Matahari sedikit demi sedikit menghilang dari peraduannya, langit jingga dihadapannya menyadarkan Luhan kepada sesuatu. Ini sudah jam setengah enam sore dan berarti setidaknya sekitar beberapa jam lagi akan memulai sesuatu yang akan menjadi 'ritual harian'nya dengan anak berkulit pucat itu. Semua warga sekolah mulai berhamburan keluar menuju tempat tinggalnya masing-masing, sementara Luhan mengedarkan pandangannya mencari tubuh tinggi tegap proposional yang selama ini agak mengusik pikirannya. Ah itu dia!

Puk

Luhan memukul pelan bahu lebar dihadapannya, sementara laki-laki dihadapannya yang akan memasang helm mengurungkan niatnya dan menolehkan kepalanya kebelakang. Ia sedikit terkejut walaupun tidak tercetak jelas diwajahnya, namun kembali mengingat perkataan gurunya tadi dan dia tahu alasan Luhan mendatanginya.

"Ada apa?" –Hanya sedikit menunjukkan 'kesopanan' agar tidak terlihat geer tak apa 'kan?

"Lee Seonsaengnim menyuruh kita belajar bersama."

"Aku sudah tahu, lalu?"

Luhan menggaruk tengkuknya canggung, "Eung, jadi kita belajar dimana? Dirumahku atau dirumahmu?"

"Terserahmu. Aku sih tidak masal–"

"Dirumahmu saja, ya. Soalnya orang tuaku tidak mengizinkan orang asing berkunjung."

Sehun berdecak sebal, jadi untuk apa ia dengan sangat bodohnya menanyakan pilihan jika pada akhirnya memaksa satu pilihan. Juga sedikit tersinggung saat Luhan dengan tidak langsung mengatakan bahwa dirinya merupakan orang asing sementara mereka adalah teman sebangku, walaupun baru dua hari.

"Baiklah."

"Eh, tunggu," Luhan menahan pergerakan laki-laki dihadapannya yang akan kembali memasang helmnya, "Lee Seonsaengnim menyuruh kita belajar bersama malam ini." Sehun dengan pandangan malasnya berusaha untuk memperhatikan omongan Luhan yang sepertinya tidak jauh berbeda dengan ucapannya yang tadi. "Dan aku belum tahu alamatmu." Ucap Luhan diakhiri tatapan polosnya yang membuat Sehun ingin memakannya hidup-hidup. Eh?

"Berhubung sekarang menjelang malam, kau bisa ikut aku."

"T-tapi supirku akan menjemp–"

"Kau bisa mengiriminya pesan 'kan?"

Luhan langsung menutup mulutnya yang sedikit terbuka kemudian langsung mengangguk cepat sebelum memposisikan badannya dibelakang Sehun untuk diboncengi.

"Eh t-tunggu!" ucapan Luhan kembali memberhentikan pergerakan lelaki didepannya yang akan menginjak gas motornya.
Sehun menghela napas malas kemudian sedikit menolehkan kepalanya kebelakang, "Apa lagi?"

"Helm untukku?"

"Aku tidak pernah mengajak seseorang menaiki motorku sebelumnya, jadi aku tidak bawa helm cadangan." Sehun kembali melanjutkan pekerjaan menghidupkan motor besarnya, "Berharap saja tidak ada polisi lalu lintas."

Semburat merah sedikit tercetak di pipi mulusnya. Seumur hidupnya tujuh belas tahun, ini kali pertamanya ia menaiki motor dan berposisi sedikit intim dengan seseorang kecuali orang tuanya, bahkan ia dapat menghirup aroma mint yang berasal dari tubuh lelaki didepannya. Dan lagi, perkataan Sehun barusan –yang merupakan ucapan terpanjang Sehun yang pernah Luhan dengar– membuat wajah Luhan tambah memerah dan mengulum senyumnya, berarti dia merupakan orang pertama yang diboncengi Sehun 'kan? Jantungnya seperti akan jatuh kedasar perutnya, Luhan tidak tahu gejala dari penyakit apa ini, tapi yang pasti Luhan senang memiliki penyakit ini, Owh. Tiba-tiba motor besar Sehun bergerak dengan kelajuan yang sedikit cepat membuat Luhan sedikit limbung dan secara refleks memegang sedikit erat ujung baju seragam Sehun.

Title : Oh My Unexpected Love!

Author : hunhankid

Main Cast(s) : Xi Luhan, Oh Sehun

Pairing(s) : HunHan, ChanBaek

Genre : School-life, Drama, Romance

WARNING SHOUNEN AI/BOYSLOVE!

Motor Sehun berhenti disebuah restoran Perancis didaerah Sinsa-dong yang sedikit jauh dari letak sekolah mereka. Luhan tahu tempat ini, restoran keluarga Baekhyun. Ya–keluarga Baekhyun memiliki usaha restoran Perancis. Tapi bukan itu yang Luhan pikirkan saat ini. Ia berharap semoga Baekhyun tidak datang ke restoran –yang katanya merupakan kesehariannya berkunjung dan menikmati makanan Perancis yang dibuat ibunya–. Dengan begitu kupingnya tidak panas mendengar ocehan atau bahkan godaan Baekhyun karena ia sedang bersama Sehun saat ini. Semoga begitu.

"Kau tidak turun?" Sehun bertanya kepada Luhan yang masih duduk dimotornya dengan alis yang berkerut. Luhan tersentak dari lamunannya dan langsung menurunkan badannya dari motor besar Sehun, "E-eh, aku tunggu disini saja."

"Berhubung ini sudah setengah tujuh lebih baik kita makan malam disini."

"Aku tidak usah makan."

"Kau yakin? Ditempat tinggalku tidak ada makanan."

Luhan sedikit bingung dengan perkataan Sehun. Tidak ada makanan? Didengar dari ocehan warga sekolah, Sehun merupakan anak pemilik sekolah, dan dilihat dari penampilannya yang selalu memakai barang branded, orang tua Sehun sepertinya orang yang berada. Kenapa tidak ada makanan? Memang dasar misterius.

"Ya sudah deh." Tapi daripada disini kelaparan dan seperti orang bodoh, mau tak mau Luhan menerima saja tawarana Sehun. Lagian dia sudah sangat kelaparan sekarang mengingat tadi dikantin hanya memakan setengah french fries-nya. Semoga saja si Byun itu tidak ada, ya semoga saja.

"Luhan?" Baru saja Luhan dan Sehun melangkah memasuki restoran, terdengar suara yang familiar, ah, Tuhan belum mengabulkan doaku.

"Sedang apa kau disini? Bukannya kau bel– Oh Sehun?" Mata Baekhyun menangkap seseorang dibelakang Luhan. "Bagaimana bisa kalian bersama?"

"T-tentu saja kami mau makan." Luhan menjawab dengan nada gugup. Baekhyun yang tampaknya sudah mengetahui situasinya pun kemudian mengangguk dan menatap Luhan dengan tatapan 'kau-harus-menjelaskannya-nanti'.

Baekhyun kemudian berdehem pelan, "Baiklah. Sehun kau mau pesan apa?"

"Aku Confit de canard dan lemon tea saja."

"Kau, Luhan?"

Luhan berpikir sejenak, sudah lama dia tidak datang ke restoran Baekhyun, mungkin sekitar tiga bulan yang lalu. Apalagi nama menunya yang ribet membuat Luhan tidak dapat mengingat satupun.

"Bisa kau rekomendasikan?"

"Karena sekarang musim dingin orang banyak memesan Bouillabaisse."

"Ya sudah aku itu saja, dan coklat panas."

"Baiklah kalian cari tempat duduk dan aku akan memesannya."

Luhan memakan dengan lahap makanan didepannya, "Wah. Ini benar-benar enak, Baek."

Sementara Baekhyun yang didepannya hanya mendengus, "Cepat habiskan dan ceritakan padaku." Luhan hanya mengangguk kemudian memakan makanannya lagi.

"Kau ini tidak tahu diri, Lu. Membiarkan Sehun makan sendiri disana. Calon pacar macam apa kau!"

Luhan tersedak sup Bouillabaisse-nya dan mendelik kearah Baekhyun, "Aku bukan pacarnya!"

Baekhyun memutar bola matanya malas, "Well. Tadi aku berkata 'calon pacar'," Sementara Luhan hanya mengedikkan bahunya acuh dan menyesap coklat panasnya.

"Lalu, bagaimana kalian bisa bersama?" Baekhyun memulai pembicaraannya dengan Luhan yang telah selesai menyantap makanannya.

Akhirnya Luhan mau tak mau menceritakan bagaimana ia bisa bersama seorang Oh Sehun kepada sahabatnya yang sangat menyukai gosip yang bahkan tidak berhubungan dan tidak bermanfaat untuknya. Entahlah.

"Sedikit aneh Oh Sehun menawarimu tumpangan." Baekhyun meletakkan tangannya didagu sebagai penyangga wajahnya, "Atau jangan-jangan ia menyukaimu!" Baekhyun berbicara dengan sedikit keras menyebabkan Luhan harus menutup mulutnya dengan tangannya dan meringis pelan. "Pelan-pelan, bodoh!" Kemudian pandangannya beralih kearah pemuda berkulit pucat yang masih memakan makanannya dengan tenang.

Baekhyun tertawa kecil dan melepaskan tangan Luhan dibibirnya, namun tak lama kemudian seringaian menggodanya kembali tercetak diwajah manisnya. "Calon suami pewaris tunggal Oh Corporation, eh?"

"Oh Corporation?" Luhan mengernyitkan dahinya, ia sepertinya pernah mendengarkan nama itu saat orang tuanya sedang membicarakan tentang bisnis kerjasamanya, entah bisnis apa Luhan tidak mengerti dan tidak mau tahu juga pada saat itu.

"Oh iya aku belum menceritakannya padamu," Baekhyun mengubah posisi duduknya menjadi lebih rileks, "Sehun itu pewaris tunggal Oh Corporation."

"Eh?" Dahi Luhan kembali berkerut, "Bukankah kau bilang dia anak pemilik sekolah?"

"Ya–memang. Itu salah satu milik Oh Corporation." Baekhyun mengedikkan bahunya, "Dia sangat kaya, kau tahu. Orang tuanya memiliki setengah dari Korea Selatan."

Baekhyun melirik Sehun sebentar memastikan ia tidak tahu pembicaraannya dengan Luhan dan berbisik kepada Luhan, "Dan kau sangat beruntung jika menjadi calon menantu Presdir Oh Corporation."

"Yak! Apa-apaan kau!"

~o0o~

Butir-butir salju mulai kembali turun setelah meninggalkan lelehan-lelehan es beberapa saat lalu. Luhan mengusap lengannya yang sedikit terbuka dengan maksud menghangatkan badan. Motor Sehun kembali berhenti disebuah kawasan dekat dengan restoran Baekhyun. Ia menatap bangunan elit yang bertingkat dihadapannya, apartemen. Jadi, Sehun tinggal di apartemen? Kenapa dia tidak membeli rumah? Bukankah ia memiliki setengah Korea Selatan? Lagi-lagi Luhan dibingungkan dengan segala keanehan yang Sehun punya. Dan juga ia merutuki otaknya yang tak ada habis-habisnya memikirkan semua tentang Sehun dan rasa penasarannya yang meledak-ledak.

"Kau tinggal di apartemen?" Tanya Luhan penasaran, kemudian Sehun hanya membalas dengan gumaman pelan dan berjalan menuju pintu masuk meninggalkan Luhan. Luhan mendengus dan mengangkat bahunya acuh kemudian memilih mengekori Sehun.

Disini mereka, diruangan yang terletak di lantai 17. Ruangannya cukup luas namun tetap sempit jika ditinggal oleh keluarga Sehun yang notabenenya pemilik Oh Corporation yang setahu Luhan bergerak dalam berbagai bidang industri bahkan nonindustri tersebut. Dan juga setelah ditelusuri, Luhan tidak menemukan siapapun yang berada diruangan itu, mungkin orang tuanya kerja, bisa jadi. Tapi masa tidak ada maid atau siapapun?

"Kau tinggal sendiri?" Luhan memilih to the point.

"Hn." Lagi-lagi Sehun membalas dengan gumaman malas.

"Dimana keluargamu?"

"Tidak ada."

"Tidak ada?"

"Hn."

"Bagaimana bisa? Katanya kau anak pemilik sek–"

"Bisa kau duduk dan diam?" Sehun menunjuk sofa di ruang tengah dengan dagunya, "Aku ingin mandi sebentar."

Luhan kemudian berdecak sebal merasa diabaikan oleh Sehun dan memilih mendudukkan bokongnya di sofa empuk itu.

Sekitar lima belas menit Luhan menunggu, kemudian Sehun datang dan duduk dihadapannya dengan pakaian yang kasual, hanya t-shirt berwarna abu-abu dan celana hitam longgar diatas lutut. Rambut brunette-nya yang basah dibiarkan acak-acakan. Luhan terpana melihatnya, bagaimana seseorang bisa begitu tampan hanya memakai pakaian rumahan? Namun ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya kearah lain dan meyakinkan bahwa dirinya jauh lebih tampan.

Luhan berdehem, "Jadi kita akan belajar apa?"

Sehun tidak menjawab dan hanya menatap Luhan dengan tatapan datarnya. Merasa ditatap seperti itu, akhirnya Luhan kembali berdehem dan mengalihkan pandangannya. "Baiklah. Mungkin matematika lebih baik." Ia mengeluarkan buku pelajaran matematikanya dan membuka halaman demi halaman, "Mana yang kau tidak bisa?"

Sehun lagi lagi tidak menjawab. Lama kelamaan Luhan jengah juga, "Apa yang ini kau bisa?"

Luhan menatap Sehun dengan kesal, "Kau ini belum gosok gigi ya?! Jawab dong!"

Akhirnya Sehun membalasnya dengan malas, "Tidak."

"Kalau yang ini?"

"Tidak."

"Yang ini?"

"Tidak."

"Baiklah, ini yang paling mudah. Yang ini?"

"Tidak."

"Lalu apa yang kau bisa?!" Luhan memukul mejanya dengan sedikit keras. Nafasnya tersengal-sengal menandakan bahwa dia sedang emosi. Sedangkan lelaki dihadapannya hanya menatapnya datar, "Tidak ada."

Luhan menghirup nafas dalam-dalam dan menstabilkan emosinya, "Baiklah. Aku akan menjelaskanmu. Dari awal." Ucap Luhan final.

Sekitar satu jam Luhan mengajarkan Sehun beberapa materi dari awal dan Sehun hanya memandangnya datar tanpa berniat. Seolah masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri, Sehun hanya memperhatikan pergerakan mulut Luhan yang terlihat sangat cepat tampak ingin segera mengakhiri pembelajaran ini.

"Kau memperhatikanku tidak sih?!"

"Hn."

"Sudahlah. Aku capek bicara dengan robot sepertimu." Luhan lagi-lagi menghela napas kesal, "Lebih baik sekarang kau kerjakan soal ini dan aku akan memeriksanya nanti." Luhan mengeluarkan handphone dan headsetnya dari tasnya bermaksud ingin mendengarkan lagu dan mengalihkan pandangannya keluar jendela, salju belum berhenti turun.

Sementara lelaki pucat dihadapannya masih berkutat dengan soal-soal yang tadi ia berikan. Luhan memperhatikan wajah dihadapannya yang tampak serius walaupun tetap tidak berekspresi. Pikirannya kembali melayang ke beberapa jam lalu saat ia menemukan Sehun membaca buku di perpustakaan sekolah.

"Tadi pagi aku melihatmu membaca buku diperpustakaan." Luhan menyerah, ia sudah terlalu penasaran dengan semua ini.

Pergerakan Sehun terhenti, matanya beralih menatap Luhan dengan pandangan was-was.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan?" Luhan bertanya dengan hati-hati, "Maksudku, aku tahu kau sedang membaca. Tapi kau selalu bersantai ketika pelajaran berlangsung dan juga nilaimu.." Luhan berhenti sejenak berusaha mencari kata-kata yang tepat agar setidaknya Sehun tidak tersinggung, "Rendah. Ehm, maksudku sedikit tidak bagus. Dan mungkin akan bagus jika kau mau mengubahnya," Namun ia yakin Sehun pasti tersinggung.

Sehun memilih bungkam, ia memilih memperhatikan Luhan yang tampak ingin melanjutkan pembicaraannya, "Bagaimana ya menjelaskannya–" Pemuda cantik itu menggaruk belakang telinganya yang tak gatal, "Apa yang kau baca?"

Pemuda yang lebih tinggi mengalihkan pandangannya kearah lain, "Apa kau perlu tahu?"

Luhan mengerjapkan matanya dua kali dan tertawa canggung, "Ah–ya aku tidak perlu tahu. Tapi.." Luhan menunduk dan mengecilkan suaranya, "Sedikit penasaran."

"Oh atau jangan-jangan kau membaca novel romansa atau semacamnya, iya kan?!"

Dahi Sehun berkerut, apa pantas ia dengan muka sangarnya membaca novel romansa? Yang benar saja!

Hening beberapa saat, hanya suara jarum jam yang berdetak halus namun sedikit memecahkan kesunyian itu. Tidak mendapat respon, lelaki manis yang menunduk itu mencoba mendongakkan kepalanya dan matanya bertubrukan dengan mata setajam elang yang menatapnya intens. Ia ingin mengalihkan pandangannya kearah lain namun matanya tetap terpaku pada mata pemuda dihadapannya ini.

"Sudah selesai bicaranya?"

"Eh?"

"Kalau sudah. Biarkan aku kembali mengerjakan tugasmu."

Luhan meringis pelan dan kemudian terdiam, ia membiarkan pemuda berkulit pucat itu mengerjakan tugas darinya. Entah kenapa hatinya sedikit sakit mendengar respon Sehun yang terkesan 'mengabaikannya'. Dalam hati Luhan juga merutuki habis-habisan mulutnya yang berbicara tanpa disaring terlebih dahulu. Ia yakin, Sehun pasti sangat tersinggung dengan ucapannya yang tadi.

Tiga puluh menit berlalu dan Luhan sekarang sedang memeriksa hasil kerjaan teman sebangkunya. Luhan menghela napas lelah, lagi-lagi Sehun seperti ini.

"Hanya benar satu dari lima soal."

"Sebenarnya apa yang kau kerjakan? Bahkan aku sudah menjelaskan sebelumnya dengan detail." Luhan memijat pelipisnya, "Baiklah. Mungkin kita bisa lanjutkan besok."

Luhan memasukkan barang-barangnya ketasnya. Ia berdiri dan menyampirkan tasnya dibahu, mengutak-atik handphonenya dan menempelkannya kedaun telinga.

"Cheon Ahjussi? Bisa kau jemput aku di apartemen daerah Sinsa-dong? Aku baru selesai belajar bersama dengan temanku."

"..."

"Ah, anakmu masuk rumah sakit?"

"..."

"Baiklah."

Luhan meringis pelan, satu-satunya supir pribadinya tidak bisa menjemputnya karena anaknya masuk rumah sakit entah kenapa. Pandangannya tertuju pada jendela besar di apartemen Sehun. Salju itu belum berhenti, bahkan mungkin sekarang lebih parah melihat pepohonan yang bergoyang-goyang dikarenakan kencangnya angin. Luhan memandang ngeri. Ia bisa saja pulang naik bis atau taksi tapi masalahnya ia bahkan takut untuk keluar barang sejengkalpun dari gedung apartemen ini.

Dan jika orang tuanya menanyakan keadaannya Luhan bisa memakai alasan menginap dirumah temannya karena terjebak badai salju. Oke–ini tidak sepenuhnya mengada-ngada, tapi masalahnya memangnya mau pemuda berkulit pucat itu mengizinkan Luhan menginap disini? Dan Luhan terlalu gengsi untuk menanyakan hal itu pada Sehun, okay. Sikap pemuda tampan itu bahkan mengacuhkannya, dan perlu diketahui Luhan sangat benci diacuhkan. Harga dirinya bahkan sudah sedikit direndahkan oleh Sehun. Kesal, marah, malu campur aduk menjadi satu.

Dengan penuh keberanian, Luhan sudah memilih pilihannya yang satu ini. "Aku pulang." Ucapnya pamit pada Sehun. Ya. Pulang mungkin menjadi pilihan yang paling baik saat ini. Masa bodoh dengan badai salju atau semacamnya, ia tetap akan pulang. Dan semoga saja diluar sana nanti ada bebarapa taksi yang lewat.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan ia sudah menunggu taksi kurang lebih satu jam. Tidak ada taksi yang lewat bahkan kendaraan lainpun. Ia sudah menggigil kedinginan. Tubuhnya tak tahan dingin. Kepalanya sudah sangat berat saat ini. Timbul bintik-bintik merah pada kulitnya dan bibir yang biasanya berwarna merah delima itupun kini memucat. Tubuhnya sudah limbung beberapa kali namun ia berusaha untuk menjaga keseimbangannya. Sampai pada saat ia menemukan seorang pemuda yang berjalan kearahnya,

"S-Sehun.."

Brukk

Tubuhnya jatuh seketika.

~o0o~

Luhan mengerjapkan matanya berusaha menetralkan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar dikepalanya. Ia mencoba merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku dan mengedarkan pandangannya kepenjuru ruangan. Dahinya mengernyit bingung, ini bukan kamarnya. Ia berusaha bangkit sambil memegangi kepalanya, tiba-tiba pandangannya terarah kesebuah gundukan berlapis selimut diatas sofa. Mencoba mendekat, dan menyibakkan sedikit selimut yang menutupinya. Kepala seseorang itu terlihat, dia Oh Sehun. Luhan kembali mengingat tadi ia sempat tidak sadarkan diri ditengah badai salju. Wajahnya memanas dan semburat kemerahan yang terlihat sedikit tidak jelas dibawah temaramnya lampu. Berarti Sehun tadi mengangkatnya dan membawanya ke apartemennya yang berada dilantai 17. Luhan panik seketika, apakah Sehun keberatan membawanya? Well–lantai 17 itu sedikit jauh dan sedikit lama, apalagi Luhan menyadari bahwa ia sedikit gemuk sekarang mengingat ia tidak bisa mengendalikan nafsu makannya yang meledak-ledak.

Luhan menggeleng kepalanya frustasi, selama ini ia sudah sangat percaya diri menganggap dirinya yang paling tampan. Tapi entah kenapa ketika bersama Oh Sehun, ia merasa minder sendiri. Tubuh Sehun lebih tinggi dan tegap darinya, rahangnya lebih tegas seperti pria dewasa, tatapan matanya yang setajam elang, dan masih banyak hal-hal lainnya yang membuat Luhan iri dan terpesona diwaktu yang bersamaan. Ia tidak bisa memungkiri, berada diruangan yang sama dengan Oh Sehun, hanya berdua. Walaupun yang satu mungkin sedang menjelajah mimpi, tapi penyakit jantung itu selalu muncul ketika ia dekat dengan Sehun, dimanapun dan kapanpun asalkan pemuda pucat itu berada.

Ia mengecek jam weker dinakas samping tempat tidur, pukul 01.00 dini hari. Mungkin ia harus segera tidur sekarang. Namun sesuatu disamping jam weker itu menarik perhatiannya, terdapat foto seorang gadis tengah tersenyum sambil memegang bunga ditangan kanannya. Sangat cantik. Gadis itu tidak seperti gadis asia pada umumnya, hidungnya mancung, dagunya runcing, dan iris matanya berwarna kecoklatan. Seperti gadis Eropa.

Tapi... siapa?

Kekasihnya?

Well–dia bisa menanyakannya pada Sehun besok. Walaupun hatinya entah kenapa berdenyut sakit membayangkan Sehun akan menjawab 'ya, dia kekasihku.' Atau 'dia tunanganku.'. Luhan membaringkan dirinya dikasur sambil mendengus kesal. Kesal pada otaknya yang tidak pernah berhenti memikirkannya, kesal pada penyakit jantungnya yang selalu timbul saat bersamanya, kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa menunjukkan sikap 'manly'nya ke Sehun. Menyebalkan.

~o0o~

Pemuda mungil dibangunkan oleh aroma khas masakan yang berasal dari dapur. Ia mengerjapkan dan mengucek matanya sekilas membiasakan cahaya yang masuk. Dirinya melirik kearah jam weker, pukul setengah enam pagi. Ia menyibakkan selimutnya dan berjalan dengan langkah gontai kearah sumber aroma, sesekali menguap.

"Wah, kau sedang apa?" Luhan melihat punggung pemuda itu dari belakang, tampak ia sedang memasak sesuatu.

Lagi, lagi, dan lagi. Ia tidak mendapat respon. Luhan berdehem pelan, mencoba membiasakan dirinya yang mungkin akan menjadi kesehariannya nanti. Entah mengapa Luhan merasa menjadi Baekhyun yang 'kritis' jika sedang dekat-dekat dengan Sehun.

"Apa yang kau masak?" Ia mendudukkan tubuhnya dikursi meja makan dan menopang dagunya. Sehun mengangkat panci penggorengan dan memindahkan isinya ke dua piring dihadapan Luhan.

"Kau bisa masak nasi goreng? Hebat! Bahkan aku tidak bisa menghidupkan kompor." Luhan berceloteh sambil menjilat bibirnya sendiri.

"Diam dan makanlah." Ucap Sehun sambil mengeluarkan sesuatu berbentuk roti bulat dari microwave.

Luhan menyuapkan satu sendok nasi goreng dan kembali berceloteh, tak mengindahkan ucapan Sehun yang menyuruhnya diam, "Wahh, ini sangat lezat! Dan apa itu?" Ia menunjuk roti bulat itu dengan sendoknya.

"Croissant."

"Apa? Makanan apa itu?"

"Croissant. Roti Perancis."

"Kau juga bisa membuatnya? Wah kau benar-benar hebat!"

Sehun berdecak sebal menanggapi ocehan Luhan yang tidak ada habis-habisnya, "Tidak. Aku beli di toko roti kemarin." Pemuda yang lebih tinggi mendudukkan dirinya dihadapan Luhan dan mulai memakan nasi goreng buatannya.

"Sepertinya kau sangat terobsesi dengan makanan Perancis." Ucap Luhan sambil mengunyah makanannya. Mengingat kemarin Sehun 'mentraktirnya' makan di restoran Perancis, sepertinya ia sudah banyak mengetahui menu-menu makanan Perancis yang menurut Luhan sangat aneh. Bahkan ia mengucapkannya dengan sangat lancar tanpa keragu-raguan.

"Oh iya, Sehun. Terimakasih sudah mengizinkanku menginap disini."

"Aku tidak mengizinkanmu."

"Eh?"

"Itu hanya terpaksa. Aku hanya tidak mau dianggap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab."

Luhan terdiam, ia melanjutkan kunyahan makanannya. Hatinya sedikit sakit mendengar perkataan Sehun yang ternyata ia terpaksa melakukannya. Entah kenapa Luhan ingin Sehun melakukannya dari hati. Ha.

Luhan meringis pelan, "Maaf, aku pasti sangat berat."

"Sangat."

Hening beberapa saat. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring kaca. Luhan benar-benar tidak tahan keheningan. Mungkin karena ia sudah terbiasa memiliki teman yang banyak bicara, seperti Baekhyun contohnya, ia jadi tidak menyukai keheningan. Mungkin jika dia sedang bersama Baekhyun, Baekhyun-lah satu-satunya pemasok bahan obrolan terbanyak, tapi disini ia bersama Sehun. Luhan bersama Sehun. Mau tak mau ia yang harus berusaha menghilangkan kecanggungan diantara mereka.

"Ngomong-ngomong, foto perempuan dinakasmu itu.. siapa?" Luhan berbicara dengan hati-hati, "Kekasihmu?" Tanyanya dengan setengah hati.

Sehun menghela napas dan menatap Luhan intens, "Mengapa kau sangat ingin tahu?"

"Hanya.. penasaran." Diam beberapa saat, "Aku ini orangnya penasaran dengan hal-hal baru." Dengan cepat Luhan menimpal takut pemuda albino itu berpikiran yang tidak-tidak tentangnya. Naif, heum?

"Memangnya ada urusannya denganmu?"

"Tentu saja! Kau kan teman sebangkuku, dan kita berteman sekarang!" Luhan menggigiti roti Perancis yang sekarang ia sudah lupa namanya itu dengan kesal.

"Tapi sepertinya perempuan itu bukan orang Asia, apa benar?"

"Ya, begitulah."

"Oh! Atau jangan-jangan dia itu orang Perancis, maka dari itu kau sering memakan-makanan Perancis untuk sekedar menghilangkan rasa rindumu dengan kekasihmu yang tinggal di Perancis itu."

Sehun bungkam, tebakan Luhan memang tidak sepenuhnya benar, tapi...

"Cepat habiskan makanmu dan kita akan bersiap-siap ke sekolah." Sehun berjalan kearah kamarnya meninggalkan Luhan yang termangu.

'Apa-apaan dia itu!' Umpat Luhan dalam hati.

To Be Continued

OMAKE

Sehun memandang keluar jendela beberapa kali. Pikirannya tidak bisa lepas dari teman belajarnya itu. Badai salju sedang terjadi diluar sana. Dan Sehun tidak bodoh untuk menyimpulkan percakapan ditelepon antara Luhan dengan supir pribadinya itu. Intinya, supirnya tidak bisa menjemputnya. Teman sebangku yang merangkap jadi teman belajarnya itu dengan sok kuatnya menerjang badai salju yang ia yakini pasti tidak akan ada taxi yang lewat. Jika ia menaiki bus pun ia harus berjalan sejauh 300 meter dari gedung apartemennya. Ia sangat dilema sekarang, haruskah ia menghampirinya dan menawarkan tumpangan tidur diapartemennya? Yang benar saja! Sikapnya selama ini sudah terkesan mengacuhkan Luhan dan sekarang ia dengan kebaikan hatinya menawarkan tumpangan? Sangat lucu memang, otaknya memerintahkan untuk membiarkan saja pemuda cantik itu menunggu diluar, tapi hatinya menyuruhnya untuk menawarkan tumpangan barang sehari.

Otaknya berdebat dengan hatinya selama beberapa menit. Mungkin sekedar melihat keadaan anak itu tak apa 'kan?

Ok, kali ini hatinya memenangkan perdebatan konflik batin yang sangat rumit. Mungkin hanya melihat tak apa, ya tak apa.

Selama perjalanan dari lantai 17 menuju kelantai 1, otaknya memikirkan beberapa jawaban dari pertanyaan yang mungkin nanti akan Luhan tanyakan padanya. Ya semoga saja tidak yang aneh-aneh.

Ia melihat keluar gedung apartemen, angin kencang menerpa tubuhnya dan hawa dingin menyeruak kepermukaan kulit pucatnya. Bagaimana anak itu bisa bertahan dalam cuaca yang seperti ini?

Ia mengedarkan pandangannya kepenjuru sudut, obsidiannya yang kecoklatan itu menangkap seorang pemuda mungil yang memakai seragam sekolahnya. Ia yakin itu pasti Luhan. Tubuh mungilnya tampak terombang-ambing dan seperti akan roboh.

Haruskah ia menghampirinya?

Tidak.

.

Ya.

.

Tidak.
.

Persetan dengan kegengsian atau harga diri apalah itu, harga dirinya sudah jatuh semenjak ia memutuskan untuk melihat keadaan Luhan diluar gedung apartemen. Kaki panjangnya dengan cepat berjalan kearah pemuda cantik itu. Mungkin menyadari kehadirannya, pemuda cantik itu mendongak dengan mata yang setengah terpejam dan bibir yang bergetar.

"S-Sehun..."

Brukk.

Sehun dengan sigap menangkap tubuh Luhan yang ambruk seketika. Ia menepuk pelan pipi dinginnya berusaha untuk menyadarkan Luhan dari pingsannya, namun Luhan tidak bergeming. Ini sudah keputusannya, dan ia harus bertanggung jawab. Mau tak mau berjongkok dan memindahkan tubuh pemuda mungil itu di punggungnya dan menyampirkan lengannya ditengkuk Sehun.

Bagaimanapun Luhan itu masa lalunya.

.

.

.

Hallooo... kembali lg di chapter tiga yang makin absurd duh. Semoga betah deh yaa bacanyaa.

Daan di chapter ini full hunhan moment, yaa mungkin Baek nyempil dikit gapapa kali yaa...

Pengennya sih naikkin rating, tp takut pada ga setuju, juga blm pernah buat adegan seks eksplisit sebelumnya:( sebenernya pengennya readerdeul gimana, ya aku usahain.

Mungkin nunggu review sampe 50 dulu baru lanjut?

Salam anak hunhan.