ECHO

Cast:

Shinji – Kaworu (mentioned)

Warning[!]: typo[s], ambiguous

I don't own the casts and Evangelion


.

Shinji menyentuh piano yang dulunya biasa ia mainkan. Perlahan-lahan jemarinya menelusuri tepian alat musik itu. Satu inchi terlewati, satu tetes air mata terjatuh. Satu jengkal terjangkau, satu tusukan menghampiri dadanya. Matanya masih tak berkedip saat pandangannya teralih ke arah kursi di depan piano, tempat biasanya ia terduduk bersama seseorang sambil menekan tuts yang mengalunkan harmoni hasil ciptaan dua pasang tangan manusia, yang bahkan ia sendiri menyukainya. Tapi Shinji tidak berani mendekat. Satu langkah saja ia beranjak kesana, pertahanannya akan runtuh tak berbekas. Shinji tahu benar ia bukan pemuda kuat.

'Jangan melihatku dengan mata itu, Shinji-kun.'

'Mengapa?'

'Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti.'

'Kapan?'

'…'

'Besok?'

'…'

'Lusa?'

'…'

Lututnya melemas tiba-tiba. Tubuhnya ambruk di tepi piano itu. Bukan satu atau dua hari ia menunggu, bukan 'besok' atau 'lusa' jawabannya. Shinji tahu. Ia paham bahwa sejak awal ia tidak pernah mendapat jawaban dari pertanyannya.

"Bahkan sampai sekarang kau tidak datang, Kaworu."

Pemuda itu duduk sembari memeluk lututnya, menyandarkan tubuh rapuhnya pada kaki piano yang selalu ia mainkan bersama temannya, Kaworu.

Teman? Bukankah Kaworu yang menganggapnya seperti itu?

Teman? Benarkah?

Gurunya pernah mengatakan bahwa teman ada ketika ia sedih.

Ia sedang sedih sekarang, tapi Kaworu tidak ada.

Gurunya pernah mengatakan bahwa teman hadir ketika ia sendirian.

Shinji hanya seorang diri disana dan Kaworu tidak ada.

Gurunya pernah mengatakan bahwa teman datang ketika ia kesepian.

Pemuda itu sudah merasa kesepian selama bertahun-tahun, sedangkan Kaworu tidak ada.

Shinji merebahkan diri disana.

'Ternyata memandang bintang bersamamu sangat menyenangkan'

"Kau tahu itu, tapi kau masih tidak ada disini bersamaku"

Shinji masih menjawab suara-suara pikirannya sendiri, seolah ia sedang menepis tiap ucapan Kaworu yang dulu ditujukan untuknya. Satu jawaban dari bibirnya, satu luka menggores hatinya.

'Aku dilahirkan untuk bertemu denganmu, Ikari Shinji.'

"Bukankah kau dilahirkan untuk meninggalkanku, Nagisa Kaworu?"

Shinji menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan miliknya. Ia membungkam bibirnya seerat mungkin, berusaha sekuat tenaga sampai ia berhenti berbicara. Sambil terisak, ia memilih menjambak rambutnya pelan. Kali ini ia kembali berusaha agar pikirannya tentang Kaworu lenyap, seperti lenyapnya tubuh Kaworu dihadapannya dahulu.

'Tapi, aku ingin kau percaya padaku.'

"Tidak. Tidak lagi. Aku tidak akan pernah percaya pada siapapun-

.

–sekalipun itu kau, Kaworu.".

FIN.


A/N: Just got 'KawoShin' fever (oh they're so- ugh, too- canon). I'm just on my way watching Evangelion. Up till now, what the hell am I doing? (Kaworu: WHY DIDN'T YOU NOTICE US BEFORE?)