Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Tragedy/Hurt-Comfort
Rated: T
Warning: Sakura's POV, AU, OOC, Typoo's, psychological, abused, sedikit kata-kata kasar (di beberapa chapter), dll.
DLDR!
My Savior by Yara Aresha
Chapter 2: New Life with 5 Boys
Angin segar menyusup melalui kisi-kisi jendela kamar yang terasa asing bagiku. Membelai lembut wajahku. Sinar mentari yang membias menyalurkan kehangatan, membuatku merasa nyaman. Suara kicauan burung gereja yang begitu merdu terdengar layaknya orkestra yang menenangkan hati. Tidak pernah bangun pagiku seindah ini. Tidak ada lagi ayah, teriakannya, tamparannya, dan tatapan penuh kebencian yang selalu ia berikan padaku. Inikah hari kebebasanku? Mulai hari ini, bisakah aku menjalani kehidupan baruku?
Selama beberapa saat, aku terbuai dengan segala kenyamanan pagi hari yang telah lama hilang dari kehidupanku. Perlahan kubuka kelopak mataku, kusibak tirai beludru yang mempercantik jendela besar di kamar ini, menatap dunia baruku. Kuucapkan rasa penuh syukur kepada Sang Pencipta yang telah membangunkanku pagi ini dalam keadaan yang begitu baik. Lalu, aku berbalik untuk melihat jam, waktu menunjukkan pukul 07.30. Apa mereka semua sudah bangun? Ah, mereka... Penyelamatku, sebut saja begitu. Rasanya aku tak sabar bertemu dengan para malaikat berhati baikku itu. Maka, dengan cepat aku bergegas untuk mandi, membersihkan tubuhku, berdandan yang cantik, dan memikirkan apa yang akan kulakukan hari ini.
.
.
Setelah membersihkan tubuh. Kini kuderapkan langkah kaki menuruni tangga dengan ritme lambat. Mataku tiada hentinya menyusuri setiap jengkal lukisan-lukisan yang terpajang di dinding samping kiri tangga. Mengapa aku baru menyadarinya? Hatiku membuncah takjub. Ada beberapa lukisan yang mampu membuat lidahku berdecak-decak kagum. Pelukisnya pastilah seorang profesional. Pesan yang tersimpan di dalam lukisan-lukisan itu begitu terlihat blak-blakan, tidak seperti kebanyakan pelukis yang menyematkan pesan itu secara sembunyi-sembunyi dan membiarkan para pecinta lukisan menafsirkannya masing-masing. Ah, aku salah satu di antara para pecinta lukisan. Ini karena ibu adalah seorang pelukis. Ibu adalah orang pertama yang mengenalkanku pada lukisan. Meskipun aku begitu mencintai dunia ini, namun aku tidak berani untuk sekedar bermimpi menjadi seorang pelukis seperti ibu. Alasannya cukup kuat, kuarasa seluruh dunia tahu. Ayah tidak pernah memberiku kebebasan berkespresi dan menyalurkan semua hobi-hobiku. Selama bertahun-tahun aku hanya bisa menjadi tawanannya yang malang. Sudahlah, mengingat hal tentang ayah membuat jantungku seperti diserang ribuan jarum tak kasat mata, lagipula sekarang aku sudah membuang semua mimpiku jauh-jauh. Setelah sempat terhenti untuk memerhatikan lukisan, aku berjalan kembali menuruni tangga. Rumah ini masih begitu sepi, mungkin yang lainnya masih tidur. Sebersit ide melintas di dalam otak kecilku untuk menelusuri seluruh penjuru rumah band terkenal ini. Tapi, mulai dari mana? Kuedarkan pandanganku. Fokusku terhenti pada sebuah tikungan di sebelah selatan, sepertinya di sana ada sebuah ruangan. Dengan penuh antusias, kulangkahkan kakiku berjalan ke arah sana, dan tubuhku menegang ketika tiba-tiba saja Naruto yang masih memakai celana boxer dan kaus oblong muncul dari balik ruangan seraya berteriak, "BOO!"
Wajahnya yang semula terlihat jahil itu kini bertekuk, kecewa. "Serius, nih!" serunya. "Apa Sakura-chan pernah berteriak atau bahkan melakukan kebisingan?"
Aku menggelengkan kepalaku, sambil menyeringai.
"Yang benar? Ya Tuhan. Aku janji, suatu hari nanti akan kubuat Sakura-chan berbicara atau tertawa atau berteriak atau apa pun!" ujar Naruto.
Aku hanya tersenyum sebagai jawaban. Lalu kuikuti Naruto yang mengajakku masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan video game. Membuatku bernostalgia. Dulu, aku dan kakak sepupuku yang kini ada di Hongkong selalu bermain video game bersama. Aku bermain cukup hebat saat itu, dan mungkin aku bisa menyombongkan diriku kepada Naruto sekarang.
"Sakura-chan suka main game?" tanyanya saat kami sudah duduk di depan satu set game console dan televisi yang cukup besar.
Aku hanya mengangkat bahuku. Mencoba untuk sedikit bercanda dengannya. Sejak kapan aku memiliki selera humor? Oh, entahlah.
"Kau tidak bisa berbohong padaku!" serunya. "Ayo lawan aku!"
Aku tersenyum lebar. Akhirnya aku mengangguk dan Naruto memberiku sebuah kontroler. Ia memasukan sebuah kaset game ke dalam PS3-nya. Kulihat isinya adalah Call of Duty. Ah, bagus, karena aku sudah memainkan game ini sebelumnya.
Selama satu jam memainkan permainan ini, kami hampir sampai di akhir pertarungan sekarang. Wajah Naruto berubah panik, karena aku berhasil mengalahkannya lagi. Aku memenangkan lima kali pertarungan, sedangkan Naruto hanya dua kali pertarungan. Naruto bahkan sempat berteriak dan menatapku dengan sebal. Lucu sekali. Karena begitu asyiknya, sampai kami pun tidak menyadari bahwa Neji kini sudah ada di belakang kami.
"Naruto," Neji mengeluh, "aku bisa mendengarmu berteriak dari lantai atas. Aku tahu kau kalah! Tapi bisakah kau tetap tenang?" katanya.
Naruto mendelik ke arahnya, "siapa bilang aku kalah? Aku tidak kalah!"
Aku memutar bola mataku. Sudah jelas dia kalah telak, masih menyangkal. Sementara Neji tertawa dan kembali keluar dari ruangan video game. Aku dan Naruto melanjutkan permainan sesuai permintaan Naruto, ia masih tidak bisa menerima kekalahannya kurasa. Kami terus bermain sampai pukul 09.00, dan menghentikan permainan ketika Sai berteriak, "SARAPAN!"
Segera saja Naruto berlari keluar dari ruangan video game dan aku mengikutinya dengan langkah pelan. Aroma sedap langsung saja masuk melalui rongga hidungku. Kemudian aku duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Sementara Sasuke memberiku sebuah piring yang berisi pancake dengan lumuran saus strawberry. Kami pun mulai menyantap menu sarapan kami pagi ini.
Di saat The Savior mulai berbincang-bincang, aku tetap memakan makananku dengan hening. Kulihat, Sasuke yang ada di sampingku beberapa kali melirik ke arahku. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Aku tak mau ambil pusing dan terus melahap makananku. "Sakura," Suara baritone milik Sasuke membuatku terpaksa menghentikan sejenak pergerakan tanganku yang siap membawa potongan kecil pancake enak ini. Aku menatap manik obsidiannya dengan penuh tatapan tanya.
"Neji menghubungi polisi tadi malam, dan mereka sedang mencari ayahmu. Mereka mencarinya di rumah lamamu. Tapi, ayahmu tidak ada, sekarang polisi masih tetap mencari keberadaannya. Selain itu, polisi akan berusaha mencari tempat yang baru untukmu. Jadi, kita akan mendatangi kantor Sheriff hari ini."
Aku mengangguk. Aku mencoba untuk tidak menunjukkan kekecewaanku. Kecewa? Ya, tentu saja aku kecewa. Sasuke bilang mereka akan mencarikan aku tempat tinggal baru. Padahal aku ingin tinggal bersama mereka, tapi kurasa itu hanya angan-anganku saja, tidak akan mungkin. Mereka sangat terkenal, mereka tidak punya hak untuk menampung orang asing sepertiku di rumah megahnya.
"Kalian, cepatlah kita harus mengantarkan Sakura kepada pihak kepolisian," ujar Sasuke kemudian mengumumkan kepada semua orang yang berada di ruangan ini. Sementara Gaara menatapnya dengan aneh.
"Terdengar seperti Sakura adalah seorang buronan," komentar Gaara.
Sasuke memutar bola matanya, "kau tahu maksudku, kita harus bergegas," jawab Sasuke.
Tak lama kemudian, setelah selesai menyantap menu sarapan, The Savior bergegas naik ke atas (menuju kamarnya masing-masing) untuk bersiap-siap, sedangkan aku tetap di lantai bawah, karena aku tidak perlu untuk bersiap-siap.
Dalam hitungan menit pun, mereka muncul kembali. "Ayo kita pergi!" Naruto berseru, meraih kunci mobilnya dan kami mengikuti Naruto ke arah garasi. Setelah itu, kami semua masuk ke dalam mobil milik Naruto tersebut. Aku sedikit merutuki nasibku yang harus duduk di antara Gaara dan Sasuke. Aku merasa canggung duduk berdekatan dengan mereka. Ditambah sikap keduanya yang hampir sama-sama dingin membuatku sedikit tak nyaman. Ingin sekali aku memecahkan kesunyian di sini, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berbicara lagi. Akhirnya perjalanan kami didominasi oleh kesunyian, entahlah apa sebabnya, namun Naruto yang berisik pun tak mengeluarkan sepatah kata celotehan andalannya.
.
.
"Halo, aku Asuma Sarutobi," ujar seorang polisi saat kami sampai di kantor polisi. Pria paruh baya itu memperkenalkan dirinya setelah kami duduk.
"Aku tebak, kalian adalah The Savior dan kau seharusnya gadis yang bernama Sakura," sambung pria bernama Asuma itu. Kami semua mengangguk membenarkan tebakan Asuma yang terkesan mengejek kami.
Asuma mulai membuka mulutnya kembali, "jadi, kudengar kau tidak bisa berbicara, Sakura, apakah itu benar?" tanyanya kepadaku. Aku mengangguk, lemah. Lalu, asuma menoleh ke arah Naruto dan melemparkan sebuah pertanyaan, "Kau tahu alasannya?"
"Ya. Sakura mendapatkan perlakuan buruk dari ayahnya. Dan, Sakura selalu diancam tidak boleh berbicara olehnya. Kami yakin bahwa itu yang menjadi penyebabnya."
Asuma mengangguk, "sangat masuk akal, melakukan sesuatu yang menyakitkan atau mengancamnya, tindakan ini akan membuat rasa ketakutannya untuk berbicara datang."
"Ya, aku tahu," gumam Naruto.
"Baiklah, langsung saja," ujar Asuma, mengalihkan pembicaraan, "aku telah menemukan sebuah rumah asuh bagi Sakura untuk tempat tinggalnya sampai dia berusia 18 tahun. Setelah itu, terserah kepadanya. Tempatnya berada sekitar lima puluh kilometer dari sini, jadi dia akan berada jauh dari ayahnya."
"Itu berarti juga dia akan jauh dari kami," gumam Sasuke dengan sedih. Aku meliriknya. Apakah sebenarnya Sasuke tidak ingin aku pergi? Tidak, aku berpikir terlalu jauh.
"Ya, sayang sekali," jawab Asuma, "mereka keluarga baik-baik dan mereka memiliki tiga anak asuh lainnya di sana. Kurasa kau akan suka," ujarnya kepadaku.
Sepertinya polisi yang usianya berkepala empat itu mencoba untuk membuat semuanya terdengar lebih baik daripada yang sebenarnya. Aku merasa gelisah dan aku benar-benar tidak ingin meninggalkan yang lain. Andai saja aku bisa berbicara dan memiliki keberanian untuk menolak usul ini, mungkin aku bisa tinggal bersama dengan The Savior. Bahkan aku rela melakukan apapun untuk mereka, jadi pelayan rumah tangga sekalipun aku tak mengapa. Asal bersama mereka, aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin mereka bisa membantuku keluar dari masalah yang selama ini membuat hidupku hampir gila.
"Kedengarannya tidak buruk, bukan?" Asuma bertanya kepada The Savior. Mereka mengangguk, kecuali Sasuke, ia tidak merespon sama sekali.
Aku pikir ini aneh, kenapa Asuma tidak menanyakan apakah aku baik-baik saja dengan hal ini. Rasanya Aku bahkan tak penting di sini. Seharusnya Asuma bertanya padaku apakah aku benar-benar ingin tinggal di rumah asuh itu atau tidak, tapi semua keputusan kurasa tak membutuhkan persetujuanku terlebih dahulu. The Savior pun tampaknya tidak keberatan jika aku harus pergi.
"Boleh jika aku membawanya hari ini?" Asuma kembali bertanya.
Kumohon, katakan 'tidak'.
"Ya, tidak apa-apa," jawab Naruto, "Jam berapa?" Dan, harapanku sirna. The Savior tidak berniat untuk menahan kepergianku. Aku memang tidak diinginkan mereka sejak awal.
"Sekarang, detik ini juga," ujar Asuma seraya bangkit dari kursinya.
Naruto dan anggota The Savior lainnya mengerutkan kening.
"Apakah tidak bisa kau memberi kami waktu beberapa menit lagi?" sahut Sasuke.
Gaara mengangguk dan melanjutkan kata-kata Sasuke, "kami bahkan belum sempat untuk mengatakan salam perpisahan kami."
"Baiklah, lima menit untuk salam perpisahan," ujar Asuma.
Kemudian Naruto meraih kedua tanganku, menggenggamnya, "aku tahu kita belum mengenal cukup lama, tapi kuharap kau memiliki keberuntungan di sana Sakura-chan!" Naruto berkata dengan dramatis. Aku tersenyum kepadanya.
"Selamat tinggal, Sakura. Kuharap kau menyukai keluarga dan rumah barumu," kata Neji padaku.
"Bye, Sakura," ujar Sai dan Gaara.
Aku memandang Sasuke, ia tampak sedih melihat kepergianku. Aku berjalan ke arahnya yang kini berdiri di dekat pintu keluar. Langsung saja kupeluk lengan kekarnya dengan erat. Anggap saja pelukan ini sebagai salam perpisahan yang tak dapat kusampaikan dan sebagai ucapan terima kasih yang tertahan di bibirku. Aku tahu, Sasuke sedikit terkejut dengan perlakuanku yang tiba-tiba ini, namun aku bersyukur, Sasuke tak merasa segan dan membalas pelukanku tak kalah erat.
"Aku akan merindukanmu," bisiknya, "aku janji, kami akan mengunjungimu nanti," sambungnya.
"Baiklah, kurasa waktu untuk salam perpisahan kalian sudah cukup. Sakura harus segera diantarkan ke tempat barunya, aku tak punya waktu banyak. Dan orang-orang di sana pun sepertinya sudah sangat tak sabar menunggu kehadiran Sakura," ujar Asuma.
Lima menit yang singkat.
Tuhan, aku tidak ingin pergi ke tempat itu. Perasaanku tak tenang. Aku benar-benar takut, aku takut jika tempat baruku itu lebih buruk dari yang kubayangkan. Bagaimana jika ternyata di tempat itu ada ayah? Bagaimana jika di sana ayah sudah menyiapkan sesuatu yang menyakitkan untukku? Aku tidak mau... Tapi, rintihan suara hatiku tak akan pernah terdengar oleh siapapun. Karena detik berikutnya tubuhku sudah ditarik pelan oleh Asuma menuju mobil polisi. Tahu-tahu tanpa sadar, aku sudah berada di dalam mobil dan duduk di samping kursi kemudi. Sementara The Savior (kecuali Sasuke yang entah kemana) menatapku dari luar dengan tatapan sendu. Seperti ada awan mendung di atas kepala mereka, raut wajah mereka tampak begitu lesu. Kutarik napasku untuk menenangkan perasaan dan menghapus bayangan-bayangan buruk yang mungkin saja terjadi. Aku memasang sabuk pengamanku dengan lemas saat Asuma mulai menyalakan mesin mobil. Aku akan pergi meninggalkan The Savior. Pergi jauh dari malaikat-malaikat penyelamatku. Ini benar-benar menyakitkan. Dadaku sesak, bahkan mataku mulai memanas saat kulihat mereka dari balik jendela mobil.
Dan ketika mobil ini mulai melaju pelan. Tiba-tiba, aku mendengar seseorang berteriak dari arah depan, menghadang mobil sehingga berhenti dengan mendadak. Tubuhku terlonjak ke depan, mungkin jidatku akan terbentur kaca mobil jika saja aku tak memakai sabuk pengamanku. "Tunggu Jangan pergi! Aku ingin Sakura tetap bersama kami!" aku mengalihkan pandanganku ke arah depan mobil dan melihat Sasuke di sana.
Sasuke berdiri di depan mobil? Dia ingin aku tetap bersama mereka? Benarkah ini? Dengan cepat aku membuka pintu mobil di sisi kiri, untunglah tidak terkunci. Aku berlari menghampiri tubuh Sasuke. Menatapnya sejenak. Mencari kesungguhan di dasar matanya. Apakah Sasuke benar-benar mengatakan bahwa ia ingin aku untuk tetap tinggal bersamanya? Aku tidak bermimpi, bukan? Ini kenyataan, tolong Sasuke, katakan padaku bahwa ini semua bukanlah khayalanku semata.
"Sakura," suara Sasuke menyadarkanku dari kelebatan pertanyaan, "aku tahu, kau tidak ingin pergi dan tinggal di rumah asuh. Aku tahu itu. Wajahmu mengatakan kau tidak menginginkannya. Dan, permohonanmu terkabul. Aku dan yang lainnya ingin kau untuk tetap bersama kami. Tinggalah bersama kami. Kau mau? Itu yang kau inginkan, bukan?"
Aku terdiam sesaat untuk menyadari apa yang sedang terjadi. The Savior ingin aku tinggal bersama mereka? Aku tidak percaya ini benar-benar terjadi padaku. Tidak pernah ada yang memperlakukanku begitu baik sebelum ini. Dan, ya... Tentu saja aku lebih memilih tinggal bersama mereka. Aku cepat-cepat menganggukkan kepalaku dengan antusias. Lalu, setelah mendapatkan jawaban dariku itu, Sasuke meraih tanganku dan membawaku kembali kepada yang lainnya. Sesampainya aku di sana, Naruto berlari kearahku dan memelukku dengan kuat.
"Yeah~!" teriaknya dengan gembira, "kita bisa menjaga Sakura-chan. Sudah lama aku ingin memiliki seorang anak!" Aku menatapnya dengan aneh. Aku hanya beberapa tahun lebih muda darinya, 'kan?
"Naruto, kau harus berjanji untuk memberi makan dan merawatnya," canda Sai, mereka bertingkah seperti aku adalah seekor anak anjing saja.
"Aku berjanji!" Naruto memekik.
Ah, sudahlah. Aku senang sekali. Keceriaan Naruto kembali kurasakan, serta kehangatan anggota The Savior kepadaku membuatku semakin tak ingin pergi jauh dari mereka. Aku ingin selalu bersama mereka, menjadi bagian terpenting dalam kehidupan mereka. Bisakah?
Akhirnya, tak ingin berlama-lama, mereka membawaku keluar dari kantor Sheriff setelah menjelaskan semuanya kepada Asuma dan meminta maaf atas kekacauan yang terjadi ini. Kami segera menuju tempat parkir dan masuk dalam mobil Naruto. Awalnya akumenduga kami akan kembali menuju rumah. Tapi, setelah berjalan cukup jauh dan melewati jalan yang sama sekali bukan daerah yang kukenal, aku kepanikan. Kami tidak menuju arah rumah The Savior, karena kami berada di tengah-tengah kota saat ini.
Aku menatap Sasuke kebingungan. Mencari penjelasan sebenarnya mereka membawaku kemana. "Kami akan membawamu ke suatu tempat," jawab Sasuke seakan mengetahui isi hatiku. Aku menggelengkan kepalaku, mencoba mengatakan bahwa mereka tidak perlu melakukan apa-apa untukku. Tapi Sasuke tak mengindahkan penolakanku, "tidak, sekarang hidupmu ada di tangan kami. Tugas kami adalah untuk menjagamu, dan memberikan pelayanan yang terbaik untukmu, jadi sekarang kau tidak perlu protes jika kami membawamu ke tempat manapun yang kami inginkan," katanya.
Aku menunduk. Lalu, aku ingat bahwa aku punya buku catatan kecil dan bolpoint. Aku menariknya keluar bersama dari saku celana jeans-ku. Aku cepat-cepat menulis:
Bisakah setidaknya katakan padaku, ke mana kalian membawaku?
Sasuke menggeleng, "tidak, ini kejutan. Jangan khawatir, kau akan tahu sebentar lagi."
Percuma saja. Mereka tak akan pernah memberitahuku di mana kami berada dan ke mana destinasi tujuan kami. Kemudian, kami berhenti di tempat parkir sebuah mall besar di pusat kota Tokyo. Oh, mall? Tidak, jangan bilang mereka akan membelikan beberapa barang untukku. Bukannya terlalu percaya diri, tapi aku yakin mereka akan melakukannya. Aku tidak ingin mereka harus mengeluarkan uang mereka untukku. Aku lebih baik membayarnya sendiri. Aku memiliki beberapa uang di dompetku, uang dari tabungan sekolahku yang ibu simpan dan diberikan sebelum ibu meninggal dunia. Namun, ketika aku mengeluarkan dompetku, Naruto segera merebutnya. Aku mencoba untuk mengambil kembali dompet milikku itu, tapi sia-sia.
Naruto menggelengkan kepalanya, "tidak akan kami biarkan kaumembayar dengan uangmu sendiri!" serunya, "biar kami saja, anggap saja hadiah menyambut Sakura-chan di rumah kami," Naruto hendak menaruh dompetku di sakunya, ketika Gaara meraihnya dan menyerahkannya kembali padaku.
"Kau tidak usah khawatir Sakura, pilihlah apapun yang kau suka. Simpan uangmu untuk keperluan yang lainnya nanti," ujar Gaara dengan bijaksana. Aku sempat terpana dengan tindakannya. Gaara benar-benar dewasa.
.
.
Sudah hampir dua puluh menit aku dan The Savior berada di dalam mall ini. Mencari pernak-pernik anak perempuan, mulai dari tempat yang menyediakan baju atasan, rok-rok manis, celana jeans, dress, sampai pakaian dalam semua kami masuki. Sebelum turun dari mobil, The Savior menyempatkan diri untuk menyamarkan wajah mereka. Mereka memakai kacamata, topi atau wig agar orang-orang di mall ini tidak mengenali mereka. Dan kurasa penyamaran mereka berhasil, karena tak ada satu orang pun yang mencurigai mereka sebagai seorang penyanyi terkenal itu. Kini, Naruto dan yang lainnya membawaku ke sebuah toko yang aku yakin itu mahal, pusat perbelanjaan di Tokyo apalagi Ginza memang terkenal dengan harga yang selangit. Mereka membuatku merasa bersalah, aku tidak ingin uang mereka habis hanya untuk membeli baju-baju mahal untukku. Padahal, mereka bisa membawaku ke pasar atau toko-toko kecil di pinggir jalan yang jauh lebih murah. Tapi, mereka bilang gadis secantik aku tidak cocok mengenakan pakaian seperti itu. Hah, sudahlah... Aku hanya bisa pasrah.
"Ayolah, kau bisa memilih yang lebih baik dari itu!" ujar Naruto ketika aku memperlihatkan sepasang mini jeans dan kemeja berwarna biru polos dengan harga miring.
Aku mengerutkan keningku. Kurasa ini sudah bagus untukku. Aku memang suka model yang simple.
"Iya, Sakura. Tidak usah khawatir, carilah yang lebih bagus dan lebih mahal dari ini. Sekarang pergi ke depan sana dan pilihlah, kami yang akan membayarnya, kau ingat?" kata Sai. Huh, mereka terlalu berlebihan.
"Biar aku saja yang memilihkan," sahut Neji ketika aku hendak beranjak ke suatu tempat pakaian wanita yang ditunjukkan oleh Sai. Neji diikuti dengan Gaara dan Sasuke berjalan santai.
"Kau juga ikut, Sakura, aku dan Naruto tunggu di sini," ujar Sai seraya memberiku cengiran anehnya.
Aku pun mengikuti Neji, Gaara dan Sasuke. Di sana Neji memilihkan tiga macam kaus berkerah rendah dengan corak berbeda-beda, Gaara memilihkan empat potong celana panjang dan pendek, tiga pasang rok mini, sedangkan Sasuke memilihkanku sebuah gaun malam yang benar-benar indah dengan harga yang sangat fantastis, aku tidak berlebihan, karena aku bisa menjual motorku (jika aku punya) untuk membeli gaun ini, lalu tiga potong piyama dan dua potong mantel.
"Kau bisa memilih pakaian dalammu sendiri?" kata Sasuke dengan tampang aneh. Wajahku mengangguk cepat dan melesat ke tempat pakaian dalam wanita. Wajahku memanas, Sasuke membuatku malu saja. Tentu aku bisa memilihnya sendiri, meskipun seleraku sama sekali tidak bagus. Tapi setidaknya aku memakai dalaman, 'kan? Ugh, apa sih yang kupikirkan.
Mereka bilang tak usah membeli baju terlalu banyak dulu. Karena manager mereka memiliki persediaan baju wanita yang banyak di rumahnya, yang sesekali mereka gunakan untuk properti penyamaran mereka. Aku berdecak kagum, sebegitu tenarnya mereka sekarang, sampai-sampai untuk ke luar rumah pun mereka harus melakukan penyamaran agar para fans fanatik tidak menyerbu mereka.
Setelah memakan waktu sekitar tiga jam untuk membeli perlengkapanku, dan serentetan kegiatan-kegiatan menarik lainnya seperti foto-foto, dan makan malam. Kami memutuskan untuk pulang. Hari semakin gelap dan aku sangat lelah, aku yakin mereka pun lelah, tapi anehnya tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan raut kelelahan. Mereka semua tampak segar. Bahkan saat sampai di rumah pun, mereka tak langsung pergi tidur atau beristirahat, mereka malah bermain game dan memasang taruhan siapa yang tertidur harus menuruti perintah anggota yang lain. Mereka benar-benar penuh dengan stamina.
Kuhampiri kumpulan malaikatku itu dan memberi mereka selembar kertas kecil yang kububuhi dengan tinta hitam, tulisan tanganku sendiri sebagai ganti suaraku yang tak bisa kukeluarkan
Terima kasih untuk hari ini. Kalian membuatku tersenyum dan bahagia.
Ini adalah hari terbaikku. Aku sangat senang berada di tengah-tengah kalian.
Aku ingin terus berada di antara The Savior.
Kalian penyelamatku. Kalian malaikatku.
Aku menyayangi kalian. Dan kuharap kalian pun bisa menyayangiku. ^_^
The Savior menatapku dengan binar, kemudian mereka semua tersenyum padaku dan serempak mengatakan bahwa mereka juga menyayangiku.
"Selamat datang di dunia barumu, tuan putri. Aku akan mengajarkanmu teknik melukis yang baik dan benar. Oh, jangan tanya kenapa aku tahu kau suka melukis," sahut Sai kemudian disertai senyuman misteriusnya. Aku tersentak, bagaimana bisa Sai tahu aku suka melukis? Dan, dia bilang dia akan mengajariku melukis? Memangnya Sai seorang pelukis?
"Aku akan membuatmu selalu tersenyum dan tertawa, Sakura-chan," kali ini Narutolah yang bicara. Senyumanku tersungging begitu saja mendengar ucapan Naruto.
"Aku akan masak apapun yang kausuka mulai sekarang," ah, Neji seperti ibuku saja.
"Jika Naruto mengganggumu, kaubisa melaporkannya padaku. Aku akan menghabisinya dalam hitungan detik," aku bergidik ngeri. Gaara tidak sungguh-sungguh tentu saja.
"Kalau aku... Hey, kenapa kalian semua ini?" ujar Sasuke yang sepertinya tidak mengerti kenapa tiba-tiba mereka semua seakan-akan sedang mempromosikan diri. Aku juga heran sendiri, mereka memperlakukanku sangat istimewa.
"Loh, kami hanya ingin membuat Sakura-chan bahagia. Kalau kau, akan melakukan apa untuk kebahagiaan Sakura-chan?" tanya Naruto.
Sasuke mendesah pelan dan meletakan kontroler yang semula ada digenggamannya. Sasuke menatapku dengan tajam namun lembut, kemudian dia berkata, "apapun," jeda sejenak, "apapun akan kulakukan untuk membuat Sakura bahagia. Bahkan aku siap mempertaruhkan nyawaku demi kebahagiaan Sakura."
DEG!
Jantungku seakan berhenti saat itu juga, aku mematung mendengar serentetan kalimat yang baru saja meluncur dari bibir Sasuke. Aku butuh waktu beberapa menit untuk mencerna apa yang kudengar, rasanya sulit memercayai ini begitu saja. Tidakkah Sasuke berlebihan? Mempertaruhkan nyawanya demi kebahagiaanku? Kenapa Sasuke? Kenapa seperti ini? Aku takut jika nanti aku terjatuh ke dalam pesonanya dan membuat dirinya kesulitan. Tapi, bukankah sejak awal aku memang sudah jatuh ke dalam pesonanya? Dan bukankah sejak awal aku memang membuatnya menghadapi kesulitan? Tuhan, salahkah keputusanku untuk tinggal bersama The Savior? Terpenting adalah, salahkah jika aku jatuh cinta kepada Sasuke Uchiha?
to be continued
