Sona Sitri atau yang lebih dikenal dengan nama Shitori Souna adalah seorang iblis yang tidak arogan dalam hal kekuatan yang ia miliki. Tapi Sona adalah iblis yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Kekuatan bukanlah hal yang dia banggakan, karena dalam segi kekuatan Sona lebih rendah daripada iblis muda berdarah murni yang lain. Tapi untuk menutupi kekurangan dalam hal kekuatan, Sona memiliki tingkat kinerja otak yang jauh diatas rata-rata iblis muda yang lainnya.

Kecerdasan yang ia miliki menjadikannya kunci untuk memperoleh kemenangan. Sona akan memperkirakan semua kemungkinan secara logika, termasuk kemungkinan terkecilpun akan ia pertimbangkan. Hal-hal kecil yang sepelelah yang paling Sona khawatirkan, karena kebanyakan orang – orang gagal itu karena mengabaikan hal yang dianggap sepele.

Dalam mencari anggota peerage, bukan orang – orang kuat saja yang Sona cari. Karena dalam sebuah pertarungan tim, apabila hanya berisikan orang – orang kuat akan menimbulkan kesan tidak harmonis dalam pertarungan yang mengakibatkan kekalahan. Sona mencari anggota yang dianggap berpotensi, dan bisa menutupi kelemahan anggota yang lain dan menguntungkan antar anggota. Sona akan mengawasi, mengobservasi, dan menimbang nimbang apakah orang itu pantas menjadi anggota peerage-nya. Sona akan menghasut orang itu bila Sona tertarik, karena itu sudah tertanam dalam darahnya sebagai seorang iblis, yaitu menggoda umat manusia. Goda'an yang diberikan bukan hal yang main – main. Harta, wilayah, wanita atau pria, kekuasaan, umur yang sangat panjang, semua itu adalah sebagian kecil dari apa yang akan dia dapatkan ketika mau menjadi budaknya. Orang – orang yang tidak piker panjang atau memiliki hawa nafsu yang besar pasti akan langsung menerimanya, karena hal – hal seperti itulah yang diinginkan kita sebagai umat manusia.

Suasana tegang sedang terjadi di depan sebuah gerbang sekolah. Jika dilihat dari sudut pandang orang secara umum, maka orang – orang mungkin mengira akan terjadi sebuah pengeroyokan. Seorang remaja berambut silver berdiri dengan santai dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana bagian samping. Cara memandang dan aura yang ditunjukkan member kesan kesombongan dan kearoganan terhadap sekumpulan remaja dengan seragam sekolah yang berjumlah tujuh orang. Dua laki – laki dan lima perempuan. "Jagalah rival abadiku baik – baik Rias Gremori! Aku sangat menantikan pertarungan abadi kita. Antara kau Sekiryuutei Hyudou Issei dan aku Hakuryuuko Vali, sebagai generasi Naga Merah dan Naga Putih saat ini."

Vali, sang Hakuryuukou, sang Vinishing Dragon, pemilik Sacred Gear Divine Dividing. Vali melangkahkan kakinya kedepan menuju kumpulan remaja tersebut, mengacuhkan tatapan tajam dan tubuh gemetar mereka ketika ia melangkah mendekat. Vali terus melangkah tanpa keraguan, tanpa katakutan, tanpa beban, melangkah dengan santai. Namun sekitar dua langkah dibelakang remaja tersebut dia berhenti. Matanya melirik kearah kanan, tapatnya pada sebuah tiang listrik yang jaraknya sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri saat ini. "Keluarlah, kau tak bisa bersembunyi dariku."

Dari balik tiang kemudian keluarlah anak berambut hitam dengan wajah tertunduk. Pakaian yang ia kenakan menunjukkan statusnya sebagai anak sekolah tingkat SMP. "T – tolong ampuni aku. A – aku tidak memiliki maksud yang macam – macam". Walaupun anak itu berbicara dengan suara yang amat pelan, tapi mereka masih tetap bisa mendengarnya. Suara yang penuh dengan rasa ketakutan, rasa kelelahan, ditambah dengan getaran tubuh yang terlihat jelas membuktikan dengan tambah jelas bahwa anak itu sedang Syok.

Vali menatap sosok anak tersebut dengan mata setengah terbuka. Vali bisa melihatnya. Dari postur tubuh yang terlihat bergetar itu tak mempunyai celah kosong sedikitpun. Ia mampu merasakannya, kekuatan yang besar, tetapi saat ini hanya tinggal sedikit. Sebuah danau, tapi hanya terisi satu gayung air, itulah yang Vali rasakan dari anak itu. "Kau bocah yang menarik. Entah mengapa aku sangat ingin bertarung denganmu. Tapi tidak untuk saat ini." Vali kembali melangkahkan kakinya kearah utara, melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.

Pasang mata dari tujuh remaja itu kini beralih kesosok anak kecil tadi. Yang kini sudah menjatuhkan kedua lututnya ketanah. Tangannya kini memeluk tubuhnya sendiri, berusaha meredam getaran tubuh yang diakibatkan remaja berambut perak tadi. Ia kemudian mendongak, tatapan mata tertuju pada seorang gadis remaja berambut merah yang berdiri paling tengah diantara enam remaja lainnya. "Rias-sa–". Sayang, sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, tubuhnya terlebih dahulu oleng kedepan sebelum kesadarannya menjadi gelap sepenuhnya.

Pada sebuah ruangan bernuansa Eropa kini suasanya sedang sunyi-sepi. Penerangan yang hanya bersumber dari lilin bukanlah penyababnya, karena mereka sudah terbiasa dengan ruang yang temaram atau bahkan tempat yang gelap gulita sekalipun. Jumlah orang yang sedikit juga bukan alasannya, karena walaupun orang yang berada dalam ruangan tersebut bisa dihitunng dengan jari sekalipun, tapi itu saja sudah cukup untuk membuat sebuah suara yang mampu didengar sampai keluar ruangan. Segala pasang mata yang ada disana tertuju pada seorang anak yang tertidur diatas sofa, dengan sebuah bantal sebagai tambahan penyangga kepala. Disamping sofa ada seorang gadis remaja berambut pirang. Tangannya yang mengeluarkan sinar hijau yang bersumber dari sepasang cincin yang terpasang di jari telunjuk kanan dan kiri ia letakkan didada anak itu. Wajah kelelahan dan harap-harap cemas terlihat dengan jelas.

"Bagaimana keadaannya, Asia?" Rias Gremori, tengah memandang dengan serius kepada dua orang yang ada didepannya. Walau wajah terlihat tenang, tapi pikirannya TIDAK. Ia tidak pernag mengalami pemikiran seperti ini sebelumnya. Dimulai dari kedatangan dua orang utusan dari gereja, penyerangan yang dilakukan oleh salah satu Gubernur Malaikat Jatuh, kedatangan sang Hakuryuukou dan terakhir adalah keadaan anak kecil didepannya. Bagaimana ia tidak khawatir pada orang yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu. Keringat yang terus keluar dari pori-pori kulit, badan yang masih menunjukkan getaran walau kecil padahal ia masih pingsan menambah kekhawatiran pewaris klan Gremori itu.

"Sebentar lagi luka-lukanya akan sembuh seluruhnya, Buchou. Tapi… tidak dengan energi yang telah hilang. Ia kehilangan sangat banyak energi, aku sampai tidak yakin bisa menutupi kekurangan energinya itu." Asia Argento, ia menjawab dengan pelan. Kekecewaan terdengar dari nada bicaranya. Ia kecewa pada dirinya sendiri. Ia selalu bersembunyi dibalik punggung orang lain. Ia yang selalu saja membuat repot teman-temannya. Ia yang selalu saja mendapat perlindungan. Konsentrasi sepenuhnya ditujukan kepada anak yang tengah ia obati saat ini. Ia tidak pernah mengalami hal seperti ini. Dalam menyembuhkan luka-luka pada tubuh seseorang biasanya ia hanya memakan waktu paling lama lima menit, tapi ini… ia tengah mengaktifkan anugrah yang tuhan berikan kepadanya sudah lebih dari dua puluh menit lamanya. Ia akan mengerahkan segala kemampuannya. Ia tidak peduli apabila hal itu berdampak buruk bagi dirinya. Ia adalah seorang gadis yang tidak bisa tinggal diam apabila melihat seseorang terluka. Baik itu kawan maupun lawan, hatinya akan tergerak untuk membantu seseorang yang membutuhkan kemampuannya. Dan sekarang yang dia tolong adalah seseorang yang baru meninggalkan dunia anak-anak, seseorang yang akan menuju masa remajanya. Ia tidak akan memaafkan dirinya apabila anak ini tidak sembuh. .pernah.

"Ise, tingkatkan kekuatanmu kemudian transfer ke Naruto." Hyudou Issei, ia hampir saja meloncat karena terkejut dengan pirintah 'kingnya' pada dirinya. Ini kedua kalinya ia mendengar nada bicara ketuanya seperti ini. Nada yang tegas tidak boleh ada penolakan, tapi juga tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir yang teramat sangat yang mungkin ditujukan pada anak yang tengah terbaring disofa. Naruto… bukankah itu adalah kue ikan pelengkap ramen? Apa nama anak itu adalah naruto? Tapi orang tua macam mana yang memberi nama untuk anaknya yang mana nama itu sama dengan nama makanan? Tapi semua pertanyaan itu ia kesampingkan terlebih dahulu. Berfikir bukanlah gayanya. Toh nanti ia juga akan diberi tahu. Lagipula ia juga menyimpan kekhawatiran pada anak itu, meskipun ia tidak mengenalnya.

"Boosted Gear." Usai mengucapkan nama tersebut, kini ditangan kiri Issei telah terbungkus semacam Guntled berwarna merah. "Boost" sebuah suara mekanik terdengar diruangan itu, sumbernya adalah dari Guntled tersebut. Sebuah Sacret Gear yang mempunya melipatgandakan kekuatan dalam waktu sepuluh detik.

Suara ketukan pintu terdengar, membetalkan niat Issei yang akan menanyakan tentang sosok didepannya kepada ketuanya. "Masuk" sebuah perintah singkat yang Rias ucapkan, memberi tanda kepada 'sang tamu'. Dan pintu masul pun terbuka, menampilkan tiga sosok gadis cantik. Yang barada paling depan adalah 'gadis ideal dari jepang', soerang gadis berambut dark blue yang dikuncir kuda. Dibelakangnya adalah dua orang gadis yang menggunakan kacamata. Yang satu berambut hitam sebahu dan yang satu berambut hitam panjang.

"Buchou, aku telah mengajak mereka kemari." Pembicaraan dimulai oleh Akeno, si gadis berambut dark blue. "Baiklah. Kalian semua silahkan duduk." Semua orang langsung menuruti perintah dari ketua 'Klub Penelitian Ilmu Gaib' itu, terkecuali Asia yang masih melanjutkan proses penyembuhannya.

"Jadi bagaimana keadaannya?" Sona Sitri, ia berbicara dengan tenang seperti biasanya walaupun hatinya masih khawatir akan kondisi anak itu. Sebelumnya ia tadi masih sibuk menyelesaikan tugasnya sebagai ketua OSIS yang entah mengapa tidak pernah habis itu. Tapi ketika Akeno, 'Ratu' dari sahabat masa kecil dan juga Rivalnya itu datang dengan membawa kabar Naruto yang tidak baik, ia langsung berhenti mengerjakan tugasnya dan kemudian memanggil Tsubaki yang merupakan wakil ketua OSIS yang sekaligus ratunya itu untuk ikut dengannya.

"Sebentar la–/engghhh" suara itu sukses membuat Rias tidak melanjutkan kata-katanya. Ia kemudian menolehkan pandangannya kearah sumber suara yang berasal dari sofa, hal yang sama juga dilakukan oleh semua orang yang ada diruangan itu. Disana terlihat Asia telah berhenti mengeluarkan cahaya hijau dari kedua tangannya. Wajahnya terlihat jelas rasa lega. Karena anak itu tengah mengucek kedua matanya, yang dilanjutkan dengan mengangkat kedua tangannya seperti bertujuan meregangkan otot yang terasa kaku.

"Met pagi." Ia mengatakan dengan suara yang terdengar masih mengantuk. Ia yang sama sekali nggak ngeh akan situasi dan juga masih berusaha mengumpulkan nyawa yang seperti beterbangan kemana-mana itu. Ia mengerjapkankan kedua matanya beberapa kali sebelum pandangannya sudah kembali fokus dan menatap… "Sona-sama." Ia cepat cepat bangun dari sofa dan segera membungkuk khas seorang ksatria. Ia merasa malu karena terlambat menyadari Sona didepannnya. "Mohon maafkan saya karena tak menyadari anda." Ia kemudian merasakan sesuatu, sesuatu yang sudah terpatri dalam ingatannya dan ia tidak mungkin melupakannya. "Mohon maafkan saya karena juga tidak menyadari keberadaan anda, Rias-sama." Suasana yang awalnya penuh kekhawatiran yang disebabkan oleh anak itu sekarang berubah menjadi kecanggungan untuk beberapa orang yang penyebabnya adalah sosok yang sama pula. Sona menghembuskan nafasnya. Sebuah tindakan yang menunjukkan kebosanan akan apa yang dilakukan anak itu, akan tetapi juga menunjukkan bahwa ia juga lega karena Naruto baik-baik saja.

"Berdirilah, kau tidak perlu sampai segitunya." Sona akhirnya memberikan perintah itu. Meskipun ia senang 'miliknya' itu mempunyai rasa sopan santun yang teramat sangat tinggi, tapi jika ada manusia biasa yang melihat ini pasti akan mengira bahwa ia 'memperbudak' ataupun sedang berlatih untuk drama pertunjukan teater drama. Sesuatu yang sangat ia hindari, walau kemungkinan terjadinya sangat kecil.

Naruto diam untuk sesaat, masih memikirkan apa yang akan dilakukan atau yang lebih tepat adalah apa yangakan ia katakan. Akan tetapi, 'perintah raja adalah mutlak' dan hal itulah yang membuat naruto berdiri. "Sekarang ceritakan apa yang terjadi denganmu sampai kau seperti ini naru!?"

Berita buruk, flash drive tempat menyimpan cerita yang sudah sampek chap 5 hilang ditambah dg kegiatan yang menumpuk. Mulai dari kegiatan sekolah, kegiatan dirumah dan masih banyak lagi. Saya bisa update cerita juga saya sempat-sempatkan, jadi mohon maaf bila kurang memuaskan. Saya akan sangat berterima ksih bagi yg sudah mengomentari cerita saya. Saya baca kok semuanya, dibawah saya akan memberi beberapa penjelasanmengenai chap 1:

1.#Ini bukanlah perpindahan dimensi, tapi reinkarnasi

2.#Penyebab utama Naruto mati adalah tidak memiliki chakra yang tersisa, baik chakra sendiri maupun chakra para Bijuu sehingga tidak bisa memulihkan segala luka-luka. Bukan karena Bijuu di ekstrak.

Itu beberapa hal yang saya kira menjadi kesalah pahaman. Dan yang meminta untuk 'god like naruto', mungkin tidak bisa saya berikan. Strong saja kurasa sudah cukup.