Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter 8

"Dia tak pernah mengacuhkanmu, Tenten." ucap Tenten terlebih pada dirinya sendiri. Rambut panjangnya yang berwarna cokelat baru dicepol separuh. Tenten suka dengan rambutnya yang dicepol dua. Menurutnya, itu membuatnya tampak imut. Dulu, ada juga yang berucap demikian.

"Kamu imut, deh."

Suara itu terdengar kemalu-maluan, diucap dengan nada rendah dan wajah kemerahan. Pemilik suara itu menggoyangkan kedua cepolannya lalu turun dan menepuknya pelan.

Tenten menghela napasnya. Mencepol lagi separuh rambutnya, memandang dirinya di cermin, wajah yang tak jauh berbeda dengan masa sekolah dasar dulu. Tetapi Neji yang sekarang dikenalnya tampak mengerikan. Dia terlihat mengikat diri Hinata.

Tenten ingat kapan Neji terlihat demikian. Sejak Hinata kehilangan teman bermainnya, Neji mulai mengikat diri Hinata, mengaturnya, membuat Hinata tak bisa berkehendak sesuai hatinya. Mulanya Tenten mengira, kelulusan sekolah dasar juga merupakan akhir sikap Neji tersebut. Tapi ternyata saat pertama bertemu di high school, Neji masih seperti itu.

Tampak lebih mengerikan karena... Hinata juga lupa ingatan.

Membuat Neji semakin bisa membentuk Hinata sesuai keinginannya.

Bagi Tenten, itu mengerikan. Siapa yang mau diatur seluruh hidupnya oleh orang lain?

Permintaan Sasuke merupakan tujuan tersendiri baginya. Dia ingin Neji seperti dulu. Walau pendiam, hanya suka berkutat pada buku pelajaran... tetapi senyumannya yang malu-malu terhadapnya, tingkah lugunya dihadapannya, membuat kenangan tersendiri untuknya.

Namun sekarang pertanyaannya adalah, apa ia bisa?

-X-

Hinata mungkin tak tahu ini mengenai apa. Jadi, dia hanya bisa mengira.

Sekalipun terkadang pikirannya berkata Sasuke pernah menyatakan Sasuke bukanlah orang yang sebaik ia kira, hatinya terus berkata sebaliknya.

Jantungnya berdebar keras mengingat lelaki itu, kemudian wajahnya terasa panas dan saat dia melihat dicermin, wajahnya telah bersemu merah.

Dan yang terpenting, Hinata selalu merasa rindu akan Sasuke.

Apa lelaki seperti Sasuke sangat berpengaruh untuknya? Apa ia telah benar-benar jatuh cinta?

Saat Hinata mengakuinya pada Neji, entah bagaimana dia mendapati tatapan Neji menyatakan tak suka. Mungkin hanya perasaannya yang terlalu sensitif, tetapi dia merasakannya demikian.

Hinata menyisir rambutnya kembali, menarik napas dan menghembuskannya pelan-pelan.

Terkadang, hanya bernapas dengan perlahan bisa membuat dirimu lebih lega.

-X-

"Ino!"

Sakura bergesa-gesa duduk dihadapan Ino, tersenyum lebar. "Klub memasak kita enggak jadi dibubarkan."

"Oh ya? Kenapa?" tanya Ino heran. Sejurus kemudian, dia teringat sesuatu. Tenten...

"Tenten yang memberitahuku. Dia masih dikoridor, tuh."

"Ah, ya." mendadak Ino merasa sedikit kaku. "Baguslah."

"Kok kamu keliatan gak seneng? Seneng dong..." ujar Sakura, senyumannya melebar.

"Iya, aku seneng kok." Ino menghela napas, lalu berdiri. "Sampai nanti ya, Sakura."

Sakura tentu menyerngit heran, memandangi punggung Ino yang semakin menjauh.

-X-

"Besok aku ikut klub memasak, ya."

Ucapan Sasuke tentu membuat Hinata tersentak, menatapnya tak percaya. "Gak mungkin..."

Hinata tertawa tanpa humor. Lalu dia melanjutkan, "Klub memasak udah bubar."

Sasuke membalas tawa Hinata tersebut. Kemudian menatap kedua mata Hinata dalam. "Aku serius. Sensei bilang seperti itu."

"Sensei siapa?"

"Hm... Kakashi-sensei."

"Oh."

Sasuke berdeham. "Aku boleh bergabung, kan?"

"Tentu saja, tak ada yang melarang." ujar Hinata sambil tersenyum. "Tapi yah begitu, tak ada yang membimbing kita sama sekali."

Sasuke mengangguk mengerti. Ia sudah tahu.

Semalam dia menghubungi kakeknya yang merupakan pengurus yayasan sekolah, meminta agar klub memasak akan terus bertahan. Well, sang kakek memperbolehkannya dengan satu syarat: Sasuke ikut dalam klub tersebut dan harus berusaha untuk meraih prestasi dari klub tersebut.

Dan, Sasuke memang berniat bergabung.

Semua mendadak menjadi terasa mudah. Kini, tinggal satu hal lagi...

-X-

"Tenten, tak kusangka kau serius."

Ino menatap mata cokelat Tenten, lama. Sampai akhirnya setelah sekian kali menghembuskan napas, Tenten mengukir senyumannya.

"Aku ingin Neji seperti dulu, Ino..."

"Bahkan saat kau tak tahu penyebab dia seperti sekarang ini?" tanya Ino, terperanjat.

Tenten mengangguk. "Tidak ada salahnya mencoba."

Ino kembali menghembuskan napas. "Tenten, kamu melakukan ini karena menyukainya, kan?"

Tenten tertegun. "Begitukah?"

"Iya. Benar, kan?"

Tenten menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Kurasa begitu."

-X-

Neji berdecak saat melihat Sasuke dan Hinata berjalan beriringan di lantai bawah. Dari koridor atas dia dapat melihat, bahwa Sasuke tidak berubah seperti yang ia inginkan. Mungkin ia harus mengalah. Mungkin ia harus melepaskan Hinata agar gadis itu bisa bersama-sama dengan Sasuke, sesuai hatinya yang tak pernah berubah sejak dulu.

Beberapa meter dari Sasuke dan Hinata, dia dapat menemukan gadis itu bersama temannya yang berambut pirang. Gadis bercepol dua dengan senyuman manis diwajahnya. Gadis bermata cokelat yang selalu menatapnya dengan pandangan lembut.

Gadis yang dicintainya... dulu dan sekarang. And never change.

Tetapi bagaimana dengan gadis itu sendiri?

Apa gadis itu pernah memandang kearahnya?

Apa gadis itu pernah memikirkannya?

Sudah berapa lamakah ia tak pernah mendengar suara gadis itu?

Sudah berapa lamakah ia tak pernah memanggil nama gadis itu?

Sejurus kemudian, pandangan mereka bertemu. Sama-sama menatap sendu dalam diam. Mengucap rindu dalam hati.

Neji berbalik, masuk kedalam kelas.

Sasuke yang telah pergi dari Hinata. Dan gadis itu yang ternyata pergi jauh ketika kelulusan.

Tapi ia memang tak bisa berdusta. Ia rindu pada Tenten... sangat.

-X-

Tenten mengarah pandangannya ke koridor lantai dua. Refleks, tanpa aba-aba.

Dan menemukan mata itu. Tatapan mata sendu yang seakan mengucap rindu.

Aku juga rindu padamu, bisik Tenten dalam hati.

Hanya sesaat, sampai pemilik mata itu berbalik dan pergi dari sisi koridor dan masuk kekelasnya sendiri.

"Tenten, kau dengar aku?"

Tenten terkesiap mendengar suara Ino. Lalu, Tenten hanya membalasnya dengan senyuman.

-X-

Kini, Ino, Sakura, Tenten dan Hinata berkumpul di ruang kelas mereka setelah pulang sekolah. Sesaat kemudian, seorang laki-laki masuk kesana.

"Aku belum terlambat, kan?"

"Tentu Sasuke!" Sakura menyahut antutias dan langsung disenggol Ino.

Hinata tersenyum kecil. Sakura memang seperti itu... terkadang gemas dengan orang berwajah tampan.

Tunggu sebentar. Hinata kini menganggap Sasuke tampan? Oh...

"Ini, sudah kubuat daftarnya, masing-masing bawa besok." ujar Hinata, lalu matanya menatap kearah Tenten. "Kamu serius kali ini akan ikut? Gimana dengan klinik?"

"Sudah ada yang lain, kok." sahut Tenten sambil tersenyum.

"Baguslah." Hinata membagi kertas yang berisi daftar bahan masakan yang harus dibawa besok. Telah dibagi olehnya sama rata, sama banyak dan harganya. "Besok kita akan buat dessert."

"Yes!" Ino bersorak. "Akhirnya buat dessert juga."

Sasuke tersenyum. "Kelihatannya seru."

"Tentu saja! Bukan hanya klub olahraga saja yang berprestasi dan seru. Memasak juga sama." kata Sakura. "Tetapi aku tetap heran. Bagaimana mungkin klub memasak bisa diijinkan lagi dalam sekolah? Waktu itu dibubarkan."

Hening. Tenten dan Sasuke berpandangan sejenak. Dan Ino memandang Tenten sebagai orang yang satu-satunya tahu dalam diam.

"Mungkin berubah pikiran." kilah Sasuke.

"Iya. Siapa tahu mereka tiba-tiba ingin berharap kita bisa berprestasi. Makanya, aku ingin kembali." ujar Tenten.

Jawaban yang membuat Sakura dan Hinata percaya.

Padahal, Sasuke, Tenten dan Ino, merasakan degup jantungnya yang demikian cepat secara tiba-tiba...

-X-

"Tenten."

Suara itu terdengar rendah, serak, khas seorang laki-laki yang telah dewasa. Tenten menoleh untuk melihat suara asing yang memanggilnya.

Oh, ternyata Neji... lain kali, ia mau menghapal suara ini baik-baik.

"Apa kabar?"

"Baik... Kau?"

Neji mengangguk. "Aku baik-baik saja."

"Hm, ada apa?"

"Mau pulang bareng?" tawar Neji.

Mata Tenten membulat. Ada apa dengan Neji sesungguhnya? Bahkan ia tak perlu untuk memulai, justru Neji sendiri yang memanggilnya.

Tenten mengangguk. "Boleh, rumah kita kan, memang sejalan sejak dulu."

Neji tersenyum. Dalah hati, Tenten tertawa miris.

Kapan terakhir kali aku melihatmu tersenyum, Neji?

Tenten berjalan bersisian dengan Neji. Langkah Neji yang lambat tak membuat Tenten terburu-buru, justru nyaman dengan langkah lambat ini.

"Tenten, aku tak akan mengucapnya dua kali."

Keringat mengalir dipelipis Neji, entah karena terik matahari musim panas atau perasaan gugup. Atau bisa jadi keduanya.

"Aku kangen kamu,..."

-X-

Pukul 22.32 malam. Dihari halloween.

Aku baru saja menyelesaikannya pada pukul sekian, dan merasa, wah, ternyata lama juga waktu yang kuhabiskan untuk menyelesaikan satu chapter ._.

Aku juga sedikit merasa heran, mengapa di chapter ini banyak sekali kubuat adegan Tenten, padahal tokoh utamanya adalah Hinata.

Hati kecilku mengatakan, sayang sekali jika karakter Neji dan Tenten tidak berkembang sama sekali, padahal keduanya lumayan menarik perhatianku(dan semoga kalian juga).

Neji yang takut jatuh cinta seperti sepupunya, Hinata.

Tenten yang jarang menyatakan tentang perasaannya sendiri.

Keduanya bila bertemu pada suatu celah waktu dan sama-sama mengucap rindu dalam diam... menenangkan sekali hatiku saat membuatnya.

Karena ada beberapa hal yang hanya bisa terucap dalam kata-kata, tapi ada juga beberapa hal yang hanya bisa dirasakan dalam hati.

Terima kasih telah membaca sampai sini ^^ sampai bertemu dichapter selanjutnya! Pertanyaan, kritik dan saran dapat dibalas pada review atau akun-akunku yang lain yang telah tercantum pada profil

Ps. Baca juga fanfict lainku yang telah update! Musim Semi dan Senja(NaruSaku) juga Bitter Sweet(KibaHina) *enjoying