Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Genre: Romance/Tragedy/Hurt-Comfort

Rated: T

Warning: Sakura's POV and Normal POV di chapter ini, AU, OOC, Typoo's, psychological, abused, sedikit kata-kata kasar (di beberapa chapter), dll.

DLDR!

My Savior by Yara Aresha

Note: tanda ### sudut pandang saya (author) haha... :')


Chapter 3: The Concert and Worst Letter


Dua hari luruh begitu saja. Tak terasa aku semakin dekat dengan anggota The Savior. Meskipun mereka disibukkan dengan jadwal manggung, dan lain hal sebagainya. Namun, aku cukup senang karena mereka tidak melupakanku. Aku hanya bisa menunggu mereka pulang, karena aku terlalu takut berhadapan dengan dunia luar. Tapi, kuharap suatu hari nanti aku akan lebih berani dan siap dengan segala risiko yang dunia luar suguhkan kepadaku. Entah itu bertemu ayah atau mulai belajar berbicara lagi.

Seperti pagi-pagi sebelumnya. Hari ini sinar matahari yang masuk melalui kisi-kisi jendela kamarku masih terasa hangat dan nyaman, kupingku dimanjakan dengan suara merdu dari burung-burung gereja di luar sana, membuatku menggeliat di atas tempat tidurku. Kubuka kelopak mataku, menampakan sepasang manik emerald yang kata orang-orang sangat indah. Perlahan tapi pasti, akubangkit dari tempat tidurku, dan dengan langkah gontai kubuka gorden jendela seraya tersenyum senang, sebab matahari bersinar terang di atas sana, dengan dilatarbelakangi langit biru yang cerah. Indah sekali. Kuhirup dalam-dalam udara segar dengan mata terpejam, senyum kembali tersungging dari bibirku ketika aku mengingat kembali hari-hari yang telah kulewati bersama The Savior. Perlakukan mereka yang baik membuatku takjub, padahal aku hanyalah seorang asing yang memiliki sekelumit masalah dalam kehidupanku. Namun, mereka mampu menyambutku dengan tangan terbuka dan memberikan rasa nyaman yang tak pernah kudapatkan. Mereka menawarkan kebahagiaan yang dulu rasanya sulit kurengkuh.

Kami-sama, semoga aku bisa terus merasakan kebahagiaan seperti ini.

Setelah selesai membuka gorden jendela dan menghirup udara segar di musim semi itu, kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Membiarkan tubuhku terguyur percikan air shower. Dan entah kenapa, ketika kupejamkan mataku, bayangan tentang diriku di masa lalu kembali hadir. Membuat sekujur tubuhku bergetar hebat. Rasa takutku kembali hadir. Sekelebat sosok orang dewasa yang begitu kukenal tampak menghampiriku dengan seringaiannya yang mengerikan. Tidak! Cepat-cepat kugelengkan kepalaku. Kubuka perlahan kelopak mataku. Kutarik oksigen banyak-banyak, berusaha menghapus bayangan-bayangan kelam itu. Aku harus bisa melupakannya!

.

.

Setelah 30 menit mengguyur tubuhku di bawah dinginnya aliran air shower dan berpakaian. Aku memutuskan untuk turun ke ruangan bawah, aku berjalan ke arah dapur. Dan betapa terkejutnya aku ketika di sana kulihat The Savior telah selesai menyantap sarapannya. Aku mengerling jam dinding di dekat ruang tengah, waktu baru saja menunjukkan pukul 7:30. Tapi, kenapa mereka sudah tampak rapi? Ah, mungkin mereka ada jadwal manggung atau semacamnya.

"Oh, Sakura, kemarilah!" ujar Sai saat kornea matanya menangkap keberadaanku. Sai mempersilahkanku untuk duduk di salah satu kursi kosong, "kami mengisi acara musik hari ini, dan kami perlu bersiap-siap dari pagi untuk berlatih, kami tampil setelah jam makan siang. Sakura, bagaimana kalau kau ikut bersama kami hari ini. Kau mau?" sambungnya.

Aku berpikir sejenak. Haruskah aku ikut? Apa aku siap berhadapan dengan orang luar? Tapi, kuakui aku sangat bosan jika terus berdiam diri di rumah selama mereka berkegiatan di luar sana. Aku kesepian. Maka, kuteguhkan hatiku. Aku harus berani, bukan? Aku percaya tak akan ada hal buruk apapun yang menimpaku jika bersama dengan mereka.

"Kami tidak akan memaksamu," sahut Naruto yang duduk di samping Sai.

Aku tersenyum dan mengangguk antusias. "Kau mau ikut?" Naruto tampak begitu senang. Aku mengangguk sekali lagi.

"Ah, kalau begitu, kau makanlah dulu. Kita hanya punya waktu tiga puluh menit lagi, kau bisa makan dengan cepat?" ujar Neji yang kini beranjak dari ruang makan, sepertinya dia mau bersiap-siap mengambil barang-barang yang diperlukan. Sementara anggota yang lainnya menungguku melahap semangkuk sereal.

Kulirik Sasuke yang duduk di seberangku. Manik obsidiannya menatapku dengan lembut. Namun, ketika bola mata kami saling beradu, Sasuke dengan cepat mengalihkan pandangannya. Sasuke memalingkan wajahnya ke kiri. Hal ini membuatku bertanya-tanya, apa maksud dari tatapan Sasuke itu. Dan kenapa dia mengalihkan pandangannya dariku. Apa ada yang salah denganku hari ini? Apa mungkin Sasuke membenciku sekarang? Tidak. Bukan begitu 'kan? Sasuke... Aku menghela napas panjang. Semoga saja intuisiku tidak benar. Kucoba membuang pikiran-pikiran negatif itu dan menyantap kembali serealku. Aku harus bergegas. Karena mereka sudah menungguku.

Akhirnya acara sarapanku selesai sudah. Setelah selesai menyantap menu sarapanku dan merapikan meja makan serta mencuci piring-piring yang telah terpakai, aku pun kembali ke kamarku, meraih jaket dan tas milikku pemberian dari Gaara dan Sasuke. Ketika aku menuruni tangga kembali, kulihat Sasuke ada di bawah sana, sudah berdiri tegap untuk menyambutku.

Sasuke lantas menghampiriku dan tersenyum lembut. "Kau terlihat cantik hari ini," katanya.

Sontak saja, perkataan Sasuke membuatkua tersipu, wajahku memanas. Aku yakin sekarang rona merah merambat di wajahku. Kugerakan bibirku membentuk kata 'terimakasih'. Dan Sasuke mengerti seraya memberiku tangannya, "Hn, ayo! Yang lain sudah menunggu di mobil," ajak Sasuke.

Tuhan, Sasuke menggandeng tanganku.

.

.

Saat ini aku dan kelima anggota The Savior tengah berada di dalam mobil limosin mewah berwarna putih. Kali ini mobil dikemudi oleh seorang sopir. Kami semua duduk di belakang kemudi, sedangkan di samping sopir duduk seorang manager The Savior yang kuketahui bernama Kakashi Hatake. Lalu di dalam mobil ini juga ada empat orang pengawal yang memiliki badan kekar dan menyeramkan. Aku tak hapal betul siapa saja nama mereka, tapi salah satunya yang kukenal cukup dekat bernama Kisame. Aku duduk di antara Sasuke dan Naruto, di kursi penumpang paling belakang. Sedangkan Neji, Sai dan Gaara duduk di barisan kedua.

Selama perjalanan menuju tempat acara musik yang berada di wilayah perbatasan kota Tokyo, Gaara dan Sai terlihat berbincang-bincang―meskipun Gaara lebih sering menanggapinya dengan kalimat pendek―lalu kulihat Neji tengah berbicara dengan entah siapa di saluran telepon, sedangkan di samping kiriku, Sasuke sedang menatap ke luar jendela, dan yang membuatku tak nyaman adalah Naruto. Dia nampaknya lebih tertarik untuk bermain-main dengan rambutku. Aku mencoba untuk membuatnya berhenti memilin-milin rambutku, tapi Naruto tetap tak bergeming, alhasil aku hanya bisa pasrah dan kubiarkan saja ia bertindak sesukanya.

"Hei, Sakura," ujar Sai tiba-tiba. Dia menoleh ke arah belakang, "kau harus memiliki ini!" sambungnya.

Aku mengerutkan keningku. Sai memberiku―lebih tepatnya melemparkan sebuah benda kearahku. Aku reflek mengambilnya, kemudian aku menatap Sai dengan mata terbelalak dan dengan cepat memberikan kembali benda tipis itu kepada Sai. Sai memberiku sebuah ponsel? Oh, Kami-sama aku tidak bisa menerima itu.

"Kau harus menerimanya, kau boleh menolaknya jika kau berbicara kepadaku," kata Sai.

Sai, kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku menyilangkan tanganku dan menatapnya tajam.

"Yap! Sekarang pilihanmu hanya satu, kau harus mengambilnya!" jawab Sai, nada suaranya penuh dengan perintah. Dia menyeringai di atas kemenangannya, "kau perlu ini. Ini akan mempermudah kita untuk berkomunikasi, Sakura. Akan terlalu hambur jika kau selalu menulis dengan notes," sambung Sai.

Aku mengela napas dan menerima ponsel itu, tentunya dengan wajah cemberut. Sai tersenyum dan kemudian berbalik kembali. Kulihat di depan sana, Sai dan Gaara melakukan High Five atas keberhasilan mereka. Aku memutar emerlad-ku dan menatap ponsel baruku. Jujur saja, aku tidak pernah memiliki ponsel sebelumnya, bahkan aku tidak tahu bagaimana cara untuk menyalakannya. Kemudian aku menarik keluar buku catatanku dan mulai menulis.

Aku tidak pernah punya ponsel sebelumnya. Apa Sasuke bisa membantuku mengatur dan mempelajarinya?

Aku menunjukkan tulisanku kepada Sasuke dan menyerahkan ponsel tersebut. Sasuke tersenyum, kemudian ia mulai menyalakannya dan mengatur ponsel yang sekarang menjadi milikku ini. Selama perjalanan, Sasuke dan Naruto memberiku pelajaran kilat untuk mengoprasikan ponsel.

.

.

.

Butuh waktu empat puluh menit untuk sampai di lokasi. Ketika mobil berhenti di suatu tempat parkir, Sasuke menyerahkan kembali ponselku yang sebelumnya dia ubah penyetingannya dan entah apa itu, aku tidak mengerti.

"Ini, sudah selesai," kata Sasuke.

Aku meraih ponselku dan menggenggamnya.

Setelah itu, kami turun dari dalam mobil dan berjalan menuju sebuah lift sebagai akses untuk kami menuju gedung tempat acara musik yang akan segera berlangsung. Ketika aku sedang berjalan dan menekan tombol pada layar ponsel baruku, Naruto menyambar ponselku.

"Sebentar, aku akan men-download aplikasi yang bagus untukmu, Sakura-chan," kata Naruto padaku, "ketika kau mengetik apapun, aplikasi ini akan mengubah ketikanmu menjadi sebuah suara, seperti robot. Cobalah!" sambung Naruto seraya tersenyum lebar. Kemudian, ia menyerahkan kembali ponselku, aku meraihnya dan mulai mencoba aplikasi yang baru saja Naruto download. Aku mengetikkan sesuatu di atas layar ponselku.

Hi, Naruto.

Aku sedikit tersentak saat muncul suara robotik dari ponselku. Namun, suara itu mengatakan nama Naruto dengan salah. Sehingga membuat Naruto marah. Lucu sekali.

"Apa?!" Teriak Naruto, "beraninya dia menyebut namaku dengan salah!"

Tenanglah Naruto.

"Dia melakukannya lagi!" serunya. Aku memutar mataku.

"Sudahlah, Dobe! Suara robot itu hanya salah menyebut huruf 'r' menjadi 'l'. Mungkin saja robot itu cadel. Kau berisik, tahu!" ujar Sasuke tajam. Aku pikir Sasuke ini memiliki kepribadian ganda, terkadang ia bisa menjadi sangat lembut, tapi bisa juga menjadi begitu dingin.

Aku mengetik kembali di layar ponselku.

Sudahlah, tidak usah dimasukkan ke dalam hati.

Naruto mengerucutkan bibirnya dan menggerutu. Sementara Neji, Gaara dan Sai hanya tersenyum geli. Kemudian Sasuke mendekatiku dan berkata, "kau tahu apa yang jauh lebih baik dibandingkan dengan suara robot itu?" aku menggelengkan kepalaku menatap manik obsidian milik Sasuke yang seolah menghipnotisku agar tak melepaskan pandanganku dari sana.

"Suaramu, Sakura," katanya dengan lembut. Aku sedikit tersentak, lalu aku menundukan kepalaku.

"Sakura, apa alasan kau tidak bicara karena ayahmu selalu menyiksamu?" Gaara bertanya kepadaku dengan rasa ingin tahu yang besar. Aku mengangkat kepalaku, menggigit bibir bawahku serta merapatkan tubuhku di sudut lift. Oh, tidak bisakah ia tidak bertanya tentang hal ini lagi?

Tiba-tiba saja Naruto melompat ke atas punggung Gaara, "Och! Apa yang kau laku―hmpht!" perkataan Gaara teredam oleh bekapan tangan Naruto. Gaara mencoba untuk melepaskan tubuhnya, namun nampaknya tenaga Naruto lebih besar darinya.

"Bodoh! Itu bukan pertanyaan yang bagus untuk kau lontarkan Gaara! Kau 'kan sudah menanyakan hal itu tempo hari," Naruto berbisik dengan nada suara tajam.

Naruto, tidak apa-apa. Cepat atau lambat, aku memang harus menceritakan semuanya.

Naruto melompat turun dari punggung Gaara, mereka berdua serta anggota The Savior yang lainnya langsung saja menatapku, berharap mendengar ceritaku dari aplikasi robot ini.

Ya, ketika ayahku menyiksaku, ia melarangku untuk berbicara, karena menurutnya aku tidak cukup berharga untuk hidup bahkan untuk berbicara sedikitpun. Itulah, alasan aku memutuskan untuk tidak pernah berbicara kembali.

The Savior melihatku dengan pandangan iba. Ugh! Aku melakukannya lagi! Aku membuat mereka sedih dan kasihan padaku lagi.

Aku mohon, jangan menatapku dengan pandangan seperti itu. Aku bahagia sekarang, sungguh! Itu semua hanya masa lalu.

"Lalu, jika itu hanya masa lalu, kenapa kau tidak bicara sekarang?" tanya Neji. Naruto memberinya tatapan tajam, "apa?" sambung Neji, menantang Naruto. Naruto mengalihkan pandangannya kembali ketika suara robot kembali terdengar.

Aku tahu ini memalukan, tapi aku tetap tidak bisa mengeluarkan suaraku. Aku takut. Dan setiap kali aku mencoba mengeluarkan suara, tenggorokanku rasanya sangat sakit.

Aku menatap The Savior dengan harap-harap cemas ketika aku tak mendengar suara mereka. Sekarang kami tengah berada di dalam gedung yang besar, aku rasa ini jalan rahasia menuju gedung utama, karena begitu sepi dan tidak ada siapapun. Langkahku terhenti ketika Sasuke meraih bahuku dengan kedua tangannya. Rasanya begitu canggung, tinggiku hanya 161 cm sedangkan Sasuke 175 cm.

"Berjanjilah padaku, kau akan berbicara ketika kau merasa siap, hm?" Ujar Sasuke. Aku mengangguk. Kemudian, Sasuke menarik kembali tangannya dari bahuku dan kami berjalan menyusul yang lainnya.

"Sakura," Neji membuka suara, "apa yang ingin kaulakukan selagi kami berlatih? Kau mau berkeliling di sekitar sini, atau kau ingin pergi ke suatu tempat? Biar sopir yang menemanimu. Bagaimana?" tawar Neji.

Aku menggeleng. Sebenarnya aku ingin melihat mereka berlatih. Boleh tidak ya? Jika aku mengatakan itu.

"Hm, atau, kau mau melihat kami berlatih?" sambung Neji.

Ah, doaku terkabul. Aku menganggukkan kepalaku antusias dan tersenyum lebar kepada Neji. Anggota The Savior pun tertawa melihat ekspresiku yang sepertinya terlalu berlebihan. Tapi sudahlah, yang penting aku bisa melihat mereka berlatih. ini pertama kalinya aku melihat mereka berlatih. Senang rasanya. Karena selama mereka ada di rumah, mereka tak pernah sekalipun bernyanyi atau berlatih. Padahal aku ingin sesekali mereka bernyanyi untukku. Dalam khayalanku saja.

Akhirnya, kami pun segera bergegas pergi menuju sebuah studio di gedung ini. Studio tempat biasanya para talent latihan. Latihan berlangsung selama beberapa menit saja. Mereka bilang mereka harus menjaga suara mereka agar tetap stabil di panggung nanti. Sedikit kecewa karena mereka hanya menyanyikan beberapa bait lagu saja.

Setelah selesai berlatih anggota The Savior mengadakan meeting terlebih dahulu bersama menejer mereka. Sedangkan aku memutuskan untuk berkeliling sebentar, tentu saja setelah mendapatkan izin dari mereka. Masih ada satu jam sebelum The Savior berdiri di atas panggung.

.

.

Aku berjalan di koridor gedung dan melihat beberapa orang yang berkeliaran dengan berbagai macam property, sepertinya alat-alat itu untuk persiapan acara. Lalu, tiba-tiba langkahku terhenti ketika aku melihat sebuah pintu yang di depannya tertulis 'The Savior's Room'. Hm, aku datang bersama The Savior, jadi kupikir aku bisa masuk ke dalam ruangan itu sekarang. Maka, tanpa pikir panjang, aku membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Namun, baru saja aku membuka pintu itu, aku terkesiap. Di depan sana berdiri sesosok gadis cantik yang tengah sibuk menyiapkan berbagai macam perlengkapan make-up. Dia menoleh ke arahku dan tersenyum dengan lebar, entah kenapa wajahnya terlihat begitu senang.

"Oh! Kau pasti Sakura," gadis itu beseru dan berlari kecil menghampiriku, "hai, aku Ino. Aku stylist The Savior. Naruto bercerita tentang dirimu, dia juga mengirimkan fotomu kepadaku," katanya.

Tunggu dulu, kenapa gadis ini tahu namaku? Dan, maksudnya dengan foto? Aku mengerutkan keningku. Kapan Naruto memotretku? Lama aku tenggelam dengan pikiranku, Ino menepuk pundakku sambil mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya. Ino menunjukkan fotoku, dan aku terkejut saat kulihat di sana aku sedang tertidur dengan wajah yang... oh entahlah. Naruto! Dia benar-benar... beraninya dia mengambil fotoku sementara aku tengah tertidur.

"Sepertinya kau tidak sadar anak itu memotretmu, ya?" Ino bertanya padaku, aku menggelengkan kepalaku dan Ino tertawa.

"Dia memang usil, hei Sakura, aku punya ide. Bagaimana jika kita mengejutkan mereka dengan dirimu?" katanya.

Aku menatapnya dengan bingung, sedangkan Ino kembali tertawa melihat ekspresiku.

"Aku ingin mengejutkan mereka dengan penampilan barumu."

Tanpa menerima persetujuanku dahulu, Ino menyuruhku duduk di kursi yang menghadap ke kaca besar. Ino mulai memoles wajahku dengan alat make-up-nya. Aku diam saja, pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh orang asing ini. Iya, meskipun dia mengenalku, tapi aku tidak kenal dia. Sama sekali tak pernah mendengar cerita tentangnya dari anggota The Savior. Atau, aku melewatkan sesuatu? Mungkinkah mereka pernah menceritakan tentang Ino? Ah, aku tak ingat. Sekarang, biarlah Ino bertindak sesukanya, sekali-kali aku juga ingin tampil cantik dan berdandan di depan orang lain.

Aku berani bertaruh. Ino adalah stylist profesional yang sudah sangat terkenal di dunia entertain. Lihat saja buktinya. Dia berhasil menyulap diriku menjadi seorang putri. Aku bahkan hampir tidak mengenali diriku sendiri ketika aku melihat pantulan diriku di dalam cermin. Bukannya melebih-lebihkan atau membanggakan diri. Tapi ini hasil tangan ajaib Ino, dan aku tak kuasa untuk tidak berdecak kagum. Ino hebat, dia sangat berbakat. Padahal usianya tak jauh dariku, Ino bilang dia berusia tujuh belas tahun. Usia belia untuk mencapai kegemilangan. Aku iri padanya. Karena aku, tidak bisa melakukan apapun.

Kali ini aku memutar tubuhku di depan cermin. Aku tersenyum senang. Entah sihir apa yang dikeluarkan oleh Ino, aku tampak begitu terlihat cantik dalam balutan mini-dress berbahan dasar sifon berwarna hijau tosca ini. Dress yang kukenakan dipermanis dengan kerah brukat di bagian leher. Ino bilang dress ini karya desainer Jepang bernama Shiho. Lalu penampilanku semakin sempurna ketika kakiku yang lumayan jenjang mengenakan sepatu wedges berwarna nude koleksi L.K. Bennet.

Ah, rasanya aku sudah tak sabar memperlihatkan penampilan baruku kepada mereka. Ya, mereka. The Savior tentu saja. Terutama, Sasuke. Apa Sasuke akan senang melihatku seperti ini? Memikirkannya saja sudah membuatku berdebar. Tuhan, apakah aku benar-benar jatuh cinta padanya?

Selang beberapa menit berlalu. Ino melirik jam manis yang melilit di tangan kirinya, "sebentar lagi The Savior akan tampil. Ikut aku!" serunya gembira.

Lalu Ino pun membawaku keluar ruangan mak-eup, menuju sebuah ruangan dengan tulisan 'Stage'. Dibukanya pintu itu dan kami masuk ke dalam, ah ini backstage. Aku melihat The Savior di depan sana, di atas sebuah panggung yang tidak terlalu besar namun tetap megah. Mereka mulai melantunkan beberapa bait lagu. Aku dibuat tercengang, suara mereka begitu indah. Meskipun aku sudah pernah mendengar mereka bernyanyi sebelumnya, tapi melihat mereka bernyanyi secara langsung seperti ini jauh lebih menyenangkan. Aku tak pernah bermimpi bisa melihat The Savior seperti ini, band favorite-ku benar-benar menakjubkan. Aku begitu terpesona oleh nyanyian mereka.

Lalu suara Sai yang menggema dari mikrofon itu membuyarkan segala lamunanku, "kami akan menyanyikan lagu terakhir kami, tapi sebelumnya ada seseorang yang ingin kami perkenalkan kepada kalian semua."

Orang-orang yang memenuhi gedung itu mulai bersorak-sorak. Aku ingin tahu, siapa orang yang ingin mereka perkenalkan. Sementara aku berpikir, menebak-nebak siapa orang itu, Ino mendorong tubuhku menaiki sebuah tangga. Dan ketika aku menyadari apa yang terjadi, aku telah berada di atas panggung, bersama dengan The Savior.

.

.

Kuamati di mana tempatku berpijak saat ini. Berusaha untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Kini di depanku, tersuguh pemandangan yang asing. Sorak riuh menggema di sepenjuru aula besar ini. Aku tak nyaman. Benar-benar merasa terusik dengan tatapan tajam yang seolah mengintimidasiku di bawah sana. Lautan manusia di bawah sana seakan siap menenggelamkanku kapan saja. Kuggenggam erat ujung dress-ku, kugigit bibir bawahku. Resah. Berkali-kali kuhirup oksigen yang entah mengapa semakin terasa berat, mencoba untuk mengatur ritme detak jantungku yang tiba-tiba saja berdebar dengan kencang.

Kualihkan fokusku kepada kelima laki-laki yang berada di sisi kanan dan kiriku, memberikan tatapan penuh tanya. Namun, alih-alih mengerti kegelisahan hatiku. Mereka semua memberikanku tatapan teduh. Tersenyum penuh arti. Tuhan. Apa yang sedang terjadi? Selanjutnya, Sasuke meraih tanganku untuk berjalan lebih dekat ke depan panggung. Anggota yang lainnya pun mengikuti langkah kami.

"Semuanya, perkenalkan dia Sakura Haruno," ujar Naruto yang kini selangkah lebih depan, "dia sahabat baru kami, dan dia tinggal bersama kami sekarang," sambungnya dengan nada riang yang kentara.

Oh, tidak Naruto.

Langsung saja, suara sorakan terdengar semakin ramai. Beberapa orang mengabadikan momen langka ini dengan kamera, atau ponsel yang mereka bawa. Kilatan blitz yang menyilaukan membuat mataku sakit dan perih. Aku tak terbiasa dengan hal semacam ini. Tiba-tiba saja tubuhku bergetar, mataku mengembun. Pandanganku tampak mengabur. Aku ingin menangis. Ibu...tolong aku. Aku takut. Aku tak ingin di sini. Aku tak ingin orang-orang itu menatapku seperti itu. Dengan cepat kulepaskan genggaman tangan Sasuke dan berlari meninggalkan panggung, melewati Ino yang tercengang di belakang panggung. Aku yakin, kepergianku ini membuat The Savior dan Ino kebingungan. Tapi, aku tak ingin menjadi pusat perhatian. Jadi aku terus berlari. Berlari menjauh dari panggung, menuju sembarang ruangan yang saat itu terbuka. Tubuhku merosot di lantai, kubenamkan seluruh wajahku di atas sofa yang ada di sana. Dan aku mulai menangis. Menangis tanpa suara.

Aku kesal dengan diriku sendiri. Kesal pada kelemahan dan ketidakberdayaanku saat ini. Berlari dari kenyataan memang hal yang sangat mustahil. Dadaku rasanya sesak. Kuremas ujung dress-ku kuat-kuat, sementara air mataku mengalir dengan derasnya. Aku tidak pernah menyangka akan dihadapkan dengan situasi seperti ini. Pikiranku mendadak buntu, tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang.

Aku benar-benar takut.

Belum lama aku meringsut di ruangan ini. Kudengar langkah kaki masuk dan semakin mendekatiku. Aku harap-harap cemas, siapa yang datang. Ino kah? Karena tadi aku melihatnya berlari mengikutiku. Kutolehkan kepalaku menghadap orang itu. Dan mataku melebar saat kulihat yang berdiri di sana adalah Sasuke. Sasuke lantas mendekatiku dan duduk di sampingku. Kenapa dia mengikutiku? Bukankah dia masih harus berada di atas panggung? Bukankah dia seharusnya menghibur para fans-nya dan bernyanyi bersama dengan anggota yang lain? Tapi, kenapa dia lebih memilih untuk mengejarku dan duduk di sampingku.

"Maafkan aku Sakura," ujar Sasuke dengan tenang, "ini ide konyol kami, kami ingin memperkenalkanmu sebagai anggota keluarga baru kami. Tapi, aku tidak tahu kau akan seperti ini. Kurasa tindakan kami salah, maaf," sambungnya dengan nada menyesal.

Aku tahu Sasuke merasa sangat bersalah atas situasi yang tengah tejadi. Aku menarik napasku dalam-dalam. Mencoba meredam emosi dan tangisanku. Namun, pertahananku tetap bobol. Emosiku tertumpah dalam bentuk kristal bening, meski tanpa terisak dan tanpa suara tangisan. Kedua bahuku berguncang-guncang seirama dengan isakan bisuku. Sakit. Rasanya begitu sesak.

###

Bersamaan dengan tangisan bisu yang Sakura keluarkan. Saat itu juga, Sasuke merasakan seperti tengah di rajam benda-benda tajam. Dadanya berdenyut, sakit. Sasuke tidak suka melihat Sakura dalam keadaan seperti ini, ia tidak suka jika Sakura menangis. Penampilan Sakura yang semula membuatnya berdecak itu kini benar-benar kacau. Sasuke merasa akan lebih baik jika Sakura marah padanya dan berteriak di sela-sela tangisannya. Namun, yang dilihatnya hanyalah lelehan air mata yang penuh dengan kebisuan. Memilukan.

Sasuke kembali membuka suara saat Sakura tak memberikan respon yang berarti. "Sakura, katakan padaku. Apa yang membuatmu seperti ini? Kau takut? Kau punya demam panggung?" serentetan pertanyaan itu dilontarkan Sasuke tanpa jeda. Cemas. Sasuke benar-benar cemas.

Sakura menggeleng cepat, menanggapi pertanyaan Sasuke. "Kau tidak punya demam panggung?" tanya Sasuke lagi. Sakura menggelengkan kembali kepalanya. Sementara, Sasuke mengela napas frustasi, "kau membuatku bingung, Sakura," katanya.

Sakura berusaha meredakan tangisnya, lalu ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecil yang dibawa olehnya. Menjalankan aplikasi robotic voice-nya dan mulai mengetik.

Aku tidak punya demam panggung.

Sasuke menatapnya lembut, "lalu kenapa? Kenapa kau berlari dan menangis?" tanya Sasuke. Sakura terdiam sejenak, kemudian mengetik kembali.

Aku takut ayah melihatku di televisi dan dia mencari tahu keberadaanku. Dia bisa menyeretku kapan saja, dan yang lebih parah lagi dia menyakiti kalian. Memisahkanku dari kalian. Aku tidak mau.

Tangan Sakura bergetar dan sekali lagi cairan bening menetes dari iris emerald-nya. Sasuke tersenyum, ia ulurkan jemarinya untuk menghapus jejak air mata Sakura. "Maaf. Aku sama sekali tidak memiliki pikiran ke arah sana. tapi, kumohon untuk tenang. Kau tidak perlu khawatir. Ayahmu tidak akan menemukanmu. Dan jika dia menemukanmu, aku akan melindungimu," ujar Sasuke berusaha meyakinkan Sakura.

Sakura menggelengkan kepalanya.

Bagaimana bisa kau yakin ayahku tidak akan menemukanku? Kaupikir aku tidak pernah melarikan diri sebelumnya? Aku beberapa kali melarikan diri darinya. Beberapa kali aku coba kabur dari rumahku, tapi dia selalu berhasil menemukanku. Dia membenciku, tapi dia tidak membunuhku. Dia hanya ingin melihatku menderita, kau tidak akan mengerti.

Suara robot yang datar itu terdengar memilukan di telinga Sasuke. "Aku mengerti. Kami akan selalu melindungimu Sakura..." balas Sasuke, seraya mengusap bahu Sakura untuk meyakinkan gadis itu sekali lagi.

Ayah pernah melukaimu sebelumnya. Kau tidak bisa menghentikannya.

"Saat itu aku hanya bersama Naruto, tapi sekarang kau memiliki Neji, Gaara dan Sai sebagai pelindungmu. Lagipula kami memiliki bodyguard. Kau aman bersama kami Sakura. Kau tidak sendirian."

Meskipun Sasuke menyadari bahwa saat ini mereka tidak cukup kuat untuk menghadapi ayah Sakura. Tapi ia bertekad di dalam hatinya bahwa ia akan menjaga gadis itu semampunya, bahkan ia rela mengorbankan nyawanya. Entahlah, rasanya ia begitu ingin melindungi Sakura.

Mendengar ucapan Sasuke yang penuh kesungguhan, Sakura berhenti menangis, ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum lemah. Sasuke merubah posisi duduknya, berpindah ke depan menghadap Sakura. Ia menatap Sakura lurus dan lembut. Sasuke meraih jemari Sakura, membelainya. Menenangkannya.

Segaris getaran aneh memainkan saraf di seluruh tubuh gadis itu. Ia tergugu dengan perlakuan Sasuke. Kemudian terkejut saat tiba-tiba Sasuke meraih tubuh mungilnya ke dalam dekapannya. Memeluknya dengan penuh kehangatan, sesekali tangan kekar itu membelai lembut surai merah jambu Sakura yang tergerai indah. Dengan ragu, Sakura membalas pelukan itu dan membenamkan wajahnya dalam-dalam pada dada bidang Sasuke.

Kenapa pelukan Sasuke rasanya begitu nyaman?

"Aku akan melindungimu," bisik Sasuke lirih. Ia berusaha memberikan kekuatan kepada Sakura lewat pelukan posessive-nya.

"Aku akan menyanyikan sebuah lagu, dan kau harus janji, setelah aku bernyanyi, kau tak akan menangis lagi!" sambung Sasuke, sementara Sakura menganggukkan kepalanya.

Sasuke pun melantunkan sebuah lagu untuk Sakura. Ia menyanyi masih dalam posisi memeluk Sakura. Suaranya terdengar begitu merdu di telinga Sakura. Tenang dan menentramkan.

Maybe no one told you there is strength in your tears

And so you fight to keep from pouring out

But what if you unlock the gate that keeps your secret soul

Do you think that there's enough you might drown?

If no one will listen, if you decide to speak

If no one is left standing after the bombs explode

If no one wants to look at you for what you really are

I will be here still

No one can tell you where you alone must go

There's no telling what you'll find there

And God I know the fear that eats away at your bones

It's screaming every step just stay here

If no one will listen, if you decide to speak

If no one is left standing after the bombs explode

If no one wants to look at you for what you really are

I will be here still

If you find your fists are raw and red from beating yourself down

If your legs have given out under the weight

If you find that you've been settling for a world of gray

So you wouldn't have to face down your own hate

Beberapa menit berlangsung. Tangisan Sakura pun mereda. Rasanya begitu lega mendengar nyanyian Sasuke. Seolah suara Sasuke adalah sumber energinya yang mampu membangkitkan kembali gairah hidupnya. Ya, tak perlu cemas dan khawatir. Sakura harus menghadapi ketakutan terbesarnya. Dia tak boleh terus berlari. Karena Sasuke ada bersamanya.

Nyanyian Sasuke pun selesai. Dan keheningan seketika menyelimuti ruangan itu, membuat keduanya terhanyut untuk menikmati sunyi yang tercipta. Pelukan hangat, deru napas, dan debaran jantung keduanya seolah seirama. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama sampai suara melengking masuk ke dalam indera pendengaran mereka dan memaksa mereka segera melepaskan diri.

"Awww... manis sekali..." Naruto berteriak dan mengeluarkan cengiran khasnya. Sai yang mengikutinya di belakang tertawa kecil.

"Bermesra-mesraan, eh?" komentar Gaara dengan seringaiannya.

Sasuke dan Sakura berdiri dengan santai, meskipun rona merah di wajah keduanya belum sepenuhnya menghilang. "Apa acaranya sudah selesai?" tanya Sasuke.

"Ya, baru saja," jawab Naruto, ia menyipitkan matanya, "sekarang, jangan mencoba mengalihkan topik pembicaraan, Teme!" serunya.

Sasuke mendengus, "berhentilah membuat Sakura malu, Dobe," katanya.

Naruto terkikik geli, "hey, aku rasa kau yang terlihat malu-malu," katanya.

Sasuke menatapnya bosan, memutar matanya dan membawa Sakura menjauh dari yang lain, namun langkahnya terhenti saat Ino datang dan memeluk tubuh Sakura.

"Oh, Sakura!" Seru Ino penuh rasa bersalah, "aku sangat menyesal!" Sakura tersenyum lemah dan membalas pelukan gadis pirang itu. Sakura meraih ponselnya di dalam tas dan mengetikan sesuatu saat pelukan mereka terlepas.

Tidak apa-apa.

Ino tersenyum kecil. "Sayang, kau tidak perlu mengetikkan hal itu," kata Ino, "maafkan aku. Selain itu, satu-satunya suara yang ingin aku dengar darimu adalah suaramu sendiri Sakura."

Sakura hanya memberi Ino senyuman lemah sebagai jawaban dan kembali menaruh ponselnya.

"Ikut aku, aku akan membantumu membersihkan wajahmu," ujar Ino, kemudian ia meraih tangan Sakura dan membawa Sakura keluar ruangan tersebut, meninggalkan The Savior. Meninggalkan Sasuke yang tampak kecewa. Kecewa karena ia tak berhasil mengajak Sakura ke suatu tempat. Tapi, sudahlah. Mungkin lain waktu ia bisa mengajak Sakura ke tempat itu.

Ino membawa Sakura ke tempat di mana ia mendandani Sakura beberapa saat yang lalu.

"Kau tidak marah padaku atau pada mereka 'kan? Kami hanya ingin memberimu kejutan Sakura," kata Ino, seraya membersihkan wajah Sakura dengan pembersih make-up, Sakura yang tengah memejamkan matanya itu menggeleng pelan dan tersenyum.

Ino terkekeh pelan. "Syukurlah. Nah, selesai," katanya setelah ia membersihkan make-up Sakura yang semula terlihat berantakkan. "Sekarang kau terlihat cantik kembali," sambungnya.

Sakura membuka kelopak matanya, menatap dirinya di cermin. Cantik. Sama seperti beberapa waktu yang lalu. Sebelum dia menghancurkan hasil karya Ino itu. Meskipun kali ini Ino hanya membubuhkan riasan tipis, tapi wajah Sakura tampak sangat menawan. Ino sengaja memberinya warna natural kali ini, karena menurut gadis pirang itu, Sakura pada dasarnya memang memiliki kecantikan alami. Seakan teringat sesuatu yang sangat penting. Ino menepuk jidatnya sedikit keras, ia mengerling jam tangannya. "Aku lupa... Sakura, aku harus segera pergi. Aku masih ada pekerjaan. Kau bisa menyampaikan salamku pada mereka semua? Aku harap aku bisa bertemu denganmu lagi, Sakura. Kau bisa kembali ke tempat mereka sendiri 'kan?" sambung Ino, Sakura menganggukkan kepalanya dan tersenyum.

Maka, cepat-cepat Ino berbegas. Tak lupa menenteng tas besar berisi alat-alat make-up, dan meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru. Setelah sampai di ambang pintu, ia melambaikan tangannya kepada Sakura sebagai ucapan selamat tinggal. Setelah kepergian Ino. Sakura melangkahkan kakinya keluar dari ruangan make-up. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar gedung. Di sana, Sakura berjalan melewati sekelompok fans yang membawa banner bertuliskan 'We Love The Savior' Sakura menggigit bibir bawahnya ketika para fans itu memandangnya dengan tajam. Mengabaikan mereka. Sakura segera berbalik arah.

Namun, belum sempat ia melangkahkan kakinya menjauhi tempat itu, telinganya menangkap berbagai macam sindirian untuk dirinya, salah satu dari fans itu berteriak, "jadi dia gadis jelek itu? Gadis murahan yang takut kepada orang-orang. Aku penasaran, kapan ya The Savior akan menendangnya pergi? Hahaha," suara gelak tawa menggema di koridor.

Sakit. Hatinya begitu sakit dengan kata-kata yang menusuk itu. Ia menundukkan kepalanya. Mengapa di saat ia berpikir bahwa masih banyak orang-orang yang mencintainya, ia justru dibenci oleh para fans itu tanpa alasan yang jelas? Sakura menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menghela napas beratnya. Hidup ini memang sulit untuknya. Baginya hidup adalah hal terkompleks di dunia. Memiliki banyak sisi. Kadang terasa menyenangkan, tetapi bisa juga terasa menyedihkan di waktu bersamaan. Bisa menjadi begitu terasa memuakkan, tetapi ternyata sangat berharga.

Tak tahan lama-lama mendengar cibiran dan caci maki para fans fanatik itu. Sakura segera berlari menjauhi tempat itu, ia berlari tak tentu arah. Ia mulai diliputi perasaan yang tidak menyenangkan. Tubuhnya bergetar, tak terasa air mata lagi-lagi menetes membasahi pipi putih lembutnya yang kini mulai memerah. Ia semakin menundukkan kepalanya, membiarkan butiran kristal berjatuhan membasahi dress yang dikenakannya.

Kenapa mereka bersikap seperti itu? Apa salahku?

Sakura berlari menyelinap ke dalam kamar mandi perempuan. Masuk ke dalam salah satu bilik di sana dan menguncinya. Ia menangis, masih dalam diam. Tidak ada pekikan, jeritan ataupun isakkan yang terdengar dari mulut mungilnya.

Tuhan, tidak cukupkah penderitaan hidup yang gadis itu dapatkan? Tidak cukupkah ia sengsara? Apakah layak ia diperlakukan seperti bukan layaknya manusia? Apakah masih ada seseorang yang memiliki hati nurani dan rasa belas penuh kasih sayang kepadanya? Ia hanya seorang gadis yang mengharapkan kebahagiaan.

Sakura menghentikkan tangisannya ketika ponselnya berbunyi, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya, melihat ada sebuah pesan masuk, dari Sai.

From: Sai

To: Sakura

Sakura, kau di mana?

Sakura menyeka air matanya dan mulai mengetik pesan balasan untuk Sai.

From: Sakura

To: Sai

Maaf, aku ada di kamar mandi. Aku akan ke sana sebentar lagi.

Selang beberapa detik pesan Sakura terkirim kepada Sai. Kemudian balasan untuknya pun datang kembali.

From: Sai

To: Sakura

Ok, see you soon

Sakura memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, memastikan bahwa wajahnya tidak terlihat habis menangis. Kemudian dengan cepat ia keluar dari kamar mandi dan kembali menuju tempat The Savior menunggunya.

.

.

The Savior tampak lega ketika melihat bahwa Sakura baik-baik saja. Sakura tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka.

"Sakura-chan," ujar Naruto riang, "aku pikir kau hilang. Kami akan makan sebelum kembali ke rumah, apa kau punya tempat yang ingin kaukunjungi?" sambungnya.

Sakura menggeleng. Makan di mana saja tidak masalah baginya

"Kita ke Yakiniku-Q saja!" Sasuke menyarankan.

"Tidak! Ichiraku Ramen!" jawab Naruto.

Gaara menggelengkan kepalanya, "tidak ada ramen lagi. Aku bosan makan ramen terus! Kita pesan pizza saja," jawab Gaara. Sai dan Neji mengangguk setuju.

"Aku setuju. Kita pesan pizza saja lalu membawanya ke rumah," ujar Neji. Sai dan Sakura mengangguk setuju juga. Membuat Sasuke dan Naruto memberenggut, tapi akhirnya menyerah dan membiarkan Gaara mengeluarkan ponselnya dan memesan pizza melalui delivery order.

Tak lama kemudian, pesanan pizza mereka pun sampai, mereka bergegas untuk pulang dan beristirahat.

.

.

Sakura dan kelima anggota The Savior berjalan ke arah parkiran di mana sopir pribadi The Savior memarkirkan mobil mereka dan telah menunggu di sana, bersama dengan keempat bodyguard dan menejer mereka. Begitu sampai, mereka segera masuk ke dalam mobil. Sopir yang bernama Kakuzu itu segera menginjak pedal akselerator, dan mobil pun melaju dengan kecepatan normal.

"Nee, Kakuzu-san, bisakah kau lebih cepat menjalankan mobilnya? Aku sudah lapar..." rengek Naruto yang duduk di kursi paling belakang. Saat ini waktu menunjukkan pukul 18.15.

Pria bernama Kakuzu itu mendengus, "lebih baik pelan-pelan asal selamat, Naruto," katanya. Naruto mendesah lemas di tempat duduknya. Namun tak berani membantah lagi. Dirinya terlalu lelah untuk berdebat saat ini. Perutnya sudah keroncongan sejak selesai bernyanyi.

Setelah melewati padatnya jalanan kota Tokyo, dan memakan waktu kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya mobil limosine putih itu sampai di kediaman The Savior. Namun, betapa semua orang tersentak. Jendela depan rumah bergaya Eropa itu pecah berkeping-keping. Membuat mereka cepat-cepat keluar dari mobil.

"Biar aku saja yang melihat ke dalam," kata Kisame salah satu bodyguard The Savior.

"Aku ikut," sambung Neji, lalu berjalan di belakang Kisame.

"Aku juga ikut!" Naruto dan Sai pun akhirnya ikut untuk melihat keadaan di dalam rumah. Mereka menghindari pecahan kaca dan mengecek seluruh ruangan, takut-takut ada orang asing yang masuk. Sedangkan Sasuke, Gaara, Kakuzu, Kakashi, ketiga bodyguard lainnya dan Sakura tetap berada di luar.

"Aku akan menghubungi polisi," ucap Gaara, memecah keheningan di luar sana. Sasuke mengangguk, dan kemudian Gaara mengeluarkan ponselnya. Sementara Sasuke melihat sekeliling, memastikan, apakah ada orang yang mencurigakan di sana. Entah itu seorang pencuri atau semacamanya.

Tak lama kemudian, Kisame, Naruto, Neji dan Sai kembali ke tempat di mana Sakura dan yang lainnya menunggu. Mereka berjalan dengan langkah gontai. Wajah mereka tampak muram. Terlebih Sai. Wajahnya yang pucat tampak begitu lebih pucat dari biasanya. Sai berjalan mendekati Sakura dengan secarik kertas digenggamannya. Diserahkannya kertas berwarna putih yang tergulung itu kepada Sakura.

"Ini untukmu Sakura, aku rasa kau harus membacanya," kata Sai dengan suara yang pelan. Raut wajahnya terlihat lesu.

Dengan perlahan, Sakura meraih kertas yang disodorkan oleh Sai, memegangnya dengan tangan bergetar. Dibukanya gulungan kertas itu, dan Sakura mulai membaca isi surat itu. Matanya memerah, detak jantungnya begitu cepat.

From: Ayah

To: Anakku, Haruno Sakura.


to be continued