Baekhyun mendelik sebal kearah Luhan dan mencibir, "Karena kau belum tahu bagaimana rasanya jatuh cinta!"

"Ugh, itu sangat sangat tidak penting okay."

"Terserah kau." Baekhyun memainkan jari kukunya, "Tapi aku punya berita bagus untukmu, Luhan sayang."

Luhan mengernyit jijik atas panggilan 'sayang' yang Baekhyun berikan, namun hatinya juga cukup was-was karena tahu jika Baekhyun memanggil seperti itu pasti tidak jauh dari hal-hal buruk dan kesengsaraan buat Luhan.

Baekhyun menyeringai dan menatap Luhan, "Mulai saat ini, kau akan menjadi teman belajar Oh Sehun."

"Apa?! Bisa kau kasih alasan dari kesimpulan bodohmu itu?!"

"Mungkin karena kau teman sebangkunya? Dan aku tahu kau pintar, Lu. Guru-guru disini selalu memberikan pelajaran tambahan bagi anak yang mendapat nilai C, dan salah satunya Sehun." Baekhyun mengedikkan bahunya, "Kemungkinan besar Sehun akan diberi tambahan belajar denganmu."

"Bagaimana bisa mereka dengan seenakjidatnya memberikan tanggung jawabnya seperti itu?!" Luhan mendengus, "Itu sama saja seperti memakan gaji buta, kau tahu."

"Iya juga. Hey, tapi kau juga mendapat keuntungan!"

"Keuntungan?" Luhan menaikkan alisnya, "Apa?"

"Kau akan mendapatkan nilai A bahkan A+, dan juga kalau kau berhasil membuat Sehun –ya setidaknya sedikit lebih baik, kau akan mendapat pujian dari guru-guru bahkan warga sekolah karena berhasil sedikit merubah perilaku sang anak pemilik sekolah."

"Segitunya kah? Bagaimana dengan kekasihmu? Kau mengatakan dia temannya 'kan? Lalu mengapa dia tidak bisa merubah perilaku buruknya itu?" Luhan lagi-lagi mengangkat alisnya naik, mulai tertarik dengan pembahasan ini.

"Well, sejauh ini belum ada yang bisa merubah perilakunya," Baekhyun menyipitkan matanya, "Tapi Chanyeol pernah mengatakan bahwa Sehun itu sebenarnya sangat pintar. Aku tidak yakin sih."

"Tapi yang paling penting, permainan akan segera dimulai, Lu." Baekhyun menatap Luhan dengan seringaian diwajah imutnya itu. Sedangkan Luhan hanya menatap horror kearah Baekhyun dan benar–

–permainan akan segera dimulai.


Title : Oh My Unexpected Love!

Author : hunhankid

Main Cast(s) : Xi Luhan, Oh Sehun

Pairing(s) : HunHan, ChanBaek

Genre : School-life, Drama, Romance

WARNING SHOUNEN-AI/BOYSLOVE!


Luhan rasa kepalanya berasap dan akan berkarat sebentar lagi. Pikirannya dipenuhi dengan omongan sahabat gila yang benar-benar gilanya itu. Jika saja Luhan bisa memutar ulang waktu, ia akan meminta atau bahkan merengek habis-habisan agar tidak dipindahkan ke sekolah barunya. Lebih baik penyakit asmanya tidak sembuh agar dia tidak disekolahkan ke sekolah itu. Penyakit Luhan tidak begitu parah memang, tapi dulu orangtuanya bersikeras untuk menyekolahkan anaknya dirumah sampai penyakitnya benar-benar sembuh. Dan sekarang, ketika Luhan sudah benar-benar sembuh dari penyakitnya ia malah menginginkannya kembali. Sangat menyedihkan.

Bahkan wajah chairmatenya itu sekarang menari-nari dipikirannya. Sejak ia mengakhiri percakapannya dengan Baekhyun dikantin tadi. Pikirannya tidak bisa lepas dari anak pemilik sekolah itu. Apa yang terjadi besok sebagai hari kedua Luhan duduk dengannya? Bagaimana jika ia benar-benar akan mengajari Sehun? Bagaimana kelakuan Sehun nanti padanya? Bagaimana–

Luhan menggelengkan kepalanya frustasi, "Kau benar-benar harus tidur sekarang, Lu." Luhan segera memejamkan matanya berharap mimpi menjemputnya dan lelaki dingin itu menghilang dari pikirannya.


~o0o~


Luhan berjalan menyusuri lorong sekolahnya yang sepi. Waktu masih pukul 6.30 pagi berarti masih ada sekitar satu setengah jam sebelum kelas dimulai. Bukan tanpa alasan, sebenarnya ia ingin menelusuri sekolah barunya mengingat kemarin Baekhyun tidak menepati janjinya untuk menemani Luhan mengelili sekolah ini setelah pulang sekolah. Sahabat sedikit waras-nya itu beralasan bahwa ia akan ada kencan dengan Chanyeol sepulang sekolah. Benar-benar menyebalkan. Luhan merasa telah dikepung oleh orang-orang menyebalkan saat ini.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sekolah ini sangat sangat besar. Kaki Luhan mulai merasa pegal-pegal sekarang. Perjalanannya sudah memakan waktu 30 menit dan ia rasa lebih baik segera mencari perpustakaan sekarang untuk mengambil buku pelajarannya yang belum ia dapatkan kemarin. Ia tidak akan sudi lagi meminjam buku dengan teman bodoh sebangkunya itu. Oh, mengingatnya di pagi hari membuat awal harinya menjadi buruk.


"Xi Luhan?" Wanita itu membaca nametag yang berada disaku kanan seragamnya, "Kau murid pindahan?"

Luhan tersenyum kaku, "Iya. Aku baru pindah kemarin."

Wanita –penjaga perpustakaan itu menganggukkan kepalanya mengerti, "Lalu ada yang bisa kubantu?" Tanya wanita itu dengan nada ramah.

"Kepala Sekolah menyuruhku untuk mengambil buku pelajaran kelas dua disini."

"Baiklah, akan kuambilkan sebentar."

Luhan menganggukkan kepalanya dan mengulas senyum kecil. Setelah wanita itu pergi menyusuri lorong-lorong rak buku, ia mengedarkan pandangannya ke penjuru perpustakaan. Luhan merasa ia sedang berada di perpustakaan Oxford sekarang –perpustakaan ini benar-benar luas. Namun ketika ia asik melihat-lihat, tiba-tiba obsidiannya menangkap seseorang dengan rambut berwarna dark brown –mengingatkannya dengan teman sebangkunya yang menyebalkan itu. Lelaki itu sedang membaca buku dengan duduk yang membelakanginya. Luhan mencoba menyipitkan mata dengan maksud menajamkan pandangannya untuk memastikan apa dia benar-benar dia. Tapi Luhan cepat-cepat menyangkal, orang itu tidak mungkin dia. Mungkin aja itu anak kutu buku yang terlalu kerajingan baca buku pagi-pagi begini. Dia tidak mungkin Oh Se–

"Dia Oh Sehun. Anak pemilik sekolah." Tiba-tiba suara wanita tadi menyapu gendang telinganya.

Hun.

Luhan terkesiap, sejenak ia termangu. Sedikit bingung dan takjub melihat Sehun –seorang anak yang mendapatkan nilai C– membaca buku. Ia menolehkan pandangannya kebelakang dan menemukan wanita tadi –penjaga perpustakaan– membawa setumpuk buku yang ia yakini akan menjadi miliknya. Setelah meletakkan buku-buku itu disisi meja, ia mengambil satu buku dan memberinya stempel.

"Iya, aku satu kelas dengannya." –bahkan sebangku.

"Benarkah?" Wanita itu menatap Luhan sejenak dan kembali men-stempel bukunya, "Ia selalu berkunjung kesini dan membaca satu jam sebelum kelas dimulai dan satu jam setelah kelas selesai," Wanita itu mengedikkan bahunya, "Dia tidak pernah absen, kau tahu."

Luhan terkejut, sejenak ia mengalihkan pandangannya kepada objek pembicaraan mereka, "Dia bahkan selalu meminjam sekitar dua atau tiga buku setelah membaca. Tetapi yang kudengar dia selalu mendapat nilai buruk. Well, aku cukup meragukannya."

Luhan terdiam setelah mendengar si wanita penjaga perpustakaan yang mungkin sedikit lebih tua darinya berbicara tentang Oh Sehun. Ia berpikir, berarti selama ini Sehun tidak cukup buruk. Well, dan juga ia kembali mengingat perkataan Baekhyun yang dimana ia mengatakan akan mendapatkan nilai A bahkan A+ jika ia berhasil merubah sedikit perilakunya. Kesempatan dalam kesempitan ini harus digunakan dengan sebaik mungkin.

"Oh maaf aku sudah berbicara sana sini tanpa mengenalkan namaku," Luhan kembali memandang wanita itu yang tampaknya telah selesai dengan pekerjaannya, "Namaku Kim Taeyeon. Kau bisa memanggilku Taeyeon jika berkunjung kesini lagi."–Ouh, mungkin sedikit mengorek informasi tentangnya dari Taeyeon boleh juga.


~o0o~


Luhan melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Banyak murid yang sudah berdatangan. Ia bersenandung kecil sedikit merasa lega setidaknya Sehun tidak seburuk yang ia bayangkan –jika ia jadi teman belajarnya.

"Pagi yang cerah, Lu" Baekhyun menatap Luhan dengan senyum sumringahnya, "Oh, kau sudah mendapatkan buku-bukunya!" Ucap Baekhyun setelah melihat setumpuk buku ditangan Luhan.

"Aku bisa mendapatkannya kemarin jika kau menepati janjimu!" Luhan mendelik tajam kearah Baekhyun sambil berjalan menuju bangkunya.

"Maaf, hehe. Tapi yang penting kau sekarang tidak perlu meminjam buku ke Sehun 'kan?"

Luhan memutar bola matanya malas, "Aku tidak akan sudi meminjam buku dengannya lagi."

Baekhyun mengedikkan bahunya, "Baiklah." dan mengecek pergelangan tangan kirinya, "Hey masih ada sisa waktu tiga puluh menit sebelum kelas dimulai. Mau berkenalan dan berbicara sedikit dengan siswa kelas ini?"

Luhan memikir sejenak dan mengangguk setuju. Memiliki teman baru setidaknya bukan hal yang buruk.


Hanya dalam waktu tiga puluh menit, Luhan sudah mengenal tiga perempat siswa dikelas ini. Mereka menyambutnya dengan baik dan berbicara ramah. Walaupun sepertinya sebagian siswa-siswa disini karakternya mirip seperti Baekhyun yang agak banyak bicara, tapi setidaknya mereka benar-benar pure. Sepertinya tidak butuh waktu lama Luhan sudah bisa akrab dengan warga kelas. Tidak dibully seperti di drama-drama saja Luhan sudah amat bersyukur.

Bel pertanda kelas dimulai sudah terdengar dan para siswa itu berhamburan menuju bangkunya tak terkecuali Luhan. Guru bahasa inggris pun sudah memasuki kelas dengan tepat ketika bel berbunyi. Dia melihat samping kiri bangkunya yang masih kosong –anak itu belum datang. Luhan berpikir apakah dia sengaja melakukannya, mengingat tadi dia membaca di perpustakaan seharusnya anak itu bisa datang tepat waktu.

Setelah lima belas menit pelajaran berlangsung, terdengar ketukan pintu tiga kali. Luhan sangat yakin itu si Sehun, dan benar, terlihat Sehun diambang pintu yang sedang membungkukkan badannya dan melangkah tanpa sepatah kata –seperti kemarin. Luhan sedikit penasaran bagaimana suara Sehun –mengingat Sehun belum pernah bicara dengannya –, tapi ia yakin suaranya pasti sangat jelek dan mulutnya bau karena jarang digunakan untuk berbicara.

"Baik anak-anak. Sekarang kerjakan tugas dihalaman 87 dan kumpulkan ketika bel berbunyi."

Suara gesekan kertas-kertas dibuku mulai terdengar dipenjuru kelas. Luhan melirik sedikit kearah Sehun, ia diam saja, sama seperti kemarin (lagi), memasang headphonenya dan menyambungkan kabelnya ke handphonenya. Luhan benar-benar tidak mengerti apa yang dilakukan teman sebangkunya ini. Belajar disaat bukan jam pelajaran dan bersantai disaat jam pelajaran, benar-benar aneh.

"Buku kimiaku." Tiba-tiba suara sedikit berat yang berasal dari samping kirinya terdengar,

"Eh?"

"Kau sudah selesai meminjamnya 'kan? Kembalikan." Pria itu –Sehun kembali berucap tanpa melihat lawan bicaranya.

Luhan mengerjap dua kali –masih belum yakin bahwa yang berbicara dengannya ini adalah Oh Sehun, "Ugh, okay." Balas Luhan dengan nada yang sangat canggung.

Luhan mencari buku kimia itu ditasnya yang diisi beberapa buku kosong dan peralatan tulis. Ah! Gotcha! Pekik Luhan dalam hati, namun kurang dari dua detik matanya sudah membola, buku kimia Sehun mungkin lebih pantas dibilang buku bekas. Lipatan kertas dimana-mana dan covernya yang sudah sedikit –oh, bahkan amat sangat lecek. Luhan merutuki kebodohannya kemarin yang lepas kendali dan meremas buku Sehun dengan kekuatan super. Sudah sekitar satu menit Luhan dengan posisi seperti itu –membalikkan sedikit badannya menghadap tas yang dibelakang punggungnya; memasukkan satu tangan ke tasnya; dan kepalanya yang sedikit merunduk–. Luhan sangat dilema dan takut sekarang. Otaknya mulai berpikir yang macam-macam, apakah nanti Sehun akan menghajarnya? Atau mengeluarkannya dari sekolah? Atau bahkan memb–

"Kenapa lama sekali." Suara berat itu kembali terdengar, Luhan dengan terpaksa mengeluarkan buku itu dengan perlahan menjauhi tasnya. Dia sudah sangat pasrah dengan apa yang akan Sehun lakukan nantinya, otaknya sudah menerka-nerka dengan hal-hal yang mungkin akan terjadi nantinya. Luhan menyerahkan buku itu dengan kepala menunduk, tak berani menatap mata yang setajam elang didepannya ini.

"Ini.. bukuku?" Sehun menatap benda dihadapannya yang tak layak disebut buku dengan mengerutkan dahinya. Perasaan bukunya baik-baik saja kemarin 'kan?

"Eung, iya..." Luhan menatap manik Sehun sejenak dan kembali menundukkan kepalanya, "Maaf..."

Sehun menahan nafasnya, "Kenapa. Bisa. Seperti. Ini?"

Luhan semakin menciut mendengar nada pertanyaan yang Sehun sampaikan, rasanya Sehun seperti mengulitinya hidup-hidup.

"Eum, itu.." Luhan mencoba mencari alasan dan mengedarkan pandangannya kelain arah asalkan tidak menatap muka chairmatenya ini. "Itu kucingku yang merusaknya, ah iya kucingku, hehe.." Luhan tertawa canggung seperti orang bodoh sekarang dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Kucingmu? Kenapa dia bisa merusaknya?" –Bohong! Bahkan Luhan tidak punya kucing, sudah dijelaskan dia pernah mengidap penyakit asma jadi tidak mungkin ia mempelihara kucing 'kan?

Ayo Luhan gunakan otakmu! "O-oh, waktu itu aku sedang ke kamar mandi."

"Maaf, aku sangat ceroboh. Aku bisa menggantinya jika kau mau." Luhan menelan ludahnya gugup.

Sehun berdehem pelan, "Tidak perlu." Dan memasukkan buku itu ke tasnya yang branded itu.

Luhan menghela nafas lega dan kemudian mencoba menatap Sehun. Luhan khm, terpesona dengannya. Dihadapannya manusia dengan kulit seputih salju, rahang yang tegas dan kokoh, hidung yang mancung, mata setajam elang yang terasa menusuk, dan bibir yang –oh Luhan menjilati bibirnya sendiri, entah kenapa tiba-tiba ia terlihat seperti seorang maniak sekarang.

"Ada apa?" Suara berat itu menyadarkannya dari lamunannya. "O-oh" Luhan mengerjapkan matanya menggaruk tengkuknya canggung dan kembali menghadap papan tulis, "Tidak ada."

Sehun kembali memasang headphonenya yang tadi sempat dilepasnya, "Cepat kerjakan tugasmu."

Luhan menepuk jidatnya pelan dan segera mencari pulpen kemudian segera mengejar ketinggalannya. Sedikit bingung Sehun menyuruhnya mengerjakan tugas padahal dirinya sendiri tidak.

Bahkan seorang Oh Sehun dapat membuat Luhan tampak idiot sekarang.


~o0o~


Luhan mendengus dan dengan wajah tertekuk menyusuri koridor-koridor sekolahnya. Sahabatnya –Baekhyun– meninggalkannya dan memilih pergi bersama kekasihnya itu. Luhan kembali mendengus kuat-kuat dan segera menuju ke kantin untuk mengisi perutnya.

Luhan memesan satu porsi french fries dan satu gelas bubble tea. Tangannya membawa nampan yang berisi pesanannya itu kemudian mengedarkan pandangannya untuk mencari meja kosong, namun tak lama ia melihat seseorang melambaikan tangan kearahnya.

"Hey, disini Lu!" Baekhyun melambaikan tangannya seperti menyuruh Luhan mendekat. Luhan melangkahkan kakinya mendekat kemudian berhenti setelah beberapa saat melihat kekasih sahabatnya itu juga ada disitu. Luhan bingung, apa ia tidak mengganggu?

"Hey sini! Tidak apa." Suara Baekhyun kembali terdengar dan dengan mantap Luhan kembali melangkahkan kakinya menuju meja Baekhyun dan mendudukkan tubuhnya berhadapan dengan Baekhyun.

"Maafkan aku tadi meninggalkanmu, tadi aku ada urusan sebentar dengan Chanyeol." Luhan menerka-nerka urusan apa yang ia lakukan dengan Chanyeol. Luhan memperhatikan penampilan mereka yang terlihat sedikit acak-acakan dan baju yang terlihat kusut.

Menyadari tatapan intimidasi dari Luhan, Baekhyun kemudian berdehem pelan dan berusaha mengalihkan perhatiannya, "Hm, Luhan, kenalkan ini Chanyeol."

Luhan tersadar dari pemikirannya dan menatap lelaki disebelah Baekhyun yang tersenyum dan mengulurkan tangannya. Luhan menyambut uluran tangan itu, "Hey aku Chanyeol." Luhan sedikit tersenyum, "Dan aku Luhan."

"Aku sudah tahu namamu Luhan."

"Dan aku juga sudah tahu kau Chanyeol karena Baekhyun sangat sering menceritakanmu padaku." Luhan terkekeh pelan. Mata Chanyeol kemudian menatap Luhan antusias, "Benarkah?" kemudian beralih menatap Baekhyun dan mencubit kecil hidungnya. "Apa yang dia katakan?"

"Dia mengatakan banyak tentangmu."

"Seperti apa?"

"Seperti–"

"Seperti kau dengan Kyungsoo itu!" Baekhyun menyela perkataan Luhan dan menatap Chanyeol dengan sebal. "Kau tahu aku sangaaat membenci pemuda pendek itu!"

"Aigoo, rupanya kau cemburu?" Chanyeol mengacak rambut Baekhyun dengan gemas sementara Baekhyun hanya mengerucutkan bibirnya, "Kau tahu dia itu berkencan dengan Jongin."

"Tetapi dia mendekatimu selagi Jongin pergi berlibur!"

"Dia hanya menanya keadaan Jongin karena si bodoh itu jarang membalas pesannya. Mungkin dia terlalu asik menikmati liburannya."

"Dia bahkan seenaknya berlibur dihari sekolah!"

"Ya, memang seperti itu kelakuannya." Chanyeol menatap Baekhyun dengan pandangan teduh, "Jadi kau mempercayaiku 'kan, Baek?" Baekhyun menatapnya dan menganggukkan kepalanya kecil walaupun sedikit ragu. Chanyeol tersenyum gemas dan mengecup singkat bibir ranum pemuda mungil dihadapannya.

Ow, pipi Luhan memerah melihat pemandangan dihadapannya. Bahkan ia merasa dirinya sebagai obat nyamuk sekarang. Baekhyun bahkan sikapnya sangat manja dan berbeda ketika dengannya dihadapan Chanyeol. Luhan memilih mengalihkan pandanngannya kearah lain dan berdehem pelan.

Baekhyun menajamkan matanya kearah Chanyeol dan menggumamkan 'ada orang lain disini' Chanyeol kemudian segera menyadari keberadaan Luhan dan menggaruk tengkuknya canggung. Namun ia segera berbasa-basi dengan Luhan untuk mencairkan suasana, "Bagaimana duduk sebangku dengan Sehun?" –pertanyaan yang sama seperti yang dilontarkan Baekhyun kemarin.

"Tidak ada yang bagus dan terlalu.. canggung." Luhan mengakhiri perkataannya yang terlampau jujur didepan orang yang notabene-nya sahabat Sehun dan melahap french fries dihadapannya yang bahkan belum ia sentuh sejak 'insiden' tadi.

Chanyeol kembali terkekeh pelan, "Jangan sungkan menceritakan kepadaku tentangnya jika ia berbuat salah. Aku bisa memberi tahunya nanti." Chanyeol menatap Luhan, "Tapi ketahuilah Luhan, sebenarnya Sehun itu berbeda."


~o0o~


Sebenarnya Sehun itu berbeda.

Perkataan itu mengiang-ngiang dikepala Luhan, maksudnya apa Sehun berbeda? Ya–memang sih dari awal Luhan sudah berpikir Sehun itu berbeda, maksudnya hanya sikapnya yang berbeda dari yang lain. Tapi perkataan Chanyeol sedikit mengubah presepsinya tentang Sehun. Apa mungkin, Sehun itu bukan manusia? –Hell No, jaman sekarang sudah semakin kedepan dan Luhan tidak percaya dengan fiksi seperti itu. Apa mungkin dia sebenarnya banyak bicara seperti Baekhyun? Err, dilihat dari muka dindingnya –maksudnya disini muka datar seperti dinding– sepertinya ia tidak mungkin banyak bicara. Yang ia tahu Sehun itu seperti seorang introvert. Luhan menggelengkan kepalanya frustasi dan memilih melupakan sejenak perkataan Chanyeol.

Ia berjalan menyusuri koridor-koridor untuk kembali ke kelasnya –karena sebentar lagi kelas akan dimulai dengan pelajaran kimia. Kimia? Memikirkan pelajaran itu membuatnya kembali mengingat insidennya dengan Sehun. Rasanya image coolnya yang selama ini ia jaga-jaga, ketika didepan Sehun tidak berlaku lagi. Membuatnya malu sampai ke ubun-ubun.


Bel sudah berbunyi lima menit yang lalu dan semua siswa sudah ada dibangkunya, termasuk Luhan dan Sehun. Ya–mereka duduk dalam kecanggungan (lagi dan lagi). Tidak ada percakapan diantara mereka. Sehun dengan headphonenya memilih mengalihkan pandangan ke luar jendela –yang kebetulan Sehun duduk didekat jendela– dan Luhan menatap kosong papan tulis sambil memikirkan perkataan Chanyeol yang sangat susah ditarik kesimpulannya. Luhan juga bingung mengapa dirinya sepenasaran ini dengan teman sebangkunya –Sehun– yang sangat misterius.

Lee Seonsaengnim yang kemarin tidak hadir terlihat diambang pintu dan memasuki kelas dengan langkahnya yang cepat. Semua siswa sudah duduk dengan rapi ditempat duduknya.

"Selamat siang anak-anak. Apa kalian sudah merangkum bab 3?"

"Ya, saem." Seluruh siswa menjawab dengan serempak.

"Baguslah. Sekarang masukkan buku-buku kalian kedalam tas dan kita akan mengadakan test dadakan."

Desahan kecewa dari seluruh siswa terdengar dan mereka terlihat mengumpat dalam hati. Jarang-jarang Lee Seonsaengnim mengadakan test dadakan seperti ini. Mereka berharap lebih baik Lee Seonsaengnim sakit seperti kemarin daripada masuk dan memberikan test gilanya. Mereka bahkan belum belajar dan belum menyiapkan apa-apa –pantas disebut test dadakan sih memang.

Luhan menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Saat ini sudah ada lembaran kertas dengan angka-angka yang rumit didepannya. Seingatnya ia sudah pernah mempelajari materi ini waktu di homeschooling dan untungnya ia masih mengingat kurang lebih sembilan puluh persen. Setidaknya ia bisa mengerjakannya dengan sedikit tenang, tidak seperti siswa lain yang tanpa sepengetahuan gurunya mengedarkan pandangannya kesana dan kesini untuk meminta jawaban.

"Waktunya tinggal lima menit lagi." Desahan frustasi kembali terdengar dipenjuru kelas. Tapi untungnya Luhan telah selesai mengerjakan dan kembali mengecek jawabannya. Luhan sedikit melirik kearah kirinya, teman sebangkunya itu hanya mengerjakan sekitar lima soal dari sepuluh soal yang diberikan, Luhan pun tak yakin lima soal itu benar semua jawabannya, terlihat seperti coret-coretan angka yang abstrak.

"Baik. Kumpulkan." Lee Seonsaengnim mulai menarik kertas-kertas jawaban dari meja para siswa. Beberapa siswa ada yang mengeluh, ada juga yang pasrah, bahkan ada juga yang frustasi sampai menjambaki rambutnya sendiri –hell.

"Kalian tenang saja, test ini hanya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan kalian. Tidak masuk dalam daftar nilai." Guru berambut abu-abu yang mulai memutih itu mulai memeriksa kerjaan para siswa. Dan sekitar lima belas menit para siswa menanti hasil nilai mereka.

"Baik. Saya akan umumkan hasil nilai yang tertinggi dan terendah dahulu," Lelaki itu melirik kertas dengan kacamata bulat yang bertengger dimatanya. "Xi Luhan," Beliau menatap penjuru kelas, "Ada yang bernama Xi Luhan disini?". Merasa terpanggil Luhan langsung mengangkat tangannya, "Kau murid baru?" Lelaki tua itu kembali bertanya. Luhan mengangguk pelan, "Selamat. Kau mendapat nilai tertinggi. 98." Ucap Lee Seonsaengnim seraya tersenyum dan sambil menyerahkan kertas testnya yang sudah dibubuhi nilai kepada Luhan. Hati Luhan bangga bukan main mendengar ia mendapat nilai tertinggi dan teman-teman kelasnya pada bertepuk tangan, kemudian segera berjalan kedepan kelas untuk mengambil kertas hasil jerih payahnya.

"Selamat, Lu. Kau yang terbaik." Ucap Baekhyun sambil mencolek bahu teman didepannya. Luhan menoleh kebelakang dan tersenyum manis kemudian menggumamkan 'terima kasih'. Meskipun Baekhyun sering ia sebut gila, tetap saja Baekhyun itu sahabat terbaiknya.

"Dan yang terendah," Suara Lee Seonsaengnim kembali terdengar dan guru itu mengembuskan nafasnya perlahan. "Oh Sehun. 20."

Luhan menutup mulutnya yang menganga, What the– 20?! Dia bahkan belum pernah seumur hidupnya mendapat nilai serendah dan senista itu. Sementara teman sebangkunya dengan muka datarnya tanpa perasaan sedih mengambil kertas testnya dari tangan Lee Seonsaengnim. Jika Luhan yang mendapat nilai segitu, ia jamin tidak akan makan selama tiga hari tiga malam dan menutup diri dikamar selama tujuh hari tujuh malam –oke ini lebay.

Lee Seonsaengnim kembali membagikan hasil nilai para siswa yang lain yang tidak mendapat nilai tertinggi dan terendah. Sementara Luhan masih dalam pemikirinnya hingga suara guru tua itu terdengar (lagi), "Baik. Karena Xi Luhan duduk sebangku dengan Oh Sehun," Lelaki tua itu menatap Luhan, "Xi Luhan, kau bisa mengajari Sehun diluar jam sekolah?"

Luhan segera menutup mulutnya yang sempat terbuka itu. Dia shock, jelas. Tapi dalam pikirannya, kenapa bisa secepat ini?! Ini bahkan baru hari kedua Luhan bersekolah dan Luhan belum mempersiapka– "Setiap hari?" Rasa kagetnya bertambah dua kali lipat, What the hell! Setiap hari?!. Luhan menahan nafasnya, masih kaku untuk sekedar mengangguk atau apa. Dipikirannya saat ini adalah, apa jadinya ia mengajari Sehun setiap hari; berarti ia akan bertatap muka atau mungkin berdua dengan Sehun setiap harinya yang bahkan saat ini mereka lalui dengan kecanggungan–oke mungkin hanya Luhan yang merasa canggung. Tapi– "Karena guru disini juga sudah memutuskan, kalian tidak hanya belajar kimia, tapi juga pelajaran lain mengingat dipelajaran lain nilai Sehun juga rendah." Perkataan gurunya yang ini tidak begitu membuat Luhan shock.

Tapi dan tapi Luhan juga tidak boleh menyianyiakan kesempatan mendapat nilai A bahkan A+ yang pernah Baekhyun katakan sebelumnya. 'Arghh' Luhan menggeram frustasi didalam hatinya. Dengan tekad kuat ia menatap Lee Seonsaengnim yang menatapnya dengan air muka penuh harap dan akhirnya ia mengangguk pelan. Lelaki tua itu menghembuskan nafasnya lega merasa urusannya telah sedikit terselesaikan.

"Baiklah waktunya tinggal tiga menit lagi dan kalian boleh bersiap-siap untuk pulang." Ucap lelaki tua itu sambil mengecek jam tangannya. "Dan Xi Luhan, malam ini kau bisa menjadi teman belajar Sehun 'kan?"

Oh. My. God.

Luhan merasa ia akan ditelan bumi sekarang.


To Be Continued


Hey-hey balik lagi nih di chapt 2! gimana-gimana? iya aku tau kok membosankan -_,- aku yang bikin aja bosan sendiri.

jadi intinya dichapt ini, sebenarnya Sehun gimana? nah ada yang bisa nebak ga?

aku juga minta kritik/saran/masukan/cuap-cuap atau apa aja deh di kotak review, boleh kan?

berani baca berani ngereview dong ya~ pake guest jg boleh kokk, sedih atuh yg baca banyak yg ngeripiu dikit