Bukan Kau, tapi Aku

BoBoiBoy © Animonsta Studios

.

Fanfic ini dibuat untuk mengikuti challenge Alexandra Ceng yaitu "Between Good and Evil".

.

Warning! Sho-ai fanfic, Indonesian language, please apologize if you got some mistake(s) on this story.

Enjoy!

.

.

[3/3] – Bukan Kau, tapi Aku

Kembali rasa kebenciannya padaku muncul. Kembali rasa ingin melenyapkanku dari muka bumi bangkit. Bayangan-bayangan hitam yang terkumpul dari kepingan-kepingan ingatannya akan pedihnya menjadi makhluk hidup, dimana pernah memijaki planet satu-satunya adanya 'kehidupan'. Menyeruak, menebarkan benih-benih kabar burung pada makhluk hidup akan akhir masa hidup mereka.

Bisa dibilang, dia membenciku namun mereka semua terkena imbasnya.

"FAAANGGGGG!" aku berteriak keras memanggil sang pemilik nama. Percuma. Sang pemilik tidak menggubris teriakanku. Ditambah dengan bayangan-bayangan yang semakin berkumpul lalu memadat, tubuh anak lelaki berambut hitam kebiruan itu terbungkus oleh 'gelap' sampai tak terlihat lagi wujudnya. Langit saja pun berubah mendung dengan kilat-kilat menyambar apapun di depan mereka.

Memori yang sama ketika Adu Du dan Probe membuat tanaman yang dia berniat baik ingin merawatnya menyerangnya, dan membuat emosinya terganggu. Berawal dari sebuah tanaman.

Tunggu.

Soal tanaman, dimana terakhir kali aku meletakkan tanaman yang dititip Fang?

WUUSSHHHH!

Angin kencang menerbangkan material dengan massa ringan ke arah kanan. Penuh perjuangan, aku menahan topi jinggaku agar tidak lepas dari kepalaku dengan menggunakan telapak tangan kananku. Satu tangan lagi masih aku posisikan memeluk Ochobot erat.

Ochobot tidak kalah takut denganku. Tubuhnya bergetar sepanjang aku memeluknya ketika Fang menyahut. Kedua tangan panjangnya itu juga memelukku sekuat tenaga.

"Akhirnya! Akhirnya!" terdengar suara iblis tertawa penuh kebahagiaan. Sea serpent berukuran 3 kali kali lebih besar dari naga bayang Fang, kemballi hadir tanpa segan di depanku. Tidak seperti waktu lalu yang hanya sekedar tubuh panjang seperti belut, kini ia melebarkan kedua sayap kelelawar hitamnya hingga dia benar-benar menjadi seperti 'makhluk' sekarang. Walau masih bernuansa hanya gelap dengan gigi gerugi putih juga sepasang mata merah delima.

"BoBoiBoy! Gunakan kuasa tiga!" perintah Ochobot segera. Aku merespon dengan mengangguk, mengerti. Namun baru saja aku meletakkan Ochobot pada tempat aman, sesuatu menahan kedua tanganku masing-masing dengan dua tangan hitam.

"Kau tak boleh bergerak senonoh jika musuhmu masih di depan!" kata Ejo Jo ketus.

"Tapi, kalau makhluk 'itu' ada kita akan binasa!"

"Apa peduliku? Makhluk bumi memang harus mendapatkannya!" balas Ejo Jo. "Malah aku ingin berpihak pada kawanmu yang kini telah memiliki kekuatan besar!"

"Itu bukan kekuatan! Namun makhluk penghuni gelap!" ucapku lantang.

"Persetan mau memanggilnya apa," Ejo Jo tertawa kejam.

DUAKH!

Ekor hitam mengibas tubuh Ejo Jo, menghempas tubuh makhluk alien dari Ata Ta Tiga itu hingga menabrak pohon terdekat. Kedua tangan hitam yang menahan tanganku menghilang, membebaskan mereka kembali bergerak sesuka hati. Langsung aku mengaktifkan kekuatan 'gempa' dan mendetumkan kedua tangan besarku ke tanah, dan muncul golem yang langsung menahan tubuh Ejo Jo terhempas jauh.

"Alien lemah! Ingin menjadi sekutuku? Kau bahkan takkan sanggup latihan dari dasar neraka paling rendah," ucap sosok hitam itu kesal. Ternyata sang Leviathan mendengar Ejo Jo bertutur tadi.

"Fang! Jangan, tolong jangan berbuat jahat! Aku mohon!" pintaku lantang, walau aku tahu ini sama sekali tak ada gunanya mengingat dari nada bicarana saja sudah seperti bukan 'Fang'. Leviathan itu menggerakkan lehernya menatapku.

"Fang kawanmu telah tiada. Jiwanya kini aku seret ke dalam neraka," kata monster bernuansa hitam itu. "Dia yang mengikat kontrak memberi tubuhnya padaku. Tenang, aku akan menyeretmu menemuinya, membuatmu dan seluruh penghuni bumi ini terseret dalam kegelapan!"

BLARRR!

Kilat putih langsung menuju ke arahku, siap menerjang. Aku hanya dapat diam kaku, membelalakkan mataku apakah ini akan jadi akhir hidupku? Keringat menjalar dari pelipis, turun lalu memudar karena terkikis angin kencang dari awan-awan yang menghitam.

"Gunakan elemen tanah!" teriak suara robot yang kutahu adalah Ochobot. Segera aku menganggukkan kepalaku dan kilat bertenaga volt besar itu menyambarku. Material-material tanah partikel kecil dibuatnya, yang kemudian dibnatu angin deras untuk menerbangkan semua partikel berunsur tanah. Dari angin itu, memperlihatkan kini aku sedang berlindung dengan banteng yang terbuat dari tanah.

"BoBoiBoy kuasa tiga!" aku menyatukan kedua jam dari tanganku dan muncul dua bayangan dengan gaya berpakaian yang lain juga warna dariku. Yang merupakan diri adalah aku, BoBoiBoy Gempa. Sedangkan dua lainnya hanya bayanganku, yaitu BoBoiBoy Topan dan BoBoiBoy Halilintar.

"Owh, dapat membuat duplikat rupanya," ucap monster itu.

"Kembalikan Fang dan pulang ke asalmu tercipta! Disini bukan duniamu!" perintahku lantang. Sang yang diperintah tertawa iblis, geli dengan ucapanku.

"Dia sendiri yang memanggilku. Apa hakmu untuk menyuruhku pulang? Bahkan belum saja mengalahkan aku, sudah main sombong. Dasar manusia bodoh!"

Terasa sesuatu menahan kedua kakiku, begitu juga dua bayanganku. Entah sejak kapan tangan-tangan hitam versi banyak seperti tangan hitam dalam neraka, menahan semua kaki-kaki kami bertiga dalam arena tersebut. Aku berusaha memberontak, dan semakin kuat eratan tangan mereka. Aku tidak bisa menggerakkan sang raksasa tanah karena dia masih melindungi Ejo Jo yang tengah pingsan. Kondisiku terjepit. Bahkan Ochobot tidak bisa melakukan apa-apa.

"Kau tahu alasan anak ingusan itu mengikat kontrak denganku? Kau mau tahu kenapa aku ada?" sang Leviathan mendaratkan tubuh besarnya di depanku—setelah hanya terbang ke udara dengan kedua sayapnya, menghasilkan dentuman keras untuk seukuran mahkluk bumi. Kedua sayap keelawarnya ia tutup kembali. Kedua mata merahnya ia hadapkan pas padaku, dengan jarak hanya moncong mulut bak naga yang memisahkan aku dengan matanya sejauh mungkin. Ukuran tubuhnya sungguh sangat besar.

"Saat itu, kedua orang tuanya berkelahi di depannya. Dia yang masih berumur 11 tahun berusaha melerai mereka."

"Papa! Mama! Jangan berkelahi!" Fang berusaha melerai namun nihil. Mereka berdua, para manusia bodoh yang haus akan urusan dunia itu, terus bersahut-sahutan. Bahkan mereka berdua serempak menyuruh anak semata wayang mereka diam.

"Aku tidak tahan dibeginikan terus! Aku juga sudah capek-capek kerja keras demi mendapat uang banyak! Tapi kau malah jalan bersama wanita lain?" marah Ibunya."Kenapa kau tidak pernah menghargai segala usaha kerasku?"

"Itu hanya asisten!"

"Aku juga! Aku bakalan jalan sama pria lain dan bilang itu juga 'asisten' nanti!"

"Kalau begitu, kita berdua berpisah saja daripada begini terus! Aku akan membawa Fang ikut denganku!"

"Tidak boleh! Aku Ibunya!"

Perdebatan dua manusia bodoh itu semakin menjadi. Sang anak merasa antara ketakutan dan sedih melihatnya. Ketika perkelahian surut, Fang bertekad memulihkan semangat Ibunya. Dan ia mendengar semua gerutu Ibunya dalam kamar sambil menangis.

"Andai aku tidak pernah bertemu dengannya! Aku berbuat baik seperti ini demi dirinya yang dililit hutang ketika masih pacaran! Baiklah, aku takkan pernah berbuat baik semudah membalikkan telapak tangan!"

Lidah Ibunya ia mulai menimbang-nimbang, dan ia paham. Manusia tidak perlu dikasihani, atau bakal diterkam.

Ia berinisiatif untuk minggat, dan dengan tabungan seadanya serta akal pandai dia keluar dari rumah tanpa sepengetahuan dua orang yang bersangkutan itu. Dia hanya pasrah dibawa sang kereta. Dari rencananya di ingin pergi ke kota jauh, malah ditendang ke Pulau Rintis karena uangnya tak cukup untuk berpergian jauh.

Rasa benci terhadap sesama ia rasakan begitu mendalam. Anak yang sejak lahir jarang diberi asupan kasih sayang. Segala usahanya dengan unjuk prestasi ia mulai berpikir tidak ada gunanya sekarang—setelah dahulu ia memiliki alasan untuk membuat kedua orangtuanya bangga . Perlahan, rasa tidak percayanya mengubah pribadinya menjadi penyendiri. Sebab itu ia selalu gampang dilanda kesepian, yang berbuah dengan rasa iri hati yang besar ketika melihat orang lebih bahagia darinya.

"Jenis kekuatannnya dari robot kuning mungil ada dari rasa kesepiannya," suara monster semakin terdengar bahagia, sampai-sampai melengking pada kalimat akhir. "AKU ADA DARI RASA IRI HATINYA! GYAHAHAHAHA!"

"Tidak! Fang tidak seperti itu!" aku mencoba mengelak.

"Tidak, hum? Sampai kapan kau akan jadi bocah ingusan yang selalu bodoh? Kau tidak tahu alasan dia ingin menjadi populer mengapa?"

"Kau jahat. Membongkar aibnya sendiri!"

"Aku hanya memberitahu alasan dia menyetujui kontraknya denganku," sang monster tertawa kejam. "Dia ingin menjadi populer untuk mencari perhatian dan kasih sayang dari manusia, tapi kau hancurkan! Berkatmu, aku sangat berterima kasih. Kalau bukan karena kau, dia dan aku takkan pernah bertemu! Aku akan memberikan rasa berterima kasihku, dengan ini!"

Ia melesatkan ujung ekornya mencoba menubrukku serta bayanganku. Aku hanya bisa terpejam berharap lesatan ekornya tidak menindihku.

"BoBoiBoy!"

DUAKH!

Aku membuka kedua mataku setelah 5 detik aku meresponi suara yang memanggil namaku. Ochobot melindungiku dengan mengeluarkan perisai bening dari kedua tangan yang ia lebarkan.

"Ochobot?"

"Bukan BoBoiBoy, bukan kau yang salah," suara Ochobot terdengar getir. "Memang munculnya dosa dia adalah darimu, tapi asal Leviathan ini ada adalah aku!"

"Apa? Mengapa aku tidak bisa sama sekali menembus perisai lemah ini?!" Leviathan mengamuk. Ujung ekornya ia kibaskan beberapa kali menghantam perisai pelindung buatan Ochobot. Robot bernuansa hitam kuning itu bersusah payah berada dalam posisinya.

"Bukan kau, tapi aku," lanjut Ochobot. "Bukan kau yang seharusnya menerima imbas dosanya, tapi aku, selaku pemberi kekuatan padanya. Aku tahu saat itu hatinya memang gelap. Hanya untuk usianya, tentu dia masih belum mengerti akan sakit hati. Tapi aku tak tahu dia begitu cepat dewasa."

"Ochobot. Walau kau yang harusnya menerima imbasnya, namun bukannya aku yang merupakan penetral dosanya? Aku mempunyai sesuatu yang belum dimiliki Fang. Dan itu adalah—"

"Kebaikan."

Suara familiar yang bukan dari kami berdua mendekat, dan terlihat Ejo Jo yang menyeret Adu Du dalam keadaan pingsan itu tersenyum. Aku jadi lupa kemana raksasa tanahku?

"Ejo Jo..." kataku sengaja menggantung. Ejo Jo menatapku antara kesal atau lainnya.

"Aku patut berhutang budi denganmu, BoBoiBoy," kata Ejo Jo. "Akan kukeluarkan naga bayang dalam kekuatan penuh. Komputer!"

"Inilah efek dari sang pemegang takdir 'kebaikan'. Salah satu sifat syurgawi yang membuat makhuk lain membantu kita," desis Ochobot. "Yang melambangkan kuasa terkuatmu untuk dapat membuat bayangan. Pemegang takdir 'kerendahan hati' tak mungkin bisa menghasilkan keuntungan sepertimu."

"Meskipun Ochobot belum bisa memudarkan takdir Fang yang ini dengan takdirmu, kau masih bisa memudarkan takdir Fang lainnya kan?"

"Sombong."

"Benar. Terbaik!" aku mengacungkan jempolku ke atas. Ochobot mungkin akan tersenyum seandainya ia bertransformasi menjadi manusia sekarang.

"Naga... BAYANG!" teriak Ejo Jo dan bayangan hitam mencuat naik ke atas langit mendung. Dari lingkaran gelap langit yang berputar, terciptalah seekor ular naga bermata merah dengan tubuh gelap, turun dan mengaum. Sang Leviathan menengok pada naga tersebut.

"Heh, ukuranku lebih besar dan aku lebih kuat darinya. Untuk apa kalian mengeluarkan naga kecil nan dekil ini?" ejek Leviathan.

"Kalau belum coba, mana mungkin tahu?" balas Ejo Jo. Tubuh naga bayang melilit tubuh Leviathan yang 3 kali lebih besar darinya itu. Sang Leviathan meraung memberontak. Goyahan tubuh Leviathan membuat kedua kakiku serta dua bayanganku kembali bebas karena tangan-tangan nuansa gelap itu tidak menahan kami lagi.

"Golem naga tanah!" kedua tangan aku dentumkan dalam tanah, dan muncul naga dengan material tanah ikut membantu naga Ejo Jo menahan tubuh Leviathan.

"Temukan Fang dalam tubuhnya! Masuki tubuhnya!" perintah Ochobot. Aku mengembalikan kedua pecahanku kembali pada diriku untuk bisa mengantar diriku dengan papan luncur angin tanpa membawa Halilintar dan Gempa. "BoBoiBoy Topan!"

Kemudian aku melesatkan papan luncurku masuk ke dalam mulut Leviathan yang kebetulan terbuka akibat dijepit naga bermaterial tanah itu. "Ejo Jo, jaga Ochobot!"

"Tentu BoBoiBoy. Tentu."

...

"Fang!" aku berteriak memanggil-manggil nama orang yang kucari. Dalam lorong hitam bernuansa gelap, bersyukur aku memiliki keris petir untuk menjadi cahaya sementara. Cairan bermolekul apalah ini yang kupijak, tidak aku pedulikan. Tetap teguh aku lurus menerobos lorong.

"B—BoBoiBoy..." suara kecil yang memanggil namaku terdengar dekat. Aku berbalik, dan kagetnya mendapati Fang dengan tubuhnya yang setengah hancur dari terpaan cahaya keris petir. Setengah wajahnya enggan lagi berbungkus kulit, nampak seperti berkelupas memperlihatkan daging-daging onggok sang pemilik tubuh. Jaket kesayangannya yang ia ikat pada pinggang bahkan robek di bagian bawah.

"Fang, kau?"

"Jangan lihat aku. Aku ini orang jahat," Fang duduk diantara kedua lututnya lalu menunduk, menyesal.

"Fang. Aku tahu perasaanmu. Maaf aku tidak peka dengan masalahmu akhir-akhir ini," kataku.

"Orang jahat tak perlu kau kasihani," balas Fang.

"Jahat atau baik, tidak penting."

"Kau bahkan pernah mengataiku jahat di depan Adu Du dan Gopal."

Aku diam kecut.

"Aku berusaha menghalangi kalian karena aku ingin kalian mengakui aku baik. Tapi tidak pernah dianggap," dan lagi-lagi kalimatnya sukses membuatku diam mati kutu.

"Ergh yah, itu..."

Suasana langsung hening.

"Fang, ayo kembali keluar?" ajakku memecah keheningan yang lama tercipta.

"Tidak. Tempatku disini."

"Kau hanya kurang selangkah, Fang. Aku janji, kau akan merasa bahagia jika keluar nanti. Kau akan mendapat lebih banyak kasih sayang bukan hanya dari kami jika kau mau sabar."

Fang mendongak dengan menyipitkan matanya dibalik kacamata biru transparannya. Ia bangkit, dan menendang perutku dengan memusatkan kekuatan pada ujung kakinya. Aku terpental dan menabrak dinding, dan keris petir terlontar dimana ujungnya hampir mengenaiku jika saja aku tidak cepat menghindar.

"Aku takkan percaya dengan semua omong kosongmu!" ketusnya.

"Kau iri kan? Kau iri denganku kan?"sahutku cepat. Kurasakan tulang punggungku remuk terhantam dinding bermaterial keras. Dari apakah dinding hitam ini terbuat Serasa seperti semen. Dan yang terburuk, tidak ada jawaban dari lawan.

Saat ini aku susah sekali ingin melihat dimana posisi gelap enggan berbekal cahaya menerobos, sangat susah melihat sekitar. Inikah gelapnya hati Fang?

"Kau bisa sepertiku, kalau kau mau berbuat baik," kataku memecah keheningan yang sempat tercipta diantara kami. "Seperti ucapanku tera—ohok!" aku terbatuk dan sempat menangkap cairan yang aku ludahkan dalam mulutku. Bau amis dari zat hemoglobin menyengat menyeruak masuk dalam hidungku. Sempat-sempatnya aku terbatuk darah.

"BoBoiBoy!" terdengar suara Fang memanggil namaku lalu suara derap kaki yang semakin membesar getarannya menuju ke arahku. Sesuatu terasa menahan tubuhku yang tidak sanggup lagi aku tegakkan. Berbekal kesadaran yang masih aku tahan, aku memberanikan diri menghadap wajahnya walau aku tidak bisa melihatnya karena gelapnya ruangan ini.

"Hei, bukan kau seharusnya yang jadi pahlawan. Harusnya aku," kataku lemah.

"Aku memang iri denganmu, BoBoiBoy. Tapi kau ajarkan satu hal padaku," desis Fang. "Kalau pun berbuat baik tidak ada buahnya sekalipun, setidaknya sudah melakukannya saja dapat membuat hati puas."

"Hei kau cepat sekali dewasa, Fang."

"Kau punya kawan-kawan banyak karena kebaikanmu untuk membantu kakekmu yang menua. Lalu kau bisa berteman denganku, karena kebodohanmu untuk berbuat baik terus tidak bisa aku biarkan."

"B—bodoh?!"

"ARGGHH! KENAPA AKU? KENAPAAAAA?" terdengar suara Leviathan menggelegar dari luar. Aku kaget dengan apa yang aku pijaki ini bergetar. Fang semakin memperkuat sanggahannya pada tubuhku. Cahaya-cahaya mulai masuk menerobos ruangan berongga dari balik dinding sekuat semen, memperlihatkan tubuh Fang yang sudah seperti semula. Kulit-kulitnya kembali menutupi tubuhnya yang sempat terlihat mengerikan saat aku membiarkan sinar keris petir menerpa wajahnya.

"Kau tidak bisa terus-terusan berbuat baik sampai dibodohi. Aku akan jadi penetralmu, dengan sifatku yang masih sama," Fang tersenyum ketika aku mendongakkan wajahku. Senyum kepuasan untuk mendapat arti hidupnya yang sesungguhnya.

"BERHENTI! TERUSLAH MERASA IRI, BOCAH! SIALAAAAANNNNN!"

"Bukan kau yang harusnya diselamatkan ya? Tapi aku juga," kataku kecil. Aku memejamkan mataku karena rasa pusing yang hebat menggerogoti saraf otak, dengan sebelumnya rasa puas nan lega hati kurasakan ikut menyelimuti perasaanku. Terasa ruangan semakin terang, dan kurasa misiku sukses.

"BoBoiBoy?"

"HENTIKAN! ARGH! TOLONG, HENTIKAN SEMUA TINDAKAN MENJIJIKAN ITU!"

"Alasan aku menerima tugas menjagamu, karena aku senang mendapat kawan sepertimu."

"HENTIKAAANNN!"

"Apa yang menyenangkan dari mendapat kawan dengan condong terlihat berperangai buruk?"

"... Aku jadi tahu kalau rasa kagum hanya menambah rasa iri. Aku mengerti posisimu."

"SIALAAAANNNN KAUUU BOCAAAAHHHHH!"

"BoBoiBoy, aku tidak kagum denganmu."

Aku tersenyum kecil dengan katup atas dan bawah mata yang siap bertemu. "Tolong... lanjutkan misiku..."

Ruangan serasa semakin gelap, namun luas kurasakan. Terngiang jeritan Fang memenuhi pikiranku, memanggil namaku beberapa kali. Aku tidak kuasa untuk berjaga.

Maafkan aku, Fang...

...

"Nghh.."

Aku terbangun dari tidurku dan mendapati lelaki berbadan gendut memaparkan wajah senang. Sekeliling kamar bercat nuansa biru dengan dekorasi yang sangat kukenal, tertangkap sepasang mataku. Berarti, aku ada dalam kamarku sekarang.

"BoBoiBoy sudah bangun!" seru lelaki itu yang kukenal adalah Gopal. Gadis berhijab serba merah muda dan gadis berkacamata bingkai bulat menghampiriku yang terbaring. Mereka berdua tidak kalah senang dengan Gopal.

"Wah BoBoiBoy! Selamat datang!" seru Ying tak kalah senang.

"BoBoiBoy, Fang ada di bawah bareng Ochobot," kata Yaya yang mengerti mengapa aku menggerakkan leherku ke titik fokus yang berbeda, tidak menggubris Ying yang tadi menyelamatiku. Aku mengangguk kecil dan melempar selimutku, lalu bangkit dan berlari keluar cepat.

"Ih, baru saja bangun dan langsung pergi?"

"Maklumi saja, Ying."

...

"Fang!" aku berseru mendapati pria berkacamata bingkai nila bercerita bersama Ochobot saat menuruni tangga. Saat ia mendengar seruanku, ia melengok sebentar dan kembali membuang wajah. Aku yang sudah sampai disebelahnya langsung bingung dibuatnya.

"Eh? Kenapa kau Fang?" tanya robot mungil di dekatnya terheran-heran.

"Akhirnya, setelah 4 hari mati suri juga bangun," kata Fang.

"E—empat?!" aku mangap hebat.

"Oh ya Ejo Jo menitip ini," Fang memberi suatu bola bercahaya indigo berukuran sama seperti bola tenis dengan sebelumnya menatapku kembali—memperhatikan posisiku. Aku tanpa bertanya menerimanya reflek. "Katanya karena sudah menyelamatkan nyawanya," lanjutnya.

"Ini apa?" tanyaku. Sang lawan menaikkan kedua bahunya tanda tidak tahu.

"Itu batu cahaya. Cahayanya tidak akan pernah habis sampai berapa ribu tahun pun, dan sama terang. Batu itu didapat cukup susah dalam semesta ini," jelas Ochobot. Aku berkoor ria mengerti.

"Eh kalau ini dari Ejo Jo, dari Fang mana?" godaku. Sang pemilik nama berlagak kebingungan dengan memainkan bola matanya kesana kemari.

"A—anu, err—"

"Ciuman aja ya?"

"Hah?" Fang kaget mendengar permintaanku yang rada mustahil baginya.

"Ciuman bibir~" godaku yang sebenarnya aku sedang berbohong. Mana mungkin Fang mau. Aku juga ogah ciuman. Tapi entahlah. Sejak aku pernah bermimpi Fang akan meninggalkanku dan memutuskan dekat dengan Ochobot, aku jadi meminta hal aneh darinya.

"Baiklah."

Eh? Hei, aku hanya bercanda! Fang yang melihat raut wajahku aneh pun menggeleng heran.

"Bukan kau, tapi Ochobot," Fang mencium Ochobot gemas dengan menyentuh pipi Ochobot berbahan besi itu, dan sang robot mungil berbentuk bola langsung jatuh di tempat—pingsan. Fang kaget dibuatnya.

"Ochobot! Ochobot! Ochobot!"

Kami berdua bersusah payah membangunkan Ochobot kembali.

.

.

Cerita Sampingan

"Hei sampai kapan BoBoiBoy akan pingsan?" tanya pria berambut acak hitam kebiruan itu. Ia menggerutu mendapati rivalnya dalam keadaan terkapar tidur sedari tadi, sehabis mengantarkan sang pemilik kamar untuk berbaring di atas ranjangnya.

"Entahlah. Mudahan saja dia cepat bangun," harap si robot mungil berbentuk bola. Ia melayang di sebelah pria bernama Fang dengan membawa baki berisi alat-alat kompres pereda demam panas. "Dan oh ya Fang, perihal kau membawa BoBoiBoy keluar badan Leviathan waktu itu—aku tidak mengerti. Bukannya sang Leviathan mengambil alih tubuhmu?"

"Dia hanya meminjam media 'bayang' aku. Jadi setelah berwujud sempurna, dia mengibasku menuju dasar perutnya," sahut lelaki itu. "Bagaimana Ejo Jo dapat mengalahkan makhluk iblis itu?"

"Ejo Jo meminjam tenagaku untuk mengaktifkan Mukakulus, dan saat itu Adu Du sadar dan memakai robot tersebut. Naga bayang Ejo Jo juga dalam mode kekuatan penuh dalam arti naganya lebih kuat dari punyamu," jelas Ochobot. "Dan saat itu dia melemah dan memudar tanpa sebab sebelum beberapa detik kemudian kau keluar membawa tubuh BoBoiBoy. Padahal sebelumnya saat Ejo Jo dan Adu Du menyerang, dia hanya tertawa karena kekuatan mereka tidak bisa mencederai sang iblis."

"Jadi begitu..." pria berkacamata bingkai nila itu mengangguk kecil—mengerti.

"Kau hebat Fang, bisa melenyapkan salah satu iblis terkuat dalam dirimu. Leviathan, salah satu dari tiga dewa yang mewakili air—disamping Ziz penguasa langit dan Behemoth sang penguasa dataran," kagum Ochobot.

"Aku hebat kan? Kali ini aku bakal bisa menandingi BoBoiBoy," kata Fang bangga. Ochobot menyipitkan matanya mengangguk setuju.

"Sedangkan aku, yang pemberi kekuatan justru adalah yang 'dilindungi'. Karena aku semua pertarungan dimulai."

Fang menggeleng lemah. Ia menarik tubuh Ochobot dan menahan tubuh robot mungil itu dengan kedua tangannya. Diposisikannya sang wajah robot bertatap empat mata dengan pria berumu 12 tahun itu.

"Sifat rendah dirimu itulah yang membuat kami ikhlas melindungimu, Ochobot," kata Fang. "Makanya aku ingin selalu menjagamu. Sekalian karena ini tanggung jawabku setelah kau mempercayakan pemberian kekuatanmu padaku, makanya—"

"Maaf atas ketidaksadaran aku sewaktu bilang BoBoiBoy itu lebih baik, Fang. Aku membuatmu sakit hati saat itu kan?" potong sekaligus tanya Ochobot.

"Permintaan maaf diterima," kata Fang. Ochobot sempat bernafas lega sebelum Fang kembali melanjutkan kalimatnya, "Tapi jika kau mengakuiku menjadi penjagamu."

"Kenapa malah bilang seperti itu?"

"Sejak aku tahu awal aku bersahabat dengan BoBoiBoy adalah karena menyeretmu masuk dalam perangkap Adu Du, aku merasa harus terus menjagamu. Aku merasa beruntung jika melindungimu," dan tuturan kata Fang tentu membuat Ochobot paham. Sewaktu semua anak murid kelas 5 jujur ditangkap P.E.T.A.I., Fang selamat karena menyelamatkan dirinya dari kejaran robot Ejo Jo. Ia paham kalau selama ini ia diperlakukan layaknya adik oleh pria yang diam-diam banyak penggemarnya ini.

"Maaf merepotkanmu," kata Ochobot. Sekali lagi, Ochobot tidak bisa tinggi hati. Fang berdecak mengeluarkan suara cicak.

"Mungkin hanya disampingmu, aku tidak bisa bertindak sombong."

"Sebelumnya, aku memberitahumu kalau tanaman kalian aku lindungi dalam perutku."

"Hei, jangan rusak suasana dulu!"

-Finn-

A/N: Eh haha, endingnya melenceng sedikit dari perencanaan. Tapi ini fanfic pertama yang berhasil dibuat dengan mengkokohkan pemikiran rancangan awal, karena fanfic sebelum-sebelumnya yang berchapter kebanyakan melenceng dari rancangan awal (apalagi Gardening, mau buat cerita Fang fokus nanam banyak tanaman malah jadi cerita BBB x Fang). Aduh malah fanfic ini banyak yang review. Saya jujur, malu denga plot cerita yang ini. Dan alasan buat lanjutannya juga malu-maluin: 'karena ditagih reader(s)'.

HannyAnonymous:

Iya kasian, tapi gak dikasarin (kayaknya) deh. Makasih reviewnya dan... Tagihannya. /krik!

Kikuro & Yuzaku:

Humm, mau bilang BBB x Fang juga salah, kebalikannya juga kurang tepat. Mungkin bakal ganti posisi tergantung scene~

Honey Sho:

First time looked your review with 'curhatan' in it! Awesome! /malahkagum

Tabah ya mbak~ mungkin sudah nasibnya Hali-kun (aduh aku nyingkatnya gak enak soalnya itu termasuk dalam satu diantara kata makian) itu bengis.(?)

Fang tetap bakalan pulang kok, tapi gak diceritain karena buat storynya saja sudah sampai 3k+ *lap dahi* makasih reviewnya!

Fadhjimori:

Iya saya juga bersyukur peminat fandom ini rata-rata Indonesia. Daku ikutan bahagia~ makasih atas pujiannya~

lalalala-chan:

Saya gak galak, demi rambut Fang yang cocok jadi garap sawah (Fang: APA?!) saya ini anak kalem kok. (BBB: Tipuan dusta~ keponakan aja di- *dibekep) iya sih fujo, tapi saya tobat. (BBB: Tobat apa, baru beberapa hari udah main sambung paragraf main rated M dengan korban bocah SD- *dibekep(lagi)*). Makasih atas semangat dan reviewnya!

Hoshi:

Makasih semangatnya~

kira the great wolfes & rin-san:

Yuk kita tabok Boboiboy bareng-bareng?

Yuriko-chan:

Iya muncul. Ini lanjutannya~

chibi mikan:

Makasih pujiannya. Fang memang angst sekali hidupnya.

syuub:

Ukenya gak tahu sih. Maaf gak bisa ASAP. *bow*

Dinda-chan:

Makasih pujiannya, dan maaf updatenya lambat.

RUE ERU:

Fallen Angel itu Lucifer. Kalau mau lebih tahu, silakan cek di 7 Deadly Sins di mbah gugel.