Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 10
"Oh, begitu, ya, gadis kecil?"
Hinata terdiam sejenak mendengar suara pelan Sasuke. Deru napas Sasuke bahkan terdengar jelas dipendengarannya.
"Iya. Aku pernah mengalaminya, atau itu hanya sebuah mimpi?"
"Kau... pernah mengalaminya."
"Benarkah?" Hinata tersenyum sejenak. Masa kecil itu terlihat romantis, dengan Sasuke memberikan cincin kepadanya. Ingin rasanya dia tertawa mengingatnya. Tapi, mengapa ada bagian yang tak mengenakkan? "Aku tidak menyangka kau seromantis itu, Sasuke."
"Hmp, itu kan hanya pikiran anak kecil." ujar Sasuke. "Aku suka padamu, gadis kecil."
Jantung Hinata berdetak cepat tiba-tiba. Wajahnya bersemu merah. "Ap... apa?"
"Aku sudah pernah mengatakannya padamu sewaktu kita kecil."
"Tap... tapi..." Hinata merasa napasnya sesak. "Dimimpiku... aku hanya... melihat dan tak... mendengar suaramu... seperti film dengan suara dipause."
"..."
"..."
"Gadis kecil," ucap Sasuke dengan nada tertahan. Deru napasnya masih terdengar. "Aku tidak bisa bilang aku main-main dengan ucapanku tadi."
"La... lalu?"
"Aku serius. Jadi, kau mau kan? Menjadi kekasihku?"
Hinata mengangguk. Tersadar berbicara di telepon, ia menyuarakan apa yang dipikirnya. "Tentu saja, Sasuke-kun."
Untuk sesaat, ingatan tetang Sasuke yang menghilang terlupakan.
-X-
"Neji! Ohayou!"
"Ohayou, Tenten."
Neji mengira Tenten takkan menyapanya. Takkan menegurnya. Ia sudah bertekad, hanya satu kali saja ia menemui Tenten, meungkapkan kerinduannya. Kini, ia merasa dadanya terasa lapang, bebas dari beban berat-untuk sementara.
"Apa kabar kau dengan Hinata?"
Neji menyerngitkan kening. "Maksudmu?"
"I remember this, kau tidak bisa jauh dari Hinata semasa ia kecil dulu. Kau malah semakin dekat dengannya saat terakhir kita bertemu." ujar Tenten ringan.
"Benarkah?"
"Ya."
"Kami baik-baik saja. Hubungan saudara yang tak banyak berubah." kata Neji, sesaat bingung dengan ucapannya sendiri.
"Oh."
Neji menghela napas. Kenapa tiba-tiba otaknya terasa lumpuh dan bingung harus bicara apa?
"Lalu, gimana keadaan Hinata sekarang? Maksudku, ingatannya."
"Kurasa tak banyak yang berubah..." sesaat, Neji terdiam. Kemarin Hinata baru saja berobat. Apa orangtua Hinata mulai membiayai Hinata untuk itu? Bukankah sudah ada kata sepakat? "Bukankah kau bisa menanyai padanya sendiri?"
"Ia begitu sensitif mengenai ingatannya." ucap Tenten. Neji tak sadar Tenten sedang mengamatinya sedemikian serius. Memperhatikan tiap ucapan, gerakan, yang dilakukan Neji. "Aku ingin peduli, tapi ia seperti tak ingin dipedulikan."
"Bukankah memang sulit mengingat kenangan yang telah lama berlalu? Kenangan tak baik, pula."
"Loh? Memangnya kenangan tak baik apa?" tanya Tenten, menatap Neji dengan tatapan lugu.
"Saat ia ditinggal Sasuke tentu saja." jawab Neji, seakan kalimat itu sudah terprogam diotaknya.
Tenten berdeham. "Tapi, kan, Sasuke telah kembali? Lagi pula itu masa lalu."
"Memang." ucap Neji. Otaknya masih terasa lumpuh.
"Hah. Aku lupa kalau kau selalu membayang dengan masa lalu." ujar Tenten, tersenyum penuh arti. "Aku duluan ke kelas, ya."
Membayang dengan masa lalu? pikir Neji. Tenten memang benar.
-X-
"Maaf, Hinata, aku belum membeli telur." ujar Sakura merasa bersalah. "Toko di dekat rumahku tutup kemarin.
Hinata mendesah, namun dia tetap tersenyum. "Baiklah, biar aku saja yang beli. Didekat sekolah ada, bukan?"
"Biar aku temani!" seru Tenten. Dia melirik kearah Sasuke, yang baru saja mau mengucap hal yang sama.
"Baiklah. Eng.. kalian buat saja apa yang bisa dibuat." kilah Hinata. ia menatap Sasuke dengan pandangan memelas, membuatnya salah tingkah.
Ino berdeham, "Tapi semua butuh telur dalam prosesnya, Hinata."
"Kami akan menunggu." ujar Sasuke.
Tenten mengamit tangan Hinata. "Yuk."
Mereka berjalan keluar dari pantry. Beriringan, dan sedikit terasa canggung karena sudah lama tidak mengobrol.
"Gimana kabarmu? Tentang ingatanmu, maksudku." ujar Tenten.
"Membaik." sahut Hinata. "Beberapa sudah kuingat, walau sedikit."
Tenten tersenyum. "Bagus, dong."
"Tunggu sebentar, Hinata. aku mau mengikat tali sepatuku." ujar Tenten.
"Aku duluan saja," ujar Hinata setelah melihat Tenten yang merundukkan kepalanya. Lalu ia segera berjalan tanpa melihat sekitarnya dan sebuah mobil melaju dengan cepat membuatnya terdorong kebelakang. Membuatnya jatuh terduduk, dan membentur batang pohon yang kebetulan berada dibelakangnya.
Tenten menjerit histeris.
Shocked.
-X-
Hinata merasa jiwanya melayang, melayang ke angkasa, melewati celah waktu.
Ia bisa melihat dirinya sendiri dari tahun demi tahun yang dilewatinya. Senyuman Sasuke. Tatapan mata Sasuke. Tangisannya saat Sasuke pergi, dan bukan hanya satu kali, namun dua kali.
Jiwanya merasa begitu sedih.
Neji yang memintanya untuk tidak memikirkan Sasuke terus. Menemaninya setiap saat. Sampai suatu ketika, ia melihat dirinya sendiri bertengkar hebat dengan Sasuke.
"Ini hidupku!" ia berseru kala itu.
Neji berdecak keras, semakin emosi. "Ya! Aku tahu, tapi hidupmu terlalu berarti untuk hanya memikirkannya!"
Hinata menangis saat itu. "Ia pernah kembali, aku yakin ia akan kembali lagi nanti."
"Kau!" Neji menguncangkan kedua bahu Hinata.
"Percayalah, Neji, ia akan kembali."
Neji berdecak keras, tanpa sadar mendorong Hinata sedemikian keras, membentur sebuah pohon besar yang ada dibelakang Hinata. Pelipisnya mengeluarkan darah segar.
Hinata masih ingat. Betapa sakit kepalanya saat itu.
Ia ingat sekarang. Ingat berbagai masa lalunya yang berputar-putar dimemorinya. Tapi kepalanya terlalu sakit untuk membuka mata. Ia ingin tidur lebih lama lagi...
-X-
Rumah sakit...
Ino berdeham disamping Tenten. "Bagaimana dengan perjanjianmu dengan Sasuke?"
"Entahlah Ino, dia sudah membantu agar klub kuliner tetap jalan, tapi aku tidak memberi apapun untuknya." ujar Tenten. "Aku tidak tahu bagaimana, apakah dia bisa melepaskan aku dari kedokteran seperti yang dijanjikannya."
Ino mendesah. "Yah, kurasa belum terlambat untuk membatalkan perjanjian itu. Kau lihat mereka? Sepertinya mereka mulai terbuka satu sama lain."
Tenten mengadahkan kepala.
Neji dan Sasuke.
-X-
"Aku harap Hinata baik-baik saja." ucapan Sasuke terdengar lirih.
Neji yang sedang melamun, memikirkan kehidupannya sepanjang ini, memberanikan diri untuk mendongak, menatap mata Sasuke yang gelap itu.
"Kuharap juga begitu."
"Apa kau membenciku, Neji?"
Neji menatap kembali mata itu. Sorot mata yang seakan berkata, aku salah apa padamu?
"Satu-satunya salahku selama ini adalah aku terlalu takut jika Hinata membenciku."
Sasuke menyerngit. Tapi kemudian ia tersenyum. "Kalau aku, lebih menginginkan dia membenciku... asal tidak melupakanku. Aku tidak suka dilupakan olehnya."
"Begitukah?"
"Yeah."
"Aku sudah dibencinya sebelum kecelakaan itu. Jika dia tahu penyebabnya adalah aku, aku tidak tahu harus bagaimana agar dia tidak membenciku. Bahkan aku mengira, lebih baik dirimu yang meninggalkan dirinya daripada aku." ucap Neji. Tenten benar, aku selalu membayang masa lalu... perlaha, ekor matanya melirik kearah Tenten.
"Maksudmu bagaimana? Kau sengaja... kecelakaan Hinata?"
"Tidak. Aku tidak sengaja melakukannya. Itu kecelakaan yang tak terduga, tentu saja. Tapi semua tetap karena aku." kata Neji.
"Maksudmu..."
"Aku benci padamu, Sasuke. Gara-gara kau pergi, aku bertengkar dengan Hinata, mencipta insiden itu, membuatku harus bersekolah ditempat yang kuinginkan, menebus perasaan bersalahku dengan menjaga Hinata, menjaganya agar ia tidak pernah merasakan sakit yang sama seperti yang kau buat padanya. Tapi aku masih egois karena meminta keluarga kami menyembunyikan penyebab insiden itu aku." ujar Neji.
Sasuke terdiam. Sekolah impian Neji lebih baik beribu kali dari sekolah milik kakeknya. Sekolah impian Neji hanya dapat dimasuki oleh orang-orang cerdas saja.
Menebus perasaan bersalah... menyembunyikan... kini Sasuke tahu mengapa Hinata tidak kunjung terapi untuk ingatannya. Mengapa Neji mencegahnya untuk dekat Hinata dan memulihkan ingatannya.
Sesaat kemudian Neji tersenyum. "Namun akhirnya, aku sadar hidup untuk melangkah kedepan. Tak ada gunanya masa lalu. Aku... tak ingin membencimu lagi, Sasuke. karena kau tak pernah berubah dimata Hinata. Saat ia ingat maupun amnesia, kau ternyata mengisi hatinya."
Sasuke tersenyum, lega. "Tomodachi?"
"Ya."
-X-
Hinata membuka kelopak matanya perlahan. Digerakkannya jemari yang terasa berat. Perlahan, ia sadar ada yang mengenggam tangannya. Menyentuh kulitnya.
Seseorang yang jatuh tertidur.
"Kau..."
Ternyata seseorang itu tidak jatuh tertidur, hanya berusaha menahan rasa kantuk dengan memejamkan mata. Seseorang itu mengangkat kepala tersenyum.
"Kau tidak lupa denganku lagi, kan?"
Hinata tersenyum tipis, bibirnya terasa kering. "Tentu tidak Sasuke, aku justru ingat semuanya sekarang, setelah memoriku telah berputar-putar."
Senyuman canda Sasuke berubah jadi senyuman lebar yang penuh kelegaan. "Aku harus beritahu yang lainnya, terutama Neji."
"Kalian akur kembali sekarang?"
"Tentu."
"Sudah berapa banyak yang aku lewatkan?"
"Entahlah." Sasuke bangkit berdiri dari kursinya. "Kau telah tertidur cukup lama. Tiga hari."
"Yang benar?"
"Iya. Tanyakan saja pada yang lainnya."
"Sasuke-kun! Kalian telah akur, kan? Ada yang mau kutanyakan..." ujar Hinata lirih. "Aku baru sadar jika aku sering dikekang selama ini. Apa kamu tahu kenapa?"
-X-
"Aku senang kau sudah sadar!" seru Sakura.
"Apa kabar, Hinata?" ujar Ino menyengirkan senyumannya.
"Hinata, ingatanmu pulih, ya?" seru Tenten lantang.
Ramai sekali hiruk pikuk di kamar rawat Hinata. Hinata merasakan kepalanya terasa pusing, tapi hatinya gembira. Hanya saja Neji tetap terdiam duduk di sofa yang tersedia diruangan sejak dirinya tersadar, menatap kosong walau bukan menatap kearahnya.
"Terima kasih... ya aku telah ingat masa laluku, tentangmu juga, Tenten." ujar Hinata, mengulas senyuman tipis yang ada diwajahnya.
Sasuke melemparkan senyumannya. "Hinata perlu istirahat, jadi sudah cukup basa basinya?"
"Hei! Kami hanya baru menyebut sedikit kata, tahu!" seru Sakura, berdecak kesal.
"Ayolah... lagipula, tidakkah kalian beri kesempatan pada sepupunya untuk bicara?" ujar Sasuke sambil menggelengkan kepala. Lalu dengan isyarat mengiring mereka keluar, seperti mengiring domba-domba.
Sakura berdecak kesal, tapi Tenten dan Ino bisa memaklumi... sedikit.
Jadi keempat orang itu meninggalkan Neji dan Hinata, dalam kesunyiaan.
Yang lama sekali.
"Kau apa kabar?"
Akhirnya.
Hinata menyunggingkan senyumnya. "Seperti yang kau lihat. Kau sendiri?"
"Lumayan. Ingatanmu pulih?"
"Iya. Aku ingat semuanya... kau tidak percaya?"
Neji berdecak. "Kau masih kesal padaku, atau bahkan benci padaku? Aku telah membuatmu amnesia."
"Tidak."
"Kalau saja kau tahu, aku bahkan meminta keluargamu agar kau tidak terapi. Agar kau tidak pulih." ujar Neji, semuanya mengalir begitu saja.
"Iya, aku tahu." ucap Hinata, suaranya terdengar bergetar. "Tetapi Neji, aku tahu kalau kau melakukannya untuk kebaikan aku juga."
Neji terhenyak. Mengapa Hinata bisa berkata seperti itu?
"Sasuke sudah mengatakannya padaku," ujar Hinata. "Kau tidak perlu marah padanya lagi, karena aku yang memintanya. Kini aku tahu kenapa kau selalu bersikap seakan menjagaku begitu erat."
Lagi-lagi Neji terhenyak. Diam.
"Agar aku tidak merasakan sakit yang sama. Agar aku tidak membencimu." ujar Hinata sambil tersenyum. "Alasan yang egois, namun aku menyukainya."
Neji melangkah lebih dekat dengan Hinata, kemudian memeluknya. "Terima kasih tidak membenciku. Tapi mengapa, kau tetap mau menerima Sasuke yang telah menyakitimu?"
"Dia tidak menyakitiku." bisik Hinata, membalas peluk Neji. "Aku memang sedih, tapi aku yakin kalau ia akan selalu berpulang."
-X-
"Bagaimana dengan perjanjian kita itu?"
Sasuke terdiam sejenak. "Batal?"
"Baiklah."
"Hah? Mudah sekali?" Sasuke melongo sejenak. Heran.
"Kurasa kau telah dapat yang kamu ingin." ucap Tenten ringan.
"Memang..." sahut Sasuke ragu, tapi akhirnya ia tersenyum. "Kau sendiri? Bukannya kau tidak ingin mempelajari kedokteran lagi?"
"Biarlah itu menjadi urusanku. Karena diperjanjian itu aku tidak melakukan banyak hal kepadamu." jawab Tenten sambil tersenyum. Dan yang terpenting, aku telah melihat Neji yang dulu... tadi.
-X-
Tenten melangkahkan kaki menuju loker kelasnya. Dipintu loker, ia menemukan sebuah post-it tertempel disana. Ia heran, selama ini ia tidak pernah menempelkan post-it apapun. Tenten mengambil lembaran post it tersebut dan membaca tulisan yang tertera disana.
Tenten, mari kita ke natsu masuri bersama! Aku menyukaimu!
Tenten menoleh bingung, entah siapa yang menulis ini. Dan, matanya menemukan sosok laki-laki itu diujung koridor, melambai dan tersenyum padanya.
-X-
"Kau cantik."
Hinata tersipu, wajahnya bersemu merah. "Apa benar mengenakan yukata di festival seperti ini?"
Sasuke tertawa. "Aku tidak peduli, yang kumau kau mengenakan sesuatu yang kau sukai... kau masih menyukai yukata, bukan?"
Hinata mengangguk. Tersenyum menatap Sasuke. "Nanti aku mau kau mengambilkan ikan mas koki untukku. Aku mau kau membelikan gulali padaku. Aku mau..."
"Ya, ya, ya. kau tidak pernah berubah, gadis kecil."
"Kau juga." ujar Hinata. Tangannya mengambang menyentuh mata Sasuke. "Matamu masih sama untuk melihatku."
Sasuke tertawa, meraih tangan Hinata dan menggenggamnya. Erat.
"Aku senang kau tetap menjadi gadis kecilku satu-satunya."
"Aku juga senang kau tetap menjadi Sasuke-kun satu-satunya untukku."
Kemudian, keduanya berjalan menuju festival, dengan tangan yang bertautan malu-malu namun tidak ingin dilepas.
-THE END-
Fyuh! Perjalanan yang panjang sekali untuk membuat fanfict ini. Mencari sela-sela waktu kosong ditengah kesibukkan, mengetik, mengetik, sedikit demi sedikit. Tapi akhirnya ending juga, dan aku merasa lega xD
Ingin, sih memperpanjang fanfict ini, namun waktu sekolah tidak memungkinkan sama sekali :3 aku juga telah kehabisan ide untuk cerita ini, karena ini cerita yang sangat rumit untuk kubuat, hahaha
Terima kasih telah membaca, memberikan saran-saran yang berarti untuk fanfict ini! Aku menunggu ada yang memberikan saran pairing maupun ide untuk fanfict dariku selanjutnya.
Sampai jumpa, lagi!
