A/N: Regulus berhasil menjadi peserta pertama! *tepuk tangan* Dan semua langsung mengadakan makan besar, disamping itu beberapa author yang datang tanpa OC mereka memilki rencana, dan Nitsuki salah paham dengan Aspros. Lupakan hal terakhir, itu karena kesalahan bersama. #kicked

Disclaimed: Kurumada-senseeei~~ TsukiRin masih mau minta bang Aphrodite sama bang Aiolos #dibantai

Warning: OC bertebaran, tapi bukan Mary Sue. Don't like any OC? Please don't read~

Gombal Competition? Ngegombal Yuk~

Pagi setelah berpesta ada beberapa orang yang masih tidur karena mabuk, sementara ada yang sudah bangun dan melakukan aktifitas mereka. Di depan hotel, beberapa author sudah menanti kedatangan OC masing-masing yang seharusnya sudah datang.

Well, Caca sudah terlihat emosi karena yang dia tunggu tidak datang-datang juga, "Kok lama amat sih Shizen nih? Ntar Milo keburu ngegodain cewek lain baru tau rasa dia." sementara tidak jauh darinya Wina terlihat khawatir "Mitsuki kemana nih? Spica juga."

"Santai saja, mereka pasti sedang dalam perjalanan."

Kuga bersandar ke dinding sambil mengamati tempat parkir, menemani kedua author itu memang agak membosankan. Tapi beruntung tidak lama kemudian Shizen dan juga yang lain datang. Wina dan Caca segera menyambut kedatangan OC masing-masing ditambah OC Gianti yang datang bersama sebuah surat untuk kedua author tersebut.

"Segera datang ke XXX, penting."

Caca mengerutkan dahinya sambil memandang Wina, kemudian mereka mengangguk. Setelah menunjukkan kamar untuk OC-OC mereka, semua author yang masih tinggal segera melesat pergi. Meninggalkan yang lain setelah pesan –super– singkat.

Nitsuki dan Ringo hanya menghela nafas membaca pesan itu, dia tersenyum dan mempersilahkan Shizen dan yang lain memilih kamar mereka. Hari itu sangat lenggang dan bebas. Regulus sedang bercerita dengan Aiolia -yang minta bagi-bagi tips– di kamar mereka, sementara para Saint lain menikmati waktu masing-masing sesuai dengan keinginan mereka.

"Paman Sisy! Ayo kita pergi jalan-jalan!"

Setelah puas bercerita dan membagi tips dengan Aiolia, suara ceria sang Leo muda dari abad 18 memeriahkan pagi itu lagi, bukan hanya Sisyphus yang dia ajak. Aiolia serta Aiolos juga dia ajak beserta Thea, Ringo, dan Nitsuki. Namun Nitsu lebih memilih untuk diam di kamar Natsuki dan mengerjakan sesuatu bersama gadis beriris coklat itu.

Rhea sibuk menarik-narik Defteros agar terpisah dari Aspros, yang sayangnya hal itu gagal karena Aspros lebih kuat darinya. Sehingga mau tidak mau dia mengikuti pria itu dan pamannya sambil cemberut, beruntung Defteros berhasil membujuk gadis itu agar mood-nya membaik dengan berbagai janji yang –harus– ditepati Gemini adik tersebut.

(Thea: Lha? Kalo enggak ditepati memangnya kenapa?)

(Ringo: 11-12 lah dengan aneki)

(Thea: #merinding 'Kalo 11-12 dengan Nitsuki sih... gak usah ditanya lagi... yang ada mati kalo gak ditepatin')

Seharian itu juga Albafica harus bertahan dari berbagai jurus rayuan Minos, dia sudah bosan melempar bunga-bunga mawar beracunnya kepada hakim neraka tersebut. Akhirnya dia menulikan telinganya dan membantu Aphrodite memilih bibit-bibit mawar yang bagus.

Sementara itu kedua Cancer itu harus rela diseret Thea untuk bertemu dengan seseorang, tentu saja dengan Ringo yang menyertai mereka. Hotel itu langsung nyaris kosong dalam sekejab, Touma yang sedang ditarik-tarik Kardia untuk mengelilingi hotel hanya bisa menggerutu dan mengomel dalam hati, mengutuk Albafica yang tidak 'menyelamatkannya'.

"Ck! Kau itu kenapa sih Touma?"

"Tidak apa-apa."

"Oh." bersamaan sepatah kata itu Kardia kembali menarik Touma menuju tempat spa, dan berikutnya sang tenshi berwajah datar itu keluar dengan wajah merah padam sambil mengeluarkan berbagai kutukan kepada Scorpio tersebut. Sementara Kardia sendiri harus rela diseret Odette dari tempat spa menuju 'kamar penyesalan'. (author pasang watados #dibantai)

Hari beranjak menuju siang barulah hotel itu kembali penuh, Shion yang baru kembali bersama Mu dan Dohko sedang mendengar radio yang disetel Aldebaran yang mendengar penuh perhatian bersama Hasgard.

"Ne Nitsu, kau kenapa sih kemarin dengan Aspros?"

Sebuah pertanyaan yang meluncur dari Dohko membuat semua berhenti melaksanakan aktifitasnya, sementara yang ditanya berusaha menulikan telinganya dari pertanyaan Dohko sambil membaca majalah fashion kawaii.

"Aneki, jangan pura-pura tuli. Ada masalah apa lagi kau dengan Aspros?"

Perlahan gadis berambut dark mint itu menutup majalahnya, "Bukan apa-apa, jangan membahas itu." kemudian dia beranjak dari tempatnya duduk, di saat yang bersamaan Aspros memasuki ruangan itu diikuti Rhea dan Defteros di belakangnya. Nitsuki yang tanpa sengaja bertatap muka dengan Aspros terdiam membisu sesaat, kemudan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan. Sementara Rhea memutuskan mengikuti ibunya sambil menjulurkan lidah kepada Aspros.

"Mama! Matte! Rhea mau ke spa bareng mama! Dite-ji ngajak manicure-pedicure!"

Teriakan sang artis muda itu mengiringi langkahnya yang mengejar Nitsuki berhasil membuat sebagian besar GS yang ada di sana cengok total, sementara Ringo menggeleng-gelengkan kepalanya. Regulus dengan polosnya berceletuk sambil menatap sang Gemini, "Kenapa Aspros tidak mengejar Nitsuki?"

"Biarkan saja bocah itu."

Semua hanya diam mendengar ucapan Aspros, sedikit banyak mengerti kalau sebaiknya mereka tidak ikut campur. Sementara Aspros duduk di tempat yang diduduki Nitsuki sambil membaca sebuah buku dengan tenang. Defteros hanya diam sambil bersandar di dinding belakang Aspros sambil bertukar pandangan mata dengan Rin yang memikirkan satu hal yang sama.

'Dasar tsundere akut.'

Di kamar Chiaki.

"Chi, kau sedang apa?"

Yoru memeluk Chiaki dari belakang dengan lembut, beberapa jam membiarkan pujaan hatinya berkonsentrasi dengan pekerjaannya membuat pemuda itu kasihan, bagaimanapun juga gadis dalam pelukannya perlu istirahat juga, sementara yang ditanyai tersenyum lembut, "Sedang mendesain baju baru Yoru-kun."

"Baju baru untuk show?"

Sebuah anggukan kecil dari Chiaki membuat Yoru menghela nafas, "Seharusnya itu bukan pekerjaan model. Tapi designer pakaiannya." pemuda itu mengelus rambut kekasihnya dengan lembut, "Kau harus beristirahat Chi. Nanti kau sakit."

Paham kalau kekasihnya cemas, Chiaki menghentikan pekerjaannya dan tersenyum lembut. Yoru membalas senyuman itu dengan senang, senyuman itulah yang menawan hatinya sejak usia pemuda itu masih sangat belia, dan senyum yang sama masih saja membuat jantungnya berdebar kencang.

"Chi,"

Gadis itu menatap Yoru sambil tetap mempertahankan senyumnya, "Ada apa, Yoru-kun?" pemuda itu memeluknya sambil menenggelamkan kepalanya di bahu Chiaki, perilaku khas-nya jika ingin bermanja dengan sang kekasih. "Baring yuk?"

Senyuman khas nan lembut terukir indah di wajah cantik Chiaki, jari jemarinya yang lentik mengelus kepala Yoru. Membuat pemuda tersebut rileks sesaat, yah... jurus ampuh untuk membujuk pemuda yang lebih tua darinya.

Nah, lebih baik kita tinggalkan mereka berdua, karena sepertinya Yoru tidak begitu beruntung untuk menjadi peserta kedua yang berhasil menggombali gebetan atau pacarnya.

(TsukiRin: Tapi beruntungnya di arah lain)

Mari kita alihkan pandangan kepada Kardia yang sedang diobati Degel, sang Aquarius menghela nafas saat mendengar berbagai omelan sahabat karibnya, setelah selesai dia mulai berpikir untuk kembali membekukan Kardia. Berhubung jantung Kardia perlu dibekukan juga menurut author. #slapped

Tanpa sengaja mereka mendengar suara teriakan Rhea dan sweatdrop berat, hey Degel si jenius tidak perlu ditanyakan sementara Kardia? Meskipun dia –kelihatannya– yang paling bego tapi bukan berarti dia tidak tahu manicure-pedicure itu apa, "Reinkarnasi Albafica itu banci sejati ya?"

"Saya tidak mengurus urusan pribadi orang, Kardia. Kenapa badanm babak belur begitu?"

Sang Scorpio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Gue masuk ke spa khusus cewek. Dan disana para pelayannya punya bodi aduhai semua! Coba lu liat, body mereka emang kalah sih dari Rhea, tapi kalahnya cuma bagian dada do—"

Crak!

Sebuah lemparan tasbih mengenai muka Kardia dengan telak, ternyata oh ternyata... di depan pintu mereka berdiri Asmita dengan aura seram yang sangat tidak mengenakkan. Merasakan aura mematikan itu, Degel segera mencari tempat aman agar tidak terlibat dengan hal yang akan terjadi.

"Kardia. Tadi kamu bilang apa?"

Merasakan aura pembunuh dahsyat dari Asmita, Kardia terpaksa mundur satu atau dua langkah. Mencari tempat aman walau rasanya mustahil, "Errr... yang mana ya? Gue lupa tuh." ucap sang kalajengking berlagak pilon sambil nyengir kuda. Namun yang ada bukan meredanya amarah sang Virgo, melainkan kekentalan aura pembunuh itu semakin meningkat.

"Mit, peace Mit. Peace, oke? Gue cuma bercanda tadi."

Beberapa saint yang berada di sekitar ruangan itu segera menjauh, bahkan aura pembunuh itu terasa sampai ke lobby yang jaraknya cukup jauh dari ruangan itu.

"Are? Shaka-ji ngamuk? Auranya seram banget."

Ucapan Rhea membuat Nitsuki dan Thea memandang ke asal aura tersebut, "Ini sih aura Asmita-nii. Mama taruhan, pasti Manigoldo atau Kardia cari perkara." Gadis berambut belang di samping Nitsuki mengangkat bahu sambil memutar bola matanya, "Si radio sumbang itu bego -banget- sih. Sama aja dengan Milo-ji. Herannya A–"

"Alvis lagi~"

Ucapan serentak Nitsuki dan Thea membuat wajah sang artis belia itu meranum merah, "Daripada kamu nyebut namanya terus dan bikin mama bosan (baca: penasaran) kenapa enggak kamu suruh kesini aja? Mama mau tahu pangeran seperti apa yang menaklukan hati anak mama?"

"Ma- mama..."

Thea menghela nafas sambil menarik tangan sepasang ibu dan anak itu, kalau dibiarkan terus bisa-bisa mereka tidak akan sampai ke tempat spa karena kebiasaan usil Nitsuki yang hobi menggoda orang, "Udah ah! Liat tuh Siria udah nunggu di depan!" dia langsung menyeret keduanya dengan enteng masuk ke tempat spa.

Back to Asmita dan Kardia.

Aura pembunuh yang amat kental membuat siapapun yang melihat Asmita pasti merinding ngeri, namun tidak dengan seorang wanita anggun yang sedang mengamati mereka sambil duduk di sebuah sofa tunggal di dekat Asmita.

"Asmita-chan."

Panggilan itu membuat Asmita diam sesaat dan menggerakan kepalanya ke asal suara yang familiar baginya, "Aon-san. Kapan datang kemari?" wanita yang dipanggil 'Aon-san' oleh sang Virgo membenarkan rok panjangnya yang sedikit kusut, "Baru sampai."

"Dijemput Natsuki?" Sebuah anggukan kecil nan lembut menjawab pertanyaan pria berambut pirang indah itu, diam yang menyenangkan meliputi mereka. Kardia menghela nafas lega, berterima kasih dalam hati kepada wanita misterius itu, namun baru sesaat dia merasa bisa menghindar dari neraka sang Buddha. Asmita sudah mengalihkan perhatiannya kepada sang stereo sumbang. *author digilas*

"Kardia, ikut saya sekarang."

Titah sudah diturunkan, tiada yang bisa dilakukan selain menurut. Daripada kau kehilangan 5 indra atau -yang lebih parahnya lagi- mati? Tidak! Pemuda berusia 22 tahun itu lebih memilih bertarung dengan Rhadamanthys dan mati di Atlantis lagi, setidaknya itu –amat sangat– lebih keren daripada mati karena amarah rekannya kan?

Mengikuti Asmita ke sebuah ruangan dengan pasrah sambil menggerutu di dalam hati, tanpa dia sadari hanya membuat posisinya semakin sulit. Dan kemudian dia berakhir dengan ceramah panjang lebar dari Asmita selama beberapa jam, ouch... poor you Kardia.

Setelah beberapa jam sesi ceramah, Kardia berjalan menuju ruangan penuh rak yang selalu menjadi tempat kesukaan 'dokter pribadi'nya dengan nyawa yang seolah melayang dari badannya. Walau hanya sekedar mengecek tapi ternyata memang disanalah sang Aquarius abad 18 tersebut, namun tidak bersama dengan kembaran merahnya.

"Dimana kembaran merahmu itu?"

Degel mengangkat kepalanya, mengalihkan perhatiannya ke arah pemuda yang selalu merusuh dimanapun dia berada. "Namanya Camus, Kardia. Saat ini dia sedang bersama Thea dan Siria." menghempas dirinya ke sofa terdekat, Kardia merenggangkan badannya dan menatap malas tumpukan buku yang berada di atas meja dekatnya.

"Apa menariknya sih benda tebal, buluk berbau ini? Tulisannya juga sulit dimengerti! Rumit! Sudah itu menguning jelek! Pokoknya benda itu tidak berguna!"

Bletak!

Sebuah lemparan buku mengenai kepala Kardia, ternyata yang melemparnya adalah Ringo yang memberinya sebuah death glare sempurna ala para Capricorn. "Apa katamu tadi?" Owh, lagi-lagi... apa dewi Fortuna membencinya hari ini? Kardia mengeluarkan keringat dingin sambil menatap adik kembar dari murid rekannya, "O- oi Rin, gue kan cuma sampaiin pendapat gue. Ngapa lo jadi marah?"

Berikutnya Ringo menyeret Kardia keluar dari perpustakaan dan... author gak tega nulisnya, karena lagi-lagi Kardia menerima kesialan yang ketiga. Duh, kasian banget kalajengking jantungan sumbang yang suka malu-maluin itu.

Skip night time.

Kardia duduk di sebelah Degel dengan wajah dan tubuh babak belur, sementara Thea berusaha mengalihkan perhatian Ringo yang terus menyebarkan aura seram, membuat sesi makan malam menjadi seperti bertarung antara hidup-mati. Memang Ringo bukan Saint, tapi statusnya selain sebagai kembaran Nitsuki juga sebagai seorang ksatria wanita yang jika ditandingkan dengan Nitsuki maka akan menjadi battle 1001 hari.

"Jaa namae kangae you ka? Yume toka do, kawaii deshou?"

Sebaris lirik kesukaan Ringo dinyanyikan dengan suara kekanakan lucu oleh Nitsuki, mendengar lirik itu membuat mata Ringo langsung bersinar lucu ala anak kucing walau raut wajahnya hanya kembali menjadi tenang. Membuat seisi manusia di ruang makan menghela nafas lega.

"Selamat kau Kardia."

Seorang pria berkulit tan menyeringai memandang rekannya, sementara tangan kanannya memegang paha ayam goreng, "Kalau tidak ada anak kucing itu kujamin kau akan mati dibunuh singa betina." Deathmask yang asyik ngerusuh bareng Milo terkikik mendengar ucapan Defteros, "Cewek gue~ wajar dong kalo dia hebat kayak gitu."

"Jiah, cewek elu yang elu banggain. Eh wajar sih, elunya aja malu-maluin."

Mendengar ucapan Kanon yang asyik bersantai langsung dilempari sepiring cheesecake oleh sang Cancer kecil, tapi sayangnya lemparan itu berhasil dihindari Kanon, namun cheesecake itu malah mengenai Saga, "Ka... li... an..."

Glek! Deathmask dan Kanon saling bertukar pandangan seram, "Ga, Ga. Itu bukan gue... itu si Angelo."

"Udah gue bilang jangan panggil gue Angelo, bau ikan!"

"Apanya yang bau ikan, tukang kulitin muka mayat!?"

"Iya kan!? Makanya kucing-kucing Nitsuki hobi nempel sama elu!?"

"Bilang aja elo ngiri gegara dijauhin sama kucing-kucing itu!"

Brak! Suara meja dihempas menghentikan perdebatan mereka, merinding melihat Saga yang diliputi aura seram total dan... kekacauan terjadi saat rambut Saga berubah warna.

Semua GS abad 18 langsung kabur dari ruang makan dan menuju kamar masing-masing, ada juga beberapa yang bersantai di ruang santai. Menikmati waktu sendiri, bersama kawan atau bersama keluarga.

"Oi, oi, aku bosan ngeliat kau ditempeli dia terus"

"Aku juga bosan dia menempeliku terus, Kardia. Apa kau bisa menyingkirkannya dariku?"

"Haah? Malas. Kalo kau mau ngasi aku sekeranjang apel, bakal aku pikirin."

Yep, percakapan antara Kardia dan Albafica mengisi ruangan itu. Sementara di karpet dapat mereka lihat Regulus sedang tengkurap bersama Rhea dan bermain catur, ditonton oleh Yoru, Chiaki dan Lee. Singa jenius tersebut menyerap cepat penjelasan Rhea dan bermain dengan hebat untuk ukuran seorang pemula.

"Aah~ kalah lagi, kau terlalu hebat!"

"Tidak juga, kalau Rhea tidak mengajarkan aku tidak akan tahu."

"Aku hanya menjelaskan gerakan para pion catur, bukan strategi dalam bermain catur"

"Hahaha..."

Canda tawa terus terdengar dari mereka, bahkan kali ini Asmita seolah tidak merasakan kehadiran sepasang kembar tersebut. Mungkin karena kekasihnya telah datang kemari? Well, lebih baik kita biarkan saja mereka.

Nyaris semua anggota lengkap, hanya saja kurang Sisyphus, Aspros dan Defteros yang sedang berusaha menenangkan Saga di ruang makan. Nitsuki sedang bersama Natsuki, Ringo dan Kuga di sofa panjang dekat perapian, Hasgard sedang berkumpul dengan Shion dan Dohko, Degel duduk di sebuah sofa tepat di samping Kardia. Gracel... dia sedang menemani para remaja di atas karpet tebal nan halus dan hangat di lantai.

Setelah beberapa saat menghabiskan apel yang berada di tangannya, perlahan Kardia berbisik pelan di telinga Degel, membuat sang Aquarius menghentikan kegiatan membacanya, "Kamu sedang demam Kardia? Saya bukan Maya."

"Aku tidak salah kok. Tiada hal yang lebih indah dan sempurna selain dirimu, Aquarius Degel. Seisi dunia tidak ada yang bisa menggantikan kesempurnaanmu."

Seisi ruangan seolah membeku mendengar ucapan Kardia, Nitsuki yang sedang berbaring di pangkuan Natsuki sambil bercanda dengan Kuga langsung duduk dengan mata terbelalak. "Kardia!"

BRAK!

Sebuah kursi terlempar ke dinding, dan hawa gelap yang melebihi Asmita menguar dari tubuh Gracel. Nafsu membunuhnya terasa begitu kental sehingga membuat Thea berjengit sambil membawa Siria keluar dari ruangan itu, dia memberi tatapan 'Aku-masih-sayang-dengan-Siria' dia lemparkan kepada Nitsuki yang memberinya isyarat untuk menutup pintu, sementara Yoru dan Rhea segera menarik Chiaki, Lee dan Regulus keluar.

"Kar- di- a."

Oh well, tidak usah dibahas. Intinya malam ini walau Kardia berhasil menjadi peserta kedua yang berhasil menggombal, namun dia juga menjadi Bad luck king selama sehari penuh. Auch...


Kardia: Eh author setan, ngapain lu nistain gue di chapter ini?

TsukiRin: Diem lu stereo sumbang, emang masalah buat elo? Gue mau!

Kardia: *siapin Scarlet Needle*

TsukiRin: Lu antares gue, gue jamin chapter berikutnya lu lebih bonyok dari sekarang.

Kardia: *gerutu panjang x lebar*


To be Continued

A/N: Chapter 4 update! Ini udah ditagih-tagih sama orang-orang tertentu, eh biar dibilang orang-orang tertentu tapi cuma dua sih. TAPI ribetnya dua orang itu yang malah paling berisik dan gigih banget nagihnya. #teparkecapekan ah gak usah banyak bacot lagi lah, enjoy cerita gaje nan pendek ini #dipentungin