"Bel sudah berbunyi. Mari kita akhiri pembelajaran hari ini. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya, Anak-anak." Park Seonsaengnim mengakhiri kegiatan belajar mengajarnya di kelas 1-3. Pria berusia 40-an itu sudah mengemasi alat tulisnya dan segera beranjak dari kelas tersebut.
Murid-murid sudah riuh―terdengar suara-suara bangku yang bergeser dan suara-suara murid yang saling berbincang satu sama lain, sambil mengemasi peralatan sekolah mereka dan bersiap untuk pulang.
"Kau yakin ingin mengajakku, Hun?" Jongin yang sudah selesai dengan kegiatan mengemasi alat tulisnya pun langsung menoleh ke arah Sehun yang masih memasukkan sebuah buku paket Biologinya yang berukuran lumayan besar. Kedua matanya berkedip lucu.
"Ya?" Sehun melirik sekilas ke arah Jongin―ia tidak fokus pada pertanyaan yang dilontarkan Jongin.
Jongin mendesah kecil. Kepalanya tertunduk lesu. "Tidak ada apa-apa kok," balasnya lirih.
Sehun meletakkan tas punggungnya ke atas meja. Kerutan muncul di keningnya. "Aku yakin bahwa pendengaranku masih cukup baik, Kim Jongin," balas Sehun sedikit geram. Ia penasaran dengan apa yang baru saja dikatakan Jongin.
Jongin berdecak. "Kalau pendengaranmu masih cukup baik, seharusnya kau bisa mendengar pertanyaanku tadi, Tuan Song," tegurnya jengkel. Kedua tangannya saling menyilang di depan dadanya. Bibirnya mengerucut lucu.
Sehun tertawa kecil―membentuk lengkungan indah di kedua matanya. "Oh, ayolah. Jangan merajuk begitu, Jongin Sayang." Sehun mencolek pipi Jongin dengan gemas―sengaja menggoda pemuda manis itu agar tak lagi ngambek padanya.
"Ya! Berhenti memanggilku 'sayang'! Yaiks!" Jongin mengusap-usap bagian pipinya yang baru saja terkena jari telunjuk Sehun―seolah-olah sedang berusaha membersihkan noda yang menempel di pipi bulatnya.
Sehun terkikik pelan―semakin gemas atas tingkah Jongin yang lucu di matanya. "Makanya, cepat beritahu aku, apa yang tadi kau katakan," tegas Sehun sambil menatap Jongin lekat-lekat.
Jongin menoleh, balas menatap Sehun, meski raut wajahnya masih menunjukkan ketidaksukaan yang kentara. "Aku masih tidak yakin untuk pergi bersama dengan kau dan Ayahmu," cicit Jongin pelan―lebih terdengar seperti kicauan burung gereja yang biasa bertengger di atap sekolah.
Mata Sehun membulat. "Kenapa? Ibumu mendadak tidak mengijinkanmu ya?" tebak Sehun. Padahal, ia sudah membuat janji dengan Jongin semalam dan Jongin juga sudah mengatakan bahwa ia mendapat ijin dari sang ibu yang terkenal agak galak―well, bukankah Jongin juga terkenal galak?
Jongin menggeleng kuat sambil mengerucutkan bibirnya. "Bukan begitu."
"Lalu?"
"Err―aku merasa―tidak percaya diri, mungkin?" jawab Jongin ragu.
Bibir tipis Sehun membentuk huruf 'o' kecil selama sedetik. Dan detik berikutnya, pemuda berkulit pucat itu langsung tertawa terbahak-bahak―membuat beberapa murid yang masih tinggal di dalam kelas, termasuk Ketua Kelas Zitao menoleh heran ke arahnya.
Zitao menatap Sehun dengan tatapan kau-tak-gila-kan-Song-Sehun-?
Sehun hanya melambaikan tangannya―menandakan bahwa dirinya baik-baik saja. Saking lamanya ia tertawa, Sehun sampai menitikan air mata. Ah, dasar berlebihan.
"Kau ini kenapa sih?" gerutu Jongin kesal.
Sehun masih tertawa sambil menyeka air mata yang turun. "Kau bilang apa? Tidak percaya diri?" Tawa Sehun semakin membahana.
Kening Jongin berkerut. Batinnya berucap, 'Apa yang lucu dari ucapanku?'
"Kim Jongin, dengarkan aku ya? Aku tahu, kau ini memang berkulit gelap―"
Jongin melotot tak suka.
"―dan yah, hidungmu juga tidak terlalu mancung―"
Jongin hendak meraih sepatu sekolahnya.
"―dan kau juga tak pandai bermain basket―"
Jongin berhasil melepas sepatu sekolahnya.
"―tapi jangan merasa rendah diri seperti itu."
BLETAK!
"Auw! Sial."
Sepatu kanan Jongin benar-benar sudah melayang dan mendarat dengan indah di kepala Sehun. "Sepatu kiriku masih ada, Song Sehun." Jongin menggeram rendah sambil menatap sinis ke arah Sehun.
"Hei, kalian benar-benar tidak apa-apa kan?" Kali ini, Zitao angkat bicara. Sebagai seorang ketua kelas yang baik, ia harus bertanggung jawab apabila ada perseteruan antar murid di kelasnya. Apalagi jika ada pertengkaran seperti sekarang.
Eh, tapi memangnya Sehun dan Jongin sedang bertengkar?
Sehun tertawa. "Tak apa-apa, Zi. Ini adalah salah satu cara kami untuk menunjukkan rasa sayang kami satu sama lain," elaknya asal. "Ya, rasa sayang."
Zitao mengernyit bingung, namun memilih untuk tidak ikut campur. Jongin memang dikenal ramah, namun juga mudah sekali marah jika ia sedang dihina. Sementara Sehun? Ah, ketua kelas itu masih belum memahami karakternya―terlihat begitu dingin saat sedang sendiri, namun menjadi sosok yang atraktif saat bersama Jongin. 'Benar-benar kombinasi yang unik,' batinnya.
"Rasa sayang, rasa sayang," cibir Jongin tak suka. "Aku tak sayang padamu."
"Kalau tak sayang, kenapa selalu mau berbagi makan siang denganku?" Sehun menjulurkan lidahnya dan menunjukkan ekspresi yang membuat siapapun rela melemparkan barang pada wajah tampannya.
"Jangan memaksaku melempar sepatu kiriku." Jongin menggeram sekali lagi.
Sehun tertawa puas. Ia bangkit dari duduknya dan mengambil sepatu kanan Jongin yang jatuh di samping kanan kursinya. "Sudahlah, jangan merasa sungkan atau apapun. Aku mengajakmu agar kita bisa bersenang-senang bersama," ucap Sehun sambil menyerahkan sepatu itu pada sang pemilik.
Jongin mendengus pelan, lalu mengenakan sepatunya kembali.
"Dan sebagai tambahan―" Sehun merogoh ponselnya yang bergetar. "―ini adalah undangan khusus dari Ayahku. Jadi kuharap kau bisa memenuhinya. Kau sangat ingin bertemu dengan Ayahku kan?" Sehun mengecek sebuah pesan masuk di ponselnya.
"Hm ya." Jongin menggumam pelan sambil memandang menerawang.
"Nah, kalau begitu, ayo segera keluar! Ayahku sudah menunggu di lobi."
―
rappicasso
presents
an alternate universe fanfiction
Like Father, Like Son
.: chapter 3 :.
WARNING:
BoysLove, Incest, Mature Content, Dirty Talks, Explicit Language
―
Jongin terpaksa harus berlari-lari kecil mengikuti langkah kaki Sehun yang jelas-jelas lebih panjang darinya. Padahal, menurut pengamatannya, tinggi badannya tidak jauh berbeda dari Sehun. Apa kaki-kakinya memang diciptakan lebih pendek ya? Ah masa bodoh. Sekarang Jongin harus segera mengikuti Sehun ke lobi untuk menemui Ayahnya.
"Cepatlah sedikit, Jongin." Terdengar suara Sehun samar-samar, karena ia sudah beberapa langkah di depan Jongin. Sementara keadaan di sekitarnya cukup ramai.
"Hei!" Terdengar sebuah suara dari arah lobi sekolah.
Sehun melambaikan tangannya sambil berseru, "Ayah!" Sehun mempercepat langkahnya agar segera tiba di sisi sang Ayah.
Sementara Jongin semakin kepayahan mengejar Sehun. Maklum saja, jarak kelas mereka dengan lobi lumayan jauh. Namun tak lama kemudian, Jongin sudah tiba di belakang Sehun sambil mengatur nafasnya yang terengah. "Hosh. Hosh."
Pemuda berkulit tan itu sibuk mengatur nafasnya, hingga tak menyadari keberadaan seorang pria dewasa yang memandanginya tanpa berkedip. Pria itu adalah Wu Yifan―ayah Sehun. Yifan sama sekali tak menyangka ada sosok pemuda yang terlihat begitu manis di matanya. Demi Tuhan, Yifan masih normal! Terakhir kali, ia masih bisa bermasturbasi dengan membayangkan dada istrinya yang sudah wafat. Dan kini? Oh, sial. Yifan tertarik pada bocah ingusan yang sayangnya berjenis kelamin yang sama dengannya? Hell. Apa Yifan sudah tidak normal?
"Ayah, kenalkan, ini Kim Jongin yang kuceritakan itu. Jongin, ini adalah Ayahku." Sehun memperkenalkan keduanya secara bergantian.
Jongin mendongakkan kepalanya sambil memasang senyum terbaiknya untuk diberikan pada Ayah sahabatnya itu. Matanya bertemu pandang secara langsung dengan mata elang Yifan. Sejenak, ia terpukau pada penampilan ayah sahabatnya yang terlihat begitu tampan dan modis di usia yang―menurut Jongin―tidak muda lagi. Jongin juga mengagumi tinggi Yifan yang di atas rata-rata.
Namun Yifan justru tidak berniat merespons apapun, apalagi setelah mendapat senyuman manis dari pemuda yang dipandanginya sedari tadi.
"Hei, Pak Tua! Apa yang kau lihat?" Teguran Sehun berhasil membuyarkan lamunan Yifan.
"A-ah, maaf. Hai, Jongin. Senang bertemu denganmu." Yifan mengulurkan tangannya pada Jongin.
Jongin membalas uluran tangan Yifan dengan senang hati. "Senang berkenalan denganmu juga, Paman."
Yifan serasa ingin melayang ke surga saat menyentuh kulit mulus Jongin. Astaga, apakah semua kulit remaja terasa seperti ini? Ah, tidak, tidak. Yifan tidak merasakan apa-apa saat kulitnya bersentuhan dengan kulit putranya. Kulit Jongin terasa begitu halus dan lembut bagai kulit bayi yang baru saja dilahirkan. Namun, sayang sekali, Yifan harus melepas jabatan tangannya―dengan perasaan enggan, tentunya.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Sehun pada sang Ayah.
"Oh, ya. Tentu saja. Jangan sampai terlalu malam, kalian masih harus masuk sekolah besok," balas Yifan yang bersiap mengambil kunci mobil di dalam saku celananya.
"Kan, kau bisa menulis surat ijin untukku, Yah." Mata Sehun mengerling jahil.
Jongin tersenyum geli melihat tingkah Sehun.
"Berani-beraninya kau membolos, Sehun." Yifan mendesis pelan.
Sehun hanya memamerkan deretan giginya.
Sementara Jongin bersusah payah menahan tawa saat melihat interaksi Ayah-anak yang menurutnya lucu ini.
"Ya sudah, ayo segera berangkat," ajak Yifan.
"Tapi, nanti mampir ke kedai bubble tea dulu, ya?" pinta Sehun sambil menunjukkan tatapan memohonnya ala anak kucing.
Yifan mendesah pelan. "Baiklah, baiklah."
―
"Hei, Bocah." Yifan yang baru saja membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri justru tidak langsung masuk. Ia hanya melongokkan kepalanya ke dalam agar bisa melihat ke arah jok belakang mobilnya yang sudah ditempati Sehun dan Jongin.
"Apa lagi, Pak Tua?" Dengan enggan, Sehun melepas headset yang sudah menempel di telinganya, memutar musik-musik alternative rock yang sedang digila Sehun akhir-akhir ini.
Jongin menatap bingung ke arah Sehun dan Yifan secara bergantian. Anak muda yang satu ini masih belum terbiasa dengan interaksi keduanya yang lebih mirip dengan anjing-kucing, bukannya ayah-anak.
Yifan mendengus. 'Tidak bisakah bocah ini bersikap lebih manis? Kan ada Jongin disini,' batinnya jengkel. Entah kenapa, beberapa bagian dari dalam dirinya menginginkan agar ia terlihat keren di mata Jongin. Sedang berusaha memikat Jongin, eh? "Kenapa kau duduk di belakang?" tanya Yifan.
Sehun memanyunkan bibir tipisnya. "Kau tanya kenapa? Tentu saja, untuk menemani Jongin disini," jawab Sehun ketus.
"Jongin sudah besar. Dia pasti berani duduk disana sendirian. Kau duduk di depan, menemani ayah," balas Yifan tegas.
"Ayah sudah besar. Ayah pasti berani duduk di depan sendirian." Sehun menjulurkan lidahnya dengan usil setelah meniru gaya bicara sang Ayah.
"Yak! Kemari kau, Oh Sehun!"
"Sudahlah, sudah." Jongin tertawa kecil sembari berusaha melerai pertengkaran kecil diantara ayah dan anak itu. "Sehun, kau bisa duduk di depan saja. Aku tidak apa-apa disini sendiri," ucap Jongin kalem.
Yifan tersenyum puas karena Jongin memihak padanya. Ia harus mengucap banyak-banyak terima kasih pada pemuda manis itu. "Nah, dengarkan kata Jongin."
"Aku tidak mau. Aku bosan duduk disana terus, Pak Tua," balas Sehun dengan penekanan di setiap kata yang diucapkannya.
Yifan bedecak kesal. "Kalau begitu, biarkan Jongin yang duduk di depan saja." Pria dewasa itu tersenyum usil.
"EH?!" Sepasang sahabat yang duduk berdampingan itu memekik bersamaan―Sehun yang terkejut karena Ayahnya justru memilih Jongin dan Jongin yang terkejut karena dipilih oleh ayah Sehun yang terlihat begitu memukau.
"Anak manis, kau duduk saja di jok depan. Biarkan Sehun yang duduk di belakang sendiri," ucap Yifan sambil memamerkan deretan gigi putihnya dengan memasang senyuman selebar mungkin.
Dagu Sehun serasa jatuh begitu saja saat bibir Ayahnya berucap 'anak manis' untuk memanggil sahabatnya. Ia saja tidak pernah dipanggil dengan panggilan semanis itu. Urm, apakah Sehun mulai cemburu?
Sementara itu, Jongin hanya bisa melongo saat menyadari panggilan aneh yang melantun dari bibir Yifan itu ditujukan padanya.
"Oh, ayolah. Bisakah kalian cepat sedikit?" Yifan berdecak tak sabar.
"T-tapi Paman―"
"Bagaimana bisa Ayah menyuruh Jongin duduk di depan dan aku duduk di belakang?" protes Sehun tak suka.
"Tadi kau bilang, kau bosan duduk di depan?" Yifan tersenyum mengejek.
Sehun mendesah keras-keras. "Baiklah, baiklah! Aku saja yang duduk di depan!" Sehun membuka pintu mobil dengan kasar, segera melompat turun dan berjalan menuju pintu depan mobil.
Jongin bergidik ngeri melihat sikap Sehun.
Yifan hanya tertawa kecil dan akhirnya memutuskan untuk masuk. Ia senang berhasil menggoda anaknya, meski ia gagal duduk berdampingan dengan Jongin.
Tapi, tunggu.
Apa yang membuat Sehun seolah tak rela jika Jongin duduk di samping Ayahnya?
―
"Whoa! Ayah mengajak kami ke auditorium ini?" Sehun memekik takjub saat sang Ayah memutar kemudinya, sehingga mobil yang sedang mereka tumpangi sekarang tengah memasuki lapangan parkir salah satu auditorium megah yang baru saja diselesaikan pembangunannya di pusat kota. Sehun pernah mendengar sekali dari teman-teman di klub basket barunya yang mengatakan bahwa telah dibangun sebuah auditroium baru dengan fasilitas bertaraf internasional yang akan digunakan untuk penyelenggaraan turnamen-turnamen basket atau olahraga lainnya.
Yifan tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. Matanya memandangi sekitarnya―mencari slot parkir yang masih kosong untuk mobilnya. Ia tidak menduga bahwa acara pembukaan sebuah auditorium bisa menjadi seramai ini. Lapangan parkirnya sudah sangat penuh.
"Nah, Jongin―" Sehun menoleh ke arah belakang sambil memasang cengiran lebarnya. "―kau harus bertanding basket denganku nanti. Mengerti?"
Jongin memutar bola matanya malas. Ia pasti akan diledek habis-habisan oleh Sehun karena kemampuan bermain basketnya yang sungguh payah. "Terserah kau saja, Tuan Sok Pamer," balasnya ketus.
Yifan tertawa kecil mendengar nada bicara Jongin yang kedengaran begitu jengkel. "Jongin juga suka bermain basket? Kau juga bergabung di klub basket, Jongin?" tanya Yifan saat ia memutar stir ke kanan, karena ia sudah menemukan tempat kosong untuk mobilnya.
"Tidak, Paman," balas Jongin lesu. "Aku bergabung dengan klub tari."
"Tari?" Yifan melirik Jongin dari kaca spion. Tiba-tiba saja, ia membayangkan Jongin yang sedang menarikan gerakan tari kontemporer yang sangat indah dengan tubuhnya yang lentur itu. Pasti sangat menakjubkan. Ia teringat pada sosok istrinya. "Kau memiliki kegemaran yang sama dengan Ibu Sehun." Kalimat selanjutnya hanya diucapkan Yifan dengan gumaman.
Sehun tertegun mendengar ucapan Yifan. Ia tak menduga bahwa Ayahnya akan membahas tentang Ibunya di hadapan Jongin.
Jongin memajukan tubuhnya―sedikit lebih condong ke arah Yifan. "Jadi, ibu Sehun juga bisa menari?" tanya Jongin dengan tatapan yang berbinar.
Yifan tak menjawab. Ia langsung terdiam saat menyadari perubahan ekspresi pada wajah Sehun.
"Hei, Sehun. Kenapa kau tak bilang tentang hal itu? Aku yakin, kau pasti juga jago menari seperti ibumu. Bagaimana kalau kapan-kapan, kita berduel eh?"
Tak ada jawaban.
Hanya keheningan yang melanda.
"Hei, Sehun."
"Hei, Paman."
"Kenapa kalian diam saja?"
―
"Aku pergi ke toilet dulu."
"Eh, Sehun―"
"Sudahlah." Yifan menahan bahu Jongin saat pemuda berkulit tan itu hendak berlari mengejar Sehun yang sudah terlebih dahulu melesat entah kemana―ke toilet katanya.
Jongin menoleh ke arah Yifan dengan tatapan penuh tanya. Bibirnya mengerucut.
"Sehun―mungkin dia butuh waktu sendiri." Yifan tersenyum simpul. "Ayo duduk dulu disana." Yifan menunjuk ke arah tribun yang sudah tiga perempat penuh. Pria itu lebih memilih menggiring Jongin untuk duduk di daerah tribun yang nampak lengang.
Jongin mengangguk patuh dan mengikuti langkah Yifan. "Memangnya, ada apa dengan Sehun, Paman? Apakah aku salah bicara ya?" Jongin nampak masih bingung dengan sikap Sehun yang mendadak berubah―dari yang biasanya berisik dan usil, berubah menjadi pendiam. Awal pertemuan mereka, Sehun memang terlihat pendiam, tapi raut wajahnya tidak pernah menunjukkan kesedihan seperti tadi.
Yifan menoleh ke arah Jongin. "Tidak, kau tidak salah bicara, Jongin."
"Lalu?"
Yifan duduk di atas tribun. "Duduklah." Ia menepuk ruang kosong di sisi kanannya.
Jongin pun duduk di sisi yang ditunjuk Yifan.
"Apa kau sudah tahu sesuatu tentang ibu Sehun?"
"Eh? Tentang Ibu Sehun yang suka menari?"
Yifan mendesah kecil. "Bukan itu," jawabnya pendek. "Mungkin kau memang belum mengetahui fakta yang sesungguhnya."
"Fakta apa, Paman?" Kedua manik mata Jongin berbinar―terlihat begitu penasaran.
Yifan menatap mata Jongin lekat-lekat―berharap anak ini bisa menjadi penjaga rahasia yang baik untuknya. Namun yang terjadi, ia justru semakin terpikat pada pesona pemuda berusia 15 tahun itu. Yifan pun memutuskan membuang muka. "Ibu Sehun sudah meninggal."
"Apa?" Jongin memekik. Refleks, kedua tangannya menutup mulutnya. "T-tapi bagaimana bisa?"
Yifan menghela nafas. "Ibu Sehun mengidap suatu penyakit, hingga akhirnya ia meninggal." Yifan tak ingin menjelaskan secara detail tentang sosok mendiang istrinya, karena hal itu hanya akan membuat Yifan teringat pada Qian dan semakin meninggalkan rasa sesal yang mendalam. "Selama ini, Sehun jauh lebih dekat dengan ibunya, dibanding denganku. Jadi saat ibunya sudah tiada, ia sedikit kesulitan hidup berdua saja denganku. Sehun cenderung membenciku sebagai ayah kandungnya."
Mata Jongin membola.
"Sehun pikir, aku tidak pernah benar-benar mencintai ibunya. Padahal dia salah. Aku sangat mencintainya―hingga saat ini." Yifan menarik nafas dalam-dalam―berharap tak ada setitik air matapun yang lolos turun. "Maka dari itu, aku harus berusaha membuat Sehun menganggapku sebagai ayah dan orang tua yang baik." Yifan menoleh dan kembali menatap Jongin. "E-eh? Kau menangis?"
Jongin melongo―tak sadar bahwa ia menitikan air mata saat mendengar cerita Yifan. "A-ah, maaf, Paman!"
Yifan tergelak sejenak. "Maaf, jika aku harus menceritakan masalah pribadi keluargaku padamu, Jongin-ah. Ini semua kulakukan agar kau mengerti latar belakang Sehun dan bisa menerima keadaan Sehun." Yifan tersenyum penuh harap. "Maaf jika sikapnya yang menjengkelkan itu terkadang mengganggumu."
Jongin tersenyum cerah. "Jangan khawatir, Paman! Sehun anak yang baik kok. Lagipula menurutku, Paman adalah Ayah terbaik yang pernah ada. Sehun pasti beruntung memiliki Ayah seperti Paman!"
Yifan tertegun.
Andai saja, Sehun berpikiran sama dengan Jongin.
Andai.
―
Sehun menumpukan kedua tangannya pada wastafel di toilet pria. Kepalanya yang tertunduk itu mendongak secara perlahan dan matanya menangkap refleksi dirinya di dalam cermin. Ia memang tidak baru saja berkelahi, namun ia sadar bahwa raut wajahnya nampak kacau.
Selama ini, Sehun berusaha untuk menutupi rahasia tentang kematian Ibunya. Ia tak ingin satu orang pun di kelas―ataupun di sekolahnya―mengetahui fakta bahwa Sehun adalah seorang anak yang sudah kehilangan ibunya. Ia tak pernah ingin merasa dikasihani karena fakta itu. Ia benci dikasihani.
Dan kini, Jongin pasti sudah sedikit tahu tentang Ibunya. Bagaimana jika suatu saat nanti Jongin bertanya-tanya tentang keberadaan Ibunya? Apa Sehun harus mengakuinya? Bagaimana jika Jongin justru memandangnya dengan cara berbeda? Mengasihaninya? Atau justru menjauhinya?
Sehun mengacak rambutnya frustasi. Ia menyesali ucapan ayahnya. Kenapa pria tua itu harus mengungkit masalah ibunya di hadapan Jongin?
Satu hal lain yang menohok ulu hati Sehun adalah bahwa sepertinya persepsinya selama ini tentang sang Ayah adalah salah besar. Sehun memang masih ingat saat Ayahnya mengatakan bahwa Ibunya tidak becus mendidiknya dan saat itu Sehun merasa sangat sakit hati. Namun petang tadi, Ayahnya justru mengungkit tentang Ibunya yang pandai menari. Ayahnya sama sekali tidak berniat menjelek-jelekkan Ibunya. Ayahnya justru membicarakan kelebihan Ibunya. Apakah memang selama ini pria tua itu mencintai Ibunya dengan setulus hati?
Kepala Sehun berdenyut pelan. Astaga semua hal ini membuat kepalanya terasa berat dan pening. Ingin rasanya, Sehun melepas kepalanya sejenak untuk menghilangkan rasa sakitnya.
Sehun melirik jam tangannya. Dia sudah berada di toilet selama 10 menit. Jika ia masih disana dan tidak segera keluar, mungkin Jongin dan Ayahnya akan semakin khawatir. Ia tak ingin ditemukan dalam keadaan kacau seperti ini―apalagi Jongin, anak itu tak boleh melihatnya.
Sehun kembali menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia berusaha memasang wajah datarnya seperti biasa. Dan ia berhasil.
Sekarang ia hanya perlu untuk keluar menemui Jongin dan Ayahnya.
Serta berpura-pura baik-baik saja.
―
"Sehun lama sekali." Jongin menggumam pelan. Tersirat nada kecemasan dalam kalimat yang meluncur dari bibir manisnya. Ia mulai memandang ke sekeliling, mencari-cari sosok sahabatnya itu.
Yifan melirik sekilas ke arah Jongin. Pandangannya tadi sedang tertuju pada sekumpulan anak yang bersiap untuk melakukan pertandingan basket di bawah sana.
"Paman, paman." Jongin menarik-narik kemeja Yifan.
Yifan menoleh. "Ya?" Mata elangnya jatuh menatap maniks mata Jongin yang kecoklatan. Sungguh indah.
"Paman tidak khawatir dengan Sehun, eh? Ini sudah lewat dari 10 menit."
Yifan mendesah kecil. Bohong jika ia tak merasa khawatir pada Sehun. Ia juga ingin pergi dan memeriksa Sehun di toilet, namun ia hanya tak tahu harus bereaksi seperti apa di hadapan Sehun nanti. "Kita tunggu saja 5 menit lagi, jika Sehun tak kembali―"
"Kalian disini rupanya."
Jongin menoleh. "Sehun!" Anak lelaki itu langsung menghambur dan memeluk tubuh Sehun. "Astaga, kupikir kau pingsan di toilet atau lupa cara buang air!" Jongin memekik lumayan keras, hingga ucapannya mengundang tatapan aneh dari beberapa orang di sekitarnya. Namun Jongin nampak masa bodoh.
Yifan tertawa mendengar ucapan polos seorang Kim Jongin.
Sementara Sehun menunjukkan tatapan jijik, sambil berusaha terlepas dari pelukan Jongin. "Yak, aku ini sudah dewasa. Sehun adalah pria dewasa," protesnya kesal. Pelukan Jongin sudah terlepas dan ia memutuskan duduk di samping kanan Jongin. "Jangan berpikir konyol seperti itu, Kim Jongin."
Jongin hanya cengengesan dengan wajah tak berdosa miliknya. "Kalau kau pria dewasa, berarti kau sama saja dengan pria yang duduk di samping kiriku ini ya?" tanya Jongin dengan suara menggoda dibuat-buat.
Yifan melirik.
"Ha? Tentu saja berbeda! Aku ini pria dewasa dan dia itu pria tua!" elak Sehun.
"Yak! Kau berniat mencari gara-gara denganku, ya?" Yifan memelototkan mata elangnya yang kecil.
"Mau apa kau, pria tua? Ingin duel denganku?" Sehun membalas tatapan mata Yifan dengan melotot juga―kadang ia menyesali kenapa matanya ini justru lebih mirip dengan milik Ayahnya yang relatif kecil, tidak mirip seperti milik Ibunya yang bulat dan besar.
"Siapa takut?" Yifan tak mau kalah.
Jongin hanya bisa tertawa kecil di antara dua pria―yah, salah satunya adalah pria jadi-jadian―yang sedang adu mulut itu. "Kenapa tidak membuktikannya di lapangan saja? Kalian kan sama-sama suka bermain basket."
"Ide bagus." Yifan menggumam pelan.
"Jadi, bagaimana menurutmu, Pak Tua? Kau setuju?" tawar Sehun.
"Ya, tentu."
"Tapi, awas saja ya, jika ototmu keseleo nanti, aku tidak ingin menjadi tukang pijit dadakan di rumah."
"Astaga, aku tidak setua yang kau pikirkan."
―
Yifan dan Sehun sama-sama sudah turun ke bawah dan bergabung dengan tim yang akan bertanding di pinggir lawan. Tentu saja, keduanya berada di dua tim yang berbeda. Kedua tim basket yang akan berduel itu adalah tim streetball. Untung saja, Yifan memiliki wajah yang awet muda, sehingga ia tetap terlihat sebaya dengan anggota tim lainnya. Sementara itu, Sehun juga tetap terlihat seumuran karena tingginya yang di atas rata-rata anak seusianya―bahkan ia adalah anggota basket tertinggi kedua setelah Chanyeol di klub basket.
Kedua tim itu sama-sama sedang melakukan pemanasan sambil mengatur strategi.
Sementara itu, Jongin nampak memperhatikan dari tribun. Pandangannya selalu tertuju pada Sehun, namun entah kenapa, matanya selalu berusaha mencuri pandang ke arah Yifan. Jongin harus mengakui bahwa Yifan memiliki kharisma. Pria itu nampak dewasa dan berwibawa, namun tetap bisa membaur dengan anak-anak seusianya. Seharusnya, Sehun bersyukur memiliki ayah seperti itu. Dan yah, dugaannya memang benar. Yifan terlihat begitu keren saat melakukan pemanasan. Lengan kemeja yang dikenakannya dilipat sebatas siku, kancing teratasnya terbuka. Sungguh terkesan err―seksi, mungkin?
Jongin menggeleng keras-keras. Astaga, ia merasa nista saat membayangkan ayah dari sahabatnya terlihat begitu seksi. Meskipun ia polos, namun ia masih tertarik dengan tubuh wanita yang seksi dan berdada besar.
Terdengar bunyi-bunyian yang sangat keras―pertanda bahwa pertandingan akan segera dimulai. MC membacakan nama kedua tim dan mempersilakan keduanya memasuki lapangan. Anggota kedua tim itu saling bersalaman. Mungkin terlihat hanya sebatas untuk formalitas dan terkesan biasa saja, namun siapa yang menyangka terdapat aura panas yang menguar saat sepasang Ayah dan anak itu saling berhadapan dan melempar tatapan?
Usai bersalaman, anggota kedua tim itu segera menyebar dan menempati posisinya masing-masing. Yifan berada di barisan belakang, sementara Sehun menempati posisi sebagai shooter. Ini pasti akan menjadi duel yang menarik saat Sehun hendak memasukkan bola, sementara Yifan berusaha menjaga Sehun dengan ketat dan perhatian penuh.
Wasit berjalan ke tengah sambil membawa bola basket dan bersiap meniup peluit.
PRIITT!
Peluit berbunyi bersamaan saat sang wasit melempar bola ke udara. Kedua starter sama-sama melompat setinggi mungkin dan saling berebut untuk mendapatkan bola basket. Bagaimanapun juga, siapapun yang meraih bola terlebih dahulu bisa memimpin pertandingan.
Dan akhirnya bola pun dibawa oleh tim Sehun. Starter segera menggiring bola basket ke area lawan. Sehun mengejar di sisi yang berlawanan, sementara Yifan dengan cerdik mengawasi Sehun. Tanpa sepengetahuan Sehun, Yifan sudah berdiri di belakangnya. Dan saat itulah, starter melempar bola ke arah Sehun. Sayang sekali, bola melambung terlalu tinggi dan justru tertangkap oleh Yifan.
Yifan segera menggiring bola ke depan dan pada jarak three points, ia menembakkan bola.
"Three points!"
Penonton bersorak sorai.
Bola masuk ke ring lawan dengan tepat sasaran. Yifan kembali ke posisinya dengan wajah bangga dan senyum sumringah. Ia sempat berpapasan dengan Sehun yang langsung menatapnya sinis. Bagi Sehun, senyuman Yifan adalah senyuman mengejek untuknya.
Pertandingan pun kembali di mulai dengan suara yang semakin riuh dan aura panas yang semakin membara.
―
Pertandingan berakhir dalam waktu 10 menit. Karena permainan bukan seperti turnamen yang sesungguhnya, jadi setiap pertandingan hanya diselesaikan dalam 1 kuarter. Kemenangan tipis dicapai oleh tim Yifan.
Yifan tidak mencetak angka lagi setelah tembakan three points yang cukup mengagumkan darinya di awal pertandingan. Toh ini hanya pertandingan biasa, ia hanya berusaha menjadi pemain belakang yang baik. Ia senantiasa menjaga ringnya dari serangan lawan―terutama Sehun. Dan Yifan mengakui bahwa Sehun adalah pemain yang sangat baik. Ia cukup kewalahan dengan kegigihan Sehun dalam mempertahankan bolanya.
"Kalian benar-benar hebat!" Jongin bertepuk tangan dengan semangat saat menyambut kedatangan Yifan dan Sehun.
Yifan tersenyum simpul menanggapinya, sementara Sehun masih tampak murung karena kekalahan timnya. Yifan merangkul hangat pundak putranya sambil berbisik pelan, "Ayolah, jangan murung, Jagoan."
Sehun memandang sang Ayah dengan tatapan sengit. "Aku tidak murung, Pak Tua. Aku hanya kelelahan." Sehun melepas rangkulan ayahnya dan berjalan cepat menghampiri Jongin. Ia segera mengambil bubble tea miliknya dan meminumnya.
Yifan hanya tertawa kecil melihatnya.
"Paman benar-benar hebat saat melakukan three points shoot tadi!" seru Jongin. "Wah, Paman berhasil membuat gadis-gadis menjerit tadi."
Yifan tergelak. "Benarkah? Kudengar, tadi kau juga menjerit. Apa kau juga salah satu dari gadis-gadis itu, Jongin?"
Sehun yang mendengarnya, tak kuasa menahan tawa. Bubble tea di mulutnya nyaris menyembur begitu saja.
"Tentu saja bukan!" protes Jongin tak suka. "Aku ini pria tulen, Paman."
Yifan tertawa.
"Kalau dipikir-pikir, kau ini memang terkadang mirip wanita," celetuk Sehun menggoda.
"Yak! Dasar!" Jongin menjitak pelan kepala Sehun.
Sehun tidak merasa kesakitan dan justru tertawa.
"Kalian benar-benar ayah dan anak yang kompak. Sama-sama hebat di lapangan, tapi juga sama-sama menyebalkan." Jongin menggerut dengan bibir yang mengerucut.
"Oh, jadi aku juga hebat ya?" Sehun melirik ke arah Jongin. Ia kembali meminum bubble teanya.
Jongin menoleh sambil mengangguk-angguk lucu. "Kau itu hebat. Aku yakin, suatu saat nanti, kau bisa jauh lebih baik dari Ayahmu," ucap Jongin jujur. "Timmu hanya kurang beruntung tadi." Jongin tersenyum tipis.
Yifan terdiam menyaksikan interaksi Sehun dan Jongin. Keduanya asyik berbicara―melempar pujian, lalu saling mengejek satu sama lain. Yifan seolah bisa menemukan sosok Qian dalam diri Jongin.
―
"Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan bagiku. Aku janji tidak akan melupakan malam ini." Jongin tersenyum lebar ke arah Sehun, maupun Yifan. "Terima kasih untuk semuanya, Sehun, Paman."
Sehun hanya membalas dengan senyuman tampannya.
"Aku juga sangat berterima kasih karena kau sudah mau menemani kami." Yifan berucap bijak.
Jongin tersenyum canggung ke arah Yifan. Bayangan saat ia memikirkan tubuh seksi Yifan tadi berkelebatan di otaknya. "Sama-sama, Paman," jawabnya pelan. "Dan terima kasih juga sudah mengantarku sampai ke rumah."
Yifan menghentikan mobilnya di salah satu perumahan elit di Seoul. Ia kenal beberapa teman bisnisnya yang bertempat tinggal di kawasan ini, tapi ia kurang tahu, siapa kira-kira orang tua Jongin.
"Sebagai pria sejati, tentu saja, kami tak tega membiarkan seorang gadis sepertimu pulang sendiri malam-malam begini." Sehun bersiul menggoda.
Jongin menggeram pelan. Jika saja ia dan Sehun tidak terhalang oleh kaca mobil yang hanya dibuka separuh itu, mungkin ia sudah menjambak rambut Sehun.
Yifan tertawa melihatnya. "Ini sudah cukup malam. Sebaiknya kau segera masuk dan beristirahat, Jongin-ah."
"Baik, Paman. Sekali lagi, terima kasih."
Yifan hanya mengangguk.
"Sampai ketemu lagi, Paman." Jongin tersenyum lebar ke arah Yifan. "Sampai jumpa besok, Sehun." Suaranya terdengar mengerikan dan tatapannya berubah menjadi murung saat melihat Sehun―ia masih kesal dengan Sehun yang kerap mengoloknya.
"Sampai jumpa." Yifan dan Sehun membalas bersamaan.
Jongin pun berbalik dan berjalan memasukin rumahnya.
Tak lama, Yifan pun kembali menjalankan mobilnya meninggalkan perumahan tersebut dan kembali ke rumahnya.
"Ayah―"
"Ya?"
"Ngomong-ngomong, terima kasih."
Yifan menoleh. "Untuk apa?"
"Semuanya."
Yifan kembali fokus pada jalanan, namun bibirnya membentuk kurva.
Tepat saat itu―
CHU!
―Sehun mengecup pipi sang Ayah.
―
"Bagaimana dengan tadi malam?" Luhan berjalan berdampingan dengan Yifan menuju ruang meeting siang itu. Keduanya akan kembali mengadakan rapat dengan perusahaan milik Yunho.
"Sempurna. Perfecto." Yifan tersenyum puas saat kembali mengingat kejadian semalam―mulai dari saat ia menjemput Sehun dan Jongin di sekolah, hingga kejadian saat Sehun mengecup pipinya semalam. "Aku berharap, hubunganku dengan Sehun semakin membaik setelah ini. Aku juga sudah meminta bantuan Jongin."
"Jongin? Sahabat Sehun itu ya?" tebak Luhan.
Yifan mengangguk. "Ngomong-ngomong, ternyata Jongin adalah anak yang manis."
Luhan tersenyum mengejek. "Jadi? Sekarang kaulah yang tertarik dengan Jongin eh?"
Yifan memilih untuk tidak menjawab. Ia tak bisa memungkiri perasaan yang aneh saat ia bersama Jongin.
Luhan tertawa keras. "Bersiap-siaplah, mungkin saja, kau harus bersaing dengan putramu sendiri, Wu Yifan."
Yifan mendengus sambil membuka pintu ruang rapat. "Dengar ya, kalau saja orientasi seksualku menyimpang, aku tidak akan berebut pria yang sama dengan anakku. Masih banyak pria yang lebih manis dan seksi di luar sana." Yifan melirik ke arah Luhan. "Lagipula, kalau dipikir-pikir, kau juga terlihat manis dan cantik, Lu."
Luhan berdecak. "Aku sudah punya Nana, Wu." Ia benar-benar geli dengan pemikiran Yifan. Ia sadar bahwa parasnya memang cantik untuk standar pria, namun ia adalah pria sejati yang sepenuhnya normal.
Yifan tertawa sendiri mendengar balasan Luhan dan kembali memikirkan ide untuk mengencani Luhan. Ah, yang benar saja!
Tak lama kemudian, rombongan Yunho tiba di ruang rapat. Yunho langsung menghampiri Yifan dan mengajak pria yang sudah dianggap sebagai adiknya itu untuk berjabat tangan.
Keduanya saling berbincang singkat.
"Ngomong-ngomong, aku berniat mengajakmu untuk makan malam di rumah," ucap Yunho.
"Wah, tawaran yang menarik, Hyung. Aku yakin, sajian makan malam di keluarga Jung sangatlah lezat." Yifan tersenyum.
"Ah, biasa saja." Yunho mengibaskan tangannya. "Bagaimana dengan akhir pekan ini? Kau bisa datang?"
Yifan mengingat agendanya sejenak. "Sepertinya bisa, Hyung. Tapi biarkan aku mengecek jadwalku lagi nanti."
Yunho mengangguk. "Tentu saja. Kabari aku jika kau bisa datang. Aku akan menyuruh istriku untuk memasak banyak makanan untukmu," balasnya. "Oh ya, jangan lupa ajaklah putramu juga."
"Baiklah, aku akan mengatakannya pada Sehun."
"Sekalian agar aku bisa mengenalkan putraku pada putramu."
to be continued...
hey-yo. I'm back ._.
saya milih buat ngelanjutin ff ini karena hampir tiap hari saya ditagih sama nox dan nam. apalagi, tiap hari juga, kursi saya dianiaya sama nox (?) biar saya buruan lanjutin ff ini huhuhu
awalnya harus nyuri-nyuri waktu di tengah kepadatan kegiatan sekolah. akhirnya, ff ini berhasil selesai pas malam minggu yang cerah ini. maklum ya, efek jomblo. saya jadi cuma menghabiskan waktu di rumah sambil duduk di depan laptop hehe
saya ingin ngasih tahu beberapa hal sebelum bikin readers potek (?) saya sengaja bikin karakter lain dalam ff ini sebagai karakter yang straight. di atas, sudah dijelaskan bahwa Luhan sudah punya pacar, yaitu Nana (afterschool). maaf, saya nggak bisa bikinin KrisHan, HunHan atau apapun itu yang yaoi. karena di ff ini, saya ingin membuat segala sesuatunya terkesan lebih real. seperti yang kita tau, meskipun jaman udah modern, tapi kan hubungan sesama jenis itu masih belum bisa diterima cukup baik oleh orang banyak. dan yang mengharap ada YunJae, maaf bangeeet. saya nggak bisa menjadi Jae Umma sebagai pasangannya Yunho Appa huhu u_u
dan adakah yang bisa nebak siapa anaknya Yunho disini? yang bisa nebak paling awal dan benar, saya kasih hadiah deh buat request satu ff dari saya (?) ayo ayo coba ditebak ^^
oh iyaaa, saya turut sedih dan bahagia (?) denger kabar Luhan out dari exo. sedih karena exo fans pasti sedih, apalagi yang Luhan biased :( tapi saya juga senang, karena saya rasa, ini adalah pilihan yang terbaik buat dia. walaupun bukan fansnya Luhan, tapi saya selalu berharap yang terbaik buat Luhan. oh ya, kabar keluarnya Luhan ini pertama kali keluar dari Sina Ent. jadi curiga kalau pas di Beijing kemarin, Yifan-Luhan diem-diem ketemu dan ngerencanain sesuatu. entahlah, tapi menurut saya, rencana keluarnya Luhan ini udah dari lama. buktinya member exo ga seshock dulu. lay juga malah ngucapin salam perpisahan secara baik-baik lewat akun weibonya. aduh walau pisah, semoga exo-luhan-yifan, bisa tetep akur ya kayak doanya lay. amin
akhir kata, saya meminta review sebagai balasan untuk ff ini. apaka semakin bagus atau justru tambah jelek? menarik atau malah membosankan? review kalian adalah penyemangat bagi saya ^^
xoxo,
rappicasso
