[Chapter 2]

"Ya, hallo? Kang Seonsaengnim? Saya sudah tiba, tapi saya tidak tahu yang mana orangnya. Apakah anda bisa menyebutkan ciri-cirinya?"

"..."

"Ya? Rambut merah?" tanya Ryeowook pelan agar tak terdengar laki-laki berambut merah didepannya.

"..."

"Ah, ya. Terimakasih seonsaengnim."

Jongwoon mengalihkan pandangannya saat Ryeowook akan bertanya padanya membuat Ryeowook mengerucutkan bibirnya sebal karena merasa diacuhkan.

"Um, maaf mengganggu, apakah anda Kim Jongwoon dari jurusan seni musik?"

'Jadi benar Kim Ryeowook adalah partnerku?' tanya Jongwoon dalam hati.

"Ya." Jawab Jongwoon acuh tak acuh. Hei! Apa kau tau Jongwoon? Kim Ryeowook tidak suka diacuhkan.

"Saya Kim Ryeowook dari jurusan psikologi. Saya rasa anda sudah mengetahui tugas yang guru berikan kepada kita."

"Ya." Hanya itu yang keluar dari mulut seorang Kim Jongwoon.

"Kenapa anda diam saja saat saya duduk didepan anda kalau anda sudah tahu?" Ryeowook mulai merasa jengkel karena Jongwoon mengacuhkannya.

"Aku tidak tahu kalau itu kau." Jawab Jongwoon sekenanya.

"Baiklah kalau begitu, apakah anda sudah mencari referensi untuk tugasnya?"

"Aku-" ucapan Jongwoon terpotong oleh perkataan Ryeowook.

"Ah pasti belum ya? Bagaimana kalau kita keperpustakaan sekarang?" tanya Ryeowook antusias, rasa jengkelnya meluap begitu saja.

Jongwoon hanya mengikuti langkah kaki Ryeowook dengan diam. Memperhatikan Ryeowook dari belakang. Jongwoon merasa Ryeowook tetap cantik walau hanya dari belakang saja.

"Jongwoon-ssi, bagaimana dengan buku ini? Saya rasa ini akan sangat membantu kita!"

"Jangan bicara terlalu formal padaku."

"Ye? ah ya, baiklah."

Jongwoon dan Ryeowook duduk di barisan bangku paling pojok dan sedikit tersembunyi melihat semua tempat duduk tak ada yang kosong. Mereka nampak serius memahami apa yang tertulis pada buku yang mereka pilih sebagai bahan karya tulis mereka.

"Jongwoon-ssi, menurutmu ini bisa tidak kita masukkan kedalam karya tulis kita?" tanya Ryeowook antusias.

Ryeowook menyerahkan buku yang ia baca kepada Jongwoon. Tapi Jongwoon tak segera mengambilnya, ternyata Jongwoon membaca buku menggunakan headset, terang saja dia tak mendengar apa yang diucapkan Ryeowook. Ryeowook memerhatikan wajah serius Jongwoon dan dia terkikik sendiri melihat ekspresi pada wajah Jongwoon. Sebegitu seriuskah dia mengerjakan karya tulis ini? Begitulah yang dipikirkan Ryeowook. Bukan, bukannya dia tak serius hanya saja dosen mereka memberi waktu luang untuk mengerjakannya. Karya tulis dikumpulkan pada bulan Maret dan ini sedang memasuki minggu keempat bulan November. Masih tersisa tiga bulan lagi untuk mereka mengerjakannya.

"Jongwoon-ssi."

...

"Jongwoon-ssi."

...

"Kim Jongwoon!"

Astaagaa. Apa dia mendengarkan lagu dengan volume yang sangat keras? Ryeowook tidak mungkin kan berteriak mengingat mereka sedang di perpustakaan?

Ryeowook menendang kaki Jongwoon dibawah meja dan Jongwoon menoleh.

"Jongwoon-ssi, menurutmu ini bisa tidak kita masukkan kedalam karya tulis kita?" Tanya Ryeowook lagi.

"Ya?" rupanya ada yang lupa disini bahwa Jongwoon masih mengenakan headsetnya. Ryeowook mengisyaratkan agar Jongwoon melepas headsetnya. Oh my~

"Jongwoon-ssi, menurutmu ini bisa tidak kita masukkan kedalam karya tulis kita?" Ulang Ryeowook untuk yang ketiga kalinya. Sepertinya Ryeowook harus benar-benar sabar menghadapi partnernya kali ini.

"Hm, mungkin bisa."

Menghabiskan waktu 4 jam diperpustakaan bukanlah waktu yang sebentar. Sekarang pukul enam sore dan perpustakaan sudah mulai renggang.

'Kryuukkk~'

Jongwoon mengangkat kepalanya saat mendengar bunyi tak lazim dari perut Ryeoowook.

"Ehehe. Aku lapar. Sejak tadi belum makan siang." Jelas Ryeowook tanpa ditanya.

Jongwoon merapikan buku-buku yang dibacanya ke rak penyimpanan dan mengemasi barangnya. Ryeowook hanya diam dan memerhatikan Jongwoon.

"Apa kau akan diam terus seperti itu?" tanya Jongwoon.

"Hah? Ya?"

Dan Jongwoon meninggalkan Ryeowook.

"Eh~ tunggu aku Jongwoon-ssi!"

.

Jongwoon dan Ryeowook berjalan beriringan menuju gerbang kampus, ah sepertinya tidak bisa disebut beriringan karena Jongwoon menuntun sepedanya dan Ryeowook berada dibelakang Jongwoon.

"Sampai jumpa Jong.."

Perkataan Ryeowook terputus saat melihat Jongwoon berjalan menuju arah yang sama dengannya.

"Eoh? Kau dan aku searah? Kebetulan sekali. Aku sebenarnya takut untuk pulang sendiri, inikan sudah malam."

Sebenarnya rumah Jongwoon sangat jauh dari apartemen Ryeowook. Apakah Jongwoon setega itu membiarkan Ryeowook berjalan sendirian? Tentu tidak.

Dalam perjalanan ke apartemen Ryeowook, Jongwoon hanya diam mendengarkan celotehan apa saja dari Ryeowook. Dan entah bagaimana Ryeowook dapat berbicara nyaman dengan orang yang baru ia kenal. Ryeowook bukan tipe orang yang mudah menceritakan tentang dirinya kepada orang lain. Tapi dengan Jongwoon? Entahlah, ia juga heran. Walaupun Jongwoon menyebalkan tapi dia pendengar yang baik. Itulah pemikiran yang Ryeowook dapat dari pertemuan pertama mereka.

.

"Ibu~"

"Hm?"

"Dimana Sungmin?"

"Sudah tidur. Ada apa Jongwoon?"

"Tidak. Hanya saya, aku sedang ingin bermanja dengan ibuku tanpa ada pertumpahan darah diantara dua bersaudara Kim."

Jungsoo, ibu Jongwoon terkekeh mendengar perkataan anak sulungnya.

"Pertumpahan darah? Kkk. Kau berlebihan Kim Jongwoon."

"Kkk~ Yaa. Jungsoo-ssi, bagaimana bisa kau terlahir secantik ini? Ah, aku takut jika banyak orang yang terpikat olehmu. Hanya aku yang boleh memilikimu Jungsoo-ssi."

"Hahaha. Jangan merayuku Tuan Kim muda. Tak usah kau ingatkan, aku adalah milik dua bersudara Kim."

"Jadi, bukan milik Kim Youngwoon?" tanya Jongwoon hati-hati karena menyinggung nama ayahnya. Ayah Jongwoon meninggal satu tahun yang lalu karena kecelakaan lalu lintas.

Jungsoo tersenyum.

"Tentu saja. Aku milik kalian bertiga." Jawab Jungsoo sambil mengelus rambut Jongwoon lembut.

"Jungsoo-ssi. Aku tahu kau adalah orang yang paling setia di dunia ini. Aku mencintaimu. Kim Jongwoon mencintai Park Jungsoo." Jongwoon mengecup pipi ibunya.

"Dan Park Jungsoo mencintai Kim Jongwoon."

"Ibu, kapan akan mengunjungi ayah?"

"Mungkin dalam waktu dekat ini. Ada apa?"

"Tidak. Apa ibu tidak merindukan ayah?"

"Apakah aku harus menjawabnya?"

"Tidak."

"Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau Tuan Kim muda tampan mandi terlebih dahulu? Setelah itu makan malam?"

"Aku akan mandi, tapi mungkin tidak untuk makan bu, aku sudah makan bersama teman."

"Teman? Tumben. Siapa?" selidik Jungsoo. Pasalnya, Jongwoon tidak suka makan diluar. Dia lebih memilih masakan ibunya karena menurut Jongwoon masakan terenak adalah masakan ibunya.

"Partner baruku, bu." jawab Jongwoon.

"Partner baru? Laki-laki atau perempuan?"

"Perempuan. Jurusan psikologi."

"Apakah dia cantik? Kenapa tidak kau ajak kerumah? Tumben kau dapat partner perempuan. Jadikan saja dia pacarmu."

Blush~

Terlihat jelas semburat pink menjalar dipipi Jongwoon.

"Husshh. Ibu ini. Baru tadi aku bertemu dengannya."

"Hahahaha. Hei~ ada apa dengan wajah Tuan Kim muda satu ini? Wajahmu memerah Jongwoon. Siapa namanya?"

"Itu karena ibu menggodaku. Kim Ryeowook. Sudahlah, aku mau mandi dulu."

Jongwoon meninggalkan ibunya yang tertawa terbahak diruang keluarga. Ck, ibunya itu senang sekali menggodanya.

Beginilah Jongwoon jika sedang dirumah, kontras sekali bukan saat dia dikampus? Tapi tetap saja Jongwoon adalah Jongwoon. Saat sedang bersama ibu dan adik perempuannya pun gengsinya tetap tinggi. Ckckck.

.

Sudah sebulan Jongwoon dan Ryeowook setiap hari bertemu untuk mengerjakan tugas mereka. Senyum, canda, godaan, bahkan ejekan sudah terbiasa mereka lontarkan satu sama lain. Jangan lupakan yang satu ini. Mereka telah memiliki panggilang khusus satu sama lain.

"Ck, dasar siput lamban! Cepatlah sedikit!" teriak Jongwoon saat melihat Ryeowook keluar dari kelasnya.

"Kau! Dasar labu! Jongwoon si kepala besar menyebalkan!" teriak Ryeowook membalas ejekan Jongwoon.

"Kau ini memang benar-benar lamban seperti siput."

"Hei labu. Tak bisakah kau memanggilku dengan namaku saja saat ada banyak temanku? Hh."

"Memangnya kenapa? Kau malu? Itu kenyataan Kim Ryeowook."

"Yaaaa! Kim Jongwoon!" teriak Ryeowook.

"Tampan."

"Dalam mimpimu!"

Ryeowook berjalan dulu meninggalkan Jongwoon yang menahan tawanya. Jongwoon senang sekali menggoda Ryeowook. Menurut Jongwoon Ryeowook lebih manis saat dia cemberut, mengerucutkan bibirnya, atau saat berteriak marah padanya.

Gengsinya lama kelamaan hilang dengan sendirinya saat bersama Ryeowook. Ya walaupun masih ada, tapi tidak separah saat mereka pertama kali bertemu. Jongwoon lebih banyak bicara sekarang, membuat Ryeowook nyaman. Tapi, belum terbesit niatan untuk menyatakan perasaannya. Jongwoon juga masih bersikap seolah-olah dia tidak menyukai Ryeowook.

"Ya, labu! Aku lelah hari ini. Bisakah kita menunda tugas kita hari ini?"

"Tidak."

"Satu hari saja. Huh?"

"Tidak."

Ryeowook mengeluarkan jurus puppy eyes andalannya yang biasa ia gunakan saat sedang merayu ayah atau ibunya. Tapi, mungkin ini tidak berlaku untuk Jongwoon.

"Wajahmu menyeramkan jika seperti itu!"

Ryeowook mengerucutkan bibirnya imut.

"Ayolah Jongwoon. Partnermu ini lelah."

"I don't care."

"You're nasty!"

Dan mulai lagi perdebatan tidak berguna mereka.

Namun tetap saja Jongwoon mengiyakan permintaan Ryeowook. Saat ini mereka sedang duduk melihat drama musikal Three Musketeers. Ryeowook masuk duluan untuk mencari tempat duduk mereka, sedangkan Jongwoon masih diluar gedung karena ibunya tadi menelepon.

Saat Jongwoon ingin memasuki gedung, tiba-tiba semua orang berhamburan keluar dan terdapat asap tipis yang semakin lama semakin tebal dari sisi kiri gedung. Jongwoon nekat masuk kedalam karena tak melihat sosok Ryeowook sama sekali. Firasatnya mengatakan Ryeowook sedang terjebak saat ini. Ryeowook yang memiliki badan kecil itu pasti tadi terhimpit oleh orang-orang yang berdesakan keluar.

"Kim Ryeowook! Ryeowook!"

-TBC-

Review Juseyo~

Kamsahamnida ^^