Semua memandang horror pada sosok baru yang muncul entah dari mana.
Tsuna hampir saja pingsan, Giotto dan yang lain—minus Alaude—jawsdrop melihat pemandangan itu. Andai saja Nana ada disana, wanita itu sudah pingsan dengan darah mengalir dari hidungnya.
Bagaimana tidak?!
Kini ada tujuh sosok baru yang duduk tersungkur dilantai toko. Yang satu, berambut keperakan dengan rambutnya mencuat seperti tentakel gurita, tiga orang berambut kehitaman namun bedanya yang satu berambut spike, sementara yang satu gelombang acak-acakan dan yang lain berambut seperti tempurung. Yang satu lagi berambut keabuan pendek, memakai plester komedo dihidungnya, dan dua orang berambut navy blue dengan tatanan rambut jambul nanas. Bedanya, jambul satu jalur kutunya satu, yang lain jalurnya dua.
Dan yang lebih sensasional lagi—
"HEY, KENAPA KALIAN TELANJANG, HAH?!" Sembur G horror sambil memegang ujung hidungnya yang mungkin akan mengeluarkan darah. Menatap lebih horror 'benda' mereka yang terekspos jelas.
"Hah? Memangnya kenapa? Lho?" Tanya Gokudera heran pada 'benda' –nya yang menggantung absurd dibagian selatan tubuhnya, "Apa ini?" Lalu ia menyentuh 'benda' –nya yang menggoyang-goyangkannya.
"GYAAAA!" Tsuna berteriak histeris melihatnya. Nyawanya yang sudah terkumpul melayang lagi.
"TSUNA! MALAIKATKU! JANGAN MATI—" Giotto mengguncang tubuh nelangsa Tsuna.
"DASAR BODOH, JANGAN DIGOYANGKAN!"
"Memangnya aneh?"
"EXTREME!"
"Ahahahha…sepertinya menarik.."
"Kau…kuborgol kau sampai mati!"
"Kau yang akan ku-kamikorosu."
"GYAAA, ALAUDE! STOP! JANGAN BUNUH MEREKA DULU!"
"SEBENARNYA SIAPA, SIH, MEREKA?!"
"Kufufu, Tsuna-kun…sini sama Mukuro~"
"Nufufufu, mesum, minggir kau.."
"Kau yang harusnya minggir, mesum, kufufu.."
"Yare yare…"
"LAMPO, JANGAN DIAM SAJA!"
Tsunayoshi yang sendari tadi membaca buku diruang tamu mulai terusik oleh pembicaraan aneh ditoko. Ia pun berjalan menuju toko dan membuka pintu yang memisahkan rumahnya dengan tokonya.
"Hey, sebenarnya ada—" Tsunayoshi sukses cengo dengan pemandangan didepannya. Suasana mulai mematikan.
Hening semuanya.
.
.
.
"GYAA! YOSHI-NII!" Tsuna-lah yang menyadari pertama kedatangan kakak keduanya.
"YOSHI! PLEASE, KAMI BISA JELASKAN—"
Dan Giotto sukses tersungkur oleh lemparan sandal rumah Tsunayoshi.
.
.
TOKO 27; DIMANA SEMUANYA TERJADI
Genre : Humor/Family
Rate : T…?
Pair : Brother!G2772, dan pair nyelip lainnya
Setting : AU
Warnings : Typo(s) , bahasa dan alur berantakan, rate diragukan, humor garing, de-el-el
.
.
#HappyReading!
.
.
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
FanFiction © Arco Deverde Reborn
.
CHAPTER 005-II: THE TWISTED FATE, WHAT—?
Setelah memberi pakaiaan kepada makhluk absurd yang datang entah dari mana itu, mereka semua segera berkumpul di kamar Giotto. Untung saja kamarnya luas, jadi tidak berdesakan didalamnya. Beberapa masih menarik napas, berusaha menetralkan detak jantung mereka akibat peristiwa beberapa menit lalu. Kini mereka duduk melingkar dilantai kamar Giotto. Tsunayoshi yang masih shock, mengedarkan manik orange jernihnya pada sosok baru itu.
"Kalian, perkenalkan nama." Titah Tsunayoshi dalam.
"Gokudera Hayato." Makhluk berambut mirip gurita itu yang pertama memperkenalkan diri.
"Ahahahaha, aku Yamamoto Takeshi…, yoroshiku!" Ujar yang berambut spike.
"Hn, HIbari Kyoya." Ucap yang berambut tempurung.
"KYOKUGEN! NAMAKU SASAGAWA RYOHEI!" Teriak makhluk berambut keabuan itu histeris. Semua sweatdrop. Ia dan Knuckle nampaknya akan berteman sangat baik.
"Lambo…" Sahut yang berambut acak-acakan malas.
"Kufufufu, nanas paling kece diantara nanas, Rokudo Mukuro desu.." Kata si rambut jambul nanas. Manik heterochrome-nya diam-diam curi-curi pandang kearah Tsuna. Membuat pemilik jambul nanas lainnya mencubit lengan teman sesama pemilik jambul tersebut.
"Nufufu, jangan seenaknya curi-curi pandang pada Tsuna-kun, " Ujarnya sambil mengerling genit kearah Tsuna, lantas mendapat deathglare kualitas terbaik oleh Giotto, "Namaku Daemon Spade, semangka paling sekseh dan gahul seantero buah tropis~" Tambahnya plus kibasan poni.
Semua memandang orang bernama Daemon itu dengan tatapan jijik. Rasanya seperti mau muntah memandangi makhluk itu.
"Kufufufu, dasar norak, gue yang paling sekseh.." Mukuro protes. Daemon naik urat, "Enak aja, gue yang paling sekseh, tampangmu itu menjijikkan, " Tambahnya.
'Nggak ngaca' Batin semua yang ada disitu.
Giotto berdehem untuk menenangkan kembali suasana, "Baik, agar kalian bisa kembali ke…err..wujud semula, aku akan meminta G mencari mantranya, dan kalian bisa menginap dirumahku selagi menunggu…" Ujarnya. Mereka mengangguk tanda mengerti, kecuali dua makhluk yang sibuk cari pandang pada Tsuna.
"Dan, " Tambah Tsunayoshi, "Kalau salah satu dari kalian berani mendekati Tsuna, " Kini dibelakang Giotto dan Tsunayoshi sudah berselimutkan aura hitam, "Kalian akan kujadikan rujak, paham?" Tanyanya dengan nada psikopatik sambil menatap tujuh makhluk didepan mereka. Yang ditatap pun mengangguk kaku.
Tapi, apa kalian yakin mereka semua akan taat aturan?
.
.
Baru saja teman-teman Giotto pamit pulang ke gua masing-masing, kerusuhan segera melanda keluarga Sawada ini. Tadinya suasana sempet adem ayem, sekarang berubah horror tatkala makhluk jelmaan hewan dan tumbuhan itu mulai mengodok-ngodok seisi rumah.
"Hm? Benda apa ini..?" Gokudera nampak penasaran ketika memasuki ruang tamu dan menemukan televisi didepan matanya. Dengan innocent, ia pencet tombol di televisi itu. Pencet terus, pencet terus.
Terus terus terus terus terus.—
DUAAR
—Hingga televisi itu meledak karena korsleting.
Tsuna yang melihat itu terperanjat kaget, "HIIEEE! HAYATO, APA YANG KAU LAKUKAN?!" Ia pun menjauhkan makhluk jelmaan gurita itu dan berniat memadamkan api. Berlari panik, terpeleset, lalu membawa ember berisi air. Menyiraminya ke televisi, malah tersiram kedirinya sendiri.
Balik lagi ke kamar mandi, ia malah terpeleset lagi. Akhirnya setelah 10 kali percobaan, api itu berhasil padam. Tsuna jatuh tersungkur karena lelah.
Okay, sekarang Iemitsu harus membeli televisi baru.
.
.
Dua hari setelahnya, niatnya Tsunayoshi ingin mandi setelah selesai kegiatan klub. Badannya sudah bau ketek dan tanah, seragamnya pun sudah penuh debu. Lengkap sudah. Tapi niatnya mandi terundur sedikit ketika Nana berkata bahwa Ryohei dan Takeshi ada didalam kamar mandi. Okay, tunggu sebentar bisa.
5 menit…, Tsunayoshi masih menunggu…
10 menit…, Tsunayoshi masih sabar…
30 menit…, kok nih makhluk tidak kunjung keluar, sih?!
1 jam…, Tsunayoshi sudah tidak tahan!
Persetan bila dikatai mesum, Tsunayoshi tidak peduli. Sudah bau ketek, membuat mood-nya makin jelek. Ia dobrak pintu kamar mandi itu dengan emosi, namun gagal, terkunci.
"Ryohei-san, Takeshi-san, kalian sudah 1 jam dikamar mandi, keluarlah!" Hardik Tsunayoshi sambil terus mendobrak pintu itu. Dobrak terus!
Hingga—
BRAAK
BRUUSSH
"UWAH!"
—Luapan air bak tsunami keluar dari kamar mandi itu dan membanjiri rumah Tsunayoshi.
Beruntung Tsunayoshi tidak hanyut. Dengan aura hitam menguar dibelakang tubuhnya, ia menghampiri dua makhluk jadi-jadian yang terkapar megap-megap karena kekurangan oksigen.
"Ah, Tsunayoshi-san, " Takeshi-lah yang menyadari kedatangan putra kedua Sawada tersebut, "Yah, bisa kau lihat, kami…tidak bisa menutup kerannya. Kami mau keluar, tapi pintunya terkunci. Tidak tahu cara membukanya, jadi—"
"Kalian….." Aura hitam sudah menguar dari seluruh tubuh Tsunayoshi. Kepalanya sudah akan meledak.
Dan ketika, Tsuna pulang dengan menemukan rumahnya tergenang air dan dua manusia terkapar hampir sakaratul maut.
.
.
Hampir seminggu tiga bersaudara Sawada dihadapkan dengan situasi genting. Dimana rumah mereka yang tercinta ini hampir meledak oleh bom molotov, banjir, tsunami, dan kebakaran. Ini membuat urat kesabaran Giotto dan Tsunayoshi makin menipis. Dan lagi, dengan kehadiran duet nanas salah antar, keamanan Tsuna, malaikat mereka, menjadi makin terancam. Melaksanakan sistem ronda, mereka bergantian menjaga malaikat mereka. Sebelum ternodai oleh duo buah busuk itu.
Misalnya saja hari ini.
Tsuna tengah membaca majalah diruang tamu sambil ngemil, kebiasaannya saat bersantai. Sambil bersenandung ia membalikkan halaman demi halaman majalah anime tersebut. Ia tidak menyadari sendari tadi, diseberang sana, tepatnya dapur, ada sesosok makhluk astral tengah mengawasinya dengan tatapan 'aku-akan-memakanmu-sekarang-juga-'
Ia mundur selangkah, memastikan target belum bergerak. Ambil ancang-ancang, tangan diregangkan selebar mungki, memastikan agar target tidak bergerak, dan,
"TSUNA-KUN~~~!" Mukuro siap 'memakan' target.
Lari berlari dengan kencang, tiba-tiba—
Mukuro merasa dunia terhenti sejenak.
Wajahnya yang baginya oh-ganteng-kece-banget seketika rusak ketika sebuah penggorengan lebar, berkarat, dan usang memukul wajahnya dengan oh-sangat-mesra. Bibir seksinya (bagi Mukuro) menghantam pantat penggorengan gosong itu dengan mesranya. Tangannya masih begerak-gerak bebas, mencoba merengkuh Tsuna yang bahkan masih duduk santai disofa ruang tamu.
"Hey, " Suara bariton Tsunayoshi menjadi backsound horror ketika itu, "Berani mendekati Tsuna lagi—"
Penggorengan itu bergerak mundur, dan dengan kekuatan cahaya, penggorengan itu melesat, menghantam kembali wajah Mukuro dengan kekuatan penuh yang seketika membuat Mukuro terpelanting keluar dari jendela dapur dan menghilang dibalik langit biru.
CRING~
ULTIMATE HIT! 100 POINTS!
"Yoshi-nii, ada apa?" Tsuna yang menyadari kehadian Tsunayoshi disana berbalik, menatap Tsunayoshi dengan tatapan mautnya. Oh, kalau saja Tsunayoshi tidak punya topeng stoic, ia pasti sudah banjir darah.
"Tidak ada, Tsuna, " Jawabnya seraya tersenyum tipis, mengusap pantat penggorengan yang menjadi saksi bisu proses penyiksaan Mukuro tadi, "Hanya mencoba kekuatan penggorengan ini.." Balasnya lagi.
Melihat keanehan itu, Tsuna hanya mengendikkan bahunya acuh.
.
"Nufufufu, Mukuro itu bodoh, akulah yang akan mendapatkan Tsuna-kun, unufufufu~" Ujar suara tak kalah nista.
Kini Tsuna tengah mengerjakan PR-nya didalam kamarnya. Serius dengan latihan biologinya, membuatnya lost guard. Ia tidak menyadari bahaya stadium greget yang mengelilinginya.
Dari pohon apel yang tumbuh tak jauh dari jendela kamar Tsuna, Daemon Spade bersiap akan melompat dari sana, masuk ke kamar Tsuna, dan langsung 'menyerang' Tsuna.
Daemon merasa tubuh selatannya menegang. Ia sudah tidak sabar.
Satu—
Dua—
TIGA!
Sekali hentakan kaki layaknya ninja di fandom seberang, ia melompat dengan kecepatan cahaya, melesat masuk ke jendela kamar Tsuna.
"TSUNA-KUN~~—"
Oh, tidak secepat itu.
Dengan memanfaatkan pintu kamar sang malaikat yang terbuka, Giotto dengan kecepatan tak kalah cepat melompat hingga sejajar dengan Daemon, dan dengan kecenya menendang 'benda' Daemon dengan kekuatan penuh. Wajah Daemon membiru.
Ouch.
Lalu dengan sekali manuver, Giotto berbalik, mengarahkan kakinya kearah wajah Daemon, dan menendang Daemon hingga keluar jendela. Menembus birunya langit siang itu.
CRING~
ULTIMATE KICK! 200 POINTS!
"Giotto-nii, sedang apa dikamarku?" Tsuna dengan polosnya bertanya pada Giotto yang telah mendarat ditanah dengan selamat setelah melakukan aksi heroik.
"Tidak ada, kok, hanya sedang meniru gayanya Cekik cen~" Ujar Giotto girang. Lalu auranya langsung menggelap.
'MATI KAU, DAEMON SPADE!'
.
.
Tiga hari setelah aksi heroik itu, G mendatangi kediaman Sawada. Hendak berbicara pada Giotto dan Tsunayoshi. Alangkah sweatdrop-nya G melihat kedua orang itu yang sudah bertampang lusuh dengan aura suram mengelilingi mereka.
'Brocon…' Batin G lelah.
"Ada apa kau datang, G?" Tanya Giotto. G segera memamerkan senyum bisnisnya.
"Ada kabar gembira, broh!" Ujarnya riang. Oh, sepertinya kalimat itu pernah terdengar disuatu iklan?
Hanya perasaan kali~
"Apaan, tuh? Kulit nanas sekarang berduri? Basi, ah!" Jawab Tsunayoshi ketus. Amat tidak nyambung.
"Ish, bukan itu, " G mulai sewot, "Begini, melihat keadaan kalian, aku segera mencari cara—"
"Langsung saja!" Potong dua bersaudara itu sewot.
"Okay, okay, " Ujar G.
"Aku sudah menemukan sihir agar makluk-makhluk itu bisa kembali ke wujudnya semula!" Kata G penuh keriangan.
Diam sejenak.
"HUAPAH?!"
==TBC==
Ini yg pasti udh ditunggu reader-sama semua! Toko 27, udh apdet, desu~!
Humor garing, kan udh diingetin~ jng salahkan saya /kena timpuk bata/
Sampai jumpa dichapter brikutnya!
