Kris Wu | Oh Sehun | Kim Jongin | Park Chanyeol | Xi Luhan

rappicasso

presents

an alternate universe fanfiction

Like Father, Like Son

:: chapter 1 ::

WARNING:

BoysLove, Incest, Mature Content, Dirty Talks, Explicit Language

Note:

I'm really sorry for the late update. Thanks for readers, reviewers, followers, and favoriters.

I love you, guys! This is for you~

CKLEK!

"Sehun-ah." Seorang pria bertubuh jangkung itu―Wu Yifan membuka pintu kamar sambil mengintip ke dalam kamar. Dilihatnya seorang pemuda yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia masih nyaman bergelung di bawah selimutnya. Yifan mendesah kecil, kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam kamar sang pemuda. Langkahnya yang panjang membuatnya cepat mencapai ranjang king size, tempat tidur sang pemuda. Ia melihat ke arah pemuda yang tidur menyamping sambil memeluk gulingnya. Matanya terpejam dan terlihat begitu damai―seperti malaikat. Untuk sesaat, Yifan seolah tak ingin mengganggu tidur pemuda itu. Namun, jika teringat dengan semua kenakalan―dan tentunya keharusan pemuda itu untuk segera berangkat ke sekolah, Yifan pun segera membangunkannya saja. "Wu Sehun, bangunlah." Yifan mengguncang tubuh pemuda bernama Sehun itu.

Sehun hanya menggeliat pelan sambil bergumam. Ia tak berniat untuk terjaga dari tidurnya.

Yifan menggeram pelan. "Wu Sehun, ini adalah hari pertamamu masuk sekolah." Yifan kembali mengguncang tubuh Sehun―kali ini sedikit lebih keras.

"Nggh." Sehun hanya melenguh pelan, lalu membalik tubuhnya ke arah yang lain.

"Aish, kenapa kebiasaanmu tak pernah berubah, eh?" Yifan mulai kesal dengan kebiasaan Sehun yang sulit dibangunkan―bagi Sehun, tidur adalah segalanya. "Hei, Wu Sehun!" Yifan berteriak agak keras.

"Hmm, apa?" Sehun hanya membalasnya dengan gumaman, lalu mengeratkan pelukannya pada guling.

Yifan mulai kehabisan kesabarannya. Pasalnya, ia rela kehilangan beberapa jam tidurnya yang berharga dan bangun pagi, hanya demi Sehun. Jadi ia pun―

BRUK!

"Wu Sehun! Cepatlah bangun!"―membanting tubuh Sehun dengan cukup keras.

"Auw!" Sehun memekik kesakitan dan langsung membuka kedua mata sipitnya. Ia menyentuh punggungnya yang terasa sedikit sakit karena berhantaman dengan kasur―yah, meskipun empuk, tapi tetap saja menyakitkan. Ia terduduk di atas ranjang dan menoleh cepat ke arah Yifan. "Aish, apa yang kau lakukan, Pak Tua?" desisnya pelan.

"Cepatlah bangun, Bodoh! Kau ingin terlambat, eh?" bentak Yifan kesal.

Sehun memasang tampang sinisnya dan berkata, "Ya, ya, aku tahu! Dasar Yifan berisik!"

Yifan melongo di tempatnya. Otaknya seolah sedang berusaha mencerna ucapan Sehun.

Sebelum mendapat omelan Yifan, Sehun pun memutuskan untuk menyingkap selimutnya dan melompat turun dari ranjang. Ia segera berjalan cepat menuju kamar mandi.

"Yak! Apa katamu?!" Yifan langsung berteriak jengkel karena Sehun memanggilnya dengan tak sopan. Namun yang Yifan dapati hanyalah―

BLAM!

Sehun sudah masuk ke dalam kamar mandi.

"Aish, dasar bocah nakal! Awas kau nanti!" desis Yifan kesal, lantas melangkah keluar dari kamar laknat milik putra semata wayangnya itu.

Yah, sepertinya, kita harus mulai terbiasa dengan pertengkaran-pertengkaran kecil yang diciptakan sepasang ayah-anak tersebut.

"Okay, Ayah akan membahas mengenai hukumanmu nanti." Yifan mulai membuka suara―memecah keheningan di dalam mobil mewah miliknya. Seharusnya, sepasang ayah-anak ini bisa bersikap akur seperti pasangan ayah-anak lainnya―misalnya dengan memutar musik, lalu bernyanyi bersama. Sialnya, keduanya sudah tak akur sejak lama. Sehun yang bandel dan Yifan yang tak pernah mau mengalah dengan putranya sendiri.

Sehun menurikan gaya bicara sang ayah tanpa mengeluarkan suara. Ia benar-benar jengkel jika ayahnya mulai bersikap sok berkuasa atas dirinya. Sejujurnya, jauh di dalam lubuk hatinya, Sehun begitu menyayangi Yifan. Namun karena semua sikap Yifan selama ini, Sehun selalu menunjukkan reaksi yang sebaliknya.

"Hei, Wu Sehun. Kau mendengarku atau tidak?" tegur Yifan yang merasa bahwa ucapannya hanya dianggap angin lalu oleh Sehun. Ia sedang memutar kemudinya untuk memasuki kawasan sekolah Sehun.

Sehun hanya terdiam dan memandang ke luar jendela―sama sekali tak berniat membalas ucapan Yifan, walau hanya dengan gumaman.

"Yak, bicaralah! Apakah Ibumu tidak pernah mengajarkan sopan san―"

BRAK!

Yifan mendadak menginjak rem, karena Sehun memukul dashboard mobil dengan sangat keras―tak peduli jika tangannya memerah atau berdarah karena hal itu. Ia menatap sang Ayah dengan tatapan geram. Diangkatnya tangan kanannya dan diarahkan jari telunjuknya ke wajah Yifan. "Kau―" Sehun menggeram rendah. "Jangan pernah menghina Ibuku!" Suara Sehun meninggi. Selagi mobilnya berhenti, Sehun segera membuka pintu mobil dan turun.

Yifan masih terdiam.

BLAM!

Sehun menutup pintu mobil dengan keras dan mulai berjalan kaki menuju sekolahnya.

Yifan hanya terdiam sambil memandangi punggung anaknya. Ia benar-benar menyesal.

"Oh? Jadi inikah putramu, Yifan?" Seorang pria bertubuh mungil dan berwajah manis itu menatap Yifan dan Sehun secara bergantian. Ia takjub dengan Yifan dan Sehun yang memang terlihat begitu mirip―dan sialnya, sama-sama tampan dan sempurna.

Yifan tertawa pelan. "Ya, dia putraku, Wu Sehun," jawab Yifan ramah.

"Sehun," gumam pria manis itu. Ia mengulurkan tangannya pada Sehun. "Sehun-ah, perkenalkan aku, Kim Kibum. Aku adalah ketua yayasan sekolah ini," ucapnya dengan suara yang lembut.

Sehun tersenyum tipis, lalu menjabat tangan Kibum. "Sehun. Song Sehun."

DEG!

Yifan menoleh cepat ke arah putranya.

Kibum juga nampak terkejut dengan perkenalan Sehun. "U-urm, ya. Sehun, kuharap kau bisa menikmati waktumu disini," balas Kibum sambil tersenyum yang agak dipaksakan. "Bagaimana jika aku mengantar Sehun ke kelasnya sekarang juga? Sebentar lagi, bel akan berbunyi." Kibum memandang Yifan dan Sehun bergantian.

"Tentu saja. Silakan," balas Yifan sambil mengangguk pada sahabat lamanya itu. Ya, Kibum adalah sahabat lamanya ketika ia sempat tinggal di Seoul. Ternyata, pria itu menjadi ketua yayasan salah satu sekolah terbaik di Seoul. Maka dari itu, Yifan memutuskan untuk mendaftarkan Sehun di sekolah tersebut. Lagipula, Kibum juga bisa mengawasi Sehun dan melaporkan segala tingkah Sehun pada Yifan. Jadi Yifan tak perlu merasa khawatir.

Kibum tersenyum. "Ayo Sehun. Mari kuantar ke kelasmu," ajak Kibum. Pria manis itu berjalan pergi terlebih dahulu.

Sehun mengangguk sambil membenarkan tasnya. Namun tiba-tiba, tangannya dicekal.

"Sehun." Suara berat Yifan terdengar.

Sehun hanya menoleh ke arah Ayahnya sambil menunjukkan tatapan cuek.

"Jadilah anak yang baik. Ayah dan Ibu akan sangat bangga padamu," pesan Yifan mengingatkan.

Sehun terdiam sambil menatap manik mata Ayahnya yang meneduhkan. "Hm." Akhirnya, Sehun hanya membalasnya dengan gumaman.

Yifan melepaskan tangan Sehun.

Dan anak muda itu melangkah pergi mengikuti Kibum.

TENG! TENG! TENG!

Bel berbunyi sebanyak tiga kali, tanda bahwa ini adalah saatnya untuk masuk ke dalam kelas dan memulai jam pelajaran pertama. Murid-murid sudah duduk di bangkunya masing-masing, namun beberapa diantara mereka masih saling membuat keributan dan sisanya sedang menyiapkan alat tulis menulis sebelum pelajaran dimulai.

Kelas 1-3.

Sebuah papan berwarna coklat dipasang di dinding luar setiap ruang untuk menunjukkan nama ruangan tersebut. Kibum berjalan terus menuju ruangan dengan papan yang bertuliskan kelas 1-3, sementara Sehun masih setia mengekori Kibum sambil memandangi sekelilingnya―menyesuaikan dirinya dengan sekolah baru. Sekolah barunya ini memangtak jauh berbeda dengan sekolah lamanya di Vancouver―atau sekolah-sekolah lainnya. Namun sekolah barunya ini terlihat lebih berstruktur, rapi dan tertib―yah, sepertinya Yifan memang sengaja memilihkan sekolah untuk membentuk kepribadian Sehun dengan lebih baik.

"Nah Sehun, ini kelasmu." Kibum tiba-tiba saja berhenti di depan sebuah kelas.

Untung saja, Sehun memiliki refleks yang cukup baik, sehingga ia tak sampai menumbuk tubuh Kibum. "O-oh." Sehun mengangguk paham. Dilihatnya papan coklat yang tertempel di dinding. "1-3," gumamnya pelan. Sehun mencuri pandang ke dalam kelas melalui jendela.

"Ayo masuk. Aku akan mengenalkanmu dengan teman-teman sekelasmu," ajak Kibum yang langsung masuk ke dalam kelas.

Sehun segera mengambil langkah cepat.

"Selamat pagi, Anak-anak," sapa Kibum ramah sambil tersenyum lembut.

Murid-murid terkesiap dan langsung memperbaiki posisi duduk mereka dan memperhatikan Kibum. Beberapa dari mereka nampak penasaran dengan seorang pemuda berkulit pucat yang berdiri di belakang Kibum.

Kibum tersenyum semakin lebar. "Kurasa, beberapa diantara kalian sudah mendengar mengenai kedatangan murid baru di kelas kalian."

Terdengar bisik-bisik di setiap sudut kelas.

Sehun memutar bola matanya bosan. Oh, menjadi murid baru memang selalu menjengkelkan.

"Jadi, hari ini, aku mengantarnya ke kelas kalian," jelas Kibum. Pria manis itu menoleh ke arah Sehun sambil mengedip―memberikan tanda bagi Sehun untuk segera memperkenalkan dirinya sendiri.

Sehun melangkah maju sambil mengusap tengkuknya. Ia memang orang yang mudah bergaul, meski sifatnya terkesan dingin, namun ia tetap saja merasa gugup jika harus berhadapan dengan orang-orang asing. Ia berdeham pelan.

Seluruh mata tertuju pada Sehun.

Sehun semakin gugup. "Perkenalkan, aku Sehun. Song Sehun," ucap Sehun dengan suara yang sedikit bergetar. "Beberapa anggota keluargaku beasal dari Korea, namun sebelum ini, aku tinggal di Vancouver," jelasnya.

"Whoa!"

"Vancouver? Bukankah itu di Kanada?"

"Jauh sekali."

Terdengar beberapa komentar yang meluncur dari bibir teman-teman baru Sehun―sebagian besar dari mulut para wanita. Sehun meringis tertahan. "Aku harap kalian bisa membantuku beradaptasi disini. Salam kenal dan mohon bantuannya." Sehun membungkuk 90 derajat untuk menunjukkan rasa hormatnya pada teman-teman barunya.

Kibum tersenyum senang, lalu menepuk punggung Sehun. "Nah, Sehun. Kau bisa duduk di salah satu kursi kosong yang masih ada," bisik Kibum.

Sehun mengangguk paham, lalu kembali melihat ke arah bangku-bangku di hadapannya. Hanya ada dua kursi kosong yang tersisa. Satu kursi yang terletak di sudut kanan kelas, sementara kursi lainnya terletak di deret kedua paling kiri―dekat dengan jendela. Sehun sudah memutuskan untuk dimana. "Aku sudah memilih bangkuku," jawab Sehun sambil tersenyum tipis. "Terima kasih atas bantuannya, Kibum-ssi."

Kibum mengangguk sambil tersenyum.

Sehun pun berjalan menuju bangku pilihannya―di sisi paling kiri yang berdekatan dengan jendela. Ia duduk di kursinya, meletakkan tasnya dan―

"Hai."

Seorang pemuda manis berkulit sedikit gelap menoleh ke arahnya. Pemuda itu duduk tepat di depan bangku Sehun.

"Hai." Sehun membalasnya sambil tersenyum canggung.

"Kenalkan, aku Jongin. Salam kenal!" jelas Jongin dengan suara yang penuh semangat.

Sehun mengangguk mengerti.

Namanya Jongin.

Dan dialah teman pertama Sehun.

.

"Kau sudah datang?" Seorang pria cantik―well, dia memang terlalu cantik untuk ukuran pria yang mengatakan dirinya manly―yang sedang merapikan berkas-berkas di atas meja kerjanya itu menoleh ke arah kedatangan seorang pria jangkung.

Pria jangkung yang kita ketahui bernama Wu Yifan itu menghampiri sang pria cantik. "Yah, begitulah," balasnya seadanya. "Bagaimana dengan rapat klien hari ini, Lu?" tanya Yifan to the point.

Pria cantik bernama Xi Luhan itu meletakkan berkasnya di atas meja, lalu berkacak pinggang sambil menatap Yifan. "Kau baru tiba semalam, kan? Kenapa kau memaksa untuk datang, eh?" tanyanya dengan nada sedikit jengkel. Ia justru tak menjawab pertanyaan Yifan.

Yifan mendesah kasar sambil mengusap wajahnya. "Aku ingin proyek ini bisa segera berjalan dan selesai tepat waktu," balas Yifan.

Luhan mendengus sambil membuang muka. "Ayolah, Bos. Ada banyak yang akan membantumu," komentar Luhan. "Seharusnya, kau menikmati waktumu sejenak dengan Sehun. Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana dengan Sehun?"

Yifan memandang langit-langit sambil membayangkan ekspresi Sehun yang nampak masih marah padanya tadi pagi. "Dia sudah besekolah hari ini."

"MWO?!" Kedua mata rusa milik Luhan membulat dengan sempurna. Ia benar-benar terkejut dengan penuturan Kris. "Yak! Bagaimana mungkin kau menyuruh Sehun untuk langsung masuk sekolah di hari pertamanya di Seoul, eoh?" cerocos Luhan kesal.

Yifan memutar bola matanya bosan. "Asal kau tahu saja, ini adalah hari kedua kami di Seoul," balasnya malas.

Luhan mendengus keras. Teman lamanya ini memang benar-benar menyebalkan. Oh, ingin sekali rasanya, Luhan memukulkan berkas-berkasnya ke kepala Yifan agar pria itu bisa sedikit berubah. Sayangnya, berkas-berkas itu terlalu berharga dibanding kepala Yifan. "Tapi setidaknya, kau memberikan kelonggaran pada Sehun, Wu Yifan!" sentak Luhan. "Sehun masih muda. Usianya masih belasan tahun. Dia masih butuh bersenang-senang," imbuhnya.

Yifan mendesah kecil. "Kau tahu, hubunganku dengan Sehun tidak cukup baik semenjak Qian pergi," ucapnya dengan nada sedih. Yifan tertunduk dan memejamkan matanya. "Jauh di dalam lubuk hatiku, aku menyesal karena tak pernah memperhatikan Sehun yang sedang tumbuh. Aku menyesal, Lu. Sangat menyesal," ungkapnya dengan suara lirih.

Luhan tertegun. Yifan yang saat ini berdiri di hadapannya seperti bukan Yifan yang ia kenal selama hidupnya. Yifan yang saat ini berdiri di hadapannya bukanlah sosok yang kuat, melainkah seperti kaca yang mudah hancur.

"Pagi ini, Sehun marah padaku karena aku menjelekkan Qian di hadapannya," jelas Yifan lirih.

"Ha?"

Yifan mendongak menatap Luhan. "Aku tak sengaja mengatakan bahwa Qian tak bisa mendidik Sehun dengan baik," lanjut Yifan sedih. "Aku benar-benar mengutuk mulut sialan ini, Lu. Aku ingin mengguntingnya saat itu juga, saat melihat raut terluka di wajah Sehun. Aku benar-benar Ayah yang bodoh." Yifan menutup wajahnya dengan tangan besarnya.

Luhan tersenyum kecil, menepuk pundak Yifan untuk memberi semangat. "Big boys don't cry," komentarnya.

Yifan menurunkan tangannya dan menatap tajam ke arah pria cantik itu. "Aku tidak menangis, Bodoh."

Luhan mengedikkan bahunya. "Tapi, kau akan." Kemudian tertawa pelan. "Kau bukan orang bodoh Yifan―atau setidaknya, kita bisa menyimpulkan itu nanti. Karena sesungguhnya, hanya orang bodoh yang hidup dalam penyesalan," ucap Luhan, lalu tersenyum simpul.

Yifan memperhatikan Luhan dengan seksama.

"Kau menyesal atas apa yang telah kau perbuat di masa lalu. Okay, itu bagus. Maka sekarang, yang kau lakukan adalah memperbaikinya―jadilah pribadi yang lebih baik dan Ayah yang membanggakan putranya," lanjut Luhan.

Sedetik kemudian, kedua sudut bibir Yifan terangkat. Ia setuju dengan ucapan Luhan. Ia memeluk sahabat lamanya itu dengan erat. "Terima kasih, Lu."

"Itulah gunanya teman."

.

Bel istirahat sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, namun Sehun masih enggan untuk beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kantin sekolah, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan murid―padahal ia pun merasa sangat lapar karena belum sempat sarapan. Ia masih gugup untuk berkenalan dengan teman-teman sekelasnya dan sepertinya teman-temannya pun tidak cukup berani untuk berkenalan dengannya―yah, mungkin karena wajahnya yang terlalu datar itu.

Eh, tunggu. Bukankah tadi ada seorang anak laki-laki yang mengajaknya berbicara? Yang duduk di depan bangkunya? Kemana dia?

Sehun menolehkan kepalanya kesana kemari untuk mencari keberadaan anak itu. Siapa namanya? Jongin, ya? Ah, sayang sekali, kelas sudah sepi dan anak itu tidak berada di kelas. Sehun mendesah lirih. Great, ia benar-benar tak memiliki teman untuk sekedar diajak berbicara.

"Hei, Sehun!"

Sehun langsung mendongakkan kepalanya saat mendengar namanya dipanggil. Anak laki-laki yang dicarinya tadi―Jongin sedang berdiri di ambang pintu kelasnya. "Ya?" Ia merasa sangat senang karena Jongin muncul lagi di hadapannya.

Jongin melangkah masuk ke dalam kelas―berjalan ke tempat duduknya. "Kau tidak pergi ke kantin?" tanya Jongin sambil tetap berjalan.

Sehun meringis. "Tidak. Aku tak tahu harus pergi dengan siapa," jawabnya.

Jongin mendengus, lalu langsung duduk di kursinya―menghadap ke arah Sehun. "Seharusnya, kau meminta bantuan Ketua Kelas Zhitao," komentar Jongin.

"Siapa?"

"Ketua Kelas kami. Namanya Huang Zhitao," jawab Jongin sambil tersenyum. "Tapi yah, dia agak sedikit galak dan sensitif. Tapi tenang saja, dia anak yang baik kok," jelas Jongin.

Sehun mengangguk paham.

"Asal kau tidak berani macam-macam―atau mengganggu koleksi tas Gucci miliknya," Jongin memutar bola matanya dengan malas, "kau akan aman dari serangan wushu." Jongin nyengir.

Sehun kembali mengangguk.

"Hei, kau tak lapar?" tanya Jongin memastikan. "Wajahmu pucat."

Sehun tertawa. "Beginilah wajahku. Keturunan dari ayahku," jelas Sehun.

Jongin mengangguk mengerti. "Jadi, apa kau tetap tak lapar dan ingin pergi ke kantin?"

"Kau sendiri tak ingin pergi ke kantin, eh?" Sehun balik bertanya.

Jongin tersenyum lebar. "Tidak. Ibuku terbiasa membawakan bekal untukku. Jadi aku bisa makan di kelas atau taman belakang sekolah," jelas Jongin.

Sehun tersenyum kecil. Jongin benar-benar beruntung, batinnya dalam hati.

"Hei, kalau kau ingin pergi ke kantin, aku akan mengantarmu," tawar Jongin. "Atau kau ingin makan bekal saja bersamaku?" Jongin memberikan alternatif lain.

Sehun tertawa. "Kau tak keberatan berbagi bekal denganku, eh?"

"Seharusnya, aku yang bertanya begitu, Bocah Kanada," goda Jongin.

Sehun mendengus. "Oh, ayolah, aku memiliki darah Asia. Jangan bersikap diskriminatif seperti itu padaku, Bocah Hitam."

"Mwo? Apa katamu? Bocah hitam?" Jongin melongo.

"Iya, kulitmu itu gelap―tidak cocok dengan warna kulit orang Asia." Sehun tertawa cekikikan.

"Yak, Sehun! Beraninya kau menghinaku!"

"Kau yang memulainya duluan."

"Awas saja. Aku tak akan mengajakmu berbicara atau membagi makanan denganmu."

"Dasar pelit."

"Biarkan saja."

"Hitam."

"Behenti mengataiku!"

"Kalau begitu, bagi makanannya denganku. Jebbal."

"Aish, baiklah!"

Bukankah itu pertengkaran yang manis?

.

"Aku sama sekali tak menyangka bahwa kau akan datang ke Seoul secepat ini." Seorang pria bermata musang itu menepuk punggu Yifan.

Yifan mengulum senyuman. "Ini adalah proyek besar. Aku sungguhtak sabar untuk segera mengerjakannya, Hyung," balas Yifan pada pria bermata musang itu―Jung Yunho.

"Kau masih saja workaholic seperti dulu, Wu Yifan," komentar Yunho sambil memperhatikan penampilan Yifan siang itu.

Yifan tersenyum kecil.

"Asal kau tahu, kau tetap membutuhkan waktu luang untuk dirimu sendiri dan keluargamu," jelas Yunho. "Oh ya, bagaimana kabar Sehun? Bukankah kau ikut mengajaknya pindah ke Seoul?"

"Ya, Hyung," balas Yifan cepat.

"Seingatku, Sehun seumuran dengan putraku," gumam Yunho.

Yifan mencoba mengingat-ingat. "Ya, sepertinya begitu, Hyung," balas Yifan. "Sepertinya, kedua anak kita bisa berteman, Hyung," imbuhnya.

"Oh ya, bagaimana jika kita makan-makan bersama untuk memperingati proyek kita ini?" usul Yunho. Ya, keduanya memang baru saja mengadakan rapat final mengenai proyek bersama diantara kedua perusahaan besar tersebut.

Yifan melirik arlojinya. "Ah, sepertinya, lain kali saja, Hyung," ucapnya. "Aku harus segera menemui Sehun," jelas Yifan.

"Oh, begitukah?"

Yifan nyengir. "Maaf, Hyung. Lain kali, aku janji, aku yang akan mentraktirmu," kata Yifan.

Yunho tertawa. "Baiklah, aku pegang janjimu, Wu Yifan."

Yifan tersenyum tipis. "Aku pergi dulu, Hyung. Sampai jumpa."

"Sampai jumpa."

.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi dan para murid bergegas keluar dari kelas mereka―termasuk Sehun dan Jongin. Keduanya berjalan berdampingan sepanjang koridor sekolah―membuat murid-murid lain terpesona melihat keduanya.

"Ssst, ssst." Jongin menyikut lengan Sehun pelan.

Sehun menoleh ke arah Jongin. "Apa?"

"Kau tahu, banyak sekali yang membicarakanmu hari ini," ungkap Jongin dengan berbisik.

"Oh, itu bagus. Tandanya aku populer," balas Sehun santai.

"Ish!" Jongin mulai kesal dengan Sehun. Awalnya, ia pikir, Sehun adalah pemuda yang tenang dan tidak banyak bicara. Tapi ternyata, ia sangat menjengkelkan dan memiliki tingkat percaya diri di atas rata-rata.

"Kenapa kau tampak kesal, Jongin? Kau takut jika popularitasmu tersaingi, eh?" tanya Sehun mengejek.

Jongin mengerucutkan bibirnya kesal. "Asal kau tahu, aku tak takut pada pemuda pucat sepertimu ck!" balas Jongin sengit.

Sehun tertawa kecil―matanya menyipit. "Baiklah, Bocah Hitam."

"Hei!" Jongin memekik kesal.

"Apa?"

"Kau menyebalkan. Sungguh."

"Kuanggap itu sebagai pujian." Sehun tersenyum tipis. Keduanya sudah tiba di lobi sekolah. Sehun mengedarkan pandangannya dan mencoba mencari-cari keberadaan Ayahnya―atau mobilnya.

"Kau sudah dijemput atau belum?" tanya Jongin dengan nada yang terdengar jengkel.

"Sepertinya belum. Kau?"

"Supirku biasanya menjemputku disana." Jongin menunjuk ke sisi kiri sekolah―Sehun tak tahu arah tepat yang ditunjuk Jongin. "Lebih baik, aku kesana saja."

"Oh, baiklah."

"Aku pergi, Sehun-ah! Sampai jumpa besok pagi!" Jongin tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya ke arah Sehun.

Sehun terkekeh. Dasar bocah, batinnya. Ia menarik nafas dalam-dalam sambil melirik jam tangannya. Ah, sepertinya ia harus menunggu beberapa menit lagi hingga ayahnya datang menjemputnya―semoga saja, ayahnya tidak datang terlalu lama.

Dan benar saja, 5 menit kemudian, Yifan muncul dengan mengemudikan mobil mewahnya―well, ini sedikit menjadi centre of attention. Yifan menurunkan kaca jendela mobilnya. "Hei."

Sehun langsung berjalan menuju mobil sang ayah. Sesungguhnya, ia masih kesal dengan ayahnya karena masalah tadi pagi, namun karena Jongin yang manis itu berhasil memperbaiki moodnya, sepertinya Sehun harus menunda acara mari-bersikap-dingin-pada-Ayah. Sehun membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalam mobil.

"Bagaimana harimu, eh?"

Sehun menoleh ke arah sang Ayah. "Bisakah kau menjalankan mobilnya dulu? Aku takut teman-temanku akan heboh," mohon Sehun.

Yifan mengernyit bingung.

Sehun menunjukkan tatapan memelasnya. "Jebbal."

"Ah, baiklah, baiklah, boy." Yifan pun menjalankan mobilnya kembali―keluar dari sekolah Sehun.

Sehun mendesah lega. Ia menyandarkan punggungnya pada jok.

"Sepertinya, ada yang sudah mulai memaafkanku," komentar Yifan diikuti siulan pelan.

Sehun merasa disindir. "Kau ingin aku tidak memaafkanmu selamanya?" tanyanya kesal sambil memicingkan mata.

Yifan tertawa, lalu menoleh sekilas ke arah Sehun. "Putraku sensitif sekali." Yifan mengacak pelan rambut Sehun.

Sehun mendengus, lalu menyilangkan tangan di depan dadanya. "Berterima kasihlah pada teman baruku," balas Sehun yang membuang muka ke arah jalanan yang tak cukup ramai.

"Eh? Kenapa?"

"Dia mengubah moodku hari ini. Aku pun tidak tega marah padamu," jelas Sehun.

Yifan terkejut. "Alasan macam apa itu? Kau sedang jatuh cinta, ya?" goda Yifan.

Sehun menoleh cepat ke arah Yifan. "Sebenarnya, apa maumu, Pak Tua? Kenapa selalu saja menggodaku, eh?" Suara Sehun meninggi.

Namun Yifan tidak berbalik marah, karena ia tahu bahwa Sehun hanya sedikit jengkel padanya. Yifan justru terkekeh. "Baiklah, jadi jelaskanlah padaku tentang temanku itu," pinta Yifan lembut.

Sehun kembali melempar tatapan ke arah jalanan. "Dia anak yang baik. Saat murid lainnya tak berani mengajakku bicara dan hanya membicarakanku di belakang, anak ini justru mengajakku berkenalan, menemaniku sepanjang jam istirahat dan berbagai makanan denganku," jelas Sehun sambil membayangkan sosok Jongin yang begitu baik dan ramah padanya.

Yifan tertegun. "Temanmu baik sekali."

"Yes, he is," balas Sehun. "Dan kau harus sangat berterima kasih padanya," lanjutnya kembali menegaskan.

Yifan tersenyum kecil. "Ya, kurasa aku bisa mentraktirnya segelas bubble tea."

Sehun mendelik kesal. "Dan tidak membelikannya untukku, eh?" Bagaimana bisa, ayahnya justru membelikan bubble tea untuk temannya, sementara tidak untuknya―padahal itu adalah minuman favoritnya.

"Ayah bercanda, Hun-ah."

Sehun mengerucutkan bibirnya. "Belikan aku bubble tea dulu, baru aku maafkan sepenuhnya."

"Hei, hei, kau sudah berjanji untuk memaafkanku," protes Yifan.

"Kapan? Aku lupa?" Sehun berucap dengan nada yang menjengkelkan.

Yifan mendengus. "Baiklah, baiklah. Segelas bubble tea untuk Tuan Muda Sehun."

"Nah begitu!"

TBC

Really sorry for the late update *bow* Padahal saya sudah janji buat langsung publish ffnya kalo udah mencapai review 30 ya? Maaf, maaf *deep bow* Saya mendadak mendapat serangan writer block. Ugh, it really sucks -_- Sebenernya, saya greget pingin nulis, tapi pas duduk di depan laptop langsung blank. Nulis kerangkanya aja terasa susah :'3

Tapi untungnya, mood saya lagi sangat baik. Kalian tahu? Kris mau main film yuhuu. Sayangnya, baru tayang Valentine tahun depan. But it's okay. Seenggaknya, karirnya udah jelas. Dia emang benar-benar pingin jadi aktor sih :') Sayangnya, SMEnt ngelarang dia. Dan ada kabar kalo tanggal 8 Juli nanti bakal ada mediasi dari kedua pihak. Yah, apapun keputusannya, semoga itu menjadi yang terbaik bagi kedua pihak. Amin.

Di chapter ini, belum ada adegan-adegan dewasanya. Biarkan saya menjelaskan satu per satu untuk latar belakang ceritanya. I guess, it will be a long chaptered story kkk~ So, please be patient :3 Untuk pairing akhirnya, saya kasih tahu dari sekarang gak, ya? Hehe. Intinya sih, dari keempat main characternya, gak akan ada yang menjomblo dan menggalau (seperti saya *plak*). Jadi bisakah kalian nebak pairing akhirnya? Wkwk

Okay, cukup sekian cuap-cuapnya. Berhubung di teaser kemarin udah mencapai 40 reviews, bolehkah saya minta 50 reviews buat chapter ini? Jadi, total 90 reviews. Saya janji bakal update sesegera mungkin hoho.

so, mind to leave your review?

with love,

rappicasso