Ruko itu terletak agak jauh dari pusat Namimori. Semua orang suka berbelanja disana. Berbagai kebutuhan tersedia, dan pelayannya pun ramah. Nana melayani para pelanggan dengan senyuman dan keramahnnya, tak ayal para penduduk Namimori menerima Nana dan keluarga Sawada dengan hangat.

Sang suami, Iemitsu, bekerja sebagai seorang karyawan disalah satu perusahaan bisnis di Namimori. Lahir sebagai seorang ayah yang baik, hangat, dan overprotective terhadap keluarga, Iemitsu menjadi kepala keluarga yang panut dan patut dicontoh.

Anak pertama keluarga Sawada adalah Giotto Sawada. Lahir di Italia membuatnya memiliki sedikit darah Italia dari sang buyut, berupa rambut pirang anti gravitasi dan sapphire eyes yang indah. Giotto sendiri sudah menjalani kuliahnya di fakultas kedokteran di Universitas Namimori dengan peringkat membanggakan. Terlahir juga sebagai lelaki yang bertanggungjawab, dan tentunya, cinta keluarga.

Lalu si nomor dua di keluarga Sawada, Tsunayoshi Sawada. Berambut sama dengan si sulung, hanya saja berbeda warna—coklat brunette. Bermata orange cerah. Tsunayoshi lahir menjadi anak yang—bisa dibilang—dingin. Namun ia tetaplah keluarga Sawada yang dikenal hangat. Hanya saja ia hanya bersikap hangat pada para tetangga dan sang ibu. Sisanya, ia adalah orang yang tak banyak bicara dan cool. Bersekolah di SMA Namimori dengan tingkat kecerdasan yang hampir sama dengan Giotto.

Dan yang terakhir, bungsu Sawada, Tsuna Sawada. Masih berusia SMP dan merupakan kembaran—hampir—dengan Tsunayoshi. Walau tak sepintar kedua kakaknya, Tsuna memiliki tabiat yang baik dan hangat—persis dengan sang ibu. Inilah yang membuat keluarga Sawada begitu dikenal. Tsuna sangat suka membantu para tetangga, membantu di toko, dan senyum bishounen-nya selalu dinantikan (jangan salah, para tetangganya ada yang mengidap penyakit fujoshi. Jadi, pikirkan sendiri) .

"Tsuna, kau tidak berangkat ke sekolah?" Suara berat Tsunayoshi mengudara dikamar sang bungsu disuatu Selasa yang indah. Kamar ia buka perlahan, dan Tsuna masih ditemukan terbungkus selimut tebal dan nampak naik turun dengan teratur. Melihat itu, Tsunayoshi tersenyum, lalu berjalan pelan kearah kasur itu.

"Tsuna, tidak sekolah hari ini?" Tangannya mengguncang gumpalan bergerak itu pelan. Lalu terdengar erangan pelan dari balik selimut.

"Ng, Yoshi-nii?" Tsuna terbangun dari bobok beruangnya. Tsunayoshi kembali menampakkan senyumnya.

"Tidak ada sekolah hari ini?" Tanyanya—untuk ketiga kalinya. Tsuna terdiam, lalu bangkit.

Walau tidak dijawab, melihat Tsuna beranjak merupakan jawaban bagi Tsunayoshi. Biasanya kalau hari libur, Tsuna akan masuk lagi dalam selimut.

Lalu Tsunayoshi bangkit dari posisi duduknya dan melangkah menuju dapur.

Ketiga lelaki kita yang gagah dan tampan ini telah berpakaian. Hem, satu seragam kuliah, satunya seragam SMA, dan yang terakhir seragam SMP. Nana senang sekali melihat ketiga buah cintanya ini telah siap.

"Ara, semuanya sudah siap. Ingat, nanti pulang cepat, yaa.., dan bantu-bantu di toko.." Nana melipat omelette diatas penggorengan. Ketiganya mengangguk.

Inilah keseharian kediaman Sawada. Makan bersama dengan penuh khidmat dan kegembiraan pagi.

Ah, mana sang kepala keluarga Sawada?

.

TOKO 27; DIMANA SEMUANYA TERJADI

Katekyo Hitman Reborn Amano Akira

FanFiction Ameru-Genjirou-Sawada

.

Genre : Family/Humor

Rate : T..?

Pair : Brother!G2772

Warnings : Typo(s) , isi toko yang aneh bin ajaib, dan segalanya

.

#Happy Reading!

.

Memang melelahkan menjalani sebuah keseharian yang bernama sekolah. Apa lagi jika terjadi hal yang tidak diinginkan, hari ini rasanya terasa panjang dan berat. Namun, ada kalanya sekolah juga merupakan tempat yang membahagiakan—bagi sebagian—kecil—orang.

Salah satunya, Tsuna kita tercinta ini.

Mendapat teguran dari Nezu-sensei diakibatkan datang terlambat, dan akhirnya disetrap selama satu jam pelajaran. Lalu, menjadi bahan tertawaan satu kelas ketika melakukan front roll dalam pelajaran penjas, yang berakhir dengan terguling dan nyungsep di ujung gym. Kemudian mendapat nilai merah dalam pelajaran—yang baginya—terkutuk, matematika. Sungguh sekolah bukan merupakan tempat yang bahagia untuknya.

Andai saja kedua kakaknya bisa sedikit menularkan kepandaian mereka padanya—sedikit saja.

"Kau ini bicara apa, Tsuna? Walau kau tidak terlalu pandai dalam kelas, paling tidak jadilah yang paling maksimal.." Tsunayoshi pernah bertitah seperti itu ketika Tsuna hendak bolos sekolah.

Hiks, walaupun dia bicara seperti itu, apa takdir bisa terguling begitu saja?

Akhirnya rumah terlihat dari ujung mata. Ah, Tsuna masih harus membantu sang bunda menjaga tokonya yang merupakan toserba ini. Yah, seandainya Tsunayoshi sudah pulang lebih dulu, tentu Tsuna tidak wajib membantu Nana.

Namun sepertinya tidak ada satu pun dari kakak-kakaknya yang menampakkan batang hidungnya dirumah.

"Ara, Tsu-kun sudah pulang, Tsunayoshi sedang ada tugas kelompok di rumah temannya, dan Giotto sepertinya belum pulang.." Nana muncul dari balik kardus mentega.

Sial, apa mereka berencana meninggalkannya untuk bersih-bersih toko?

Katanya kakak yang baik.

Tsuna tersenyum getir, "Tak apa, kaa-san, aku akan membantu.." Tawarnya. Nana tersenyum sumringah.

"Arigatou, tolong tata sayuran-sayuran disana, Tsu-kun, aku akan pergi mandi.., hari ini benar-benar panas.." Nana menyibakkan celemek soft pink-nya, lalu melenggang menuju kamar mandi.

Yak, inilah saatnya Tsuna Sawada beraksi!

Dengan celemek orange muda, ia bergerak menuju rak sayuran. Agak berantakan, pasti karena ibu-ibu pagi pada berebut. Sial, kadang Tsuna berpikir ibu-ibu itu adalah sesuatu yang harus dihindari (pengecualian untuk Nana) .

"KYOKUGEN! SAWADA, KAU SUDAH PULAANG!" Sebuah teriakan terdengar dari antara para sayuran. Ryohei, sang seledri, berteriak penuh semangat melihat kedatangan temannya itu.

"Ahaha, hai Ryohei.." Tsuna menata kacang polong. Teriakan tak kalah keras terdengar dari sebelah ikan dan hasil laut.

"Sibafu atama kau berisik sekali! Kau tahu juudaime kelelahan karena baru pulang sekolah?!" Hayato sang gurita berteriak tak terima. Teman disebelahnya berusaha menenangkan.

"Maa maa Hayato hentikan, berarti kau juga sama dengan Ryohei.." Takeshi si ikan tongkol menenangkan teman guritanya ini.

"KYOKUGEN! APA MAKSUDMU, TAKOO!?" Ryohei berteriak tak terima juga.

"TEME! KECILKAN SUARAMU!" Hayato hendak melemparkan semprotan tintanya pada seledri tak tahu diri itu—katanya.

Tsuna menghela napas lelah. Hanya dialah yang bisa mendengar para bahan makanan ini berbicara. Dan setiap ia membantu sang ibu, dan dia kebetulan pergi, ia pasti bisa mendengar suara mereka. Entah sedang berteriak (seperti biasa) , atau yang lainnya.

"Yare yare, benar, deh, kalian itu berisik sekali.." Suara bernada malas terdengar. Lambo sang brokoli, rupanya baru bangun dari tidur cantiknya.

"TEME, LAMBO, KAU DIAM SAJA!" Tako naik pitam. Kalau begini, ia bisa berubah jadi takoyaki.

"KYOKUGEN! JANGAN MARAHI LAMBO SEENAKNYA!"

"TEME! SIAPA YANG MULAI DULUAN?!"

"Maa maa.., tenanglah.."

"Yare yare berisik.."

'God, bisa mati muda aku…' Tsuna facepalm. Ia beralih menuju rak buah-buahan. Saat ia menata buah jeruk yang agak berantakan itu, suara tawa absurd mengudara.

"Kufufu, sore, Tsuna-kun.." Mukuro Nanas Biadab (okay yang biadab itu hanya tambahan author) menyapa Tsuna. Tak lupa, dengan senyum nanas nistanya.

Jangan tanya bagaimana Tsuna bisa melihat senyum nista itu. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

"Ah, hai, Mukuro.." Mata Tsuna tak teralihkan dari jeruk-jeruk ranum itu.

"Nufufu, Mukuro, dasar, harusnya aku yang menyapa Tsuna-kun duluan.." Tawa tak kalah nista terdengar dari bagian buah besar berwarna kehijauan dengan garis zig-zag hitam.

"Kufufu, semangka pedo mending diem aja.." Sindir Mukuro—nggak ngaca.

"Nufufu, sebaiknya kau berkaca.." Daemon si semangka tak kalah biadab bersabda.

Dan Tsuna memutuskan untuk membiarkan dua buah salah antar itu bertengkar soalnya.

Ya, inilah yang selalu dihadapi Tsuna tiap sore. Teriakan memekakkan telinga, tawa nista dan juga omongan yang ambiguh menjadi warna tersendiri di Toko 27 ini.

'Haah, pantas mereka nggak laku-laku..' Tsuna meletakkan kotak mentega di raknya.

.

.

==TBC==

.

.


Okey, ide ini saya dapatkan ketika saya dan teman saya berdebat soal si nanas biadab *ngelirik Mukuro*

Kalau yg bingung bagaimana semua ini terjadi, jngs tanya saya, karena saya juga gatau /plak/ Ryohei sebenernya itu mau saya buat jadi rerumputan, tapi mana ada toko yang menjual rumput? Jadi saya buat ia menjadi seledri. Soal Takeshi yang menjadi ikan karena dia lebih pantas menjadi ikan XD soal Lambo yg jadi brokoli, pasti reader udh pada tau kenapa X3

.

Nah sampai berjumpa di chapter 002!