[Chapter 3]

Cast : Kim Jongwoon

Kim Ryeowook

Park Jungsoo

Lee Sungmin

and other.

cast bertambah seiring berjalannya cerita.

Warning inside!

.

"Kim Ryeowook! Ryeowook!"

Jongwoon berteriak memanggil Ryeowook panik sambil menutupi hidunganya dengan tangannya. Semakin lama asap semakin tebal dan dia belum menemukan gadisnya. Gadisnya? Ya! Gadisnya.

"Kim Ryeowook! RYEOWOOK!"

"Uhuk..uhukk..hiks.."

Seketika Jongwoon menoleh mendapati Ryeowook sedang duduk memeluk lututnya sambil menangis dan sesekali terbatuk. Langsung saja Jongwoon mendekati tubuh rapuh itu. Membingkai wajahnya, memastikan gadisnya baik-baik saja walaupun dia tahu semua ini tidak akan baik-baik saja.

"Kim Ryeowook, buka matamu. Ini aku Jongwoon!"

"J-jongwoon. Kim Jongwoon."

Ryeowook memeluk leher Jongwoon erat, seakan takut kehilangan sosok itu.

"Ya, aku disini." Dekapan Jongwoon tak kalah erat.

"Hikss..Jongwoon.. jangan pergi, jangan tinggalkan aku." Isak Ryeowook.

"Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Ayo kita pulang." Jongwoon menggendong Ryeowook ala piggy back ride.

Jongwoon membawa Ryeowook pulang ke rumahnya. Dia masih cukup waras untuk tidak meninggalkan Ryeowook sendirian dengan keadaan seperti ini di apartemennya. Dia juga masih berpikir rasional untuk tidak menemani Ryeowook diapartemennya berdua saja.

Ryeowook memiliki trauma terhadap api. Rumahnya yang berada di Busan pernah terbakar saat Ryeowook masih berusia 16 tahun. Kebakaran itu menyebabkan Ryeowook kehilangan sosok seorang ibu. Sejak saat itu Ryeowook tinggal dengan ayahnya.

Cklek. Blam!

"Jongwoon?" panggil Jungsoo dari dapur. Tak mendapat jawaban Jungsoo berjalan menuju pintu masuk rumahnya.

"Jongwoon! Ada apa ini?" tanya Jungsoo panik melihat penampilan anaknya dan terlihat seorang gadis terisak pelan bersembunyi dibalik tubuh anaknya.

"Ceritanya panjang bu."

"Astaga! Kau membuatnya menangis Kim Jongwoon?" Jungsoo bertanya lagi sambil menarik Ryeowook kedalam pelukannya.

"Sshh. Jangan menangis, ada ibu disini. Tenanglah.." Jungsoo mencoba menenangkan gadis dalam dekapannya itu. Ryeowook sedikit tenang sekarang.

"Jongwoon, kau segera mandi, ganti pakaianmu!" perintah Jungsoo.

"Ayo, kita bersihkan dirimu dan mengganti pakaianmu." ajak Jungsoo pada Ryeowook. Membawa Ryeowook kekamarnya.

Sembari menunggu Ryeowook selesai mandi, Jungsoo memasak dibantu oleh Sungmin. Jongwoon duduk dimeja makan memerhatikan punggung ibunya. Ia telah menceritakan semua yang terjadi padanya dan Ryeowook hari ini.

"Jungsoo-ssi, bisakah kau membagi hatimu lagi?" tanya Jongwoon pelan.

"Apa maksudmu Kim Jongwoon?" Sungmin tak terima atas ucapan Jongwoon.

"Aku bertanya pada Jungsoo-ssi, Sungmin-ssi."

"Siapa yang kau maksud Kim Jongwoon?" tanya Jungsoo membalikkan badannya.

Cklek.

Ryeowook keluar dari kamar mandi mengenakan pakaian yang diberikan Jungsoo, sepertinya itu salah satu pakaian Jungsoo. Terlihat sama dengan corak pakaian yang sering Jungsoo kenakan dirumah.

"Kau sudah selesai?" tanya Jongwoon.

Ryeowook hanya menganggukan kepalanya.

"Kita makan, kau pasti lapar. Tidak menerima penolakan."

Jongwoon duduk bersebelahan dengan Sungmin dan berhadapan dengan Ryeowook. Sedangkan Jungsoo duduk disebelah Ryeowook.

"Siapa namamu nak?" tanya Jungsoo.

"Ryeowook. Kim Ryeowook ahjumma."

"Manis, seperti orangnya."

"Terimakasih."

Mereka menikmati makan malam dengan khidmat. Ryeowook sudah lama tidak merasakan kehangatan seperti ini. Berkumpul dengan keluarganya, Ryeowook merindukan masa-masa itu. Tak terasa setitik liquid bening terjatuh dari pelupuk matanya, membuat seisi meja menghentikan kegiatan makan mereka.

"Kau kenapa Kim Ryeowook?" tanya Jongwoon datar. Sebenarnya jika dilihat dari kilatan matanya terdapat rasa khawatir disana.

"Tidak. Hanya saja, sudah lama aku tak makan bersama seperti ini dengan keluargaku. Aku anak tunggal dan Ibuku meinggalkanku saat aku 15 tahun. Walaupun ayah menyayangiku, sangat malah. Tapi dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ayah berada di London sekarang."

Ryeowook terisak pelan. Jungsoo memeluk gadis itu, mengelus rambutnya sayang.

"Ryeowook, sekarang kau tidak sendirian. Kau memiliki Ibu sekarang, aku ibumu. Kau dapat memanggilku ibu."

Sekarang Jungsoo mengerti maksud Jongwoon untuk membagi hatinya dan Jungsoo tak keberatan membagi hatinya untuk Ryeowook.

"Kim Sungmin imnida. Aku adik kecilnya Kim Jongwoon. Aku berusia 15 tahun. Aku tahu kalau oppaku ini pasti sangat menyebalkan. Tapi sebenarnya dia orang yang baik. Tolong jaga oppaku ini, Ryeowok eonni."

"Ya! Kau memujiku atau mengolokku bocah?!"

"Weekk"

Dan terjadilah aksi kejar-kejaran dua Kim bersaudara menimbulkan tawa dan kehangatan dirumah minimalis itu.

Jungsoo mengamati wajah polos Ryeowook saat tertidur. Saat ini mereka sedang berada dikamar Jungsoo. Jungsoo memaksa Ryeowook untuk menginap karena dia tak ingin Ryeowook sendiri diapartemennya.

"Eonni sangat manis." Tiba-tiba Sungmin masuk kekamar Jungsoo dan ikut mengamati wajah Ryeowook.

"Ayo kita keluar, biarkan eonnimu tidur."

Jungsoo penasaran dengan Joongwoon yang tak biasanya ia membawa teman kampusnya walaupun dalam keadaan darurat.

"Jongwoon-ssi, ada yang perlu kau jelaskan disini."

"Ya! Apa yang harus kujelaskan Jungsoo-ssi?"

"Kau menyukainya?"

Jongwoon hanya diam. Dia belum berani untuk mengatakan pada ibunya. Kau takut atau gengsi Kim Jongwoon?

"Baiklah. Kim Jongwoon menyukai Kim Ryeowok." Kata Jungsoo tiba-tiba.

"Hah?"

"Hahahaha. Wajah oppa memerah!"

"Kau bocah diam saja!"

Jongwoon masih tak menjawab atau menyangkal apa yang Jungsoo katakan.

"Ceritalah dengan Ibu, Jongwoon."

Jongwoon luluh akan sentuhan lembut ibunya. Dia menceritakan semuanya. Tak ada yang terlewatkan. Dari setiap pagi yang selalu memerhatikan Ryeowook, mengetahui jadwal dan aktivitas Ryeowook, mencari tahu semua tentang Ryeowook, letak apartemen, nomor apartemen, makanan kesukaan Ryeowook, warna favorit Ryeowook. Semuanya, semua yang ia tahu tentang Ryeowook ia ceritakan pada ibunya.

"Mengapa kau tak mendekatinya Jongwoon?" tanya Jungsoo.

"Ibu, apa ibu lupa? Oppa terlalu gengsi." Bukannya Jongwoon yang menjawab tetapi malah Sungmin. Jongwoon hanya diam karena apa yang Sungmin ucapkan benar.

"Ck, dasar laki-laki! Kau seperti ayahmu, Jongwoon."

"Ayah? Memang bagaimana dengan ayah, bu?" Sungmin antusias.

"Lain kali akan ibu ceritakan. Sekarang sudah larut. Kita tidur."

Jungsoo mendaratkan kecupan selamat malam untuk kedua anaknya kemudian masuk ke kamarnya menyusul Ryeowook ke alam mimpi.

.

"Apa yang kau lihat? Hah?" bentak Ryeowook pada Jongwoon. Pasalnya Jongwoon memandangi Ryeowook dengan sangat intens saat Ryeowook keluar dari kamar ibunya. Ryeowook merasa ia seperti ditelanjangi dengan tatapan Jongwoon.

"Tidak."

"Aigoo~ jangan bertengkar terus. Ibu capek mendengarnya." Keluh Jungsoo sambil memilah baju kering yang baru saja ia angkat dari jemuran.

"Jongwoon/Ryeowook mulai dulu, bu!" adu keduanya bersamaan.

Jungsoo terkekeh melihatnya. Lucu saja mengetahui anaknya sedang bertengkar dengan orang yang diam-diam ia suka.

"Eonni, sudah mandi?" Sungmin mendudukkan dirinya disamping Jongwoon.

"Tentu saja sudah. Lihat! Aku sudah wangi!" Ryeowook memutar tubuhnya, aroma apel menguar dari surai lembutnya yang terurai, favorit Jongwoon.

"Cih. Wangi? Kau bau!" Jongwoon menutup hidungnya.

"Tidak. Eonni wangi, hidung oppa saja yang aneh."

"Sudah. Jangan begitu dengan oppa. Lihat wajah oppamu." Sungmin dan Ryeowook menertawai wajah Jongwoon yang berekspresi aneh.

"Kalian berdua tak ada kuliah hari ini?"

"2 jam lagi." Kata Jongwoon.

"Nanti aku akan pulang bersama Jongwoon, bu."

"Kenapa terburu-buru? Bermalamlah disini. Bukankah kau sendirian diapartemen?"

"Apartemenku sangat berantakan, aku harus membereskannya. Aku juga tidak ingin merepotkan ibu." Ryeowook menundukkan kepala. Kalau boleh jujur, dia sangat ingin tinggal lebih lama lagi dan lagi.

"Siapa yang repot? Tidak ada yang repot disini, Ryeowook." Jungsoo tersenyum.

"Aku akan sering berkunjung bu."

.

"Terimakasih." Ujar Ryeowook saat mereka sedang berjalan menuju apartemen Ryeowook.

"Untuk?" tanya Jongwoon.

"Tidak usah pura-pura. Aku tahu kau tidak bodoh."

"Baiklah. Kau memang merepotkan."

Jongwoon terkekeh melihat Ryeowook mempout bibirnya lucu.

"Tugas kita sudah hampir selesai." Kata Ryeowook tiba-tiba.

"Lalu?" Jongwoon mendongakkan kepalanya, langit begitu cerah hari ini.

"Tidak ada. Kita sudah sampai, terimakasih atas semuanya."

"Benar tidak apa-apa jika sendirian?" sebenarnya Jongwoon khawatir meninggalkan Ryeowook sendirian, tapi apa boleh buat? Jongwoon tak mungkin kan berdua saja dengan Ryeowook diapartemennya? Dia masih agak canggung dengan Ryeowook.

"Aku bukan anak kecil, aku sudah tidak apa-apa."

"Baiklah. Aku berangkat."

Ryeowook melambaikan tangannya pada Jongwoon tapi tak ada balasan disana. Jongwoon terlalu kaku untuk sekedar membalas lambaian tangan Ryeowook.

"Cih! Senyum pun tidak! Dasar laki-laki berhati dingin."

Cklek. Blam!

Segera saja Ryeowook membereskan apartemennya yang berantakan itu. Tak mempedulikan perut yang sudah berdemo meminta untuk diisi. Bukankah tadi aku sudah makan dirumah Jongwoon? Pikir Ryeowook.

Ryeowook menghempaskan tubuhnya ketempat tidur. Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk membersihkan kediamannya itu. Rasa lapar membuatnya bangkit menuju dapur. Membuka kulkas dan Ryeowook baru sadar kalau ternyata persediaannya telah menipis, sepertinya setelah ini dia harus ke supermarket.

Ryeowook mengambil dua telur dan beberapa sayuran segar dalam kulkas untuk dibuat omelet. Hanya itu yang bisa ia buat sekarang. Tak butuh waktu lama omelet buatan Ryeowook telah siap.

Ting Tong!

Bel apartemennya berbunyi saat Ryeowook mendudukkan dirinya disofa depan televisi. Sialan, bahkan sesendok pun belum masuk pada perut laparnya. Dengan sangat terpaksa Ryeowook bangkit dan berjalan menuju asal suara.

Ting Tong!

"Iyaaa." Teriak Ryeowook pada tamu tak sabaran itu.

"Lama sekali sih!" tamu itu masuk apartemennya begitu saja seperti rumah sendiri.

"Astagaaa. Bisa tidak kau sopan sedikit?"

Ryeowook berjalan kembali ke omelet yang telah melambai-lambai padanya untuk segera dimakan.

"Bukankah aku sudah sopan?"

"Ah ya, aku lupa. Biasanya kan kau langsung masuk tanpa memencet bel seperti maling."

"Aku lapaaaarrr~" adu pemuda berambut coklat ikal itu.

"Ada sisa omelet didapur. Aku baru saja membuatnya."

"Aku ingin yang itu saja." Menunjuk piring yang sedang dipegang Ryeowook.

"Ini sudah kumakan."

"Tapi aku mau yang itu. Dan aku ingin disuapi." Pinta pemuda kurang ajar itu pada Ryeowook

"Kau ingat umurmu berapa? Kau sudah 17 tahun!" kata Ryeowook sambil menunjuk-nunjuk pemuda itu menggunakan sendok.

"Aku tidak peduli. Bahkan jika umurku sudah 50 tahun."

"Ck. Buka mulutmu. Aaa~"

"Aaa~ Khau hihak huliah hari hini?"

"Telan dulu makannanmu baru bertanya!"

"Kau tidak kuliah hari ini?" tanya pemuda itu lagi.

"Tidak. Kau, tumben sudah pulang?"

"Iya. Ada rapat mendadak tadi."

"Kau tidak memboloskan, Kyu?"

"Sejak kapan seorang Cho Kyuhyun membolos nuna sayang?"

"Bisa saja kan. Akan kuadukan pada paman jika kau berani membolos Cho Kyuhyun!" ancam Ryeowook pada pemuda yang ternyata sepupunya itu.

"Tidak akan."

"Setelah makan, ganti seragammu dan temani nuna belanja."

"Apha? Bhelanha?"

"Telan dulu, Kyu!"

Gluukk~

"Belanja? Tidak! Aku capek nunaaa~"

"Aku tidak mau tahu!"

Ting Tong!

Siapa lagi kali ini? keluh Ryeowok dalam hati. Baru satu jam dia kembali ke apartemennya sudah ada dua orang yang berkunjung! Setahu Ryeowook dia bukan orang penting yang harus mendapat banyak kunjungan. Seingatnya dia juga tak memliki janji apapun dengan siapapun.

"Jongwoon?" Ryeowook membelalakkan matanya mendapati Jongwoon berada didepan pintu apartemennya.

"Siapa yang datang?" tanya Kyuhyun dibalik punggung Ryeowook. Kyuhyun telah mengganti seragamnya dengan baju santai yang memang ia sengaja tinggal beberapa diapartemen Ryeowook. Membuatnya tak seperti anak SMA. Kyuhyun sering menginap diapartemen Ryeowook kalau ayahnya sedang keluar kota. Memang hanya ada satu kamar dipartemen kecil ini, tapi itu tak menjadi masalah bagi keduanya. Mereka memang sering berbagi ranjang, toh mereka saudara. Umur Kyuhyun juga terpaut beberapa tahun lebih muda dari Ryeowook.

"Ah..itu..kau sepertinya memang sudah tidak apa-apa. Lagipula sudah ada yang menemani, kalau begitu aku pamit. Maaf mengganggu."

Jongwoon berjalan cepat meninggalkan apartemen Ryeowook begitu saja. Meninggalkan dua orang yang masih berdiri dipintu apartemen dengan bingung. Bahkan Ryeowook belum mempersilahkan Jongwoon untuk masuk.

"Ck. Shit! Sial! Bodoh!" umpat Jongwoon pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia berkata gugup seperti itu didepan Ryeowook? Kenapa dia harus gugup? Siapa pula pemuda berkulit coklat yang tiba-tiba muncul dibelakang Ryeowook? Perasaan apa ini? Oh sialan. Ryeowook pasti berpikir dia benar-benar aneh.

Jongwoon berjalan sembari menghentakkan kakinya kesal. Merutuki hal bodoh yang baru saja dilakukannya.

"Ada apa dengannya? Bukankah ada kuliah? Dasar aneh." Gumam Ryeowook.

"Nunaku sudah besar rupanya." Kata Kyuhyun ambigu.

"Apa maksudmu?" Ryeowook tak mengerti maksud ucapan Kyuhyun.

"Siapa tadi?" mendudukkan dirinya disebelah Ryeowook.

"Siapa?" tanya Ryeowook

"Yang baru saja datang."

"Oh itu. Teman."

"Teman?"

"Hm."

"Kenapa bicaranya gugup sekali? Sejak kapan kau membiarkan teman laki-lakimu berkunjung ke apartemen?"

"Mana kutahu! Yang ku tahu dia bukan laki-laki brengsek seperti yang lain."

"Bagaimana bisa nuna tahu?"

"Kenapa mendadak kau menjadi detektif, Cho Kyuhyun? Ayo kita berangkat sekarang!" Ryeowook masuk kekamar mengambil tasnya yang berisikan dompet dan berjalan menuju pintu.

"Nuna menyukainya kan?" tanya Kyuhyun antusias.

"Kau akan menginapkan malam ini?" Mengunci pintu apartemennya.

"Sebaiknya nuna cari laki-laki lain saja." Jawab Kyuhyun.

"Bagus. Kau tidur diluar malam ini." Ryeowook mempercepat langkahnya meninggalkan Kyuhyun dibelakang.

"Dia terlihat bodoh." Kata Kyuhyun sedikit keras.

"Dan tidak ada jatah makan malam." Sahut Ryeowook tak kalah keras.

"Nunaaa~" Kyuhun berlari menghampiri Ryeowook dan menggandeng tangannya.

.

Pagi cerah menyambut kota Seoul hari ini. Alih-alih bangun, pemuda bermata sipit itu makin bergelung pada selimut tebalnya. Mata yang sebelumnya telah terbuka tertutup kembali, ingin menikmati bunga tidurnya yang tertunda karena silau bias matahari yang menembus jendela kaca yang tirainya telah dibuka. Tunggu dulu! Dibuka? Tirai?

Srek!

Jongwoon menyibakkan selimutnya kasar. Sesuatu yang mengganjal berada dalam kamar bernuansa biru itu.

Deg!

Kim Ryeowook?

Apa yang dilakukannya pagi-pagi begini dikamarku?

TBC

Baiklah. ini chap selanjutnya. maaf jika updatenya lama, maaf kalau banyak typo juga dan juga maaf sekali kalau ceritanya makin aneh, absurd, nggak berbentuk. lanjutin atau cukup sampai disini saja?

terimakasih yang sudah merievew di chap sebelumnya.

silahkan tinggalkan jejak anda dicerita saya yang amburadul ini.

review juseyo~

kamsahamnida