Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter 9

"Kau ada acara pada hari ini?"

Sasuke yang memandang Hinata yang telah mengenakan tas punggungnya menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak. Emang kenapa? Mau ditemani belanja bahan buat klub besok?"

Hinata menggeleng, lalu tersenyum. "Mau temani aku ke rumah sakit?"

"Rumah sakit? Memang kau sakit apa?" tiba-tiba, Sasuke terlihat panik.

"Tidak..." Hinata terkekeh pelan. "Aku mau terapi agar ingatanku bisa pulih."

Sasuke menarik napas lega. "Kukira apa."

Mereka berdua mulai berjalan keluar kelas, bersisian. Hinata merasa wajahnya memanas, sekalipun dirinya yakin bukan kali ini saja dia melangkah bersisian seperti ini.

"Kenapa..." Sasuke juga terdengar sedikit kaku, tapi sedikitpun tak mau menjauh. "Kurasa baru hari ini ku dengar kau akan terapi."

"Yup. Aku baru saja mendapat upah dari membantu mengurus anak tetangga sebelah." ujar Hinata. "Upah yang lumayan, setidaknya cukup untuk sekali terapi. Aku baru dua kali terapi sejak kecelakaan itu."

"Kenapa tidak dilanjutkan? Kan, itu membantu ingatanmu pulih, gadis kecil."

Hinata tersipu. "Eng. Aku juga tidak tahu kenapa... hanya saja, orangtuaku enggan membiayaiku. Katanya, sudah banyak pengeluaran yang harus dibayar, dan tidak mencukupi untuk terapiku."

Itu bohong, Hinata. ucap Sasuke dalam hati. Uang sekolahmu diringankan karena ada aku yang memintanya pada pengurus yayasan dulu. Kedua orangtuamu juga bekerja di perusahaan bagus. Dan keluargamu hanya terdiri dari empat orang. Mana mungkin untuk terapimu tak cukup? Pasti ada alasan dibalik itu...

"Sasuke-kun, kenapa bengong?"

"Hah? Enggak... jika kamu butuh bantuanku, katakan saja." sahut Sasuke sambil tersenyum.

"Iya. Arigatou. Tetapi aku ingin berusaha sendiri untuk kesembuhanku."

"Kenapa?"

"Kenapa?" Hinata mengulang pertanyaan Sasuke, lalu tertawa pelan. "Karena aku ingin mengingat masa kecilku. Dimana ada dirimu didalamnya."

Kini giliran Sasuke yang tersipu, sudut-sudut bibirnya terangkat. "Baiklah, kutunggu."

-X-

Tenten terhenyak. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, napasnya tertahan seperti baru saja berlari jarak jauh. Mungkin ini karena Neji. Jika bukan Neji yang mengucapkannya, tidak mungkin ia seperti ini.

"Aku." Tanpa terasa keringat dingin mengalir dari pelipis Tenten. "Aku juga kangen kamu, Neji."

Ucapan itu terdengar cepat, diucapkan terburu-buru dengan perasaan kalut, campur aduk. Dan Neji tidak perlu waktu lama untuk menyadarinya.

"Mungkin kamu bingung mengapa aku berkata demikian... tapi hanya itu alasanku, tak lebih."

Tenten menghela napas. "Iya, aku tahu." tetapi bagaimana jika kamu menginginkan sesuatu yang lain, Neji? Aku ingin mencoba dekat denganmu untuk mencari tahu tentangmu. Tapi jika kamu dulu yang memulai interaksi kita, apa aku masih pantas untuk mencari tahu tentangmu?

"Hei, Tenten. Kau masih mau berdiri disana atau pulang bersama denganku?"

Tenten segera tersadar dari lamunannya, kemudian berlari menjajarkan langkahnya dengan Neji yang telah menjauh. Setelah berjalan berdekatan dengan Neji, Tenten bahkan tak tahu harus bicara apa.

Kata-kata yang pernah disiapkannya, seakan lenyap begitu saja.

Lagi-lagi, Neji yang memulainya.

"Kemana saja setelah kelulusan sekolah dasar dulu?" tanya Neji.

"Seperti biasa, aku melanjutkan sekolah di desa, tinggal bersama nenek. Aku belajar tentang kesehatan tradisional dengannya, walau aku muak dengan semua itu." jawab Tenten. "Kau sendiri?"

"Seperti biasa juga. Aku melanjutkan sekolah, belajar dan terus belajar." ujar Neji. "Bukankah tak ada yang perlu diubah?"

"Apa kau tidak jenuh dengan hal itu?" tanya Tenten, ucapan itu meluncur begitu saja tanpa dipikirkannya. "Aku saja misalnya, merasa jenuh sekali dengan ilmu kesehatan. Sekalipun keluargaku banyak yang berprofesi sebagai dokter, aku tidak menyukainya. Bau obat membuatku mual. Suntikan membuat bulu kudukku merinding. Darah membuatku gemetaran. Aku tidak menyukai semuanya."

"Sebenarnya, kamu ingin menjadi apa, Tenten?" tanya Neji.

"Chef." jawab Tenten tersenyum riang. "Aku suka sekali melihat acara memasak ditelevisi."

Ups, kau telah terlalu banyak bicara, Tenten. Pikir Tenten, mengumpati dirinya sendiri dalam hati.

"Aku kagum dengan orang yang memiliki cita-cita. Dari kecil aku hanya suka belajar, tanpa tahu apa yang aku lakukan nanti. Tak pernah terpikirkan olehku." ujar Neji sambil mengangkat kedua bahunya seakan tidak peduli.

"Kau harus memikirkannya."

"Aku tak punya waktu untuk itu." kilah Neji.

"Mengapa?"

"Mengapa?" Neji terdiam. Cukup lama sehingga membuat Tenten penasaran. Ia menarik napas panjang untuk mengontrol rasa penasarannya.

Ayolah Neji. Sebentar lagi pengujung jalan dan kita harus berpisah, pikir Tenten gemas.

"Itu... sedikit rumit." ucap Neji, membuat Tenten harus menahan napasnya agar tidak mendengus.

"Baiklah, bukankah kita harus berpisah sampai disini?" tanya Neji. "Kalau rumahmu masih tetap, kearah sana."

Tenten mengangguk. Benar, ia harus lurus sedangkan Neji berbelok kekiri.

"Kau butuh latihan banyak untuk menjadi chef, Tenten. Terakhir aku memakan masakanmu di kelas enam, itu tak enak."

Terlalu jujur, telalu menyakitkan. Tapi bagi Tenten, begitulah Neji. Sosok yang tak berbasa-basi dan langsung bicara apa adanya.

Dan, Tenten terharu Neji masih mengingatnya. Masakan pertamanya di kelas enam yang dia berikan kepada Neji yang Tenten baru tahu rasanya tak enak saat Neji mengembalikannya.

"Mata ashita, Tenten."

Tenten mengangkat sebelah tangannya, tersenyum menatap punggung Neji yang menjauh.

Sesungguhnya, alasannya ingin menjadi seorang chef jelas jika kamu gadis becepol dua itu ingin memasakkan masakan untuk Neji, kali ini enak dan tak seperti dulu.

-X-

"Hinata!"

"Oh, Neji." Hinata mengulas senyum.

"Kau baru pulang?" tanya Neji.

Hinata mengangguk. "Ya. Kau sendiri, mau kemana?"

"Hm, hm. Aku hanya mau pergi ke toko."

"Oh."

"Kau dari mana saja?" tanya Neji penasaran. Tepatnya, feelnya merasa tak nyaman.

"Berobat."

"Berobat?"

"Iya. Untuk kesembuhanku. Kau tahu sendiri... sudahlah, aku mau pulang. Capek. Belum lagi besok aku harus memasak di klub." ujar Hinata.

"Bailkah. Sampai jumpa."

Hinata berjalan menuju rumahnya, dan Neji berjalan sebaliknya.

-X-

"Mungkin terkadang, kau merasa seperti halusinasi, seperti sebuah ingatan yang tiba-tiba melintas. Mungkin, kau juga akan merasakan sakit kepala setelah teringat akan sesuatu."

Hinata menghela napas setelah tiba-tiba kepalanya berdenyut, hampir seluruh permukaan kepala, lalu menghilang.

Ia baru saja tidur, lalu bermimpi. Atau mungkin juga ingatan masa lalunya.

Disana, ia mengenakan sebuah yukata berwarna biru keunguan. Sasuke kecil tersenyum kepadanya, menggumamkan kata yang tak dapat didengar Hinata dimimpinya. Memberikan sebuah cincin mainan, lalu, dia Hinata merasa berdebar, dan dapat melihat rona merah pada Sasuke kecil.

Namun tiba-tiba saja semua ingatannya berubah suram. Kehampaan mengisi hatinya secara tiba-tiba, dimimpinya ia berlari mengelilingi sekolah, kompeleks tempat tinggal, mencari sesuatu yang tak dapat ditemukan. Lalu, sosok Sasuke kecil perlahan menjauh, menghilang... dan lenyap.

Saat itulah Hinata terbangun.

"Sasuke-kun." gumamnya ringan, seperti telah dilafalkan berkali-kali.

"Kalau kamu butuh dihibur, kalau kamu rindu padaku, kalau kamu ingin mendengar suaraku, telepon aku. Aku ada di nomor satu teleponmu."

Ucapan Sasuke sebelum mereka berpisah setelah ke rumah sakit terngiang kembali dibenaknya. Hinata meraih ponselnya, menekan nomor satu lama, sehingga terhubung dengan nomor Sasuke.

Semoga pukul delapan malam belum terlalu larut.

Seharusnya ia tidak tidur di sore hari sehingga terbangun malam-malam seperti ini.

-X-

Entah bagaimana, saat melamun, Sasuke teringat ucapan Neji yang sesungguhnya sudah lama ingin dilupakannya.

"Aku meminta permintaan yang sama dengan dulu. Jangan dekati Hinata."

"Dan membuatnya merasa sakit? Aku tak mau itu."

"Apa kau tidak tahu, kepergianmu yang tiba-tiba membuat Hinata begitu menderita? Kau tidak tahu semua itu!"

Sasuke memang ingin ingatan Hinata kembali, sungguh. Karena mereka memiliki memori-memori berdua, yang bagi Sasuke sangat berarti.

Tetapi terkadang, ucapan Neji yang seringkali membekas dipikirnya membuatnya meragu. Mungkin, Hinata merasa begitu kecewa saat ia pergi. Bukan hanya sekali, tetapi dua kali. Sasuke tak tahu itu sesungguhnya perasaan Hinata-tapi menurut perkataan Neji sepertinya itu yang terjadi. Sasuke pun menyiapkan mentalnya jika suatu saat ingatan Hinata pulih. Ia lebih ingin Hinata mengingatnya walau itu harus membuat Hinata membencinya.

Masalahnya, apa Neji benar hanya beralasan itu?

Alasan yang begitu simpel, tapi cukup membuat Sasuke heran seiring berjalannya waktu.

Apa pernah, keluarga Hinata yang sesungguhnya kaya dan bisa dikatakan elit itu tak ingin Hinata pulih? Bahkan, Hinata mencari uang sendiri untuk berobat.

Apa pernah, Neji membantu ingatan Hinata pulih? Kalau dia memang ingin Hinata pulih, ia harusnya membiarkan Sasuke mendekati Hinata walau Hinata kan terluka tapi...

Ah, rumit. Ada apa sesungguhnya?

Sudahlah. Jika Tenten benar, berarti alasan Neji bukan sekedar alasan.

Dan jika Tenten benar, ia sangat ingin tahu apa alasan Neji sesungguhnya.

Ponselnya berbunyi nyaring, dan dilihatnya nama dilayar ponselnya.

Gadis kecil.

Sasuke menarik napas, tersenyum, lalu mengangkat telepon. "Moshimoshi?"

"Ah, Sasuke-kun. Kukira kau tidak akan mengangkat teleponku."

"Tentu saja aku mengangkatnya," ujar Sasuke. Senyumannya melebar mendengar suara diseberang telepon. Hinata. "Ada apa?"

"Kau bilang, jika aku mau dihibur, jika aku rindu, jika aku mau mendengar suaramu, aku bisa meneleponmu, kan?"

Sasuke mengangguk. Sadar bicara ditelepon, dia bergumam. "Ya."

"Baiklah. Aku, meneleponmu dengan alasan semua itu."

Sasuke merasa dadanya berdesir halus. Ia jatuh cinta pada Hinata. Lagi, lagi dan lagi. Never change.

"Hinata, aku juga rindu padamu."

"Ah... Sasuke-kun."

"Ya?"

"Aku tadi teringat tentang masa kecil kita. Nggak begitu nyata dan hanya seperti mimpi pendek. Aku teringat saat kamu memberi cincin kecil." ujar Hinata diseberang telepon. "Kupikir, terapinya bagus juga."

Sasuke menganggukan kepalanya. "Ya, Hinata. Teruslah mengingat."

"Dan, Sasuke. Aku takut saat mengingat sesuatu hal yang lain. Tepatnya mungkin... sedih."

Napas Sasuke terasa sesak dan seperti berhenti sejenak, sebelum akhirnya Sasuke menyahut. "Ya...?"

"Dimimpi pendek itu, aku melihatmu menghilang saat aku mencarimu."

Kini bukan hanya napas. Tapi detak jantung.

Sasuke merasa seperti mati detik itu juga.

-X-

Hufft!

Hold You, berakhir sementara disini!

Ingin rasanya mengetik dua chapter Hold You setiap minggunya, namun akhirnya hanya dapat menyelesaikan satu saja, karena lagi dalam progress mengetik fanfict chapter lainnya juga yang berjudul: Musim Semi dan Senja(mungkin dari antara kalian, ada yang pernah membacanya?).

Aku lebih menyukai update seminggu sekali, sesuai dengan jadwal pergi ke warnetku. Biasanya, ditiap minggu ada perubahan pada review, yang terkadang membuatku terharu dan ingin segera menyelesaikan fanfict-fanfictku T.T

Terima kasih atas reviewnya ya! Membangunkan semangatku dan juga ada yang membuatku menambah ide buat cerita. Terima kasih atas sarannya, kuusahakan agar bisa tercapai...

Chapter 9 kali ini terinspirasi(sebenarnya sedikit sih) dari cerita Summer in Seoul karya Ilana Tan, tentang cara Hinata menelepon Sasuke. Dan ternyata, novel Winter in Tokyo karya Ilana Tan juga menceritakan tentang amnesia, loh(aku baru teringat setelah membacanya ulang). Yah, seperti itulah kira-kira behind the fanfict kali ini!

Hope: Semoga di chapter 10, aku bisa menemukan ide untuk mengungkapkan rahasia Neji yang memenuhi pikiranku belakangan ini :D #amin

Sekali lagi, terima kasih telah membaca sampai sini, atas review dan saran yang sangat berarti buatku :D

Terus baca chapter selanjutnya sampai ending, ya!