Kris Wu | Oh Sehun | Kim Jongin | Park Chanyeol | Xi Luhan

rappicasso

presents

an alternate universe fanfiction

Like Father, Like Son

:: chapter 2 ::

WARNING:

BoysLove, Incest, Mature Content, Dirty Talks, Explicit Language

Note:

I'm really sorry for the late update. Thanks for readers, reviewers, followers, and favoriters.

I love you, guys! This is for you~

"Hm enak." Sehun memejamkan matanya sambil menyesap bubble tea miliknya dengan nikmat. Sudah sekitar seminggu, ia sama sekali belum menikmati minuman favoritnya yang satu ini. Wajar saja, jika saat meminumnya, ia terlihat begitu menikmatinya―atau bahkan terkesan memujanya?

Yifan yang duduk di hadapan Sehun hanya mengulum senyum sambil menahan tawa. Dibalik semua sikapnya yang kekanakan, bandel, dan menyusahkan, sesungguhnya putranya tak lebih dari anak remaja biasa lainnya―bahkan Sehun lebih spesial dari anak remaja lainnya. Anak itu memang menyebalkan dan berjiwa iblis, namun pada saat yang sama, Sehun memiliki wajah yang mendamaikan hati bagai malaikat. Lihat saja, Yifan langsung merasa tenang dan bahagia saat melihat wajah putranya yang terlihat bergita damai.

"Hei, Pak Tua. Kenapa kau memandangiku seperti itu, eh?" tegur Sehun dengan wajah datarnya―yah, biasalah, his poker face.

Yifan agak terkejut dan tersadar dari lamunannya. Namun, setelah teringat dengan panggilan 'Pak Tua' yang ditujukan Sehun padanya itu, Yifan mendengus pelan. 'Astaga, baru saja, aku memuji-mujinya seperti malaikat,' batin Yifan dalam hati. "Apa tak boleh seorang ayah memandangi putranya?" Yifan balik bertanya―sama-sama memasang wajah datar.

Sehun memalingkan wajahnya ke arah jalanan di samping kanannya, lalu kembali menyesap bubble teanya dengan nikmat. "Hm bubble tea ini sangat nikmat," gumamnya lagi.

"Astaga, kau mengalihkan pembicaraan, Wu Sehun!" Yifan geram pada anaknya.

Sehun hanya tertawa canggung dan kembali menatap Yifan dengan cengiran yang terpatri di wajah tampannya. "Ya, ya, kau menang, Ayah," balas Sehun pasrah.

Yifan terkekeh dan mengacak rambut Sehun dengan gemas. Astaga, Yifan pasti sangat beruntung karena Tuhan telah menitipkan malaikat ini padanya.

"Ewh. Apa yang kau lakukan, Ayah?" Sehun menggerutu sebal sambil merapikan rambutnya.

Qian mungkin memang telah pergi untuk selamanya, namun Tuhan telah menitipkan separuh jiwa Qian pada tubuh putra tunggalnya ini. Yifan sadar bahwa Sehun yang terlihat seperti malaikat itu begitu mirip dengan Qian, sementara Sehun yang terlihat seperti iblis adalah potret dirinya sendiri. Yifan ingat bahwa masa mudanya pun mirip dengan Sehun. Ia adalah remaja yang bandel dan sulit diatur. Untung saja, ia menikah dengan Qian―wanita berhati malaikat itu. Jika bukan karena kasih sayang Qian, mungkin Sehun tidak akan tumbuh sebaik ini.

Yifan terdiam kembali memandangi wajah putranya yang juga terdiam sambil melihat sekeliling. Ia tak tahu, bagaimana ia bisa tetap mendidik Sehun agar pemuda itu tumbuh menjadi sosok yang lebih baik lagi―seperti apa yang Qian lakukan dulu. Sepertinya, Tuhan sengaja mengambil nyawa Qian terlebih dahulu agar sepasang ayah-anak itu bisa lebih akrab dan Yifan bisa menjadi ayah yang baik bagi Sehun.

Yifan tersenyum tipis.

Apakah kelak ia berhasil mendidik Sehun?

"Kau yakin ingin memasak sesuatu, Hun-ah?" tanya Yifan sambil menjinjing tas belanjaan di tangan kanannya, sementara kedua kaki jenjangnya menyusuri rak-rak di supemarket tersebut, mengikuti langkah putranya yang sibuk memilih-milih.

Sehun tidak menjawab dan hanya memberi sebuah anggukan mantap atas pertanyaan sang ayah. Bahkan remaja berusia 15 tahun itu tidak menoleh sedikitpun ke arah Yifan, karena terlalu sibuk memperhatikan bahan-bahan makanan yang berjejer rapi di rak.

Yifan hanya mampu menghela nafas pendek ketika melihat tekad bulat seorang Wu Sehun. Sepulang dari kedai bubble tea, Sehun merengek ingin pergi ke supermarket agar keduanya bisa membeli bahan makanan untuk dimasak nanti malam. Yifan sudah bilang bahwa ia berniat mengajak Sehun makan di restoran―atau opsi lainnya jika Sehun tak ingin makan di luar, keduanya bisa memesan makanan dan makan bersama di rumah. Namun Sehun tetap kekeuh pada pendiriannya dan mengatakan ingin memasak.

Me-ma-sak.

Pemuda berusia 15 tahun itu ingin memasak!

Tentu saja, Yifan sempat panik bukan main, karena ia tak pernah melihat Sehun memasak―apalagi mencicipi racikan makanan pemuda itu. Ia juga tak bisa membayangkan Sehun memasak di dapur, bahkan membiarkan dapurnya terbakar atau rusak karena ulah nekad putranya. Tapi yah, mau bagaimana lagi? Keinginan Sehun sulit untuk diganggu gugat. Lagipula, tidak seharusnya ia merusak mood Sehun yang sangat baik hari―apalagi keduanya sudah tidak lagi bertengkar.

Mungkin, akan lebih baik jika Yifan mengalah kali ini.

"Ayah?" panggil Sehun pada Yifan.

Yifan segera tersadar dari lamunannya. "Y-ya?"

"Bisakah kau membeli minuman untuk kita nanti malam? Please?" Sehun memohon sambil menunjukkan tatapan puppy eyesnya.

Yifan mendengus pelan dan hanya bisa menjawab, "Baiklah, baiklah."

"Baiklah. Makan malam sudah siap." Sehun tersenyum puas, lalu mengeringkan tangannya yang basah dengan tisu. Ia melepas apron berwarna biru tua yang melekat di tubuhnya dan memutuskan untuk duduk bergabung dengan sang Ayah di meja makan.

Yifan memandang takjub ke arah dua piring yang berisi penuh dengan spaghetti yang terlihat lezat dan siap disantap―satu piring di sisi Yifan dan satu piring di sisi Sehun. Akhirnya, dengan pengawasan penuh darinya, Sehun pun mulai memasak dan berhasil menyelesaikan masakannya―tanpa ada keributan, kerusakan, apalagi kebakaran sedikitpun.

"Kenapa hanya dilihat saja?" Sehun memandang heran ke ayahnya. Tangan kanannya sudah memegang sebuah sendok dan sepertinya siap untuk menyantap spaghetti buatannya, namun mendadak terhenti sejenak karena memperhatikan sang Ayah yang masih asyik melamun.

"E-eh?"

"Kau pasti berpikir masakan ini enak atau tidak. Ya, kan?" Sehun menebak-nebak sambil memasang pose berpikir. "Atau kau berpikir bahwa aku menaruh racun di makanan ini? Makanya kau tidak segera memakannya!" tuduh Sehun asal.

Yifan gelagapan. "B-bukan begitu, Hun-ah!" pekik Yifan. "K-kau―kau salah paham, Sehun."

"Hei, Pak Tua. Asal kau tahu saja ya. Aku ini masih punya hati padamu. Tidak mungkin, aku membunuh Ayahku sendiri," ucap Sehun ketus. Ia benar-benar jengkel pada Ayahnya.

Yifan tertegun mendengarnya.

Tangan Sehun dengan kasar mengarah pada piring, menyendok makanan dan menyuapkan makanan ke mulutnya. "Kau lihat? Aku sudah makan dan kupastikan tak ada satu pun dari kita yang keracunan!" tegas Sehun masih dengan mulut yang penuh spaghetti dan wajah yang suram karena jengkel.

Yifan tersenyum tipis. "Aku percaya padamu," ucapnya pelan dan mulai memakan spaghetti buatan Sehun. Ia memejamkan matanya saat spaghetti itu menyentuh indra perasanya―menikmati setiap cita rasa yang tercipta saat lidahnya mengecap spaghetti tersebut. "Aku hanya heran." Yifan bergumam cukup pelan secara tak sadar. Matanya masih terpejam.

Sehun menghentikan suapannya dan menatap lekat-lekat pada Ayahnya. Ia yakin bahwa Ayahnya baru saja mengatakan sesuatu, meski suaranya terdengar sangat pelan atau justru hanya sekedar bergumam. Sehun memperhatikan Ayahnya yang sedang memejamkan matanya―terlihat begitu menikmati makanannya. Refleks, kedua sudut bibir Sehun tertarik ke atas―menciptakan lengkungan indah yang terpasang di wajah malaikat Sehun. Ia meletakkan sendoknya di atas piring secara perlahan―agar tidak menciptakan suara dan tidak mengganggu Ayahnya. Tangannya bertumpu pada pinggiran meja makan dan mulai menyangga dagunya sendiri. Entah kenapa, tiba-tiba saja, ia begitu menikmati memandangi wajah sang Ayah.

Jika boleh jujur, Sehun sangat bangga memiliki Ayah seperti Yifan. Yah, meskipun ada beberapa hal yang membuatnya jengkel dan sering bersikap kasar dan buruk pada Ayahnya, namun jauh di dalam hati kecilnya ia merasa bangga dan sangat menyayangi sang Ayah. Pria itu adalah sosok pria pekerja keras―dan itulah salah satu cara yang ditunjukkan bahwa ia sangat menyayangi keluarganya. Yifan berjuang untuk mencari nafkah demi istri dan anaknya. Itulah yang membuat Sehun bangga. Belum lagi, semenjak kepergian ibunya, sang Ayah matu-matian menjalani peran ganda untuknya―menjadi Ayah dengan bekerja seperti biasa dan menjadi Ibu dengan mengurus berbagai keperluan rumah tangga dan mengurus putra tunggalnya ini. Namun pria itu tetap terlihat tidak keberatan atau kelelahan dengan semua ini. Lihatlah wajahnya yang terlihat begitu tenang―seolah-olah ia begitu menikmati hidupnya. Kadang, Sehun menyesal karena sudah bersikap kasar pada Ayahnya―tapi yah, mau bagaimana lagi? Emosinya sulit dikontrol, apalagi jika ia teringat Ayah tidak terlalu memperhatikannya dan Ibunya dulu.

'Hm, jika dilihat-lihat, wajahku lebih mirip dengan Ayah,' batin Sehun dalam hati. Kulit wajah mereka sama-sama pucat dan memiliki garis-garis yang tegas. Banyak orang yang mengatakan bahwa Ayahnya terlihat seperti Ken yang hidup atau perwujudan karakter manga di komik Jepang. Ayahnya juga terkenal memiliki wajah yang dingin―begitu pula dengan dirinya. Wajar saja, jika keduanya sama-sama agak sulit mendapat teman, karena wajah dingin yang dianugerahkan Tuhan pada keduanya.

Yifan masih asyik mengunyah―sepertinya ia tak rela menelan spaghettinya dan kehilangan rasa enak dari masakan tersebut. Namun, pada akhirnya, pria bertubuh jangkung di atas rata-rata itu pun membiarkan makanan tersebut melewati kerongkongannya. "Aku heran, dari mana kau belajar memasak?" Yifan kembali membuka matanya dan melihat Sehun yang juga menatap ke arahnya.

Sehun berjingkat kaget karena tiba-tiba saja, Ayahnya membuka matanya―ia seperti seorang anak laki-laki yang tertangkap basah sedang memandangi gadis yang disukainya. "E-eh, itu―"

"Kau―melamun?" Alis Yifan saling bertautan. Matanya menatap lekat ke arah putra tunggalnya.

Sehun hanya cengengesan dan kembali menyuapkan sesendok spaghetti ke mulutnya. "Ayah terlihat sangat menikmati makanannya, aku mendadak kenyang begitu saja," jawab Sehun asal.

Yifan mendesah nafas kecil. "Kau belum menjawab pertanyaan yang tadi."

"Yang mana?"

Yifan mendengus. "Dari mana kau belajar memasak?" tanya Yifan sekali lagi. "Dan ngomong-ngomong―" Yifan menyendok spaghetti di piringnya. "―ini enak. Terima kasih, Sehun-ah." Yifan tersenyum lembut ke arah Sehun.

Sehun terkekeh pelan. "Tentu saja, aku belajar dari Ibu," jawab Sehun jujur. Sejak muda, ia memang lebih dekat dengan sang Ibu, jadi wajar saja jika ia banyak belajar dengan Ibunya yang kebetulan sangat pandai memasak. Sehun mengaduk-aduk spaghetti di piringnya. "Sebenarnya, aku ingin sekali seperti temanku yang lainnya―memancing, bermain basket, atau bermain golf," gumam Sehun pelan dengan kepala tertunduk.

Yifan mendengarkan dengan seksama.

"Dengan Ayah."

Yifan tertegun.

Sehun mengangkat wajahnya dan mengukir cengiran. "Ayo makan lagi, Yah," ajaknya dan kembali memakan spaghettinya dengan lahap.

Sementara itu, Yifan masih merenungi ucapan anaknya.

"Kau terlihat sangat cerah hari ini." Luhan memandangi penampilan Yifan dari ujung kepala hingga ujung sepatunya yang mengkilap―namun yang menjadi fokus utamanya adalah wajah Yifan yang terlihat begitu sumringah.

Yifan hanya terkekeh pelan, lalu duduk di atas sofa empuk di dalam ruang kerjanya. Ia menyilangkan kedua tangannya dan mulai memejamkan matanya. "Aku berbaikan dengan Sehun," jawabnya senang.

"Oh?" Luhan terkejut. Setahu dirinya, Sehun adalah anak yang sulit untuk dibujuk―apalagi oleh Ayahnya sendiri. "Bagaimana caranya? Kau menyogoknya dengan apa?" Luhan langsung menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Yifan sambil memandang lekat ke arah sahabat sekaligus rekan kerjanya yang masih memejamkan matanya itu.

Yifan kembali terkekeh. Kali ini, matanya sudah terbuka dan ia menegakkan tubuhnya. "Entahlah. Sepulang sekolah kemarin, ia bilang bahwa moodnya sedang sangat baik, karena teman barunya yang ramah padanya," jelas Yifan. "Ah, aku bersumpah, jika aku bertemu dengan anak itu, aku akan membawakannya hadiah, karena membuat Sehun tidak marah lagi padaku," gumam Yifan.

Luhan tertawa. "Semudah itukah?" tanyanya tak percaya.

Yifan mendengus. "Tidak juga. Ia memintaku mentraktirnya bubble tea, lalu ia juga memaksaku menemaninya ke supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan. Dan malam harinya, aku melihat ia memasak spaghetti untuk kami berdua," jelasnya panjang lebar.

Luhan melongo. "Sehun―memasak? Sehun―putramu, kan?" Lagi-lagi, Luhan dibuat tak percaya.

Yifan tersenyum puas sambil menganggukkan kepalanya. "Kau tak percaya? Aku juga." Dan pria itu tertawa keras.

"Bagaimana bisa?" Luhan menggumam tak percaya.

"Ternyata, Qian pernah mengajarkan cara memasak pada Sehun," jawab Yifan dengan kepala menengadah―membayangkan sosok Qian yang sedang memperhatikannya dari atas surga.

"Begitukah?"

"Dan semalam, Sehun mengutarakan keinginannya padaku." Yifan memejamkan matanya sejenak. "Dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganku, seperti yang dilakukan teman-temannya dengan ayah mereka."

"Kalau begitu, lakukanlah, Wu Yifan," balas Luhan.

Yifan menoleh ke arah Luhan. "Apakah kau bisa?"

Luhan tersenyum tipis. "Masalahnya bukanlah apakah kau bisa atau tidak. Masalahnya adalah―" Luhan menarik nafas. "―apakah kau mau atau tidak."

Yifan terdiam.

"Aku kembali dulu ke ruang kerjaku. Semoga harimu menyenangkan, Wu Yifan." Luhan mengulum senyuman, sebelum benar-benar melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Yifan.

"Jadi, dia adalah si anak baru itu?"

Sehun mendengus pelan. Tatapannya memandang remeh ke arah sekumpulan anak laki-laki bertubuh tinggi dengan seragam basket yang melekat di tubuh mereka. Sejujurnya, ia kurang suka dengan kebanyakan pemain basket di sekolah―bahkan di sekolahnya saat di Vancouver―karena kebanyakan dari mereka selalu berusaha terlihat keren di kalangan murid-murid―sementara itu, sama sekali bukan gaya seorang Wu Sehun. Sehun lebih memilih menjadi murid biasa-biasa saja yang bisa bergaul dengan siapapun. Namun, berhubung basket adalah satu-satunya bakat yang ia miliki―well, bakat ini diturunkan oleh sang Ayah yang merupakan mantan kapten tim basket semasa sekolah dan kuliah―maka ia terpaksa memilih basket untuk ekstrakurikuler sekolahnya.

"Hei, kemarilah!" Seorang anak laki-laki dengan wajah tampan, namun tidak terlalu tinggi itu memanggil Sehun.

Sehun melangkah santai ke arah kerumunan anak basket tersebut. Ia kembali memasang poker facenya seperti biasa. Ia bertekad untuk tetap cuek dengan apapun yang akan terjadi padanya nanti. "Annyeong, Sunbae." Sehun membungkukkan badannya hormat pada kerumunan anggota ekstrakurikuler basket tersebut.

"Siapa namamu?" Seorang pemuda bertubuh tinggi dengan rambut berwarna merah mencolok itu bertanya.

"Aku―"

"Namanya Song Sehun. Murid kelas 1-3." Sebelum Sehun sempat memperkenalkan dirinya sendiri, pemuda yang sempat memanggilnya tadi sudah terlebih dahulu menjawab pertanyaan si pemuda berambut merah.

Sehun menatap ke arah pemuda yang memotong ucapannya itu dengan wajah datar.

Sementara pemuda itu melemparkan senyuman mengejek pada Sehun.

Demi jutaan ikan di laut Pasifik, jika ia tak sedang berhadapan dengan para kakak kelas, mungkin ia sudah melayangkan pukulannya pada wajah pria sok tampan ini. Padahal ia saja tak lebih tinggi dari Sehun. Cih!

"Ah ya Sehun, kau ingin bergabung dengan klub kami?" Pria berambut merah itu kembali bersuara.

"Ya, Sunbae," jawab Sehun mantap.

"Kau harus melewati tes kami." Pemuda berambut merah itu menyeringai.

Sehun tersenyum kecil. "Tentu saja, aku akan menjalani tes yang kalian berikan." Sekali lagi, ia melirik ke arah pemuda menyebalkan yang berdiri di sampingnya. Kali ini, ia yang melemparkan senyuman meremehkan pada pemuda itu. "Jadi, apa tes yang akan diberikan untukku, Sunbae?"

Pemuda berambut merah itu memperhatikan Sehun dan temannya yang berdiri di samping Sehun itu secara bergantian. "Bertandinglah satu lawan satu dengan dia―" Pemuda itu menunjuk ke arah pemuda di samping Sehun.

"MWO?! Aku?" Pemuda itu memekik kaget. "Tapi, Chanyeol, kau―"

"Daehyun, berikan ujian pada anak baru ini." Sepertinya, titah pemuda berambut merah yang bernama Chanyeol itu tak dapat dibantah.

Sehun berusaha menahan tawanya dan mempertahankan wajah datarnya. "Mari, Sunbae." Sehun tersenyum licik ke arah kakak kelasnya yang menyebalkan itu.

Let's play the game.

"Whoa! Kau hebat, Sehun!" Jongin berteriak histeris saat melihat teman barunya yang sedang unjuk kebolehan di lapangan basket sambil mengalahkan permainan basket kakak kelasnya―Jung Daehyun, yang terkenal sombong itu. Yah, sepertinya kesombongan Daehyun bisa sedikit menurun jika ia mendapat pelajaran dari Sehun.

Bukan hanya Jongin yang bersorak sorai dan mendukung Sehun karena kelihaiannya bermain basket, tapi juga beberapa anggota klub cheerleader dan anggota klub basket.

Jongin baru saja menyelesaikan latihan dancenya di klub tari dan bergegas melesat ke lapangan basket―siapa tahu, Sehun masih di lapangan basket. Dan ternyata benar. Pemuda itu sedang asyik bertanding satu lawan satu dengan Daehyun.

Sehun benar-benar menunjukkan keahliannya dalam bermain bola basket―bakat yang diturunkan sang Ayah dan pengalaman bermain basketnya selama di Vancouver diterapkannya dalam permainan basketnya kali ini untuk mengalahkan sang kakak kelas bernama Daehyun itu. Sehun benar-benar sangat lihai menggiring bola. Ia juga berhasil mengecoh Daehyun beberapa kali, sehingga pemuda itu terlihat kesulitan merebut bola dari tangan Sehun. Dan pada akhirnya, Sehun memberikan penyelesaian akhir yang manis―sebuah shooting yang masuk tepat ke dalam ring basket.

Seluruh penonton bertepuk tangan.

"Cukup sudah, Sehun!" Chanyeol berteriak dari tepi lapangan. Ia bertepuk tangan, kemudian berjalan mendekati Sehun.

Sehun mengelap keringat yang mengalir di dahinya dengan punggung tangannya sendiri, lalu berjalan ke arah Chanyeol. "Jadi, bagaimana, Sunbae?"

Chanyeol tersenyum samar, lalu berkata, "Selamat datang di klub basket kami, Song Sehun."

Dan Sehun tersenyum puas.

"Kau benar-benar hebat, Sehun! Aku bangga menjadi sahabatmu! Yeah!" Jongin masih asyik berceloteh sepanjang perjalanan menuju lobi sekolah mereka.

Sehun hanya tertawa kecil di sampingnya, mendengar sahabat barunya itu yang masih begitu takjub akan keahliannya.

"Kau pasti pemain basket sejak di Kanada, ya? Atau kau punya keluarga seorang pemain basket? Saudara atau ayahmu, mungkin?" cerocos Jongin antusias.

Sehun membenahi letak ranselnya dan memandang menerawang. "Yah, begitulah. Ayahku pernah bermain basket saat sekolah dulu. Jadi, yah―kau bisa lihat sendiri," jelas Sehun agak malu-malu.

Jongin bertepuk tangan heboh. "Pasti Ayahmu terlihat sangat keren," ucap Jongin kagum.

"Yah, begitulah dia." Sehun pun merasa kagum dengan Ayahnya sendiri.

"Kapan-kapan, aku harus bertemu dengan Ayahmu, Sehun-ah," ujar Jongin dengan penuh semangat.

Sehun tertawa dan mendadak teringat akan perbincangannya dengan Ayahnya. "Ah ya, lagipula, ayahku juga sangat ingin bertemu denganmu," celetuknya.

"Oh, ya? Kenapa?"

Sehun tersenyum misterius. "Rahasia."

"Ish, Sehun! Kau tak asik!" Jongin memukul punggung Sehun pelan. Wajahnya langsung berubah muram dan bibirnya maju beberapa senti meter.

Sehun berpura-pura mengaduh kesakitan, namun ia tetap tertawa karena melihat tingkah Jongin yang ternyata begitu kekanakan. "Sudahlah. Kau pulang saja sana. Supirmu pasti sudah menunggu." Sehun mendorong-dorong tubuh Jongin.

"Baiklah, baiklah." Jongin masih setia dengan bibirnya yang mengerucut sebal. "Aku pulang dulu, Sehun-ah. Bye!" Jongin melambaikan tangannya, lalu berlari kecil ke arah supirnya.

Sehun mendesah kecil, lalu menggelengkan kepalanya. Temannya itu benar-benar sangat lucu dan menggemaskan. Wajar saja, jika Sehun merasa sangat betah bersamanya. Pasalnya, dari sekian banyak murid di kelasnya, hanya Jongin-lah yang bersikap begitu apa adanya padanya. Dan Sehun sangat menerima hal itu.

"Sehun!"

Tak lama, ternyata sang Ayah sudah datang menjemput.

"Oh. Hai, Ayah!" Sehun segera berlari menuju mobil Ayahnya. Ia membuka pintu dengan wajahnya yang masih terlihat begitu bahagia―pertama karena tes basket dan kedua karena Jongin.

"Kau terlihat begitu senang. Apakah terjadi sesuatu?" tegur Yifan yang terlihat penasaran.

Sehun menoleh ke arah Yifan. "Aku akan menceritakan banyak hal. Tapi, jalankan mobilnya dulu, please?"

"Baiklah, Tuan Muda."

"Jadi, begitulah ceritanya." Sehun sudah selesai bercerita panjang lebar tentang kisahnya sepanjang di sekolah tadi. Ia benar-benar merasa senang karena bisa berbagi kisah dengan sang Ayah.

Sementara itu, Yifan mengulum senyum setelah mendenger cerita anaknya. Ia benar-benar bersyukur karena Sehun berhasil masuk ke klub basket dan ada seorang teman yang selalu mendukung dan menemaninya. "Oh ya, ngomong-ngomong, siapa nama temanmu tadi?" tanya Yifan. Samar-samar, ia lupa dengan nama teman Sehun.

"Jongin, Ayah. Namanya Kim Jongin," tegas Sehun. Ia jengkel dengan Ayahnya yang mulai kedengaran seperti seorang kakek-kakek dengan daya ingat yang semakin menurun.

Yifan tergelak. "Ah, aku baru ingat!" Ia kembali tertawa.

Sehun mendengus melihat Ayahnya yang mulai bersikap bodoh―menurutnya.

"Oh ya, Ayah berencana untuk mengajakmu ke suatu tempat besok. Bagaimana menurutmu?" celetuk Yifan. Setelah perbincangannya dengan Luhan di kantor tadi, Yifan pun berinisiatif untuk melakukan keinginan Sehun selama ini.

Sehun terkesiap. "Oh? Kau mau mengajakku kemana?" tanya Sehun penasaran.

Yifan hanya tersenyum misterius, kemudian kembali terfokus pada jalanan. "Rahasia," bisiknya pelan. "Dan ajaklah temanmu itu untuk ikut serta," imbuhnya.

"Eh? Siapa? Jongin?"

Yifan tertawa. "Tentu saja. Ayah ingin berterima kasih padanya."

Sehun terkekeh. "Baiklah. Dengan senang hati, Ayah."

"Jadi, kau akan pulang cepat untuk mengajak Sehun bermain basket?" tanya Luhan sambil membaca brosur di tangannya. Itu adalah brosur tentang sebuah lapangan basket yang baru saja dibuka di pusat kota.

"Yah, begitulah." Yifan masih terfokus pada layar MacBooknya, sementara jemarinya menari dengan lincah diatas keyboard. "Kemarin aku mendapat brosur itu dari teman lamaku di kampus. Dia tahu, kalau aku pernah bermain basket, jadi dia menawariku datang kesana," imbuhnya. "Lagipula, Sehun juga akan sangat menyukainya. Ia baru saja masuk ke klub basket sekolah kemarin." Yifan sudah memalingkan pandangannya dari MacBook.

Luhan mendengus, lalu duduk di depan Yifan. "Tak perlu diragukan lagi, Bodoh. Sehun adalah putramu, jadi wajar saja jika ia pandai bermain basket," gerutunya.

Yifan hanya terkekeh. "Dan oh ya, aku juga akan mengajak teman Sehun kesana."

"Teman Sehun?" Luhan mengernyit. "Maksudmu, seluruh teman seanggota klubnya?"

Yifan berdecak pelan. "Bukan. Tapi teman Sehun yang kuceritakan padamu kemarin," jelas Yifan.

"Yang mana? Aku lupa."

"Yang mengembalikan mood Sehun menjadi lebih baik," jawab Yifan. "Aku benar-benar harus berterima kasih pada anak itu. Dan mungkin, aku bisa meminta bantuannya untuk mengawasi dan menjaga Sehun di sekolah."

"Eh, tunggu."

"Apa?" Yifan menautkan kedua alisnya.

"Kenapa―aku berpikir, seolah-olah Sehun sedang mengenalkan kekasihnya padamu, ya?" Luhan menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"EH?!" Yifan memekik kaget. "Hei! Asal kau tahu, teman Sehun ini adalah seorang pria."

"Lalu, apa masalahnya, Wu Yifan?" balas Luhan tajam. "Dunia sudah maju. Saat ini, orang-orang jatuh cinta, tanpa mempermasalahkan gender."

"Kau berpikir, putraku memiliki orientasi seksual yang menyimpang? Begitu?" Yifan mulai geram.

Luhan mendesis. "Astaga, bukan begitu maksudku," geramnya. "Maksudku begini, mungkin saja, Sehun tertarik pada temannya itu. Ia senang berada di sampingnya. Sehun bisa merasakan kenyamanan," jelas Luhan. "Ini tentang perasaan, Wu Yifan. Aku tahu, kau adalah pria yang kesepian, tapi kumohon, jangan berpikir ke arah seks."

BLETAK!

Yifan langsung memukul kepala Luhan dengan telak.

"Yak! Kenapa kau memukulku?!" Luhan naik pitam.

"Kau bilang, aku ini apa? Pria yang kesepian?" Yifan menggeram marah.

Luhan menarik nafas dalam-dalam. "Dengar ya, Tuan Wu Yang Terhormat. Aku sama sekali tidak menyinggungmu, karena aku berbicara fakta. Kau sendirian sekarang, istrimu sudah meninggal. Jadi, fakta bahwa kau memang sedang kesepian selama ini tidak dapat terelakkan," ungkap Luhan. "Sekarang, aku tanya padamu, bagaimana caranya kau menuntaskan hasrat seksualmu setelah kepergian istrimu, eh?"

BANG!

Yifan tak berkutik. Ia hanya mematung di tempatnya.

"Ayo jawab!"

"A-aku―"

"Satu-satunya kata yang bisa menyimpulkan keadaanmu saat ini adalah ke-se-pi-an." Luhan mempertegas setiap suku kata pada kata kesepian yang ia ucapkan baru saja.

"T-ta―"

"Dan jangan mengelak!" Luhan kembali memotong ucapan Yifan sambil melempar tatapan tajam. Luhan memijat pelipisnya sendiri. "Kenapa pembicaraan kita bisa sejauh ini, sih?" gumamnya pelan.

"Ha?" Yifan mendengar suara Luhan samar-samar.

"Tidak ada apa-apa," balas Luhan ketus. "Okay, aku tahu, pembicaraan kita melenceng terlalu jauh. Tapi, ada beberapa hal yang harus kupertegas padamu. Ingat. Aku mengatakan hal ini sebagai seorang sahabat yang baik."

Yifan mengangguk patuh, sebelum pria bermata rusa itu mengamuk lagi.

Luhan menarik nafas dalam-dalam dan membuang nafasnya perlahan. "Kau adalah orang tua. Aku bisa mengakui bahwa kau sangat baik sebagai orang tua. Kau bekerja keras untuk mendapat uang dan menghidupi putramu. Kau juga berusaha keras untuk mendidiknya dan mengurus berbagai kebutuhan kalian," ucap Luhan. "Tapi Yifan, ingatlah bahwa kau adalah manusia biasa. Kau adalah pria yang juga memiliki kebutuhan." Suara Luhan melembut.

Yifan membisu. Sepertinya, ia tahu arah pembicaraan ini.

"Aku tahu, tidak seharusnya, aku berbicara sejauh ini dan menyinggung area pribadimu, tapi yah―"

Yifan masih terdiam dan tidak menunjukkan tanda-tanda protes.

Maka, Luhan pun memutuskan untuk melanjutkan. "Kau membutuhkan seorang pendamping, Yifan."

"Tapi, itu bukan prioritas―"

"Jika kau tak bisa melakukannya untuk dirimu sendiri, setidaknya pikirkanlah Sehun. Sehun masih belia dan ia masih membutuhkan figur seorang ibu," tegas Luhan.

Yifan mengiyakan ucapan Luhan dalam hati.

"Cobalah untuk berkencan, Wu," timpal Luhan.

Yifan masih terdiam di kursinya. Kepalanya tertunduk.

'Ini bukan masalah mau atau tidak mau. Masalahnya adalah karena sepertinya―'

'―aku tidak bisa.'

Yifan sudah berada di sekolah Sehun sejak 10 menit sebelum bel berbunyi. Ia sudah berjanji untuk pulang lebih awal, sehingga ia bisa menikmati waktu yang lebih lama bersama dengan Sehun dan temannya yang bernama Jongin itu.

Yifan sudah turun dari mobilnya dan menunggu di lobi sekolah.

Bel sudah berbunyi dan murid-murid sudah berhamburan keluar.

Yifan mengirimkan pesan teks pada Sehun.

To: Sehun

Ayah menunggumu di lobi. Jangan lupa mengajak Jongin.

Dan benar saja, hanya berselang 3 menit setelah pesan teks itu dikirim, Sehun muncul dengan didampingi seorang pemuda manis yang berjalan di sampingnya.

"Hei!" Yifan melambaikan tangannya pada putranya―pada awalnya, ia tak melihat ke arah pemuda di samping Sehun.

Sehun membalas lambaian ayahnya. "Ayah!" Ia langsung berlari cepat ke arah sang Ayah. "Kupikir, ayah telat." Lalu, pemuda itu terkekeh pelan.

"Tentu saja ti―"

"Hosh. Hosh."

"―dak." Perhatian Yifan mendadak teralih pada pemuda yang sempat berjalan di samping Sehun tadi. Ia menatap pemuda itu lekat-lekat. Kulitnya berwarna agak gelap, rambutnya berwarna kecoklatan, dengan wajah manis dan pipi yang agak berisi.

Pandangan Yifan tak beralih dari pemuda itu selama beberapa detik.

'Inikah yang namanya Jongin?'

'Astaga. Kenapa dia manis sekali? Dia lelaki, kan?'

Tiba-tiba saja, seluruh kalimat yang diucapkan Luhan padanya kembali berhamburan di otaknya.

TBC

Fiuh. Akhirnya aku bisa nulis ff ini kkk~

Awalnya, bener-bener clueless. Rasanya otakku berhenti lagi dan gamau diajak mikir pft -_- Tapi akhirnya, setelah ngetik satu paragraf, imajinasinya udah mulai bermain dan akhirnya bisa selesai satu chapter hehe

Banyak moment KrisHun-nya ya? Hehehe. Special buat KrisHun Shipper nih. Kalo yang nunggu KrisKai momentnya, mungkin baru chapter depan hehe. Tadi udah muncul Chanyeol sekilas (?) hoho. Kayaknya, aku berencana bikin hubungan ChanHun itu lebih ke seme x seme. Jadi yah, mereka sama-sama macho (?) yah begitulah pokoknya kkk~

Oh yaa, setelah ditegur beberapa readers /.\ Aku nggak bakalan targetin review buat setiap chapternya. tapi yang jelas, semakin banyak review (dan kalo reviewnya panjang dan heboh), aku pasti makin semangat buat lanjutin ffnya.

so, how is this chapie? don't forget to leave your review dear~

with love,

rappicasso