Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Tragedy/Hurt-Comfort
Rated: T
Warning: Sakura's POV di chapter ini, AU, OOC, Typoo's, psychological, abused, sedikit kata-kata kasar (di beberapa chapter), dll.
DLDR!
My Savior by Yara Aresha
Beberapa penggal lirik lagu Rainbow - Younha
Chapter 4: Stop Running, Sakura
Aku masih bisa mengingat dengan jelas kecelakaan tiga tahun silam yang merenggut nyawa ibuku. Saat itu aku dan ibu tengah dalam perjalan menuju rumah, sepulang dari pusat perbelanjaan. Sepanjang perjalanan, aku berlari-lari kecil, dan melompat-lompat dengan girang. Aku terlalu senang karena ibu memberikanku sepasang dress manis. Aku berjalan mundur, meski ibu sudah memperingati berkali-kali untuk memerhatikan jalanan. Tetapi, dengan keras kepalanya aku tidak mematuhi ibu. Langkahku semakin riang tatkala lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Artinya kami bisa berjalan dengan santai tanpa harus takut ada kendaraan yang melaju. Namun, tiba-tiba saja dari arah kiriku sebuah mobil sport merah melaju dengan cepat. Tubuhku gemetar, keringat dingin mulai mengalir, dan entah kenapa sekujur tubuhku mendadak kaku. Aku terlalu terkejut. Sampai akhirnya ibu berlari ke arahku, mendorong tubuhku sehingga aku terhempas dan membentur pembatas jalan.
Rasa perih langsung saja menggigiti tubuhku. Perlahan kucoba membuka mataku yang pedih. Memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Mataku berkunang-kungan sebelum akudihadapkan dengan pemandangan yang sangat mengerikan dan mengiris-iris ulu hatiku hingga ubun-ubun.
Ibu... dia membiarkan dirinya tertabrak mobil itu. Aku mendelik ketakutan ketika kulihat tubuh ibu sudah terpental jauh dan terbaring di atas aspal jalanan. Jalanan seketika menjadi kacau. Mobil-mobil yang berjalan terpaksa berhenti. Di sana, Ibu penuh luka dan darah mengalir di sekujur tubuhnya. Dari hidungnya, mulutnya, kepalanya, dan tangan serta kakinya. Sementara mobil sport yang menabrak ibu pergi begitu saja. Untuk beberapa saat aku hanya bisa tercengang dan terpaku, diam di tempatku tanpa bisa melakukan apapun. Setelah aku tersadar akan keadaan itu, aku berteriak dan segera berlari menuju tempat ibu terbaring lemah. Kugenggam erat tangan ibu dan airmataku pun tidak berhenti mengalir. "Ibu... maafkan aku bu. Ibu..." aku menangis dalam ketakutan.
"Tolong! Tolongg! siapa pun, tolong hubungi ambulans! Jangan diam saja dan melihat seperti itu!" teriakku ketika orang-orang berhamburan mengelilingiku dan ibu. Aku menangis di samping ibu seraya memeluk tubuh ibu yang penuh darah di pangkuanku.
"S-Sakura, i-ibu s-sayang Sakura." Ucap ibu terbata-bata menahan sakit yang menderanya, darah semakin mengalir deras dari kepala dan mulut ibu. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"Sakura juga sayang ibu. Ibu jangan bicara dulu. Ibu harus bertahan," kuedarkan pandanganku ke pada orang-orang di sana, "cepat tolong ibuku! tolong panggilkan ambulans! Kumohon," teriakku.
"Tenanglah, ambulans akan datang sebentar lagi, Nak. Beruntung rumah sakit dekat dari sini, mereka akan sampai beberapa saat lagi," sahut seorang bapak tua yang duduk di sampingku seraya menepuk bahuku.
Dan benar saja, beberapa menit kemudian ambulans datang, syukurlah masih ada orang yang berbaik hati menolong kami. Petugas medis pun segera mengangkat tubuh ibu masuk ke dalam mobil, dan membaringkan tubuh ibu. Sementara aku duduk di samping ibu, seraya terus menggenggam erat tangannya.
Ibu mengusap tanganku dengan pelan, kemudian tersenyum. "S-Sayang, j-jaga d-dirimu b-aik-baik. J-Jaga a-ayah. Ibu, mencintaimu. Ibu terlalu takut kehilanganmu, Sakura," ucap ibu pelan, napasnya terputus-putus. Aku semakin menguatkan genggamanku, masih dengan airmata yang mengalir membasahi pipiku. Aku menggangguk di sela-sela isakkanku. Tapi betapa terpukulnya aku, ketika mengetahui itu dalah kata-kata terakhir yang aku dengar dari mulut ibu.
Tiba-tiba saja tubuh ibu bergetar-getar beberapa saat sebelum diam untuk selamanya. Genggaman ibu terlepas dari tanganku. Mata ibu terpejam rapat. Ibu sudah tidak bernapas lagi. Sementara suara sirine ambulans yang begitu nyaring tidak kupedulikan. Waktu seolah terhenti saat itu juga. Aku memeluk tubuh ibu yang terbujur kaku dengan erat, jeritku pun pecah.
"IBUUUUUU! Jangan tinggalkan Sakura!"
Sejak itulah hari-hariku tidak pernah sama lagi. Ayah yang penyayang berubah menjadi membenciku, sering keluar untuk mabuk-mabukkan, membawa wanita ke rumah, berperangai keras, ayah mengalami depresi.
Kelebatan kisah pilu di masa lalu mendadak terputar di dalam memori otakku. Potongan itu begitu saja menghampii ruang ingatan tanpa mampu kuhentikan. Namun, satu panggilan lembut dari Sai membangunkanku dan memaksaku untuk kembali kepada kenyataan. "Sakura..." ujarnya.
Napasku tertahan sejenak. Kembali menaruh fokusku kepada secarik kertas yang diberikan oleh Sai beberapa detik yang lalu. Kuberanikan diriku membuka lipatan kertas itu. Perlahan kubaca deretan alfabet yang tertera di atas kertas putih itu. Tiba-tiba tubuhku bergetar. Hatiku terasa ditusuki benda tajam yang tak kasat mata.
Sakura, apa kau terkejut ayah tahu keberadaanmu? Tak usah berlebihan seperti itu, Sayang. Karena ayah akan selalu mengawasimu, di manapun kau berada. Hm, ayah lihat kaumemiliki teman baru sekarang. Itu bagus. Ayah senang melihatnya. Ayah ingin melihat teman-teman barumu dan mengenal mereka. Dan ayah harap kaumenikmati dekorasi yang ayah berikan untuk rumah barumu. Mungkin, lain kali ayah akan mengunjungimu, itu akan sangat menyenangkan bagi ayah. Ah, teman-teman kecilmu dapat bergabung dengan kita juga. Sabarlah, ayah akan melihatmu segera, Sayang.
Tidak mungkin! Dari mana ayah tahu aku berada di sini? Baru saja akukhawatir bahwa ayah akan melihatku di layar televisi, sekarang ayah sudah muncul di hadapanku. Aku benar-benar takut. Kujatuhkan surat itu dan berlari ke belakang rumah―menjauhi yang lainnya. Aku harus keluar dari sini! Aku tidak ingin mereka terluka. Aku harus pergi. Namun, belum jauh kucoba untuk melarikan diri, Sasuke segera menyusulku dan meraih tanganku. Lalu, menarik tubuhku untuk berhadapan dengannya.
"Sakura," katanya tegas, "kau tidak bisa terus lari seperti ini!"
Aku menundukkan kepalaku. Aku tahu dia benar. Tidak peduli apapun, sejauh apapun aku berlari, pada akhirnya ayah akan menemukanku juga. Aku tidak bisa terus berlari. Aku harus menghadapi ketakutanku ini. Aku harus bisa. Tapi, aku tak ingin melibatkan The Savior. Aku tak ingin mereka ikut terluka karena aku.
"Aku tidak peduli berapa kali kaumencoba melarikan diri dari kami. Aku akan selalu menangkapmu kembali. Aku tidak ingin kau meninggalkan The Savior―meninggalkanku. Aku hampir kehilangan dirimu. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Jangan takut, karena aku dan yang lainnya akan selalu melindungimu," aku tidak menyangka Sasuke akan mengatakan itu kepadaku. Aku menatap manik obsidiannya dengan dalam.
Sepeduli itukah Sasuke kepadaku? Tidak ada yang pernah memperlakukanku dengan baik semenjak kematian ibu. Perasaan hangat ini begitu menenangkan dan membuatku bahagia. Sasuke, apa kaumenyukaiku? Ah, itu pertanyaan bodoh! Jangan hanya karena dia peduli padaku, lalu aku berasumsi bahwa dia menyukaiku. Aku menarik napasku dalam. Kemudian menggenggam tangannya dan menunjukkan senyuman kecil. Aku percaya pada perkataannya. Aku yakin aku akan baik-baik saja selama aku berada di antara The Savior. Dan keputusanku kali ini, kuharap inilah yang terbaik. Aku tak ingin berpisah dengan The Savior, aku tak ingin kehilangan genggaman hangat Sasuke. Aku ingin terus berada di sisinya. Meskipun aku tak tahu hal buruk apa yang akan terjadi nanti setelah ini, tapi aku tak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan kebahagiaanku. Dan ayah, tak akan pernah bisa membuatku menderita lagi.
"Aku akan selalu melindungimu, kau harus ingat itu," sambung Sasuke.
Kuanggukkan kepalaku singkat dan Sasuke menarik tanganku untuk kembali ke tempat di mana orang-orang berada. Saat kami kembali ke tempat semula, aku lihat hanya ada Neji dengan raut wajah yang khawatir. Lalu, tatapannya beralih kepada tanganku dan Sasuke yang saling bertautan. Oh, tidak. Kurasa Neji berpikiran yang tidak-tidak tentang kami.
"Apa yang terjadi di sana?" tanya Neji. Aku hanya tersenyum. Sementara tanganku masih bertautan dengan tangan Sasuke.
"Hn, tak ada apa-apa," jawab Sasuke.
Neji menatapku tidak percaya, menuntut penjelasan. Dahinya mengerut, dan aku hanya bisa memberinya sebuah senyuman kecil. Kemudian Naruto dan yang lainnya berjalan kembali, kurasa mereka baru saja mengecek sekali lagi keadaan di sekitar. Segera saja aku melepaskan genggaman tanganku dari Sasuke. Naruto pasti akan menggodaku jika dia melihatnya.
"Sepertinya kalian tidak bisa tinggal di sini malam ini," kata Kakashi-san, "kalian akan menginap di hotel untuk sementara. Aku sudah menghubungi pihak kepolisian, dan mereka mengatakan akan menangani masalah ini. Sekarang ambilah barang-barang yang kalian butuhkan di dalam, hati-hati dengan pecahan kacanya. Sasuke, kau temani Sakura menyiapkan barangnya."
Sasuke mengangguk, "Dobe, tolong kau siapkan barang-barangku," katanya.
Naruto mengacungkan jempolnya, "Ok, Let's go!"
Aku dan Sasuke pun masuk ke dalam rumah. Ada pecahan kaca di mana-mana. Sofa robek, dan barang-barang hampir semua rusak. Senyumku langsung memudar. Aku memegang tangan Sasuke dengan erat saat kami berjalan menaiki tangga, takut ayahku secara tiba-tiba melompat keluar dan menyakiti kami. Sesampainya di kamarku. Kulepaskan genggaman tangan Sasuke dan bergegas mengambil beberapa potong pakaian yang masih utuh―sebagian sudah tercecer dan sobek di sana-sini―lalu memasukkannya ke dalam tas. Kusempatkan untuk menggulirkan kedua mataku melihat ke sekeliling ruangan. Kondisi kamar ini begitu mengerikan. Barang-barang yang ada di dalam berantakan, meja dan kursi terjungkir. Lampu di atas pecah, dan tempat tidur yang indah itu tercabik-cabik. Aku tak habis pikir bagaimana ayah melakukan semua ini seorang diri. Semuanya sangat jauh dari nalarku.
"Sudah selesai?" tanya Sasuke, aku menganggukan kepalaku. Kemudian aku dan Sasuke turun kembali dan berkumpul bersama yang lainnya yang juga sudah selesai mengepak barang mereka. Sama halnya dengan kondisi kamarku, kamar yang lainnya pun porak-poranda. Mereka hanya bisa mengambil barang-barang ala kadarnya. Dan setelah itu, kami semua masuk ke dalam mobil menuju ke hotel terdekat.
Sesampainya di hotel, aku dan anggota The Savior berjalan-jalan untuk menjelajahi isi hotel megah itu, sementara Kakashi-san dan dua orang bodyguard pergi untuk memesan kamar. Seluruh pusat perhatian kami pun teralihkan saat kami mendengar suara nyaring yang berasal dari Naruto. Naruto berteriak berlebihan ketika ia menemukan sebuah kolam renang. Dengan tampang polosnya, Naruto mencoba untuk membuka pintu kaca menuju kolam itu, tapi terkunci―karena kami belum memiliki kartu untuk mendapatkan akses. Dia menekankan wajahnya menempel di pintu transparan itu dengan sedih, seperti anak kecil yang tidak diberi permen oleh orangtuanya. Beberapa orang yang tengah melakukan kegiatan renang pun menatap heran ke arah Naruto, bahkan orang-orang yang ada di lobi pun terkikik dengan aksi kekanakan Naruto tersebut.
"Kau seperti tak pernah menginap di hotel saja, Naruto! Berhentilah berbuat hal yang memalukan," sindir Gaara dengan nada sarkatis. Sementara Naruto hanya mengabaikannya dan tetap dalam posisinya. Tak bergeming.
"Hah, sudah biarkan saja dia. Dia memang norak," sahut Sai.
Aku hanya tersenyum kecil. Diam-diam bersyukur di dalam hati, tak ada rona kesedihan sedikit pun di wajah para penyelamatku itu. Padahal, rumah mereka porak-poranda gara-gara aku.
Beberapa menit kemudian, Kakashi-san dan dua orang bodyguard kembali menghampiri kami. Mereka telah selesai memesan kamar dan mendapatkan kunci. Kakashi-san pun menyeret tubuh Naruto menjauh dari pintu menuju kolam renang, karena kami tak bisa membujuknya untuk beranjak dari sana. Setelah itu, kami masuk ke dalam lift. Dan tidak lama kemudian kami sudah berada di dalam sebuah kamar. Kamar yang besar, tapi hanya memiliki tiga buah tempat tidur.
"Jangan khawatir, aku memesan tiga kamar, jadi kalian memiliki enam tempat tidur, sisanya untuk bodyguard kalian," kata Kakashi. Seakan bisa membaca pikiranku dan pikiran yang lainnya.
"Aku tidak keberatan jika tidur satu ranjang dengan Sakura-chan," kata Naruto dengan cengiran khasnya. Aku mengerutkan keningku, sementara Sasuke memukul pelan kepalanya dengan botol air mineral yang sudah kosong.
"Jangan harap kau bisa tidur satu kamar dengan Sakura," Sasuke bergumam. Naruto mengangkat bahu. Yang lainnya hanya menggelengkan kepala mereka.
"Nah, aku dan Kakuzu harus pulang. Kalian putuskan sendiri saja untuk penempatan kamar. Selamat malam," ujar Kakashi-san, lalu Kakashi-san dan Kakuzu pun pergi. Mereka berdua tak bisa terus menjaga kami, karena mereka sudah menikah dan punya kewajiban untuk menjaga keluarga mereka. Lagipula, sudah ada empat orang bodyguard bersama kami.
Sepeninggalan Kakashi-san dan Kakuzu, kami pun sepakat untuk membagi kelompok tidur. Tentu saja para bodyguard tidur di dalam satu kamar yang sama. Jadi, tinggal The Savior dan diriku.
"Ok, guys! Aku akan membagi ruangan, karena aku sebagai leader The Savior. Um, Naruto, Gaara dan Neji dalam satu ruangan, kamar kalian di sebelah," Sai mengumumkan, "lalu aku, Sasuke dan Sakura di kamar ini," lanjutnya.
"Aaaa," Naruto mengeluh, "Aku ingin satu kamar dengan Sakura-chan."
Aku menggeleng keras, mengeluarkan ponselku dan menjalankan aplikasi robotic voice milikku.
Tidak! Aku takut Naruto melakukan hal yang aneh-aneh! Ino-chan menunjukkan gambar yang kauambil saat aku tidur.
"Apa?!" Naruto berseru, "si pirang itu! Dia menunjukkannya kepadamu? Kukatakan padanya untuk tidak, sial!"
"Kau juga pirang Naruto. Sudah diputuskan! Semua setuju ini adil, 'kan?" Tanya Sai. Kami mengangguk, kecuali Naruto.
"Tidaaak! Itu sih, keputusanmu sendiri. Hey, kenapa harus kau dan Sasuke yang tidur satu kamar dengan Sakura? Neji, Gaara, kalian keberatan juga 'kan? Ini namanya diskriminasi, kau mau enaknya sendiri," Naruto berteriak, dan merengek.
"Kami tidak keberatan," ujar Neji, sementara Gaara menganggukkan kepalanya singkat.
"Ini tidak adil! Aku ingin satu kamar dengan Sakura-chan," Naruto mendekatiku dan sebelum sempat tubuhnya menerjang tubuhku, Gaara terlebih dahulu menarik kerah bajunya dan membawa Naruto ke kamar mereka.
"Kau berisik, Naruto!" Neji menggerutu dan mengikuti mereka berdua, seraya melambaikan tangannya sebagai ucapan selamat malam kepadaku, Sai, dan Sasuke.
.
.
Setelah kepergian Gaara, Neji, dan Naruto, aku memutuskan untuk membersihkan badanku terlebih dahulu. Aku meraih piyamaku dan dengan cepat melesat menuju kamar mandi. Rasanya canggung berada di dalam satu kamar bersama dua orang laki-laki seperti ini. Terlebih, aku satu kamar dengan Sasuke sekarang. Oh, Tuhan... Jantungku seakan siap melompat kapan saja.
Selesai mandi aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, sedangkan Sasuke dan Sai lebih memilih untuk bermain game. Aku mendapatkan tempat tidur yang berada di bagian tengah, karena aku tidak ingin tidur di dekat pintu atau jendela. Sementara, tempat tidur Sasuke ada di sebelah kiri tempat tidurku, dan Sai di sebelah kanan. Setelah izin untuk tidur duluan kepada Sasuke dan Sai, aku pun mulai memejamkan mataku. Tapi ini adalah tidur terburukku, dengan mimpi buruk yang mengerikan.
.
.
"Halo Sayang," kata ayah sambil tersenyum. Saat itu aku tengah duduk di atas tempat tidurku, di kediaman The Savior. Ayah masuk dari jendela kamarku, sinar rembulan menerpa seluruh badannya, memperlihatkan pisau yang mengkilap di tangan kanannya. Ayah berjalan ke arahku, dengan cepat aku turun dari atas tempat tidur. Sementara ayah tersenyum meremehkan, lalu senyumnya berubah menjadi tawa keras yang mengerikan.
Takut. Maka, dengan segenap kekuatanku, aku berlari keluar dari kamarku, menuju kamar Gaara yang ada di depan kamarku. Kubuka dan kembali kututup rapat-rapat pintu kamar Gaara agar ayah tidak masuk ke dalam. Napasku terengah-engah, di atas tempat tidur kulihat Gaara sedang tertidur melenungkup. Bagaiman pun aku tak ingin mengganggunya, tapi ini keadaan genting dan aku harus membangunkannya. Kami harus pergi dari tempat ini, sebelum ayah melakukan hal buruk.
Tetapi betapa terkejutnya aku saat tubuhku berada di dekat tubuh Gaara. Tak ada tanda-tanda kehidupan darinya. Tubuhnya tak bergerak saat kuguncangkan, dan ketika aku membalikkan tubuhnya, aku tak percaya hal ini terjadi. Perut Gaara berlumuran darah. Dengan sebilah pisau dapur di atasnya. Pasti ayah yang telah menikamnya. Tubuhku bergetar, dan aku mulai menangis. Tak lama kemudian, aku mendengar suara langkah kaki. Ayah mulai mencariku. Ketakutan semakin kentara kurasakan. Langsung saja aku keluar dari kamar Gaara, menuju kamar Sai.
Saat itu kulihat Sai menutupi tubuhnya dengan selimut tebal, aku menarik selimut itu, tapi lagi-lagi yang aku lihat adalah pemandangan yang sama. Kondisi tubuh Sai tidak jauh berbeda dengan Gaara. Dengan sebilah pisau dapur yang menancap di dada kirinya. Aku semakin ketakutan...
Kemudian, aku berlari kembali menuju kamar Naruto. Berharap dia masih hidup. Tapi, harapanku pupus. Dia dan Neji tergeletak tidak bernyawa di depan pintu kamar mereka dengan mata terbelalak tubuh berlumur darah. Kini rasa takutku semakin berlipat ganda. Harapanku satu-satunya tinggal Sasuke.
Tuhan, kuharap Sasuke masih bisa diselamatkan. Lalu aku bergegas menuju kamar Sasuke. Di sana aku melihat mata Sasuke terbuka lebar. Aku pun perlahan-lahan berjalan ke tempat tidurnya, dan menarik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Kami-sama, Sasuke juga sudah tidak bernyawa. Tubuhku terjatuh lemas di lantai, membiarkan airmataku mengalir. Aku bahkan tidak peduli jika ayah membunuhku sekarang juga.
"Teman-teman tersayangmu sudah mati, Sayang," kata ayah, dengan seringaian yang menakutkan. Aku menatapnya tajam.
"Aku yakin kau ingin aku membunuhmu, tapi aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah!" seru ayah, "aku akan membuat semua orang membencimu. Setiap orang akan membencimu karena membiarkan The Savior kebanggaan mereka mati, kau harus menderita, Sakura. Inilah balasan yang harus kaubayar, dasar pembunuh," ujarnya dengan nada suara yang mengerikan.
Aku berdiri dan dengan berani menantang ayah. Aku menatap pisau yang berkilauan di tangan ayah. Dengan satu gerakan cepat, aku menyambar pisau itu, menggoreskan ujung pisau itu di tanganku. Kemudian aku mengarahkan pisau itu ke perutku, aku tersenyum bangga pada ayah saat ayah menatapku dengan terkejut, kemudian tanpa ragu, aku menikam pisau itu tepat di bagian perutku.
Selamat tinggal ayah. Dengan ini tak akan ada lagi penderitaan dan rasa ketakutan yang kurasakan. Selamat tinggal ayah. Aku akan pergi ke tempat ibu. Tempat di mana aku bisa jauh darimu, dan aku tak akan merasakan lagi kepedihan ataupun kebencian darimu.
.
.
Tidak! Yang tadi itu mimpi, kan? Aku duduk dan mengatur napasku yang memburu. Aku mendesah lega karena yang tadi itu hanyalah mimpi buruk. Tak terasa, airmataku pun mengalir. Tubuhku sedikit gemetar dan mengeluarkan keringat dingin. Takut. Aku benar-benar takut ayah akan berbuat hal demikian. Aku takut jika itu adalah kenyataan.
Tuhan, lindungi The Savior. Lindungi orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku. Lindungi kami, Tuhan. Aku tak bisa kembali tertidur akibat mimpi buruk ini. Kualihkan atensiku ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul dua belas lewat dua menit. Kupikir matahari sudah beranjak. Rasanya aku ingin pagi hari cepat datang saat ini. Lalu, kulirik diam-diam Sasuke dan Sai yang sedang tidur. Deru napas keduanya begitu teratur. Aku bersyukur mereka tak terganggu olehku. Mereka pasti lelah, aku tak boleh membangunkan mereka.
"Hiks..." Gawat, aku terisak. Isakkanku keluar di saat yang tak tepat. Terkadang tangisanku bisa menimbulkan isakkan. Meskipun membuat tenggorokanku terasa sakit. Ini benar-benar membuatku menderita.
Kuharap satu isakkanku yang lolos dari bibirku ini tidak mengganggu mereka berdua. Kuputuskan untuk kembali berbaring. Memakai selimut hingga menutupi kepalaku, dan mencoba untuk pura-pura tidur. Antisipasi kalau-kalau, Sasuke atau Sai terbangun karena suara yang kukeluarkan barusan.
"Sakura, aku tahu kaubangun," suara Sasuke masuk di indera pendengaranku.
Aku membuatnya bangun ternyata. Lalu, aku menurunkan selimut dan duduk di atas ranjang, berbalik ke arahnya. Untung saja hanya Sasuke yang bangun, Sai tampaknya begitu pulas. Sasuke beringsut dari ranjangnya dan menghampiriku. Kemudian duduk di sisi ranjangku.
"Tadi kudengar suara isakkan. Kenapa? Kau mimpi buruk?" tanyanya seraya menyeka tetesan airmata yang masih basah di pipiku.
Aku terdiam sejenak dan mengangguk.
"Tidak keberatan jika aku ingin kaumenceritakan mimpimu kepadaku?" Sasuke kembali bertanya. Dan lagi-lagi aku mengangguk.
Mataku bergulir mencari ponselku yang kuletakkan di atas meja nakas. Kuraih ponselku, membuka aplikasi robotic voice, dan mulai mengetikkan sesuatu. Tak lupa mengatur volume suaranya agar terdengar seperti bisikkan, aku takut Sai terganggu.
Aku mimpi buruk. Aku bermimpi ayah membunuh kalian semua. Dia mengatakan kepadaku bahwa aku harus menderita. Dia tidak akan membunuhku. Lalu, aku mengambil pisau yang digenggamnya dan membunuh diriku sendiri.
Sasuke tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik. Lalu, ia berkata, "Kau akan bunuh diri jika aku mati?"
Aku terdiam sejenak, lalu mengangguk mantap.
Sasuke menggelengkan kepalanya dan menatapku lembut, "aku akan melakukan hal yang sama untukmu."
Saat ini, rasanya waktu seakan membeku. Aku tidak percaya Sasuke benar-benar mengatakan hal itu! Aku menggeleng.
"Itu benar, Sakura." Sasuke menjawab dengan tegas dan tersenyum simpul.
Aku mengetik kembali:
Tidak! Jangan begitu. Berjanjilah padaku, kau tidak akan bunuh diri hanya karena aku. Kau memiliki banyak orang yang peduli ke padamu. Pikirkan keluargamu juga, penggemarmu.
Sasuke menghela nafas dan berkata, "baiklah, aku janji. Tapi, kau harus berjanji juga."
Aku menundukkan kepalaku dan tidak mengatakan apa-apa.
"Sakura, berjanjilah kau tidak akan mengakhiri hidupmu dengan sia-sia!" Sasuke sedikit meninggikan suaranya.
Sasuke, kau bisa membangunkan Sai. Aku tidak bisa. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Bagaimana jika mimpiku menjadi kenyataan? Bagaimana jika hidupku lebih mengerikan lagi? Dan kalian semua meninggalkan aku. Bukankah lebih baik jika aku pergi dari dunia ini? Maka, ayah tak akan pernah bisa berbuat onar lagi.
"Tidak akan kubiarkan kau melakukan itu. Aku akan selalu berada di sisimu. Aku janji akan selalu melindungimu. Berulang kali kukatakan, aku akan melindungimu. Kau tidak percaya padaku? Kumohon, percayalah padaku dan semuanya akan baik-baik saja, Sakura. Jadi berjanjilah padaku, kau tidak akan bunuh diri. Aku tahu kaupunya potensi dan mimpi yang ingin kauwujudkan, maka wujudkanlah. Akuyakin ibumu ingin kau hidup lebih baik lagi," ujar Sasuke panjang. Sepertinya ini kalimat terpanjang yang pernah kudengar dari mulutnya.
Tonight, like the first kiss
The sweet anxiousness and that strange feeling
Tonight, I want to tell you
That I want to be trapped in your heart, tonight
One step, two steps,
The words I want to tell you as I walk towards you
With the blinding sunlight and a bright smile
Aku berhenti sejenak, berusaha untuk memercayai ucapannya. Kata-katanya seperti doktrin untukku. Sasuke benar, aku punya mimpi yang ingin kuwujudkan. Aku ingin semua orang mengakui keberadaanku. Dan aku ingin ibu melihatku bahagia.
"Sakura?" Sasuke menatapku penuh harap.
Aku menggangguk lemah dan tersenyum kecil padanya. Air muka Sasuke berbinar-binar antara senang dan khawatir. "Bagus, aku tidak ingin kau berpikiran yang tidak-tidak lagi. Kau harus percaya bahwa hidupmu akan jauh lebih baik lagi mulai sekarang, aku dan yang lainnya akan selalu ada untukmu. Jangan pernah merasa sendirian, kita hadapi dunia ini bersama-sama. Aku tahu kau kuat, kau pasti bisa melaluinya," sahut Sasuke seraya memelukku erat. Ada perasaan hangat yang masuk ke dalam rongga hatiku. Rasa hangat yang menjalar hingga ubun-ubun kepalaku. Nyaman, menenangkan dan membuatku tak ingin lepas.
Aku pun membalas pelukan Sasuke. Dan beberapa detik berikutnya, kristal bening yang cair dari mataku jatuh satu demi satu membasahi pipiku, tanpa bisa kuhentikan. Sesekali aku menyeka-nyeka pipiku. Sasuke melepaskan pelukannya sejejnak saat dirasakan punggung bajunya mulai basah oleh airmataku.
"Menangislah, karena setelah menangis akan datang perasaan lega. Luapkanlah bebanmu ke padaku, Sakura. Menangislah, tapi, setelah ini aku tak ingin melihatmu menangis lagi. Dan jika kau masih ingin menangis, jangan mencari orang lain untuk meredakannya, carilah aku, Sakura," wajah Sasuke melembut.
Dadaku terasa sejuk saat mendengar tutur kata yang dilontarkan oleh Sasuke. Seakan ada semilir angin pagi yang menyapa di kala kauterbangun seusai menyelesaikan serentetan aktivitas yang melelahkan. Sejurus kemudian, kehangatan kembali merasuki sanubariku dan menjalari tubuhku inci demi inci. Sasuke memelukku lebih erat. Membagi kekuatannya ke padaku. Kubenamkan wajahku di dada bidangnya, terisak-isak. Apa sebenarnya yang Sasuke rasakan terhadapku? Apa? Hanya rasa simpati belaka kah? Rasa kasihan? Atau sebentuk perasaan abstrak yang tak pernah kumengerti, cinta. Ya, apakah kau mencintaiku? Sasuke.
Sekuat tenaga, aku berusaha untuk menggerakkan bibirku dan mengeluarkan suara. "T-Te..ri..ma ka..sih, S-Sa..su..ke."
I want to make you shine among the countless people
The words I want to tell you as I'm held by you
One star, one moon, as I count, as I fall asleep, I cry out
"I love you"
World's only one, your warm voice
Those breaths, those gestures
The gaze upon me, everything
They're precious to me, I love you
to be continued
