisa memanggil Joonmyeon hyung dia lebih tua darimu… sepertinya,"

"Baiklah." Sehun melirik jam tangannya yang bertengger manis dipergelangan tangan kirinya. "Sudah larut, aku harus pulang. Err Monggu kau tidak boleh nakal, ne." sekali lagi Sehun mengelus-elus Monggu sebelum menurunkan anjing lucu itu.

"Tentu saja ia tidak akan nakal, baiklah sampai bertemu lagi Sehun-ah" Joonmyeon berujar. Sehun tidak menjawab ia hanya mengangguk sambil tersenyum.

Insomnia

Sepanjang hari ini sehun terus tersenyum, dan itu adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Tao melihat perubahan Sehun sekaligus membuatnya bergidik ngeri. Ia merasa temannya itu sudah kerasukan setan atau apa.

"Kau bukan Sehun kan?" tanyanya, lama-lama melihat Sehun yang terus tersenyum membuatnya takut. "Apapun itu keluarlah dari tubuh temanku," Tao menguncang tubuh Sehun keras.

"Apa yang kau lakukan?" Sehun melepaskan tangan Tao yang terus menguncang tubuhnya.

"Kau membuatku takut, jangan-jangan kau benar kerasukan arwah tetanggamu yang kemarin meninggal itu ya?" Sehun memjitak kepala Tao keras. "Aww… kau melukaiku kepalaku, kalau aku gegar otak bagaimana," ujarnya histeris.

"Aku akan bersyukur kalau itu terjadi," kata Sehun kejam. "Tao, sepertinya aku jatuh cinta." Tao memandang Sehun ngeri, kalau memang benar temannya itu jatuh cinta kasihan sekali orang tersebut.

Sekali lagi Tao mengorek telinganya memastikan kalau pendengarannya tidak bermasalah. "Kau sakit Sehun-ah?" tanyanya tiba-tiba meraba kening Sehun, "Tidak panas. Jangan-jangan benar kau kerasukan." Tao histeris lagi.

"Diam, bodoh. Kau membuat telingaku sakit." Ujar Sehun.

Park seonsaengnim memasuki kelas, seketika kelas langsung hening termasuk Tao dan Sehun.

"Selamat pagi semuanya, sekarang buka buku kalian halaman 59. Hari ini kita akan membahas teori gravitasi."

.

.

Entah apa yang ada dipikiran Sehun malam ini hingga ia berada ditempat ini, taman yang biasa ia datangi ketika ada masalah.

"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" Sehun berujar pada sosok yang ia kenal beberpa hari yang lalu. Sosok itu mendongak menampakan wajah manisnya, sesaat Sehun terpana ketika melihat wajah manis itu yang begitu bersinar dibawah sinar bulan.

"Aku tidak bisa tidur," katanya.

"Tapi ini sudah malam, kau tidak takut." Sehun mendudukan tubuhnya disebelah Jongin tanpa meminta izin dari orang tersebut. "Kau datang sendiri? Joonmyeon hyung tidak menemanimu?" lanjutnya.

"Takut apa, tidak ada yang perlu ditakutkan. Joonmyeon hyung sedang sibuk dengan tugas kuliahnya," Jongin memainkan kakinya diatas rumput dibawahnya, "Kau sendiri sedang apa disini?"

"Takut ada seseorang yang mengganggu orang yang duduk disebelahku sekarang." Oh Sehun apa yang kau katakan? Tapi Sehun tidak peduli memang itu kenyataannya, dari mana Sehun tahu Jongin ada disini? Jawabannya karena Sehun mengikuti Jongin ketika ia keluar dari rumahnya ia melihat Jongin yang berjalan sendirian, ia mengikutinya hingga berakhir disini.

"Apa yang kau bicarakan, ada-ada saja."

Sehun memandang Jongin yang dari tadi hanya memandang kedepan. Ia mengangkat bahunya, "Ya, tapi itu kenyataannya. Tidak baik kan namja manis sepertimu keluar sendirian apa lagi malam-malam begini."

Jongin menunduk guna menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah, entah karena apa dia juga tidak tahu. "Tapi aku namja bukan yeoja," ujarnya pelan.

"Aku tahu,"

Dan malam itu Jongin menceritakan banyak hal tentang dirinya. Sehingga seiring berjalannya waktu mereka semakin dekat. mereka sering menghabiskan waktu bersama. Sehun juga tahu kalau Jongin sangat menyukai anggrek bulan teramat sangat menyukainya, makanan kesukaanya, lagu favoritenya, dan semua hal tentang Jongin Sehun tahu. Hingga satu yang Jongin yang susah tidur lebih tepatnya tidak dapat tidur hingga pagi menjelang. Sehun mengetahui semua hal tentang Jongin. Begitu pula dengan Jongin dia pun tahu semua hal tentang Sehun, meskipun pemuda itu tidak banyak bicara tapi ketika bersama dengan Jongin dia jadi banyak bicara, menceritakan banyak hal pada pemuda manis itu. dia juga sudah melupakan mantan kekasihnya dan dia bersedia mengubah seksualnya hanya demi pemuda manis itu. Kim Jongin kau sudah merubah Sehun menjadi seorang gay tanpa ia ketahui. Meskipun Sehun menceritakan semuanya tapi ia tidak penah cerita tentang yang satu itu, demi pemuda manis itu ia rela melakukan apapun.

Insomnia

"Kau mau kemana?" Kai mengalihkan pandangannya pada hyungnya itu.

"Pergi ke taman, hyung melihat anggrek bulan." Katanya. Joonmyeon memicingkan matanya.

"Serapi itu?" tanyanya curiga. Jongin hanya mengangguk kemudian tertawa canggung.

"Bersama Sehun, hyung." Sudah Joonmyeon duga, Jongin akan selalu tampil lebih rapi ketika akan pergi bersama pemuda albino itu. "Baiklah, hati-hati. Jangan membuat Sehun repot oleh tingkahmu." Peringatnya. Jongin mendengus,

"Aku bukan anak kecil yang akan membuat orang lain repot hyung," katanya kesal.

Ting tong…

"Dia sudah datang, aku pergi hyung." Jongin berlalu meninggalkan Joonmyeon yang sedang menonton Tv diruang tengah. Pintu dibuka dan menapilkan sosok Sehun yang tengah tersenyum manis melihat pujaan hatinya ada dihadapannya.

"Sudah siap?" tanyanya, Jongin hanya mengangguk. "Semakin hari kau terlihat semakin manis," katanya yang membuat pipi Jongin merona. Ia mengandeng lengan Jongin menuju mobilnya yang ia parkir dipinggir jalan, membuka pintu untuk Jongin.

"Aku bisa sendiri."

"Tapi aku ingin melakukannya untukmu, Jonginnie." Jongin mengerucutkan bibirnya membuat senyum Sehun semakin lebar karena sudah membuat pemuda manis itu kesal, Sehun paling suka menggodanya.

.

.

Jongin menelan salivanya, gugup dengan posisinya mengingat seberapa dekat ia dengan Sehun. Dia tidak ingat ketika Sehun tiba-tiba menghentikan mobilnya di tempat ini,mereka memang sudah samapi ditaman namun masih berada didalam mobil milik Sehun. Dan segalanya terjadi begitu cepat. Sehun mengatakan akan mengatakan sesuatu padanya, tapi ketika ia akan membuka pintu mobil, pintu itu dikunci oleh Sehun dan Sehun menatapnya dengan err lapar. Jongin tersentak dengan kelakuan Sehun yang tiba-tiba tapi kemudian ia tertawa dan bertanya, kenapa Sehun harus mengunci pintu. Tetapi Sehun tidak menjawab dan hanya mendorongnya kepintu mobil dan menghimpitnya diantara dipintu mobil dan dirinya.

Jongin benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi, jadi dia hanya bertanya, "Sehun-ah, apa yang terjadi?" Tanyanya, polos. Sehun menatapnya dari kepala samapi kaki. Jongin, merasa tidak nyaman ditatap intens seperti itu, akhirnya ia berdeham dan bertanya sekali lagi, "Sehun-ah, mengapa menatapku seperti itu? Katakan saja apa yang ingin kau katakan dan lepaskan aku dari posisi ini," katanya.

Sehun tidak menjawab dan hanya menatap kedua mata Jongin dalam, tangan Sehun meraih pinggang ramping Jongin, sementara tangan lainnya memegang pipinya dan mempersempit jarak keduanya. Sehun bisa merasakan panas napas Jongin di wajahnya saat ia melihat ke dalam mata itu. Mata yang begitu ... indah, seperti pemiliknya. manik Itu begitu gelap, cokelat tua. Sehun bisa melihat dirinya melalui mata Jongin.

"Jonginnie," bisiknya, membelai wajah Jongin dan berhenti di bibirnya. Dia menekan ringan dengan jarinya, merasakan bagaimana lembutnya bibir itu. Indah, batinnya. Jongin merasa wajahnya sudah memerah sekarang, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya hingga ia berpikir kalau jantungnya bisa meledak sekarang juga. Namun Jongin hanya diam, merasakan sentuhan Sehun.

Wajah Sehun semakin dekat, dan dia bisa melihat dengan jelas wajah Jongin yang memerah. Dia tersenyum, "Jongin, lihat aku," bisiknya, mengangkat dagu Jongin sehingga keduanya saling menatap. Sehun tersenyum ketika Jongin semakin tersipu, 'Cute' pikirnya, sambil tetap tersenyum.

"Sehun-ah ..." bisiknya, "kenapa, kenapa kau melakukan semua ini?" Tanyanya.

Sehun masih tersenyum melihat Jongin yang malu-malu, dia tertawa ringan, "Jonginnie, kau pikir mengapa aku melakukan semua ini?" Tanya Sehun balik.

Jongin mengerucutkan bibirnya, membuat Sehun tertawa. "Aku tidak tahu," jawabnya.

Sehun menghela napas, lalu menutup matanya dan tersenyum, "Kalau aku bilang aku mencintamu," Jongin diam, bibirnya sedikit terbuka sementara matanya menatap Sehun tak percaya, ternyata Sehun menyukainya juga. Namun dia mengingat kejadian itu, dimana ketika suatu hari seorang wanita cantik dengan seragam sekolah yang berbeda dengan miliknya-Sehun dan Jongin beda sekolah- menemuinya dan mengatakan kalau Sehun pria normal tidak seperti dirinya. Jongin mengalihkan pandangannya tidak ingin bertemu dengan mata itu, mata yang selama ini membuatnya terpesona, membuatnya jatuh lebih dalam. "Mengapa... kau mencintaiku?" Tanyanya pelan, sementara ia merasa kalau wajahnya semakin memerah.

"Karena kau begitu indah, karena kau terlalu manis, karena kau lebih kekanak-kanakan dari aku, karena kau telah mencuri hatiku," Sehun menjawab.

Jongin merasa detak jantungnya berdedak lebih cepat dari biasanya, sampai ia merasa seperti akan meledak. Dia menggigit bibir bawahnya, "Sejak kapan?" Tanyanya.

.

.

.

Sehun dan Jongin sudah sampai ditaman, mereka sekarang sedang duduk dibawah pohon menghadap taman bunga anggrek. Dari tadi Jongin tidak henti-hentinya berbicara tentang bunga kesukaannya itu. "Sehunnie, kau tahu kenapa aku menyukai bunga itu?" tanyanya. Sehun mengalihkan pandangannya pada Jongin. "Karena bunga itu akan selalu mengingatkanku padamu, bunganya yang berwarna putih selalu mengingatkan kupada kulitmu." Jongin melanjutkan dengan malu-malu.

Sehun tersenyum, dia tidak menyangaka kalau Jongin akan berkata seperti itu. "Hmm… kenapa begitu?"

"Karena bagiku anggrek putih itu melambangkan semua yang ada di dirimu. Kau adalah anggrek terindahku." Sehun mengusak kepala Jongin lembut.

"Kau tahu aku tidak mau menganalogikan dirimu sebagai apapun…"

"Kenapa?" Jongin memandang Sehun, namun Sehun memberikan senyum manisnya memeluk Jongin dari samping membawa pemuda itu lebih dekat padanya.

"Karena dirimu adalah dirimu, bukan bunga ataupun permata yang berkilau. Dirimu adalah anugerah terindah dari-NYA untukku." Jongin diam, tidak tahu harus berkata apa. matanya mulai berkaca-kaca mendengar penuturan Sehun, dia tidak menyangka Sehun akan berkata seperti itu. "Kenapa menangis, hm?"

Jongin memeluk tubuh Sehun yang sekarang sudah menjadi kekasihnya. "Aku menangis karena bahagia," akunya. Sehun mengangkat dagu Jongin ia menghapus air mata itu dengan ibu jarinya dan memberikan kecupan lembut di bibirnya hanya menempelkan bibir tidak lebih.

"Aku lebih bahagia dapat memiliki dirimu, mencintaimu dan menyayangimu." Ucapnya setelah menjauhkan wajahnya.

.

.

.

To be Contiune…