Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 5
Ingatan itu menguar, kembali, menuju bertahun-tahun silam. Kau bisa menyebutnya sebagai flashback.
-Flashback-
"Gadis kecil!"
"Sasuke!"
Kedua anak itu berlari, lalu berdiri berhadapan dengan napas terengah-engah. Bahu mereka naik turun, terasa lelah, tapi mereka sama-sama tersenyum.
"Berapa nilai ujian matematikamu?" tanya Hinata.
"Lima."
"Yes!" Hinata bersorak riang. "Aku sembilan! Kau mentraktirku kali ini!"
"Tunggu sebentar!" Sasuke cepat-cepat menyela. "Gimana dengan ujian kanjimu?"
Hinata nyengir. "Tu... juh."
Sasuke melebarkan senyumannya. "Aku mendapat nilai sembilan koma lima. Itu berarti, kita impas."
"Enak saja. Ada yang lebih bagus darimu, tahu. Neji mendapat nilai sepuluh." ujar Hinata dengan nada sedikit menantang.
"Hei, dia tidak ikut taruhan kita." kata Sasuke.
Hinata tergelak. "Benar juga."
-X-
"Neji, menurut kamu, jatuh cinta itu apa?"
Neji mendongak, menatap Hinata yang melongokkan kepalanya dipintu kamarnya. Semasa kecil, mereka tinggal di rumah yang sama. Neji memperhatikan wajah Hinata yang mulai bersemu merah.
Hei, apa mereka yang masih kelas tiga SD sudah pantas jatuh cinta?
Melihat Hinata yang tersenyum tipis malu-malu, wajah Neji yang biasa berekpresi keras itu melunak. Bibirnya membentuk lengkungan senyuman.
"Emangnya kamu jatuh cinta sama siapa?"
"Kalau sama Sasuke gimana?"
Ucapan polos Hinata membuat Neji tertohok, terbatuk-batuk. Sasuke dan Hinata memang dekat, ia tahu, tapi tak menyangka ucapan itu keluar secepat ini. Dikiranya mungkin beberapa tahun lagi.
"Kenapa sama Sasuke?"
Hinata meremas-remas rambut pendeknya dengan gelisah. "Kayak di film-film. Suka sama-sama jadi jatuh cinta, jadi Sasuke yang paling sering aku ajak main. Dia manis, Neji, kadang-kadang dia kasih cincin yang dia dapet dari permen. Aku udah punya banyak!"
Lagi-lagi Neji tertohok.
"Sasuke juga pinter kok, emang sih, gak sepinter Neji." ujar Hinata. Padahal kenyataannya adalah, Sasuke hampir aja berada ditingkat terbawah kalau baik Hinata maupun Neji enggak meminjamkan hasil berbagai tugas dan PR yang menaikan nilai rata-ratanya.
"Kamu masih terlalu kecil Hinata. Aku juga." ucap Neji. "Kamu enggak inget kalau ayah pernah bilang enggak boleh pacar-pacaran?"
Hinata semakin merah wajahnya. "Enggak sekarang, Neji... nanti! Tapi kamu juga lagi deket dan suka main sama anak yang dicepol dua itu kan?"
Neji merasa terpojok. Dialihkannya wajahnya, sibuk menulis.
"Siapa namanya? Itu, yang anak kelas sebelah."
"Ten-ten." ucap Neji datar, nyaris tanpa ekspresi.
"Iya! Itu!" seru Hinata kegirangan. "Kamu juga jatuh cinta, kan?"
"Enggak!" suara Neji meninggi, tegas, tapi tetap tanpa ekspresi yang dapat dijelaskan. "Itu cuman temen deket buat main bareng. Kamu sih mainnya sama Sasuke mulu, dan aku tertinggal."
Hinata mengerucutkan bibirnya. "Terserah kamu, deh."
-X-
"Hinata, kamu tau gak, sekarang lagi banyak yang suka main nikah-nikahan loh." ucap Sasuke. "Kita main itu juga, yuk."
Hinata melongo. "Gimana cara mainnya?"
"Nanti kita gandengan, terus aku pakein cincin, dan nanti ada yang ngasih kita bunga." ujar Sasuke senyumannya melebar.
"Kamu kan udah sering kasih aku cincin."
"Tapi aku belum pernah pakein."
"Kita mau main dimana?"
"Di rumahku aja, deket kolam. Kan bagus banyak pohon-pohon."
Hinata tersenyum. "Iya. Nanti aku akan ke rumah kamu ya."
-X-
"Ne, ayo ikut aku! Aku mau main nikahan sama Sasuke." Hinata menyibakkan yukatanya yang berwarna biru keunguan. Senyumannya melebar. Rambutnya disisir rapi dan diberi jepitan berbentuk kupu-kupu disisi kiri dan kanan kepalanya.
"Kenapa pake yukata?" tanya Neji tak mengerti.
"Kan kalo mau nikah harus rapi. Ayo, Nejii.. kerumah Sasukee..."
Neji menganggukan kepalanya, mengikuti Hinata yang berlari-lari kecil menuju rumah Sasuke.
Rumah Sasuke tak jauh dari rumah mereka. Hanya berjarak beberapa langkah.
Dan, rumah Sasuke tampak ramai.
Itu lantas membuat Hinata dan Neji bingung, karena biasanya rumah itu tampak sepi. Orang berlalu lalang mengangkat barang-barang.
Sasuke keluar dari balik pintu pagar, matanya sedikit melebar melihat Hinata. Dia menghampiri Hinata sambil tersenyum. "Gadis kecil, kamu cantik."
Hinata tersenyum. Tapi sejurus kemudian, senyuman gadis kecil itu memudar. "Rumah kamu kenapa?"
"Iya, Sasuke. Enggak biasanya." komentar Neji akhirnya.
"Aku akan pindah rumah. Masih di Jepang, tapi aku juga gak tahu dimana. Emang dadakan sekali."
"Pindah rumah doang?" tanya Neji memastikan.
"Iya, pindah rumah doang."
Sasuke menarik tangan Hinata. "Ayo, Hinataa. Kita main nikah-nikahan dulu sebelum aku pindah rumah."
Neji mengikuti langkah mereka menuju taman rumah itu. Hanya taman, yang mungkin terasa senyap dibandingkan tempat lain yang begitu porak-poranda.
Sasuke mengeluarkan cincin dari saku celananya. Cincin yang tak berbeda dari cincin yang biasa ia berikan kepada Hinata. Berwarna kuning keemasan dengan kristal warna putih kecil, yang mungkin akan karatan jika terkena air terus menerus. Maklum, cincin hadiah dari makanan ringan... tak mungkin bertahan lama kecuali enggak dipakai.
"Hinata, aku suka kamu." Sasuke mengatakannya lambat-lambat.
Hinata tahu, wajahnya bersemu merah. Jemari kecilnya dimasukkan cincin oleh Sasuke sama lambatnya dengan nada suaranya barusan.
Neji melihatnya sampai ternganga lebar, namun beberapa saat kemudian dia dapat mengontroli emosinya. "Sasuke... Hinata jatuh cinta sama kamu juga, loh!"
"Ssstt!" Hinata berkilah, senyumannya mulai tampak.
Jemari Sasuke dan Hinata bertautan malu-malu. Keduanya memiliki wajah yang memerah layaknya tomat.
"Neji, kasih kami bunga dong. Jadi kamu saksi kalo kami nikah."
Neji baru mau beranjak untuk memetik bunga, Sasuke baru mau mengecup pipi Hinata, Hinata baru mau mengucap perkataan suka pada Sasuke, suara ibu Sasuke memecah pikiran tentang apa yang mau mereka lakukan masing-masing.
"Sasuke, kita harus berangkat!"
"Aku harus pergi dulu. Tapi kita masih bisa sering ketemu kok."ujar Sasuke yang melihat wajah muram Hinata yang tiba-tiba. Perlahan, Sasuke melepas tautan tangannya.
"Dah, Hinata. Neji." ujar Sasuke, memberi senyuman terbaiknya. Dia berjalan mundur sesaat, kemudian berbalik dan berlari keluar rumah.
Sejurus kemudian, tangis Hinata pecah. Meraung, keras, seperti baru kehilangan satu buah permen raksasa. Neji mendekati Hinata, memeluknya. Mendekapnya erat-erat sampai tangis itu terhenti.
Malam hari, Hinata masih dapat tersenyum tipis, raut wajahnya terlihat kaku dan sedih.
Esok harinya, saat Hinata tak mendapati Sasuke di sekolah dan rumahnya, tangis Hinata pecah lagi. Nyatanya, Sasuke bukan hanya pindah rumah. Tapi juga sekolah. Tepat seperti yang diduga Neji sebelumnya.
Terus menerus, selama beberapa waktu. Neji memeluknya, mendekapnya erat, menemaninya selalu. Ia tetap tinggal di rumah Hinata, walau keluarganya telah membeli rumah Sasuke untuk ditinggali agar tidak terus menerus menumpang di rumah Hinata.
Terus menerus, sampai Hinata sudah cukup besar hingga melupakan sosok Sasuke dan mengganggap tak ada artinya lagi.
Tetapi sayang itu hanya berlaku untuk sesaat.
-X-
*menghela napas*
*menghembuskannya pelan-pelan*
Akhirnya! Akhirnya kelar juga ceritain masa lalu mereka... yah, walau baru setengahnya saja... setengah? Ya! Setengah! Kisah masa lalu mereka enggak sesimpel itu, kawan! Sudah kukatakan kan, kalau ideku biasanya ngejlimet biar ngerasa seru? Karena menulis untuk dirimu sendiri dulu, baru untuk publik. Kalau diri sendiri aja merasa gak seru, gimana mau publik bilang seru?
Oke, hmp. Maaf, maaf... terlalu antutias sampai ngomong asal nyeplos dan terkesan sombong, mungkin? Lagi pula kalau hanya ini saja... gak sesuai summary, dong? Kan pada summary ada istilah 'berkali-kali' makanya mau memperkuat perkataan itu... kan nyesek kalau summary dan isinya beda. *pernah* betul?
Terima kasih telah membaca! Silahkan ke chapter berikutnya... baca sampai aku menamatkan kisah ini, ya
Ps. Padahal sama sekali belom kepikir endingnya...
