TEACHER
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance, Friendship
WARNING!
BOYS LOVE
BAHASA VULGAR, TIDAK COCOK UNTUK ANAK DI BAWAH UMUR!
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
I get scared when I wonder if this is love...
.
.
Jam pelajaran sudah habis, Donghae memanfaatkan waktu luangnya di ruang kerjanya sambil membaca beberapa buku tentang kedokteran. Entahlah, akhir-akhir ini Donghae mulai tertarik dengan dunia kedokteran. Jam menunjukan pukul empat lewat, tapi Donghae belum memasukan apapun ke dalam perutnya. Kejadian hari ini di kelas membuat Donghae kehilangan nafsu makannya, bagaimana tidak? Ada seorang murid yang—sebenarnya—sexy menggodanya. Sebenarnya, kejadian seperti tadi pagi itu adalah hal yang biasa bagi Donghae tapi yang menjadi luar biasa adalah murid yang menggodanya tadi bertingkah seperti penggoda ulung dan hampir saja membuat Donghae jatuh terperosok ke dalam pesonanya.
Sial! Kenapa dia harus semempesona itu?
"Jangan melamun!"
"Sialan!"
Donghae berjengit kaget saat Yunho tiba-tiba muncul dan melemparkan setumpukan dokumen ke mejanya. Ck, dasar berusang kasar!
"Ini dokumen tentang murid bernama Lee Hyukjae dari kelas 2-2, teman-temannya biasa memanggilnya Eunhyuk. Baca dan pelajari."
"Memangnya kenapa dengan Lee Hyukjae?"
"Dia murid yang harus diawasi, tahun lalu dia ketahuan merokok di toilet sekolah oleh pengawas asrama. Akhir-akhir ini dia tampak tidak melakukan kenakalan apapun, tapi kau harus tetap mengawasinya dan pastikan kau menerima laporan dari pengawas asrama secara berkala. Oh iya, dia tinggal di asrama A, ketua asramanya bernama Park Yoochun dari kelas 3-1."
"Aku baru mengajar di sini dan kau sudah memberiku tugas yang berat."
"Bagaimanapun kau wali kelasnya dan harus kau tahu, kalau kau bisa membuatnya kembali berprestasi di kelas maka kepala sekolah akan merekomendasikanmu ke kepala yayasan untuk menjadi guru tetap di sini."
"Wow. Okay baiklah, akan aku lakukan."
Donghae menghela nafas panjang begitu Yunho pergi. Bisakah Donghae mengendalikan murid yang satu itu? Tadi pagi saja tingkahnya sudah seperti setan penggoda. Baiklah, selamat datang hari-hari yang sulit dan penuh masalah. Dengan berat hati, Donghae mulai membaca dokumen yang di serahkan Yunho barusan. Baru membaca satu paragraf, Donghae sudah di buat tercengang.
Merokok...
Mabuk...
Mengendarai mobil dengan ugal-ugalan...
"Wah, benar-benar titisan setan. Bagaimana bisa ada murid seliar ini?"
Selama berkarir menjadi guru, baru kali ini Donghae menemui murid macam Eunhyuk. Kenakalan yang dilakukannya berbeda dengan remaja umumnya, dia bahkan sudah berani mabuk dan merokok di usianya yang baru delapanbelas tahun tapi setidaknya dia tidak—atau belum—menggunakan obat-obatan terlarang. Di paragraf selanjutnya, Donghae membaca riwayat prestasinya. Di sana tertulis bahwa Eunhyuk adalah atlet sepak bola terbaik yang dimiliki Empire dan pencetak gol terbanyak di timnya, untuk yang satu itu Donghae bersedia mengacungkan jempol untuknya. Yang membuat Donghae heran adalah, kenapa murid berprestasi seperti Eunhyuk malah terlibat banyak kenakalan? Well, itu adalah tugasnya untuk mencari tahu.
Baiklah, hari sudah hampir gelap dan hari pertama Donghae mengajar bisa di bilang sukses tanpa hambatan. Ya, kecuali untuk godaan muridnya tadi pagi. Hampir saja Donghae tergoda. Donghae membereskan meja kerjanya dan membawa dokumen tentang Eunhyuk bersamanya, rencananya Donghae akan kembali membacanya di rumah. Mungkin jika di baca di rumah dalam keadaan tenang, Donghae bisa menemukan pencerahan untuk menemukan cara mengendalikan murid yang satu itu.
Saat berjalan menuju parkiran di belakang gedung sekolah, Donghae melewati gedung asrama A. Sempat terlintas di kepalanya untuk melihat-lihat keadaan asrama, tapi baru juga satu langkah masuk ia melihat sosok Eunhyuk sedang mengendap-endap keluar dari kamarnya. Donghae melirik jam tangannya sekilas, hampir pukul tujuh. Seharusnya Eunhyuk berada di kantin untuk makan malam dan bukannya mengendap-endap keluar dari kamarnya seperti itu.
"Lee Hyukjae!"
"Oh, ya Tuhan! Saem, kau membuatku kaget!"
"Ketahuan mengendap-endap seperti pencuri dan masih berani mengeluh? Kau minta sekali di hukum!"
Donghae pikir, ia sudah berhasil mengancam Eunhyuk dan membuatnya terpojok tapi yang terjadi adalah justru Eunhyuk tersenyum menantang dan melangkah maju mendekati Donghae yang berdiri mematung di depan pintu kamar Eunhyuk.
"Aku suka di hukum, Saem. Dan sudah aku bilang, panggil aku Eunhyuk."
Posisi Donghae sekarang benar-benar berbahaya dan akan mengundang kesalahpahaman bagi siapapun yang melihat posisi mereka sekarang. Eunhyuk terus saja merapatkan dirinya pada Donghae, saat Donghae berusaha memberi jarak Eunhyuk malah menarik dasi yang dikenakan Donghae sehingga Donghae tidak bisa bergerak dan posisi mereka menjadi sangat berbahaya. Terkutuklah kau dasi sialan! Ingatkan Donghae agar tidak memakai dasi besok!
"Ups, sepertinya pengawas asrama datang untuk berkeliling."
Eunhyuk membuat suaranya mendayu sambil menunjuk ke salah satu sudut dimana sorot lampu senter mengarah, dalam hitungan tiga mungkin kita akan melihat sosok pengawas asrama dan celakalah mereka. Tanpa berpikir panjang, Donghae mendorong Eunhyuk kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Keadaannya terjepit dan Donghae merasa bodoh saat melihat Eunhyuk mentertawakan ekspresi ketakutannya, sial! Ini hari pertamanya mengajar dan kalau sampai ketahuan berada di asrama muridnya malam-malam begini, ia akan di investigasi dan posisinya akan terancam.
"Wajah panikmu benar-benar lucu, Saem."
"Diam, kau!"
"Bukankah kau mau mengukumku? Aku sudah siap."
Dengan gaya yang seduktif, Eunhyuk merentangkan tangannya seolah pasrah jikalau Donghae mau berbuat apapun padanya.
"Kau benar-benar perlu didikan yang tegas. Dengar, aku gurumu dan kau muridku jadi berhentilah bertingkah seperti seorang penggoda!"
Setelah berkata demikian, Donghae berbalik hendak membuka pintu dan meninggalkan kamar Eunhyuk. Sialnya, jemari halus Eunhyuk menarik lengan Donghae sebelum ia sempat menyentuh kenop pintu dan membuatnya kembali berbalik menghadap Eunhyuk. Masih dengan senyum yang sama, Eunhyuk menatap Donghae semakin dalam.
"Mau kemana? Keluar dari kamar murid di jam seperti ini hanya akan membuat posisimu semakin sulit. Pengawas asrama berjaga di pintu keluar, satu-satunya cara supaya kau bisa keluar dari sini hanya menunggu sampai dini hari saat pengawas asrama tertidur pulas."
Sial! Sial! Sial!
Entah dosa apa yang telah Donghae lakukan di masa lalu hingga membuatnya terjebak bersama muridnya yang menyebalkan ini. Donghae duduk pasrah di sofa yang menghadap ke tempat tidur bertumpuk dua itu, kepalanya mendadak pusing dan berat. Hari pertamanya di Dongdaemun bagaikan mimpi buruk berkepanjangan.
"Mau minum, Saem?"
"Tidak perlu!"
"Baiklah."
Mata hazel Donghae memperhatikan gerak-gerik Eunhyuk yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya, tak lama kemudian ponselnya berdering dan Eunhyuk langsung mengangkat panggilan teleponnya dengan wajah sumringah.
"Junsu? Hm, ya sebaiknya kau menginap di kamar Yoochun Sunbae malam ini. Kau merindukan kekasihmu, bukan? Menginaplah di sana, jangan khawatir padaku. Tidak, aku tidak akan pergi kemanapun."
Pergi?
Ternyata selain suka merokok dan mabuk Eunhyuk juga suka keluar dari asrama diam-diam. Donghae kehilangan kata-katanya, Eunhyuk benar-benar membutuhkan arahan khusus rupanya.
"Kau sering keluar asrama diam-diam?"
Donghae langsung mengajukan pertanyaan sesaat setelah Eunhyuk menutup teleponnya. Perbuatannya tidak bisa dibiarkan, anak ini benar-benar harus di hukum agar jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.
"Ya, sesekali."
"Akan kupastikan besok kau mendapatkan pemberitahuan skorsing Lee Hyukjae!"
Eunhyuk berdecih. "Bagus sekali, dengan begitu kau dan aku bisa di skors bersama dan menghabiskan waktu luang bersama."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan mengadukan tentang hari ini pada kepala sekolah. Begini, ada seorang guru masuk ke kamar muridnya di jam malam dan baru keluar dini hari. Siapa yang tahu apa yang telah kita lakukan bersama semalaman, di ruang tertutup."
Mengancam rupanya, Donghae tersenyum meremehkan Eunhyuk yang sedang memasang wajah kemenangannya. Sudah bertingkah seperti penggoda sekarang mengancam guru pula, anak ini benar-benar memiliki masa depan yang suram.
"Kau pikir ancamanmu akan berhasil? Perlu kau tahu, semua guru di sini memiliki catatan kenakalanmu dan kau masih berpikir mereka akan mempercayai kata-katamu?"
"Hm, kau sangat menarik. Kau tahu semua kenakalanku? Ah, Jung Sonsaengnim pasti membeberkan semuanya padamu bukan? Ck, kalau saja dia tidak punya istri dia pasti sudah jadi milikku."
"Kau sudah gila! Temui aku di ruanganku besok pagi, akan kupastikan kau mendapatkan hukumanmu!"
Reaksi Eunhyuk tetap sama sebelumnya, meskipun sudah di ancam akan di hukum dia tetap memasang wajah menggoda dan terus memandangi Donghae dengan tatapan seduktif. Entah apa yang ada di pikirannya, Eunhyuk tiba-tiba turun dari tempat tidur dan berjalan seduktif menghampiri Donghae yang masih diam duduk di sofa.
"Mau apa?"
"Aku..."
Eunhyuk melangkah mendekati Donghae.
"Ingin..."
Eunhyuk semakin mendekat dan mengelus wajah tampan Donghae.
"Kau berada di atasku malam ini..."
Wajah tenang Donghae hilang sudah, urat-urat di keningnya bermunculan menahan marah. Ini sudah keterlaluan! Eunhyuk adalah muridnya dan masih di bawah umur, apa pantas mulutnya mengatakan hal-hal tidak senonoh seperti itu? Donghae mendorong Eunhyuk yang duduk di pangkuannya dan menyeretnya ke tembok, Donghae kemudian menghimpit tubuh mungil Eunhyuk agar bocah penggoda itu tidak bisa lari kemanapun.
"Dengar, bocah. Kau adalah seorang siswa dari sekolah elit, sebagai wali kelasmu aku memintamu untuk menjaga sikapmu."
Bukannya takut di pelototi oleh Donghae, Eunhyuk malah tersenyum nakal dan sengaja mengangkat lututnya agar bisa bergesekan dengan bagian selatan tubuh Donghae. Jemari nakal Eunhyuk meraih kacamata Donghae dan memakainya, kemudian ia menggigit bibir bawahnya untuk memancing reaksi Donghae.
"Apa yang kau lakukan?"
"Menggodamu."
Tak kunjung mendapatkan reaksi yang diinginkannya, Eunhyuk membalik posisi mereka sehingga Donghae lah yang sekarang bersandar di tembok. Tanpa malu, Eunhyuk menyentuh selangkangan Donghae dengan jemari lentiknya, membuat pola acak untuk membangunkan sesuatu.
"Aku rasa ukuranmu lumayan."
"Sialan!"
Donghae mendesis tidak suka, ia mendorong Eunhyuk dan merebut kacamatanya yang di pakai Eunhyuk tadi. Tanpa berpikir dua kali, Donghae membuka pintu kamar Eunhyuk dan keluar dari neraka jahanam itu. Ia bahkan tidak peduli jika pengawas asrama memergokinya baru keluar dari kamar Eunhyuk.
"Lee Sonsaengnim?"
Jantung Donghae rasanya langsung turun ke bawah begitu mendengar suara pengawas asrama memanggilnya. Padahal tadi ia keluar dari kamar Eunhyuk dengan penuh percaya diri, tapi saat berhadapan dengan pengawas asrma bertempang konyol itu Donghae malah menciut.
"Oh, Ahn Sonsaengnim."
"Kulihat kau tadi baru keluar dari kamar A15, kamarnya Kim Junsu dan Lee Hyukjae. Ada apa?"
"Oh—itu—itu karena Jung Sonsaengnim memintaku untuk mengajar private murid bernama Lee Hyukjae, jadi aku datang ke kamarnya untuk memberikan materi yang dia perlukan untuk belajar sebelum aku pulang.
"Oh begitu? Tapi, apa kau baik-baik saja? Kau berkeringat banyak sekali."
"Itu—itu karena ini musim panas dan aku memang biasa berkeringat banyak saat musim panas."
"Ah, begitu. Kalau begitu selamat jalan Lee Sonsaengnim."
Donghae tersenyum ramah sebelum berjalan terburu-buru meninggalkan gedung asrama, demi Tuhan selangkangannya terasa sangat tidak nyaman!
Kenapa harus tegang di saat seperti ini? Buddy, kau benar-benar tidak tahu tempat!
.
.
Begitu Donghae keluar dari kamarnya dengan sesuatu yang terlanjur tegang, Eunhyuk langsung tertawa terbahak-bahak. Eunhyuk puas sekali melihat tampang konyol Donghae yang—sok—tidak tergoda itu, sudah jelas-jelas dia tergoda tapi masih saja sok kuat. Ini baru permulaan, langkah selanjutnya Eunhyuk akan benar-benar membuat Donghae mengakui kesexyannya. Lihat saja, dalam waktu kurang dari seminggu Eunhyuk akan melihat Donghae berada di atas ranjangnya dan memohon kepadanya agar terus memuaskannya.
Ah, Eunhyuk baru ingat tadi ia menyuruh Junsu menginap di tempat kekasihnya Yoochun karena Eunhyuk pikir malam ini ia akan menghabiskan malam panas bersama guru tampannya, tapi sialnya ia gagal untuk kali ini. Eunhyuk mengambil ponselnya yang tergeletak di tempat tidur dan langsung menghubungi ponsel Junsu, biasanya Junsu belum tidur jadi mungkin Eunhyuk bisa memanggilnya kembali ke kamar karena jujur saja Eunhyuk tidak suka tidur sendirian.
"Ada apa lagi?"
"Galak sekali! Kembalilah ke kamar, aku berubah pikiran."
"Kau takut tidur sendiri, bukan?"
"Jangan banyak tanya dan cepat kembali, pantat bebek!"
"Baiklah wajah jelek!"
Eunhyuk memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit. Kim Junsu sialan! Beraninya dia mengatai Eunhyuk wajah jelek, tidak tahukah dia? Ada banyak laki-laki berkantong tebal yang mengantre untuknya! Sambil menunggu Junsu kembali ke kamar, Eunhyuk membaringkan tubuhnya di kasur sambil memandangi langit-langit tempat tidur Junsu yang berada di atasnya. Saat berhimpitan dengan Donghae tadi, ada rasa yang tidak bisa Eunhyuk jelaskan. Eunhyuk tidak tahu perasaan apa itu, selama ini ia melakukan hal yang lebih dari sekedar berhimpitan tapi tidak pernah merasakan perasaan menggelitik seperti saat bersama Donghae barusan. Tanpa sadar, Eunhyuk menyunggingkan senyumnya. Aneh sekali, saat melihat wajah Donghae dari dekat tadi ia seperti melihat seekor anak anjing yang kehilangan arah. Wajahnya sama sekali tidak terlihat tua dan cenderung lucu seperti anak-anak, menggemaskan sekali.
"Kenapa senyum-senyum? Kau sudah gila?"
Lamunannya tentang Donghae buyar seketika karena suara melengking Junsu tiba-tiba menusuk gendang telinganya. Eunhyuk memperhatikan Junsu dengan seksama, sepertinya ada yang aneh dengan penampilan Junsu. Eunhyuk turun dari tempat tidur lalu menghampiri Junsu dan memincingkan matanya, ada tanda merah di leher Junsu. Nenek pikun juga pasti tahu apa itu, jelas itu adalah bukti Junsu baru saja melakukan sesuatu dengan kekasihnya.
"Eh, lehermu kenapa? Jangan bilang kau dan Yoochun Sunbae sudah melakukannya? Wah, Kim Junsu yang sok lugu dan imut ini sudah berkenalan dengan penisnya Park Yoochun rupanya."
"Auh! Jaga mulutmu Lee Hyukjae! Dengar ya, aku dan Yoochun Hyung tidak melakukan apapun!"
"Berbohong, eh? Lalu kau mau bilang yang ada di lehermu itu gigitan nyamuk? Cih, nyamuk berjidat lebar pasti."
"Sialan! Maksudku, aku dan dia tidak melakukan sejauh itu! Kami hanya—"
"Hanya?"
"Hanya making out, brengsek!"
Eunhyuk merangkul Junsu kemudian membawanya ke sofa, "Setidaknya ada kemajuan! Uh, aku iri padamu."
"Carilah pacar dan berhenti main-main dengan laki-laki hidung belang."
"Akan aku pikirkan soal itu. Hari ini aku mau ke bar, kau tolong carikan alasan untukku jika pengawas asrama tiba-tiba melakukan keliling dadakan. Bye."
"Eunhyuk, tunggu! Aku—hei! Aku belum selesai bicara!"
Setelah gagal merayu gurunya tadi, Eunhyuk jadi bosan dan ingin bermain sebentar di bar. Omelan Junsu ia anggap angin lalu dan pergi begitu saja meninggalkan Junsu yang tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Eunhyuk mengendap-endap ke pintu belakang di dekat ruang mencuci, di sana adalah jalan satu-satu untuk keluar dari asrama tanpa ketahuan kamera pengintai atau pengawas asrama. Sebenarnya, ada tembok besar yang menjadi benteng tapi bagi Eunhyuk yang biasa memanjat, hal itu bukan masalah sama sekali.
Hanya butuh waktu duapuluh menit untuk sampai ke bar tempat biasa ia berkunjung. Sayang sekali malam ini tidak begitu banyak pengunjung, mungkin karena ini hari kerja jadi tamu yang datang tidak sebanyak biasanya di akhir pekan. Begitu masuk, Eunhyuk langsung naik ke lantai dansa dan menari dengan erotis mengikuti hentakan musik. Sorak-sorak pengunjung semakin kencang dan histeris melihat aksi Eunhyuk yang selalu dinantikan oleh mereka. Dari semua penari yang ada di bar ini, hanya Eunhyuk yang mampu menarik perhatian semua pengunjung dengan aksinya yang luar biasa. Dentum musik semakin menghentak dan Eunhyuk semakin liar menari di atas lantai dansa, sesekali ia menarik keatas kaos tipis tanpa lengan yang ia kenakan sehingga teriakan penunjung menjadi semakin meriah.
"Hai, sexy."
Salah seorang penunjung menghampiri Eunhyuk ke lantai dansa dan langsung menempel pada Eunhyuk untuk menari bersamanya. Eunhyuk tersenyum puas, ia tahu betul siapa yang berani mendekatinya sampai seintim ini. Laki-laki tampan berlesung pipi yang rela menghamburkan uangnya demi menghabiskan malam panas bersama Eunhyuk.
"Choi Siwon-ssi, kupikir malam ini kau tidak akan datang."
"Tadinya aku memang tidak akan datang, tapi ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu."
Melihat raut wajah Siwon yang semakin serius, Eunhyuk menghentikan tariannya dan mengikuti langkah Siwon menuju salah satu meja yang terletak di sudut ruangan.
"Aku tidak suka atmosfer seperti ini. Katakan, ada apa sebenarnya?"
"Aku baru tahu ternyata kau masih di bawah umur."
Eunhyuk membulatkan matanya, jantungnya berdegup kencang ketika mata mereka bertemu. Awalnya Eunhyuk pikir Siwon akan langsung marah, tapi ternyata laki-laki tampan itu hanya tersenyum menunjukan kedua lesung pipinya.
"Tidak apa-apa, kau tidak usah takut. Aku tidak akan mengatakan apa-apa soal ini, tapi aku rasa sudah saatnya kita untuk berpisah."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan menikah dengan seseorang yang sangat aku cintai dua bulan lagi, jadi aku memutuskan untuk berhenti datang ke bar dan meninggalkan dunia malam demi calon istriku."
Aneh sekali, pengakuan Siwon barusan sedikit membuat Eunhyuk kecewa. Meskipun status mereka hanya partner yang saling menguntungkan, tapi Eunhyuk merasa nyaman saat berada di dekat Siwon. Selain urusan sex, Siwon adalah laki-laki yang baik dan sosok yang sangat menyenangkan untuk di ajak bicara. Wawasannya luas, Eunhyuk bisa membicarakan apapun dengannya dan mereka tidak pernah kehabisan topik pembicaraan.
"Berbahagialah."
"Kau juga. Aku harap kau bisa meninggalkan dunia malam seperti ini dan mulai menemukan seseorang yang sangat mencintaimu, kau tahu? Kau adalah laki-laki yang sangat layak untuk dicintai."
Untuk terakhir kalinya, Siwon memeluk Eunhyuk. Menenggelamkan sosok mungil itu dalam dekapannya yang hangat. Eunhyuk tidak biasa sentimentil, ia tidak menangis dan tidak cengeng tapi kali ini ia merasa perasaannya hangat dan sedikit terharu saat Siwon memeluknya seperti ini. Untuk pertama kalinya Eunhyuk merasa dicintai dan disayangi.
"Bagaimana kau tahu aku di bawah umur?"
"Sekolah cabang Empire mengirimi data murid-murid ke sekolah pusat, saat aku memeriksanya ada namamu tertera di sana."
"Kau seorang guru di Empire?"
"Hm. Ngomong-ngomong, kau terlihat seperti adikku saat kita berpelukan tadi. Baiklah, aku pergi duluan. Ingat pesanku, segeralah tinggalkan dunia malam dan temukan belahan jiwamu."
Eunhyuk mengangguk pasrah saat pelukan mereka terlepas, pandangan Eunhyuk tidak bisa berpaling dari punggung tegap Siwon yang perlahan mulai hilang dari pandangannya di telan gelapnya malam. Eunhyuk ingat, pertama kali bertemu dengan Siwon adalah saat usianya baru berusia tujuhbelas tahun. Bisa di bilang, perkenalan mereka berawal dari one night stand. Tahun lalu, Eunhyuk pertama kali datang ke bar ini dan langsung bertemu dengan Siwon yang saat itu sedang mabuk berat. Perkenalan mereka berawal dari Siwon yang merasa tertarik dengan tarian Eunhyuk, dia bilang Eunhyuk adalah penari yang hebat. Berawal dari pembicaraan soal tarian, lama-lama merembet ke pembicaraan yang lain dan mereka mulai mabuk. Eunhyuk yang sudah kenal alkohol sejak usia limabelas tahun, sama sekali tidak mengalami kesulitan saat mengimbangi Siwon minum. Setelah sama-sama mabuk berat, entah bagaimana caranya mereka sampai ke ranjang dan yang Eunhyuk ingat sampai saat ini adalah Siwon yang tersenyum saat pertama kali Eunhyuk membuka matanya di pagi hari.
Selamat tinggal...
.
.
ooODEOoo
"Kau tertangkap kamera pengintai masuk ke gedung asrama A di malam hari, apa yang terjadi?"
"Oh—itu, aku datang untuk memberitahu Lee Hyukjae soal belajar private denganku di akhir pekan. Bukankah kau yang memintaku untuk membuatnya kembali berprestasi? Aku hanya datang ke kamarnya untuk berdiskusi dan selesai."
"Baguslah. Lain kali, kau jangan datang ke asrama siswa di jam mencurigakan seperti itu. Gossip tentangmu sempat beredar, tapi untunglah kepala sekolah menyukaimu sehingga dia tidak membesar-besarkan masalah ini."
"Maafkan aku."
Donghae menghembuskan nafas panjang setelah Yunho pergi, demi Tuhan ini pertama kalinya Donghae berbohong pada Yunho. Aneh, Donghae merasa tidak melakukan apapun yang salah tapi kenapa ia berbohong? Seharusnya kalau memang ia tidak melakukan apapun, katakan saja sejujurnya dan tidak perlu bohong seperti tadi. Ah, Eunhyuk benar-benar merusaknya!
"Pagi, Saem."
"Duduklah."
Seperti yang sudah di janjikan kemarin, Eunhyuk datang tepat setelah bel istirahat berbunyi. Ada yang aneh dengan bocah penggoda itu hari ini, jika biasanya Eunhyuk selalu berkata seduktif dan selalu memandangi Donghae dengan tatapan mesum, hari ini dia tertunduk lesu seperti tidak bersemangat. Apa dia kerasukan sesuatu? Mata hazel Donghae memperhatikan Eunhyuk dari atas sampai bawah, seperti biasanya Eunhyuk berpakaian tidak rapi dan dasinya menggantung begitu saja tanpa terikat dengan benar. Inisiatif, Donghae berdiri dan membetulkan dasi Eunhyuk serta mengancingkan kancing kemejanya yang tidak terkancing dengan benar.
"Pertama, aku ingin menanyakan soal kenapa kau kabur dari asrama malam-malam dan pergi kemana?"
"Hanya pergi bersenang-senang dengan teman."
"Pacar maksudmu? Pergi kemana kalian?"
"Sudah aku bilang dia hanya seorang teman! Soal kami pergi kemana itu bukan urusanmu, Saem."
Donghae berdecih, "Aku ini wali kelasmu! Baiklah, tidak masalah kalau kau tidak menjawab pertanyaanku. Sekarang, aku ingin kau mengerjakan soal-soal ini dan setiap akhir pekan kau harus datang ke rumahku untuk pelajaran tambahan. Ini surat panggilan untuk orangtuamu, pastikan kau memberikannya. Kalau kau berani tidak datang dan membuang surat itu, hukumanmu akan bertambah lagi. Paham?"
"Sudah selesai? Aku masih banyak urusan. Permisi, Lee Sonsaengnim."
Setelah mengambil lembaran kertas soal dan surat panggilan orangtua yang diberikan Donghae, Eunhyuk pergi meninggalkan ruangan Donghae begitu saja. Bukannya berharap, tapi Donghae hanya merasa heran saja kenapa Eunhyuk tidak menggodanya hari ini? Bahkan tadi Donghae sempat mengikatkan dasinya tapi tidak ada reaksi apapun dari Eunhyuk. Aneh bukan? Tunggu, yang aneh itu Donghae! Kenapa ia tiba-tiba memikirkan godaan Eunhyuk? Donghae menggelengkan kepalanya pelan, sial! Ia sudah terkontaminasi oleh Eunhyuk. Untuk menyadarkan kembali pikirannya yang sudah tercemar oleh Eunhyuk, Donghae memilih untuk menghabiskan waktu istirahatnya di atap gedung sekolah sebelum masuk kelas untuk mengajar di jam pelajaran terakhir nanti. Kebiasaan lama saat di sekolah pusat, Donghae akan ke atap sekolah saat pikirannya terganggu dan merasa tertekan. Melihat pemandangan dari gedung tinggi dan merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya, sangat membantu Donghae untuk mengembalikan semangatnya.
Ingat niat awal Donghae naik ke atap apa? Menjernihkan pikirannya. Tapi ketika Donghae baru sampai di atap, ia melihat Eunhyuk sedang berjongkok di sudut sambil memeluk kedua lututnya. Ck, orang yang mencemari pikiran Donghae malah berada di tempat yang seharusnya bisa menjernihkan pikiran Donghae. Mau tidak mau, Donghae menghampiri Eunhyuk untuk melihat keadaannya. Hanya berjaga-jaga, siapa tahu dia sakit.
"Kau sakit?"
Eunhyuk mendongakan kepalanya, ia menggeleng pelan. Melihat raut wajah Eunhyuk yang tidak biasa, Donghae yakin ada sesuatu yang tidak beres. Sebenarnya, Donghae tidak mau tahu atau turut campur masalah Eunhyuk tapi sebagai wali kelas Donghae tidak mungkin mengacuhkannya. Meskipun Eunhyuk murid yang nakal dan selalu menggodanya, Donghae tetap harus bertanggungjawab padanya sebagai wali kelasnya.
"Hm. Sakit sekali."
"Kau tidak enak badan?"
Donghae berjongkok di samping Eunhyuk untuk memeriksa suhu tubuhnya, ia membuat Eunhyuk berhadapan dengannya kemudian ia mulai menyentuh kening Eunhyuk. Donghae merasakan suhu tubuh Eunhyuk dengan telapak tangannya, kemudian ia menyentuh keningnya sendiri. Tidak ada yang salah dengan suhu tubuh Eunhyuk, semuanya tampak baik-baik saja.
"Bukan di situ, di sini."
Eunhyuk membawa telapak tangan Donghae untuk menyentuh dada sebelah kirinya. Tanpa harus di beritahu lagi pun Donghae sudah tahu penyebab Eunhyuk tidak bersemangat pagi ini, patah hati rupanya. Si penggoda ulung yang terlihat menyebalkan sepanjang hari itu bisa juga patah hati ternyata. Tanpa maksud mentertawakannya, Donghae tersenyum kecil. Wajar sekali anak-anak seumuran Eunhyuk mengalami yang namanya patah hati, dulu saat Donghae mengajar di sekolah pusat ada banyak siswa yang datang padanya hanya untuk sekedar mencurahkan isi hatinya.
"Kau patah hati rupanya, pantas kurang semangat. Putus dengan pacarmu, eh?"
"Sudah aku bilang dia bukan pacarku, Saem! Dia hanya seseorang yang membuatku nyaman, tidak ada ikatan apa-apa di antara kami. Dia akan menikah dengan orang lain, tapi entah kenapa aku tidak bisa berbahagia untuknya. Aku bodoh, ya? Kami menjalani hubungan tanpa status tapi aku terlalu banyak berharap padanya."
Diam-diam, Donghae merasa iba pada Eunhyuk. Donghae tahu betul bagaimana perasaan Eunhyuk sekarang ini karena Donghae juga pernah mengalami hal yang sama. Di tinggalkan menikah oleh orang yang kita sayangi, bukanlah hal yang baik. Donghae mendesah pelan, pasti berat sekali mengalami hal seperti ini di usia semuda Eunhyuk.
"Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu sekarang."
"Maksudmu?"
"Orang yang aku cintai juga akan menikahi orang lain."
Eunhyuk terkekeh, raut wajah murung yang tadi ia tunjukan sirna entah kemana.
"Aku di tinggalkan karena aku dan dia memiliki perbedaan umur yang jauh. Dia bekerja dan aku masih sekolah, wajar. Kalau kau? Aku yakin, kau di tolak pasti karena kau adalah laki-laki yang membosankan."
Sial! Donghae sungguh tidak suka mendengar nada bicara Eunhyuk yang sok menang itu.
"Bicara yang sopan pada gurumu, Eunhyuk!"
"Aih manisnya, kau mulai memanggilku Eunhyuk. Bagaimana? Mau belajar menjadi laki-laki menyenangkan bersamaku? Kau tidak perlu membayarku dengan uang, cukup berada di atasku dan—"
"Dan cukup!"
"Kau tidak pernah di goda orang sebelumnya, ya? Atau datang ke bar mungkin?"
"Aku tidak punya waktu untuk datang ke tempat seperti itu! Ada banyak tumpukan kertas di rumahku yang harus aku baca dan pelajari."
"Padahal wajahmu cukup tampan dan tubuhmu juga lumayan sexy, kenapa tidak dimanfaatkan untuk menggaet seseorang? Pemuas nafsu misalnya?"
Jari telunjuk Eunhyuk menelusuri lekuk wajah Donghae dengan kurang ajarnya, ia seperti tidak punya batasan antara guru dan murid. Donghae berdecih tidak suka dan menyingkirkan telunjuk Eunhyuk dari wajahnya.
"Perhatikan sikapmu, bocah!"
Dia mulai lagi! Bocah penggoda...
Eunhyuk terkekeh melihat reaksi Donghae, kapanpun dia bereaksi pasti tampangnya sangat lucu dan menggemaskan. Ada sesuatu dari Donghae yang membuat Eunhyuk tertarik padanya, tatapan matanya. Entah kenapa Eunhyuk suka kapanpun Donghae menatapnya dengan tatapan sendu, mata cokelat hazelnya seperti berbinar terang mirip mata seorang bayi. Tatapan mata Donghae sangat teduh dan menenangkan, untuk pertama kalinya Eunhyuk merasa terpesona pada mata seseorang.
"Matamu indah, Saem."
"Apa?"
"Matamu bersinar, seperti mata seorang bayi."
Lagi-lagi Donghae berdecak, "Terima kasih, tapi apa kau selalu memuji orang dengan terang-terang seperti itu? Kuperhatikan sikapmu ini blak-blakan sekali."
"Memangnya salah? Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan. Suka ya suka, benci ya benci. Dan ngomong-ngomong, apa kau memang selalu sok akrab dengan muridmu seperti ini?"
"Ya, karena murid-muridku selalu datang padaku untuk berkonsultasi. Entah itu soal pelajaran, pacar atau masalah keluarga mereka selalu datang dan meminta solusi padaku. Aku ini guru yang populer, kau tahu?"
"Saem, apa kau tidak ada jadwal mengajar? Kita hampir berjam-jam berada di sini."
"Tidak ada."
"Tapi aku ada, bagaimana ini? Aku telat masuk kelas Jung Sonsaengnim karena melayanimu."
"Apa?"
"Permisi, Saem."
"Hei! Dasar kau bocah mesum!"
Donghae memijit pelan pelipisnya selepas Eunhyuk pergi, bocah penggoda itu suka sekali menggodanya dan menganggu pikirannya. Sebenarnya dia itu anak manusia atau setan? Tingkahnya menyebalkan sekali dan susah di atur.
Bocah sialan!
.
.
"Hei, Bitch! Baru melayani pelangganmu di atap, eh?"
Hanya tinggal selangkah lagi Eunhyuk menapaki lantai dasar dan tiba-tiba suara seseorang menginterupsi langkahnya. Tanpa berbalikpun Eunhyuk sudah tahu siapa yang berani memanggilnya dengan sebutan seperti itu, Eunhyuk menyeringai lalu berbalik menatap kakak kelasnya yang berwajah manis itu. Manis tapi kelakuannya seperti ular.
"Oh, hei jalang senang bertemu denganmu. Maaf mengecewakanmu, tapi aku baru saja konseling dengan wali kelasku di atap untuk masalah pelajaran tambahan bukan melayaninya. Dengar ya jalang, aku ini bukan kau yang selalu membuka paha untuk sembarang orang dan melakukannya di sembarang tempat."
"Aku ingin tahu, apa raut wajahmu masih akan semenyebalkan itu saat orangtuamu tahu kelakuanmu yang sebenarnya."
"Dan aku juga ingin tahu, apa yang akan dilakukan Cho Kyuhyun saat dia tahu kekasihnya yang manis dan imut ini pernah bercinta dengan Kim Jungmo Sunbae-nim di atap gedung asrama."
Bola mata laki-laki berwajah manis itu bergerak liar, ia tidak menyangka perbuatannya waktu itu ketahuan oleh Eunhyuk. Laki-laki berwajah manis itu mendekati Eunhyuk dan mempersempit jarak di antara mereka, jemarinya mencengkram kerah baju Eunhyuk hingga membuat Eunhyuk mendongak.
"Perhatikan cara bicaramu, Bitch! Aku ini kakak kelasmu!"
Eunhyuk mendorong laki-laki itu hingga terjerembab, ia sungguh tidak suka ketika orang lain memperlakukannya dengan seenak pantatnya.
"Dan aku mohon padamu, Sunbae. Tolong jaga cara bicaramu juga. Dasar jalang!"
Sebelum meninggalkan tempat itu Eunhyuk melihat Donghae sekilas, ia yakin Donghae mendengar semua percakapannya dengan Lee Sungmin barusan. Sial, tamat sudah riwayatnya. Eunhyuk bahkan belum memikirkan cara bagaimana untuk menghindari hukuman Donghae dan sekarang masalah bertambah lagi. Well, selamat datang hukuman selanjutnya.
Setelah berbicara dengan Sungmin barusan, suasana hatinya jadi kacau dan Eunhyuk tidak lagi berniat untuk mengikuti kelas Jung Sonsaengnim. Dengan langkah tergesa-gesa, Eunhyuk masuk ke gedung asrama sambil memereteli kancing kemejanya sementara ia berjalan menuju kamarnya. Saat suasana hatinya sedang kacau, Eunhyuk lebih suka datang ke bar dan bersenang-senang di sana.
"Kau mau kemana?"
Baru keluar satu langkah dari kamarnya, ia melihat Yoochun si ketua asrama yang—sengaja—menghalangi jalannya.
"Ada urusan penting."
"Lee Hyukjae! Kau tidak bisa meninggalkan asrama seenaknya!"
"Maaf, Sunbae tapi aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk berdebat denganmu."
"Lee Hyukjae, akan ku pastikan orangtuamu tahu soal ini!"
"Terserah, lakukan sesukamu karena aku tidak peduli. Permisi."
Nafas Eunhyuk tersengal sambil berjalan menyusuri koridor. Takut, Eunhyuk benar-benar takut dengan ancaman Yoochun barusan tapi suasana hatinya sedang kacau dan pikirannya menjadi tidak tentu. Tanpa menghiraukan panggilan Yoochun yang terus meneriakan namanya, Eunhyuk terus melangkah menjauhi gedung asrama.
Dengan pakaian seadanya—kaos tanpa lengan dan celana pendek selutut—Eunhyuk memasuki bar langganannya tanpa mempedulikan mata-mata mesum yang memandanginya dengan lapar. Malam ini Eunhyuk ingin berpesta dan melupakan semua masalahnya. Dentuman musik langsung menyapa gendang telinga Eunhyuk, tidak seperti biasanya yang langsung naik ke lantai dansa kali ini Eunhyuk hanya duduk diam di meja paling sudut dan memanggil pelayan untuk memberinya sebotol Soju.
"Maaf, bisa kau tunjukan kartu identitasmu sebelum aku mengantarkan minuman untukmu?"
"Apa? Kau sudah gila? Aku pelanggan di sini! Kenapa tiba-tiba memintaku untuk menunjukan kartu identitas?"
"Akhir-akhir ini ada polisi yang mengawasi bar kami, jadi kami hanya ingin memastikan tidak ada anak di bawah umur yang datang ke sini."
"Brengsek!"
Eunhyuk meninggalkan mejanya dan keluar dari bar dengan perasaan yang luar biasa kesal. Apa hari ini adalah semacam hari sialnya atau apa? Hatinya masih membara karena hinaan Sungmin tadi dan sekarang tempatnya melepas penat malah membuatnya kesal juga. Sekarang, Eunhyuk tidak tahu harus kemana. Kalau pulang ke asrama sekarang, maka nyawanya akan dihabisi hari ini juga oleh Yoochun tapi kalau pulang ke rumah orangtuanya, mereka pasti panik dan bertanya ini itu. Eunhyuk menghela nafas panjang, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan saja di sekitar sungai Han sambil menunggu tengah malam tiba.
"Hei, sexy mau menghisap milikku?"
Lihat, sekarang ada segerombolan remaja sialan mengelilinginya. Hari ini benar-benar hari sial Eunhyuk.
"Maaf, tapi aku hanya menghisap penis milik orang yang berkantung tebal. Tidak seperti kalian yang kelihatan miskin."
"Sombong sekali!"
Salah seorang dari keempat remaja laki-laki itu menarik kaos Eunhyuk dan mengepalkan tangannya hendak memukul wajah Eunhyuk, dengan sigap Eunhyuk menangkisnya dan memukul wajah laki-laki itu duluan. Hei, jangan pikir Eunhyuk tidak bisa melakukan apapun. Berkelahi juga menjadi salah satu hobinya dan perlu diingat, Eunhyuk pernah mengikuti kelas Taekwondo sampai sabuk hitam. Orangtua Eunhyuk kaya raya, tentu saja mereka akan menyekolahkan anaknya dimana-mana. Dari kelas bela diri, musik, tari sampai kelas bahasa pernah Eunhyuk ikuti. Hanya empat orang, bukan masalah besar bagi Eunhyuk yang pernah melawan sepuluh orang sekaligus sendirian.
"Berhenti! Angkat tangan kalian!"
Shit! Polisi!
Belum sempat melarikan diri, Eunhyuk dan keempat remaja yang menyerangnya tadi sudah di tangkap oleh polisi. Mereka langsung di giring ke kantor polisi dan tentu saja polisi langsung memanggil orangtua mereka masing-masing karena mereka semua masih di bawah umur.
"Siapa namamu dan berikan kami kontak orangtuamu, kami akan menghubungi mereka."
"Kenapa jadi aku yang salah? Mereka duluan yang menyerangku! Aku hanya berjalan-jalan dan tiba-tiba mereka menghadangku!"
"Jawab saja pertanyaanku atau kau akan ku jebloskan ke penjara, bocah!"
Eunhyuk menghela nafas kesal, sial sekali harus berurusan dengan polisi menyebalkan macam ini.
"Lee Hyukjae, delapanbelas tahun bersekolah di Empire!"
"Berikan aku nomor ponsel orangtuamu."
"Mereka sibuk."
"Kalau begitu berikan nomor ponsel wali kelasmu."
Karena polisi sialan itu terus-menerus memaksa, akhirnya Eunhyuk memberikan nomor ponsel Donghae yang ia dapat dari Yunho. Yunho bilang, wajib baginya untuk menyimpan nomor ponsel Donghae dan ya, ternyata memang benar berguna. Di saat terjepit seperti ini, Eunhyuk hanya perlu memberikan nomor ponsel Donghae sebagai wali kelasnya dan masalah selesai.
Tak lama setelah polisi itu berbincang dengan Donghae di telepon, Donghae datang dengan piyama berwarna biru dan blazer tipis yang—mungkin—ia gunakan untuk menyamarkan piayamanya. Anehnya, Donghae masih menggunakan sandal rumah jadi apa gunanya blazer itu kalau Donghae lupa memakai sepatunya? Lucu sekali. Wajahnya luar biasa panik seperti baru menerima kabar kematian, bahkan pandangannya tidak fokus ke satu arah saking paniknya. Ada apa dengan ekspresi itu? Bukankah harusnya sebagai guru dia sudah terbiasa dengan keadaan ini? Terlebih dia seorang guru yang mengajar di sekolah khusus laki-laki. Tunggu, jangan bilang semua muridnya adalah murid baik-baik? Eunhyuk berdecih, di dunia ini mana ada murid yang baik merata. Setidaknya pasti ada satu atau dua yang badung.
"Aku Lee Donghae, wali kelas Lee Hyukjae. Ada apa kau memanggilku kemari malam-malam?"
"Kau lihat saja keadaan muridmu itu, dia berkelahi melawan empat orang sekaligus."
"Apa?"
Eunhyuk mengalihkan pandangannya enggan menatap Donghae yang sedang memandanginya dari atas sampai ke bawah. Sial! Tatapannya membuat Eunhyuk seolah-olah korban pengeroyokan, padahal Eunhyuklah yang telah menghajar keempat orang itu hingga babak belur, sementara Eunhyuk hanya mengalami luka-luka kecil di sudut bibirnya dan kepalanya yang sempat terantuk batu saat salah seorang dari preman-preman itu mendorongnya hingga terjerembab.
"Bukankah Empire adalah sekolah elit ternama? Kenapa bisa ada seorang siswa yang berkeliaran di jam seperti ini?"
"Maaf pak, mungkin pengawasan kami kurang ketat. Sekarang apa yang harus aku lakukan untuk membawa anak ini pulang?"
"Tanda tangan di sini, surat ini akan menjadi jaminan. Kalau dia melakukan kesalahan yang sama, terpaksa kami menindak lanjuti perbuatannya."
Setelah menandatangani dokumen yang diserahkan polisi tadi, Donghae membungkuk hormat dan langsung membawa Eunhyuk pergi dari situ. Donghae berani bersumpah! Ini adalah pertama kalinya ia masuk ke kantor polisi.
"Terima kasih kau mau datang untukku."
"Dengar ya bocah nakal, akan kupastikan kau tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi! Besok kau harus menjalankan hukumanmu dan aku akan mengadukan semua perbuatanmu ini pada orang tuamu! Sekarang, ayo pulang ke asrama!"
Eunhyuk meringis kecil saat Donghae menarik tangannya dan menyeretnya masuk ke dalam mobil Donghae. Tampangnya saja lembut, tapi perlakuannya kasar sekali!
"Tidak bisakah kau membawaku pulang ke rumahmu hari ini saja? Jika aku pulang sekarang, pengawas asrama akan menghukumku dan besok aku juga harus menerima hukumanmu. Aku lelah, tidak bisakah kau membiarkan aku menjalani hukuman dalam sehari saja? Setidaknya jika aku pulang besok, hukumanku akan terasa lebih ringan meskipun sebenarnya sama saja beratnya."
Diam-diam Eunhyuk memperhatikan raut wajah Donghae yang tampak sedang berpikir tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan. Eunhyuk tahu, Donghae adalah laki-laki yang baik jadi sudah seharusnya Eunhyuk menunjukan sisi lemahnya untuk memanfaatkan kebaikan gurunya yang satu ini. Jahat memang, tapi ini adalah satu-satu cara bagi Eunhyuk untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Kau pasti masih kaget karena masuk kantor polisi tadi, baiklah kuijinkan hanya sehari ini saja."
Kaget katanya? Eunhyuk tersenyum meremehkan dalam hati. Yang benar saja! Eunhyuk pernah masuk ke kantor polisi beberapa kali saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, bukan hal yang baru bagi Eunhyuk. Donghae dan orangtuanya sama saja! Naif dan terlalu berpikiran positif.
Dasar bodoh!
.
.
Perlu diketahui, hari ini untuk pertama kalinya Donghae masuk ke kantor polisi dan berurusan dengan polisi karena salah satu muridnya yang 'istimewa' ini berulah dijalanan. Donghae panik saat mendapat telepon dari polisi dan mengatakan bahwa muridnya di tahan karena kepergok sedang berkelahi di jalan. Tanpa banyak berpikir, Donghae melesat keluar dari apartemennya bahkan tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu dan hanya memakai sandal rumah. Jika bukan karena jalanan yang sepi dan jarak yang dekat, Donghae mungkin sudah mati karena tadi ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang luar biasa.
"Apa semua ini berkaitan dengan pertengkaranmu dan Lee Sungmin tadi siang?"
Sambil mengobati luka-luka Eunhyuk di dalam rumah pribadinya, Donghae mengorek informasi dari Eunhyuk. Sebagai wali kelas, Donghae harus tahu penyebab perkelahian Eunhyuk dan keempat preman barusan. Terlebih karena Donghae tahu, Eunhyuk sempat adu mulut dengan Sungmin sebelum dia kabur dari asrama. Donghae memang tidak mendengar begitu jelas apa yang mereka bicarakan, yang dapat Donghae dengar jelas hanyalah makian Sungmin dan Eunhyuk yang mengatai satu sama lain dengan sebutan Bitch dan jalang. Anak jaman sekarang, bicaranya tidak di saring dan di ayak.
"Aku tidak mengenal preman-preman itu. Mengenai Sungmin Sunbae, aku memang sering bertengkar dengannya. Aw! Sakit, Saem. Lebih lembut sedikit!"
"Apa sebabnya? Ck, aku baru menyentuhnya sedikit dan kau sudah mengeluh berlebihan."
"Sebabnya sepele, kami pernah menyukai orang yang sama. Saem! Ku bilang lebih lembut sedikit, kasar sekali!"
"Ya Tuhan! Aku hanya menekannya sedikit!"
Hening.
Donghae dan Eunhyuk saling beradu pandang. Sepertinya ada yang salah dengan dialog mereka barusan, entah telinga Donghae yang mesum atau memang dialog mereka sedikit ambigu? Donghae menggeleng pelan, ia memutuskan kontak matanya dengan Eunhyuk dan kembali fokus mengobati luka-luka di wajah Eunhyuk.
"Kenapa memandangiku seperti tadi? Kau merasa ada yang salah dengan dialog kita barusan?"
"Tidak."
"Wah, kau benar-benar terlihat hot dalam balutan piyama seperti ini."
Entah apa yang sudah merasuki Eunhyuk, dengan berani bocah itu mendorong Donghae hingga bersandar di sofa dan Eunhyuk langsung duduk di pangkuannya. Tanpa banyak bicara, Eunhyuk memagut bibir Donghae dengan kasar. Tangannya ia gunakan untuk memereteli kancing piyama Donghae dan saat semua sudah terbuka, Eunhyuk bersiap-siap di depan selangkangan Donghae untuk menyaksikan sesuatu yang menyembul dari balik celana piyama Donghae, lalu—
"Saem?"
"Ya?"
"Kau melamun."
"Apa?"
"Kau melamun!"
Oh fuck! Donghae memikirkan hal yang tidak-tidak selagi mengobati luka di wajah Eunhyuk. Jarak wajah mereka sekarang tidak lebih dari lima sentimeter dan itu membuat pikiran Donghae semakin kacau saja. Donghae meneguk ludahnya kasar, ia bangkit dari sofa dan melangkah terburu-buru menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menyadarkan kembali pikirannya yang kotor.
"Selesaikan sendiri! Aku mengantuk."
Donghae menutup pintu kamarnya dengan kasar. Apa yang Donghae pikirkan? Kenapa ia berpikiran hal-hal mesum tentang Eunhyuk? Sial! Benar-benar sial! Berdekatan dengan Eunhyuk hanya membuat pikirannya terkontaminasi! Donghae membasuh wajahnya dengan air dingin lalu memandangi bayangan dirinya di cermin. Selama menjadi guru, baru kali Donghae berpikiran mesum tentang muridnya sendiri. Setelah membasahi seluruh kepalanya dengan air, Donghae membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Ya tuhan, aku sudah gila! Bagaimana bisa aku memikirkan hal seperti itu dengan muridku?
Pikiran-pikiran kotor tentang Eunhyuk belum juga menyingkir dari kepalanya, semakin ingin dilupakan, semakin jelas pula lamunan itu. Donghae menggelengkan kepalanya, mungkin membawa Eunhyuk pulang ke rumahnya adalah keputusan yang salah!
"Saem, aku tidur dimana? Kau tega membiarkan aku tidur di sofa?"
Ketukan pintu dan suara Eunhyuk menyadarkan Donghae bahwa ia belum memberitahu Eunhyuk dimana dia harus tidur. Dengan langkah yang ragu-ragu, Donghae membuka pintu kamarnya dan terpampanglah wajah manis Eunhyuk yang penuh luka.
"Kau tidur di sini dan aku di sofa. Selamat malam."
"Tunggu! Kenapa kita tidak tidur satu ranjang saja? Aku tidak keberatan."
Godaan apa lagi ini? Donghae mengikuti langkah Eunhyuk dengan pasrah seperti orang bodoh saat bocah bandel itu menarik lengannya dan membawanya kembali ke tempat tidur.
"Aku biasa tidur tanpa memakai atasan. Kau tidak keberatan kan, Saem?"
Apa?
Tidak!
Kuatkan aku Tuhan!
.
.
TBC
Hai, bisa update cepet nih krn kebetulan saya ada waktu luang di kantor ^^ ini gak di edit, maaf kl ada typo *bow sampe nungging*
Berkat review kalian yg selalu nyemangatin saya, saya jd semangat ngetiknya makasih banyak ya ^^ oh, ya welcome readers baru ^^ salam kenal~ semoga betah baca fanfic saya yg masih gini2 aja heheh ^^ buat readers lama...i love you you you lah pokoknya ^^ makasih dukungannya ^^
See ya next chapter ^^
Last, Review please? ^^
.
.
With Love,
Milkyta Lee
