Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter 6

Beberapa tahun kemudian, kala itu musim dingin. Salju turun perlahan keberbagai tempat-jembatan, atap rumah, sisi jalan-dan melumer kemudian.

Berjalan diatas tumpukkan salju membuat bekas sepatu anak lelaki berumur belasan tahun itu tampak nyata. Walau sudah lama tidak mengunjungi tempat ini, karena tak ada yang berubah dari yang terdahulu, anak lelaki itu dapat dengan mudah menemukan tempat yang ingin dikunjunginya.

"Hinata... Hinata..."

Dia mengetuk pintu rumah Hinata dengan keras.

Sreek...

Hinata membuka pintu. Gadis kecilnya membuka pintu.

"Kamu..."

Mata Hinata tampak membesar. Tampak tidak mempercayainya. Anak kecil yang dulu dikenalnya sekarang tampak sedikit lebih dewasa. Dadanya lebih membidang dibanding dahulu. Dan ia yakin suaranya juga telah berubah, melihat jakunnya yang lebih menonjol dibanding dulu. "Sasuke."

Anak lelaki itu, Sasuke, tersenyum. Telinganya tampak memerah untuk beberapa saat. "Kamu udah gede, gadis kecil."

Hinata mengangguk. Dugaannya tepat. "Kukira kamu gak akan dateng lagi. Kamu kemana aja selama ini?"

"Maaf, Hinata. Tapi aku ikut ayahku yang bekerja berpindah..." ujar Sasuke. "Aku juga tak tahu kalau pindah sejauh itu."

"Iya... aku... maafin kamu, kok." kata Hinata. "Sudah lama aku memaafkanmu, walau aku tidak yakin kamu akan kesini."

Sasuke tersenyum. "Tentu. Aku pasti tahu cara untuk dapat menemuimu."

-flashback end-

-X-

Sasuke berjalan keluar kelas, koridor kelas yang tampak sedikit sepi. Dari kejauhan dia memandang ke jendela kelas Hinata, dan gadis yang ada dibaliknya.

Sejenak. Hanya beberapa detik.

Sesaat kemudian, ia pergi, berlari menjauh, membiarkan kakinya sendiri yang membawanya pergi.

-X-

-Flashback-

"Kenapa kamu masih saja pergi menemuinya?!" pertanyaan Neji lebih terdengar seperti pernyataan. Suaranya sedikit menukik tajam, persis didepan wajah Hinata, dan Sasuke yang berdiri disisi gadis itu. "Jangan dekati Hinata lagi!"

"Apa salahnya, Neji, jika dia mau berpulang? Toh, tempat lahirnya memang disini... Tokyo." Hinata berkilah pelan, berharap Neji mengontrol emosinya sedikit.

Neji mendengus. "Tapi kamu... apa kamu lupa berapa banyak air matamu untuknya? Apa kamu lupa akan sakit itu? Semua gara-gara cowok itu!"

Sasuke menundukkan kepalanya, sedikit tersinggung, walau mungkin itu memang benar.

"Sasuke, jangan jadi pengecut. Coba katakan sesuatu!"

Hinata berdeham keras. "Cukup, Neji! Semua itu sudah berlalu, dan saat itu kita masih kecil! Aku masih terlalu sensitif dan dia bahkan tak tahu apa-apa."

"Aku memang salah, Hinata." ujar Sasuke pelan tetapi tegas. "Namun setidaknya aku telah meminta maaf, Neji!"

Hinata menghelakan napasnya. "Kamu terlalu overprotektif, Neji. Bagaimana jika adil, kita lakukan suatu pertandingan."

"Pertandingan apa?" tanya Neji dan Sasuke nyaris bersamaan, membuat keduanya seketika itu saling mengalihkan pandangan.

"Kalian ingin tanding apa?"

"Basket."

"Ilmu Umum."

Hinata terkekeh mendengarnya. "Kalau begitu, lakukan keduanya. Dari sana kita akan lihat, siapa pemenangnya. Bagi yang kalah harus mengikuti pendapat si pemenang. Jika Neji menang, maka maaf, Sasuke, kita tak boleh bertemu lagi, dan jika Sasuke menang..."

"Kamu akan menjadi kekasihku." ucap Sasuke datar. Namun ketegasan jelas terasa dari suaranya.

Hinata menoleh, matanya membesar. Jantungnya berdegup cepat. Wajahnya bersemu. Ditambah lagi ketika dia teringat masa kecilnya kala Sasuke mengajaknya bermain nikah-nikahan, wajahnya semakin merah.

"Deal?" tanya Sasuke, matanya menatap tajam Neji. Mengulurkan tangannya.

Neji yang sedari dulu memiliki sikap tak mau kalah mengangguk, menjabat tangan Sasuke.

Mendadak Hinata bingung harus bagaimana. Memang dirinya yang merencanakan... namun semua itu lepas dari pikirannya, berbeda dari yang terpikir olehnya.

-flashback end-

-X-

"Sedang apa disini?"

Langkah Sasuke ternyata membawanya pergi ke klinik sekolah yang jauh dari kelas-kelas, dan sepi dari keramaian. Dipandangnya gadis bercepol dua dengan mata cokelat yang bergitu cerah itu. Pakaian seragamnya dilapisi oleh sebuah sweater warna putih salju dengan lambang PMR disudut kanannya.

"Sedang apa duduk di... bangku ruang tunggu klinik?" tanya gadis itu lagi.

Sasuke berdeham ringan. "Aku... hanya lelah."

Dan benar, ia telah lelah akan semua yang terjadi ini. Lelah karena tiba-tiba diliputi perasaan gamang oleh ucapan Neji. Mungkin dulu dia telah mengalami hal yang sama, namun dulu dan sekarang berbeda. Dulu ada Hinata yang jelas-jelas membelanya, tetapi sekarang, Hinata mungkin tak akan membelanya karena Hinata telah melupakan(tepatnya tak sengaja melupakan) segala tentangnya.

Bahkan perlahan ia ragu, apa Hinata akan bersikap ramah padanya apa bila Hinata mengingatnya. Mengingat kepergiannya yang tiba-tiba...

"Apa kau merasa tak enak badan?" tanya gadis itu. "Kalau iya, ke klinik aja, istirahat."

"Boleh." Sasuke mengangguk, bangkit berdiri dari kursi kayu yang berada didepan klinik. Mengikuti gadis itu masuk kedalamnya.

-X-

Melalui jendela kelas yang mengarah ke koridor sekolah, Hinata mencari sosok itu. Sosok Sasuke. Entah bagaimana dirinya merasa kehilangan, merasa... rindu. Mungkinkah, dalam waktu beberapa hari ia merindukan Sasuke? Walau Sasuke mengaku jika lelaki itu adalah teman semasa kecilnya dan ia berharap benar, pikirannya seakan berkata, lelaki itu tidak baik.

Entah mengapa.

Sungguh, sedikitpun ia tak ingat tentang lelaki itu. Meskipun sudah berusaha mengingatnya berkali-kali, Hinata tak dapat mengingatnya, bahkan yang ada kepalanya terasa pusing.

"Hinata!"

"Sakura. Kau sudah selesai makan?" tanya Hinata. Sakura baru saja ke kantin dengan yang lainnya dan dia merasa jika tak mungkin Sakura bisa makan hanya dengan waktu beberapa menit saja, belum ditambah waktu untuk bolak-balik kelas-kantin.

"Aku lupa membawa uang hari ini." jawab Sakura. "Hei, sedang apa nangkring di jendela seperti itu?"

Hinata tersenyum kecil. "Yah... iseng."

"Mau ke klinik?" tanya Sakura sambil tersenyum lebar. "Kita bisa mendapat beberapa makanan kecil. Klinik selalu penuh makanan."

"Memang petugas disana mau memberikannya?" tanya Hinata.

"Siapa tahu?" ujar Sakura, mengangkat kedua bahunya. "Bagaimanapun tahun lalu aku pernah menjadi anggota klub kesehatan, kerjaannya ya stay di klinik. Biasanya kalau minta kesesama murid lebih mudah, apa lagi kalau kita udah kelas tiga, angkatan tertua di sekolah."

Hinata mengangguk setuju. Dia menutup jendela kelas, kemudian keluar dari kelas dan mengikuti Sakura menuju klinik sekolah.

-X-

"Sepertinya aku pernah melihatmu." gadis bermata cokelat tersebut mengaduk teh di gelas kaca yang tersedia di klinik. Kemudian menyodorkannya kepada Sasuke yang menyerngit heran.

"Oh ya?"

"Siapa namamu?" tanya gadis bermata cokelat itu.

"Sasuke."

"Ah! Ternyata aku memang pernah mengenalmu. Aku Tenten, pernah sekali sekelas di primary school. Ingat?"

Sasuke menggeleng.

"Jangan katakan kalau kamu kayak Hinata yang lupa ingatan." ujar gadis bermata cokelat itu, um, Tenten.

Sasuke langsung membesarkan matanya. "Kau kenal Hinata, ya?"

"Tentu saja, sudah kukatakan aku satu primary school denganmu, berarti juga dengan Hinata." kata Tenten, suaranya sedikit ketus sekarang.

"Hmp... kau tahu tidak, mengapa Hinata bisa... amnesia?" tanya Sasuke.

"Aku tidak tahu dengan pasti. Aku kan, bertemu lagi dengannya saat orientasi siswa di high school, dan saat itu Hinata sudah amnesia. Neji bilang kalau kecelakaannya saat liburan sekolah, tetapi menurutku tidak hanya sekedar itu. Sepertinya Neji menyembunyikan sesuatu dibaliknya. Maksudku yah, masa sih, orang terdekat dengan Hinata, enggak banyak tau soal kecelakaan Hinata saat kutanya berbagai hal mengenainya?" ujar Tenten panjang lebar. "Ada yang ganjil, kurasa."

Sasuke mengangguk setuju. Tenten yang lumayan bawel ini ternyata membuatnya ketahui banyak hal. "Iya. Itu sedikit aneh, memang."

Kemudian, dua orang gadis masuk kedalam klinik tanpa diundang. Sakura dan Hinata. Yang seorang berwajah ceria, yang seorang berwajah khawatir.

"Hei... sedang apa disini?" suara Sakura meluncur begitu saja ketika melihat Sasuke, yang pandangannya menuju pada gadis dibelakang Sakura, Hinata.

"Tadi aku merasa kurang enak badan." jawab Sasuke dengan wajah datar. Tak mau terlihat manis jika Sakura yang menyapanya.

Tenten menatap dua gadis itu dengan tatapan garang, emosi yang ditahannya melonjak tiba-tiba. "Kalian ngapain disini? Kalau nggak sakit, nggak boleh kesini."

Hinata tersenyum kecil. "Tenten, kami lapar. Bagi sedikit makanan klinik ya? Kue kering atau teh, misal."

Sakura langsung mengamit lengan Hinata dan menatap dengan tatapan kau-kenal-cewek-klinik-ini?

"Oke." Tenten mengangguk pasrah. Walau bukan dirinya yang setiap hari menjaga klinik, walau bukan dirinya yang membeli makanan di klinik, tetapi dia tidak pernah bisa menolak permintaan gadis bermata lavender itu. Tenten segera membuka laci persediaan makanan klinik, dan mulai membaginya beberapa.

Sementara Sasuke, masih termangu. Penasaran tentang ucapan Tenten. Tentang apa yang (jika ada) yang disembunyikan. Tentang alasan semua yang terjadi ini.

Sasuke tidak terbiasa menjadi pihak yang tak tahu apa-apa.

Tetapi, hanya ada satu pertanyaan yang terlintas dibenaknya sejak tadi.

Apa alasan Neji menutupi semua hal ini? Sekalipun untuk kebaikan Hinata, Sasuke merasa tak perlu karena yah... sekeras apapun Hinata mengingat, gadis itu tetap tak ingat dan justru merasa sakit kepala. Seharusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sasuke juga merasa Hinata tak sebodoh itu percaya akan masa lalunya yang diceritakan kepadanya, teringat saat gadis itu sempat menunjukkan mata ragu padanya.

Ini... membuatnya ingin tahu.

Ia merasa, alasan Neji bukan hanya untuk menjauhkan Hinata dari masa lalu kelam yang dibuatnya.

-X-

Fyuh! Setelah sakit selama dua hari, akhirnya kelar... hahaha. Hm... ceritanya makin rumit ya? Atau perasaanku doang? Karena kok, semakin hari semakin ribet mau nyelesein satu chapter... T,T tapi tak apa! Jujur, walau sempet stres juga mikirin lanjutan yang bagus kayak apa, aku menikmati semua ini

Terima kasih telah membacanya sampai sini. Terus membaca ya! Sepertinya untuk ngetik kata-kata penutup seperti ini(apa sih istilah kerennya? :p) udah bikin mata merem melek...

Terus ikuti kisahnya ya :D