'Insomnia'

Cast:

Kim Jongin

Oh Sehun

Wu Yifan

Kim Joonmyeon

Rate: Teen

Warning: OOC, Typo(s), Yaoi, dan masih banyak lagi

.

.

.

Don't Like? Don't Read!

.

.

.

Hanya sebuah wajah senyum manis, dalam selembar fhoto yang dapat dilihatnya. Wajah manis dengan senyum tulusnya yang bagai malaikat. Berseri, tertawa bahagia disana. Sehun memandangnya dengan senyuman yang terlingkup perih. Matanya menyiratkan, betapa ia merindukan sosok hidup dalam fhoto yang kini tengah dipandanginya.

Bahkan satu-dua tetes air mata turut berbaur. Hingga harus ia usap tetesan itu, dengan kain pada pakaiannya. "Aku merindukanmu, Jongie!" lirihnya dengan tarikan nafas perih.

"Sehunnie, uljima. Aku disini bersamamu, aku tak akan meninggalkanmu."

"Kau berjanji tak akan meninggalkanku, tapi sekarang bahkan kau tak mengingatku, Jongie. Apa yang harus kulakukan?" tanyanya dengan suara gaung mendengung pada ruang sepi yang kini ditempatinya.

"Sehunnie, uljima aku tak suka melihatmu menangis."

Kata-kata itu yang selalu di ucapkan Jonginnya ketika ia bersedih, ketika ia mengeluarkan air matanya Jongin akan selalu ada disampingnya. Tapi sekarang Jongin tak mengingatnya, ia bahkan melupakannya. "Kenapa sakit sekali?" tanyanya entah untuk yang keberapa kalinya.

"Sehun-ah!"

Sehun diam tak bergeming, ia memilih memandangi fhoto itu tak menghiraukan Joonmyeon yang memanggilnya. Ia bahkan tak tahu kapan Joonmyeon sudah berada dikamarnya.

"Kau baik-baik saja?" Hanya gelengan yang diberikan Sehun untuk Joonmyeon, nyatanya memang ia tidak baik-baik saja. Kejadian kemarin begitu membuatnya terpukul, dimana ketika Jongin pingsan dan segera dilarikan kerumah sakit terdekat. Saat itu Kris menceritakan semuanya dari awal.

"Hyung tahu ini berat untukmu, bukan hanya kau yang sakit Sehun-ah hyung juga merasakan sakit apalagi dilupakan oleh adik sendiri. Tapi kita harus bersabar dan terus berusaha agar Jongin mengingat semuanya."

"Tapi kita tidak tahu hyung apa Jongin akan sembuh,"

Joonmyeon mengelus sayang punggung Sehun, mencoba menguatkannya meski dirinya sendiri tidak yakin tapi ia berucap. "Kita berdoa untuk kesembuhannya, lagian dokter juga mengatakan dia akan sembuh. Jadi jangan khawatir,"

"Ya, semoga saja." Ucapnya pelan. Joonmyeon menepuk-nepuk punggung lebar Sehun.

"Kajja kita makan malam,"

Sehun menggeleng, "Aku tidak lapar hyung, aku ingin istirahat."

Joonmyeon memandang Sehun prihatin, ia tahu benar apa yang Sehun rasakan saat ini. Namun anak itu juga perlu makan untuk asupan nutrisinya. "Kau tidak boleh begitu, kau perlu makan Sehun-ah. Hyung tidak mau kalau kau sampai sakit," ia berujar khawatir. "Kau belum makan seharian ini, Sehun-ah."

.

.

.

"Eughh…" leguhan kecil yang keluar dari seseorang yang dicintainya tidak Kris beranjak dari kegiatannya memandangai Kai yang tengah menggeliat kecil.

"Pagi," sapanya, mengeratkan pelukannya pada sosok itu—sosok yang begitu ia cintai. Kai tersenyum padanya.

"Pagi, Kris." Sapanya balik, memegang kepalanya yang ia rasa sakit. "Kita dimana?" tanyanya lagi.

Kris tersenyum, mengecup keningnya lembut menyalurkan rasa sayangnya yang teramat dalam pada sosok itu, "Dirumah, bagaimana tidurmu?"

"Tidurku nyeyak, apalagi kau memelukku semalaman." Diiringi kecupan singkat dibibir Kris yang membuatnya merona—malu—biasanya Kris lah yang mengecupnya duluan tapi kali ini ia duluan yang melakukannya.

"Kenapa hanya sebentar?" Kris merengut—pura-pura marah—dan Kai tidak suka melihat Kris yang akan berakhir marah padanya, meski sebenarnya ia tidak pernah marah sekalipun—karena Kris tidak akan pernah bisa marah padanya. Dan akhirnya ia mengecup bibir itu lagi namun ketika ia akan menyudahinya Kris segera menarik tengkuknya memperdalam ciumannya.

"Ngh…" Kai mendesah tertahan disela-sela ciuman panas mereka.

Mendengar lenguhan Kai membuat libido Kris naik, tanganya mulai nakal membelai punggung Kai lembut, sedangkan tangan lainnya masih setia menekan tengkuk Kai.

"Nggh… Kris…" leguhnya lagi, ia mendekap Kris erat. Sedangkan tangan Kris yang memang sudah nakal mulai menyusup masuk kedalam piyama Kai mencari sesuatu didalam sana.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan disini?" sebuah suara mengalihkan focus Joonmyeon yang kini tengah berdiam diri disebuah bangku taman yang berada tidak jauh dari rumahnya.

"Tidak ada, hanya menikmati pemandangan sore saja." Ia kembali memperhatikan seseorang yang kini tengah bermain dengan anak kecil di depan sana, taman ini kalau sudah sore memang cukup ramai dikunjungi. "Kau sendiri sedang apa?" tanyanya balik.

Sosok itu mengalihkan pandangannya pada Joonmyeon. "Refresing," jawabnya singkat, ia ikut mengalihkan pandangannya ke mana sebenarnya Joonmyeon memandang saat ini, "Bukankah itu Jongin? Ternyata dia masih suka terhadap anak kecil ya?" ujarnya setelah tahu siapa yang kini tengah Joonmyeon perhatikan.

"Hm," Joonmyeon hanya bergumam singkat, karena ia tidak ingin suaranya terdengar bergetar terlebih sosok di sampingnya mengetahuinya.

"Kemana Sehun, tumben sekali kalian tidak bersama?"

Joonmyeon entah mengapa jadi begitu sebal dengan orang ini, kenapa dia harus bertemu dengan orang ini terlebih menanyakan yang sulit untuk Joonmyeon jawab, sebenarnya tidak sesulit itu ia hanya takut jika suaranya terdengar aneh karena pertanyaan orang ini telah mengingatkannya pada sosok adik kesayangannya, Kim Jongin. Sedangkan Jongin sendiri kini tengah sakit dan dia tidak mengingat apapun masalalunya.

Sehun sendiri hari ini dia sedang sibuk dengan kuliahnya, jadilah Joonmyeon sendirian datang ketaman ini. "Sibuk dengan kuliahnya," jawab Joonmyeon sekenannya.

.

Kai segera beranjak duduk dibangku taman setelah selesai bermain dengan beberapa anak kecil tadi, mereka sudah pulang dijemput orang tua mereka beberapa menit yang lalu. Kini ia sibuk memainkan ponselnya, tidak menyadari sedari tadi ada orang yang tengah memperhatikannya dari jauh.

Ia mengingat kejadian dua hari yang lalu, ketika bertemu dengan orang yang mengaku sebagi hyungnya, juga seorang pemuda yang datang bersama Kris. Seorang pemuda tampan entah kenapa ia merasa penah bertemu dengannya. Tapi dimana? Ia tidak ingat, bahkan bayangan itupun terlihat samar setiap kali ia berusaha mencoba mengingat.

Apa yang sebenarnya terjadi sebelum ia bertemu dengan Kris? Ia tidak penah bisa mengingatnya dengan jelas. Kris pernah menjalaskan kalau ia menemukannya dipinggir Sungai Han. Kris juga mengatakan kalau ia mungkin saja hanyut dari suatu tempat terbawa arus air sungai.

Crass.

Ia merasakan dingin pipinya, ia menoleh dan mendapati Kris menempatkan sekaleng cola dingin disana, dengan senyumnya yang menambah kadar tampan dimata Kai. Iapun balas tersenyum manis ketika mendapati kekasihnya duduk disebelahnya.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Tidak ada," jawabnya, Kris memberikan cola yang sudah ia buka penutupnya. "Terima kasih." Kris hanya mengangguk, ia mengalihkan pandangannya pada taman bunga dihadapan mereka.

Hening menyelimuti keduanya.

Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun sesekali Kris melirik kekasihnya yang kini tengah meminum cola.

Ia tersenyum, ketika mendapati cara Kai minum seperti anak kecil. Kris menggerakan tangannya, ia mengusap sudut bibir Kai dengan ibu jarinya. "Kau ini seperti anak kecil saja,"

"Eh?" Kai memandang kekasihnya bingung.

"Cara minummu seperti anak kecil," Kris memperjelas ucapannya. Sedangkan Kai yang sudah mengerti hanya menggembungkan pipinya yang masih terlihat chubby itu. membuat Kris mencubitnya dengan gemas.

"Ouch, sakit Kris!" Ringis Kai, ia makin memajukan bibirnya mendapati perlakuan dari kekasihnya itu. Kris mencuri ciuman dari bibirnya, "Yak!" pekik Kai, kontan saja wajahnya memerah, antara sakit karena cubitan Kris dipipinya juga ciuman singkat itu.

"Kau manis sekali," ujarnya makin menggoda kekasihnya yang kini wajahnya semakin bersemu, "Seperti yeoja saja." Tambahnya.

Kai mendorong tubuh Kris agar menajuh, "Ish! Aku bukan yoeja, aku ini laki-laki kalau kau lupa Tuan Wu," cibirnya.

"Aku tahu," Kris membawa Kai kedalam pelukannya, Kai juga tidak berontak ia malah menyamankan dirinya dalam pelukkan hangat Kris. "Tapi kau memang manis." Imbuh Kris sambil memberikan kecupan dipuncak kepala Kai.

.

Joonmyeon memandang sendu pemandangan didepannya. Dari tadi ia terus memperhatikan Kai dan Kris yang tengah bermesraan. Ia berpikir: apa yang akan dilakukan Sehun kalau melihat ini semua? Melihat kekasihnya bermesraan dengan orang lain pasti sakit rasanya. Dalam hati Joonmyeon bersyukur karena Sehun tidak melihat kejadian itu.

Ia saja yang sebagai kakaknya sakit ketika melihat adik semata wayangnya bermesraan dengan orang lain—meskipun ia tahu kalau Kris bukanlah orang lain bagi Jongin, ia adalah orang yang sudah menyelamatkan nyawa adiknya. Entah apa yang akan terjadi kalau waktu itu Kris tidak menemukan Jongin?

"Mereka mesra sekali, bukankah Jongin kekasih Sehun?" sebuah suara disebelahnya mengalihkan perhatiannya. Joonmyeon sempat lupa kalau sekarang ia tak sendirian disini. "Apa mereka sudah putus?" tanya orang disebelahnya lagi.

Joonmyeon hanya diam, tidak menjawab. Ia tersenyum getir sebelum berajak dari sana.

"Myeonie kau mau kemana?"

"Pulang," sahutnya singkat.

"Eh? Kenapa? Tapi Jongin—"

Joonmyeon mengehentikan langkahnya, "Bisakah kau diam, Tuan Do?!"

"Kau ketus sekali sih. Aku kan hanya bertanya apa salahnya,"

Do Kyungsoo, pemuda manis dengan mata besar itu adalah teman kuliah Joonmyeon dikampusnya yang baru. Ia berujar tak kalah ketusnya dengan Joonmyeon. Sebenarnya mereka adalah teman dekat dulu ketika masih di Busan, namun ketika mereka masih duduk dibangku SMA keluarga Kyungsoo pindah ke Seoul karena ayahnya dipindah tugaskan keperusahaan pusat. Dan Joonmyeon tidak pernah menyangka kalau mereka akan bertemu kembali.

.

.

.

Sehun berjalan gontai tak tentu arah, mestinya dia sudah berbelok diperempatan tadi untuk menuju apartemennya, tapi entah kenapa ia tidak ingin segera pulang sekarang. Ia butuh waktu untuk sendirian sekarang, pikirannya masih kacau setelah kejadian sore tadi ditaman.

Ia tak menyangka kalau ia akan menemukan pemandangan yang membuat hatinya bertambah sakit. Kim Jongin orang yang sangat ia cintai, pemuda yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu tengah bermesraan dengan Kris, ia tidak penah menyangaka akan menemukan Jongin disana. Dia pergi ketaman untuk menemui Joonmyeon—yang merupakan hyung Jongin.

Namun sebelum ia menemukan Joonmyeon, ia malah melihat pemandangan yang menyakitkan itu. Sehun yang tidak tahan melihatnya memutuskan pergi sebelum bertemu Joonmyeon.

"Argghh… Kim Jongin!"

Ia berteriak marah disepanjang jalan, tak mempedulikan tatapan aneh dari para pejalan kaki yang juga melintasi daerah itu. Ia stress, ia mulai merasa gila, ia mulai merasa kalau Jongin candunya tidak akan pernah mengingatnya kembali kalau terus seperti ini. Dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan?

Haruskan ia merelakan Jongin untuk Kris? Atau haruskan ia melenyapkan Kris dari muka bumi ini agar ia bisa memiliki Jongin untuknya sendiri? Oke yang opsi yang kedua itu tidak akan pernah mungkin Sehun lakukan karena bagaimanapun Kris adalah orang yang telah berbaik hati menolong Jonginnya. Ya, Jonginnya, karena Jongin masih kekasihnya sampai sekarang meskipun anak itu tidak mengingatnya.

"Kenapa Jongie… Kenapa?"

Ia meremas surainya dengan fustasi, ia tertawa setelahnya dan perlahan perlahan air matanya mulai menetes.

Bruk

"Aigoo! Mianhae." Suara yang begitu familiar merasuki pendengarannya. Sehun mengalihkan pandangannya kearah sumber suara, dan ia terpaku.

Dihadapannya kini tengah berdiri seseorang yang dari tadi memenuhi pikirannya. Kim Jognin berdiri disana sambil membungkuk, memohon maaf karena telah menabraknya. Barang belanjaan yang ia bawa berserakan di trotoar.

Sedangkan Sehun masih belum bersuara sedikitpun, ia masih setia memperhatikan Jongin yang kini sudah berjongkok memunguti barang belanjaannya. Sedetik kemudian Sehun ikut membantu membereskan kembali barang-barang yang berserakan tersebut.

"Ini," Sehun menyodorkan barang terakhir pada Kai.

"Terima kasih, maaf aku tadi kurang hati-hati dan berakhir dengan menabrakmu." Kai mendongak ingin melihat siapa orang yang telah ia tabrak barusan.

Deg

Perasaan apa ini?

"Tak apa, aku juga tidak memperhatikan jalanku tadi. Kau baik-baik saja?" Sehun berujar sambil terus memandang wajah orang yang dirindukannya itu.

Kenapa?

Kenapa rasaanya aku begitu merindukan orang ini?

Siapa dia?

.

.

.

To be Continue…

Ada yang masih ingat dengan ff ku yang ini?

Pasti udah lupa, udah lama banget sih dan baru di lanjut sekarang.

Maaf ya bukan maskudku untuk menelatarkan ini ff tapi karena aku baru sempet ngetik dan mumpung lagi senggang jadi sekalian ajah aku update sekarang.

Terima kasih bagi yang udah mau baca, review, fav, dan follow#kiss reader satu-satu.

Oh iya kemarin ada yang tanya di ff yang Collection of Story (HunKai) sebenarnya siapa author ini? Akasuna no Akemi yang awalnya etinprawati ingat gak? Lupa juga gak apa-apa sih cuma mau ngasih tahu ajah soalnya kemarin tuh ada yang tanya sama aku. Ini orangnya masih sama koq cuma ganti PanName ajah, maaf ya kalau udah bikin kalian bingung soal nama PenName-nya.

Udah segitu dari aku, kita berjumpa lagi dilain waktu.

Mind to review, minna?

Akasuna no Akemi out!