A/N : Enjoy! (pendek amat, thor! -")


Ducklaimer *plak* maksudnya Disclaimer : Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

Warning : Typo, Tisu(?), bahasa baku dan tak baku (termasuk lo-gue), Child!Bertolt, Child!Reiner, InMangaChara!Marcel.

Hanya latar belakang dan masa lalu Reiner dan Bertolt dan fanfiction. Tidak lebih. . . . . .


Chapter 1 : Vaksin cacar + Vaksin Titan Shifter?

.

.

.

.

.

"Reiner, kau ingat saat itu?" tanya Bertolt.

"Saat kapan?" tanya Reiner.

"Saat kita dan Marcel ke Wall Maria hanya karena cacar. Hehe, aku juga masih ingat suntikan kedua yang diberikan dokter itu ke kita," jelas Bertolt.

"Oh, haha, aku juga masih ingat saat Marcel bilang ingin ompong duluan," ucap Reiner.

Nostalgia, dimulai...


Flashback


"Bert, kau curang! Ompong duluan!" sahut Marcel setengah menangis.

"Copot sendiri, Cellular!" sergah Bertolt. Ntar... Emang di jaman mereka udah ada yang namanya hp? Hp aja belom ada pada jaman itu! Darimana Bertolt mendapat kata-kata itu?

"Cellular artinya apaan?" tanya Reiner. Bertolt hanya diam seribu bahasa. Nah, artinya saja dia tak tahu!

"Dan apa rahasia ompongmu?" tanya Marcel. Oalah... Ini anak mau ompong juga rupanya!

"Jawab Bert!" ujar Reiner. Bertolt masih dieeeeeeem aja. Tiba-tiba, ada lampu muncul di atas kepalanya.

"Tanya author aja!" Bertolt langsung kabur setelah mengucapkannya.

"Jadi..." tanya Reiner pada author.

"Cut!" sahut author karena Bertolt mengacaukan skenarionya.


-**Back to Story**-


"Kukira, ini mungkin perjalanan terakhir kita bersama-sama!" ucap Marcel sampai membuat Reiner dan Bertolt tersentak.

"A-Apa maksudmu!?" tanya Reiner.

"Eh? Tidak apa-apa kok!" kata Marcel.

"Oy.. Lebih baik kita tidur! Besok kan, kita mau ke Wall Maria!" ucap Bertolt sambil mematikan api unggun yang mereka buat.


-Besoknya-


"Rei-Reiner! Kenapa ada bintik-bintik basah dimana-mana!" tanya Bertolt histeris.

"Kau juga Bert," ucap Marcel.

"Kau pun begitu Marcel," kata Reiner.

"Jangan-jangan ini cacar air!" teriak Reiner.

"Sudah kubilang, ayo kita ke Wall Maria untuk mendapat vaksin anti cacar!" ucap Bertolt.

"Apa yang kita tunggu? Ayo!" ucap Marcel. Merekapun segera pergi ke Wall Maria distrik Shiganshina.


-+Skip+-


"Selanjutnya!" sahut dokter itu. Anak yang selanjutnya segera ingin menangis.

"Bener Bert, ini tempatnya?" tanya Reiner. Bertolt mengangguk.

"Selanjutnya giliran kita!" ucap Marcel. Reiner malah merinding sendiri.

"Selanjutnya!" tibalah giliran mereka. Marcel maju duluan. Dokter itu hanya tersenyum. 'Mereka bertiga sepertinya bagus,' batinnya. Ia menyuntik Marcel dua kali.

"Lanjut!" Reiner mendorong Bertolt. Reiner makin merinding, karena Bertolt dan Marcel disuntik dua kali. 'Tamatlah aku.' batin Reiner.

"Good luck Rein!" ujar Marcel memberi semangat. Reiner meneguk ludah. Ia maju. Awalnya, suntikan pertama tak sakit, lalu, jadi sakit luar bi(n)asa saat yang kedua.

"Dok boleh nanya?" tanya Reiner. Dokter itu mengangguk.

"Oh makasih," ucap Reiner.

"Mana pertanyaannya, nak?" tanya sang dokter.

"Itu tadi kan termasuk nanya juga kan, Om dokter?" jawab Reiner polos. Marcel dan Bertolt jawdrop seketika.

"Cut!" sahut author sambil menahan tawa.


-**Back to the story**-


"Om dokter, suntikan kedua suntikan apaan? Kok cuma kami bertiga yang disuntik dua kali?" tanya Reiner.

"Tapi kan bukan hanya kita, Rein," ucap Marcel. "Anak berambut coklat itu juga," kata Marcel sambil menunjuk seorang anak (yang diketahui) bernama Eren Jäger yang tengah meringis.

"Itu putraku," ucap sang dokter menanggapi. "Soal suntikan itu, kalian lihat sendiri efeknya," jawab sang dokter.

"Ma-Makasih Om!" ucap Reiner. Ia lalu menoleh pada Marcel dan Bertolt.

"Apa?" tanya Bertolt.

"Aku rasa suntikan yang kedua tadi itu sejenis 'sulap' yang bisa bantu kita ngelawan raksasa!" ucap Reiner.

"Berarti kita bisa donk kembali ke kampung halaman!" ucap Marcel bersemangat.

"Ayo!" ucap Bertolt. Mereka pun berjalan menuju gerbang.


Chapter 1 selesai! Pendek ya? Emang -_- lagi males ngetik. Oh ya, don't flame please but : ?