Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter 4

"Sasuke-kun." Hinata mencoba melafalkan nama itu, entah untuk keberapa kalinya. Kemudian dia melangkah keluar kelas, sendirian, karena beberapa waktu lalu semua murid di kelasnya, termasuk Sakura dan Ino, berhamburan menuju kantin sekolah.

"Sasuke-kun."

"Namaku?"

"Ah. Bikin kaget aja." ujar Hinata, menoleh sambil tertawa kecil. "Sejak kapan ada dibelakangku?"

"Entah. Mungkin sejak kamu keluar dari kelas." jawab Sasuke sambil mengangkat kedua bahunya.

Hinata mengarahkan pandangannya pada tangan Sasuke. Tangan itu menggenggam buku berukuran sedang yang sampulnya sudah mulai lecek.

"Buku apa itu?"

"Oh ini. Sesudah ini akan ada ulangan, padahal aku baru beberapa hari sekolah. Ah sial." gumam Sasuke kesal.

Hinata tersenyum. "Pelajaran apa?"

"Biasalah, matematika, pelajaran yang mematikan."

Hinata tidak dapat menahan senyumnya. "Biar kubantu. Bagaimanapun aku... lumayan dalam matematika."

Sasuke tersenyum semakin lebar.

"Ayo ke kelasku. Kelasku lebih tenang kurasa." ucap Hinata.

"Yang benar saja?"

"Iya... anak kelasku penggila makanan, semua langsung berburu makanan di kantin." jawab Hinata seadanya, lalu berjalan menuju kelasnya, diikuti Sasuke dibelakangnya.

-X-

"Karenanya, x sama dengan tiga." ucap Hinata sambil terus menulis. Kemudian dia menoleh kesosok yang duduk disebelahnya.

"Sasuke?"

Hinata melambaikan tangannya didepan mata Sasuke yang mulai terpejam, walau sebelah tangannya masih menggenggam pensil.

"Sasukee..."

"Eng?"

"Sampai kapan kau mau tidur terus? Lima belas menit lagi istirahat berakhir, sebentar lagi mungkin anak-anak akan kembali ke kelas." omel Hinata.

Sasuke membuka kelopak matanya. "Iya, iya. Bisa ulang penjelasannya gak?"

Hinata menghela napasnya, lalu mulai menjelaskannya kembali. Tapi Sasuke tampaknya sama sekali enggak mudeng dengan apa yang dijelaskan Hinata.

Tatapan matanya tampak sayu, genggaman pensilnya terlihat lemas.

"Paham?"

Sasuke mengangguk-anggukan kepalanya, supaya pelajaran ini segera berakhir.

"Sepertinya aku harus kembali ke kelas." ucap Sasuke. Dilihatnya beberapa anak memasuk kelas, dan memandanginya dengan tatapan siapa dia?

"Iya sana. Hush, hush." ucap Hinata.

"Kok jadi ngusir?" tanya Sasuke takjub.

"Biar. Hush."

Setelah keluar dari kelas Hinata dan kembali ke kelasnya, Sasuke merutuk dalam hati. Gimana nasibnya diulangan matematika?

-X-

"Ah." Sasuke menghela napasnya berkali-kali. Mengacak rambutnya pelan, menandakan jika dia benar-benar telah frustrasi.

"Sasuke."

Sasuke menoleh, pandangannya bertemu pada mata yang hampir serupa dengan gadis kecilnya. Neji.

"Apa?"

Neji meletakkan lembar jawabannya dengan hati-hati diatas meja Sasuke. Membuat Sasuke ternyerngit heran karena Neji yang dikenalnya tak sebaik hati ini untuk membagi-bagi jawaban.

"Kau belum selesai, kan?" tanya Neji. Hanya itu, lalu sesaat kemudian dia menelungkupkan kepalanya keatas meja.

Sasuke mengangguk mengiyakan. Dan memang benar, ulangannya belum selesai dan bahkan jawabannya hampir semuanya tak terjawab.

Dengan cepat, Sasuke segera menyalin jawaban-jawaban itu yang pasti benar karena berasal dari Neji, lelaki yang sejak dulu merupakan murid teladan.

-X-

"Kurasa kau telah tahu apa alasan aku memberimu semua itu, Sasuke. aku meminta permintaan yang sama dengan dulu. Jangan dekati Hinata." ujar Neji, tepat setelah bel sekolah berbunyi nyaring tanda pelajaran yang telah usai.

"Apa salahnya? Aku mau mengembalikan kenangan Hinata."

"Dan membuatnya merasa sakit? Aku tak mau itu." kilah Neji.

Sasuke tertegun. "Apa kau sebenarnya tidak ingin ingatan Hinata kembali?"

"Jika itu memang yang terbaik untuknya, mengapa tidak? Apa kau tidak tahu, kepergianmu yang tiba-tiba membuat Hinata begitu menderita? Kau tidak tahu semua itu! Hanya aku, saudaranya yang setiap hari hanya bisa memandangnya yang menangis! Kau sudah membuatnya menderita dua kali, Sasuke, dan aku tak mau untuk yang ketiga kalinya dia menderita karenamu." ujar Neji begitu emosi. Wajahnya merah padam karena tidak pernah sekesal ini sebelumnya. Dia mendengus keras, kemudian keluar dari kelas.

Sasuke masih tertegun. Pikirannya kembali menguar kejadian demi kejadian yang dilewati dari tahun ke tahun.

-X-

Terima kasih sudah membaca sampai sini

Rasanya capek juga ngetik fanfic, mungkin karena belum terlalu biasa akan tokoh, karakter, dan sebagainya. Tapi akan kuusahakan untuk memperpanjang chapter setiap kali memperbarui chapternya. Jadi, maaf ya bagi yang membaca chapter satu dan merasa kependekkan.

Hmpp... apa ada yang merasa penasaran? xD dichapter berikutnya, itu tentang masa lalu Hinata-Sasuke-Neji, jadi yang dari tadi baca chapter dan mikir "Gimana sih masa lalunya?" atau "Kok gak muncul-muncul tentang masa lalunya?" atau "Kok sepenggal banget tentang masa lalunya?" atau malah mungkin, "Duh, bosen bacanya. Gak ngerti apa deh, apa sih yang disembuyiin?" (ini cuma anggapanku doang, loh. Enggak tau deh, sebenarnya pas kalian baca ini apa sih yang kalian pikirkan? *merasa kepo*)

Nah, sekarang, kau bisa membacanya.

Selamat membaca chapter kelima!