Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 7
"Hei, Hinata!"
Sasuke berlari, menyerukan suara itu keras sampai gadis yang dipanggilnya-dan disebelahnya, menoleh. Setelah berhasil menyusul, ia mengulas senyum.
Sakura menyengir kepada Sasuke, kemudian kepada Hinata. "Aku duluan, deh..."
"Eh Sakura..." tahu-tahu Sasuke menggenggam pergelangan tangannya. Mencekal Hinata agar tak pergi. Ia hanya dapat menatap punggung Sakura yang menjauh... lalu kembali menatap Sasuke.
"Ada apa?"
"Aku rindu padamu."
Dan itu benar. Hanya berpikir untuk jauh dari Hinata sekali lagi membuatnya merasa rindu. Rindu dengan senyum sedih Hinata.
Kamu cantik dengan senyum itu.
Wajah Hinata berubah merah.
"Aah. Aku juga rindu padamu."
Sasuke tersenyum. "Oh ya, minggu ini kelas memasak akan memasak apa?"
Senyum Hinata memudar. "Klub itu terlalu sendikit anggota... jadi sebenarnya kemarin itu adalah hari terakhir."
"Sayang sekali... gimana kalau kita protes saja?" tanya Sasuke, lebih terdengar seperti usulan.
"Jangan. Tak akan ada yang mau. Toh, hanya aku, Sakura, Ino, dan Tenten walau dia sering tak ikut karena harus berada di klinik diwaktu yang hampir bersaman." kilah Hinata.
Sasuke menghela napas. "Baiklah, hmm... Tenten ikut dua klub?"
"Begitulah. Mengapa? Kau tertarik padanya?"
"Tidak." ucap Sasuke cepat.
"Baguslah. Neji menyukai gadis itu." ujar Hinata, kemudian tertawa. "Sering kulihat Neji memperhatikan Tenten."
"Neji dekat dengan Tenten?" tanya Sasuke, lagi.
"Tidak juga. Rasanya Neji hanya cinta sepihak. Dia tak pernah mengungkapkan hal itu sedikitpun." jawab Hinata, tanpa curiga sedikitpun atas pikiran Sasuke.
Aha. Sasuke tahu rencana baru dan diharapnya kan berjalan lancar nanti. Semoga rencananya ini ada gunanya.
-X-
Tenten menarik sebuah buku dari antara buku-buku kesehatan. Buku itu buku resep kue berbagai bentuk, rasa, dan bahan yang berbeda. Sudah lama dia ingin mencoba resep dibuku tersebut, tetapi sayangnya dia selalu tak sempat. Saat dia mau ikut klub memasak... tahu-tahu Sakura, Ino, dan Hinata sedang siap dengan resep lain.
Suara khas pintu klinik membuatnya menoleh, menatap seorang lelaki yang istirahat tadi juga datang kemari.
"Kau tahu kalau klub memasakmu akan ditiadakan karena sedikitnya anggota?" tanya Sasuke.
Tidak. Tenten tak tahu itu. Bahkan Sakura, Ino dan Hinata tidak mengatakan kepadanya. Di kelas mereka tak mungkin mengobrol. Istirahat dia sering bertugas.
"Aku bisa saja mempertahankan klub itu."
"Dengan cara apa?" tanya Tenten, suaranya memang terdengar biasa, tapi dari tatapannya-kau bisa membayangkan mata cokelat yang menatap begitu tajam.
"Aku bisa melakukannya-dan itu mudah." ujar Sasuke. senyumnya terlihat meyakinkan. Membuat getir hati Tenten secara perlahan.
"Kau mengharapkan sesuatu dariku." kata Tenten. "Aku bukan gadis yang begitu lugu sampai tak tahu pikiranmu."
"Ya. Kau benar. Aku punya satu permintaan yang hanya kau yang bisa melakukannya. Karenanya, aku sangat berharap padamu. Aku kan kabulkan permintaanmu-apapun-termasuk mempertahankan klub memasak." ucapan Sasuke terdengar begitu serius.
Tenten tercekat. Sejurus kemudian, dia berkata pelan. "Apa kau bisa, mengeluarkan aku dari ruangan klinik ini? Aku tak ingin bertugas disini lagi, aku lelah jika aku bertugas hanya karena orangtuaku yang dokter. Karena guru biologiku yang bilang aku pintar dalam bidang medis padahal tak sama sekali. Kau bisa?"
"Aku bisa. Sebagai gantinya, kau bisa, kan, mendekati Neji dan mencari tahu apa yang disembunyikannya? Kau sendiri yang mengatakan ada sesuatu yang disembunyikannya. Segala sesuatu tentang Hinata yang disembunyikannya."
Tenten tertegun. Dia menatap Sasuke. Pada matanya.
Dari matanya, Tenten tahu, Sasuke begitu mencintai Hinata...
Tenten memang tak dekat dengan Hinata sejak dulu, walau mengenalinya karena akur dengan Neji. Mungkin, dia bisa mengembalikan waktu seperti dulu. Akur dengan Neji. Sering mengerjakan tugas bersama walau Neji tak pernah butuh siapapun saat mengerjakan tugas. Untuk sesaat, Tenten mau kembali kemasa lalu. Sebelum kelulusan yang mungkin memisahkannya nanti.
"Jadi? Kau bisa lakukan satu hal itu?" tanya Sasuke tegas.
Tenten mengangguk.
Agar dia bisa menjauh dari kehidupan klinik.
Agar dia bisa seperti kembali kemasa lalu.
Sesulit apapun itu nanti, Tenten mau mencoba. Sekalipun mungkin ia akan gagal beberapa kali.
-X-
Sasuke berbaring diatas tempat tidurnya. Dia hanya menghela napas tanpa melakukan apapun-sehingga dikamarnya hanya terdengar deru napasnya.
Hatinya merasa seperti kembali bersaing dengan Neji dalam konteks yang sama sekali berbeda. Sasuke memejamkan matanya sesaat, berusaha mengingat.
-flashback-
Sasuke merasa deru napasnya yang tak beraturan. Seluruh emosi merayapi tubuhnya. Senang bermain basket, kesal karena Neji terus menyamai kedudukannya, marah karena gak bisa mengungguli Neji.
Staminanya nyaris terkuras. Ia tidak menyangka sama sekali jika Neji bisa bermain basket. Jika Neji menang dalam permainan basket ini, maka tamat sudah hubungannya dengan Hinata. Bahkan temanpun tak dapat. Dipertandingan sebelumnya, cerdas cermat bermata pelajaran ilmu umum, ia telah kalah.
Setidaknya, dia harus menang agar kedudukan seri. Setidaknya itu akan lebih aman.
"Time out!" Sasuke berseru. Dilemparnya bola basket keluar lapangan, lalu menghampiri tepi lapangan, meraih tasnya dan menegak minuman air mineralnya beberapa kali.
Neji berada diseberang lapangan lain, melakukan hal yang tidak jauh berbeda.
Sasuke menghela napasnya, merasa tak aman. Dia membuka salah satu resleting kecil ditasnya, melihat kedalamnya.
Obat penambah stamina. Efek obatnya begitu cepat. Sesungguhnya, jika benar-benar pertandingan basket sesungguhnya, obat tersebut dilarang karena merupakan doping, bisa mempengaruhi hasil pertandingan.
Tetapi Sasuke tak ada pilihan lain. Ia tidak mau kehilangan Hinata. Makanya ia menegak tablet itu. Membuat staminanya pulih untuk beberapa menit kedepan.
-end flashback-
Sasuke menghela napas. Maaf, Hinata. Aku telah begitu egois, bahkan melakukan hal curang terhadap saudaramu. Aku tak mau kehilanganmu.
-X-
Tenten menghela napas. Kalau sudah lelah begini, dia hanya dapat berkunjung ke rumah Ino, menumpahkan segala-galanya pada Ino.
Dibandingkan Sakura dan Hinata, Tenten lebih dekat dengan Ino. Baginya, Ino bisa menemukan ide yang terkadang tak ia duga sebelumnya. Menemukan saran yang tepat untuk masalah.
"Sebenarnya aku bingung dengan apa yang dipinta Sasuke." Ino memang tidak sekelas dengan Sasuke, ia tak tahu kepribadian cowok itu seperti apa di kelas. Tapi, Ino terbiasa untuk mempelajari karakter seseorang dari kebiasaan-kebiasaannya. Sehingga membuat sekali saja berinteraksi dengan seseorang, ia bisa tahu jalan pikiran orang itu.
Tetapi kali ini, rasanya begitu sulit mengerti jalan pikiran Sasuke. "Seharusnya, jika Hinata benar menyukainya, itu bukan masalah. Apapun yang terjadi, Hinata akan berpulang padanya. Kulihat, Hinata sering menemui Sasuke."
Hening. Tenten tidak tahu harus menanggapi bagaimana.
"Setelah kudengar ceritamu, sepertinya... dia ingin dekat dengan Hinata, tapi..."
"Neji menghambatnya."
"Itu benar. Dan dia ingin mencari kelemahan Neji melaluimu, Tenten."
Ucapan Ino ada benarnya juga. Tenten menundukkan kepalanya. "Jadi, apa yang kulakukan itu, benar atau salah, Ino?"
Ino bergeming. "Aku tak tahu."
Tenten menghela napas, berat.
"Jika kamu melakukannya untuk dirimu sendiri, mungkin itu salah." gumam Ino. "Tetapi jika untuk orang lain, Hinata... mungkin itu benar."
"Karena bagaimanapun Hinata pihak yang tak tahu apa-apa tentang masa lalunya, sedangkan Neji dan Sasuke bagian dari masa lalunya yang sekarang terlihat bermusuhan. Semua keruwetan ini seharusnya diluruskan." lanjut Ino.
-X-
Some people change. Some people don't.
Bagi Neji, Sasuke don't.
Sasuke dari dulu tidak berubah. Tetap memuakan seperti dulu. Suka menghilang. Suka mendekati Hinata. Dan yang terpenting, suka membuat Hinata jatuh cinta.
Akhir-akhir ini, Hinata terlihat seperti dulu.
Mengunjungi kamar tidurnya. Menganggu dirinya saat sedang mengerjakan PR... dengan cerita-ceritanya tentang Sasuke.
"Kurasa aku menyukainya." ucap Hinata, wajahnya bersemu merah. "Tetapi entahlah... aku merasa nyaman dengannya, dan aku ingin dia selalu ada."
Neji tertegun. "Oh, tidak..."
Dan kini Neji tahu. Hinata juga don't. Tak berubah.
Hinata tetap jatuh cinta.
Dan Neji tidak bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta lagi pada orang yang sama.
Karena, ia juga seperti itu.
-X-
Fyuh! Setiap kali selesai membuat sebuah chapter, aku selalu menghela napas dan mengatakan, akhirnya... apa lagi yang bisa kutulis selanjutnya?
Jalan cerita ini mengalir begitu saja... tanpa ada sesuatu yang membuatku "oh! ini bisa ditambahkan pada fanfict!" tidak, kali ini tidak seperti itu. Chapter 7 ini sesungguhnya agak rumit dibuat, dan entah mengapa, setiap menyelesaikan kalimat-kalimat di fanfict ini aku merasa deg-degan.
Aku sedikit menambahkan kemampuan psikologi pada diri Ino dichapter ini, sengaja agar dia terlihat sedikit menonjol, sehingga kehadiran namanya tidaklah sia-sia. Bagaimana menurutmu tentang karakter Ino kali ini?
About next chapter: mungkin aku akan mempair Tenten dan Neji. Tapi aku butuh saran. Menurut kalian, mereka dibuat menyatu menjadi pasangan atau tidak?
Terima kasih sudah membaca fanfic-ku! Silahkan kasih komentar, saran, pertanyaan pada review untuk membantuku menyelesaikan fanfict ini
