TEACHER
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Genre: Romance, Friendship
WARNING!
BOYS LOVE
BAHASA VULGAR, TIDAK COCOK UNTUK ANAK DI BAWAH UMUR!
DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!
THE STORY IS MINE
Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^
TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.
THANKYOU ^^
.
.
I get scared when I wonder if this is love...
.
.
Sudah setengah jam Donghae menunggu tapi belum juga ada tanda-tanda kehadiran Eunhyuk di parkiran. Awas saja kalau bocah itu berani kabur, akan Donghae berikan hukuman yang lebih-lebih dari sebelumnya. Sementara menunggu Eunhyuk, pikirannya melayang-layang entah kemana. Banyak sekali yang ia pikirkan, di mulai dari surat peringatan kepala sekolah hingga ucapan Sungmin tentang Eunhyuk siang tadi. Donghae benar-benar tidak tahu akan bereaksi bagaimana jika seandainya yang di katakan Sungmin itu benar. Haruskan ia menghukumnya? Atau melaporkannya pada kepala sekolah dan membiarkannya dikeluarkan dari sekolah? Entahlah, Donghae tidak tahu harus bagaimana. Hampir jam lima sore dan Eunhyuk belum juga datang. Donghae yang sedari tadi menunggu di mobil akhirnya tidak bisa lagi sabar menunggu dan bergegas menuju gedung asrama, bocah itu benar-benar tidak bisa diperlakukan lembut!
Suasana sekolah hari itu sangat sunyi, mungkin karena ini akhir pekan dan semua siswa pulang ke rumahnya masing-masing. Sambil menyusuri koridor asrama, Donghae berpikir tentang bagaimana cara membuktikan ucapan Sungmin. Mungkin sebaiknya hari ini Donghae gunakan untuk berbicara dengan Eunhyuk dan soal belajar, bisa dilakukan di lain hari.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Donghae membuka kamar Eunhyuk yang kebetulan tidak terkunci. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Eunhyuk sedang berbaring di tempat tidurnya. Tidur rupanya, pantas dia tidak datang ke parkiran. Donghae mendekat ke tempat tidur Eunhyuk, niatnya ingin membangunkan Eunhyuk tiba-tiba terurung setelah melihat wajah polos Eunhyuk saat tidur. Tangan Donghae terulur untuk merapikan rambut cokelat madu Eunhyuk yang berantakan dan sedikit menutupi mata indahnya.
"Manis sekali."
"Ngh."
Donghae terkesiap ketika Eunhyuk tiba-tiba menggeliat, ia segera berdeham dan buru-buru memasang wajah dinginnya sebelum Eunhyuk menyadari kehadirannya.
"Bangun pemalas!"
Tanpa belas kasihan, Donghae menendang bokong Eunhyuk hingga membuatnya terjungkal. Sial! Saking paniknya Donghae sampai tidak bisa mengontrol tenaganya ketika menendang Eunhyuk. Tangannya terulur berniat membantu Eunhyuk berdiri, tapi sayangnya Eunhyuk memilih bangun sendiri dan membenahi penampilannya sambil menggisik matanya yang masih setengah terpejam itu.
"Saem! Aduh, sakit sekali."
"Apa? Aku menunggumu di parkiran dan kau tidak juga datang, ternyata kau tidur! Dasar pemalas! Sekarang, keluarkan buku-bukumu dan kita belajar di sini saja!"
"Maaf, aku tidak enak badan jadi aku berbaring sebentar."
"Kau sakit?"
"Sudahlah, kita mulai saja."
Sementara Eunhyuk menyiapkan buku-buku yang ia perlukan, Donghae duduk di sofa sambil mengawasi gerak-gerik Eunhyuk. Mata hazelnya tidak lepas dari sosok yang sekarang sedang menata meja lipat di dekat tempat tidur sambil menyusun buku-bukunya. Dalam hati Donghae terus bertanya-tanya, benarkah Eunhyuk seperti yang dikatakan Sungmin? Lalu, kalau benar bagaimana?
"Aku lemah di masalah hitungan, kita mulai dengan matematika?"
Donghae mengangguk, entahlah hari ini ia sulit sekali berkonsentrasi. Padahal Donghae sudah berusaha berpikiran positif dan berusaha mempercayai Eunhyuk tapi pikiran-pikiran buruk terus saja berusaha mendominasi pikirannya saat ini. Semakin berpikir positif, semakin terngiang pula ucapan Sungmin di telinganya.
"Aku ingin tanya sesuatu padamu dan aku ingin kau mengatakan semuanya padaku dengan jujur. Ingat? Aku wali kelasmu dan aku juga yang telah menyelamatkanmu dari hukuman skorsing."
"Apa?"
"Kau benar-benar harus menjawab semua pertanyaanku dengan jujur."
"Kalau Saem tidak percaya padaku, maka jangan bertanya."
"Kenapa kau dan Sungmin bertengkar? Aku yakin ada alasan lain selain menyukai orang yang sama."
Baru saja Eunhyuk ingin melupakan masalah itu, gurunya malah bertanya dan minta penjelasan. Eunhyuk meletakan kembali alat tulisnya, ia menatap Donghae lurus ke matanya. Eunhyuk merasa ragu, haruskah ia mengatakan semuanya? Jika ia mengatakan semuanya, akankah Donghae mempercayainya? Selama ini semua orang tidak pernah percaya pada kata-katanya dan hanya mempercayai kata-kata Sungmin saja.
"Dia merebut kekasihku."
"Sungmin bilang kau yang merebut kekasihnya."
Eunhyuk berdecih, bola matanya berputar bosan. Benar, 'kan? Lagi-lagi kata-kata Sungmin yang di percaya.
"Dia sudah memberitahumu rupanya. Kalau kau mempercayai kata-katanya, kenapa harus bertanya lagi padaku? Cukup percayai apa yang ingin kau percaya."
"Kemana kau pergi tiap malam?"
Harus Eunhyuk akui, tingkat penasaran gurunya ini melebihi rata-rata. Semua dia ingin tahu dengan detail. Well, semua ini gara-gara Sungmin sialan itu. Mulutnya benar-benar seperti ember bocor! Ini masalah mereka berdua tapi dia malah memberitahu semua orang sehingga kejadian yang sebenarnya aib ini diketahui orang banyak.
"Baiklah, aku akan mengatakan semuanya padamu dan aku harap setelah ini kau berhenti mencecarku dengan pertanyaan."
Kalau boleh jujur, sebenarnya Eunhyuk tidak yakin harus menceritakan semuanya atau tidak. Tapi yang benar saja, yang ada dihadapannya sekarang adalah wali kelasnya yang cerewetnya melebihi ibunya dan rasa penasarannya melebihi Junsu. Sejak awal bertemu, Donghae tidak pernah puas mencecar Eunhyuk dengan pertanyaan sampai dia mendapatkan jawaban yang diinginkannya.
Eunhyuk berdecak samar, kemudian ia menghembuskan nafasnya sebelum memulai kalimatnya yang mungkin akan menjadi kalimat terakhir yang ia ucapkan pada Donghae.
"Aku pergi ke bar, untuk menghisap penis orang yang mau membayarku. Yang dikatakan Sungmin memang semuanya benar, aku jalang dan aku memang merebut orang yang dia sukai. Bukankah kau sendiri juga tahu? Aku suka mengoda orang-orang, tak hanya dirimu. Aku suka seseorang dengan penis yang keras dan panjang, atau seseorang yang bisa menyentuhku sampai aku lelah mendesah."
"Hentikan!"
Satu tamparan mendarat di pipi Eunhyuk begitu ia menyelesaikan kalimatnya. Sakit, tapi Eunhyuk tak bergeming sama sekali. Dengan berani ia menatap lurus ke mata Donghae dan menunjukan senyum meremehkan, di tampar seperti itu sama sekali bukan hal yang baru bagi Eunhyuk.
"Perlu kau ingat, Saem. Guru di larang menggunakan kekerasan pada muridnya."
"Temui aku di ruanganku besok, akan aku pastikan kau di tendang dari sekolah ini."
"Dengan senang hati, Saem."
Setelah Donghae pergi dari kamarnya dengan membanting pintu kamarnya keras-keras, barulah Eunhyuk merubah ekspresinya. Senyumnya hilang dan berganti dengan ringisan kecil. Eunhyuk meringis sambil memegangi pipi kirinya yang baru saja di tampar Donghae, sepertinya Donghae tidak menamparnya dengan sekuat tenaga tapi entah kenapa rasa sakitnya lebih-lebih dari pada saat ia dipukuli Sungmin dulu. Eunhyuk melangkah menuju kamar mandi dan mematut dirinya di cermin, benarkah ia tidak apa-apa? Kenapa ia merasa gemetar dan tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.
Ingin menangis tapi tidak tahu apa yang ingin Eunhyuk tangisi, ingin berteriak dan memaki tapi tidak tahu pada siapa ia harus memaki. Eunhyuk membasuh wajahnya dengan air dingin, kemudian kembali melihat bayangannya di cermin.
Apakah jalan hidupku memang seperti ini? Apa seumur hidupku aku hanya akan begini dan tidak pernah tahu apa itu bahagia?
Kenapa?
Mungkin seharusnya Eunhyuk tidak mengkhawatirkan masalah kebahagiaannya saat ini, yang perlu ia rusaukan adalah bagaimana kalau ia benar-benar dikeluarkan dari sekolah? Mungkin orangtuanya akan mengusirnya dan tidak lagi menganggapnya anak, tapi siapa yang peduli? Justru bagus, dengan begitu Eunhyuk tidak perlu lagi berdebat dengan kakaknya soal siapa yang akan memegang perusahaan ayah mereka. Toh hidup tanpa orangtuapun Eunhyuk tidak akan sengsara atau kelaparan. Cukup dengan menjentikan jari Eunhyuk bisa mendapatkan laki-laki berkantong tebal yang rela menghabiskan uangnya demi memuaskan Eunhyuk, yang perlu ia lakukan hanya membuka paha untuk orang-orang itu.
Ini aku dan beginilah hidupku...
.
.
Sesampainya di mobil, Donghae memukul-mukul stir mobilnya dengan brutal. Ia kesal dan ingin marah tapi tidak tahu bagaimana cara melampiaskan semua itu. Donghae benar-benar tidak menyangka Eunhyuk orang yang seperti itu, apa yang dikatakan Sungmin ternyata semuanya benar dan sampai sekarang ia masih bingung harus bagaimana dan harus bereaksi seperti apa. Haruskah ia marah? Haruskah ia diam saja? Haruskah ia pura-pura tidak tahu? Donghae sama sekali tidak tahu harus berbuat apa, hingga rasa kesal dihatinya seperti akan meledak kapan saja.
Donghae memandangi telapak tangan kanannya, ia merasa berdosa saat menampar Eunhyuk tadi. Emosinya tiba-tiba tidak terkontrol saat rentetan kalimat kotor keluar dari bibir tipis, mengalir dengan lancar layaknya air. Donghae merasa ada sesuatu yang menimpa kepalanya saat Eunhyuk mengatakan apa saja yang dia lakukan di bar dan jantung Donghae seperti di remat hingga hancur saat tangannya menampar Eunhyuk tanpa sadar. Kenapa Eunhyuk tidak berbohong saja? Seandainya dia berbohong, Donghae mungkin tidak akan merasa sekacau sekarang.
Perasaan ini, Donghae sama sekali tidak mengerti dan tidak tahu kenapa ada perasaan seperti itu. Selama hidupnya, rasa seperti ini baru sekali ia rasakan dan rasanya sangat menyebalkan.
Sial! Brengsek! Bajingan!
Serentetan kalimat makian terus keluar dari mulut Donghae. Makian yang entah ia tujukan pada dirinya atau Eunhyuk itu sama sekali tidak membantu mengurangi rasa kesal dihatinya, yang ada rasa itu semakin mencekiknya dan semakin membuatnya ingin marah.
Sepuluh menit berlalu dan Donghae belum juga beranjak dari tempatnya. Donghae masih duduk diam di belakang kemudi sambil memandangi gedung asrama, entah apa yang ia lihat. Tak lama, ketika Donghae menyalakan mobilnya ia melihat Eunhyuk memanjat benteng belakang asrama dengan pakaian yang tidak layak di sebut pakaian sama sekali. Malam-malam begini, bocah itu keluar menggunakan kaos tipis tanpa lengan dan celana jeans robek yang robeknya sampai ke paha. Pakaian macam apa itu? Dan mau kemana dia dengan pakaian seperti itu?
Bar.
Sial! Bocah itu pasti akan pergi ke bar. Donghae turun dari mobilnya dan mengikuti Eunhyuk diam-diam, ia ingin tahu kemana bocah itu akan pergi atau lebih tepatnya bar mana yang akan dia kunjungi? Donghae mengitari pandangannya ke sekelilingnya. Wow! Kawasan yang letaknya tak jauh dari sekolah ini terlihat seperti tempat perkumpulan para jalang. Sepanjang mata memandang, Donghae hanya melihat orang-orang bercumbu di pinggir jalan tanpa malu dan beberapa sedang menghisap rokok dan mabuk. Cahaya remang-remang di sepanjang jalan ini membuat pandangan Donghae sedikit kabur, beberapa kali ia membenarkan letak kacamatanya agar bisa terus mengawasi Eunhyuk yang sekarang sudah masuk ke salah satu bar yang sama sekali tidak menunjukan kepeduliannya apakah pengunjungnya masih di bawah umur atau tidak.
Dentuman musik langsung menyapa telinga Donghae dan aroma yang ia hirup saat pertama kali masuk ke tempat nista ini adalah alkohol dan asap rokok dimana-mana. Satu hal, Donghae tidak suka tempat ini! Bagaimana bisa tempat ini menjadi pusat kesenangan orang-orang? Sepertinya hanya orang yang tidak waras saja yang mencari kesenangan di tempat seperti ini. Dan Eunhyuk salah satu dari orang-orang tidak waras itu.
"Hei sexy, aku menunggumu sejak tadi sampai tegang. Kau harus betanggungjawab dengan menjadi tawanan kamarku sepanjang malam."
"Sayangnya tigaratus ribu Won sama sekali tidak menarik minatku. Kau hanya bisa menyentuhku tanpa bisa memasukiku dengan uang itu."
Bisa Donghae saksikan dengan jelas bagaimana Eunhyuk dan laki-laki yang entah siapa itu berinteraksi secara tidak senonoh. Tangan laki-laki itu merabai seluruh lekuk tubuh Eunhyuk tapi yang dirabai malah diam saja dan terkesan menikmatinya. Dengan senang hati Eunhyuk mengambil tigaratus ribu Won yang ada di tangan laki-laki itu lalu membiarkan tangan laki-laki itu masuk ke dalam kaosnya, sementara jemari Eunhyuk mengambil sebatang rokok yang sedang di hisap laki-laki itu untuk kemudian ia hisap dengan gaya mengundang.
Jengah. Hanya itu yang Donghae rasakan sekarang. Hatinya seperti terbakar dan kepalanya berdenyut-denyut seperti akan meledak. Dengan langkah mantap, Donghae menghampiri mereka berdua dan merebut batang rokok itu dari mulut Eunhyuk. Tidak lupa ia menghajar laki-laki yang tadi merabai Eunhyuk dengan bogem mentah yang meninggalkan luka kecil di sudut bibir laki-laki itu.
"Bedebah! Beraninya menyentuh anak di bawah umur!"
Donghae berteriak dan memaki sebelum mengambil lembaran Won dari dompetnya yang kemudian ia lemparkan ke wajah laki-laki itu.
"Pakai uang itu untuk ke rumah sakit."
Tanpa mempedulikan kerumunan orang yang mulai berkumpul mengelilingi mereka, Donghae menarik pergelangan tangan Eunhyuk dan menyeretnya paksa keluar dari tempat laknat itu. Meski Eunhyuk terus meronta dan meneriakinya untuk melepaskannya, Donghae terus melangkah dan menulikan telinganya. Persetan dengan semua orang yang memandangi mereka dengan tatapan aneh dan bertanya.
"Lepaskan, Saem!"
"Diam!"
Donghae berbalik dan langsung membentak Eunhyuk. Wajah Eunhyuk memucat, ia terkejut dengan bentakan Donghae yang sangat keras itu.
Setelah Eunhyuk tenang, Donghae membawa Eunhyuk masuk ke salah satu motel yang ada di kawasan itu. Jika bukan karena Donghae meninggalkan mobilnya di depan gedung sekolah, mungkin ia tidak akan menyeret Eunhyuk masuk ke motel ini. Donghae hanya perlu tempat yang kondusif untuk berbicara dengan Eunhyuk dan itu tidak mungkin ia lakukan di pinggir jalan yang penuh dengan orang-orang yang sedang bercumbu.
Begitu mendapatkan kunci, Donghae kembali menyeret Eunhyuk dan langsung menghempaskannya ke kasur hingga membuatnya terjerembab.
"Jadi begini kelakuanmu selama ini? Kau menjajakan dirimu?"
Eunhyuk diam saja sambil memandangi Donghae dengan tatapan marah. Ia memegangi pergelangan tangannya yang merah karena di cengkram terlalu keras.
"Jawab aku! Selama ini kau keluar asrama malam-malam untuk menjajakan dirimu? Benar begitu?"
"Kau sudah melihatnya tadi, untuk apa bertanya lagi? Sudahlah, karena ulahmu aku jadi kehilangan uangku!"
Eunhyuk bangkit dari kasur lalu berjalan melewati Donghae menuju pintu tapi sebelum tangannya sempat menyentuh kenop pintu, Donghae menariknya dan melemparkan berlembar-lembar Won di depan wajah Eunhyuk.
"Cukup? Sekarang duduk dan mari kita bicara."
Ini keterlaluan. Donghae mengusap wajahnya dengan kasar karena sungguh, ia kehilangan kata-katanya saat melihat Eunhyuk memunguti uang yang berserakan di lantai lalu memandangi Donghae dengan remeh.
"Terima kasih, tapi kau perlu mengeluarkan uang lebih jika ingin berbicara denganku."
Sekali lagi Eunhyuk melangkah melewatinya. Kali ini Donghae benar-benar merasa marah dan kesal. Donghae menarik pergelangan tangan Eunhyuk lalu menghimpitnya di antara pintu. Matanya menatap nyalang ke arah bibir Eunhyuk dan entah dorongan dari mana tiba-tiba saja Donghae memagut bibir Eunhyuk dengan kasar dan menutut.
Bagi Eunhyuk yang sering diperlakukan seperti ini, sama sekali tidak sulit untuk mengimbangi ciuman Donghae yang terus saja menuntut. Eunhyuk mendorong Donghae dan mengarahkannya menuju tempat tidur yang hanya cukup untuk satu orang itu. Posisi Eunhyuk yang berada di atas Donghae membuatnya sedikit kesulitan mengimbangi ciuman Donghae karena ia tidak biasa mendominasi, Eunhyuk berguling dan membiarkan Donghae berada di atasnya tanpa memutuskan tautan bibir mereka. Begini lebih baik, Eunhyuk suka saat seseorang mengambil alih atas dirinya dan mendominasinya seperti ini.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?"
Sesaat setelah tautan mereka terlepas, Donghae melepaskan kacamatanya dan menatap Eunhyuk dengan mata berkaca-kaca. Hatinya sakit sekali ketika mengingat kejadiaan dimana Eunhyuk digerayangi dan diperlakukan layaknya jalang murahan. Eunhyuk bahkan memunguti uang yang tadi ia lempar seperti orang yang tidak punya harga diri. Sakit sekali! Hati Donghae berdenyut sakit melihat semua itu. Donghae tidak mengerti kenapa ia harus merasakan semua ini padahal selama ini Donghae hanya menganggap hubungan mereka sebatas guru dan murid. Perasaan menyiksa ini sungguh mengambil alih kewarasannya.
"Kenapa kau melakukan semua ini?"
Sekali lagi Donghae mengulangi pertanyaannya, lelehan airmata jatuh membasahi pipinya dan tetesan airmata itu berakhir di wajah Eunhyuk yang masih berada di bawah Donghae. Kenapa airmata itu menetes begitu saja? Apa yang ia tangisi dan kenapa ia menangis? Donghae tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana tapi yang jelas, Donghae tidak suka perasaan menyiksa yang menyelimutinya saat ini.
"Saem..."
Donghae bangkit dari atas tubuh Eunhyuk, ia duduk di pinggir tempat tidur sambil memegangi kepalanya yang seperti akan hancur karena terus berdenyut-denyut sakit.
"Tolong aku."
Lengan Eunhyuk melingkar di pinggang Donghae, namun Donghae masih tetap tidak bergeming. Ingin rasanya berbalik tapi rengkuhan Eunhyuk di pinggangnya terlalu kuat hingga Donghae sedikit kesulitan untuk bergerak dan egonya terlalu tinggi untuk sekedar menatap Eunhyuk pun ia tidak mau dan tidak sanggup.
"Maafkan aku."
Rentetan kalimat penyesalan keluar dari mulut Eunhyuk satu-persatu namun itu sama sekali belum cukup untuk mendinginkan hati Donghae yang masih panas membara.
"Jika kau ingin mengeluarkan aku dari sekolah, maka lakukanlah. Tapi aku ingin meminta satu permintaan padamu, tolong jangan membenciku."
Eunhyuk semakin mengeratkan rengkuhannya dan menenggelamkan wajahnya di punggung Donghae. Di saat seperti ini Eunhyuk ingin sekali menangis, tapi airmata itu sama sekali tidak keluar.
Benci? Tidak terlintas sedikitpun dalam benak Donghae untuk membenci Eunhyuk. Ia terus memaksa dirinya untuk membenci Eunhyuk tapi tidak bisa. Perasaan menyiksa itu terus saja datang ketika Donghae berusaha membenci Eunhyuk.
"Kita pulang dan selesaikan masalah ini besok."
Tanpa berbalik untuk melihat Eunhyuk, Donghae menarik pergelangan tangan Eunhyuk untuk membawanya keluar. Sepanjang jalan, tidak sepatah katapun keluar dari mulut mereka berdua. Donghae bungkam dan pandangannya lurus menatap ke dapan, sementara Eunhyuk yang berada di sampingnya hanya bisa menghembuskan nafas sesekali sambil melihat ke arah tangannya yang masih di genggam Donghae. Sebentar lagi mereka akan sampai ke gedung sekolah tapi Donghae masih saja diam dan itu membuat Eunhyuk frustasi juga serba salah.
"Masuklah, masalah ini biar aku yang akan menanganinya."
Donghae berdiri di ambang pintu kamar Eunhyuk dengan jemari mereka yang masih bertautan. Sebelum pergi, Donghae mengelus puncak kepala Eunhyuk lalu melepaskan tautan jemari mereka begitu saja. Donghae baru dua langkah menjauh tapi kemudian suara lirih Eunhyuk menghentikannya.
"Saem..."
Suara itu terlalu lirih tapi Donghae tetap enggan berbalik untuk menatap wajah Eunhyuk barang sedetikpun.
"Jangan melakukan hal seperti tadi lagi atau aku akan membakar tempat itu dan kau akan menerima hukuman yang berat, bahkan kalau perlu kau akan aku keluarkan dari sekolah ini."
Akhirnya, perasaan terlarang itu muncul juga. Apa yang bisa aku lakukan?
.
.
ooODEOoo
"Siswa Lee Hyukjae dari kelas 2-2 dan Lee Donghae Sonsaengnim, silahkan menghadap kepala sekolah di ruangannya. Terima kasih."
Suara dari dari pengeras suara di kelas itu membuat suasana hening menjadi gaduh. Junsu menatap Eunhyuk dengan cemas, sudah pasti sahabatnya itu melakukan sebuah kesalahan sampai di panggil menghadap kepala sekolah seperti ini. Perasaannya sejak kemarin memang sudah tidak enak, gelagat Eunhyuk saat ia meninggalkannya aneh dan lihat sekarang, dia di panggil oleh kepala sekolah dengan alasan yang tidak Junsu ketahui.
"Apa yang kau lakukan saat aku tidak ada? Kau pergi ke bar? Berkelahi? Kau sudah gila?"
"Ada apa lagi kali ini?"
Bahkan Taemin yang biasanya tidak ikut-ikutan pun ikut cemas dan langsung menghampiri Eunhyuk di belakang. Pasalnya meskipun dia tahu Eunhyuk bukan murid baik-baik, baru kali ini Eunhyuk di panggil kepala sekolah. Terakhir, Eunhyuk di panggil kepala sekolah saat insiden merokok itu terjadi.
"Jangan cemas. Aku tidak akan apa-apa."
"Siapa yang mencemaskanmu, idiot? Aku mencemaskan dengan siapa aku akan tidur kalau kau di keluarkan? Dasar sialan!"
"Eunhyuk! Berapa kali aku bilang? Jangan merokok!"
"Kau bisa pindah ke kamar Yoochun Sunbae-nim, dia 'kan tidur sendiri. Jadikan kesempatan itu untuk mencicipi penisnya. Dan kau Lee Taemin, haruskah kau berteriak-teriak? Aku tidak merokok! Ini hanya masalah kecil!"
Junsu dan Taemin mendengus hampir bersamaan.
"Sekali lagi kau membahas penis, maka akan kutendang penismu dan kupastikan kau impoten seumur hidup!"
"Uh, takut."
"Aku serius, idiot!"
Eunhyuk hanya tersenyum menanggapi Junsu yang kelewat—sok—polos itu. Gayanya saja sok imut dan tidak tahu apa-apa soal sex, padahal setiap malam ia menonton film biru dari ponsel pintarnya dan Eunhyuk juga tahu Junsu mengoleksi majalah dewasa di kamar pribadinya di rumah.
"Mereka mulai lagi."
Melihat Junsu dan Eunhyuk kembali berargumen soal penis, Taemin hanya bisa menghela nafas pasrah dan kembali ke tempat duduknya di depan. Kedua temannya itu tidak bisa menjaga mulutnya dan selalu berkata kotor dimanapun kapanpun.
"Jangan membantah apa kata kepala sekolah. Semangat!"
Wajah Taemin sungguh menggelikan, jelas-jelas Eunhyuk di ambang hidup dan mati tapi laki-laki berambut hitam legam itu malah menyemangatinya. Semangat untuk apa? Mati? Yang benar saja.
Langkah Eunhyuk yang awalnya percaya diri menjadi semakin berat saat kantor kepala sekolah sudah berada tepat di depan matanya, mungkin ini akhir dari segalanya. Tamatlah sudah riwayatnya jika ternyata di dalam ada kedua orangtuanya.
"Masuk dan duduklah."
Inilah hari kehancuran.
Eunhyuk duduk di samping Donghae, akhirnya Eunhyuk bisa bernafas sedikit lega karena ternyata orangtuanya tidak ada. Tidak ada? Apa Donghae tidak memberitahu orangtuanya? Kenapa? Ah, siapa yang peduli? Yang penting orangtuanya tidak ada di sini dan Eunhyuk bisa bernafas sedikit lega karena dengan begitu ia tidak perlu mendengar bentakan ayahnya atau ocehan ibunya.
"Seorang siswa mengadukanmu pada penjaga asrama bahwa kau sering keluar asrama diam-diam, benar begitu? Bukankah kau sendiri tahu peraturan sekolah tidak memperbolehkanmu bekerja paruh waktu selama menjadi siswa di sini."
Bekerja paruh waktu?
Eunhyuk tidak mengerti dengan pembicaraan ini. Sejak kapan ia bekerja? Oh, tunggu. Jelas ini semua karena Donghae. Eunhyuk yakin, Sungmin sudah mengadukan semua tentang dirinya yang sering keluar asrama tapi Donghae menutupi semua itu dengan berbohong kepada kepala sekolah. Sial! ia jadi merasa bersalah karena insiden kemarin dan di tambah yang sekarang ini.
"Maaf."
Sementara ini hanya itu yang bisa Eunhyuk ucapkan, ia tidak tahu harus berkata apa di depan kepala sekolah. Eunhyuk melirik Donghae sekilas dengan ekor matanya, dapat ia saksikan dengan jelas raut wajah Donghae yang murung dan tertekan. Kalau dia merasa tertekan, kenapa malah berbohong dan menutupi semua kesalahannya? Seharusnya dia katakan saja semua, toh Eunhyuk sudah pasrah kalau memang ia harus di keluarkan dari sekolah.
"Kau di skors selama satu minggu. Surat pembertahuan sudah aku kirim ke orangtuamu dan selama di skors kau akan tetap tinggal di asrama dengan tugas sekolah yang akan diberikan oleh wali kelasmu. Dan untuk Lee Sonsaeng, ini peringatan kedua untukmu sebaiknya kau berhati-hati dan jangan lalai. Aku berharap lebih padamu karena kau akan di rekomendasikan ke pihak yayasan untuk menjadi guru tetap. Kalian boleh pergi."
Eunhyuk membungkuk hormat sebelum menutup pintu ruangan kepala sekolah, kemudian ia berlari menyusul Donghae yang sudah berada jauh di depannya.
"Seharusnya katakan saja semua. Kenapa harus berbohong?"
"Aku tidak melakukannya untukmu. Semua demi diriku sendiri dan karirku. Ikut sebentar ke ruanganku, ada beberapa lembar soal yang harus kau kerjakan. Kalau ujian kali ini gagal, ini bukan hanya akhir untukmu tapi untukku juga. Jadi, aku mohon padamu agar belajar sungguh-sungguh untuk kali ini saja."
Nada dingin yang dilontarkan Donghae membuat Eunhyuk merasa serba salah. Bila waktu itu Eunhyuk merasakan sesuatu yang menggelitik, maka hari ini Eunhyuk merasakan sesuatu sedang meremat-remat jantungnya. Eunhyuk tidak berani lagi berkata-kata, ia hanya diam dan mengikuti langkah Donghae menuju ke ruangannya.
"Setelah jam pelajaran selesai, aku akan datang ke kamarmu untuk memeriksa pekerjaanmu."
Eunhyuk mengangguk pelan setelah menerima berlembar-lembar kertas dari tangan Donghae, ia kemudian meninggalkan ruangan Donghae dengan perasaan yang tidak tentu. Tatapan Eunhyuk kosong dan nyawanya seperti terpisah dengan tubuhnya. Sungguh, ia tidak suka mendengar nada dingin itu!
"Eunhyuk!"
Seseorang menepuk pundak Eunhyuk. Suasana hati Eunhyuk sedang benar-benar buruk dan seseorang justru menghampirinya dan mungkin akan mengajaknya bicara. Eunhyuk mendengus malas, siapa yang berani-beraninya mengajak bicara di saat seperti ini?
"Kyuhyun?"
"Kau mengenalku rupanya."
Eunhyuk berdecak, "Si bodoh ini. Memangnya siapa yang tidak kenal denganmu? Si murid jenius yang terkenal seantero sekolah. Setiap tahun aku melihat namamu di papan pengumuman, terpampang di posisi teratas."
"Aku kekasihnya Sungmin."
"Aku sudah muak mendengar itu setiap hari dari siswa yang lain, jadi sebaiknya kau tidak perlu ikut-ikutan. Mau apa?"
"Hari minggu aku tunggu di café samping sekolah. Kau tidak bisa menolak, terima kasih."
Setelah mengutarakan maksudnya, Kyuhyun berlari meninggalkan Eunhyuk yang masih terbengong melihat kepergian Kyuhyun.
"Si idiot itu kenapa seenaknya sekali. Sialan!"
Bahkan setelah berbicara dengan Kyuhyun, suasana hati Eunhyuk menjadi semakin buruk. Ia sedang di skors dan Kyuhyun si jenius sialan itu malah mengajaknya keluar di hari minggu, entah apa maksudnya mengajak keluar seperti itu. Apa ini ajakan kencan? Bila iya, maka perang dunia yang entah ke berapa akan di mulai. Sungmin pasti akan mengahajarnya atau lebih buruknya, ia akan di bunuh dan di kubur hidup-hidup oleh Sungmin. Oh, shit! Masalah di masa lalu saja belum selesai dan sekarang masalah baru menanti.
Terukutuklah dunia ini!
"Apa itu?"
Eunhyuk memegangi dadanya ketika suara Junsu tiba-tiba menusuk gendang telinganya. Si pantat bebek itu kenapa ada di kamar selagi jam pelajaran masih berlangsung?
"Bukankah jam pelajaran belum selesai?"
"Memang. Aku kemari untuk mengambil buku yang tertinggal. Bagaimana hasil pembicaraanmu dengan kepala sekolah? Kau dikeluarkan?"
"Sialnya, tidak. Kepala sekolah hanya mengirim surat pemberitahuan pada orangtuaku dan aku di skors selama seminggu. Dan kertas-kertas ini adalah hadiah dari Lee Sonsaengnim."
Junsu tertawa terbahak-bahak tanpa alasan dan tentu saja hal itu membuat Eunhyuk kesal. Memangnya apa yang lucu? Ia sedang kesusahan dan sahabat terbaiknya malah mentertawakannya! Bagaimana bisa Eunhyuk memanggil si pantat bebek ini sahabatnya. Menyebalkan sekali mendengar suara tertawanya yang unik itu!
"Diam, bodoh! Kenapa tertawa?"
Eunhyuk menendang bokong Junsu. Apa dia pikir suara tertawanya itu merdu?
"Kau hanya tahu ukuran penis orang tapi otakmu dangkal sekali. Ingat di awal Lee Sonsaengnim mengajar? Dengan percaya diri kau mengatakan akan menaklukannya tapi lihat apa yang terjadi padamu, kau terus saja mengalami kesialan yang bertubi-tubi."
"Pergi sana! Sahabat macam apa yang malah mentertawakan temannya di saat susah begini."
"Kau susah karena ulahmu sendiri. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu? Carilah kekasih dan berubahlah. Dunia malam hanya akan merusakmu, kau pikir dengan datang ke bar dan menjajakan diri bisa membuat semua masalahmu selesai? Masalah itu harus di selesaikan dan di cari jalan keluarnya."
Wajah Eunhyuk berubah masam. Di saat seperti ini Eunhyuk sama sekali tidak butuh ceramah, yang ia butuhkan adalah seseorang yang mau membantunya menyelesaikan soal-soal terkutuk ini.
"Daripada berceramah, lebih baik urusi saja masalah sexmu dengan Yoochun Hyung."
"Kami tidak melakukannya karena kami masih di bawah umur!"
"Oh, kupikir karena kekasihmu itu tidak tergoda padamu atau jangan-jangan dia impoten? Ah, atau mungkin penisnya kecil?"
"Brengsek! Mulutmu itu benar-benar sialan!"
"Terima kasih."
"Idiot!"
Pertengkaran kecil dengan Junsu seperti ini sering sekali terjadi sejak mereka menjadi teman sekamar, hal itu satu-satunya hiburan untuk Eunhyuk. Setidaknya, beradu argumen dan meledek Junsu yang belum melakukan apapun dengan kekasihnya membuat rasa kesal Eunhyuk sedikit berkurang.
Junsu sudah pergi dan sekarang ada setumpuk soal yang harus Eunhyuk kerjakan. Eunhyuk mendengus sambil memperhatikan kertas-kertas soal yang berserakan di meja belajarnya, melihatnya saja sudah membuat Eunhyuk muak. Dengan perasaan malas setengah mati, akhirnya Eunhyuk duduk di meja belajarnya dan mulai membaca soal pertama. Belum selesai membaca soal pertama, Eunhyuk sudah mendengus lagi karena sungguh ia sama sekali tidak mengerti apa maksud soal pertama. Soal kalkulus sialan ini hanya membuat kepala Eunhyuk pusing. Eunhyuk mendesah melemparkan alat tulisnya, ia tidak bisa membaca soal ini lebih lanjut lagi.
"Kalau hanya mendengus dan mengeluh, soal itu tidak akan selesai dengan sendirinya."
Eunhyuk terperanjat kaget saat melihat Donghae sudah berada di belakangnya. Kapan dia masuk? Kenapa tidak ada suaranya? Eunhyuk memungut pensil yang tadi ia lempar kemudian mengambil kursi belajar Junsu untuk Donghae.
"Aku tidak mengerti."
"Bagaimana kau mau mengerti kalau yang kau lakukan di kelas hanya tidur atau menggoda guru! Mulai sekarang, perhatikan gurumu dengan benar!"
"Aku selalu memperhatikan mereka."
Donghae berdecak, tak segan-segan ia memukul kepala Eunhyuk dengan pensil yang ada di tangannya.
"Maksudku, perhatikan apa yang mereka katakan! Bukan memperhatikan yang lain."
Bibir Eunhyuk mencibir sambil mengusap puncak kepalanya sendiri, ternyata Donghae tahu maksud dari kata perhatikan yang ia maksud.
"Perhatikan ini."
Secara otomatis mata Eunhyuk memperhatikan wajah Donghae, bukan apa yang sedang Donghae tulis di secarik kertas. Eunhyuk tahu itu sebuah rumus, tapi wajah Donghae yang sedang serius jauh lebih menarik dari pada rumus yang sedang Donghae tuliskan untuknya.
"Perhatikan rumusnya, Eunhyuk! Bukan wajahku."
"Kau merasa diperhatikan? Kenapa? Gugup, ya?"
Tidak ada tanggapan, Donghae terus saja berkutat dengan apa yang ia tulis dan berpura-pura tidak mendengar ocehan Eunhyuk. Eunhyuk mengendikan bahunya acuh, kemudian ia kembali berceloteh tapi Donghae sama sekali tidak bergeming dan tetap pada posisinya. Sialan, Eunhyuk berceloteh panjang lebar tapi Donghae malah terus mengacuhkannya, bahkan dia bertingkah seperti menganggap Eunhyuk tidak ada.
"Saem?"
Masih tetap diam dan acuh. Eunhyuk tidak menyerah, ia mendekatkan wajahnya dan memanggil Donghae tepat di telinganya.
"Saem!"
"Apa!"
Wajah Donghae menoleh tiba-tiba, membuat wajah keduanya saling berhadapan nyaris tanpa jarak. Untuk beberapa saat mereka saling menatap dalam keheningan dan saat Donghae mencoba memberi jarak di antara mereka, Eunhyuk menarik kerah kemeja Donghae. Saat waktu seakan berhenti, Eunhyuk memberanikan diri untuk menempelkan bibir mereka berdua. Hanya menempel, tidak lebih. Setelah itu Eunhyuk melepaskan cengkramannya di kerah kemeja Donghae dan membiarkan laki-laki bermata bening itu mengambil nafas.
"Apa yang kau lakukan?"
"Tidak ada. Ayo lanjutkan, Saem."
Wow! Rasanya luar biasa! Eunhyuk menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan sangat perlahan. Bibir mereka hanya menempel tapi Eunhyuk merasa seluruh darahnya berdesir, bagaimana jika mereka melakukan hal yang lebih dari itu? Eunhyuk mungkin akan mati karena sesak nafas.
Pada akhirnya, akulah yang terjatuh untukmu...
.
.
ooODEOoo
Junsu membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak atau memekik atau menimbulkan suara-suara aneh yang lain ketika menyaksikan adegan yang tidak seharusnya dilakukan oleh guru dan murid itu. Ini gila! Dengan mata kepalanya sendiri, Junsu melihat Eunhyuk mengecup singkat bibir Donghae. Junsu yang tadinya ingin beristirahat di kamar setelah seharian belajar di kelas, mengurungkan niatnya dan kembali menutup pintu sepelan mungkin tanpa menimbulkan keributan apapun. Karena tidak tahu mau kemana, akhirnya ia memutuskan untuk ke kamar Yoochun saja. Hari ini pasti hari yang tidak waras, Eunhyuk benar-benar dengan ucapannya soal menaklukan Donghae dan itu membuat Junsu sedikit shock.
"Hyung!"
Oh, sialan! Junsu baru saja melihat adegan romantis sahabatnya dan sekarang ia melihat kekasihnya bertelanjang dada keluar dari kamar mandi. Hanya selembar handuk putih menutupi bagian pinggang ke bawah, selebihnya Junsu bisa melihat dengan jelas bagaimana lekuk tubuh Yoochun. Indah sekali. Well, mungkin seharusnya lain kali ia mengetuk pintu terlebih dahulu agar tidak memikirkan hal-hal aneh seperti Eunhyuk.
"Ada apa? Habis melihat setan?"
"Bu—bukan, aku—erm, Eunhyuk sedang sensitif jadi sepertinya aku akan beristirahat sejenak di sini."
"Oh. Duduklah, aku akan berganti pakaian dulu."
Junsu mengangguk, lalu duduk di sofa sambil memperhatikan punggung Yoochun yang sedang sibuk memilih pakaian di lemari. Uh, harus Junsu akui tubuh kekasihnya itu sangat sexy meskipun sedikit berisi.
"Hyung!"
Yoochun yang baru saja memakai bokser berbalik ketika kekasihnya memekik memanggil namanya, ia terkejut dan bingung kenapa Junsu memanggilnya sampai seheboh itu. Yoochun hanya melepaskan handuknya dan memakai boksernya sambil memunggungi Junsu. Apa bokongnya membuat Junsu takut? Kenapa reaksinya seperti itu?
"Ada apa?"
"Kenapa berganti pakaian di sembarang tempat!"
"Sembarang tempat? Sayang, ini kamarku. Memangnya dimana aku harus berganti pakaian?"
"Di—di kamar mandi!"
Benar-benar sial! Junsu merutuk dalam hati. Memangnya jawabannya tadi aneh? Kenapa Junsu malah tertawa mendengar jawabannya? Lebih sialnya lagi, sekarang Yoochun menghampiri Junsu tanpa memakai atasan. Tubuh putih yang sedikit berisi itu hanya berbalut bokser ketat dan membuat sesuatu yang menonjol di selangkangan Yoochun terlihat dengan jelas. Junsu rasa, ukurannya tidak kecil dan—
"Kau lihat apa?"
"Tidak."
Dan kenapa Junsu malah memperhatikan selangkangan Yoochun? Semua gara-gara otak mesum Eunhyuk yang menular! Besok-besok ingatkan Junsu untuk mencuci otak Eunhyuk agar tidak kotor dan menularkannya pada Junsu.
"Ada sesuatu yang mengganggumu, 'kan? Katakan padaku, ada apa?"
Ucapan Eunhyuk tadi siang terngiang-ngiang di telinga Junsu. Benarkah Yoochun tidak tertarik secara seksual padanya? Benarkan milik Yoochun kecil? Atau, benarkah Yoochun impoten? Tidak! Junsu menggelengkan kepalanya pelan. Untuk apa perkataan si gatal Eunhyuk di percaya? Semua yang di ucapkannya hanya membuat Junsu sesat. Tapi jujur saja, Junsu tidak tenang dan semua ucapan Eunhyuk mengganggu pikirannya.
"Kau benar-benar mencintai aku?"
"Haruskah kau menanyakan itu sekarang? Aku hanya mencintaimu dan aku setia padamu selama dua tahun ini, kau masih ragu padaku?"
Junsu berdeham sambil menggaruk tengkuknya. Benar juga, mereka sudah pacaran selama dua tahun dan Yoochun selalu setia padanya. Jawaban Yoochun kenapa harus semenyentuh itu, sih? Junsu jadi tidak bisa mencecarnya dengan pertanyaan yang lain.
"Apa aku tidak sexy? Atau, apa aku tidak menarik?
Untuk sesaat Yoochun diam saja memperhatikan wajah Junsu yang sebenarnya mau memasang wajah kesal tapi gagal, kemudian ia terkekeh menyadari kemana sebenarnya arah pembicaraan ini. Kekasih imutnya ini pasti sudah terkontaminasi pikiran kotor Eunhyuk.
"Kenapa tertawa?"
"Kau lucu, sayang. Katakan padaku dengan jujur, Eunhyuk mengatakan sesuatu padamu. Benar, 'kan?"
Selalu saja begini. Kapanpun Junsu mencoba berargumen dengan Yoochun, pasti akhirnya seperti ini. Yoochun selalu bisa menebak isi pikiran Junsu dan akhirnya mereka batal berargumen.
"Kita tidak pernah melakukan hal intim dan itu membuatku ditertawakan Eunhyuk. Dia bilang milikmu kecil dan impoten, makanya tidak mau menyentuhku."
Yoochun mendesah sambil memijat pelipisnya. Lihat saja nanti, akan Yoochun kuliti si monyet mesum yang jelek itu karena telah mengatakan yang tidak-tidak tentangnya pada Junsu. Impoten? Kecil? Eunhyuk benar-benar minta di hajar.
"Ya Tuhan, dia bilang begitu padamu? Sayang, haruskah aku menunjukan milikku padamu? Ukurannya tidak kecil dan aku tidak impoten! Katakan itu pada temanmu yang mesum itu!"
"Tidak! Tidak usah ditunjukan. Kalau begitu, aku tidak menarik untukmu?"
"Kim Junsu, dengarkan aku baik-baik. Aku mencintaimu dan kau selalu menarik untukku itu sebabnya aku menjadikanmu milikku satu-satunya, aku tidak melakukan hal yang lebih bukan karena aku tidak mencintaimu tapi justru sebaliknya. Aku sangat mencintaimu, itu sebabnya aku menjagamu dari hal-hal seperti itu."
Kalah lagi! Lagi-lagi Junsu kehilangan kata-kata dan tidak bisa membalas ucapan Yoochun. Kekasihnya ini kelewat romantis, tidak heran dia di sebut cassanova dan di masa lalu pacarnya banyak bahkan ada yang rela memberikan apapun demi menjadi kekasih Yoochun.
"Minho dan Taemin pernah melakukannya, bahkan Kyuhyun dan Sungmin Sunbae juga pernah. Ah, dan Eunhyuk juga pernah melakukannya."
Bahkan lebih...
"Jangan membandingkan hubungan kita dengan orang lain, sayang."
"Kau pernah melakukannya dengan mantan pacarmu yang sebelum-sebelumnya?"
Di luar dugaan Junsu, Yoochun mengangguk menandakan dia mengiyakan pertanyaan Junsu. Nafas Junsu seakan berhenti, apa perlu dia sejujur itu? Menyebalkan!
"Ya, aku pernah melakukannya."
"Lalu kenapa kau tidak pernah melakukannya denganku?"
"Kau ingin sama dengan mereka? Kau berbeda dengan mereka, jangan pernah samakan dirimu dengan mereka karena kau spesial untukku."
Ya Tuhan! Demi otak mesum Eunhyuk yang tidak ada duanya, Junsu meleleh dan kakinya lemas mendengar ucapan Yoochun barusan. Pipinya merona merah otomatis ketika Yoochun memeluknya dan menciumi puncak kepalanya.
"Cinta tidak hanya dibuktikan dengan sex tapi dengan cara aku menjagamu, menghormatimu, menghargaimu dan hanya memandang lurus kearahmu."
Kecupan Yoochun turun ke hidung Junsu, kemudian berakhir di bibir merah Junsu. Mereka tersenyum sebelum akhirnya Yoochun memperdalam tautan bibir mereka.
"Kau belum pakai baju."
"Ah, iya benar. Tapi bukannya kau suka, ya?"
"Park Yoochun!"
.
.
ooODEOoo
Eunhyuk melirik jam dinding dengan mata setengah mengantuk. Sudah hampir jam sembilan tapi Junsu belum juga kembali ke kamar dan soal-soal kalkulus sialan ini belum juga selesai! Donghae masih saja mengoceh soal rumus-rumus yang tidak Eunhyuk mengerti dan yang lebih sialnya lagi, Donghae terus saja memaksa Eunhyuk untuk menyelesaikan soal-soal itu malam ini juga. Demi Tuhan! Eunhyuk bisa gila! Menyelesaikan satu soal saja ia butuh waktu tigapuluh menit dan ini ada limapuluh soal yang harus ia kerjakan. Bisa-bisa semalam suntuk Eunhyuk tidak tidur dan terus berkutat dengan soal-soal sialan ini!
Melihat Eunhyuk berkali-kali menguap, Donghae memutar bola matanya dan terus saja menuliskan rumus-rumus yang harus Eunhyuk hafal. Donghae tahu, Eunhyuk sudah lelah dan mengantuk tapi jika Donghae memberi keringanan pada muridnya yang satu ini, maka dia akan meminta lebih dan akhirnya soal-soal ini terbengkalai. Donghae tidak mau Eunhyuk gagal ujian hanya karena ia tidak becus mengajar Eunhyuk, itu sebabnya ia memaksa Eunhyuk untuk menghafal semua rumus kalkulus ini.
"Saem, aku mengantuk sekali. Bisakah kita meneguk kopi atau semacamnya?"
Tanpa berkata apapun, Donghae bangkit dari kursinya lalu mengambil kunci mobilnya. Donghae sudah tidak tahan lagi mendengar rengekan Eunhyuk yang minta camilan lah, kopi lah, susu lah dan banyak lagi. Akhirnya Donghae memutuskan untuk membeli beberapa camilan dan minuman di super market yang berjarak beberapa kilometer dari gedung sekolah.
Donghae tidak tahu apa yang disukai Eunhyuk. Jadi begitu sampai di super market, Donghae mengambil berbagai macam makanan dan minuman dengan label strawberry. Tidak peduli bagaimana rasanya, yang penting ada gambar buah strawberry di situ dan Donghae yakin Eunhyuk tidak akan menolaknya. Setelah selesai dengan berbagai macam makanan dan minuman yang berbau strawberry, Donghae mengambil dua kaleng kopi instan dan susu pisang untuk dirinya. Aneh, Donghae membeli berbagai macam makanan dan minuman untuk Eunhyuk tapi hanya membeli tiga minuman untuk dirinya sendiri. Situasi macam apa ini?
"Saem! Kenapa pergi tanpa bilang apapun!"
Begitu sampai di kamar, Eunhyuk langsung menyambutnya dengan pekikan menyebalkan. Donghae tidak peduli, ia meletakan belanjaannya di hadapan wajah Eunhyuk agar bocah itu berhenti mengeluh.
"Wow! Semua strawberry! Terima kasih, Saem."
"Hm."
"Apa susahnya sih berkata iya, huh."
Sementara Eunhyuk memakan semua camilan yang Donghae berikan, Donghae kembali berkutat dengan soal-soal kalkulus. Tangan terampilnya menuliskan beberapa rumus mudah untuk Eunhyuk agar bocah itu bisa menghafalnya dan dengan mudah memecahkan soal-soal kalkulus nanti.
Tidak ada obrolan berarti di antara mereka dan Eunhyuk sama sekali tidak peduli, yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana cara menghabiskan semua camilan yang diberikan Donghae. Melihat banyak makanan rasa strawberry membuat suasana hati Eunhyuk naik drastis dan ia merasa bahagia seketika. Waktu terus berjalan, mulut Eunhyuk masih saja mengunyah makanan tapi matanya sudah setengah terpejam dan terkantuk-kantuk. Tidak lama, rasa kantuk itu semakin menjadi membuat Eunhyuk memejamkan matanya tanpa sadar. Kepalanya bersandar di bahu Donghae sementara mulutnya masih mengunyah makanan yang tersisa di mulutnya. Donghae berdecak melihat kelakuan Eunhyuk, jorok sekali! Dia bahkan ketiduran saat mulutnya penuh dengan makanan bahkan di sudut bibirnya penuh dengan remah makanan.
Tidak ada pilihan lain selain menghentikan sesi belajar ini dan memindahkan Eunhyuk ke tempat tidur. Dengan tenaga seadanya, Donghae mengangkat tubuh Eunhyuk dan membaringkannya di tempat tidur. Sebelum menyelimutinya, Donghae membersihkan remah-remah makanan di sudut bibir Eunhyuk dengan jempolnya. Tiba-tiba saja sekelebat imajinasi aneh berputar di kepalanya, Donghae menggelengkan kepalanya pelan tapi matanya terus tertuju pada bibir merah Eunhyuk yang tampak lembut dan plum itu.
Oh Tuhan, Donghae pasti sudah tidak waras! Bukannya menjauh dari wajah Eunhyuk, ia malah mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir Eunhyuk. Tanpa sadar Donghae tersenyum melihat bibir merah itu bergerak-gerak lucu setelah Donghae melepaskan tautan singkat bibir mereka. Sekali lagi, Donghae mengecup singkat bibir Eunhyuk dan mengusap puncak kepalanya sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan kamar yang menjadi saksi bisu perbuatan Donghae pada Eunhyuk.
Selamat malam, bocah nakal.
.
.
Pagi-pagi sekali Eunhyuk bangun karena jam weker yang tiba-tiba berdering dengan amat sangat kencang. Eunhyuk terperanjat dan buru-buru masuk ke kamar mandi untuk mandi, aneh sekali biasanya Eunhyuk tidak memasang weker tapi kenapa pagi ini jam weker sialan itu berdering seolah berteriak membangunkannya? Mungkinkah Junsu yang memasangnya? Tapi semalam Junsu tidak pulang ke kamar, lalu siapa yang—ah! Lee Donghae! Guru sialan itu pasti mengerjainya!
Keluar dari kamar mandi Eunhyuk hanya bisa mendengus tak percaya. Bayangkan saja, jam weker itu terpasang di jam lima lewat tigapuluh pagi! Brengsek! Ini bahkan terlalu pagi untuk mandi dan memakai seragam! Setidaknya, Eunhyuk masih punya ekstra tigapuluh menit untuk tidur tapi guru sialan itu malah mengerjainya. Lihat saja, nanti akan di balas! Dengan hati yang kesal, Eunhyuk duduk di tepian tempat tidurnya sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Tidak sengaja matanya menangkap sebuah roti dan sekotak susu di meja belajarnya. Saat menghampiri meja belajarnya, Eunhyuk melihat ada secarik kertas di samping roti dan susu itu.
Bangun pagi dan belajar yang benar, pemalas!
Sialan! Eunhyuk meremat secarik kertas itu lalu membuangnya kemana saja, ia tidak peduli. Meski kesal, ia tetap saja meneguk susu pemberian Donghae dan memakan rotinya dengan mulut yang komat-kamit mengucap sumpah serapah yang ditujukan untuk Donghae.
"Tumben sudah bangun."
"Dan kau tumben tidak pulang ke kamar. Lupa dimana kamarmu? Ah, atau kau lupa punya kamar?"
"Jangan bawel, baru kutinggal sehari kau sudah seperti ini. Kalau kau takut aku tinggalkan, berbuat baiklah padaku, idiot!"
"Diam kau! Ngomong-ngomong, apa yang terjadi semalam? Kau di kamar Yoochun Hyung, 'kan?"
"Tidak ada yang terjadi! Dengar ya, Lee Hyukjae. Kekasihku tidak impoten dan miliknya tidak kecil!"
Eunhyuk memasang raut wajah—sok—terkejut untuk meledek Junsu. Ekspresi sahabat imutnya itu lucu sekali ketika marah.
"Kau sudah melihatnya?"
"Tidak! Dia mengatakannya padaku dan dia bilang aku sangat menarik. Dia tidak menyentuhku karena dia menghargaiku dan aku spesial untuknya."
"Uh, kalimat sentimentil. Menyebalkan!"
Setiap kali Eunhyuk mendengar bagaimana Yoochun memperlakukan Junsu, ia merasa mual dan rasanya terlalu sentimentil. Entah kenapa Junsu suka sekali diperlakukan romantis seperti itu, memang apa hebatnya? Bergumul di ranjang bahkan lebih menarik dari pada kata-kata romantis atau semacamnya. Talk less do more, tidak bisakah pasangan—sok—romantis itu menerapkan ungkapan itu dalam kehidupan percintaan mereka? Mereka bukan lagi bocah ingusan, berhubungan intim dengan kekasih sama sekali tidak aneh.
"Jungmo Sunbaenim ada di lapangan sedang berbincang dengan anak-anak klub sepak bola, mau ikut denganku untuk menyusulnya? Meskipun jarang ikut berlatih kau tetap anggota tim."
Jungmo?
Eunhyuk berhenti mengunyah rotinya. Seketika rasa mual menyerang perutnya, ia tidak lagi ingin makan karena emosi yang tiba-tiba meletup-letup. Benar, hari ini adalah hari dimana turnamen akan di mulai dan seperti yang dibicarakan Junsu waktu itu, Jungmo benar-benar datang ke sekolah.
Lalu sekarang, aku harus bagaimana?
.
.
TBC
Hai, maaf agak lama ^^ kerjaan saya di kantor banyak jadi saya gak sempet ngetik fanfic ini...sekali lagi maaf ya :)
Untuk chapter kemaren saya itu kesannya buru-buru, itu karena saya digerecokin kerjaan temen yang sebenernya bukan tugas saya jadi saya gak punya waktu leluasa untuk ngetik. sekalinya ada waktu langsung saya pake ngetik dan jadinya agak berantakan...maaf ya ^^ tapi kali ini saya nyoba nulis lebih santai dan menuangkan banyak feel...semoga yang ini gak begitu ngaco kaya kemarin ^^
Jawab pertanyaan dulu ya ^^
.
Q: Kenapa langsung nyeritain konflik Min sm Hyuk? jadi kurang misterius.
A: Krn sebenernya konflik utamanya bukan itu, di ceritain semua di satu chapter biar masalah ini kelar gak bertele-tele dan cuma fokus ke haehyuk dan konflik mereka sendiri nanti. ^^
.
Q: Ada konflik ya? tapi jangan yang sampe konfliknya berat pls, jangan yang sampe hurt ya.
A: Iya ada konflik, tapi gak akan sampe hurt banget lah ^^ dan gak akan berat-berat. paling masalah biasa seputaran remaja nakal. ^^
.
Q: Tolong lanjutnya gak pake lama ya!
A: Maaf, tapi dr awal kan saya udah bilang, saya cuma bisa update seminggu sekali itu juga waktunya hrs nyuri2 di kantor. jadi, mohon pengertiannya ya...makasih ^^
.
Q: Banyakin haehyuk nya lagi yaaaa dan jangan uke tersakiti.
A: Okey...semoga yg ini cukup kkkk. ngga kok, gak bakal tersiksa atau tersakiti... ^^
'
Q: Kecepetan haehyuk ncannya
A: Semua ada prosesnya ^^ di tunggu aja di chapter depan ya... heheheh
.
Q: Kok kebanyakan kyumin kayaknya ?
A: Cuma chapter kemaren aja kok...krn untuk menyelesaikan masalah di chap kemaren ^^
.
Q: Ft. KyuMin kah? Masalah mereka akan panjang?
A: Ngga akan...cuma sekilas-sekilas aja ^^
.
Q: Pas nnti jungmo dateng bakalan ada konflik besar"an kah?
A: Jawabannya di chapter depan kkkkk ^^
.
Q: Authornim, ntar ada sibum kah?
A: Ada~ tapi...tapi... hahah ^^ di tunggu aja.
.
.
Okay~ segitu aja ^^
Hm, makasih sama semua readers yg selalu ninggalin review dan selalu menunggu fanfic ini sambil terus nyemangatin saya ^^ saya gak bosen2nya ngucap terimakasih dan bener deh kalian selalu jadi penyemangat saya untuk terus nulis dan update sekilat mungkin meski hrs mengorbankan waktu istirahat di kantor ^^ makasih ya teman2 sayaaang~ ^^
Ada pertanyaan lain? ke twitter aja atau PM ya ^^ atau ask . fm / Milkyta (hilangkan spasi) ^^
See ya next chapter ^^ semoga bisa update cepet yah ^^
makasih ^^
.
.
With Love,
Milkyta Lee
