Dimana ada terang, pasti ada gelap. Dimana ada kebaikan, disitulah ada kejahatan. Ini takdir. Bukan puisi.

Bahkan orang baik pun tak bisa luput dari yang namanya kejahatan. Kejahatan itu egois, apapun diembat. Kotoran busuk pun kalau dari emas juga bakalan diembat. Asal untung aja.

Maka dari itu perlu yang namanya 'kewaspadaan' . Selalu waspada, seperti napi bertopeng putih di suatu acara berita jaman jebot yang selalu berkata 'waspadalah! Waspadalah!' dari balik jeruji.

Sekali saja meleng, habis, kau. Itu kata orang Fafua.

Kembali. Bahkan orang baik yang tidak ada salah dengan si pencetak dosa ini pun tak luput dari kejahatan. Memang kejahatan itu aneh, nimbunnya dosa. Dosa tidak bisa berubah jadi emas, ngapain nimbun dosa?

Ehem.

Maka dari itu jangan jadi orang baik, tapi polos. Sekali lagi, angka kejahatan semakin merangkak jahanum dikarenakan angka kepolosan orang meningkat. Data survey absurd Author mencatat seperti itu.

Sama. Sama seperti yang dialami oleh mereka. Bedanya, mereka selamat.

Lho? Kok selamat?

Karena mereka..

.

.

TOKO 27; DIMANA SEMUANYA TERJADI

Genre : Family/Humor

Rate : T..?

Pair : Brother!G2772, dan pair nista lainnya

Warnings : Typo(s) , bahasa warna-warni dan sulit dipahami, berpotensi menaikkan kewaspadaan Anda(?) , de-el-el

.

.

#Happy Reading!

.

.

Katekyo Hitman Reborn Amano Akira

FanFiction Ameru-Genjirou-Sawada

Akhir-akhir ini Tsuna selalu melihat pemandangan yang sama. Selama seminggu ini.

Saat ia sedang nista-nistanya baca manga di kasa sambil mengawasi toko turunan orangtua tercinta, ia melihat seorang berambut blonde hingga menutupi matanya asyik muter-muter di sekitar tokonya.

Awalnya brunette mengira ia pelanggan. Namun ia malah pergi. Cih, memangnya ini toko baju, apa? Sekedar lihat, lalu pergi? PHP.

Dan itu terus terulang selama seminggu ini. Tsuna mulai curiga kalau itu fans-nya Giotto atau Tsunayoshi. Namun ia tepis pikiran itu. Karena satu, orang itu terdeteksi laki-laki.

Ya, kecuali kalau otak orang itu sudah terdeteksi boys love, maka akan terciptalah pair nista baru.

Tsuna melirik jam dinding yang terpatri manis di dinding berwarna baby blue itu. Jam 1. Ah, biasanya kalau jam segini, orang itu pasti lewat.

Darimana Tsuna tahu? Etntahlah, mungkin Tsuna itu stalker. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Dan benar saja, orang itu kembali lewat. Lengkap dengan pakaian yang sama. Baju stripe hitam-ungu tua berlengan panjang. Dengan jaket ber-hoodie hitam, celana panjang hitam, dan boots putih.

Mondar-mandir, mondar-mandir. Lihat sana, lihat sini. Eh, gatau deh apa orang blonde itu melihat-lihat isi toko kita ini. Ya, tentu, mata aja ga kelihatan, mau gimana lihat?

'Ini orang..' Lama-lama capek juga lihat orang itu mondar-mandir sok jahanum. Istilahnya, nih orang pengen beli, tapi nggak ada duit.

'Yaelah, elu tuker koin gambar melati juga dapet rawit dua.' Pikir Tsuna.

Kembali. Orang itu seperti mengecheck keadaan sekitar. Ampun, deh, dia ini anggota FBI? CIA? Kok sok kayak menjaga toko Tsuna. Emangnya disini ada bom apa?

Tsuna perhatikan lagi. Diperhatikan lagi, terus..

Dan, orang itu nyengir.

Lho? Nyengir?

Nampaklah barisan gigi putih berkilauan tersebut. Berbaris rapi bak benteng. Nggak dibehel, nggak pake gigi palsu. Asli. Terang benderang.

Tsuna bisa melihat cahaya-cahaya nista memantul dari gigi rapat nan putih bebas ulat itu. Ish, berapa kali dia sikat gigi, ya?

Lalu orang itu melangkah pergi—masih nyengir. Manga Tsuna pun ditelantarkan. Tsuna lalu mulai berpikir yang 'iya-iya' .

Pertama. Tsuna takut orang itu adalah penculik anak. Paedofil.

'Tidaak..aku tahu aku imut.., tapi jangan culik juga..' Tangis jahanum dalam hati. Merutuk sang blonde bergigi rapet dengan senyum kemilau.

Dan kita semua tahu itu kalimat narsis yang keluar dari mulut Tsuna (walaupun itu kenyataan juga) .

Kedua. Kembali, Tsuna berpikir blonde bergigi itu adalah lintah darat bergigi yang mengawasinya. Mengawasi kalau-kalau Sawada belum bayar sewa.

'Tapi.., ini ruko 'kan nggak nyewa.., berarti bukan rentenir, ya..' Akhirnya otak pentium empat Tsuna bekerja. Menyadari kalau rumah toko tercintanya ini nggak nyewa.

Tapi tetap saja pikiran 'iya-iya' terus menghantui Tsuna. Makhluk yang dicintai Tuhan ini rupanya dianugerahi kemampuan hyper intuition. Dan saat ini, kemampuan ajaib itu sudah bangun.

'Tapi, orang itu..dia mencurigakan..pasti dia bukan sembarang orang..' Tuh 'kan. Lagi-lagi Tsuna berusaha menerka apakah yang intuition-nya ini mau.

Orang jahat? Nggak, sih. Walaupun memang mencurigakan. Tapi tetap saja tidak boleh sembarang tuduh. Nanti dosa nambah.

Setelah lama menimbang, Tsuna menarik kesimpulan bahwa orang tadi hanyalah orang lewat. Tanpa ambil pusing, ia pun segera masuk ke rumah dan berleha-leha ketika sang kakak kembar pulang dan menawarkan bantuan.

Tapi, tunggu?

.

.


Disebuah gang sempit yang gelap, dua orang tengah berbicara. Serius sepertinya.

"Bagaimana?" Tanya yang satu. Suaranya serak dan sangar. Sekali lagi. Sangar, bro.

"Shishishi, sepertinya hanya anak ingusan disana.." Seorang lagi berucap. Bisa dilihat deretan giginya memancarkan cahaya terang benderang. Padahal, gang sangat gelap.

"Bagus. Nanti malam kita serang." Seru orang pertama, lalu berjalan meninggalkan gang sempit galp kotor bau itu. Diikuti orang dibelakangnya, masih dengan senyum 10 watt.

(jangan tanya kenapa 10 watt)

.

.


Jam 6 sore Toko 27 tutup. Tentu, mana mungkin toko toserba buka 24 jam? Orang jahanum mana yang mau berjaga?

Setelah gosok gigi, kiss night, salam perpisahan(?) dan cipika-cipiki malam, akhirnya seluruh keluarga Sawada tidur dibawah indahnya bunga mimpi.

Ya, semuanya tidur. Namun tidak ada yang menyadari seseorang berjalan ditengah gelapnya malam. Kacamata hitam menghalangi pandangannya.

Celingak-celinguk. Aman.

Linggis ditangan.

PRANG

Dan kaca Toko 27 sukses hancur berkeping-keping. Orang tadi tersenyum—bukan—menyirengai.

"Hmph. Masuk ke toko ini gampang juga.." Serunya. Lalu ia masuk kedalam melalui jendela yang tadi berhasil ia pecahkan dengan tangan seninya.

"Shishi, memang benar.., toko ini tidak ada security system.." Seru orang ber-hoodie sambil—sekali lagi—memamerkan barisan giginya.

Nggak capek apa, senyam-senyum terus?

"Bel-senpai, kau menghalangi jalan masuk.." Sebuah suara kecil, mononton, dan bernada menghina menginterupsi sepinya toko itu. Pucuk kodok mekar dengan indahnya dikepalanya.

"Diam kau, kodok.." Seru orang yang dipanggil 'Bel-senpai' itu. Muka kodok mengerut tembok.

"Kau hanya penggangu, Bel-senpai.., lebih baik balik ke rumah dan netek sama ibu.." Kembali, hinaan keluar dari mulut kodok.

SLEP SLEP SLEP

Pisau dengan nistanya menancap indah dikepala kodok.

"Shishi, dasar kodok, kurebus kau.." Cengiran jahat keluar dari mulut senpai. Kodok tetap muka tembok.

"Voi, jangan berisik. Nanti gagal!" Si suara serak yang terduga berambut silver panjang ini lalu mengecheck daerah sekitar. Gelap, sepi, dan pastinya, penuh dengan uang.

Seringai muncul, "Toko ini lumayan terkenal, pasti banyak uang dikasirnya.."

TRAK

TRAK

TRAK

". . . ?" Pria itu melirik keatas. Ia melihat sebuah sangkar burung tergantung disana, dan sedikit bergoyang.

Tidak, tidak goyang dombret. Nggak, nggak goyang Caesar juga. Hanya bergoyang karena sang empunya kurungan meronta-ronta.

"Ada apa, sih?" Lalu pria ubanan ini menurunkan sangkar lagi joget itu dan melihat isinya. Hasilnya..

PAK

"ADUH! VOI, APA YANG—" Uhm, hidung mancung pria ubanan ini baru saja dipatuk dengan kekuatan carnivore.

Oleh siapa?

"Voi, ternyata hanya burung jelek—" Kata—ejek—pria ini begitu melihat penghuni nista yang seenak jidatnya yang jenong itu patukan sayang.

Hingga…

"Herbivore, memecahkan kaca rumah orang, kamikorosu!" Ucap burung gendut itu sambil mengepakkan sayap kecilnya itu.

Pria itu cengok sebentar.

Tidak. Tidak karena dia sudah direndahkan harga dirinya oleh burung ingusan yang lagi-lagi seenak pantat matuk dia. Tapi, karena burung itu…

Bicara padanya.

"V—Voi, bu—burung ini bicara..?" Ia merasa sudah masuk alam fantasy. Dimana segala jenis hewan bisa berbicara.

"Shishi, apa maksudmu, Squalo-kaicho?" Si Bel—Belphegor—mengamati temannya ini. Aneh, tiba-tiba orang ini bungkam.

"Hey, dengar, nggak? Burung ini ngomong.." Orang tadi menunjuk burung gendot bibir dower ini.

Squalo Superbi namanya. Usia 25 tahun. Telah menjadi pencuri professional selama hampir ¼ hidupnya. Dan baru kali ini, ia mendengar seekor burung bicara dan lagi, menghina dirinya.

Mungkin sebentar lagi rambut panjangnya itu akan lebih memutih. Bahkan, sampai transparan.

"Shishi, Squalo-kaicho sudah nggak waras.." Hinaan pertama.

"Kaicho harus masuk rumah sakit secepatnya.." Hinaan kedua—plus nada tembok.

"Voi, gue nggak gila! Udah, ah, cepetan sadap!" Perintah si uban. Dua bawahan mulai bergerak.

Dan sangkar burung mulai bergerak nista lagi.

"Heh, mau apa, kau burung? Kau tidak mungkin—"

JDUK

JDANG

Tidak elite. Ini sungguh tak elite. Squalo Superbi, 25 tahun, pencuri professional. Tapi, kali ini ia kalah,

Oleh seekor burung gendut paruh dower yang seenak pantat dan jidatnya yang lebar—apa ya bahasanya—mengarahkan sangkar burungnya kearah sang pencuri,

Dan sukses menghantam jidat lebar Squalo.

'Tidak…gue..kalah.., maafkan gue, boss sialan nggak tahu diri, kalau gue mati, jangan kangen..' Dengan efek slow motion sinetron, Squalo terjatuh. Tak lupa pesan terakhir yang asli bin narsis.

"Are? Kaicho akhirnya mati juga.." Kodok muka tembok menusuk sang pencuri—mati—pingsan—nggak elite—dengan ranting.

Ah, kodok, kata-katamu itu, jleb-nya disini.. (Author: *ngurut dada*)

"Biarin mati aja, kodok.., nanti biar dimakan tikus.." Inilah hinaan didalam hinaan. Bel—tanpa menghiraukan bangkai naas bin menyedihkan di lantai—mengodok-ngodok kasa toko.

Dan sialnya, si kodok hanya mengikuti.

'Kubunuh kalian nanti..' Sang kaicho merutuk dalam batinnya.

.

"Psst, Hayato.." Makhluk jenis gurita itu terbangun mendengar teman se-akuariumnya memanggilnya—berbisik lebih tepatnya.

"Apa maumu, tongkol freak?" Tongkol segar menunjuk burung tambun yang mengetuk kaca rumah mereka sendari tadi.

"Cih, apa maumu, birdie?" Si burung agak sewot dipanggil begitu oleh si makhluk laut. Tapi mau tak mau ia harus begini!

Kyoya rapopo!

"Diamlah, tako. Ada pencuri menerobos masuk." Katanya singkat sambil melirik tajam kearah Bel yang tengah mencari dimana pundi emas disimpan.

Gurita sukses melek.

"APA?! PENCURI! TIDAK, BAGAIMANA NASIB TOKO INI!" Teriakan nelangsa. Temannya pun menenangkan.

"Maa..sudahlah, kita beri saja pelajaran.." Lalu si tongkol mulai menyusun rencana.

-Kasak kusuk bisak bisik-

.

"Cih. Dilaci yang ini juga nggak ada.." Bel membanting kesal laci oenyoe dan tak berdosa itu. Rupanya yang mereka cari tidak ada dilaci itu. Sudah 3 laci ia check dan hasilnya nihil.

"Bel-senpai memang payah seperti biasa.." Dan sukses pisau berukir menancap sayang dikepala kodok.

"Diam." Auw, itu si pemilik suara parau. Squalo telah bangkit!

Djeng~djeng~djeng~djeng~

"Wao, kaicho hidup kembali.." Kata kedua bawahannya—dengan nada datar—plus hinaan didalmnya.

Urat sabar putuh satu.

"Voi—"

"Sudahlah, kaicho, mending ikutan cari..jangan cuma bengong.." Bel kembali mencari.

"Betul. Jadi kaicho nggak becus.." Tambah lagi hinaan dari kodok—Fran.

Urat sabar putus semua.

"Voi, akan kujadikan makanan Alo kalian…" Dengan nada penuh penekanan dan ancaman. Namun sayang, keduanya tak mendengar.

Poor Squalo..

.

Pencarian kembali dilanjutkan. Kembali, para pencuri tercinta(?) kita tak menemukan satupun pundi emas di kasa. Squalo nampak tak sabaran.

Mulai lapar~ mulai lapar~

"Voi, dimana mereka menyembunyikan—" Squalo kembali dikagetkan dengan kehadiran seekor dari jenis aves bertengger manis—(baca: nista)—dimesin kasir toko.

"Voi, burung brengsek, kubunuh kau—" Dikendalikan dark aura level KYOKUGEN! , Squalo mengejar burung nista itu dengan kecepatan carnivore.

"Yare yare.., kaicho kekanak-kanakkan.." Fran hanya bisa facepalm melihat kaichonya itu berlari bak anak kecil mengejar layangan putus.

"Hn, kejar saja kalau bisa.." Ujar Kyoya ketus. Iseng, ia menabrak rak tepung.

BLUK

Benda putih itu mengenai badan dan rambut—indah—Squalo.

"VOIII!" Cewek cross-dress ini makin naik pitam. Ia makin genjar ingin mencekik burung itu hingga kempes.

"Dasar Aho-Birdie, dia malah menghancurkan dagangan disini.." Bisik—rutuk—Hayato yang berenang nista di akuarium. Tongkol hanya tertawa bego.

"Oi, kaicho—"

BLUK

BLUK

BLUK

Ow, kali ini Bel menabrak tumpukan buah. Inilah akibat kalau memanjangkan rambut sampai nutupin mata.

Dan seketika terasa hawa-hawa aneh menguar.

Bukan, bukan aura kegelapan. Aura nista lebih tepatnya.

"Kufufu, kau sudah menabrakku.." Sepucuk nanas ranum—hampir busuk—menggelinding nista kearah Bel. Nampak urat nanasnya hampir putus.

"Ap—"

BRAK

Kali ini buah besar menimpa Bel.

"Nufufufu, kau menggangu tidur cantikku.." Sebuah semangka besar dan sudah berulat menimpa Bel malang kita. Dan,

Apa itu tidur cantik? Ah, Daemon, tidur 1000 tahun pun kamu nggak akan cantik. Malah ditumbuhi ulat.

"Bu—buahnya berbicara.." Oke, bagi kalian ini humor nista, tapi bagi Bel, ini horror. Bayangkan saja sepasang buah salah alamat—nista pula—berbicara dan mengancammu.

"Are?" Fran hanya kebingungan.

"Kufufufu.."

"Nufufufu.."

Hanya itu yang terdengar di acara curi—mencuri—diikuti—acara—merusak—toko—dan—kejar—kejaran nista—malam ini.

"I—ini nggak normal—"

BRAK

"VOIII! BURUNG BRENGSEK! KESINI!"

PAK

PAK

PAK

"VOIII! MENTEGANYA MEPER-MEPER, TAHU!" Teriakan jijik ala cewek SMA PMS.

SYUUT

PRANG

BYUUR

"VOII! BASAH, TAHU! DINGIN!" Kali ini akuarium ikan gurame yang pecah.

Klepek-klepek cari air. Kasihan..

"Squ—Squalo-kaicho, ayo pergi! Disini angker!" Itulah kesimpulan yang Bel tarik. Dengan kecepatan herbivore (bagi Kyoya) , mereka meninggalkan toko itu. Tunggang langgang.

Tapi seekor kodok(?) tertinggal disana.

"Are? Sudah selesai.., ehm.., cepatnya.." Lalu dengan santai sang kodok meninggalkan toko yang sudah—kelewat—hancur itu.

.

.


-Namimori, 06.30 a.m-

"HIEEE! APA YANG TERJADI!" Si bungsulah yang pertama melihat kejadian yang—maha—absurd—ini di pagi yang cerah ini.

Nana, Giotto, Tsunyaoshi dan Iemitsu yang penasaran ikut turun tangga dan melihat TKP.

"Ara.., apa yang terjadi.." Hanya itu reaksi Nana.

"Ah, Ya Tuhan.., apa semalam ada badai..?" Giotto mengusap dagunya yang mulai berjenggot.

"Tidak. Aku tidak mendengar apapun semalam.." Tsunayoshi, tidak kah kau tahu semalam telah terjadi world war 3 di toko ini?

"Sudahlah..nanti juga kita bersihkan.." Iemitsu senyum 1000 watt.

Dan Tsuna, hanya nangis nelangsa.

"Hn, herbivores.." Seekor burung obesitas jidat dan paruh lebar plus jenong hanya menarik napas capek sambil bertengger nista di mesin kasir toko.

.

.

==TBC==


Aduh, humor disini agak garing.. *nangis* maafkan author yg miskin humor ini.. QAAQ *sembah sujud*

.

Disini, entah kenapa saya suka menjadikan Varia jdi pencuri (baca dalam fic Prince Who Dumb) , karena apa, ya, mungkin wajah mereka yang extreme(?)

Ya, saya juga ucapkan semua yg udah views, review, fav, dan segala macem! Tak disangka fic ini dapat apresiasi yg membanggakan!

Ah, masih minta polling dari reader-sama semua:

-Apakah Toko 27 dichapter berikutnya mau dijadikan genre fantasy/tidak?-

Karena Ameru kepikiran bagaimana tokoh nista kita ini kena sihir dan menjadi manusia yg spt kita ketahui? Bagaimana? Bagaimana? *kedip kedip* /blink2 aura/

Kutunggu jawaban kalian semua! *lambai gaje*