Suasana tegang menyelimuti sebuah ruangan tertutup yang sedang diadakan sebuah pertemuan penting. Sebuah meja dengan empat kursi yang mengelilinginya telah diduduki oleh masing – masing satu orang. Dan juga adanya beberapa orang yang berada dibelakangnya menunjukkan bahwa mereka berempat bukanlah sembarangan orang, melainkan sosok pemimpin dari masing – masing ketiga kekuatan.
"Sudah aku bilang: tindakan itu murni keinginannya sendiri, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kami." Azazel meningkatkan nada suaranya, merasa jengkel dengan kelakuan kedua Maou pengidap sister complex yang terus menerus menuduhnya sejak awal pembicaraan.
"Lalu apa buktinya bahwa ucapanmu itu benar? Bisa saja bahwa kau berbohong pada kami dan menyembunyikan suatu rencana busuk?" Serafall menyahut dengan dingin. Pemegang Maou Laviethan itu tak akan tinggal diam apabila ada seseorang yang berniat melukai adik manisnya. Entah itu Malaikat jatuh, Malaikat, Iblis liar, Yokai dan makhluk apapun itu. Dan jika hal itu terjadi maka ia akan segera membekukan makhluk itu. Dan itu adalah sebuah sumpah yang akan ia lakukan dengan sepenuh hatinya.
"Oh ayolah… Kau sudah tahu bagaimana sifatku dan sifat Kokabiel bukan? sifat kami berbeda jauh. Sangat jauh. Jadi mana mungkin aku mencoba melakukan hal tak berguna seperti itu. Lagi pula aku sudah membekukannya kedalam penjara es abadi." "Begitukah? Lalu apa yang kau lakukan selama ini sampai membiarkan anak buahmu sampai seperti ini? Oh jangan katakan..." "Nah hal itu sudah ratusan tahun yang lalu, Sirzech. Aku sekarang sudah mempunyai 'hobi' beru yang lebih menyenangkan daripada bermain dengan payudara." Azazel menjawabnya dengan santai, tak mempedulikan hinaan yang tertuju pada dirinya. Walaupun hal itu benar adanya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" "Baik baik, aku akan menjelaskan semuanya. Kau tidak perlu repot-repot mengeluarkan mengeluarkan Aura seperti itu." Sirzech mengangguk dan mengeluarkan Aura tenang yang selalu ia keluarkan dimanapun itu. Lagipula aura permusuhan yang ia keluarkan itu tidak baik untuk kedepannya karena bias saja hal itu menyebabkan jalan buntu dari pada jalan keluar.
"Kalian benar dan aku mengakui itu. Akhir-akhir ini aku lebih sering membiarkan bawahanku keluyuran sesuka mereka, dengan tujuan…"
Naruto sama sekali tidak mendengarkan maupun memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh Azazel. Ada sesuatu yang tidak beres dan ia yakin akan hal itu. Matanya terus melirik kearah kiri dan kanan berusaha mencari tahu alasan penyebab perasaannya itu. Hal itu jelas-jelas bukan berasal dari pemimpin masing – masing tiga kekuatan besar. Jadi apa itu, perasaan apa yang menyebabkan hal ini.
Dan hal itu terbukti. Waktu seakan akan berhenti entah kenapa. Hanya makhluk yang memiliki kekuatan besar maupun dilindungi oleh sesuatu yang hebat yang tidak terkena dampaknya, dan yang lainnya mereka tidak bergerak. Membeku ditempat.
Lingkaran sihir besar juga muncul diluar sekolah dan mengeluarkan sangat banyak penyihir.
"Forbidden Balor View. Sepertinya kita telah disabotase." Azazel berbicara dengan tenang, merasa tak terpengaruh dengan jumlah lawan yang akan dia hadapi sebentar lagi. Ia kemudian melihat melalui ujung matanya pada laki-laki berambut silver yang merupakan muridnya.
"Hei Vali jangan diam saja! Cepat bereskan hama pengganggu itu!" "Kau tak perlu berteriak begitu Azazel, akan aku lakukan daripada mati berdiri begini. BALANCE BREAKER." Cahaya putih mulai menyelimuti tubuh Vali sebelum akhirnya menghilang dan menampilkan baju zirah berwarna putih sebagai bukti eksistensi dari Hakueryuukou.
"Rias,Issei kalian segeralah menyelamatkan Gesper dan membatalkan kekuatan ini." Rias mengangguk faham. Ia tidak terkena efek dari penghentian waktu dikarenakan ketika kekuatan itu muncul ia memegang tangan Issei dan secara tidak langsung dilindungi oleh kekuatan Sekiryuutei. Ia menarik lengan pionnya itu untuk segera menyelamatkan salah satu pelayan manisnya. "Ayo Ise!" Ini saat yang genting, bukan waktunya merasa iri ataupun kagum dengan kekuatan yang dimiliki orang lain.
"Naru, Kiba, Xenovia kita akan keluar dan menghadapi tamu tak diundang kita." Ketiganya hanya mengangguk, mengambil senjata yang melayang didepan mereka dan berlari keluar bersama sang Maou Laviethan untuk memukul mundur ataupun menghabisi makhluk yang berani menyerang mereka.
"irina-chan kamu juga harus membantu mereka." Michael mengatakannya dengan senyum lembut dan dibalas dengan anggukan dan bungkukan badan pertanda hormat sebelum sosok gadis yang ia suruh mengambil pedang yang melayang didepannya dan berlari keluar.
"Jadi… apa yang akan kita lakukan?"
xxxxxx
Vali terbang dengan lincah. Terus memukul maupun menembakkan energy padat kepada setiap penyihir didepannya. Dan dengan kondisi Balance Breaker yang saat ini ia gunakan membuat kekuatan, pertahanan dan kecepatan meningkat dengan signifikan. Garis-garis putih muncul diudara menunjukkan kecepatan yang ia gunakan tidak main-main. Akan tetapi hanya rasa bosan yang ia rasakan saat ini. Amat sangat bosan.
xxxxxx
Naruto menggenggam erat busur panah berwarna biru yang ia pegang. Mata hanya terbuka setengah menunjukkan ketajamannya. Pengalaman yang ia peroleh dari pengembaraan selama lebih dari empat tahun yang telah melekat pada dirinya siap untuk ditunjukkan.
Menarik tali kebelakang, anak panah yang terbuat dari material es muncul dari udara kosong lalu mengarahkannya pada beberapa penyihir yang saaling berdekatan. Dan anak panah melesat menuju sasaran, dan dengan perintah batin anak panah itu pecah menjadi puluhan bongkahan es kecil dan tajam.
Penyihir yang terkena serangan itu tidak bisa bergerak. Serangan tadi bukanlah untuk membunuh atau menghancurkan melainkan untuk pelumpuh untuk waktu beberapa lama. Serangan tadi tidak akan menghasilkan rasa sakit karena ketika terkena seseorang akan berubah menjadi butiran es kecil yang halus dan dingin ketika menyentuh permukaan kulit, akan tetapi butiran es itu akan mengeluarkan efek pembekuan dalam sekejap ketika menyentuh hawa panas dari tubuh makhluk hidup.
Naruto kemudian mulai berlari dengan lincah. Kembali mengarahkan anak panah yang sudah terbentuk dan melakukan hal yang sama. Terkadang melesatkan dua busur panah atau lebih dalam sekali tarik. Sesekali ia harus berlari acak dan melompat untuk menghindari serangan yang ditujukan padanya.
xxxxxx
Kiba berlari dengan lincah. Dua pedang suci-iblis tergenggam erat ditangannya. Menjejakkan kakinya ditanah, ia melompat menuju para penyihir yang terbang rendah diudara. Melakukan beberapa manufer ditambah dengan kecepatan dewa miliknya, ia menebas seorang penyihir dan melanjutkan menuju penyihir yang lain.
Serangan berbasis elemen api diarahkan padanya, tapi dengan mudah ia hindari. Melakukan gerakan yang indah ia kembali melesat menghadapi penyihir yang lain.
xxxxxx
Xenovia menebaskan pedangnya secara horisontal dan cahaya berbentuk bulan sabit langsung keluar dari pedang suci legendaris itu.
Walaupun menggunakan pedang, Xenovia tidak perlu berada didekat musuhnya karena ia bisa menggunakan berbasis cahaya dari pedang Durandal dan akan segera menghancurkan musuh yang terkena. Akan tetapi semua memiliki kekuranganny: konsumsi energi yang diserap sangat besar, apalagi ia belum terbiasa dengan pedang besar itu, ditambah statusnya sebagai iblis juga merupakan poin minus menggunakan pedang suci.
'sejak kapan aku berfikir seperti itu? Ah masa bodoh dengan semua hal tak berguna.'
Ia kamudian melanjutkan pertarungan yang melelahkan. Menebas, memblok ataupun menghindar dari serangan para penyihir.
xxxxxx
Irina terbang dengan lihai. Sepasang sayap berwarna putih pertanda seorang malaikat telah ia tunjukkan. Dengan sebuah tombak cahaya ditangan kiri dan pedang Exskalibur mimic ditangan kanan, ia telah mengalahkan beberapa penyihir.
Mengayunkan pedangnya secara Vertikal, ia menebas sebuah bola api yang menuju kearahnya dan melemparkan tombak cahaya kearah bola api tadi berasal.
Ia kembali melesat menuju sekelompok penyihir yang tak jauh darinya.
xxxxxx
"Mereka melakukannya dengan baik."
Azazel melihat pertarungan kalah kuantitas itu melalui jendela dan mengeluarkan senyum kecil. Suara ledakan, teriakan memilukan bagaikan sebuah instrument yang membawa kenangan tersendiri baginya.
"Tentu saja, kau pikir mereka itu siapa memang?"
"Aku – tidak kita tahu mereka semua adalah generus kita yang akan menentukan takdir dunia ini. Bukan begitu Sir, Michael?"
"Heh… kata-katamu barusan seolah mengatakan kita tidak berguna disini."
"Anda berbicara seolah-olah dewa kematian akan segera menjemput."
Sirzech dan Michael berkata layaknya menghina. Akan tetapi dari semua itu, mereka tidak pernah bertemu dan bercanda seperti ini dikarenakan pertarungan yang akan terjadi apabila mereka bertemu dulu. Yah… ini lebih baik daripada apa yang meraka lakukan bila saling bertem dulu.
"Yah paling tidak salah satu atau mungkin kita semua akan menghadapi pemimpin penyerangan ini."
Dan ledakan besar terjadi ditempat ketiga pemimpin itu dan menghancurkan bangunan pertemuan sampai rata dengan tanah. Debu dan puing-puing bangunan beterbangan mengganggu pendangan. Kekkai tipis mulai terlihat dari pusat ledakan tadi. Melindungi siapapun yang ada dalam Kekkai dari ledakan besar tadi.
"Heh ini menyedihkan. Tiga pemimpin bersatu dan membuat pertahanan bersama, menggelikan sekali."
Suara memperolok terdengar dengan jelas. Dilangit seorang perempuan bersayap kelelawar dan membawa tongkat perlahan turun mendekat.
"Aku kira siapa, ternyatakau Katarea-chan. Bisa jelaskan mengapa kamu menyerang kami?"
"Jangan memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu. Kau telah melecehkan kita sebagai kaum Iblis. Iblis adalah yang terkuat, yang paling berkuasa. Tapi kau… kau telah membuat kita malu dengan menjalin kerjasama dengan makhlik menjijikkan itu. Kalian para Maou palsu, aku akan membunuh kalian semua dan menghentikan semua omong kosong ini."
Katarea mengarahkan ujung tongkatnya menuju Sirzech, energi Demonic dengan cepat berkumpul.
"Katarea, mari kita bicarakan hal ini dengan baik-bik. Kita bisa berbagi pendapat dan menentukan masa depan yang cerah bagi kaum kita."
"Jangan bercanda!"
Dan energi itu melesat dengan kecepatan tinggi.
"Hubungan kalian sepertinya buruk."
Azazel menahan serangan tersebut dengan satu tangan dan mengarahkannya kearah lain menghasilkan ledakan besar yang disertai dengan hembusan angin yang cukup kencang.
"Hm… Lumayan untuk keturunan Maou. Sir, aku akan mengatasi yang satu ini."
"Baiklah, tapi jangan terlalu kasar pada wanita cantik seperti –AWWW Grayfia jangan men– AWW itu sakit~"
Azazel hanya tersenyum melihat kekerasan dalam rumah tangga tersebut. Walaupun seorang Maou bergelar Lucifer, tapi Sirzech ini tidak buruk sama sekali.
"Aku anggap tadi kau mengatakan: iya."
Azazel mengeluarkan enam pasang sayap hitam miliknya dan terbang sejajar dengan Katarea.
"Heh.. jadi lawanku malahan Gubernur mesum huh?"
"Hei jangan meremehkan orang mesum ya!"
Azazel membawa tangannya masuk kedalam yukata hitam yang ia kenakan dan mengeluarkan sesuatu.
"Aku persembahkan Sacred Gear buatanku. Balance Break!"
Cahaya emas menyelimuti tubuh Azazel membuat beberapa orang menutup matanya karena terangnya cahaya yang keluar. Dan kini seluruh tubuh gubernur tertinggi malaikat jatuh itu terbungkus Armor naga berwarna emas. Ditangan kanannya tergenggam tombak cahaya bercabang dua. Enam pasang sayap hitam perlahan menghilang.
"Heh… apa kau begitu takut padaku sampai berlindung dibalik armor?"
"Kata-katamu begitu kotor dibandingkan tubuh indahmu itu. Kau tidak mengerti dengan karya seni yang aku buat, ini adalah sebuah maha karya yang luar biasa."
"Kau dan omong kosongmu. Aku bersumpah akan memenggal kepalamu untuk ku jadikan paja –GAKH A-apa ini?"
Katarea melihat kebawah, disana Naruto berdiri dengan memegang busur panah berwarna biru yang mengarah padanya. Pandangannya lalu beralih keperutnya yang terasa sakit. Lubang menganga tercipta dibagian ulu hati dan menembusi melewati punggung, darah terus keluar dengan cepat. Katarea lalu membawa tangan kirinya pada bagian yang berlubang itu mencoba menghalangi darah yang terus keluar.
"K-kkau.. beraninya k-kau!"
"Dimana 'dia'?"
Suara naruto terkesan dingin tak mengandung emosi. Ia harus menahan diri untuk tidak muntah ketika ia bertanya keberadaannya. Hanya berkata 'dia' saja sudah penuh dengan menjijikkan dan benci, apalagi bila ia menyebut namanya.
Tidak ada jawaban. Yang ada hanya pandangan menahan rasa sakit dan penuh benci pada Naruto.
"Katakan padaku! Dimana 'dia'?"
Masih diam, pandangan masih tetap sama.
"Kenapa hanya diam saja?"
"…"
"Cepat katakan padaku dimana 'Dia'?
"…"
"Jadi kau tak mau mengatakannya ya?"
Anak panah dari meterial es kembali tercipta, mengatur posisi dan arah sasaran dan dalam sebuah tarikan kuat anak panah tersebut melesat menuju katarea.
Katarea mengucapkan berbagai sumpah serapah dalam hati. Dalam kondisi seperti membuat sihir pertahanan tak ada gunanya, malah hanya membuang-buang energy miliknya dan juga menyerang balik pun memiliki konsekuensi yang sama. Satu-satunya pilihan hanya satu: menghindar. Katarea menggeser tubuhnya kesamping kanan menyebabkan panah es itu meleset dan hanya menyentuh ujung sayap kiri saja.
'I-ini'
Sensasi dingin menyebar dengan cepat. Dari ujung sayap yang bersentuhan dengan es, rasa dingin terus menjalar menuju tubuhnya. 'Membekukan darah' hanya itu yang ia pikirkan ketika tubuhnya jatuh menghantam permukaan tanah.
Suara langkah kaki bisa terdengar dengan jelas ditelinga Katarea. Langkah kaki yang ia dengar terasa berat, seakan-akan bisa membawanya kepusat bumi dalam sekali injak.
Perasaan horor mulai berkecamuk. Bayangan akan kematian mulai berputar-putar seperti vidio. Ia tak menyangka akan dikalahkan dengan mudah oleh bocah ingusan itu. Hal itu tentu saja mencoreng harga dirinya dengan sangat dalam dan sangat sulit untuk dihapus walaupun ia membunuh bocah didepannya.
"Aku tanya sekali lagi: dimana 'Dia'?"
Katarea menoleh keasal suara yang terasa begitu dekat. Disampingnya Naruto menatap dirinya dengan benci. Tangan kiri memegang busur panah sedangkan tangan kanannya memegang anak panah es yang telah tercipta.
"Ap..pa mak..sudmu? D–dia siapa?
"Jangan bercanda! Kau pasti tau siapa yang aku maksud!"
Naruto berteriak dengan kerasnya. Ia sudah muak dengan orang didepannya ini. Dia pasti tahu keberadaanya. Apakah ia harus menyiksanya terlebih dahulu agar mau memberitahunya? Sepertinya itu tidak akan terjadi.
"…"
"Hoo… jadi kau tak mau mengatakannya ya? Baiklah kalau begitu."
Naruto memposisikan anak panah es yang sudah tercipta ditangan kanan. Menaruk talinya kebelakang dan mengarahkannya tepat pada kepala Katarea.
"Ada kata-kata terakhir?"
"…"
"Kurasa jawabannya tidak. Sampai jumpa!"
Naruto dengan cepat mengarahkan busur panahnya kedepan atas dan melepaskan tali busur menyebabkan anak panah melesat dengan cepat. Tanpa membuang waktu ia menjejakkan tanah dan melompat kebelakang menghindari cahaya putih yang melesat menuju tempatnya sebelumnya menghasilkan debu beterbangan disekitar tempat tersebut.
"Jadi kau bekerjasama dengannya… Hakueryuukou?"
Ketika debu perlahan menghilang, disana terlihat Armor naga berwarna putih dalam posisi berjongkok.
"Tidak. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan pelacur ini."
Vali mulai berdiri dan menghadap naruto. Tangan naga sebelah kanan terlihat dengan jelas dalam kondisi dibungkus oleh es. Tak salah lagi akibat dari anak panah tadi. Member energy pada tangannya itu, seketika es itu hancur menjadi partikel kecil yang indah.
"Es-mu lumayan juga."
"Vali apa maksud kata-katamu tadi hah?"
"Diamlah dan jangan mengganggu!"
Katarea langsung terdiam. Ia tahu siapa Vali sebenarnya dan sampai mana kekuatan yang dimiliki. Walaupun enggan untuk mengakuinya tapi ia tahu: Vali jauh berada diatasnya.
"oi Vali, apa maksud dari perbuatanmu itu?"
Azazel perlahan turun dan berdiri disamping Naruto, dari nada yang digunakan jelas menunjukkan kejengkelan.
"Kau tau Azazel, jika aku masih bersamamu maka aku tidak bias bersenang-senang lagi! Jadi bukankah lebih baik aku memperkenalkan diriku dari awal?"
"oi oi, kau tahu bukan apa yang akan terjadi bila kau membuka identitasmu? Aku tahu kau tak sebodoh itu?"
"Aku tahu resikonya, dan karena itulah aku akan melakukannya."
Dan waktu mulai berjalan dengan normal. Makhluk-makhluk yang awalnya tak bisa bergerak karena efek dari Vorbidden Balor View sudah kembali sadar dan mulai bertarung melawan kelompok penyihir tadi.
"Kurasa ini waktu yang tepat untuk mengatakannya."
Vali berkata pada dirinya sendiri.
Membentangkan sayap naganya, Vali terbang dengan kecepatan tinggi. Melayang diudara ia siap untuk melakukan aksinya. Kekuatan iblis keluar dengan jumlah gila menyebabkan pertempuran berhenti sesaat untuk mencari sumber kekuatan tersebut.
Issei mengepalkan kedua tangannya. Menahan diri untuk tidak jatuh berlutut dan menatap sumber kekuatan ini berasal. Kekuatan yang ia rasakan saat ini jauh lebih tinggi daripada dirinya, bahkan walau ia sudah melipat gandakan kekuatan yang ia miliki selama puluhan kali ia tidak yakin bisa menyamai kekuatan yang ia rasakan. Kekuatan dari sosok yang disebut sebagai rivalnya.
"Perkenalkan namaku Vali. Vali Lucifer!"
xxxxxx
Api berkobar dari segala arah. Cahaya merah menerangi gelapnya malam. Suara kekhawatiran, keputusasaan, perjuangan dan jeritan kematian menjadi instrument mengerikan bagi yang mendengarnya.
"Ibu cepat bangun, ada api!"
Seorang anak kecil menggoyangkan tubuh seorang wanita muda yang saat ini tengah terbaring. Nada suara yang dikeluarkan begitu polos, tidak mengetahui apapun, tidak mengetahui bagaimana dunia ini berputar dan bekerja. Bagai kain putih tanpa noda. Suci-bersih dari apapun.
"Taka apa, nak. Semua akan baik-baik saja. Sekarang kamu keluar rumah, lari sejauh mungkin dan bersembunyi oke!" Nada yang dikeluarkan lembut sebagaimana seorang ibu. Mengelus surai hitam anaknya itu untuk memberikan ketenangan.
"Aku kan sedang tidak bermain petak umpet. Kenapa aku harus sembunyi?"
"Begini sayang.." perempuan itu menelan sesuatu. "Kamu memang tidak bermain petak umpet, tapi ibu akan memberi kejutan buat kamu jadi sebagai syaratnya kamu harus lari dan sembunyi agar ibu sulit menemukan kamu." "Kenapa begitu?" "Ibu akan memberi kamu kejutan yang besar, sangat besar. Sesuatu yang sangat luar biasa kamu mengerti? –tapi sebelum itu.." Perempuan itu mengangkat tangan kanannya dan menyentuh kening anaknya dengan jari telunjuk yang mengeluarkan cahaya redup.
Anak itu menutup matanya, merasakan sensasi hangat yang dirasakan. Dan senyum lembut ibunyalah yang ia lihat ketika membuka matanya. "Sekarang pergilah, jangan pernah melihat kebelakang dan jangan pernah berhenti sampai kau tidak bias ditemukan oke!"
Anak tersebut hanya mengangguk patuh. Berbalik dan menembus kobaran api. Terus berlari, tidak mengindahkan orang lain. Hanya menuruti apa yang dikatakan ibunya. Walau dalam perjalanan ia terus mendengar teriakan penderitaan dan juga sumpah serapah pada seseorang yang ia tidak tahu yang bernama "Lucifer"
xxxxxx
"Aku akan membunuhnya!"
"hmm… kau mengatakan sesuatu anak muda?"
"Aku akan membunuhnya… Akan kubunuh kau! Balance Breaker: Id Excalibur, Id Ascalon!"
Busur panah itu menghilang menjadi partikel cahaya. Cahaya memanjang tergenggam dimasing-masing tangan Naruto dan ketika cahaya menghilang digantikan dua pedang sudah tergenggam dimasing-masing tangan. Pedang Demon Slayer Excalibur ditangan kiri dan pedang Dragon Slayer Ascalon ditangan kanan.
"HAAA!"
Menendang tanah, Naruto melesat menuju Vali diudara dengan kecepatan tinggi. Memposisikan Excalibur didepan secara horizontal dan Ascalon dibelakang lurus ia menyerang Vali. Kejutan udara tercipta ketika mereka berbenturan.
"Heh.. jadi kau yang menjadi lawanku? Kau percaya diri sekali!"
Vali memberikan tenaga lebih pada tangan kanannya yang menahan dua pedang pembunuh itu. Retakan kecil mulai terlihat dan menyebar.
Mereka memberikan tekanan terakhir dan saling mundur mengambil jarak diudara. Vali lalu melihat armor tangan kanannya yang mulai kembali pulih. Senyum menyeringai terlihat jelas dibalik helm-nya. Meski Cuma tiruan, akan tetapi kekuatan dari kedua pedang itu tidakbisa dianggap remeh.
Naruto memposisikan kedua pedangnya didepan. Mengalirkan energy yang cukup kekaki agar ia tidak jatuh. Naruto merasa lebih nyaman dengan hal ini daripada menggunakan sayapnya. Mengalirkan energy kekaki dan membuat udara memadat, ia bisa dengan cepat melaju bahkan melebihi penggunaan sayap iblisnya.
Menendang udara, Naruto kembali melesat menuju Vali yang ikut menyerang.
xxxxxx
"Pedang itu…"
Xenovia memandang kedua pedang yang tergenggam pada masing-masing tangan Naruto. Sebagaiseorang ksatria, ia memiliki banyak sekali pengetahuan tentang pedang-pedang legendaris yang memiliki kekuatan luar biasa. Dan dari sekian banyak pedang legendaries, salah satunya ada pada genggamannya saat ini. Akan tetapi Naruto memiliki dua pedang legendaris dan bisa menggunakan keduanya secara bersamaan. Sangat jarang ada orang atau makhluk lain yang bisa menggunakan dua pedang legendaries secara bersamaan, bahkan untuk dirinya yang merupakan orang yang terlatih tidak yakin mampu melakukannya.
Pedang suci Excalibur dan juga ascalon, keduanya merupakan pedang pembunuh yang terkenal yang memiliki sejarah yang menakjubkan. Akan tetapi bagaimana Naruto mampu memiliki keduanya, apalagi Excalibur yang telah dinyatakan hancur ribuan tahun silam.
Xenovia lalu berlari menuju tempat keluarga baru dan beberapa makhluk berkumpul. Berkat waktu yang telah kembali normal, maka pasukan penyihir lebih cepat berkurang seperti yang diprediksi.
xxxxxx
Kiba memandang dengan takjub akan pertarungan yang kini ia saksikan. Ia tak menyangka sosok yang tak bisa ia kalahkan apabila adu kecepatan dulu itu bisa sekuat ini. Kecepatan yang ia tunjukkan juga tak bisa ia anggap remeh, bahkan apabila mereka berlomba kembali ia akan kalah lagi.
"Bukankah pedang itu…"
"Ya benar, itu adalah Excalibur dan juga Ascalon atau lebih tepatnya tiruannya."
"Tiruan?"
Kiba menolehkan wajahnya kearah samping, pada Gubernur tertinggi Malaikat Jatuh itu. Sosok disampingnyalah yang memotong kata-katanya tadi. Makhluk yang memiliki pengetahuan yang teramat luas mengenai Sacred Gear.
"Itu adalah kemampuan dari Sacred Gear 'copy vent': yaitu bisa meniru benda atau alat apapun, sederhananya seperti itu. Dan saat ini bocah itu dalam keadaan Balance Breaker: yaitu meniru alat apapun dengan kekuatan ataupun kemampuan tertentu. Seperti yang kalian lihat, dia meniru bentuk dan juga kemampuan dari dua pedang itu."
Azazel meniadakan Armor Emasnya. Padahal ia ingin sedikit pamer akan apa yang ia ciptakan ini. Yah.. tapi nasib berkata lain. Lain kali mungkin ia bisa menunjukkannya.
xxxxxx
"Rasakan ini!"
Vali Mengumpulkan energy pada tinjunya dan mengarahkannya pada Naruto yang kini menyilangkan kedua pedangnya bermaksud untuk menahan tinju yang akan menuju dirinya. Kejutan udara tercipta saat benturan terjadi.
Naruto terjatuh, tidak kuat menahan tinju yang diberikan. Ini juga adalah kesalahan yang ia lakukan diawal, membiarkan Vali dapat menyentuhnya sehingga bisa mengaktifkan kemampuan 'Divide' adalah hal vatal yang ia lakukan. Dan kini ia mendapati energinya tinggal sedikit saja. Pandangan mata bisa melihat dengan jelas bahwa tanah makin dekat. Tidak ingin terjadi benturan keras, dalam sekejab ia berputar dan memposisikan kaki dibawah, mengirim energy yang cukup kekaki, ia menyiapkan diri untuk benturan keras. Kawah yang cukup lebar tercipta ditempat Naruto jatuh tadi. Tanah, debu dan asap yang beterbangan cukup mengganggu pendangan.
"Kau memang kuat. Tapi sayang kau tidak bisa mencapai limit milikku."
Vali terus memperhatikan kawah lebar dibawahnya, vokus tetap ia pertahankan. Dan ketika angin meniup debu pada kawah itu, Naruto terlihat berusaha berdiri dnengan bantuan kedua pedangnya. Ia mendongak memperlihatkan ekspresi membunuh yang ditujukan pada Vali.
"Sudah aku duga, serangan seperti itu belum cukup untuk membuatmu kalah. Tetapi dengan keadaanmu yang seperti ini sudah jelas siapa yang akan memenangkan pertarungan ini."
"Diam! Pertarungan ini baru saja dimulai!"
"Begitukah? Kalau begitu keluarkan kemampuan terbaikmu!"
"Akan aku tunjukkan dengan senang hati, tapi jangan pernah menyesali kematianmu! Promosi: Mentri, Promosi: Benteng! Penggabungan Bidak: Ratu!"
Angin terasa berhenti bertiup untuk beberapa saat menyebabkan kesunyian yang mencekam sebelum akhirnya angin bergerak liar menanggapi energi yang Naruto Keluarkan.
"Bergabung! Id Ex-Ascalon!"
Kedua pedang dalam genggamannya itu pecah menjadi partikel cahaya kemudian berkumpul dalam bentuk memanjang secara horizontal. Sebuah pedang emas dengan pangkal pedang berwarna biru yang saat ini melayang telah tercipta hasil gabungan dari Excalibur dan Ascalon. Sebuah pedang satu tangan dengan kekuatan dari dua pedang legendaris.
Naruto mengulurkan tangan kanannya dan menggenggam pedang Ex-Ascalon dan langsung ia coba ayunkan kesana kemari.
"Jadi itu kekuatanmu yang sebenarnya? Menarik, ayo kita lihat kekuatanmu saat ini!"
"Tidak! Ini masih belum selesai!"
Naruto mengangkat tangan kiri yang terkepal kedepan wajahnya. Pada punggung tangannya tercipta lingkaran sihir berwarna hitam. Ia menutup matanya dan menarik nafas lalu membuangnya melalui mulut, ketika matanya terbuka sorot akan konsentrasi penuh dan keyakinan yang tinggi bisa terlihat dan dirasakan.
"Restia, aku membutuhkan bantuanmu!"
-Oh dear, aku adalah milikmu. Aku akan selalu melayanimu!
Naruto tersenyum mendengar jawaban yang masuk kekepalanya itu. Menurunkan tangan kiri dan membuka telapak tangan, kegelapan berkumpul pada telapak tangannya sebelum akhirnya pedang hitam indah dengan warna menyamai kegelapan malam telah tergenggam.
"Ayo kita selesaikan ini Vali Lucifer!"
Menendang tanah, dengan Ex-Ascalon ditangan kanan dan Vorpal Sword ditangan kiri Naruto melompat menuju Vali yang juga telah meluncur menuju dirinya. Kejutan udara tercipta saat keduanya bertemu. Menggunakan Vorpal Sword untuk menahan tinju Vali, Naruto mengayunkan Ex-Ascalon untuk mengubah arah tinju, memutar tubuh ia lalu mengayunkan Vorpal Sword kearah Vali. Petir hitam keluar dari pedang hitam itu dengan sasaran Vali yang saat ini menoleh padanya. Ledakan besar tercipta ketika petir hitam itu telak mengenai sasarannya menghasilkan kepulan asap tebal. Mengirim energi kekaki, Naruto menendang udara menuju ledakan tadi. Dengan menggunakan kemampuan Excalibur Repidli membuat kecepatan yang ia miliki bertambah. Suara benturan logam terdengar ketika Naruto telah memasuk kedalam asap ledakan. Keduanya keluar dari asap ledakan dengan arah yang berbeda sebelum kembali melesat maju.
Kejutan angin dan ledakan selalu tercipta setiap mereka bertemu. Garis putih dan emas tercipta diudara sebagai efek kecepatan cahaya yang mereka gunakan.
Petir hitam dan kekuatan demonic kembali dilancarkan, mengadu kekuatan siapa yang lebih besar sebelum keduanya bertubrukan menghasilkan ledakan besar disertai angin yang bergerak liar.
Memposisikan Vorpal Sword dengan keadaan menghunuskan pedang, Naruto mempersiapkan tekniknya. "Absolud Blade Art: Purple Lightning!" dengan gerakan cepat Naruto melakukan gerakan menusuk kearah Vali, tepat pada berlian yang terletak dada menyebabkan vali terdorong kebelakang dengan kecepatan tinggi.
"Serangan terakhir! Absolute Blade Arts, bentuk penghancur - Bursting Blossom Spiral Blade Dance - Tiga puluh enam serangan beruntun!"
Tebasan yang tak terhitung mengenai Vali, Cahaya yang bersinar terang serta petir hitam yang menggelegar mewarnai serangan tersebut.
Vali terjatuh kebawah dengan kecepatan tinggi menghasilkan suara benturan keras ketika menghantam tanah menghasilkan kawah yang cukup lebar. Debu dan tanah masih beterbangan ditempat itu menghalangi pandangan mata. Armor Hakuryuukou yang konon sangat sulit bahkan tak bisa dihancurkan kini telah menghilang menunjukkan tubuh Vali yang penuh luka. Namun meskipun begitu bukan raut wajah kesakitan yang ditampilkan Vali melainkan seringaian maniak yang hamper membelah wajahnya.
Pedang Ex-Ascalon telah menghilang dalam partikel cahaya sementara Vorpal Sword menghilang menjadi bagaikan bayangan. Naruto lalu melesat menuju berlian berbentuk bola yang hampir jatuh ketanah itu. Berlian milik Hakuryuukou yang terlepas akibat serangan yang ia luncurkan. Menangkap dengan kedua tangan, Naruto lalu membawa Berlian itu kedadanya.
Teriakan kesakitan meluncur dari bibir Naruto, akan tetapi Naruto tetap mempertahankan posisinya dan terus menekan berlian itu kedadanya. Sebuah kekuatan bisa dicapai dengan kenauan dan kerja keras dan tak jarang disertai dengan rasa sakit dan penderitaan, tapi bagi Naruto hal itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit yang ia alai dulu.
"HAAA!"
Dan sepasang sayap energy berwarna biru muncul dibalik punggung Naruto membawa senyum bagi dirinya. Pandangan Naruto perlahan mengabur, dan sebelum sepenuhnya menggelap dirinya dibawa kepelukan seseorang. Rambut hitam dan juga sayap hitam seindah gelapnya malam menjadi hal terakhir yang ia lihat.
#####
Aku tak banyak bicara, hanya minta maaf soal lambatnya update karena banyaknya urusan, dan juga tolong koreksi cerita saya. Kurang menarik atau hal lain? semuanya akan saya terima.
Ada yang berharap kekuatan Naruto Akan kembali? Nah, hal itu berarti kabar baik buat anda!
see you!
