Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Tragedy/Hurt-Comfort
Rated: T
Warning: Sakura's POV, AU, OOC, Typoo's, psychological, abused, sedikit kata-kata kasar (di beberapa chapter), dll.
Enjoy!
My Savior by Yara Aresha
Chapter 5: My Hidden Scars
Sasuke melepaskan pelukan eratnya yang semula terasa hangat di tubuhku dan menatapku dengan kelopak matanya yang sedikit melebar, tampaknya Sasuke terkejut. "Kau, kau bicara? Kau sudah bisa bicara, Sakura?" jeda sejenak, lalu senyumnya mengembang menghiasi wajah tampannya, "tadi pun aku terbangun karena mendengar suara isak tangisanmu. Sakura, kau sudah bisa bicara? Bisakah kau ulangi lagi apa yang baru saja kauucapkan?" pintanya dengan antusias. Sudut bibirnya semakin lebar seraya menatapku penuh harap.
Apakah suaraku sudah dapat dikeluarkan dan aku bisa berbicara kembali? Tuhan... kumohon berikan aku kekuatan-Mu. Kutarik napasku dalam-dalam untuk meminimalisir rasa gugup yang tiba-tiba saja menjalar merasuki rongga hatiku. Lalu kucoba kembali untuk mengulangi apa yang baru saja kuucapkan kepada Sasuke. Tapi gagal! Ya, aku gagal mengeluarkan suaraku. Tak ada satu suara pun yang lolos dari bibirku. Yang terjadi hanyalah rasa sakit yang tiba-tiba saja kurasakan di dalam tenggorokkanku. Rasa perih dan panas menjadi satu, membuatku merasakan sensasi terbakar di dalam sana. Tak putus asa, kucoba sekali lagi untuk berbicara. Namun, lagi-lagi yang kurasakan hanyalah sakit yang kentara. Mataku mulai perih menahan sakit, bahkan aku sampai menitikkan airmata. Dan ketika perasaan terpukul kembali menghantuiku, tangan lembut Sasuke menyadarkanku. Disentuhnya kedua pipiku yang kini basah oleh jejak airmataku. Membelai dengan perlahan. Lalu kata-katanya menenangkanku, "sudah, tak usah memaksakan dirimu, Sakura. Lehermu memerah, pasti rasanya sangat sakit, hm? Maafkan aku," ujarnya seraya mengambil segelas air putih yang semula berada di atas meja nakas.
Aku menggelengkan kepalaku, berusaha menyadarkannya bahwa ini bukanlah kesalahannya. Kusentuh tenggorokanku yang masih terasa panas. Batinku berkecamuk, sesakit inikah mencoba untuk berbicara? Sampai kapan aku harus seperti ini? Apakah aku tak bisa berbicara kembali? Kupikir aku bisa bicara kembali. Kupikir berbicara tak akan sesakit ini lagi. Tapi ternyata, rasanya masih sama seperti beberapa waktu yang lalu saat kupaksakan diriku untuk mengeluarkan suara. Aku tarik napasku dalam-dalam, untuk menenangkan pikiranku. Aku harus berpikiran positif dan yakin bisa untuk kembali mengeluarkan suaraku, itu yang dokter katakan padaku.
"Minumlah, agar tenggorokkanmu terasa lebih baik. Jika tenggorokkanmu sakit, jangan memaksakan diri untuk mengeluarkan suaramu, oke? Pelan-pelan saja, kau pasti bisa berbicara kembali Sakura," kata Sasuke yang entah mengapa seakan tahu apa yang sedang aku rasakan.
Beberapa detik kemudian, aku menerima gelas yang diberikan Sasuke, namun Sasuke malah meminumkan air itu dengan tangannya sendiri. Jujur saja, aku tak perlu mendapatkan perlakuan semacam ini. Tapi, meskipun aku mengelak Sasuke tetap melakukan apa yang dia mau. Dan aku hanya bisa menerimanya dengan pasrah dan tersipu malu. Sasuke... mengapa kau sebaik ini kepadaku?
"Sakura," ujar Sasuke kemudian setelah ia meletakkan kembali gelas di atas meja, aku mengangkat kepalaku dan menatapnya, "satu hal lagi. Kau harus selalu ingat apa yang aku katakan beberapa saat yang lalu. Kau harus percaya bahwa hidupmu akan jauh lebih baik lagi mulai sekarang, aku dan yang lainnya akan selalu ada untukmu. Jangan pernah merasa sendirian, kita hadapi dunia ini bersama-sama. Aku tahu kau kuat, kau pasti bisa melaluinya," sambungnya mengulangi kata-katanya yang sebenarnya sudah terekam jelas di dalam memori otakku.
Aku tersenyum dan mengangguk. "Baguslah, sekarang sebaiknya kita kembali tidur. Kau sudah merasa lebih baik, bukan? Atau kau ingin kutemani begadang seharian? Tapi, maaf aku dengan senang hati menolaknya, Sakura. Kau harus kembali tidur," katanya. Diam-diam aku terkikik geli, jadi tak ada pilihan lain selain kembali tidur ya? Baiklah, Sasuke. Aku pun sangat lelah dan ingin kembali tidur, tentunya tidak dengan ditemani mimpi buruk itu lagi.
Kuraih ponselku yang kuletakkan di belakang bantalku dan menyalakannya. Lalu kujalankan aplikasi robotic voice-ku dan mulai mengetik: Iya, Sasuke. Aku akan tidur, selamat malam.
Sasuke tersenyum dan menjawab, "Semoga mimpi indah, Sakura," katanya seraya memelukku sebelum dia kembali naik ke atas tempat tidurnya sendiri dan tertidur. Aku pun berbaring dan menarik selimut sampai menutupi daguku. Dan akhirnya aku merasa jauh lebih aman dan tertidur dengan nyenyak.
.
.
Saat aku terbangun keesokan harinya, kulihat ranjang sebelah kananku ternyata kosong. Ke mana Sai? Apakah dia sudah terbangun? Batinku. Lalu kuedarkan kembali pandanganku ke arah kiri, dan sudut bibirku terangkat tatkala kulihat Sai bergelung menyamping, menyelusup masuk ke dalam selimut Sasuke. Ya, Sai tertidur di atas ranjang Sasuke. Entah sejak kapan dia berpindah tempat. Pipinya bersentuhan dengan pipi Sasuke, membuatku tak tahan menahan tawaku. Untung saja aku tak bisa mengeluarkan suaraku, sehingga aku bisa menikmati pemandangan yang menggemaskan ini tanpa harus membuat keduanya terganggu. Dan tiba-tiba saja jantungku berdetak dua kali lebih cepat saat kuperhatikan wajah tidur Sasuke. Dengan cukup cahaya mentari pagi yang masuk melalui kisi-kisi jendela membuat wajahnya sesegar tetesan air hujan yang membasahi tanah di bumi, begitu menenangkan dan terasa damai. Tak dapat dipungkiri lagi, wajahnya nyaris sempurna. Kapan ya terakhir kali aku merasakan perasaan seperti ini? Perasaan tertarik terhadap lawan jenis? Perasaan yang disebut dengan cinta? Aku bahkan tak tahu maknanya. Tapi, melihat Sasuke seperti ini membuat hatiku tak tenang. Dan saat bersama dengannya seakan semuanya menjadi lebih indah. Aku tak pernah merasakannya ketika bersama anggota The Savior lainnya. Apakah mungkin aku benar-benar mencintai Sasuke?
Aku menggelengkan kepalaku kuat. Hah, akurasa aku mulai mengada-ngada. Dan sepertinya aku tak boleh menatapnya terlalu lama, karena itu bisa merusak kesehatan jantungku. Jadi kuputuskan untuk turun dari ranjangku dan membuatkan Sasuke dan Sai sarapan, ah tentu saja ketiga anggota The Savior lainnya, berhubung belum ada diantara ketiga laki-laki itu yang masuk ke kamar kami, kupastikan mereka semua masih terlelap dan bergelung di balik selimutnya.
Kuayunkan kakiku menuruni ranjang dan bergegas menuju kamar mandi. Menyimpan pakaian kotorku di dalam keranjang pakaian dan mulai membersihkan tubuhku. Setelah selesai dengan kegiatan mandiku dan berganti pakaian dengan kaus polos berwarna merah yang kupadukan dengan celana jeans selutut, tak lupa kukepang rambut panjangku dan kusampirkan ke samping kanan bahuku. Kini aku tinggal menunggu petugas hotel yang mengantarkan pesanan makananku datang. Semoga saja semua anggota The Savior masih tertidur saat petugas hotel itu datang. Dan doaku terkabul, tak ada tanda-tanda kehadiran dari mereka saat pesananku sudah datang.
Kutata meja makan yang ada di kamar ini. Ah, tahu tidak? Kamar hotel yang kami tempati ini sangat luas. Setelah itu, aku menyimpan beberapa piring di atas meja dan menaruh makanan yang sudah kupesan. Kuharap mereka semua menyukai hadiah kecil dariku ini.
.
.
Ketika sedang asyik menata meja makan dan menyiapkan semuanya, pintu kamar terbuka dan Naruto masuk ke dalam. Ia mendekatiku dan terkejut melihat banyaknya makanan yang ada di meja makan. "Tunggu, kau yang memesan makanan ini?" tanyanya. Aku mengangguk bangga dan tersenyum lebar.
Naruto mengerang. "Dan kau yang membayar semua ini?" aku kembali mengangguk antusias, sementara Naruto lagi-lagi terlihat tak senang dan menghela napas, "kau tidak perlu melakukan ini. Maksudku jangan membayar dengan uangmu sendiri," sambungnya.
Aku mengerucutkan bibirku. Memangnya kenapa? Apakah aku terlihat begitu miskin sampai tidak bisa membayar semua ini? Uang simpananku masih cukup untuk membeli makanan-makanan sederhana ini. Sekali-sekali melakukan ini tak ada salahnya 'bukan? Aku tak ingin terus-terusan menjadi yang menerima tanpa bisa memberi kepada kalian. Seharusnya itu bisa kuucapkan, tapi percuma aku masih belum bisa bicara. Dan akhirnya aku hanya bisa mengandalkan ponsel pemberian Sai.
Ini hadiah kecil dan sebagai ucapan terima kasihku untuk kalian semua karena kalian sudah melakukan banyak hal untukku.
"Well, terima kasih, Sakura. Tapi, lain kali kau tidak perlu mengeluarkan uangmu untuk kami. Dan kau tahu? Kami sangat senang dan tidak merasa terbebani melakukan banyak hal untukmu," balas Naruto.
Aku kembali mengerucutkan bibirku. Lalu kuambil satu potongan roti yang sudah kuberi selai cokelat dan memasukkannya ke dalam mulut Naruto. Naruto yang terkejut hanya bisa membelalakkan matanya dan mengunyah potongan roti itu. "K-Kau?" katanya dengan mulut yang masih penuh, terlihat kesal. Aku hanya mengedikkan bahuku dan menjulurkan lidahku, Naruto terlalu berisik sih.
Beberapa detik kemudian aku mendengar pintu kembali terbuka. Kali ini Neji dan Gaara masuk secara bersamaan, keduanya sejenak melihat adegan 'romantis' yang masih disuguhkan Sai dan Sasuke di ranjang dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu menghampiriku dan Naruto yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Waw, banyak makanan di sini," ujar Neji.
Lalu keduanya duduk di kursi yang masih kosong, "Naruto... kau yang memesan semua ini? Kau sudah membayarnya 'kan?" tanya Gaara.
Naruto mendengus dan menggelengkan kepalanya. "Bukan aku, Sakura yang melakukan ini semua. Katanya ini hadiah untuk kita semua," ujarnya seraya melahap sepotong puding rasa vanilla yang di atasnya berlumuran fla.
"Sakura? Kau seharusnya..." aku cepat-cepat menggelengkan kepalaku, kenapa mereka tidak bisa menerima saja dan ucapkan terima kasih tanpa harus berkata hal yang sama?
Naruto kemudian menyela, "sudahlah, biarkan saja Sakura melakukan ini. Kalian tahu? Jika Sakura sedang marah dan kesal, dia sangat menakutkan," katanya.
Aku memberinya tatapan tajam. Apa maksudnya?
"Lihat 'kan? Tatapannya sangat mengerikan, jangan buat Sakura kesal!" kekeh Naruto lagi. Gaara dan Neji akhirnya tersenyum dan mulai melahap makanan mereka.
Beberapa menit pun berlalu, namun melihat masih belum ada tanda-tanda Sasuke dan Sai terbangun. Maka, Gaara berinisiatif untuk membangunkan mereka. Padahal di luar sana matahari sudah merangkak tinggi, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Sasuke, Sai. Sampai kapan kalian berdempet-dempetan seperti itu? Ayo bangun, Sakura sudah menyiapkan sarapan untuk kita," katanya seraya menggoyangkan tubuh Sasuke dan Sai.
Sasuke mulai membuka matanya dan dengan gerakan reflek didorongnya tubuh Sai yang semula memeluknya begitu erat.
"Aduh!" teriak Sai ketika tubuhnya mendarat dengan cukup keras di lantai. Sementara Sasuke dengan segera bangun dan turun dari ranjangnya seraya berkacak pinggang, dan kemudian menggerutu kesal. "Apa yang kaulakukan di atas ranjangku, Sai?!"
Sai yang sepertinya belum mendapatkan kesadarannya secara penuh mengedarkan pandangannya ke arah kami, aku hanya memberinya senyuman tipis, sementara yang lainnya hanya menggelengkan kepala mereka. Sai kemudian berdiri dan memegangi bagian punggungnya, sepertinya itu sangat sakit. Punggungnya mencium lantai dengan bunyi yang cukup keras, pasti sakit, 'kan?
"Apa kau tidak bisa membangunkanku dengan sedikit lebih lembut, Sasuke? Kau kira aku tidak kesakitan?" cerocosnya.
Sasuke mendengus dan berjalan ke arah westafel untuk mencuci mukanya. "Aku tidak peduli. Salahmu sendiri tidur di atas ranjangku," katanya.
"Oh, kurasa tadi malam aku mengigau. Habisnya tidur di sampingmu sangat nyaman, Sasuke-kun," balas Sai dengan tingkah konyolnya yang jelas saja membuat Sasuke dan kami bergidik.
Oh Tuhan, mereka bisa juga bersikap seperti ini.
Setelah menunggu Sasuke-Sai selesai mandi dan menyantap makanan mereka, kini kami sudah berkumpul di depan televisi berukuran besar yang ada di tengah-tengah kamar. Lalu kami dikejutkan dengan seruan yang berasal dari mulut Naruto. "Guys, aku punya ide bagus!"
Kami pun menolehkan kepala kami kepada Naruto, lalu Neji menjawab, "ide apa yang kaumaksud?" tanyanya.
Naruto tersenyum lebar, "bagaimana kalau kita berenang? Aku sangat ingin berenang, sudah lama kita tidak bersenang-senang, bukan? Lagipula hotel ini punya kolam yang sangat besar, ditambah kita sedang tidak punya jadwal 'kan?" katanya.
Anggota The Savior tampak berpikir. "Kedengarannya bagus," jawab Sai, kemudian disusul dengan anggukkan dari yang lainnya, kecuali aku tentu saja.
Cepat-cepat aku memegang ponselku dan mengetik: Tapi aku tidak punya baju renang.
Naruto menyeringai dan menepukkan kedua telapak tangannya. "Jangan khawatir, aku sudah menyiapkan itu untukmu," lalu tanpa mendengar jawabanku, dia melesat ke luar kamar dan kembali beberapa detik kemudian dengan kotak berukuran sedang di tangannya. Setelah itu ia memberikan kotak itu kepadaku. Aku dan yang lainnya saling berpandangan, penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak berwarna cokelat ini. Dengan perlahan, aku pun membukanya dan dikejutkan dengan satu set bikini berwarna hitam dengan renda di sisi-sisinya. Aku segera menggelengkan kepala dan memberikannya kembali Naruto. Tidak akan pernah aku memakai pakaian seperti itu! Tidak! Dan aku berani bersumpah anggota The Savior―kecuali Naruto―mengeluarkan semburat merah di pipi mereka. Oh, Tuhan aku tak tahu apa yang mereka pikirkan. Ini membuatku malu, bahkan Gaara yang kuketahui sangat cuek pun bisa-bisanya menunjukkan ekspresi seperti itu. Dan... Sasuke? Tidak, Sasuke bahkan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Naruto benar-benar membuatku malu.
"Ayolah, Sakura-chan," Naruto memohon padaku, "Sekali ini saja. Hanya ada ini, aku benar-benar ingin berenang!" katanya.
Aku mengerutkan kening dan kembali mengetik: Kalau begitu pergilah tanpa aku. Aku tidak mau memakai pakaian seperti itu, sungguh, Naruto.
Naruto mengerucutkan bibirnya, "Kau harus ikut. Karena aku tak tahu kapan lagi mempunyai kesempatan untuk berenang bersama-sama seperti ini. Sekali ini saja, kumohon," katanya.
Aku dilanda kecemasan. Kualihkan pandanganku ke arah yang lainnya. Berusaha meminta dukungan dari mereka untuk membiarkan Naruto pergi berenang sendirian. Tapi, aku sepertinya tak mendapatkan apa yang kumau. "Maaf, Sakura. Seperti yang Naruto bilang, selagi ada kesempatan kenapa kita tidak pergunakan ini? Kurasa, bikini itu tak begitu terlihat salah untukmu," balas Neji menambahkan.
"Dan kau tahu? Tidak ada cara untuk mencegah Naruto mendapatkan apa yang dia inginkan," balas Sai tertawa.
Dengan ragu, kuambil kembali kotak itu dan mengangguk. Baiklah, anggap saja ini hutang budi karena mereka sudah bersikap sedemikian baik kepadaku selama ini.
.
.
"Sakura, maafkan kami. Tapi, bikini itu tidak seburuk yang kaubayangkan, kau tahu?" ujar Sasuke saat kami sudah berada di dalam area kolam renang indoor ini. Beruntunglah kami saat itu kolam renang terlihat kosong. Seperti tak banyak tamu yang menginap di hotel mewah ini saja. Padahal kamar hotel terisi penuh. Mungkin mereka sudah terlalu kenyang untuk berenang? Ah, entahlah kenapa juga aku memikirkan hal ini.
Aku menghela napas dalam-dalam. Teringat kembali kepada bikini hitam itu. Aku tahu, tak ada yang salah dengan bikini ini, maksudku aku masih bisa menggunakannya karena ini tidak menonjolkan bagian tubuhku terlalu vulgar. Hanya saja apa yang akan mereka katakan setelah mereka melihat apa yang selama ini kusembunyikan? Aku tidak ingin membuat mereka khawatir.
Tanpa mengetahui tengah terjadi pertarungan di dalam otak dan hatiku, para anggota The Savior pun bergegas ke ruang ganti dan mengganti pakaian mereka. Aku pun mau tak mau, dan sangat terpaksa pergi ke ruang ganti perempuan dan mengganti pakaianku dengan bikini pemberian Naruto. Ragu. Aku tak langsung pergi keluar ruang ganti dengan bikini ini, maka kukenakan kembali kausku dan berjalan keluar.
Saat aku keluar dari ruang ganti. Di sana kulihat Sasuke, Gaara dan Neji tengah duduk di bangku dan meregangkan otot-ototnya melakukan pemanasan, sementara Naruto dan Sai tengah berlari mengelilingi kolam renang. Aku pun memutuskan untuk menghampiri Sasuke, Gaara dan Neji. "Kenapa kau tidak melepaskan pakaian atasmu, Sakura?" tanya Neji.
Aku menggigit bibir bawahku. Tak tahu harus menjawab apa.
"Duduklah!" perintah Sasuke mengalihkan pertanyaan dari Neji seraya menyentuh kursi sebelahnya. Aku pun duduk di kursi kayu panjang itu dengan perasaan gelisah.
Gaara menepuk kepalaku singkat dan berkata, "kau tidak percaya diri? Atau kau takut pada kami? Tenang saja, Sakura, kami tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadamu," katanya. Itu adalah kalimat terpanjang yang Gaara katakan kepadaku hari ini. Dan aku hanya bisa menatap ujung kakiku tanpa bergeming. Bukan, bukannya aku takut pada kalian, Gaara.
Tapi aku tak bisa berkata apa-apa kepadanya. Dan, tak lama kemudian, suara Naruto mengalihkan perhatian kami. Dia dan Sai menghampiri kami dan bergabung setelah keduanya selesai melakukan pemanasan dengan berlari mengelilingi kolam renang.
"Sakura-chan! Kenapa kau belum membuka bajumu? Ayo, kita turun ke kolam!" serunya.
Aku pun memegangi bagian ujung kausku dengan resah. Apakah aku harus membukanya? Apa tidak bisa aku berenang dengan memakai kaus seperti ini? Lama dengan pikiran-pikiranku sendiri, Naruto berjalan ke arahku dan berseru, "Sakura, aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu," katanya. Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Pertama-tama yang harus kau lakukan adalah, menatap langit-langit," aku sempat ragu dengan apa yang dikatakannya. Namun, perlahan aku pun mengikuti instruksi yang diberikan oleh Naruto. "Bagus, sekarang, angkat kedua lenganmu lurus-lurus ke atas," perintahnya lagi dan aku masih mengikutinya. Tiba-tiba saja Naruto berjalan ke belakangku dan menarik kaus yang tengah kupakai, membukanya dan mengekspos semua bekas luka yang ada di tubuhku.
Ya, semuanya menatapku dengan terkejut tatkala melihat luka memanjang di bagian lenganku dan juga perutku. Sementara aku yang tak kalah terkejutnya dengan mereka berdiri dan menundukkan kepalaku dalam-dalam. Mereka akhirnya mengetahui ini dan aku harus siap menjelaskan semuanya sekarang.
"Sakura..." Sai menarik napasnya dalam-dalam dan tak melanjutkan kalimatnya.
"Apa ini? Apakah kau melukai dirimu sendiri?" tanya Neji kemudian. Aku menganggukkan kepalaku lemah dan masih tetap menatap lantai di bawahku.
"Kau tak seharusnya melakukan ini, Sakura-chan. Apa yang terjadi? Kenapa kau melakukan ini? Kurasa luka ini masih baru, kapan kau melakukannya? Sakura-chan?" pertanyaan Naruto hanya bisa kujawab dengan kebisuan.
"Sakura, katakan pada kami!" Sasuke membentakku dan menggenggam lenganku kuat. Membuatku mendongakkan kepalaku dan menatap manik obsidiannya yang berkilat marah. Dengan tangan gemetar kuraih ponselku yang di dalam tas kecil yang kusimpan di atas meja kayu samping kursi yang tadi kududuki. Aku berkutik lama dan membuat Naruto menggerutu tak jelas.
Tanpa berani menatap mereka semua, aku pun mulai mengetik di ponselku: saat kalian mengajakku untuk melihat kalian tampil di panggung, beberapa fans kalian mengatakan bahwa aku adalah gadis murahan. Aku tak pantas bersama kalian, aku hanya akan membebani kalian. Dan tak lama lagi, kalian pun pasti akan mengusirku dari rumah kalian. Meninggalkan aku sendirian. Dan aku mencoba untuk mengakhiri hidupku, kupikir dengan begitu masalahku akan selesai dan aku tak akan pernah membuat kalian terbebani dengan kehadiranku. Tapi sesaat kemudian aku teringat bahwa aku tak ingin pergi secepat itu dan meninggalkan kalian.
Tak ada tanggapan dari mereka sesaat suara robot selesai berbicara. Aku rasa aku membuat mereka tak enak hati dan tak nyaman. "Maafkan kami, Sakura," ujar sang leader―Sai―penuh dengan nada penyesalan.
Aku menggelengkan kepalaku cepat dan mulai mengetik kembali: ini bukan salah kalian.
"Mereka fans kami, dan itu menjadi tanggung jawab kami, jadi kami berhak meminta maaf atas mereka kepadamu." balas Neji.
Aku menggigit bibir bawahku dan menatap mereka bergantian, di sana kulihat mereka memberikanku tatapan yang menyedihkan. Aku tak suka melihat mereka seperti itu, maafkan aku. Dan kini pandanganku terpaku kepada Sasuke, dia menghela napas dalam-dalam dan mengacak rambutnya sebelum berkata kepadaku, "kau melanggar janjimu, Sakura. Dengar, aku tak ingin kau melakukan hal gila semacam ini lagi! Aku tak akan membiarkan siapapun menyakitimu," ujarnya.
Aku menahan napasku beberapa detik. Teringat perkataan Sasuke semalam yang mengatakan bahwa apapun yang terjadi aku tak boleh melakukan bunuh diri atau semacamnya. Tapi, sungguh ini kulakukan sebelum Sasuke mengatakan hal itu, dan aku benar-benar menyesal. Aku pun sudah berjanji dalam hati bahwa aku tak akan melakukan hal itu kembali. Aku masih takut untuk mati. Aku ingin mencicipi lebih banyak lagi kebahagiaan dalam hidup dan itu aku yakin bersama Sasuke―dan yang lainnya.
"Sudahlah, tak ada gunanya berdebat tentang hal yang sudah terjadi," ujar Gaara berusaha mencairkan suasana yang semakin tak menyenangkan ini. "lebih baik kita berenang saja, dan bersenang-senang. Dan, kau, jangan berbuat seperti itu lagi, kau mengerti?" sambungnya seraya menepuk bahuku.
Aku menganggukkan kepalaku dan berusaha tersenyum setulus mungkin kepadanya, lalu mengetik sesuatu di ponselku: aku minta maaf. Aku janji aku tidak akan pernah melakukan hal ini lagi. Kalian memaafkanku, 'kan?"
Para malaikat penyelamatku tersenyum bersamaan dan mereka semua secara bergantian menepuk puncak kepalaku, "well, let's forget about it and having fun!" ujar Sai diikuti dengan suara berisik Naruto yang kembali terdengar..
.
.
Aku pun meloncat ke dalam kolam renang dan bersenang-senang. Yang lainnya pun sudah hanyut dalam kegiatan berenang mereka. Aku tak bisa menghentikan senyumku saat Naruto dengan penuh semangat mengajak Sai dan Neji berlomba, dengan imbalan siapa yang menang bisa meminta apa saja dari yang kalah. Lalu, kulihat Gaara yang hanya menyandar di sisi kolam memerhatikan kami. Dan, yang membuatku sedikit risih adalah sejak tadi kuperhatikan Sasuke selalu mencuri pandangnya ke arah luka-lukaku beberapa menit sekali. Seakan Sasuke meragukanku dan tak memercayaiku bahwa aku tak akan melakukan hal seperti itu lagi. Merasa tak enak terus diperhatikan oleh Sasuke, aku pun menenggelamkan kepalaku ke dalam air dan mulai berenang gaya bebas―untunglah aku masih mengingat cara berenang yang diajarkan oleh guru SMP-ku―menjauhi dirinya. Kuharap perlakuan Sasuke masih hangat seperti saat sebelum dia mengetahui kejadian ini. Dan dia tidak menjadi lain kepadaku. Sasuke sepertinya masih marah padaku. Kilatan matanya terlihat menakutkan.
.
.
.
Kira-kira sekitar dua jam kemudian, kami mengakhiri acara berenang kami. Aku juga sudah lelah karena melakukan banyak permainan bersama The Savior, dimulai dari polo air, lalu lomba siapa yang bisa mencetak waktu tertinggi―yang ternyata dimenangkan oleh laki-laki pemilik rambut indah, Neji―dan permainan-permainan seru lainnya. Sekarang kami naik dari kolam renang dan duduk-duduk saja di pinggir kolam renang dengan handuk yang meliliti tubuh kami.
"Ah, lelahnya. Tapi ini sangat menyenangkan," ujar Naruto. "Aku mau membilas tubuhku dan berganti pakaian. Ada yang mau ikut?" sambungnya seraya berdiri.
Sasuke, Gaara, Neji dan Sai pun ikut berdiri dan hendak menuju ruang bilas. Tentu saja aku pun menuju ruang bilas yang pastinya berbeda dengan mereka. Kupikir sudah cukup acara berenang kali ini dan tubuhku sudah sangat menggigil sekarang. Aku harus segera mandi dan berganti pakaian. Namun, perjalanan kami menuju ruang bilas terhenti saat beberapa kilatan lampu blitz, puluhan orang paparazzi dan aku yakin diantaranya penghuni hotel ini atau para fans The Savior, tiba-tiba datang mengepung area kolam renang yang semula kosong menjadi penuh sesak. Langsung saja Sasuke menarik tubuhku ke belakang tubuhnya, sementara anggota The Savior yang lain berkeliling sebagai pagarku dan berusaha menahan para paparazzi tersebut mendekatiku. Aku sangat terkejut, tapi yang bisa kulakukan hanyalah diam di balik punggung Sasuke dan yang lainnya. Hal seperti ini bukankah memang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja? Mereka penyanyi terkenal di Jepang. Wajar saja para wartawan atau fans selalu mengelilingi mereka. Tapi, aku punya firasat buruk tentang hal ini. Sepertinya bukan The Savior sasaran mereka kali ini, melainkan diriku.
Sontak saja aku mulai dilanda ketakutan diriku akan terekspos oleh publik. Aku memeluk lengan Sasuke dengan erat saat beberapa diantara paparazzi itu menarik-narik ujung rambutku. Aku mencoba untuk mendorong mereka menjauhi tubuhku dibantu oleh Naruto. Dan saat adegan dorong-mendorong itu terjadi, handuk yang melilit tubuhku terlepas sehingga membuat badan berbalut bikiniku yang penuh luka terlihat. Semua orang tersentak, melihatku, tapi itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Malah, lampu kamera semakin menyilaukan mataku. Para paparazzi itu terus mengklik tombol shutter pada kamera mereka, mengambil gambar tubuhku yang menjijikkan ini. Percuma saja aku mencoba untuk menutupi bagian tubuhku yang terluka. Sudah terlambat, toh foto-foto itu sudah berhasil diambil oleh mereka.
Di saat yang tepat Kakashi-san―yang entah sejak kapan ada di sini―dan bodyguard The Savior pun datang bersamaan dengan beberapa petugas keamanan hotel. Ini merupakan kesempatan kami untuk melarikan diri. Kami pun berlari keluar arena kolam renang dan menuju lift. Sayangnya pintu lift tertutup saat aku dan Sasuke sampai di depan pintu lift. Kami tertinggal karena sempat dihadang di depan pintu keluar kolam renang oleh lima orang paparazzi yang berhasil lolos. Sementara Naruto, Neji, Sai dan Gaara sudah berhasil masuk ke dalam lift pertama, jadi kami harus menunggu lift untuk kembali turun. Aku dan Sasuke pun kini dikepung paparazzi itu. Genggaman tangan Sasuke tak sedetik pun terlepas dari tanganku. Meski begitu, tetap saja keringat dingin mulai menjalari tubuhku yang berbalut busana minim ini. Rasa khawatir dan sangat bersalah menjalari relung hatiku. Dan tepat seperti dugaanku, mereka kembali membanjiri kami dengan jutaan pertanyaan, lebih tepatnya semua pertanyaan dilontarkan kepadaku.
"Siapa namamu?" satu diantara mereka bertanya padaku. Jelas saja aku tak memberi jawaban apa yang mereka mau. Dan mereka menatapku dengan tatapan aneh.
"Maaf, tapi dia tidak bisa berbicara untuk saat ini," jawab Sasuke. Mereka tampaknya tak mengerti apa yang dimaksud Sasuke bahwa aku tak bisa berbicara, namun mereka lalu mengalihkan segala pertanyaan yang tertuju untukku kepada Sasuke.
"Sasuke-san, bisakah kau beritahu kami siapa nama gadis di belakangmu?" tanya salah satu papaarazzi perempuan yang berambut cokelat pendek itu.
Sasuke menjawabnya, "Sakura Haruno."
"Kulihat ada bekas luka sayatan di tubuhnya, apakah dia melakukannya sendiri? Atau dia korban kekerasan?" tanya seorang lainnya.
"Apakah benar bahwa dia adalah gadis nakal yang sengaja mendekati kalian untuk mendapatkan popularitas semata?"
"Apa dia tidak memiliki orang tua?"
"Sasuke-san, tolong jawab pertanyaan kami,"
Pertanyaan-pertanyaan sumbang itu membuat hatiku pedih. Dan Sasuke tidak berkata apa-apa selain terpaku mengabaikannya. Alih-alih menjawabnya, Sasuke kini mengedarkan pandangannya. Lalu, dengan secepat kilat Sasuke menarik tanganku dan memerintahkanku untuk berlari.
"Sakura, kita naik lift yang itu, kumohon berlarilah secepat yang kau bisa," bisiknya seraya menunjuk pintu lift yang ada di ujung koridor ini, sementara aku menganggukkan kepalaku singkat dan mulai berlari, meninggalkan paparazzi yang mengejar kami di belakang sana.
Sesampainya di depan pintu lift itu, kami pun masuk dan Sasuke menekan tombol atas dengan cepat. Beruntunglah kami karena paparazzi itu tertinggal jauh di belakang kami, sehingga kami bisa berhasil lolos. Lift kami pun terus naik. Di dalam hati aku harap-harap cemas, takut jika saja ada beberapa paparazzi yang sudah siap-siap menghadang kami di sana. Namun, ketika pintu lift terbuka, di sana kulihat anggota The Savior lainnya tengah menunggu kami. Setelah itu kami pun segera masuk ke dalam kamar di mana semalam aku, Sasuke dan Sai tempati.
"Aku pikir kalian tak akan selamat," ujar Naruto terkesan berlebihan.
"Apa yang terjadi?" tanya Neji yang selalu bersikap lebih tenang dari yang lainnya.
Sasuke menjawab, "mereka mengambil gambar Sakura dan bertanya tentangnya."
"Mengapa mereka selalu ingin tahu urusan orang lain? Dan, untuk apa mereka mengambil foto Sakura?" gumam Sai.
"Inilah yang tak pernah aku sukai dari mereka," gerutu Gaara.
"Wartawan dan penggemar itu sangat gila, apa sebaiknya kita adakan jumpa pers?" sambung Naruto.
Aku hanya bisa menundukkan kepalaku dan kemudian berlari ke kamar mandi. Mengabaikan panggilan Sasuke dan yang lainnya. Aku tak tahan lagi, rasanya ingin menangis. Kubanting pintu kamar mandi dan kukunci dari dalam. Ketukan tak sabar dari luar tak kupedulikan. Aku sudah tak peduli apa yang akan mereka pikirkan tentangku. Apakah hidupku akan terus seperti ini? Apakah hidupku memang untuk mendapatkan perlakuan tak adil dan mendapatkan caci maki dari orang lain? Apakah dengan cara mengakhiri hidup, maka lukaku akan sembuh dan terobati? Aku tak bisa berpikir sehat lagi, rasa sakit di hatiku begitu kentara. Seharusnya aku tak bertemu dengan The Savior, seharusnya The Savior tak pernah menolongku, seharusnya ayah... Seharusnya ayah membunuhku! Ya, itu akan lebih baik.
Aku menatap pantulan diriku di dalam kaca besar yang ada di sudut kamar mandi. Mataku mengeluarkan cairan bening dan tampak memerah. Raut wajah putus asa begitu kentara di wajah pucatku. Lalu, kualihkan fokusku ke arah laci di dekat westafel. Kucari sesuatu yang bisa kugunakan untuk melakukan sesuatu, dan di sana aku mendapatkan pisau cukur. Kugenggam pisau cukur itu dengan tangan bergetar dan aku duduk di toilet.
Apakah ini tepat? Apakah dengan ini mereka bisa kembali hidup tenang tanpa bayang-bayang diriku? Ya, mereka pantas mendapatkan hidup yang lebih baik tanpa aku. Kutarik napasku dalam-dalam. Kupejamkan mataku dan bersamaan dengan itu, pisau cukur yang tajam pun mulai menyentuh kulit nadiku. Takut. Aku takut melakukannya, tapi jika dengan cara ini aku bisa mengembalikan kehidupan tenang The Savior, maka tak ada pilihan yang lain.
Mungkin bertemu dengan ibu dan bersama ibu di surga lebih baik, meskipun aku tak tahu akan bertemu ibu atau tidak dengan cara yang tak pernah dibenarkan oleh ajaran Tuhan ini. Tapi, yang aku inginkan hanyalah ketenangan.
to be continued
