TEACHER

Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae

Genre: Romance, Friendship

WARNING!

BOYS LOVE

BAHASA VULGAR, TIDAK COCOK UNTUK ANAK DI BAWAH UMUR!

DON'T LIKE? DON'T READ PLEASE!

THE STORY IS MINE

Typo may applied, don't be silent reader please, NOT ALLOWED TO COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION ^^

TIDAK MENERIMA BASH DAN KAWAN-KAWANNYA. KRITIK DAN SARAN SANGAT DIBUTUHKAN.

THANKYOU ^^


.

.

I get scared when I wonder if this is love...

.

.


Sebenarnya, Eunhyuk malas sekali ikut Junsu ke ruang ganti pemain. Bukan apa-apa, Eunhyuk hanya tidak mau bertemu dengan Jungmo tapi apa daya? Junsu terus saja memaksanya untuk ikut, bahkan Eunhyuk sampai lupa mengganti seragamnya karena Junsu tidak henti-hentinya berteriak di telinga Eunhyuk. Ya Tuhan, suara melengkingnya itu benar-benar membuat Eunhyuk sakit kepala. Masalahnya sekarang adalah Eunhyuk sedang dalam hukuman skorsing, kalau sampai ia ketahuan sedang berkeliaran di lapangan maka tamatlah riwayatnya. Kepala sekolah pasti memanggilnya lagi dan yang pasti Donghae akan terkena masalah lagi karena ulahnya.

"Ada yang salah dengan wajahku?"

Sepanjang jalan menuju ruang ganti pemain, Junsu terus saja memandangi Eunhyuk. Bahkan saat berganti baju pun Junsu tidak henti-hentinya mencuri pandang ke arahnya. Lama-lama Eunhyuk merasa risih dipandangi seperti itu oleh Junsu, apa bagusnya dipandangi oleh si pantat bebek? Eunhyuk lebih suka dipandangi oleh Donghae. Tunggu, kenapa Donghae lagi? Lupakan! Pagi ini Eunhyuk terlalu banyak memikirkan Donghae sehingga apapun selalu disangkut-sangkutkan dengannya.

"Kau tahu kenapa aku tidak pulang ke kamar kemarin?"

"Hm, karena kau di tahan oleh Yoochun Hyung?"

Junsu berdecak lalu memukul kepala Eunhyuk dengan gemas, "Memangnya dia maniak?"

"Lalu kenapa? Jangan bertele-tele!"

"Aku melihatmu dan Lee Sonsaengnim di kamar dan kalian—sedang—"

"Ah, itu. Kau melihatnya?"

Sebenarnya Eunhyuk salah tingkah karena ternyata Junsu memergokinya sedang mencium Donghae di kamar tapi ia tidak mungkin menunjukannya di depan Junsu karena pasti dia akan mentertawakannya.

"Kau ada hubungan khusus dengan Lee Sonsaengnim?"

"Bukankah sudah aku bilang sebelumnya? Aku akan menaklukannya dan membuatnya memohon padaku suatu saat nanti."

"Sebaiknya jangan main api kalau tidak mau terbakar."

Benar, yang dikatakan Junsu itu benar. Eunhyuk sedang bermain-main dengan api sekarang dan mungkin akan terbakar suatu saat nanti karena keteledorannya tapi jauh di lubuk hati Eunhyuk yang paling dalam, ia memang merencanakan untuk membakar dirinya. Entahlah, perasaan menggelitik yang ia rasakan saat bersama Donghae membuat Eunhyuk semakin ingin dekat dengannya. Well, mungkin sebenarnya Eunhyuk sudah terbakar sejak lama tanpa ia sadari sebelumnya.

"Hyukjae?"

Eunhyuk berbalik saat nama lahirnya di panggil, rasanya sudah lama sekali tidak mendengar nama lahirnya di panggil.

Kim Jungmo...

"Hai, apa kabar?"

Mata Eunhyuk memandangi sosok Jungmo tidak percaya. Sosok yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya itu kembali dan berdiri tepat di hadapannya dengan senyum yang dulu sering dia tunjukan pada Eunhyuk. Senyum yang sama seperti dulu, saat pertama kali mereka bertemu.

"B—baik."

"Kalian mengobrol saja dulu di sini, aku akan ke lapangan duluan."

Sial! Kim Junsu memang sialan! Kenapa dia malah meninggalkan Eunhyuk di saat seperti ini? Sudah tahu Eunhyuk tidak mau bertemu lagi dengan Junmo, dia malah meninggalkannya berdua di ruang ganti pemain seperti ini.

"Aku ingin berbicara tentang masa lalu."

"Aku rasa masa lalu kita sudah selesai dan—"

"Aku minta maaf."

Belum sempat Eunhyuk menyelesaikan kalimatnya, Jungmo memotongnya dan memaksa Eunhyuk untuk memandang lurus ke matanya. Apa-apaan ini? Kenapa Jungmo jadi seperti ini? Eunhyuk sudah tidak mengharapkan masa lalu mereka akan kembali dan yang jelas, Eunhyuk tidak mau bertemu lagi dengan Jungmo.

"Aku sudah mendengar semuanya dari Sungmin."

Sungmin lagi, Sungmin lagi! Kenapa semua orang selalu menyebut nama itu?

"Soal keadaan keluargamu dan alasan kenapa kau merokok waktu itu. Saat itu aku emosi sekali hingga tanpa sadar menamparmu, maafkan aku. Kenapa kau tidak menceritakan semuanya padaku? Kenapa kau memendam masalah sebesar itu sendirian?"

Eunhyuk ingin sekali berkata-kata membalas semua ucapan Jungmo, tapi semua kalimatnya tertahan di tenggorokan dan sulit sekali untuk mengeluarkannya. Jangankan untuk bicara, bernafaspun Eunhyuk merasa kesulitan karena rasa sesak di dadanya seperti menghimpit jantungnya dan membuat peredaran udara di dalam tubuhnya kacau. Eunhyuk memutuskan kontak matanya dengan Jungmo, ia mendorong Jungmo agar menjauh sedikit dari tubuhnya, kemudian Eunhyuk duduk bersandar pada lokernya sambil memegangi pelipisnya yang terasa berdenyut sakit.

"Berbicara denganmu membuat kepalaku pusing."

"Aku tahu, aku bersalah padamu. Aku bercumbu dengan Sungmin di saat hubungan kita di ambang kehancuran, aku memang bodoh dan tidak tahu diri. Tapi, maukah kau memaafkan si bodoh ini? Kembalilah padaku karena aku tersiksa tanpamu."

"Tak bisakah kau membiarkan masa lalu tertinggal di belakang kita? Aku sudah memaafkanmu sejak saat kalimat putus itu terucap dari mulutmu, aku sudah melepaskanmu dan melupakanmu sejak kau melangkah pergi dariku. Sekarang, biarkan masa lalu berlalu dan jangan pernah memintaku kembali padamu."

"Kenapa?"

Jungmo bersikukuh mendapatkan jawaban yang pasti dari Eunhyuk, ia bahkan terus mencengkram pergelangan tangan Eunhyuk dan terus memaksa Eunhyuk agar menatap matanya.

"Aku jalang! Aku sudah pernah tidur dengan banyak orang sejak ditinggalkan olehmu! Masihkah kau mau menerima keadaanku yang seperti itu? Aku pernah di sentuh orang lain, bercumbu dengan orang lain dan menerima uang dari setiap orang yang menyentuhku. Kenapa? Sekarang kau merasa jijik padaku? Pergilah, aku tidak mau melihatmu lagi."

Akhirnya cengkraman Jungmo mengendur, namun tatapannya masih terus tertuju pada wajah Eunhyuk. Jungmo sungguh tidak peduli dengan gossip yang beredar soal Eunhyuk, ia juga tidak ambil pusing dengan cemoohan orang-orang tentang Eunhyuk tapi kali ini ia mendengar langsung dari mulut Eunhyuk dan itu membuat hati Jungmo kacau dan tidak menentu. Ternyata semua gossip itu benar, semua cemoohan orang tentang Eunhyuk benar adanya.

"Sekarang kau sudah tahu bagaimana aku. Aku mau kembali ke asrama, permisi."

Sebelum sempat Eunhyuk melangkah, Jungmo kembali mencengkram pergelangan tangan Eunhyuk dan menahan langkahnya dengan cara berdiri di hadapannya.

"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kau kembali padaku!"

"Aku menyukai orang lain. Dia bahkan menerima keadaanku yang seperti ini, dia selalu memaafkan semua kesalahanku dan dia selalu melindungiku meski harus mengorbankan dirinya. Dia telah mempertaruhkan segalanya demi aku, hanya dia yang aku inginkan. Maaf."

Eunhyuk menghempaskan tangan Jungmo dan melangkah pergi tanpa melihat wajah Jungmo lagi. Cukup sudah penderitaannya selama ini, ia tidak mau lagi terlibat dengan Jungmo, Sungmin atau dunia malam. Mulai hari ini Eunhyuk memutuskan untuk menjalani hidup normal seperti teman-temannya yang lain. Bermain, menjalin kasih dan menghabiskan waktu dengan mengejar mimpi.

Dengan berat hati Jungmo melepaskan Eunhyuk pergi, ia melihat punggung Eunhyuk semakin menjauh dari jarak pandangnya dan kemudian hilang di balik pintu. Penyesalan Jungmo memang sangat terlambat, ia menyadari bahwa dirinya masih mencintai Eunhyuk ketika sosok Eunhyuk sudah tidak bisa ia gapai lagi. Dan sekarang, penyesalan Jungmo tidak berarti apa-apa. Masa lalu sudah tertinggal jauh di belakang dan tidak mungkin lagi kembali.

.

.


Setelah selesai mengajar, Donghae menghabiskan waktu di atap seperti biasanya. Angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya membuatnya sedikit rileks dan rasa lelahnya sedikit berkurang. Tidak terasa, musim panas akan segera berakhir dan berganti dengan musim gugur. Angin musim gugur mulai terasa dan cuaca sudah tidak sepanas seperti saat awal musim panas tiba.

"Brengsek!"

Donghae hampir saja menyemburkan kopi yang baru ia teguk saat mendengar umpatan seseorang dengan suara yang lantang. Tidak heran, ternyata Eunhyuk. Begitu berbalik, ia mendapati wajah Eunhyuk yang masam dan mulutnya berkomat-kamit mengucap sumpah serapah yang entah ditujukan pada siapa.

Dengan kurang ajar, Eunhyuk merebut kaleng kopi dari tangan Donghae lalu meneguknya hingga habis. Kurang ajar! Kim Jungmo memang kurang ajar dan menyebalkan! Di saat hatinya sudah tenang dan hampir melupakannya, dia malah datang dan dengan seenak bokongnya dan meminta Eunhyuk untuk kembali padanya.

"Apa-apaan kau?"

"Oh, hai Saem."

Mata Donghae terbelalak dan mulutnya terbuka saking terkejutnya karena baru saja Eunhyuk merebut kopinya dan menyapanya dengan sebutan hai? Hai? Memangnya Donghae temannya? Dengan senang hati Donghae menarik telinga Eunhyuk hingga bocah itu mengaduh dan berteriak-teriak minta di lepaskan.

"Sakit, Saem!"

"Merebut minuman yang sedang di minum guru, lalu menyapanya dengan sebutan hai? Kau cari mati?"

"Aku—itu karena aku sedang kesal jadi tidak sadar. Maaf."

"Bukankah kau sedang di skors? Kenapa memakai seragam?"

Eunhyuk berdecih sambil memincingkan matanya ke arah Donghae. Benar, sekarang Eunhyuk sedang memakai seragam di tengah-tengah hukuman skorsing dan itu membuatnya tampak konyol. Tentunya semua tahu, yang membuat Eunhyuk seperti ini adalah orang yang sedang pura-pura tidak tahu dan malah bertanya. Dia pikir semua ini ulahnya siapa?

"Kau yang membuatku seperti ini! Kau sengaja memasang jam weker, 'kan? Aku terkejut dan tanpa sadar masuk kamar mandi lalu mandi terburu-buru dan memakai seragam!"

Langsung saja tawa Donghae menggelegar. Sebenarnya Donghae tidak berniat mengerjai Eunhyuk, ia hanya ingin membiasakan Eunhyuk bangun pagi agar tidak selalu kesiangan bangun dan ketinggalan sarapan. Tidak di sangka kejadiannya malah seperti ini.

"Tertawalah sampai puas, Saem. Kau menyebalkan sekali!"

"Ngomong-ngomong, kenapa kau marah-marah? Ah, karena tidak bisa ikut turnamen?"

"Mantan kekasihku kembali. Dia bilang, dia ingin aku kembali padanya."

Sisa tawa Donghae yang tadi langsung lenyap, bibirnya yang tadi melengkung ke atas kini kembali datar. Matanya menatap Eunhyuk penuh harap, menanti kalimat selanjutnya.

"Dia menyebalkan sekali! Mentang-mentang sudah terkenal dan menjadi pemain sepak bola profesional dia seenaknya memintaku untuk kembali padanya, padahal dulu dialah yang mencampakan aku. Dia brengsek! Menyebalkan! Bajingan! Tidak tahu malu! Dan—dan—"

Nafas Eunhyuk tercekat, airmatanya mengalir begitu saja. Padahal selama ini Eunhyuk selalu kuat dan tidak pernah menangis tapi entah kenapa hari ini ia merasa begitu lemah dan airmatanya malah menetes di saat yang tidak tepat.

"Sudahlah."

Donghae meraih Eunhyuk ke dalam pelukannya, ini pertama kalinya Donghae melihat Eunhyuk meneteskan airmatanya. Tangis Eunhyuk semakin pecah saat Donghae memeluknya, bahkan kemeja Donghae sampai basah karena airmata Eunhyuk. Tangan kiri Donghae di pakai untuk menepuk-nepuk punggung Eunhyuk, sementara tangan kanannya mengelus lembut punggung Eunhyuk yang bergetar. Donghae mengerti rasa sakit yang Eunhyuk rasakan, bagaimanapun Eunhyuk masih remaja dan wajar bila dia menangis karena merasa disakiti oleh mantan pacarnya.

Setelah Eunhyuk cukup tenang, Donghae melepaskan pelukannya. Tangannya terulur untuk mengusap jejak airmata di pipi Eunhyuk. Bocah yang biasanya bertingkah seperti seorang penggoda itu masih saja sesenggukan sambil menggosok matanya yang merah, bukan hanya matanya saja yang merah tapi pipi dan hidungnya juga ikut merona merah. Ternyata saat menangis, seluruh wajah Eunhyuk berubah menjadi merah. Manis sekali, dia benar-benar seperti anak kecil.

"Saem."

"Hm?"

Eunhyuk kembali mendekatkan dirinya pada Donghae. Donghae sempat berpikir, mungkin Eunhyuk masih ingin menangis dipelukannya tapi ternyata bocah itu menarik kerah kemeja Donghae untuk kemudian dia pakai mengelap ingusnya. Jorok! Kalau bukan karena Eunhyuk sedang patah hati, Donghae ingin sekali menarik telinganya!

"Terima kasih."

"Dasar jorok!"

"Saem."

"Hm?"

"Sebenarnya, dia itu cinta pertamaku. Dulu aku suka berkelahi karena tertekan oleh orangtuaku dan tidak tahu harus melampiaskannya pada siapa, akhirnya aku melampiaskannya dengan cara memukuli orang. Tapi setelah mengenalnya, aku jadi pribadi yang lebih baik dan tidak pernah lagi berkelahi. Dia mengajariku banyak hal dan selalu membuatku gembira."

Cinta pertama rupanya. Donghae menganggukan kepalanya, ia paham bagaimana membekasnya luka yang ditinggalkan cinta pertama. Saat sekolah dulu juga Donghae pernah mengalaminya, ia bahkan tidak mau sekolah berhari-hari hanya karena cinta pertamanya menolak pernyataan cintanya dan malah memakinya di depan semua orang. Sudahlah, memalukan sekali mengingat masa-masa di sekolah dulu.

"Lalu bagaimana kau putus? Dan bagaimana insiden rokok itu terjadi?"

"Semua berkaitan. Dia menarikku dari lubang hitam tapi kemudian dia mendorongku ke lubang yang lebih hitam dan dalam sampai rasanya sulit untuk kembali melihat cahaya. Saat liburan musim dingin aku pulang ke rumah orangtuaku, aku adu mulut dengan kakakku soal perusahaan ayah dan itu membuat aku stress juga tertekan. Liburan selesai dan aku kembali ke asrama, aku ingin melampiaskan rasa tertekan itu tapi aku tidak tahu caranya."

"Dan akhirnya kau melampiaskannya dengan cara merokok?"

"Ya, dan hal itu juga yang membuat hubunganku dengan Jungmo kandas. Dia tidak suka penyimpangan, itu sebabnya dia langsung menamparku dan kami adu mulut. Sebelum sempat aku menjelaskan semuanya, Jungmo langsung pergi meninggalkan aku. Aku mencarinya untuk menjelaskan semuanya tapi saat aku menemukannya, dia sedang bercinta dengan Sungmin Hyung."

Akhirnya Donghae dapat pencerahan dari masalah ini. Rupanya semua berawal dari menyukai orang yang sama, lalu salah paham dan berujung pada permusuhan. Sekarang, yang Donghae belum paham adalah bagaimana Eunhyuk berakhir dengan menjajakan dirinya di bar?

"Lalu, bagaimana caranya kau bisa berakhir di bar?"

"Sudah aku katakan sebelumnya, Jungmo menarikku dari lubang hitam tapi kemudian dia mendorongku ke lubang yang lebih hitam dan dalam. Setelah putus dengannya aku sangat frustasi dan akhirnya seperti yang kau tahu, aku menghabiskan waktu di bar untuk bersenang-senang dan membiarkan orang-orang itu menyentuhku lalu membayarku."

"Kau benar-benar di sentuh oleh mereka? Maksudku, orang-orang yang membayarmu itu."

Sejujurnya, Donghae agak ragu menanyakan pertanyaan terakhir itu. Maksudnya, jawabannya sudah jelas untuk apa ia menanyakannya lagi? Di saat seperti ini, otaknya malah membeku dan pertanyaan yang keluar dari mulutnya tidak dapat terkontrol. God damn it!

"Tidak."

"Apa?"

Jawaban Eunhyuk sungguh di luar perkiraan Donghae, ia pikir Eunhyuk akan menjawab dengan iya dan menceritakan bagaimana pengalaman sexnya dengan orang-orang yang tidak jelas karena biasanya seperti itulah Eunhyuk. Berkata kotor dan tanpa malu menceritakan soal pengalaman sexnya.

"Mereka tidak pernah benar-benar menyentuhku. Aku menari di lantai dansa dan mereka merabaiku lalu membawaku ke kamar yang tersedia atau toilet atau dimanapun mereka mau hanya untuk menghisap. Kau mengerti maksudku 'kan, Saem?"

Donghae menggeleng bodoh membuat Eunhyuk mendengus sambil memutar bola matanya. Sebenarnya, gurunya ini pura-pura bodoh atau memang bodoh dan buta soal sex? Menggelikan sekali kalau sampai iya. Di usianya yang sudah—hampir—tua itu dia tidak pernah mengenal sex? Omong kosong!

"Maksudku, kami hanya foreplay dan tidak pernah sampai ke inti. Oh, hanya satu orang yang pernah menyentuhku sampai jauh. Tapi lupakan saja, dia akan menikah bulan depan dengan orang yang katanya sangat dia cintai."

"Hm."

Diam-diam Donghae menghembuskan nafas lega. Entah apa alasannya, tapi rasanya Donghae lega sekali dan saluran pernapasannya yang tadi seperti terhambat menjadi kembali lancar. Setidaknya, Eunhyuk tidak serendah yang ia pikirkan sebelumnya. Nyatanya Eunhyuk tidak sentuh sembarang orang dan dia bilang hanya pernah di sentuh oleh seseorang yang akan menikah bulan depan itu dan mungkin oleh mantan kekasihnya. Jadi total, Eunhyuk hanya pernah di sentuh dua kali dan sisanya hanya foreplay saja.

"Untunglah."

"Apanya?"

"Apa?"

"Apanya yang untunglah?"

"Oh, itu bukan apa-apa."

"Saem!"

Tiba-tiba saja Eunhyuk memekik sambil memegangi dadanya, Donghae menatap Eunhyuk cemas karena ia pikir ada sesuatu yang terjadi pada Eunhyuk. Tapi kemudian bocah itu tersenyum menunjukan gusi merah mudanya, membuat Donghae mengerutkan keningnya bingung.

"Ada apa?"

"Aku merasa sangat lega setelah menceritakan semuanya padamu. Entahlah, rasanya aku bisa bernafas lega dan tidak lagi merasa sesak! Wah, ini ajaib!"

Donghae tersenyum sambil mengelus puncak kepala Eunhyuk, "Mulai sekarang, kau boleh menceritakan apapun padaku dan jangan pernah lagi pergi ke bar untuk menghindari masalah."

"Tentu!"

"Ngomong-ngomong, bagaimana kau menolak Jungmo tadi?"

"Hm? Oh, aku bilang padanya bahwa aku punya seseorang yang aku sukai."

Mata Donghae mendelik tanpa sadar. Dalam hati ia bertanya-tanya, siapa yang Eunhyuk sukai. Jujur saja, ia merasa gusar ketika Eunhyuk menyebutkan dia sedang menyukai orang dengan wajah secerah itu. Bahkan senyum yang biasanya Donghae anggap manis kini menjadi tampak menyebalkan.

"Siapa?"

Ya Tuhan, seharusnya Donghae tidak bertanya. Untuk apa ditanyakan? Paling yang disukai oleh Eunhyuk hanya bocah ingusan berotot, sexy, pintar merayu dan memiliki—

"Kau."

Nafas Donghae tercekat. Tunggu. Bisakah di ulang kembali? Apa katanya? Okay, Donghae menarik kembali kata-kata dan rutukannya dalam hati tadi. Senyum Eunhyuk manis. Sangat manis! Dan jangan lupakan bagian gusinya ketika ia tersenyum sambil menatap Donghae. Damn! He really look adorable!

"Aku? Tapi aku tidak menyukai bocah nakal sepertimu. Bagaimana?"

Eunhyuk berdecih, "Apanya yang bagaimana? Aku akan membuatmu menyukai bocah nakal ini!"

"Percaya diri sekali."

"Karena begitulah aku."

Benar, tersenyumlah seperti itu. Seperti hari ini...

.

.


ooODEOoo


Kembali lagi pada sesi belajar yang sangat di benci Eunhyuk. Well, hari ini adalah hari terakhir Eunhyuk di skors, mulai senin ia akan kembali sekolah dan beraktifitas seperti biasanya. Senang? Tentu saja! Eunhyuk merasa gembira kembali ke kelas untuk menganggu Junsu atau Taemin atau si ketua kelas yang sangat kaku Choi Minho. Lihat? Tidak ada list belajar dalam daftar kegiatan yang akan Eunhyuk lakukan di kelas. Belajar terlalu membosankan, apa lagi jika yang mengajar adalah Jung Sonsaengnim. Ah, si sexy itu hanya kemasannya saja yang menarik dan sexy tapi perilakunya sangat membosankan dan sangat kaku. Mungkin karena dia laki-laki yang sudah menikah. Entahlah, untuk apa peduli? Eunhyuk sama sekali tidak tertarik pada laki-laki yang sudah menikah.

"Mengerti?"

"Apanya?"

Suara Donghae membuyarkan seluruh lamunan Eunhyuk. Sial! Eunhyuk hampir saja loncat dari kursi saking kagetnya. Tidak bisakah Donghae berkata lembut? Dia selalu saja bertanya dengan nada dingin dan ketus!

"Bodoh!"

Entah untuk yang ke berapa kalinya Donghae memukul puncak kepala Eunhyuk dengan pensil, pulpen atau penggaris yang sedang dia pegang. Pelan tapi sakit sekali! Bahkan yang terakhir tadi menimbulkan suara cukup keras.

"Saem! Bagaimana aku bisa pintar kalau kau terus memukul kepalaku dengan benda-benda yang kau pegang!"

"Lalu kau mau di pukul pakai apa?"

"Cintamu."

"Si bodoh ini! Kerjakan soal ini dan jangan melamunkan hal yang bukan-bukan."

Dan lagi, Eunhyuk mendapatkan pukulan di kepalanya. Bukan dengan penggaris, pulpen atau pensil. Kali ini Donghae menggunakan tangannya untuk memukul kepala Eunhyuk. Hell, rasanya bahkan lebih sakit dari pada di pukul oleh benda-benda sebelumnya!

"Memangnya kau tahu apa yang sedang aku lamunkan?"

"Tahu."

"Apa?"

"Tentang aku?"

"Oh ya Tuhan, kau mulai tertular olehku."

Donghae tersenyum samar sambil memperhatikan raut wajah Eunhyuk yang seolah-olah frustasi. Raut wajah itu adalah yang paling menggemaskan, apa lagi ketika bibir merah Eunhyuk mengerucut dan berkomat-kamit mengucapkan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Donghae.

"Lalu apa yang kau lamunkan?"

"Jung Sonsaengnim. Dia tinggi, kulitnya kecokelatan dan ya Tuhan, Otot di seluruh tubuhnya benar-benar membuatnya tampak sexy! Sayang dia sudah menikah."

"Jangan memikirkan orang lain selain aku."

Donghae menarik dagu Eunhyuk dengan sedikit kasar, ia memaksa Eunhyuk untuk menatap lurus ke matanya. Bingung dan terkejut di perlakukan seperti itu, Eunhyuk hanya mampu mengedipkan matanya tanpa melepaskan kontak mata mereka. Ini pertama kalinya Donghae memperlakukan Eunhyuk begitu. Dan apa katanya? Jangan memikirkan orang lain? Apa dia sedang cemburu? Yang benar saja! Apa-apaan ini semua?

"Apa?"

"Jangan memikirkan orang lain selain aku."

Sekali lagi Donghae mengulangi kalimatnya, kali ini penuh dengan penekanan seolah ingin mematrinya di otak Eunhyuk agar Eunhyuk terus mengingat kalimat itu.

"Saem..."

Otak Eunhyuk seperti membeku. Sikap Donghae yang seperti ini malah membuat Eunhyuk bingung dan kelabakan, pasalnya Donghae baru sekali ini menunjukan sikap seperti itu. Biasanya si tampan dengan kacamata yang bertengger di wajahnya itu selalu menunjukan reaksi dingin ketika Eunhyuk mengoceh tapi kali ini dia bereaksi seolah-olah cemburu. Atau jangan-jangan dia benar-benar cemburu? Demi Tuhan! Eunhyuk tidak berpura-pura bodoh atau pura-pura tidak tahu, tapi situasi kali ini benar-benar membuat Eunhyuk bingung.

"Aku tidak meng—"

Hati Eunhyuk bersorak dan jantung Eunhyuk seperti bekerja dua kali lipat lebih cepat dari biasanya ketika Donghae menempelkan bibir mereka dan lama-lama menjadi sebuah ciuman menuntut yang lembut. Ini bukan ciuman pertama mereka tapi entah kenapa Eunhyuk merasa sesuatu yang menggelitik itu lebih terasa seperti sengatan dan membuat kerja jantung Eunhyuk menjadi ekstra cepat dan tidak stabil.

Apa ini?

Ciuman Donghae semakin dalam dan semakin menuntut, ia bahkan menarik Eunhyuk dari kursi agar berdiri dan mengarahkannya menuju tempat tidur. Sementara mereka berjalan menuju tempat tidur tanpa melepaskan pagutan bibir mereka, tangan Donghae tidak hanya tinggal diam. Dengan berani ia menanggalkan kaos tipis Eunhyuk dan langsung merabai lekuk tubuh Eunhyuk dengan sensual, membuat Eunhyuk melenguh manja.

"Ngh—Saem...hmm—"

SHIT! Eunhyuk hanya melenguh kecil tapi reaksi di bagian selatan tubuhnya begitu berlebihan. Mungkin hanya dengan satu atau dua lenguhan Eunhyuk, Donghae bisa langsung klimaks tanpa sentuhan. Suara Eunhyuk benar-benar manja dan membangkitkan gairah Donghae, ia langsung saja menghempaskan Eunhyuk ke tempat tidur dan melepaskan kacamata serta kemejanya sambil terus memandangi Eunhyuk yang terengah dan tergeletak pasrah di atas tempat tidur.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Donghae kembali memagut bibir Eunhyuk dan melemparkan kemejanya ke sembarang arah. Tangan kirinya mengelus rambut Eunhyuk dan tangan kanannya berusaha menarik celana pendek Eunhyuk. Setelah menelanjangi Eunhyuk, Donghae membuka kancing celananya tapi tidak melepaskannya. Biarlah dulu seperti itu, Donghae masih belum puas menjelajahi lekuk tubuh Eunhyuk.

"Kenapa tiba-tiba?"

Akhirnya Eunhyuk punya kesempatan bicara saat Donghae melepaskan pagutan mereka dan beralih pada puncak dada Eunhyuk. Bibirnya terus menggerayangi seluruh tubuh Eunhyuk, tiap inchinya ia nikmati dengan penuh gairah dan nafsu.

"Aku kalah. Kau pemenangnya. Kau senang?"

"Aku tidak mengerti."

"Aku tergoda dan aku terjatuh untukmu. Aku tidak bisa menahan semua ini lagi."

"Hm?"

Donghae menggigit leher Eunhyuk kemudian menghisapnya hingga meninggalkan bekas kemerahan yang mungkin akan terus berbekas hingga dua atau tiga hari ke depan. Lagi-lagi Eunhyuk melenguh karena ulah Donghae, padahal ia belum sempat mencerna semua kata-kata Donghae.

"Saem."

Tiba-tiba saja Eunhyuk merasa gugup ketika Donghae menurunkan celana kerjanya hanya sebatas paha dan terpampanglah sesuatu yang sangat Eunhyuk sukai. Donghae tahu, Eunhyuk sedang memperhatikan miliknya tapi sekarang ia sedang sangat terburu-buru untuk langsung ke menu utama hari ini dan tidak membiarkan Eunhyuk menikmati pemandangan yang sangat disukainya itu.

Sebenarnya mereka masih punya banyak waktu karena ini hari sabtu dan tidak ada orang di sekolah kecuali penjaga asrama dan petugas keamanan di gerbang sekolah, tapi gairah Donghae sudah terlanjur naik dan ia tidak bisa menunggu lama untuk menggarap muridnya yang sudah sangat pasrah di tempat tidur.

"Kau biasa melakukan foreplay, bukan? Kali ini aku tidak akan melakukannya."

Mata Eunhyuk terbelalak.

Tanpa foreplay?

Sial! Dengan satu atau dua jari saja masih akan terasa sakit apa lagi langsung? Apa Donghae berencana membuatnya menjadi tahanan kamar? Besok Eunhyuk ada janji dengan Kyuhyun dan hari senin Eunhyuk harus mengikuti banyak kelas. Hell, pasti Junsu mentertawakannya karena cara jalannya yang aneh.

Tanpa menunggu jawaban Eunhyuk, Donghae menuntun miliknya ke lubang Eunhyuk. Sementara Eunhyuk hanya bisa memejamkan matanya saat setengah dari milik Donghae masuk. Uh, ini benar-benar menyakitkan! Terakhir ia melakukannya dengan Siwon dan itu sudah lama sekali.

"Penismu benar-benar menyebalkan!"

"Tunggu sampai dia menyentuh prostatmu dan kau akan berkata yang lain."

Donghae menyeringai dan langsung memaju-mundurkan pinggulnya tanpa menunggu Eunhyuk menyesuaikan diri dengan miliknya.

"NghSaem, ah!"

"Panggil namaku dan memintalah, apa yang kau inginkan?"

"Donghae!"

"Hm?"

"Tadi. Di tempat yang tadi, kau menabraknya."

"Di sini? Hm? Kau suka?"

Lagi-lagi Eunhyuk melenguh dan mendesah, ini semua terlalu nikmat hingga membuatnya sulit berkata-kata dan tidak bisa menjawab pertanyaan Donghae. Di tambah lagi bibir Donghae yang terus menggerayangi puncak dadanya dan tangannya yang mengelus pinggul Eunhyuk dengan sensual, membuat semuanya terasa buram. Hanya nikmat yang bisa Eunhyuk rasakan.

"Jangan bermain di putingku terus! Nanti bengkak."

Tangan Eunhyuk memukul bahu Donghae tapi sama sekali tidak di gubris, Donghae malah semakin menjadi dengan menyedot pucak dada Eunhyuk hingga merah.

"Ah! Saem—jangan—ngh—ah, tidak!"

Cairan hangat keluar dan membasahi perut Donghae, ia tersenyum tanpa melepaskan kulumannya di puncak dada Eunhyuk. donghae terus saja menggerakan pinggulnya, mengejar sesuatu yang akan meledak dalam hitungan detik.

"Eunhyuk—ugh!"

Seluruh cairannya membasahi organ dalam Eunhyuk, dengan nafas yang terengah-engah Donghae melepaskan tautannya dan memperhatikan cairan yang meluber keluar dari lubang Eunhyuk dan membasahi seprai di bawahnya. Wow, ternyata banyak juga cairan yang dikeluarkannya. Harus Donghae akui, ini jauh lebih nikmat dari pada bermain sendiri di kamar mandi.

"Rasanya aku kembung. Kenapa kau masukan semua di dalam? Menyebalkan!"

Donghae berguling ke samping Eunhyuk lalu memeluk Eunhyuk dengan gemas. Gembira rupanya, bahkan Donghae yang biasanya jarang tersenyum dan selalu menusuk Eunhyuk dengan kata-kata dingin kini tersenyum lebar dan memeluk Eunhyuk sangat erat.

"Lepas! Kau kenapa sebenarnya? Kau melanggar aturan, Saem. Kau bisa dikeluarkan secara tidak hormat kalau kita ketahuan."

"Aturan di buat untuk di langgar, lagi pula sejak kapan kau peduli pada aturan? Ngomong-ngomong, selama kita bercinta tadi kenapa kau terus memanggilku Saem? Kita terlihat seperti sedang mempraktekan adegan kinky."

Wah, Eunhyuk benar-benar kehilangan kata-kata. Lee Sonsaengnim yang biasanya sangat kaku dan galak bisa berkata sepertiitu, menakjubkan! Dia bahkan tahu istilah kinky, Eunhyuk pikir pengetahuan Donghae tentang sex nol besar tapi ternyata dia tahu hal-hal macam itu.

"Aku tidak tahu ternyata kau orang seperti ini."

"Aku begini hanya untukmu."

Eunhyuk menatap Donghae, menunggu kalimat selanjutnya keluar dari mulut Donghae. Kalimat yang selalu Eunhyuk nantikan. Satu kalimat pendek yang Junsu bilang sangat romantis. Eunhyuk tidak bisanya mengharapkan kata-kata sentimentil itu dari seseorang, tapi entah kenapa hari ini ia sangat menantikan kalimat itu diucapkan oleh Donghae.

"Apa? Kenapa menatapku seperti itu?"

"Itu—apa tidak ada lagi yang ingin kau katakan?"

"Misalnya?"

Sulit di percaya! Sekarang Donghae kembali lagi menjadi orang idiot yang menyebalkan! Dia pasti bohong! Tidak mungkin dia tidak tahu apa yang diinginkan Eunhyuk setelah mereka melakukan hal ini, terlebih Eunhyuk sudah pernah mengutarakan isi hatinya di atap waktu itu. Apa semua kurang jelas? Atau memang Donghae selalu sebodoh ini dalam urusan cinta?

"Lupakan! Kau membuat seluruh tempat ini kacau dan membuatku lengket. Bersihkan! Aku mau tidur."

"Kau milikku."

Mata Eunhyuk tadi sempat terpejam kembali terbuka tapi ia masih enggan membalikan kembali tubuhnya. Eunhyuk masih bertahan diposisinya membelakangi Donghae, menunggu apa yang akan Donghae lakukan selanjutnya.

"Aku tahu kau mendengarnya. Mulai hari ini dan selamanya kau milikku."

Masih tidak ada reaksi apapun dari Eunhyuk. Donghae terkekeh, calon kekasihnya ini merajuk rupanya. Tidak ingin membuat Eunhyuk benar-benar marah, Donghae memeluk pinggang Eunhyuk lalu berbisik lembut di telinganya.

"Aku mencintaimu."

Akhirnya Eunhyuk tersenyum, pipinya merona merah dan jantungnya kembali berdegup kencang. Pelan-pelan Eunhyuk membalikan tubuhnya dan langsung menatap Donghae dengan mata yang memincing tajam.

"Kau sengaja, 'kan?"

"Hm."

"Menyebalkan! Aku tahu kau akan jatuh untukku. Aku mencintaimu."

"Hm."

"Katakan iya, Donghae!"

"Iya."

"Kau benar-benar menyebalkan! Aku ingin sekali membencimu tapi aku terlalu mencintaimu, bagaimana ini?"

Donghae tertawa mendengar ocehan Eunhyuk, ia menarik Eunhyuk agar lebih rapat padanya dan menenggelamkan wajah manis itu di permukaan dadanya.

"Kau mendengarnya?"

"Detak jantungmu?"

"Hm."

"Ya, mendengarnya. Berdegup kencang sekali."

"Berdegup sekencang itu hanya untukmu. Aku bukan tipe orang yang banyak bicara soal cinta jadi cukup dengarkan detak jantungku dan kau akan tahu."

Baru kali ini Eunhyuk diperlakukan seperti ini. Maksudnya, ada orang yang—katanya—mencintainya tapi tidak ada kata-kata menyanjung atau merayu. Dulu, ada banyak orang yang menyanjungnya dan mengemis cintanya tapi pada akhirnya Eunhyuk malah jatuh untuk orang kaku yang tidak bisa berkata manis sama sekali.

"Bangunlah, kita harus melanjutkan pelajaran."

"Ah, kau memang perusak suasana! Sebelum itu, kita bersihkan dulu kamar ini atau Junsu akan membunuh kita berdua karena membuat kamar ini kacau dan bau."

Donghae mengangguk, ia bangun dan membenarkan celananya yang masih tersangkut di lututnya lalu memakai kemejanya dan mengancingkannya asal. Sementara itu Eunhyuk masih berusah payah membersihkan lelehan sperma dipahanya dan hal itu membuat Donghae mematung di tempatnya. Bagaimana tidak? Eunhyuk hanya memakai atasan kaos tipis tanpa lengan dan tanpa bawahan, belum lagi ia mengangkang sambil mengusap pahanya yang dengan tissue. Apa Eunhyuk sedang mengundangnya? Entah memang otak Donghae yang sudah tercemar atau memang ia sudah mesum dari sananya tapi demi apapun di dunia ini, posisi Eunhyuk yang seperti itu membuat sesuatu meronta dan jantung Donghae kembali berdegup tidak normal.

"Apa yang kau lihat?"

"Ti—tidak ada."

"Lihat dirimu, kau baru beberapa jam jadi kekasihku dan tatapanmu sudah berubah seperti paman-paman pedofil."

"Hei!"

"Apa?"

"Kenapa kau bicara menggunakan Bahasa formal pada gurumu?"

"Saat kita berdua kau kekasihku dan aku bebas mau bicara apapun pada kekasihku."

Donghae berdecih, arogan sekali kekasihnya ini. Ingin sekali rasanya menggigitnya dan mengikatnya di tempat tidur. Tunggu. Kenapa pikirannya jadi seperti ini? Lagi-lagi Donghae memikirkan hal yang kotor. Tiap kali ia berdekatan dengan Eunhyuk, imajinasi seksualnya selalu melayang kemana-mana. Bahaya kalau terus dibiarkan.

"Kenapa diam saja? Bantu aku membawa semua ini ke ruang mencuci! Aku kesulitan berjalan karena kau, jadi bawa semua ini!"

Sulit sekali di percaya! Donghae di perintah oleh bocah kecil menyebalkan! Bahkan dia melemparkan seprai itu ke wajah Donghae. Tapi mau bagaimana lagi? Bocah nakal itu sekarang kekasihnya dan Donghae terlalu bahagia hari ini hingga kemarahannya cepat sekali menguap dan hilang entah kemana.

"Kau yakin semua itu akan kering hari ini juga?"

"Entahlah."

Mata Donghae tidak bisa lepas dari sosok Eunhyuk yang sedang memasukan semua seprai kotor di dalam mesin cuci, ia berdiri di belakang Eunhyuk dan kapanpun Eunhyuk menungging untuk memasukan cuciannya, bokongnya akan menabrak selangkangan Donghae. Mengganggu sekali!

"Donghae! Mundur sedikit."

"Tidak mau."

Menghiraukan perintah Eunhyuk, Donghae malah semakin mendekatkan dirinya dan memeluk Eunhyuk dari belakang. Akhirnya Eunhyuk hanya bisa menghela nafas dan membiarkan Donghae melakukan sesuka hatinya.

"Apa biasanya mencuci lama?"

"Kau tidak pernah mencuci sendiri? Bukankah kau tinggal sendiri?"

"Ada ahjumma yang setiap minggu datang untuk mencuci pakaianku."

Eunhyuk melepaskan rengkuhan Donghae dan langsung berbalik, "Cantik?"

"Cemburu?"

"Lupakan."

Donghae terkekeh, ia menghimpit Eunhyuk di antara mesin cuci lalu bibirnya kembali meraup bibir merah Eunhyuk dengan gemas. Di mata Donghae, hari ini Eunhyuk selalu bertingkah menggemaskan padahal sebetulnya Eunhyuk selalu berkata ketus pada Donghae dan tingkahnya tidak ada manis-manisnya sama sekali. Well, orang yang sedang jatuh cinta memang semua sama.

"Tidak ada yang lebih cantik darimu."

"Jangan perlakukan aku seperti perempuan!"

"Aku tahu."

"Bagus."

.

.


"Kau telat sepuluh menit."

Eunhyuk berdecak lalu duduk tanpa mempedulikan tatapan Kyuhyun. Eunhyuk memang telat tapi semua itu bukan salahnya! Saat sedang mencuci pakaian tadi, Donghae menggrapnya di ruang mencuci dan itu membuat Eunhyuk lupa hari ini ia ada janji bertemu dengan Kyuhyun. Lee Donghae memang sialan! Sebelum pacaran dia sosok yang dingin dan sok tidak tergoda pada Eunhyuk, tapi lihat sekarang! Dia terus saja menggarap Eunhyuk kapanpun ada kesempatan.

"Aku mencuci pakaian dulu."

Dan di garap oleh Lee Sonsaengnim.

"Ah benar. Kau sedang dalam masa hukuman."

"Mau apa? Aku tidak banyak waktu, ada seseorang menungguku pulang."

"Oh, kau juga datang."

Siapa lagi yang datang? Eunhyuk mendesah pelan lalu mengikuti arah pandang Kyuhyun dan wow! Sungmin is there, judge him like seriously. Eunhyuk menghembuskan nafasnya, seharusnya ia tahu Kyuhyun mengajaknya bertemu ada maksud tertentu dan lihat? Sungmin datang dan duduk di samping Kyuhyun, tepat berhadapan dengannya.

"Untuk apa dia datang?"

"Aku tidak akan datang kalau tahu kau juga datang."

"Tidak bisakah kalian menutup mulut kalian dan mendengarkan aku dulu? Ah, dan jangan saling memelototi seperti itu seolah kalian akan saling menerkam satu sama lain."

Eunhyuk dan Sungmin langsung membuang muka, enggan menatap satu sama lain. Kyuhyun yang sudah menduga kejadiannya akan seperti ini hanya bisa menggelengkan kepalanya, katanya sama-sama sudah dewasa tapi menyelesaikan masalah cinta saja mereka tidak bisa.

"Yang terjadi di antara kalian hanya salah paham. Semua sudah berakhir, apa lagi yang kalian ributkan? Eunhyuk sudah tidak bersama Jungmo dan kau sudah memilki aku. Kalian masih menyimpan dendam? Apa dendam membantu kalian menyelesaikan masalah? Apa susahnya duduk bersama seperti ini dan saling mengungkapkan isi hati masing-masing. Bukankah sahabat harus seperti itu?"

Meski Kyuhyun sudah berusaha berbicara hati-hati dan menjadi penengah di antara mereka, Eunhyuk dan Sungmin tetap saja saling membuang muka dan tidak ada satu orangpun yang berniat bicara. Kyuhyun menghela nafas, sepertinya harus ekstra sabar untuk menghadapi mereka berdua.

"Apa saling memaki dan saling memusuhi membuat kalian merasa lega? Kalian satu sekolah bahkan tetangga, apa tidak merasa terganggu bermusuhan dengan seseorang yang selalu dekat denganmu? Bicarakan masalah ini baik-baik, aku tidak akan membiarkan kalian keluar dari sini sampai kalian menyelesaikan masalah kalian. Asal kalian tahu, karena masalah kalian ini ada banyak orang yang terseret! Termasuk aku!"

Setelah berkata panjang lebar, Kyuhyun melangkah pergi dari tempat duduknya dan membiarkan Eunhyuk dan Sungmin duduk saling berhadapan dengan suasana hening dan canggung. Biarkan mereka seperti itu, kita lihat sampai mereka akan tetap dalam posisi seperti itu, Kyuhyun yang melihatnya dari luar saja lelah melihat mereka menolehkan kepalanya tanpa berbalik.

"Maafkan aku, Hyung."

Sebenarnya Eunhyuk tidak mau mengucapkan kata maaf duluan karena menurutnya yang salah itu Sungmin tapi kata-kata Kyuhyun barusan ada benarnya juga, kalau mereka terus mementingkan ego masing-masing maka masalah ini tidak akan selesai dan terus menyeret orang yang tidak ada kaitannya dengan masalah ini.

Sungmin tertegun saat mendengar Eunhyuk memanggilnya dengan sebutan Hyung seperti dulu, bahkan dia juga meminta maaf duluan. Perlahan Sungmin menolehkan kepalanya dan menatap Eunhyuk dengan ragu.

"Aku lebih dewasa darimu dan sebenarnya yang salah itu aku tapi kau malah meminta maaf duluan, kau menyebalkan sekali. Kau membuat aku tampak buruk, maafkan aku. Masalah Jungmo Sunbae, aku memang menyukainya duluan dan aku juga yang mengenalkanmu padanya. Mau di kata apa lagi? Aku yang membuat kalian saling mengenal satu sama lain dan kalian saling jatuh cinta tanpa sepengetahuanku."

Eunhyuk berdeham sambil menggaruk tengkuknya.

"Kalau kau mau marah, marah lah sekarang. Aku tahu semua ini berat untukmu, memaafkan bukanlah hal mudah terlebih ketika masih ada luka yang tersisa."

"Aku juga tahu kau masih marah padaku dan aku tahu betul bagaimana sulitnya memaafkan ketika luka yang ada belum kering. Lebih baik kita seperti ini saja, langsung sok akrab seperti dulu setelah mengalami pertengkaran panjang pasti rasanya akan aneh dan canggung."

Yang dikatakan Sungmin semuanya benar, akan aneh sekali jika tiba-tiba akrab padahal sebelumnya mereka bertengkar dan saling memaki. Eunhyuk mengangguk, ia beranjak dari tempat duduknya untuk pamit pada Sungmin karena ada seseorang menunggunya dan mengawasinya dari kejauhan.

"Mau kemana?"

"Ini hari minggu, aku ada kencan."

"Wow, kau sudah punya kekasih?"

"Ya dan dia sedang menungguku sekarang. Aku duluan, Hyung."

"Hm, bersenang-senanglah."

Setelah pamitan pada Sungmin dan Kyuhyun yang menunggu di luar, dapat Eunhyuk saksikan dengan jelas bagaimana Donghae memandanginya dari dalam mobil. Dia memandangi Eunhyuk seolah-olah Eunhyuk baru saja selingkuh di depan matanya. Eunhyuk memasuki mobil Donghae sambil tersenyum geli, ternyata ada banyak sisi lain Donghae yang tidak Eunhyuk tahu.

"Tidak usah pura-pura tidak melihat dan sok tidak peduli. Aku tahu sejak tadi kau memandangiku dengan tatapan menggelikan!"

"Jangan bertingkah seolah-olah aku ini sangat mencintaimu sampai harus bersikap menggelikan seperti itu."

"Oh, jadi begitu? Baiklah, terserah."

Eunhyuk melipat tangannya di dada dan mengalihkan pandangannya ke jendela. Sialan! Donghae menyebalkan sekali. Jelas-jelas dia sedang cemburu tapi malah Eunhyuk yang terlihat sedang cemburu. Situasi macam apa ini? Donghae selalu saja bisa mengendalikan situasi dan membuat Eunhyuk mati kutu.

"Sebenarnya apa yang membuatmu menyukaiku? Selain karena aku sexy, manis dan tampan."

Alis Donghae bertaut, ia menjulurkan lidahnya bertingkah seolah-olah mual dengan ucapan Eunhyuk. Sebenarnya Eunhyuk memang sexy dan manis tapi Donghae terlalu gengsi untuk mengakuinya, bisa-bisa Eunhyuk besar kepala.

"Kau seperti bawang merah."

"Apa?"

Eunhyuk menaikan nada suaranya. Bawang? Demi jidat lebar Yoochun yang menurut Junsu sexy, Eunhyuk selalu menerima pujian dan sanjungan dari orang lain tapi kekasihnya malah memanggilnya bawang dengan wajah datar menyebalkan!

"Maksudnya, aku harus mengupasmu helai demi helai untuk mengetahui semua sisi lainmu. Ada banyak sisi yang tidak kau tunjukan pada orang lain, seperti misalnya kau bertingkah seperti bocah nakal tapi sebenarnya kau punya sisi manis juga. Intinya, kau berlapis-lapis seperti bawang merah. Ada banyak sisi yang harus aku kupas untuk mengetahuinya."

"Kenapa mengumpamakannya dengan bawang? Jelek sekali!"

"Ngomong-ngomong, kau bisa memasak?"

"Tidak."

"Bisa membersihkan rumah?"

"Sedikit. Tunggu, kenapa bertanya seperti itu? Kau bertanya seolah-olah sedang menyeleksi asisten rumah tangga."

Donghae mengalihkan pandangannya dari jalanan ke wajah manis Eunhyuk, kemudian ia tersenyum penuh arti.

"Aku menyeleksi calon istri."

"Ya ampun. Cheesy! Menggelikan!"

Meskipun nada bicanya ketus tapi Enhyuk tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya dan senyum di bibirnya menandakan bahwa dia suka dengan rayuan Donghae barusan. Eunhyuk kembali mengalihkan wajahnya ke jendela untuk menyamarkan senyumnya. Malu sekali kalau Donghae sampai tahu, ia menyukai rayuannya barusan.

"Kita mau kemana?"

"Rumahku."

Eunhyuk menggigit bibirnya, "Mau melakukan sesuatu?"

"Jangan berpikiran kotor, sayang. Kita akan belajar. Minggu depan kau ada ujian, kau harus belajar ekstra keras agar nilaimu naik dan kau harus berada di 50 besar."

Sialan, Donghae selalu tahu isi kepalanya. Sekarang dia bisa dengan mudah menebak isi kepala Eunhyuk dan membuat Eunhyuk tidak berkutik.

"Kenapa kau selalu mengajari aku rumus kalkulus, sih?"

"Lalu kau ingin aku mengajarimu apa?"

"Tentang cinta?"

"Ya ampun! Kau lebih menggelikan!"

Mereka berdua tertawa, mentertawakan betapa cheesynya mereka. Saling merayu dan melemparkan candaan tentang cinta yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Dulu Eunhyuk selalu meledek Junsu karena selalu saling merayu dengan Yoochun, sekarang harus Eunhyuk akui hal seperti itu memang wajar terjadi di antara sepasang kekasih dan rasanya tidak buruk, Eunhyuk bahkan bisa tertawa lepas mentertawakan kekonyolan mereka berdua dalam hal merayu. Sepertinya, Eunhyuk harus berguru pada Junsu dan Yoochun agar rayuan mereka sedikit berkembang.

Setelah banyak tertawa, tidak ada lagi obrolan di antara mereka. Donghae sibuk memperhatikan jalan dan Eunhyuk sibuk dengan ponselnya. Sekilas, Donghae hanya melihat Eunhyuk sedang menulis sesuatu di akun jejaring sosialnya.

"Tuan, ada titipan."

Begitu sampai di lobby apartemen, seorang resepsionis memanggil Donghae. Ini paket pertama yang ia terima semenjak pindah kemari. Bisanya yang mengiriminya paket hanya ibu atau kakaknya, mungkin hanya kimchi atau kemeja baru dari ibunya.

"Dari siapa?"

"Yang mengantarnya kurir, tuan. Sepertinya undangan pernikahan."

"Oh. Terima kasih."

Donghae tidak ambil pusing soal undangan itu, di usianya sekarang memang ada banyak teman semasa kuliahnya yang menikah dan bukan hal aneh ada banyak undangan datang ke alamat rumahnya.

"861015, ulangtahunmu?"

Ternyata Eunhyuk memperhatikan Donghae ketika ia sedang memasukan password apartmennya. Donghae mengangguk setelah mempersilahkan Eunhyuk masuk terlebih dahulu.

"Ya."

"Mudah sekali di tebak! Bagaimana kalau ada orang lain masuk?"

"Yang tahu aku tinggal di sini 'kan hanya kau, kakak dan ibuku."

"Tapi tadi ada yang mengirimi paket padamu. Dari siapa? Sepertinya undangan pernikahan."

"Entahlah, buka saja sendiri. Aku akan berganti pakaian dulu."

Eunhyuk berdecak, ia membuka undangan yang tadi di lemparkan Donghae ke sofa lalu membaca nama yang tertera di sana.

"Kim Kibum dan—"

Choi Siwon?

.

.

TBC


Hai~~ update lagi... ^^

Semoga gak ada typo yah ^^ udah berusaha di edit dan di baca ulang keculai bagian NCnya parah saya payah banget ngetik begituan...maklum belum pengalaman #EH hahahahah maaf juga kl chapter failed...saya selalu berusaha ngasih yg terbaik tp kl menurut kalian msh gitu-gitu aja maaf ya ^^ makasih sm yg selalu ngasih kritik dan saran...sangat membantu ^^ yg suka ngPM dan mention jg makasih ^^saya jadi semangat terus ngelanjutin ini di tengah2 kesibukan kerja...

Okay~ jawab pertanyaan dulu ^^

.

Q: itu jungmo, apa kh nanti dia masih menyukai hyuk? kyu berhasil kagak buat hyukmin sahabatan lgi?

A: Jawabannya ada di chapter ini ya~ semua terjawab heheh Hyukmin gak langsung sahabatan lg tp mereka berusaha membuka diri untuk saling memaafkan dulu ^^

.

Q: kira" nnti bakal ada konflik sama sibum gak yaaa?

A: Ada gak ya? hahahahah

.

Q: Chapternya akan banyak?

A: Mungkin 6 atau 7 chapter aja ^^ krn ada banyak list ff yg hrs saya kerjakan..ada titipan ff juga jadi ya bagi2 waktunya heheh ^^

.

Q: beneran eunhyuk "tidur" sama semua namja itu atau cuman foreplay?

A: Pertanyaan ini jg di jawab di chapter ini ya ^^

.

Q: Kok hyukkie jadi nakal bgt kaya gitu sih? Emg awalnya gimana?

A: Sekarang pasti udah tau ya kenapa...di chapter ini di jelaskan juga ^^

.

Q: NC haehyuk nya mana?

A: Ini disini ^^ kkkkk

.

.

Okay segitu aja dulu ^^ kebanyakan pertanyaannya sama dan udah ada jawabannya di chapter ini ^^ oh iya buat kartika dan buat kalian semua jg yg suka review ngasih kritik dan saran, gak usah ngerasa gak enak kl ngeritik krn saya suka dan bisa bikin saya menulis lebih baik lagi...jangan minta maaf jg kl udah ngeritik..selama pakai bahasa yg baik dan sopan saya ngerasa seneng banget ^^ sekali lagi gak bosen2nya berterimakasih sama semua yg suka review...love you guys ^^ thanks a lot~ ^^

See ya next chapter~ ^^

Last, Review lagi please? ^^

.

.

With Love,

Milkyta Lee