Semua ini berawal ketika tiga buah cinta Sawada libur.
Si sulung libur dikarenakan guru-guru mempersiapkan diri untuk lustrum universitasnya, sementara si kembar libur dikarenakan guru-guru mereka (yang masih satu nama sekolah dan bernaung dibawah satu yayasan) mengadakan tour keliling Nagoya.
Jadi disinilah mereka. Tsunayoshi dan Tsuna yang tengah membantu ibu tercinta mengepak kemasan tepung dan mentega.
Tunggu? Tsunayoshi dan Tsuna? Mana si sulung, bule nyasar itu?
"Yoshi-nii, menurut Yoshi-nii, kemana Giotto-nii pergi?" Tsuna memecang keheningan dan menatap sang kakak kembar tercinta yang sudah bagaikan kembar siam satu tubuh.
"Hee, aku tidak tahu. Dia tidak memberitahuku akan pergi kemana.." Gumam Tsunayoshi tanpa mengalihkan pandangannya dari kemasan tepung tambun tersebut.
Ya begitulah Tsunayoshi. Selalu tidak perduli dengan Giotto.
BRAK
KLINING
"TSUNAYOSHI! TSUNA! TADAIMA!" Teriakan hiperbola dari si sulung bergema seiring pintu di dobrak. Semburat pink-pink gaje bisa terlihat di belakang sang bule.
"Okaeri, nii-san.." Jawab kembar dengan nada datar. Giotto bagaikan orang yang tidak dianggap.
Giotto nangis buaya di pojokan. Jangan lupa the pundung aura yang membuat stok oksigen menipis.
Manik Tsuna menangkap sesuatu yang dibawa Giotto. Sebuah sangkar burung.
"Heh? Giotto-nii membeli sangkar burung?" Tanya Tsuna. Membuat aura pundung langsung menghablur ditelan udara, digantikan aura cerah sang kakak tertua.
"Haah, buang-buang uang saja.." Celetuk Tsunayoshi tidak perduli. Giotto bersiap akan pundung lagi. Beruntung Tsuna menahannya.
"Jangan begitu, Tsunayoshi.., nah, Tsuna. Lihat. Aku tidak hanya membeli sangkarnya saja.." Ujar Giotto sambil memamerkan sangkar burung berwarna keunguan tersebut. Tsuna maju untuk melihat lebih jelas.
"Apa itu—" Tsuna terdiam.
"Heh? Apa ini?"
.
.
TOKO 27; DIMANA SEMUANYA TERJADI
Genre : Family/Humor
Rate : T..?
Pair : hem..macem2 /plak/
Warnings : typo(s) , makhluk ajaib nan ghoib didalam toko, humor garing-garing spicy, berpotensi merusak mata dan buat sakit kepala, de-el-el
.
.
.
#Happy Reading!
.
.
Katekyo Hitman Reborn Amano Akira
FanFiction Ameru-Genjirou-Sawada
Anda tahu..sebuah permainan dimana seekor burung berwarna kuning, matanya belok, paruh melebihi kapasitas normal, dan juga berat badan diatas standar berusaha untuk terbang namun gagal karena beratnya dirinya sehingga ia kepentok pipa hijau? Kalau tahu, berarti Anda pernah membanting ponsel atau gadget Anda.
Pepatah mengatakan "Sometimes, the fate is just a coincidence" atau "Kadang kala, takdir itu hanya sebuah kebetulan" . Sama. Sama seperti yang dialami Tsuna. Inikah takdir? Atau, ini hanya kebetulan?
Ia baru saja melihat seekor burung. Burung. Iya, burung. Hewan dari jenis aves yang memiliki ciri-ciri berparuh, memiliki sepasang sayap untuk terbang, dan juga bertelur. Namun, sekali lagi, burung yang dilihat Tsuna ini, pasti hanyalah sebuah kebetulan.
Warnanya kuning.
Merasa aneh?
Endut.
Hm?
Sayap kecil.
Percaya?
Paruh orange yang gedenya melebihi panjang tubuhnya sendiri.
Hm? Apa? Déjà vu?
Tapi sayang, dia bukan burung yang Anda semua musuhi, kok.
"Ini…burung apa, Giotto-nii?" Tsuna menengadah, menatap sepasang batu shappire yang indah dan bening itu. Giotto masih menempelkan senyum.
"Oh, ini..aku tidak tahu jenis burung apa.." Tsunayoshi facepalm, "Tapi karena nampaknya toko kita sepi.., jadi kita butuh refreshment.." Ujar Giotto lagi.
"Hell, ngomong aja gajelas.." Tsunayoshi kembali meringkuk di barisan tepung-tepung tambun. Giotto monyong.
"Maksudku, kalau burung ini kita pajang, niscaya toko kita akan makin ramai.." Giotto menyunggingkan senyum seribu watt.
"Makin ramai?"
"Iya! Lagipula burung ini lucu, kok.." Begitulah pikiran Giotto. Namun bagi Tsuna, burung ini aneh.
Ya, sudah mirip burung yang kabarnya sudah dihapus dari toko aplikasi smarthphone, burung ini juga sepertinya mengikuti fashion. Lihat saja, ia mengenakan gakuran hitam panjang, dan di lengan kirinya, tersemat sebuah handband berwarna merah.
Dan lagi, burung ini..dia berambut. Iya, punya rambut. Rambutnya berwarna hitam pendek. Dan, tatapannya itu,
Bukan! Bukan membuat orang mabuk kepayang oleh cinta.., tapi mabuk beneran. Serem, euy.
'Ini burung nggak ada lucu-lucunya sama sekali..' Kesimpulan normal ditarik oleh batin Tsuna. Selamat. Bravo.
Tsuna perhatikan burung yang tengah bertengger manis disangkarnya ini.
Perhatikan, perhatikan.
Hingga..
"Hey, herbivore, apa lihat-lihat?" Burung itu berbicara.
Bicara? Iya, berbicara. Burung itu berbicara.
"Eh?" Tsuna membelalak. Berharap malaikat hanya memberinya sebuah mimpi. Atau semua ini memang benar.
"Apa lihat-lihat? Masih nanya lagi.." Burung itu menghela napas bosan. Tsuna membatu.
Tidak.., setelah seledri sakit jiwa itu, gurita PMS, tongkol bego, dua buah tropikal salah alamat, sekarang ini? Burung obesitas yang bisa bicara?
Hell, rasanya Tsuna ingin hujan-hujanan ditaman bunga laksana para actor serial Bollywood. Stress pun bertambah. Rambutpun akan rontok. Kinerja pun menurun, tak digaji, pula..
Inilah idup miris itu.
"Hm? Kenapa, Tsuna? Kau suka?" Tsuna tersadar dari tidur bekunya. Lalu ia menatap sang kakak.
"Un. A—aku suka, kok.." Tsuna berusaha membuat sang kakak senang. Bukan, bukan karena ia perduli, ia hanya tidak ingin the pundung aura menguar dan membuat pemandangan toko tidak enak dan kapasitas oksigen menipis.
Background pink plus blink-blink gaje mengudara di ruangan itu. Siapa lagi biang keroknya.
"TSUNAAA! KAKAK SAYANG KAMU!" Peluk cium cinta dari sang kakak. Sampai ingus meluncur turun dari lubang hidungnya.
Ish. Jorok.
"A—ahahah.." Dan yang dipeluk cium cinta hanya tertawa garing. Ini adalah awal dari..apa, ya..
.
.
Sudah seminggu ini burung obesitas itu menjadi anggota Toko 27. Tsuna memerhatikan pemandangan luar toko dari kaca besar sambil bertopang dagu. Lalu pandangannya beralih pada sangkar ungu yang dipasang tepat disebelahnya.
"Apa." Burung bongsor mendelik tajam. Tsuna mati gaya.
"Kau punya nama?" Tsuna memutuskan untuk mengajak burung itu berbicara. Walau dalam hati, ia malas melakukannya.
"Kenapa? Nge-fans? Bilang aja." Ujar sang burung dengan maha narsisnya. Tsuna cengok.
'Kalau dia bukan hewan yang dicintai Tuhan, sudah kurebus dia..' Perempatan urat muncul di dahi Tsuna. Sudah endut, jelek (*kena glare*) , narsis lagi.
"Hey, aku serius." Ingin rasanya Tsuna mengeluarkan dark aura terbaiknya.
"Kepo." Balas sang aves.
CTEK
Dark aura level I.
"Ayolah.., iya, aku kepo.." Jawab Tsuna dengan nada melas ala ABG dari Negara dibenua Asia tenggara sana.
"Masa bodoh."
CTEK
Level upgraded; Dark aura level MAX!
"Kau.." Tsuna berniat mencekik burung endut itu. Namun sayang, nasib berpihak lain.
Kaki Tsuna slip, Tsuna tergelincir.
"UWAA—"
BRAK
TRAK
KRETEK
FLAP FLAP
O—ouw.
"Burungnya lepas!" Jadilah Tsuna berteriak sejadinya. Sang burung obesitas pun terbang bebas diangkasa.
Hey~~ baling-baling bambuu~~
"Juudaime! Ada apa—" Sang gurita angkat moncong ketika burung kuning itu mendarat dikepala sang tako.
"Hn. Gurita."
"TEME! APA YANG KAU LAKUKAN—" Gurita memberontak, takut dikasih hadiah kotoran gratis dari sang burung.
"Ck. Berisik kau. Nanti jadi takoyaki, lho." Burung pun terbang menjauh.
"TEME!"
"Ahahaha, burung yang menarik.." Tongkol tertawa bahagia. Yang merasa disinggung menyenggol sang tongkol hingga mental keluar akuarium.
Kecipak-kecipuk. Kesana-kemari mencari air.
"TONGKOL FREAK!" Gurita memanggil teman kembar dempet. Ikan laut megap-megap nyaris sakaratul maut, kalau saja Tsuna tidak mengembalikannya ke akuarium.
"Ah, te—terima kasih, Tsuna.." Takeshi selamat dari sakaratul maut.
"Tunggu! Hey, burung!" Tsuna kembali melanjutkan acara kejar dengan burung obesitas tersebut.
"EXTREME! BURUNG GENDUT, KAU MEMBUAT KERIBUTAN!" Lagi, seledri menambah daftar panjang masalah.
CTEK
Urat kemarahan burung putus.
"Kau…kamikorosu." BRAK! Barisan tomat berjatuhan.
"HIEEE!" Tsuna meratapi sayuran merah yang menggelinding dengan elitenya.
"EXTREME! LIHAT APA YANG KAU LAKUKAAN!" Seledri hanya bisa berteriak. Burung makin emosi.
BRAK
BRUK
BLUK BLUK BLUK
Kali ini kentang menjadi korban kemarahan burung.
"NOO! KENTANGNYAA!" Tsuna memunguti kentang-kentang itu seraya menangis jahanum.
"TEME! LIHAT ITU, JUUDAIME JADI KEREPOTAN!" Gurita memonyongkan mulutnya—marah. Tongkol masih diam megap-megap.
"Diam kau tako."
HUP
WUSH
GLUP
Cabe berhasil masuk ke mulut gurita.
"HAYATO MAKAN CABE TO THE EXTREME!" Sumpah. Ryohei tidak bisa baca situasi.
"Diam."
BLUK
Strike. Ryohei kena lempar kentang yang dipungut dari lantai.
'NOO…' Sementara pemilik toko menangis nelangsa. Tunggu saja ledakan kemarahan dari kembar dempet begitu melihat kekacauan ini.
"Yare yare..ada apa i—" Belum sempat brokoli membaca situasi, ia sudah ditendang sang burung hingga jatuh ke lantai.
"Eng…Gotta…stay..calm…huwaa…" Percuma. Mau 'Gotta-stay-calm' pun tetap saja nangis nista.
"Kufufu, burung nakal, kau sudah membuat Tsuna-kun menderita.." Suara nista mengudara di pojok buahan tropis.
"Nufufu, kau harus dihukum, burung kelebihan lemak.." Buah zig-zag hitam ikut bersabda.
"Kesini kalau bisa, buah nista." CRAK! Ouch. Semangka kena cakar burung.
"Kufufu, dasar semangka—"
CRAK
Yah. Nasib. Semangka dan nanas gugur.
"Hn. Ah—" Burung yang tengah terbang bebas itu meleng, dan..
Masuk kedalam sangkar dengan damai.
"Eh—" Tsuna yang tengah memunguti tomat yang berceceran terbengong-bengong melihat tidak ada pertumpahan darah lagi.
"Tsuna." God, keluar dari mulut buaya, masuk mulut kadal(?) .
"Yo—Yoshi-nii…" Rasanya Tsuna ingin menangis. Lihat siapa didepannya.
Sang kakak kembar yang masih masang muka tembok menatap dengan tatapan datar dan tajam. Ditangannya terdapat sangkar burung si biang kerok keributan.
"Sepertinya burung ini yang menyebabkan semuanya.." Tsunayoshi memandangi burung kuning yang tengah balik menatapnya tajam.
"Tapi, Yoshi-nii..itu.."
"Tak apa, Tsuna. Aku akan meletakkan di tempat yang benar.." Lalu Tsunayoshi menaiki tangga besi dan menempatkan sangkar burung tersebut di langit-langit toko.
"Ah.." Tsuna tidak tahu harus berkata apa. Ingin ia duduk berlutut, menangis dan meminta maaf. Namun nanti dulu.
Tsunayoshi tersenyum tipis, "Tidak apa. Sini, kakak bantu.." Lalu Tsunayoshi membantu memunguti tomat yang berserakan.
Mata Tsuna berkaca-kaca, "Ung…Yoshi-nii.."
.
.
"Hey." Tsuna memanggil makhluk yang bersemayam dalam sangkar itu.
"Apa?"
"Kau sebenarnya belum punya nama, bukan?" Bisa dilihat burung itu agak terdiam.
Ternyata masih anonymous.
"Lalu? Apa maumu?" Burung itu mendelik tajam. Tsuna tersenyum, masih menopang dagu.
"Aku tahu harus memberimu apa.."
"..?"
"Kyoya. Namamu Kyoya." Senyum sumringah ia berikan pada sang burung kuning berparuh raksasa yang obesitas, Kyoya.
.
.
==TBC==
.
.
*baca naskah* …kok..1827 detected..? *garuk2 kpala*
Ahya, akhirnya skylark kita muncul juga! Jadi perwujudan burung fl*ppy bird berotot preman XDD *kena cium tonfa*
Terimakasih yg udh ngasih saran Ameru utk ide skylark kita OwO hountou ni sumimasen klo idenya ga bisa dimunculin disini m( _ _ )m
Genji : ey, bukanya mau bicara sesuatu..?
Ameru : ah, baru ngeh! Oya, minna-tachi, Ameru minta saran dari minna-tachi, bagaimana utk cerita berikutnya, kita buat setting para pemain nista kita ini kena sihir ajaib X3 ? silakan poling poling…
'kay! Sampai jumpa di chapter 004!
