Bukan Kau, tapi Aku
BoBoiBoy © Animonsta Studios
.
Fanfic ini dibuat untuk mengikuti challenge Alexandra Ceng yaitu "Between Good and Evil".
.
Warning! Sho-ai fanfic, Indonesian language, please apologize if you got some mistake(s) on this story.
Enjoy!
.
.
[2/3] – Apa Arti Aku Bagimu?
"BoBoiBoy, terimakasih karena selama ini mau menjadi lebih dari kawan untukku..."
"Eh kau mau kemana Fang?"
"... Aku sekarang mau berpaling dan tidak mau berteman denganmu lagi."
"Eh? Kenapa?"
"Karena disini sekarang ada Ochobot."
"UFFF!" aku bangkit dari ranjang akibat terjaga dari tidurku, dan mendapati lagi-lagi biskuit rasa aneh dalam mulutku. Sontak aku memuntahkan semua isi makanan dalam mulutku yang ia sumpal keluar jendela—dengan sebelumnya aku turun dari ranjang lalu berlari kencang menuju jendela.
Ochobot seperti biasa melakukan hal ini untuk membangunkanku secara paksa saat aku keenakan tidur dan ia tidak bisa membuatku terjaga. Tidak heran untuk sebuah robot kuasa dengan memiliki emosi, berbuat iseng sampai kelewatan begini.
"Pagi BoBoiBoy, hehe," Ochobot tertawa kecil mendapati aku memaparkan wajah kesal padanya. "Ini suruhan bos loh, bukan karena aku mau."
"Ochobot! Kau kan sudah tahu biskuit Yaya itu rasa ampelas! Aku bisa mati karena hilang nafsu makan akibatmu!" tukasku selesai memuntahkan seluruh material dalam kerongkonganku, yang beruntungnya aku sempat menahannya sebelum larut lalu lebur hingga ginjalku teracuni. "Lagian hari ini kan hari libur!" Sang yang dimarahi semakin tertawa kejam.
"Hahaha, maaf deh. Tapi tadi kau teriak nama Fang sih, jadinya aku kaget," terang Ochobot. "Habis mimpi apa?"
"... Dia lebih menyukaimu daripada aku," kataku kecil tanpa basa-basi. Langsung saja terdengar suara batuk kecil mengiangi pendengaranku, sebagai respon jawaban kalimatku barusan.
"Aku ini hanya robot. Apa yang istimewa dari aku daripada kau?" tanyanya. "Maksudnya suka apa ini?"
"... Entahlah," jawabku pendek setelah berdiam cukup lama yang mampu membuat si penanya penasaran.
"Jangan-jangan, suka dalam arti sampai ingin memeluk dan mencium? BoBoiBoy, kau hina."
"SEMBARANGAN! Aku bukan maho woi!" balasku.
"Ya sudah. Itu kan hanya mimpi. Bos minta bantuan untuk menyusun meja-meja kedai."
"Ayolah, sejam saja lagi aku tidur. Aku belum puas tidur."
"Dasar pemalas! Lihat dong Fang yang pagi-pagi sudah membantu bos menata kedai!"
"Ngigau kali," ejekku. "Ngapain juga dia ada disini di jam 4 subuh begini?"
"Bagus Fang! Itu kotak bawa juga sekalian ya."
"Baik kakek."
"Nah tuh," Ochobot yang baru saja membuka pintu kamarku langsung celetuk saat mendengar suara seruan dua pria dari bawah lantai. Aku segera berlari menyusul tempat berdirinya Ochobot setelah sempat mengambil topi jingga polkadot kuning kesayanganku.
"Larinya cepat banget."
...
Setelah sempat aku menyapa Fang dengan ucapan "Pagi!" dan ia juga membalas dengan kata sama meski tanpa ulasan senyum, kami berdua entah sejak kapan menjadi membantu kakekku mengangkat barang berat bersamaan. Seperti membawa kotak berisi kaleng-kaleng kakao kakek kesana-kemari, membawa gelas-gelas yang tertinggal di dalam rumah, dan lainnya.
Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Terasa kakiku gemetar hebat setelah kakekku berseru mengucapkan kalimat yang memuaskan hatiku untuk segera memulihkan tenaga setelah bekerja keras selama 2 jam 34 menit. "Yak silakan istirahat dulu."
"Hhh! Begitu saja kamu capek, BoBoiBoy?" remeh Fang melihat aku yang tidak kuasa berdiri dengan tegap.
"Kau juga—hh, k—kenapa kau banyak sekali tenaganya..." sahutku lemas. Fang reflek menahanku berdiri dengan memeluk kedua pinggangku kuat. Saat dia mengenakan pakaian tanpa lengan sebagai dalaman seragam sekolahnya juga jaket nila kesayangannya yang selalu ia ikat pas di pinggang, aku menjadi was-was mudahan saja dia tidak bau badan. Seragam yang ia sering gunakan saat misi membela kebenaran setelah perlawanan melawan Ejo Jo—musuh yang kami hadapi paling tangguh sepanjang hidupku—malah ia pakai pagi ini.
"Makanya banyak-banyak makan sayur! Paling ringan itu menyukai donat wortel," pamernya.
"Donat mulu," gerutuku.
"Sudah-sudah. Fang, katanya kesini mau membicarakan sesuatu dengan perihal pribadi pada BoBoiBoy kan?" sergah kakekku menengahi. Fang mengangguk kecil dan melepas peluknya ketika merasa tenagaku sedikit pulih akibat respirasi yang teratur.
"Iya kek. Makasih untuk mengingatkan," katanya sopan.
"Eh ada apa?" tanyaku. Fang hanya menatapku sebentar dan menarik tanganku menjauhi kedai. "Kau akan tahu nanti."
...
"Jadi apa?" tanyaku setelah ia menarik tanganku ke suatu pohon besar yang cukup jauh dari kedai juga kerumunan orang. Tanpa menjawab Fang hanya berjalan ke belakang batang pohon terdekat, dan kembali beberapa saat sambil mengenggam tanaman dengan tinggi 46 cm dengan menggunakan pot pemberianku.
"... BoBoiBoy, tolong rawat dia baik-baik ya?" katanya dan ia menyodorkan tanaman tersebut padaku. Ia mengerti kalau aku memang benar-benar kebingungan akan tindakannya tiba-tiba ini. Namun tanggapannya hanya berupa tersenyum kecil dengan diliputi rasa sedih—ekspresi yang sangat jarang sekali diperlihatkannya.
"Ada apa Fang? Tidak biasanya kamu begini," tanyaku tanpa ragu. Fang menghela nafas kecil.
"Aku akan pindah sekolah," katanya. Hatiku seakan tersambar petir saat itu juga. "Karena aku ketahuan."
"...Ketahuan apa?" saat aku bertanya, Fang semakin menundukkan wajahnya. Aku merasa ia memang betul-betul sedih sekarang. Aku merasa semakin bersalah. Dan dengan berat aku membiarkan rasa penasaranku menyelimuti diriku walau aku memang sangat penasaran sekarang. Tapi suatu keajaiban apakah yang membuat Fang membuka mulutnya walau aku tahu ia berat mengatakannya.
"Dulu aku kesini karena minggat. Aku salah satu anak dengan latar belakang KDRT keluarga," ujarnya sedih. "Maaf selama ini aku selalu menyembunyikan jati diriku," katanya lagi.
"Dan alasan kamu pindah sekolah karena ketahuan tinggal di pulau ini?"
"Iya," jawabnya mengiyakan. "Hahh, pada akhirnya... aku bakal sendirian, lagi..."
"Jika memang itu takdirnya, mau tidak mau ya?" sahutku. Fang langsung menatapku nanar.
"Apa kau membiarkan aku hidup dalam kesepian, BoBoiBoy? Kukira kau adalah kawan terbaikku! Rupanya..."
"Tunggu! Maksudmu apa, Fang?" sungguh ucapan tiba-tiba Fang yang seperti kesal membuatku bingung. Namun ia masih juga menunduk.
"Kau tahu selama ini aku mendekatimu karena apa? Aku iri padamu! Kau yang selalu diistimewakan para penghuni pulau ini lah, selalu diandalkan dalam setiap masalah lah, dan yang paling membuatku iri adalah kau disini tanpa beban keluarga dan mempunyai kakek yang sangat baik hati!"
"Fang—"
"Sungguh BoBoiBoy... sungguh, kau adalah orang paling beruntung di dunia ini. Aku iri dengan semua yang kau punya—hiks!" Fang berbicara dengan sesegukan. Iris coklatnya yang terhalang kaca biru bening kacamata nilanya semakin memperlihatkan matanya yang berkaca-kaca.
"Fang..."
"Satu saja. Satu hal saja yang dapat membuat orang lebih memandangku daripada kamu. Mengapa dunia sangat tidak adil?" ia berusaha menahan segukannya. Ingin saja aku menyabarkannya, namun tanganku sudah menerima tanaman yang tumbuh cukup besar ini dari enam bulan yang lalu. Jadi tanganku tidak dalam keadaan bebas sekarang.
Hatinya yang selama ini diperlihatkan teguh, rapuh di depanku. Tatapan dinginnya dan tindakan cueknya selama ini, hanya untuk menutupi rasa irinya. Dia terlihat lemah hanya di depanku sekarang. Kurasa ia benar, aku hidup dalam penuh kebahagiaan. Apa yang bisa ia syukuri jika memandangku dari bawah?
Dia terlalu melihatku hanya dari atas. Padahal dia sendiri tidak menyadari keistimewaannya.
"Hei, kau kan pintar matematika," dan sukses Fang menatapku tersinggung seakan berkata, 'mohon-baca-situasi-sekarang'. "Aku benar kan?"
"Iya," katanya singkat. Aku terkekeh kecil takut. Takut tiba-tiba dia mengeluarkan harimau bayang lalu mencakar wajah mulus layaknya baby-face ini.
"Heh, memang benar sih. Aku memang lebih unggul dari BoBoiBoy!" lalu kembali sifat sombongnya keluar. Dia tertawa keji dengan nada tawa putus-putus jika mencapai 3 detik dan beristirahat setengah detik. Tawanya mengingatkankku saat dia tertawa kemenangan karena bisa mengelabui Adu Du, aku, dan Gopal, ketika misi BuBadiBaKo.
"Hish, sombong banget. Tadi habis mewek," sahutku. "Haha, BoBoiBoy. Jangan merasa risih. Nanti aku ajarkan matematika kok," bangganya.
Tiba-tiba tanah yang kami pijak terasa bergoyang entah kenapa. Kami berdua berusaha mungkin menyeimbangkan diri namun percuma. Semakin lama guncangan tanah semakin kuat.
"Eh gempa bumi kah ini?" terkaku ketakutan. Fang enggan menjawab dan lebih memilih berkonsentrasi menyelamatkan nyawanya jika memang benar ini adalah gempa bumi dengan menyeimbangkan tubuhnya. Terlihat guncangan dahsyat ini membentuk suatu lubang besar di depan kami berdua, dan muncullah suatu robot besar bertubuh serba hijau keluar dari tanah tersebut. Kalau tidak salah, itu Mukakulus—robotnya Adu Du yang pernah dia gunakan untuk bekerjasama denganku melawan Ejo Jo.
"Argh! Lepaskan aku!" Ochobot mengerang dalam genggaman tangan robot tersebut. "Lepaskan! lepaskan!"
"BoBoiBoy! Ochobot!" Fang berlari ke arah robot tersebut dan membentuk tangannya selagi melangkahkan kakinya. "Elang bayang!" dan keluarlah seekor burung besar bertubuh gelap dengan kedua mata merah menyala terbang melesat menuju arah Ochobot. Fang sempat melompat menaiki burung tersebut.
"Mengerti! BoBoiBoy Topan!" langsung aku menaiki papan luncur anginku dan melesatkan terbang menuju robot yang ingin kabur saat melihat kami berdua mengejarnya. Aku menyusul burung bertubuh gelap milik Fang. "Adu Du! Serahkan Ochobot pada kami!"
"Kalian kira kami bodoh apa?"
Suara yang barusan menyahuti kami itu... aku mengenalnya. Itu suara...
"Ejo Jo?!" kami berdua serempak terkejut sampai kami berhenti mengudara. Alien bertubuh hijau dengan memakai pakaian besi itu tertawa disamping robot Mukakulus yang berhenti untuk terbang menjauh. Ia hanya menggunakan jet dari kedua kakinya.
"Sudah lama tidak melihat kalian," kata Ejo Jo sinis.
"Kau mengapa ada disini?!" tanya Fang lantang. "Tidak puas dengan masuk dalam rumah sakit alien ahli menipu itu?"
"Aku datang kesini agar kalian juga merasakan bagaimana rasanya masuk rumah sakit! Dan kali ini, aku menggunakan teknologi lebih canggih lagi."
"Lebih canggih?"
"Aku telah meng-kopi data ke empat jam kuasa yang pernah aku pergunakan," setelah ia selesai berucap, terasa tubuhku berat untuk mengambang meski telah menggunakan papan luncur angin. Aku pun terjatuh diikuti Fang.
"AAAA!" Fang berteriak panik selagi terjatuh. Wajar untuk manusia yang jatuh pada ketinggian 2 meter. "BoBoiBoy, apa kau tidak bisa memanggil Yaya, Ying, dan Gopal?!"
"Aku sedang berusaha!" aku kini tengah panik. Cukup lama aku memainkan jam tanganku yang biasa kugunakan untuk memanggil rekan pahlawan lainnya. "Tunggu, pusaran taufan!" dan sukses aku dan Fang mendarat secara pelan dengan hanya jarak 10 cm lagi kami menghantam daratan bumi. Untung saja aku bisa berpikir kritis. Hingga angin berputar mengelilingi aku dan Fang untuk menolak berat dari gravitasi.
"Ide bagus," puji Fang. "Tapi aku tidak bisa menggerakkan tanganku," aku dan dia sama-sama memposisikan diri ingin bersujud selesai pusaran angin yang menahan tubuh kami lenyap. Percuma kami berusaha kembali menggerakkan tangan kami. Ejo Jo telah menggunakan kekuatan milik Yaya dengan memanipulasi gravitasi sampai kami berdua tidak dapat berkutik.
BRAKKK!
Robot besar bernuansa hijau tentara terkapar di daratan. Dalam genggamannya yaitu sebuah bola kuning tergelinding lambat. Iya. Itu Ochobot.
"Argh, memang tidak bagus untuk bekerjasama denganmu!" kesal Adu Du dari dalam robotnya. Ejo Jo dengan tampan besinya hanya turun lambat, berdiri tegap sambil melipat kedua tangannya di belakang robot Adu Du.
"Sebab kamu tidak punya akal," sahut Ejo Jo sinis. "Bahkan bola kuasa kau lepaskan begitu saja."
Entah bagaimana Ochobot dapat mengelindingkan badannya menuju arahku. Bersusah payah, dengan seluruh genap kekuatan aku berusaha meraihnya meski tidak bisa melangkah. Sukses. Dia menggelinding dalam rangkulanku. Setelah aku memeluknya, kedua tangan juga kaki roda serba dua mata biru sapphire berbentuk teropong muncul menghiasi bola tersebut.
"Hiks, BoBoiBoy..." robot kuning itu menangis.
"Tenang Ochobot, kini kamu ada denganku," ucapku menenangkan.
"Tadi mereka berusaha menghancurkan tubuhku! Aku berlari mencarimu tapi aku tidak menemukanmu! Kau kan berjanji akan selalu melindungiku?"
"Tenanglah Ochobot. Jangan menangis lagi ya? Aku takkan berbohong untuk selalu melindungimu," kuusap-usap kepala Ochobot seperti membelai kepala seorang gadis. Memang sikapku dengannya bisa dikatakan memanjakan. Hanya, beginilah.
"Memang aku tidak sia-sia mempercayaimu, BoBoiBoy," ucap Ochobot. "Kau memang yang terbaik dari semua orang yang telah kuberi kuasa."
"Bahkan aku mendapat kuasa karena terpaksa."
Aku dan Ochobot melengok sumber suara yang diketahui adalah milik Fang. Dia menatap kami tajam, namun bukan tatapan tajam yang biasa ia perlihatkan padaku.
"Kuasa yang kudapat karena terpaksa. Terpaksa diberikan daripada digunakan untuk orang yang berniat melakukan kejahatan," lanjut Fang. Jantungku seketika berderup ketakutan dengan mata Fang yang tiba-tiba menampakkan sorot kebencian. Adrenalin kurasakan memuncak menggerogoti sarafku.
Tidak terpengaruh kekuatan Ejo Jo, kembali aku lihat tubuh Fang melayang ke atas dengan kumpulan bayangan menyelimuti tubuhnya berbentuk lingkaran. Baru saja aku ingin bertanya apa yang terjadi kepada Ochobot, namun rasa takut menguasai tubuhku. Mengalihkan pikiranku. Aku hanya bisa diam dengan memeluk Ochobot sekuat mungkin.
Fang membuka suaranya kembali, dengan kini pita suara yang kembali bukan miliknya. Suara berat laksana malaikat pencabut nyawa mengambil jiwa korbannya.
"Bagaimana, jika aku menjadi orang jahat?"
Bayangan-bayangan hitam berkumpul memutar lebih cepat, hingga kembali muncul bayangan yang pernah kutakuti seumur hidupku dari kekuatan Fang.
"Le..." aku mengucap terbata-bata.
"LEVIATHAN!"
-Bersambung-
A/N: Err yah, kembali saya lanjutin fanfic ini karena ada dua sebab. Tolong jangan tanya. Haha. Saya tahu kayaknya internet di wilayah saya rada bermasalah, karena yang tidak punya akun saat review itu 3-4 hari munculnya. Beda sama yang punya akun yang muncul 30 menit sesudahnya. Tapi saya akan membalas review yang telah aku lihat dalam kotak review. Dan dengan sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih pada para pembaca yang review fanfic Boboiboy: Gardening. Maaf gak bisa balas atau PM karena ada suatu kendala dimana saat saya balas kadang PM saya tidak terkirim juga bingung mau balas dimana.
HannyAnonymous:
Memang bakal pair Boboiboy x Fang. But who's know? Uke? Liat saja ya nanti~ Tenang, yang fudanshi disini kalian takkan bisa menebaknya. Terima kasih reviewnya.
TsubasaKEI:
Cahaya? Tidak. Disini diceritakan Jahat dan Baik. Oke jangan gaplok saya. Ini lanjutannya~
Hoshi:
Ini sho-ai nak. Berarti tidak ada adegan kissu. Maaf ya~ Saya masih menghormati Boboiboy itu islam. Tapi entah sampai kapan. Soalnya fanfic yang baru-baru ini memancing jiwa fujo saya. Makasih atas ucapannya.
Yuriko-chan:
ambil setting pertengahan chapter 3. Itu artinya saat mereka kelas 6 SD enam bulan setelah kejadian Fang tidak bisa mengontrol emosinya; 2. Kalau mengambil setting kelas 6 SD, kejadiannya berarti sudah ambil setting saat Probe hidup kembali.; di chap 1 Boboiboy sempat bertanya kenapa Fang bisa menggunakan kuasa. Yang dark side itu karena chap 3 settingnya sore menjelang malam, dimana seharusnya Fang tidak bisa menggunakan kuasanya karena fase bulan purnama sudah lewat. Yah maaf jika fanfic saya masih kurang jelas. *bow* saya akan berusaha meningkatkan penulisan saya. Terima kasih atas pertanyaannya.
Lalalala-chan:
Gak, saya gak gunain fujo mode untuk menulis! Tolong jangan anggap aneh saya! Boboiboy x Adu Du? Pftt, mungkin bisa jadi! Gak kok bukan. Saya hina menjodohkan Adu Du sama Boboiboy. Boleh kok panggil Runa-san. Salam fujo~
P.S. : Btw kamu yang di kontak BBm saya yang namanya Anin anak baik?
