TEACHER

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae

Genre: Romance, Friendship

WARNING!

BOYS LOVE

BAHASA VULGAR, TIDAK COCOK UNTUK ANAK DI BAWAH UMUR!

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANKYOU ^^


.

.

I get scared when I wonder if this is love...

.

.


Eunhyuk menyeringai senang ketika melihat reaksi Donghae saat melihat dirinya membuka pakaian atasnya, tentu saja reaksinya akan seperti itu karena tidak ada satu orangpun yang bisa menolak pesona tubuh mulus Eunhyuk. Sejak awal Eunhyuk sudah merancanakan semua ini, ingat sumpahnya saat pertama kali mereka bertemu? Eunhyuk akan menaklukan Donghae dalam waktu kurang dari seminggu dan sekarang Eunhyuk akan membuktikan kata-katanya.

Perlahan Eunhyuk mulai naik ke tempat tidur milik Donghae yang cukup luas itu, ia sengaja memasang pose mengundang agar libido Donghae terpancing dan Eunhyuk sangat menantikan saat-saat telapak tangan Donghae yang menyentuh kulit tubuhnya dengan seduktif. Mendapatkan reaksi Donghae yang datar, Eunhyuk bersandar pada bantal dan memandangi Donghae sambil menggerakan jari telunjuknya, memerintahkan Donghae agar segera naik ke tempat tidur karena Eunhyuk sudah sangat siap untuk di terkam.

"Apa kau selalu membuat orang menunggu?"

Kali ini Eunhyuk menyilangkan kakinya dan menggigit bibir bawahnya. Bibirnya kembali menyunggingkan senyum menggoda saat Donghae mendekati tempat tidur dan perlahan mulai mengurung tubuh Eunhyuk dalam kungkungannya. Jantung Eunhyuk berdebar-debar, inilah saat-saat yang selalu ia tunggu.

"Selamat malam, bocah penggoda."

Setelah membisikan kalimatnya di telinga kanan Eunhyuk, Donghae berguling ke samping dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Eunhyuk tercengang luar biasa, sialan! Ia baru saja dikerjai oleh guru tampannya. Eunhyuk menatap Donghae tidak percaya, selama ini belum pernah ada orang yang menolaknya saat ia sudah berpose di ranjang. Donghae memang laki-laki sialan yang tidak menyenangkan sama sekali. Membosankan!

"Kau yakin mau tidur di saat sesuatu di bawah bangun?"

"Diam dan tidur!"

"Oh, kau takut meniduri aku karena aku di bawah umur dan muridmu, begitu? Aku tidak masalah, setidaknya aku bisa menghisapnya agar tenang."

"Sekali lagi kau berkata kotor maka hukumanmu besok akan bertambah berat!"

Masih dalam balutan selimut, Donghae sama sekali tidak memandang Eunhyuk barang sedikitpun dan terus memunggunginya. Kesal karena terus diacuhkan, Eunhyuk menarik selimut yang digunakan Donghae sebagai tameng dan langsung menduduki perutnya begitu laki-laki bermata sendu itu berbalik dan menatapnya marah.

"Katakan padaku, apa yang kurang dariku sehingga kau terus menolakku?"

"Apa kau selalu bertingkah murahan seperti ini? Tingkahmu sama sekali tidak menunjukan bahwa kau seorang siswa! Kau bertingkah seperti ini hanya menunjukan betapa rendahnya kau sebagai siswa! Jika kau terus seperti ini, maka tidak ada pilihan bagiku untuk mengeluarkanmu dari sekolah!"

Hati Eunhyuk mencelos mendengar makian Donghae barusan. Rasanya terlalu menyakitkan hingga membuat Eunhyuk lemas, ia bahkan diam saja saat Donghae mendorong tubuhnya agar menyingkir dari atas tubuh Donghae. Donghae membawa sebuah bantal kemudian pergi dari kamarnya meninggalkan Eunhyuk yang masih termangu, perlahan airmatanya mulai berkumpul di pelupuk matanya dan berdesakan keluar saat Eunhyuk mengedipkan matanya. Biasanya Eunhyuk tidak secengeng ini, ia pernah menerima banyak makian dan hinaan tapi entah kenapa saat Donghae yang melakukannya ia merasakan sesuatu menusuk jantungnya. Rasanya bahkan jauh lebih menyakitkan dari pada saat Siwon meninggalkannya.

Eunhyuk membaringkan tubuhnya sambil memeluk guling, ia menangis. Untuk pertama kalinya Eunhyuk menangis karena di maki orang lain, kemana rasa percaya dirinya? Kemana keberaniannya? Eunhyuk merasa bodoh dan sangat rendah saat Donghae mengatakan bahwa dirinya murahan. Apa ini? Biasanya Eunhyuk selalu tebal muka dan tidak pernah mendengarkan hinaan orang lain. Harga dirinya seperti jatuh ke dasar jurang saat Donghae menolaknya dan mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa rendah, Eunhyuk bangkit dari tempat tidur dan memakai pakiannya kembali. Setelah mengusap airmatanya dan membenahi penampilannya agar tidak terlihat menyedihkan, Eunhyuk keluar dari kamar Donghae dan mendapati laki-laki yang barusan menghinanya sedang berbaring di sofa dengan pandangan menerawang ke langit-langit rumahnya.

"Aku akan kembali ke asrama sekarang, Saem. Terima kasih untuk hari ini."

Tidak ada reaksi dari Donghae, dia hanya terus diam sambil memandangi langit-langit ruang tengah. Hingga pada saat Eunhyuk sampai ke pintu keluar dan baru menyentuh kenop pintu, barulah Donghae mengalihkan pandangannya pada punggung Eunhyuk.

"Sudah malam, tidak ada bus dan yang pasti aku tidak mau mengantarmu ke asrama malam-malam begini."

"Aku akan cari taksi."

Sekali lagi Eunhyuk menyentuh kenop pintu tapi sebelum pintu benar-benar terbuka, Donghae menarik lengannya dan menyeretnya duduk di sofa. Ini sudah kedua kalinya Donghae bersikap kasar padanya. Eunhyuk menundukan kepalanya, nyalinya tiba-tiba menciut saat mendapati wajah marah Donghae. Shit! Eunhyuk tidak pernah seperti ini sebelumnya! Bahkan pada waktu ia di sidang karena insiden merokok di toilet sekolah, ia tidak merasa setakut dan seciut ini.

"Dengarkan apa kata gurumu dan kembalilah ke kamar. Cepat tidur!"

Mendengar nada bicara Donghae yang kasar, Eunhyuk menatap Donghae dengan kesal. Kenapa Eunhyuk harus menuruti semua kata-katanya? Bukankah tadi Donghae menolaknya dan memakinya? Untuk apa dia tetap mempertahankan Eunhyuk di rumahnya jika memang dia tidak berhasrat untuk menyentuh Eunhyuk.

"Kau tidak berhak mengaturku. Aku akan pulang sekarang!"

"Kenapa kau tidak pernah mendengarkan apa kata gurumu?"

"Aku pulang, permisi!"

"Lee Hyukjae!"

Donghae menarik lengan Eunhyuk yang akan melangkah pergi dengan sangat kasar. Tidak sengaja, kaki Eunhyuk tersandung kaki Donghae hingga membuatnya jatuh ke sofa dan tangannya refleks menarik lengan baju Donghae hingga Donghae ikut limbung dan berakhir menindih Eunhyuk di sofa.

"Aku bilang, tinggal lah di sini dan jangan membantah!"

"Saem, aku—"

Belum sempat Eunhyuk menyelesaikan kalimatnya, Donghae memotongnya dengan cara menempelkan bibirnya ke permukaan bibir Eunhyuk yang tipis agar laki-laki manis itu bungkam. Mata Eunhyuk membulat sempurna, ia kaget dengan perlakuan tiba-tiba Donghae. Jantungnya berpacu tidak normal saat pandangan mereka beradu, rasa menggelitik itu kembali Eunhyuk rasakan. Rasa menggelitik yang menyenangkan.

"Masuklah ke kamar sebelum aku berubah pikiran!"

Donghae bangkit dari atas tubuh Eunhyuk dan langsung memunggungi Eunhyuk begitu tautan mereka terlepas. Dalam hati Eunhyuk bersorak gembira, hanya tinggal satu langkah lagi untuk menaklukan guru sombong ini.

"Aku tidak bisa tidur sendirian, Saem."

"Bukan urusanku!"

Aneh tapi nyata, Eunhyuk merasa perasaannya seperti roller coaster saat bersama Donghae. Sebentar Eunhyuk merasa kesal, sebentar Eunhyuk merasa canggung, sebentar Eunhyuk merasa senang dan sebentar Eunhyuk merasakan sesuatu yang tidak dapat ia jelaskan dengan kata-kata. Laki-laki di hadapannya ini sungguh membuat Eunhyuk tertarik karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang mampu membuat perasaan Eunhyuk naik dan turun dengan cepat seperti membalikan telapak tangan.

"Kalau begitu aku akan tidur berhimpitan denganmu di sofa."

Tanpa berkata-berkata, Donghae bangkit dari sofa dan masuk ke kamar lalu menyelimuti seluruh tubuhnya. Eunhyuk terkekeh pelan, sebenarnya yang orang dewasa di sini siapa? Donghae cepat sekali marah, seperti anak kecil.

Ini malam pertamaku tidur di samping seseorang tanpa melakukan apapun...

.

.


Tepat pukul lima lewat tigapuluh menit, mata hazel Donghae otomatis terbuka. Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk bangun sepagi itu sebelum berangkat bekerja. Ada yang aneh dengan hari ini, semalam Donghae tidak bisa tidur dengan nyenyak karena makhluk di sebelahnya tidur tidak beraturan. Saat tidur Eunhyuk tidak ada manis-manisnya sama sekali, tangan dan kakinya menyebrang kesana kemari! Kakinya terkadang menyebrang dan bertengger di tempat yang tidak seharusnya, entah itu kepala atau selangkangan Donghae yang jelas-jelas area paling berbahaya atau tangannya yang tiba-tiba meraba-raba Donghae secara sensual. Donghae heran, apa yang Eunhyuk impikan sampai seluruh tubuhnya terus berputar dan tidak memberi ruang sedikitpun untuk Donghae. Sudah tidur dalam keadaan tegang, sekarang malah harus menghadapi cara tidur Eunhyuk yang luar biasa itu. Ah, dan soal ciuman mereka di sofa! Sungguh, Donghae tidak bisa melupakan kejadian nista itu. Pikirannya pasti sudah tidak waras, bagaimana bisa Donghae mencium muridnya sendiri? Kalau bukan otaknya yang tidak waras, pasti sesuatu telah merasuki tubuhnya hingga mendorong Donghae untuk melakukan hal yang tidak-tidak pada muridnya. Donghae memukul kepalanya pelan sambil terus berkomat-kamit mengucap sumpah serapah yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Masih pantaskah Donghae di panggil guru setelah kejadian kemarin?

"Pagi, Saem."

Setengah jam setelah Donghae bangun barulah Eunhyuk keluar dari kamarnya tanpa mengenakan atasan. Tunggu, tanpa atasan? Donghae menelan roti panggangnya tanpa mengunyahnya terlebih dahulu saking kagetnya. Bagaimana tidak? Pagi itu Donghae sedang duduk manis di meja makan dengan sepotong roti panggang dan kopi hangat, lalu tiba-tiba Eunhyuk muncul dihadapannya dalam keadaan bertelanjang dada. Ayolah, jangan begini! Donghae baru saja menenangkan jagoan kecilnya di kamar mandi dan sekarang seseorang mencoba membangunkannya lagi.

"Kemana pakaianmu?"

"Di kamar, entahlah aku lempar kemana."

Eunhyuk duduk di meja makan dan mengambil selembar roti tanpa mempedulikan wajah mendung Donghae. Bangun terlalu pagi membuat Eunhyuk tiba-tiba merasa lapar berlebihan.

"Kau tidak punya selai strawberry? Aku tidak suka kacang."

"Sebaiknya jangan mengeluh, makan saja yang ada di meja makan."

"Tidak mau!"

Ulah muridnya yang satu ini benar-benar membuat Donghae naik darah. Bila ia harus lebih lama tinggal bersama Eunhyuk, mungkin dalam dua atau tiga tahun ke depan Donghae akan menderita tekanan darah tinggi dan masuk rumah sakit karena gangguan jiwa yang disertai tekanan darah tinggi. Donghae tidak tahan melihat Eunhyuk duduk di meja makannya tanpa sehelai benangpun yang menutupi bagian atas tubuhnya yang—hm—putih dan mulus. Donghae beranjak dari kursinya, ia mengambil jas yang akan ia pakai dan menyampirkannya di tubuh Eunhyuk. Setidaknya, dengan begitu tidak banyak yang bisa Donghae lihat.

"Apa-apaan ini?"

"Aku tidak terbiasa melihat orang makan di meja makan tanpa busana."

"Kau akan terbiasa nanti."

"Jangan mulai! Cepat habiskan sarapanmu dan segera mandi, aku menunggumu di mobil."

"Baiklah, Saem. Oh, semalam terima kasih ciumannya. Bibirmu lembut sekali."

Fuck!

Donghae menghela nafas panjang tanpa menghiraukan kata-kata Eunhyuk yang terakhir, ia terus melangkah lurus menuju pintu keluar dan pura-pura tidak mendengar Eunhyuk. Entah kenapa, apapun yang dilakukan Eunhyuk selalu membuat pikirannya merasa terganggu. Sial! Pagi ini Donghae tidak sempat meminum kopi hangatnya gara-gara Eunhyuk yang duduk dihadapannya tanpa mengenakan atasan. Merasa tidak bisa beraktifitas tanpa secangkir kopi di pagi hari, Donghae mampir ke super market di depan gedung apartemennya sambil menunggu Eunhyuk. Niatnya hanya ingin membeli kopi instan saja tapi saat melewati rak penuh dengan selai, Donghae jadi teringat pada Eunhyuk. Donghae diam sejenak di rak selai sambil memperhatikan kaleng selai strawberry yang ada di tangannya.

Haruskah aku membelinya?

Tapi kenapa? Aku 'kan tidak berancana mengundangnya ke rumah lagi.

"Sebaiknya tidak usah di beli."

Baru beberapa langkah beranjak dari rak selai, Donghae kembali lagi dan mengambil dua kaleng selai strawberry. Ini gila! Kenapa Donghae harus repot-repot membeli selai strawberry yang disukai Eunhyuk, muridnya yang bandelnya minta ampun itu.

"Saem, kau dari mana? Kupikir kau meninggalkan aku."

Saat sampai kembali ke basement, Donghae melihat Eunhyuk sedang bersandar di kap mobilnya sambil memainkan ujung jas miliknya yang di pakai Eunhyuk saat itu.

"Dimana pakaianmu? Kenapa masih memakai jasku?"

"Aku tidak menemukannya dimanapun! Apa jangan-jangan, kau menyembunyikan? Wah, kau maniak!"

Tidak segan-segan, Donghae menghadiahi Eunhyuk dengan pukulan mesra di kepalanya. Pagi-pagi sudah bicara melantur! Membuat orang emosi saja. Donghae masuk ke dalam mobil di susul oleh Eunhyuk yang masih memberengut setelah di pukul tadi. Tunggu sebentar, haruskah Donghae mengumpat lagi hari ini? Ya Tuhan, jasnya yang di pakai Eunhyuk itu tampak kebesaran dan meskipun sudah di kancing, dada dan sebagian perut Eunhyuk masih bisa dilihatnya. Pada dasarnya apapun yang dilakukan Eunhyuk memang selalu mengganggu pikirannya.

"Kau sudah minum?"

"Hm? Sudah, segelas air putih."

"Minumlah, aku tidak yakin kau suka rasa apa tapi karena kau tadi merengek ingin selai strawberry aku membelikan susu strawberry untukmu."

"Wah, terima kasih!"

Donghae menyunggingkan senyumnya samar-samar, ini pertama kalinya ia melihat wajah Eunhyuk sepolos itu. Biasanya Eunhyuk selalu menunjukan wajah—sok—sexynya jadi ini hal baru untuk Donghae.

"Biasanya kau sarapan apa di asrama?"

"Biasanya aku tidak sarapan karena selalu kesiangan bangun."

"Kebiasaanmu buruk sekali! Ambil ini dan simpan di kamarmu, kalau kesiangan bangun dan melewatkan jam sarapan di asrama kau bisa memakan ini di kamar bersama temanmu."

Canggung memang, tapi pada akhirnya Donghae memberikan kantong keresek berisi roti dan selai strawberry yang ia beli di super market tadi pada Eunhyuk.

"Terima kasih, Saem."

Senyum Donghae kali ini menjadi lebih jelas, sudut bibirnya tertarik otomatis saat melihat Eunhyuk tersenyum lebar sampai menunjukan gusinya.

Manis sekali...

.

.


ooODEOoo


Tepat sebulan Donghae mengajar di Empire dan sebulan pula Eunhyuk telah menjalani hukumannya dengan menjadi petugas kebersihan asrama. Setiap harinya sebelum berangkat dan sepulang sekolah, Eunhyuk di wajibkan untuk membuang sampah dari asrama A sampai C juga membersihkan toilet sekolah di jam istirahat. Selain menjalani hukuman di sekolah, hak Eunhyuk untuk keluar asrama di akhir pekan juga di cabut. Saat akhir pekan tiba, Eunhyuk harus tetap membersihkan asrama dan tidak bisa pulang ke rumah seperti yang dilakukan teman-temannya. Habis mau bagaimana lagi? Mau tidak mau, Eunhyuk harus menjalani hukuman ini sebagai ganti karena Eunhyuk tidak mau di skors dan tidak mau memberikan surat panggilan pada orangtuanya. Eunhyuk memohon-mohon pada Donghae bahkan sampai meraung-raung tidak jelas di ruangan Donghae, membuat Donghae malu saja! Karena Eunhyuk terus mengganggunya dengan rengekan dan raungan yang tidak jelas, akhirnya Donghae memutuskan untuk menghukum Eunhyuk dengan cara menjadikannya petugas kebersihan sekolah dengan resiko ia mendapat surat peringatan dari kepala sekolah karena memberi keringanan pada siswa yang seharusnya mendapatkan hukuman skorsing. Tidak lupa, Donghae juga selalu mengawasi gerak-gerik Eunhyuk kapanpun dan dimanapun, setiap malam sebelum kembali ke rumah Donghae selalu menyempatkan diri untuk mampir ke asrama A untuk memastikan bahwa Eunhyuk sudah tidur dan tidak akan kabur kemanapun. Melelahkan, tapi demi reputasinya sebagai wali kelas dan demi mengembalikan Eunhyuk ke jalan yang benar Donghae rela melakukan apapun. Targetnya saat ini hanyalah, menjadi guru tetap di Empire.

Entah memang Donghae yang sial atau Eunhyuk yang membuatnya sial tapi saat pindah ke kemari, Donghae sering sekali mendapatkan masalah karena Eunhyuk. Contohnya surat peringatan dari kepala sekolah sebulan yang lalu, itu pertama kalinya Donghae mendapat surat peringatan seperti itu. Donghae tidak yakin, apakah karirnya sebagai guru akan mulus atau tidak dengan hadirnya Eunhyuk di dalam kehidupannya.

"Ada apa Saem memanggilku? Aku masih harus membersihkan toilet."

Di tengah-tengah tugas membersihkan toilet, tiba-tiba Donghae memanggilnya ke atap dan mau tidak mau Eunhyuk harus menunda pekerjaannya untuk menemui Donghae di atap. Sebenarnya, ia malas naik ke atap di saat seluruh tubuhnya lelah dan pegal karena hukuman yang—menurut Eunhyuk—tidak manusiawi ini, tapi mau bagaimana lagi? Kalau di bantah bisa-bisa hukumannya bertambah lagi.

"Kau belum makan siang 'kan?"

Eunhyuk menggeleng pelan. Sudah beberapa hari ini Eunhyuk melewatkan makan siangnya karena hukumannya benar-benar membuatnya sibuk, sehingga Eunhyuk terkadang melupakan jam makan siang.

"Makan ini."

Melihat roti dan sekotak susu strawberry dihadapannya, membuat Eunhyuk merasa bahagia luar biasa! Tidak di sangka, hal sekecil ini bisa membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Eunhyuk menerima roti dan susu strawberry dari Donghae lalu memakannya dengan lahap, seperti orang kelaparan. Well, sebenarnya Eunhyuk memang kelaparan dan Donghae memanggilnya di saat yang tepat.

"Enak sekali."

"Makan pelan-pelan. Hari ini hari terakhirmu menjalani hukuman, 'kan? Bagaimana? Jera? Kalau kau mengulangi kesalahan yang sama, hukumanmu akan lebih berat dari ini. Oh, karena hukumanmu sudah selesai, malam ini juga kau harus mulai belajar private denganku. Kau harus mau karena aku sudah mempertaruhkan karirku sebagai guru hanya demi menutupi kesalahanmu."

Mulai lagi membahas soal belajar. Eunhyuk memberengut tidak suka, di dunia ini belajar adalah hal yang paling di benci Eunhyuk. Belajar itu membosankan, sudah belajar di kelas dan sekarang harus belajar pula sepulang sekolah. Waktunya akan habis oleh belajar, lalu bagaimana caranya Eunhyuk bisa ke bar kalau setiap hari waktunya dihabiskan dengan belajar dan belajar.

"Kupikir setelah sebulan berlalu kau akan melupakan soal belajar private itu."

"Dalam beberapa bulan kau akan ujian kenaikan kelas dan aku ingin nilai-nilaimu sempurna. Kinerjaku di lihat dari bagaimana aku bisa membuatmu kembali berprestasi, jadi bantulah aku kali ini."

"Caranya minta bantuan itu bukan begitu, Saem."

"Jangan mulai, Eunhyuk. Lanjutkan lagi pekerjaanmu dan sepulang sekolah nanti, tunggu aku di depan gerbang sekolah. Kalau kau berani kabur, kau tahu akibatnya!"

Sebulan berlalu tapi kelakuan Eunhyuk belum juga berubah, meskipun sudah di hukum dan dimarahi tapi kapanpun ada kesempatan berdua dengan Donghae, ia pasti berusaha menggodanya. Tatapan matanya saat menggoda masih sama seperti saat pertama kali Donghae melihatnya, terkesan binal tapi seperti ada luka di balik tatapan itu.

"Mengancam terus! Aku bukan bocah kecil yang harus kau beritahu sampai berkali-kali! Permisi!"

Donghae terkekeh pelan melihat Eunhyuk yang melangkah menjauh darinya sambil menghentak-hentakan kakinya, katanya bukan bocah kecil tapi kelakuannya menunjukan bahwa dia memang masih kecil. Sudah pukul satu lewat dan itu artinya Donghae harus kembali ke ruangannya untuk memeriksa jadwal mengajarnya, kalau tidak salah Donghae ada jadwal mengajar di kelas 2-1 hari ini. Kelas si jenius Cho Kyuhyun dan Shim Changmin yang terkenal di kalangan siswa lainnya karena prestasinya yang selalu menjadi juara kelas.

"Lee Sonsaengnim."

"Oh, ada apa Lee Sungmin?"

"Bisa kita bicara sebentar?"

Alis Donghae bertaut, ini pertama kalinya Sungmin mengajaknya bicara. Beberapa kali Donghae bertemu Sungmin di koridor tapi baru kali ini laki-laki manis itu mengajaknya bicara serius. Donghae mengangguk pelan sambil mengikuti langkah Sungmin menuju kantin sekolah yang sudah lumayan sepi karena sebagian murid sudah kembali menjalankan aktifitasnya.

"Ada apa?"

"Duduklah dulu."

Donghae mengangguk, ia mengambil tempat di hadapan Sungmin.

"Apakah Saem ada hubungan khusus dengan Eunhyuk?"

"Apa?"

"Kau terlihat selalu menghabiskan waktu bersamanya di atap. Sebenarnya, kalian punya hubungan macam apa?"

Pertanyaan yang menurut Donghae tidak sopan dan tidak pantas ditanyakan seorang murid pada gurunya, tapi meskipun begitu Donghae tetap menjawab pertanyaan Sungmin tanpa tahu akan kemana pembicaraan ini selanjutnya.

"Hanya hubungan antara wali kelas dan muridnya. Kami menghabiskan waktu di atap untuk berkonsultasi."

Sungmin melipat tangannya di dada lalu berdecak, "Aneh sekali, pelacur macam dia tidak melakukan apa-apa bersama seseorang di atap. Biasanya, dia orang mudah membuka paha untuk orang lain yang busa membayarnya mahal."

"Kau seorang siswa, Lee Sungmin. Jaga cara bicaramu. Aku tahu kau punya masalah dengan Eunhyuk, tapi bukan berarti kau bisa berbicara seperti itu tentangnya!"

"Melihatmu membelanya seperti ini, sepertinya kau sudah masuk ke dalam perangkapnya. Dia itu penggoda dan kau harus berhati-hati padanya, hampir semua laki-laki pernah menyentuhnya."

Pembicaraan ini semakin serius, tidak dapat Donghae pungkiri dirinya merasa penasaran dengan semua yang dikatakan Sungmin. Ada kalanya Donghae merasa tidak suka ketika orang lain membicarakan hal-hal buruk tentang Eunhyuk, seperti hari ini misalnya. Ketika Sungmin menyebut Eunhyuk dengan sebutan pelacur, Donghae ingin sekali menampar anak itu. Sayangnya, kekerasan di larang di sekolah.

"Apa maksud semua ini? Sebenarnya apa masalahmu dan Eunhyuk sampai kau berani mengatakan hal-hal seperti ini?"

"Kalau aku mengatakannya, kau tidak akan percaya padaku. Jadi sebaiknya kau ikuti saja dia saat malam hari, biasanya dia keluar malam-malam dari asrama. Awalnya aku tidak ada masalah dengannya, kami bahkan berteman baik sebelum masalah ini terjadi. Yang membuat aku sangat membencinya adalah karena apa yang telah dia lakukan dengan kekasihku dulu, dia menggoda kekasihku lalu tidur bersamanya! Jalang murahan."

Hati Donghae mendidih mendengar setiap untaian kata yang keluar dari bibir Sungmin. Meskipun Eunhyuk memang suka menggodanya, tapi ia tidak suka mendengar orang lain memaki Eunhyuk dengan kata-kata hinaan seperti itu. Donghae akui, Eunhyuk memang selalu bertingkah seperti seorang murahan yang menjajakan diri tapi mendengar orang lain mengatai Eunhyuk seperti itu, membuat emosi Donghae naik.

"Hentikan! Kalau kau meneruskan semua ini, aku akan melaporkan semua ini pada wali kelasmu. Cara bicaramu sama sekali tidak sopan, Lee Sungmin!"

"Setelah kau tahu bagaimana Eunhyuk yang sebenarnya kau akan berterimakasih padaku, Saem."

Nafas Donghae memburu tidak beraturan bahkan setelah Sungmin beranjak dari tempatnya, hati Donghae masih tetap terasa mendidih. Dalam diam, Donghae masih berusaha mencerna semua kata-kata Sungmin barusan. Apakah semua itu benar atau hanya bualan Sungmin semata, Donghae tidak tahu. Meskipun hatinya takut apa yang dikatakan Sungmin adalah sebuah kenyataan, tapi ia tetap harus tenang dan memastikan semua itu dengan cara bertanya langsung pada Eunhyuk.

Apa yang harus aku lakukan jika ternyata semua itu memang benar?

.

.


Masih dengan tugas yang sama, yaitu membuang sampah. Eunhyuk menyusuri seluruh koridor asrama untuk memastikan seluruh tempat sampah sudah kosong dan bersih. Hukuman ini sungguh membuatnya lelah sampai hampir mati rasanya. Setelah memastikan tidak ada kantong sampah yang tertinggal di koridor, Eunhyuk kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri sebelum datang menemui Donghae di parkiran nanti. Akhir-akhir ini kegiatannya hanya membersihkan sampah dan toilet sampai sore, Eunhyuk tidak punya waktu datang ke bar karena tubuhnya tidak punya energi lebih untuk memanjat benteng. Rasanya bosan sekali setiap hari hanya berdiam diri di kamar asrama dan melihat Junsu yang selalu membaca buku atau sesekali berbicara dengan Yoochun di telepon membahas hal-hal yang menurut Eunhyuk tidak menarik sama sekali.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, hari ini Junsu berbicara dengan Yoochun lewat telepon. Sebenarnya kamar mereka hanya berbeda satu koridor saja, tapi gaya mereka ketika berbicara di telepon seperti sepasang kekasih yang terpisahkan oleh samudra. Berlebihan! Mendengar suara Junsu yang—menurutnya—sedikit menjijikan, Eunhyuk memilih pura-pura tidak mendengar dan membereskan buku-bukunya yang berserakan di meja belajarnya untuk ia bawa ke rumah Donghae nanti.

"Benarkah? Kim Jungmo Sunbae-nim akan datang untuk melihat turnamen sepak bola di sekolah kita bulan depan? Wah, hebat sekali!"

Jantung Eunhyuk seolah berhenti ketika mendengar Junsu menyebutkan nama seseorang yang sangat familiar di telinga Eunhyuk. Gerakan tangannya terhenti, Eunhyuk yang tadi tidak peduli dengan percakapan Junsu dan kekasihnya itu langsung memasang telinganya untuk menangkap semua percakapan Junsu yang membawa-bawa nama seseorang yang sangat familiar baginya.

Kim Jungmo?

Eunhyuk yakin, Junsu menyebutkan nama Jungmo barusan. Nama yang pernah terukir indah dihatinya. Nama yang dulu selalu Eunhyuk sebut dengan perasaan gembira. Eunhyuk tertunduk lesu di meja belajarnya, ia tiba-tiba teringat dengan kejadian setahun yang lalu saat Jungmo meninggalkannya begitu saja. Kejadian yang mengawali kehancuran Eunhyuk.

Dulu, Eunhyuk adalah siswa yang suka berkelahi. Sejak sekolah menengah pertama, Eunhyuk selalu bolak-balik kantor polisi karena berkelahi dan kadang ketahuan merokok di jalan. Bukan tanpa alasan Eunhyuk seperti itu, ia lelah dengan hidupnya yang selalu di atur dan terlalu diperhatikan oleh orangtuanya. Aturan dan perhatian orangtuanya yang berlebihan hanya membuat Eunhyuk merasa tercekik dan sulit bergerak. Hanya karena Eunhyuk anak laki-laki satu-satunya di rumah, orangtuanya selalu melimpahkan semua tanggung jawab perusahaan padanya padahal Eunhyuk masih remaja dan belum mengerti masalah seperti itu. Selain harus menghadapi orangtuanya yang berlebihan, Eunhyuk juga harus menghadapi kakak perempuannya yang selalu menyalahkan kehadirannya di rumah. Kakaknya selalu berkata bahwa kehadiran Eunhyuk adalah sebuah kesalahan dan tidak seharusnya ia lahir karena dengan hadirnya Eunhyuk, membuat kakaknya tampak tidak berguna di keluarga. Memangnya siapa yang minta dilahirkan ke dunia ini? Kenapa kakaknya selalu memojokannya seperti ini? Apa salahnya? Keadaan rumah yang seperti itu hanya membuat Eunhyuk frustasi dan akhirnya memberontak dengan cara memukuli orang untuk melampiaskan kemarahannya.

Ketika memasuki sekolah menengah atas, keadaan Eunhyuk sedikit berubah. Orangtuanya mendaftarkan Eunhyuk di sekolah khusus laki-laki yang mengharuskan para siswanya tinggal di asrama, hal baik untuk Eunhyuk karena dengan begitu ia bisa jauh dari keluarga yang selalu memberinya tekanan.

Saat pertama kali masuk ke sekolah, teman yang dimiliki Eunhyuk hanyalah Sungmin yang sudah menjadi tetangganya sejak mereka berdua masih anak-anak. Sebelum berkonflik seperti sekarang, sebenarnya mereka berdua adalah teman baik. Masalah berawal ketika Sungmin mengenalkannya pada sosok yang katanya disukai oleh Sungmin pada saat itu. Sungmin mengenalkan Eunhyuk pada Kim Jungmo si ketua klub sepak bola yang sangat berkharisma, lebih dari itu Sungmin juga mengajak Eunhyuk untuk masuk ke tim sepak bola agar bisa satu tim dengannya. Tanpa berpikiran yang macam-macam Eunhyuk langsung menerima tawaran Sungmin, toh memang sejak kecil Eunhyuk suka olah raga sepak bola. Di samping itu, Eunhyuk berharap bisa menghilangkan kebiasaan buruk lamanya dengan ikut ke klub sepak bola yang sebenarnya ia minati juga.

Tidak di sangka, setelah sebulan bersekolah di Empire dan mengikuti kegiatan di klub sepak bola, Jungmo yang menjadi incaran Sungmin justru menyatakan cinta pada Eunhyuk. Sejujurnya, Eunhyuk merasa tidak enak pada Sungmin yang notabene adalah sahabatnya tapi perasaannya pada Jungmo juga tidak bisa di bendung. Selama sebulan mengenal Jungmo, Eunhyuk menemukan hal-hal baru dan perlakuan Jungmo yang lembut membuat Eunhyuk terbuai. Selain itu, Jungmo juga bisa mengalihkan dunia Eunhyuk yang tadinya gelap menjadi sedikit bercahaya. Tidak ada lagi Eunhyuk yang suka merokok atau berkelahi, yang ada hanya Eunhyuk yang selalu merasa gembira dan bahagia saat bersama Jungmo.

"Jadilah kekasihku, maka aku akan membahagiakanmu."

Masih terekam dengan jelas diingatan Eunhyuk bagaimana cara Jungmo menyatakan cintanya. Kata-kata singkat namun manis itu, sukses membuat Eunhyuk menganggukan kepalanya tanpa sadar. Jungmo adalah cinta pertamanya dan Jungmo jugalah orang pertama yang menyentuhnya. Ucapan Jungmo soal membuatnya bahagia memang terbukti bukan bualan semata, selama menjadi kekasihnya Eunhyuk hanya tahu bahagia. Meskipun pertengkarannya dengan Sungmin tidak dapat terelakan, tapi Eunhyuk juga tidak bisa melepaskan Jungmo begitu saja karena rasa cintanya pada Jungmo telah membutakannya, bahkan ketika Sungmin menyeretnya keluar dari kamar asramanya dan memukulinya dihadapan semua orang, Eunhyuk tetap bertahan dan dengan berani ia mengatakan pada Sungmin bahwa ia tidak akan pernah melepaskan Jungmo.

Hari-hari bahagia bersama Jungmo ternyata tidak bertahan lama. Saat Eunhyuk kembali berkonflik dengan keluarganya, kebiasaan buruknya kembali lagi. Eunhyuk merokok di toilet sekolah dan orang pertama yang memergokinya adalah kekasihnya sendiri. Belum sempat Eunhyuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya, Jungmo sudah main tangan. Jungmo menampar Eunhyuk tanpa sadar dan adu mulut di antara mereka pun semakin memanas sampai akhirnya Jungmo pergi meninggalkan Eunhyuk sendirian di toilet. Selama sendirian di toilet Eunhyuk berpikir, mungkin Jungmo hanya tidak suka melihatnya merokok itu sebabnya dia marah dan menamparnya. Memang tidak seharusnya Eunhyuk mengulangi kebiasaan buruknya, seharusnya Eunhyuk menceritakan semua masalahnya pada Jungmo dan bukannya merokok seperti tadi. Sudah berulang kali Jungmo meminta Eunhyuk agar terbuka padanya dan menceritakan semua masalahnya pada Jungmo, tapi entahlah rasanya sulit sekali terbuka pada Jungmo.

Eunhyuk mencari Jungmo ke atap, tempat dimana Jungmo selalu menghabiskan waktu saat ia merasa penat dengan maksud minta maaf dan menjelaskan keadaan keluarganya yang sebenarnya dengan harapan Jungmo mau mengerti dan mau memaafkannya. Tapi begitu sampai di atap, Eunhyuk langsung mengurungkan niatnya untuk minta maaf karena mungkin kata maaf itu sendiri sudah tidak ada gunanya lagi. Dengan mata kepalanya sendiri, Eunhyuk melihat Jungmo sedang bercumbu dengan Sungmin. Ternyata kata cinta yang dikatakan Jungmo hanya manis di awal saja.

Hanya akan membuat bahagia? Omong kosong!

"Kau tidak apa-apa? Kenapa melamun?"

Suara Junsu menarik alam bawah sadar Eunhyuk kembali, ia menggelengkan kepalanya pelan lalu beranjak menuju tempat tidurnya. Ingatan tentang Jungmo sedikit membuatnya sakit kepala, sepertinya Eunhyuk tidak bisa datang ke rumah Donghae untuk belajar.

"Aku hanya kelelahan saja."

"Jungmo Sunbae akan datang ke turnamen bulan depan, kau yakin tidak apa-apa?"

"Apa peduliku? Sudahlah, jangan ganggu aku. Bukankah kau mau pulang? Kenapa tidak bersiap-siap?"

"Kalau kau memang tidak apa-apa, aku akan berangkat sekarang. Jaga dirimu baik-baik."

Eunhyuk berdecih, "Hari senin kita akan bertemu lagi, jangan bertingkah seolah kita akan berpisah jauh! Idiot!"

Setelah marah-marah tidak jelas pada Junsu, Eunhyuk terdiam sejenak sambil menyelami isi hatinya sendiri. Benarkah ia tidak peduli? Lalu kenapa hatinya berdenyut ketika nama yang pernah menghiasi harinya itu kembali di sebut.

Aku tidak ingin peduli padanya lagi...tapi apa yang bisa aku lakukan ketika hati ini terus memanggil namanya seperti orang gila.

.

.


ooODEOoo


"Apa yang kau lakukan? Apa pantas kau berkata-kata kasar seperti itu dihadapan seorang guru? Dewasalah Lee Sungmin! Hentikan pertengkaranmu dengan Eunhyuk! Tingkah semakin tidak masuk akal!"

Sungmin menunduk, ia tidak suka saat kekasihnya membentaknya seperti itu. Ternyata saat ia berbicara dengan Donghae tadi, Kyuhyun ada di sana memperhatikan mereka berdua. Ini sudah yang kesekian kalinya Sungmin dimarahi oleh kekasih lebih mudanya itu. Meskipun Sungmin tahu ia bersalah, tapi ia tidak suka disalahkan seperti ini, terlebih oleh kekasihnya sendiri yang seharusnya selalu membelanya dalam keadaan apapun. Sungmin ingin Kyuhyun mengerti, semua ini ia lakukan karena sakit hatinya belum terbalaskan. Seharusnya Kyuhyun paham bagaimana perasaan Sungmin sekarang, ia telah dikhianati oleh teman terbaiknya dan tidak semudah itu rasa sakit hatinya terobati.

"Kau tidak mengerti."

"Justru karena aku sangat mengerti dirimu, makanya aku seperti ini! Dewasalah sedikit, Sungmin. Biarkan masa lalu berlalu dan tertinggal di belakangmu. Lagi pula, sejak awal yang salah itu kau! Apa? Eunhyuk merebut kekasihmu? Kau yang telah merebut Jungmo Sunbae darinya! Sadarlah dan berhenti memutar balikan fakta!"

"Cho Kyuhyun."

Suara Sungmin bergetar menahan tangis, ia takut sekali saat Kyuhyun membentaknya tapi ia juga merasa jengkel ketika Kyuhyun menyinggung soal Jungmo.

"Apakah aku saja tidak cukup bagimu? Haruskah kau terus dibayang-bayangi oleh masa lalu? Kalau kau memang tidak bisa melupakan Jungmo Sunbae, maka lepaskan aku dan sudahi hubungan ini. Aku selalu bertahan untukmu tapi kau selalu menghempaskan perasaanku, aku sudah tidak tahan lagi padamu."

Hati Sungmin mencelos, nyawanya seperti baru di cabut paksa dari tubuhnya saat Kyuhyun mengucapkan kata-kata perpisahan. Tidak! Bukan ini yang Sungmin inginkan. Sungmin akui dirinya memang salah, tapi semua yang ia lakukan hanya demi membalaskan rasa sakit hatinya dan tidak bermaksud menyakiti Kyuhyun.

"Jangan seperti ini, Kyu."

"Kau yang jangan seperti ini!"

Kyuhyun menghempaskan tangan Sungmin yang mencoba menahannya agar tidak pergi, ia melangkah terburu-buru meninggalkan Sungmin yang kini duduk di lantai tidak berdaya. Seberapa keraspun Sungmin memanggil namanya, Kyuhyun tetap tidak bergeming dan terus melangkah menjauhinya. Airmata Sungmin turun membasahi kedua pipinya, bahkan apa yang ia rasakan sekarang jauh lebih menyakitkan dari pada saat ia di tolak Jungmo dulu.

Dulu saat Sungmin masih duduk di bangku kelas dua, ia menyukai kakak kelasnya Kim Jungmo. Selain pintar berolahraga, dia juga piawai memainkan gitar. Pesonanya saat memetik gitar, membuat hati Sungmin bergetar. Sungmin yang kala itu masih bersahabat dengan Eunhyuk langsung menceritakan semua isi hatinya tentang Jungmo pada Eunhyuk tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Semua berjalan seperti seharusnya, mereka berteman dan bermain bersama sampai suatu saat Sungmin memergoki Jungmo sedang menyatakan cinta pada Eunhyuk di depan kamar asrama Eunhyuk dan di depan matanya pula mereka berciuman lalu masuk ke dalam kamar Eunhyuk. Tidak usah dijelaskan apa yang mereka lakukan di dalam kamar karena hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat Sungmin merasakan sakit yang teramat sangat. Sungmin marah dan ia sangat kecewa pada Eunhyuk, ia menganggap Eunhyuk sebagai sahabatnya tapi akhirnya ia malah di tusuk dari belakang. Dengan perasaan berkabut amarah, Sungmin mendatangi kamar Eunhyuk lalu menyeretnya keluar dan memukulinya hingga babak belur. Tidak ada lagi rasa kasihan dihatinya, ia hanya merasakan marah dan kecewa pada Eunhyuk. Apa yang membuat Sungmin semakin membenci Eunhyuk adalah saat Jungmo menamparnya dan memeluk Eunhyuk seolah Eunhyuk adalah benda yang paling berharga, bahkan Jungmo juga memakinya di depan semua orang.

"Kau tidak pantas di sebut manusia, Lee Sungmin!"

Hanya satu kalimat itu yang selalu terngiang-ngiang di kepala Sungmin. Sebegitu berharganya Eunhyuk bagi Jungmo hingga tidak ada lagi tempat untuk Sungmin di hatinya. Di saat Sungmin kacau dan terpuruk, Cho Kyuhyun datang memberinya sapu tangan untuk menghapus darah di sudut bibirnya. Klasik, tapi itulah yang terjadi. Laki-laki berwajah stoic itu datang menghampiri Sungmin dan membawanya ke ruang kesehatan tanpa sepatah katapun. Dengan wajah yang datar, Kyuhyun mengobati luka di sudut bibir Sungmin dengan telaten.

"Laki-laki manis sepertimu tidak pantas terluka."

Begitu katanya. Hati Sungmin luluh hanya dengan satu kalimat yang di utarakan Kyuhyun padanya. Hubungan mereka yang awalnya hanya sekedar Sunbae-Hoobae berlanjut menjadi ikatan pertemanan dan beberapa bulan kemudian mereka memutuskan untuk menjalani hubungan yang lebih dari teman. Meskipun sudah resmi menjalani hubungan dengan Kyuhyun tapi Sungmin belum juga bisa melupakan sosok Kim Jungmo. Setiap kali ia melihat Jungmo bermesraan dengan Eunhyuk, hatinya geram dan ia merasa cemburu! Suatu saat, Sungmin tidak sengaja melihat Eunhyuk bertengkar hebat dengan Jungmo do toilet sekolah. Setelah menampar Eunhyuk, Jungmo naik ke atap dan Sungmin sengaja mengikutinya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Dengan segala bujuk rayu Sungmin, Jungmo yang saat itu sedang kalut berakhir dengan menyetubuhi Sungmin di atap. Tentu saja saat itu Sungmin tidak tahu Eunhyuk sedang memperhatikan mereka berdua dan pertengkaran mereka semakin menjadi-jadi setelah kejadian itu.

"Kau tidak apa-apa? Bangunlah."

Kim Ryeowook, teman satu kamar Sungmin yang juga teman baiknya datang terburu-buru ke kantin setelah menerima laporan dari beberapa siswa yang katanya melihat Sungmin dan Kyuhyun bertengkar di kantin. Laki-laki bertubuh mungil itu mendesah pelan saat melihat keadaan Sungmin yang masih terduduk di lantai, selalu saja seperti ini. Ini sudah yang kesekian kalinya Ryeowook melihat Sungmin bertengkar dengan Kyuhyun dan berakhir dengan Sungmin yang menangis tidak jelas. Ryeowook membantu Sungmin berdiri kemudian membawanya duduk di kursi terdekat, jemarinya mengusap lembut punggung Sungmin yang masih terisak itu.

"Karena masalah yang sama lagi?"

Sungmin mengangguk kemudian memeluk Ryeowook.

"Aku memang bodoh."

"Harus berapa kali aku bilang? Hentikan pertengkaranmu dengan Eunhyuk! Eunhyuk sudah tidak bersama Jungmo lagi dan kau sudah mempunyai Kyuhyun. Kalau kau terus seperti ini, kau hanya menyakiti dirimu sendiri dan Kyuhyun."

"Aku harus bagaimana? Kyuhyun meninggalkanku, dia bilang sudah tidak tahan lagi denganku."

"Tentu saja! Siapa yang tahan dengan sikapmu yang seperti ini? Kekasih mana yang akan tahan melihat kekasihnya terus terperangkap dalam masa lalu? Sekarang kau baru menyadarinya? Kau memang bodoh!"

"Aku mencintainya, sungguh aku mencintainya."

Sekarang setelah semuanya terjadi dan Kyuhyun meninggalkannya barulah Sungmin sadar, apa yang ia lakukan selama ini hanya sia-sia dan hanya meninggalkan luka untuk orang yang telah mencintainya dengan tulus. Menangis pun percuma, Kyuhyun sudah pergi dan Sungmin tidak tahu harus bagaimana untuk membuat Kyuhyun kembali padanya.

Jangan pergi...aku mohon.

.

.


Hati Kyuhyun hancur, rasanya sesak dan sulit sekali bernafas ketika ia mengingat kejadian di kantin beberapa jam yang lalu. Sejujurnya Kyuhyun tidak menginginkan semua ini terjadi, ia menyayangi dan mencintai Sungmin dengan tulus. Tapi meskipun seluruh cintanya telah diberikan pada Sungmin, tidak pernah sekalipun Sungmin memandang ke arahnya dengan lurus. Hatinya tertutup oleh kabut dendam hingga membuatnya buta dan tidak bisa melihat ketulusan Kyuhyun dengan benar, yang Sungmin pikirkan hanyalah bagaimana cara membalaskan dendamnya pada Eunhyuk. Sungmin terlalu sibuk mengurusi dendamnya dan tidak punya waktu lebih untuk sekedar merasakan ketulusan Kyuhyun, hampir setahun Kyuhyun bertahan untuk Sungmin dan hari ini adalah puncaknya. Kyuhyun sudah tidak tahan lagi dengan sikap Sungmin yang tidak pernah menghargai perasaannya dan malah sibuk mengurusi dendam di masa lalu, yang Kyuhyun heran adalah kenapa Sungmin harus begitu peduli pada masa lalunya sementara di sini ada Kyuhyun yang selalu ada bersamanya.

Apa sebegitu berartinya Kim Jungmo untukmu hingga kau tidak bisa menyisihkan sedikit ruang di hatimu untukku?

"Ku dengar kau bertengkar dengan Sungmin Sunbae, benarkah? Apa kali ini parah? Ada banyak siswa yang membicarakan kalian dan mereka bilang kalian sudah putus. Sebenarnya ada apa?"

Selalu saja seperti ini. Kapanpun Kyuhyun bertengkar dengan Sungmin, berita akan menyebar begitu cepat. Resiko menjadi siswa terkenal. Kyuhyun beranjak dari meja belajarnya, ia menghampiri Changmin ke sofa dan mengambil kaleng jus jeruk dari tangan Changmin. Di saat seperti ini, berbicara dengan Changmin adalah solusi terbaik. Setidaknya, bicara dengan Changmin bisa mengurangi rasa sesak di hatinya.

"Sungmin benar-benar tidak akan pernah bisa berpikir dewasa. Tadi siang aku melihatnya bicara dengan wali kelas Eunhyuk, Sungmin berbicara seolah-olah Eunhyuk adalah jalang yang telah merebut kekasihnya. Dia membuat Eunhyuk terlihat buruk di mata wali kelasnya."

"Ini pertengkaran mereka, tidak seharusnya kita ikut campur."

Kyuhyun meremat kales jus jeruk di tangannya, lalu melemparnya ke sembarang arah. Tidak usah ikut campur katanya? Omong kosong! Sungmin adalah kekasihnya dan Kyuhyun berhak menghentikan Sungmin dari semua kegilaan ini!

"Dengar Chwang, dia kekasihku. Apa kau pikir aku harus diam saja saat kekasihku terus terjebak dalam masa lalu dan terus mengurusi dendam masa lalunya sementara dia sudah punya aku. Aku tidak menuntut apapun darinya, aku hanya ingin dia melihat ke arahku dan merasakan ketulusanku padanya. Aku tidak pernah bermaksud ikut campur masalahnya, tapi masalah Sungmin dan Eunhyuk telah menyeretku dan membuat cintaku pada Sungmin tampak sia-sia!"

Mendengar curahan hati Kyuhyun yang menggebu-gebu, Changmin hanya bisa terdiam. Changmin mengenal Kyuhyun sejak sekolah dasar, jadi ia tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Menghadapi Kyuhyun yang sedang emosi tidak semudah kelihatannya, dia memang laki-laki yang biasanya tenang dan datar tapi saat menyangkut Sungmin, emosinya selalu meledak-ledak dan tidak terkendali.

"Jadi sekarang, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku ingin Sungmin menyesali perbuatannya, aku ingin dia menyadari bahwa kehadiranku di hidupnya juga penting. Tidak seharusnya dia terus hidup di masa lalu."

"Kau merasa dirimu dewasa? Dengan begini kau sama sekali tidak dewasa. Kalau kau ingin membuatnya mengerti dan menyadari ketulusanmu, bicarakan baik-baik semua ini dengannya. Bila perlu kau ajak Eunhyuk sekalian agar duduk perkaranya jelas dan tidak ada lagi pertengkaran di antara kalian, ku dengar Sungmin Sunbae dan Eunhyuk dulunya teman baik. Ada baiknya kalau kau menjadi penengah dalam masalah ini, dengan begitu masalahmu dengan Sungmin juga akan selesai. Menghadapi Sungmin Sunbae yang keras kepala harus dengan kesabaran, jika kalian sama-sama keras kepala yang ada masalah ini tidak akan berakhir."

Kyuhyun diam sejenak untuk meresapi kata-kata Changmin, ia pikir memang seharusnya masalah ini di bicarakan lebih awal dan tidak membiarkannya berlarut-larut seperti ini. Jujur saja, Kyuhyun juga tidak tahu masalah yang sebenarnya itu seperti apa. Selama ini Kyuhyun hanya mendengarkan cerita dari sisi Sungmin dan tidak pernah mendengar cerita dari sisi Eunhyuk, yang Kyuhyun tahu hanyalah soal mereka yang berebut Jungmo dan akhirnya salah paham. Pernah sekali Kyuhyun mendengar dari Junsu, katanya setelah putus dari Jungmo, Eunhyuk sangat frustasi dan pergi ke bar untuk melampiaskan rasa frustasinya. Kabarnya, putusnya Jungmo dan Eunhyuk itu dikarenakan Eunhyuk yang kepergok merokok di toilet sekolah. Cerita jelasnya Kyuhyun juga tidak tahu, hanya sebatas itu yang ia tahu. Mungkin Changmin benar, ia harus membuat Sungmin dan Eunhyuk duduk bersama agar masalah ini selesai dan tidak ada lagi pertengkaran di antara mereka.

"Sudah kau putuskan mau bagaimana?"

"Aku akan membuat mereka duduk bersama."

"Kyuhyun?"

Suara ketukan pintu menarik perhatian Kyuhyun dan Changmin, mereka melirik ke arah pintu bersamaan kemudian bertukar pandang. Changmin menunjuk pintu dengan dagunya, mengisyaratkan Kyuhyun agar membuka pintu.

"Ada apa kemari?"

Changmin menyikut lengan Kyuhyun, tidak seharusnya Kyuhyun berbicara dengan nada seketus itu pada kekasihnya.

"Kalian bicaralah di sini, kalau ada apa-apa aku ada di kamar Minho."

Sepeninggal Changmin, suasana di kamar Kyuhyun menjadi sangat canggung. Kyuhyun tidak tahu apa yang harus ia bicarakan, begitupun dengan Sungmin yang masih tampak ragu mau mengutarakan maksudnya.

"Kalau tidak ada yang dibicarakan, sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Ini sudah larut."

Sungmin buru-buru memeluk Kyuhyun dari belakang ketika Kyuhyun beranjak dari sofa. Tidak, kali ini Sungmin tidak boleh kehilangan Kyuhyun. Sungmin sadar, Kyuhyun adalah satu-satunya orang yang selalu mencintai Sungmin dengan tulus, meski Kyuhyun tahu Sungmin hanya setengah hati mencintainya, Kyuhyun tetap berada di sisi Sungmin dan terus mendukungnya. Apa pantas Sungmin memperlakukan orang yang telah mencintainya dengan buruk?

"Aku minta maaf. Jangan begini, Kyu. Aku mohon."

Masih dalam suasana hati yang panas, Kyuhyun melepaskan rengkuhan Sungmin dan kembali duduk di sofa tanpa melirik Sungmin sedikitpun. Kyuhyun ingin memaafkan Sungmin tapi ketika ia mengingat apa yang telah Sungmin lakukan padanya, membuat hatinya emosi.

"Untuk apa minta maaf kalau pada akhirnya kau tetap memikirkan Kim Jungmo dan tidak pernah melihat ke arahku."

Hati Sungmin berdenyut sakit mendengar nada dingin Kyuhyun. Biasanya, Kyuhyun akan berkata lembut padanya tapi kali ini Kyuhyun berkata dingin bahkan tanpa melihat ke arah Sungmin. Ini pertama kalinya Sungmin merasa ketakutan kehilangan Kyuhyun, selama ini selalu Kyuhyun yang mengejar cintanya dan di saat Kyuhyun memalingkan wajahnya, Sungmin takut dan akhirnya sadar ia membutuhkan Kyuhyun di sisinya.

"Aku mencintaimu, sungguh! Aku hanya tidak tahu cara menyampaikannya dengan benar. Maafkan aku."

Sekali lagi Sungmin memeluk Kyuhyun yang masih membelakanginya dan menangis tersedu di punggung Kyuhyun, membuat kaos putih Kyuhyun basah karena lelehan airmatanya. Melihat Sungmin yang terus menangis tersedu-sedu, Kyuhyun melunak dan akhirnya mau berbalik untuk menatap Sungmin. Jemarinya mengusap pipi tembam Sungmin, menghapus jejak airmata yang mengalir di pipi putih yang selalu Kyuhyun kecupi setiap paginya. Sungmin menangis sampai hidung dan matanya merah, bahkan bibirnya juga ikut merah karena digigiti terus-menerus.

"Sudah gendut, malah menangis seperti ini. Lihat dirimu, kau jadi terlihat seperti babi berwarna merah muda. Jelek sekali!"

Tangis Sungmin semakin menjadi, kali ini bukan karena Kyuhyun mengacuhkannya tapi karena Kyuhyun yang justru menyinggung berat badannya di saat seperti ini.

"Kenapa harus babi? Aku suka kelinci! Kedengarannya lebih manis! Kau jahat!

Merasa kehabisan akal untuk menenangkan kekasih manisnya, Kyuhyun menarik dagu Sungmin dan menelan semua kata-kata Sungmin sambil terus memagut bibir merah itu. Ciuman Kyuhyun naik ke mata Sungmin yang masih mengalirkan airmata, kemudian turun kembali ke pipi Sungmin dan berakhir di bibir merah Sungmin. Ciuman mereka semakin dalam lagi karena Kyuhyun merasa tidak ada perlawanan dari Sungmin bahkan ketika Kyuhyun mendorongnya agar berbaring di sofa, Sungmin diam dan pasrah.

"Berhenti menangis. Aku tidak suka melihat airmatamu!"

Jemari Kyuhyun menelusup masuk ke dalam kaos merah muda Sungmin, ia meraba seluruh lekuk tubuh Sungmin tanpa melepaskan pagutannya. Sungmin menarik kaos putih Kyuhyun, hingga terpampanglah tubuh bagian atas Kyuhyun yang hampir sama putih dengannya.

"Masih selalu agresif."

Kyuhyun berkomentar di tengah cumbuannya, bibirnya menyunggingkan senyum berbahaya. Kalau sudah begini, itu artinya Changmin harus rela berdesak-desakan di kamar Minho dan Taemin. Sungmin melenguh manja ketika Kyuhyun menarik celana pendeknya dan menyentuh miliknya yang sudah menegang sejak Kyuhyun mencumbui bagian atas tubuhnya.

"Ngh—jangan hanya di pegang. Kau tahu apa yang aku inginkan."

Tanpa basa-basi, Kyuhyun menarik seluruh celana pendek Sungmin dan langsung menghisap milik Sungmin, membuat Sungmin melengkungkan jari-jari kakinya saking nikmatnya. Nafas Sungmin terengah ketika klimaks pertamanya sampai. Sial! Baru di hisap ia sudah belingsatan seperti ini, bagaimana kalau dimasuki?

"Giliranku, sayang."

Dengan sedikit tergesa-gesa, Kyuhyun menurunkan celana trainingnya hanya sebatas paha saja dan mengeluarkan miliknya yang tak kalah tegang dari milik Sungmin. Kyuhyun menuntun miliknya ke masuk ke dalam lubang senggama Sungmin sambil terus menatap mata Sungmin dan bibir tidak henti-hentinya memagut bibir Sungmin yang semakin merah saja.

"Selalu tepat pada sasaran."

Sungmin memejamkan matanya, menikmati setiap detik saat milik Kyuhyun maju mundur di dalam tubuhnya. Limabelas menit berlalu, Sungmin sudah mengeluarkan klimaksnya yang kedua sementara Kyuhyun masih menggeram diatasnya dan terus bergerak semakin cepat untuk mencapai puncaknya.

"Aku sampai, sayang. Ugh! Sungmin!"

Selang beberapa detik kemudian, Kyuhyun menumpahkan seluruh cairannya di dalam tubuh Sungmin. Mata mereka bertemu, akhirnya mereka berakhir dengan adegan seperti ini lagi. Kapanpun mereka bertengkar, selalu diakhiri dengan desahan. Kyuhyun mengusap poni Sungmin yang menutupi sebagian wajah manisnya, ia memandangi wajah Sungmin dengan lembut. Wajah yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya itu tampak sangat manis dan sexy di saat yang bersamaan.

"Mau berjanji satu hal padaku?"

"Apa itu?"

"Lupakan Kim Jungmo dan biarkan hanya aku seorang yang di hati dan pikiranmu."

"Aku janji."

Kelingking mereka bertaut dan sekali lagi Kyuhyun memagut bibir Sungmin dengan penuh perasaan.

Hanya aku yang boleh kau pikirkan dan hanya aku yang boleh memenuhi benakmu...

.

.

TBC


Hai~ maaf agak lama updatenya...kerjaan di kantor numpuk jadi saya susah nyari waktu luang untuk ngetik ^^ maaf kl ada typo, gak di edit..gak sempet T_T

Okay~ saya mau jawab pertanyaan dulu ^^

.

.

Q: di buat hurt gak nih?

A: dikit-dikit ya baby~ heheheh nambah2in bumbu konflik aja ^^

.

Q: tiap ngesex, Eunhyuk di bawah?

A: of course sweetheart ^^

.

Q: ada kyumin gak?

A: ada dong~ ^^ kkkkk selalu...

.

Q: kok gak langsung NC?

A: kl langsung itu namanya pwp dong~ ^^ ini kan ada plot dan alurnya...kl Hae langsung ngegarap Hyuk lah nnt bingung, pan baru kenal masa mau langsung ke ranjang kkkk ^^ nanti pasti bakalan ada kok tapi mengikuti alur ya ^^

.

Q: donghae di tolak kibum? nnt dia dapet hyuk, kan tapi?

A: iya dong dapet hyuk...kl dapet saya nnt kalian pada ngirim santet ke saya hehehe ^^

.

Q: hyuk sama min kenapa? ngerebutin kyu kah?

A: di chapter ini terjawab ya pertanyaannya ^^

.

Q: apakah akan ada masalah antara sibum dan haehyuk?

A: seiring berjalannya cerita ini, mereka akan punya konflik sendiri2 ^^ di tunggu aja ya sayang~ ^^

.

Q: ini siwon gak bakal muncul lagi kan?

A: muncul sedikit2 aja~ hehehe ^^

.

.

Okay~ segitu aja dulu...makasih sama yang selalu review ^^ kalian berarti banget buat saya ^^

Kalau ada pertanyaan yang belum terjawab boleh PM atau main ke twitter saya MilkyBaobei ^^ boleh request sesuatu tapi saya gak bisa janji update cepet ya ^^ krn kalian jg tau saya ngetik ff selalu nyuri2 waktu di sela waktu kerja saya ^^

Oh, yg tetep nagih sekuel Reunion...saya lg dalam proses mengkonsep sekuelnya ^^ di tunggu aja...tapi saya gak bisa janji cepet juga ya ^^

Okay, ini panjang banget pidatonya =_= see ya next chapter...always thankyou and i love you guys ^^

Last, review? ^^

.

.

With Love,

Milkyta Lee