A/N: Hii, arigato reviewnya yaa minna-san. Here is chapter two! Ohya, dichapter satu kemarin ada typo tentang temen se-flatnya Sakura itu Hinata ya minna, bukan Ino hehe sorry.
Summary: Pertemuan yang tak sengaja ditengah café yang akan tutup membuat keduanya terikat dengan takdir yang mengikat keduanya. Pertemuan pertama dilanjut dengan pertemuan yang lain-lainnya.
Waning: AU, Out of Character and sorry for some annoying words yeah.
Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Séance Douce
By KimmyR
Chapter Two
Sakura berjalan pelan menuju café tempatnya bekerja. Ia bekerja seperti biasanya, berdiri di belakang konter kasir. Tangan mungilnya melingkap majalah fashion seraya menunggu pembeli yang ingin membayar pesanan. Tangan kurus itu berhenti dipage an art section dengan sebuah artikel yang tertulis disana.
'Sasuke Uchiha, pria muda yang tampan serta pelukis dan model yang bertalenta. Sasuke-san lahir di Tokyo, pria tampan ini sangat menyukai profesinya sebagai seorang pelukis dan model. Kecintaannya terhadap dunia lukis sudah tak bisa diragukan lagi. Sudah dari kecil pria tampan ini sudah gemar melukis. Diumurnya yang baru menginjak 25 tahun ia sudah dijuluki sebagai the most eligible bachelor.Dengan wajah rupawan dan an artist di usianya yang masih terbilang muda. Tak lupa juga Sasuke Uchiha ialah seorang jenius, diusia yang masih belia yakni 22 tahun ia sudah mendapat gelar master degree di art university Tokyo'
Sakura tersenyum membaca artikel di majalah itu, mata emeraldnya berpendar kedepan saat melihat pembeli tengah menyapanya.
"Hallo ba-san di meja nomer berapa?" Sakura tersenyum manis.
"15." Jawab wanita setengah baya itu merasa nyaman dengan tanggapan ramah Sakura.
"Baiklah, ini bill pesanannya," Sakura menyerahkan sebuah kertas pada sang pembeli . Wanita setengah baya dengan rambut panjang yang digelung itu melihat kertas yang diberikan Sakura dan membayar tagihan pesanannya.
"Arigato ba-san. Saya Haruno Sakura sangat senang melayani anda. Kami mengharapkan kedatangannya di lain waktu dan semoga hari Natalmu menyenangkan." Kata Sakura sambil tersenyum lebar.
"Tentu saja, sayang. Aku akan datang kesini lagi. Terimasih atas pelayanan yang ramah ini."
Sakura menganggukan kepalanya dengan bibir yang masih tersenyum manis. Begitu sosok wanita paruh baya itu hilang di pintu exit café, Sakura kembali membalikkan page majalah yang tadi sempat ia baca.
'Jadi, Sasuke-san makanan favoritmu apa?' tanya sang reporter
'Asalkan ada tomat didalamnya, aku akan menyukainya.'
'Wow sepertinya Sasuke-san ini tomat addict ya. Pertanyaan berikutnya, apa ada planning untuk menikah dalam jarak dekat ini? Seperti yang kami ketahui bahwa anda sudah 25 tahun sekarang, pasti anda mempunyai type ideal untuk dijadikan calon pendamping anda bukan?'
'Hn, aku tidak berniat untuk kejenjang pernikahan, tapi kau menyukai wanita yang bisa berdiri sendri dalam arti kuat diluar dan halus didalam.'
'Wow intensif sekali sepertinya ya. So, wanita-wanita yang ada diluar sana bersiaplah untuk mendapatkan hati Sasuke-san yaa. Hahaha. Baiklah, untuk hari Natal nanti, apa planning Sasuke-san?'
'Hn, karena ada beberapa pekerjaan disini, aku merayakannya di Konoha, jauh dari keluargaku yang ada di Tokyo.'
'Begitu…baiklah. Semoga hati Natal Sasuke-san menyenangkan ya. Semoga kita berjumpa dilain waktu lagi Sasuke-san. Senang bisa mewawancari anda.'
Dan interview-pun selesai. Sakura menutup majalah itu dengan desahan yang mengalun dari bibir mungilnya. Sosok Sasuke begitu sempurnakah dimata Jepang? Sepertinya sih begitu. Sakura menggelengkan kepalanya dan melangkahkan kakinya ke dapur. Disana ia bisa melihat beberapa pekerja lainnya yang masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Salah satunya adalah teman pirangnya yang cantik nan centil.
"Ino, Natal nanti kau akan merayakannya dimana?" Sakura bertanya pelan pada teman seperjuangannya yang masih sibuk membuat hot coffee latte dengan serbuk kayu manis yang manghiasi atasnya.
Gadis pirang itu menoleh kearah Sakura, "bersama keluargaku tentu saja. Kau sendiri?"
Sakura mendesah pasrah, rasanya ia iri dengan teman-temannya yang masih mempunyai keluarga. Tak seperti dirinya yang selalu hidup sendiri dan kesepian.
"Aku merayakan di café, ingat? Aku ada pekerjaan disini."
Ino menatap sedih Sakura, kalau ia diposisi Sakura sekarang rasanya Ino tak akan sanggup. Ino merasa bangga sekaligus kagum dengan Sakura karena diusia yang masih belia ini gadis merah muda itu sudah mendapat perjalanan hidup yang begitu pahit.
"Oh, forehead. Kuharap kau akan mendapat hari Natal yang menyenangkan dan tak merasa kesipian ne?"
Sakura terkekeh pelan, "kuharap juga begitu Ino. Omong-omong terimakasih ya Inopig hehe"
Setelah itu ia mendapat jitakan sayang dari sahabat pirangnya membuat gadis bermata emerald itu memanyunkan bibirnya.
Sambil menggerutu pelan, Sakura meninggalkan dapur setelah sebelumnya balas menjambak rambut pirang panjang Ino.
Sakura mendudukkan tubuh mungilnya di kursi kasir. Matanya menerawang kedepan, memikirkan nasib hidupnya yang selalu sendirian, untung saja ia memiliki Hinata yang hidup bersama di flat yang tak terlalu kecil yang sudah ditempati dirinya selama tiga tahun ini. Oh, ngomong-ngomong tentang Hinata, Sakura jadi sadar bahwa ia sama sekali belum tahu kabar tentang gadis itu semenjak kemarin malam, ditambah Hinata juga tak datang ke flat sama sekali. Sakura jadi khawatir, ia sebenarnya tahu mungking saja Hinata sedang bersama Naruto, tapi kalau sampai belum memastikannya sendiri ia jadi kurang puas juga. Dengan tergesa ia mencari-cari handphone di saku celanyanya dan segera menghubungi temannya itu.
"Hallo, Hinata?" sapa Sakura saat ia menyadari panggilannya diangkat oleh Hinata.
"Ya, Sakura-chan?"
Sakura bernapas lega, setidaknya Hinata mengangkat panggilannya dan itu artinya gadis bermata indigo itu tak kenapa-napa.
"Sakura-chan ada apa?"
"Semalam kau tak pulang, aku khawatir tahu? Kau bersama Naruto?"
"Hm Sakura-chan, aku bersamanya. Maaf tak memberimu kabar. Pulang kuliah aku langsung ke flat kita ne?"
Sakura memutar bola matanya, ternyata tebakannya benar. Hinata bersama Naruto semenjak semalam. Entah apa yang mereka berdua lakukan sehingga lupa mengabarinya.
"Baiklah, hati-hati ya. Aku pulang jam delapan malam ya Hinata."
"Ne, sekali lagi maaf ya Sakura-chan. Sampai bertemu nanti, aku ke kelas dulu ya sepertinya dosen berikutnya sudah datang."
Dan sambungan telepon-pun terputus. Sakura menghembuskan napas, rasa iri ternyata datang lagi dan sekarang ia merasa iri dengan Hinata yang masih melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Sungguh Sakura sebenarnya ingin sekali mengecap pendidikan di bangku universitas, tetapi keadaan ekonominya saja pas-pasan. Malang sekali. Sakura berpikir lagi, mungkin hidupnya akan terasa bahagia jika ia menjadi Hinata dengan keluarga yang lengkap, kaya dan berpendidikan.
Sakura menghembuskan napasnya sekali lagi, andai saja ia menjadi model seperti apa yang dicita-citakan olehnya waktu kecil mungkin hidupnya tak akan sesusah ini. dan hal ini mengingatkannya pada Sasuke sang pelukis dan model yang baru kemarin malam bertemu dengannya dan menawarkan pekerjaan model untuknya. Gadis bersurai merah muda itu mengetukkan jari telunjuknya di meja konter, memikirkan apakah ia akan menerima ajakan Sasuke atau tidak. Dan dengan segenap pertimbangan ia akan mencobanya saja. Tangan mungil itu kembali memencet tombol-tombol dan menunggu panggilannya diangkat oleh pria tampan berambut raven itu.
"Siapa?"
Langsung dan datang, begitulah sapaan Sasuke pada Sakura membuat gadis cantik itu memutar bola matanya.
"Aku Sakura, masih ingat kan Sasuke-san? Kemarin malam. Kopi hitam dan rambut merah muda?" kata Sakura jenaka. Ia bisa mendengar dengusan dari seberang dan itu membuat Sakura tertawa renyah. Senang sekali rasanya bisa menggoda pria dengan minim ekspresi itu.
"Hn. Kenapa? Berniat menjadi modelku?"
"Hm—itu…."
"Jam lima sore, aku tidak sibuk. Aku akan memperlihatkan hasil karya lukisku."
"Baiklah."
"Sampai bertemu nanti. Aku akan menjemputmu di café" ucap Sasuke dan menutup sambungan telepon begitu saja. Dasar seenaknya saja. Tapi meskipun begitu Sakura tersenyum manis, tak sabar menunggu sampai mereka bisa bertemu lagi. Gadis itu tak yakin ajakan ini termasuk berkencan atau tidak? Ia tak mengerti.
Sakura menunggu dan menunggu hingga beberapa jam sampai jam menunjukan angka lima dan suara bell pintu berbunyi. Sakura menolehkan kepalanya dipintu saat pintu cokelat itu terbuka menampakkan sosok Sasuke. Kami-sama, pria itu tampan sekali dengan mantel biru dongker dan skinny jeans menghiasi tubuh atletisnya. Sakura menggelengkan kepala. Ini bukan saatnya ia mengagumi ketampanan Sasuke.
"Hn. Ayo," Sasuke mengisaratkan Sakura untuk mengikutinya keluar café.
"Hey, Sasuke-san. Kita pergi kemana sih?" tanya Sakura. Untuk saja ia sudah berganti pakaian tadi.
"Studio-ku. Disana tempatku menaruh semua karya lukisku." Sasuke membukakan pintu mobil Audi hitam miliknya. Menyuruh gadis merah muda itu masuk dengan cepat karena sendari tadi Sakura masih saja terlihat bengong. Entahlah, gadis itu apa sedang terpesona dengan Sasuke atau dengan mobil mewah milik Sasuke?
"Wow." Decakan kagum Sakura terdengar ditelinga Sasuke membuat pria tampan itu memutarkan bola matanya. Tingkah lucu Sakura yang mengamati seisi mobil Sasuke terlihat begitu menggemaskan. Tangan-tangan mungil itu mengelus pelan dan penuh kagum mobil Sasuke.
Rapi? Check
Mewah? Check
Canggih? Check
Harum Sasuke sekali? Check check check! Check tiga kali untuk itu, demi apa Sakura bisa mencium aroma maskulin mint dan citrus yang Sasuke sekali. AAAH. Menghirup aromanya saja bisa membuat Sakura berteriak dalam hati.
.
.
Studio milik Sasuke ternyata tak begitu jauh letaknya. Mereka bisa sampai disana hanya memakan waktu yang singkat saja.
Studio mewah milik Sasuke memiliki dua lantai, lantai bawah digunakan untuk membuat produksi semua karya lukisnya. Sementara lantai atasnya digunakan untuk menyimpan semua karya lukisnya. Sasuke juga memiliki sebuah gallery paintings yang tak jauh dari tempat studionya.
"Woaah." Sakura melihat semua karya Sasuke disana. Beberapa digantungkan di tembok, dan beberapa lagi masih di lantai. Mata emerald itu meneliti dibeberapa sisi tembok studio Sasuke yang terisi penuh oleh karya lukisan pria tampan itu.
Tangan mungil Sakura terulur di sebuah lukisan sunset dengan sebuah tangan lentik yang mewarnai lukisannya.
"Cantik." Gumam Sakura kagum.
"Hn." Sasuke melihat kearah gadis merah muda itu, "Sakura, jadi kau bersedia mendi model untuk karya lukisku?"
Sakura mengerjapkan matanya, "Hm?"
"Hn. Aku punya tema baru. Untuk winter season."
Gadis itu mengangguk mengerti. Sebenarnya ia masih tidak mempercayainya kalau seniman dan model seperti Sasuke memintanya menjadi model untuk karya lukis pria itu.
"Hn? Tenang saja, kau akan kubayar dengan—"
Sakura buru-buru memotong ucapan Sasuke, "Oh tidak-tidak, kau tidak perlu sampai membayarku segala Sasuke-san," protesnya pula.
"Hn. Jadi kau setuju?"
Sakura menganggukkan kepalanya. "jadi, dimana aku memulainya? "
Pria tampan berambut raven itu mengendarkan pandangannya kesekeliling studio-nya sampai mata onyx-nya melihat sofa merah marun yang berada di pojok ruangan.
"Kau bisa duduk di sofa itu." Ujar Sasuke sambil menunjuk sofa.
Sakura berjalan pelan menuju sofa , lalu melihat kembali pada sang pelukis. "Aku harus berpose seperti apa, Sasuke-san?"
Sasuke terlihat memikirkan sejenak lalu mulai beranjak mengambil sesuatu meninggalkan Sakura yang menatapnya bingung. Setelah beberapa saat Sasuke kembali dengan membawa selembar selimut bulu bewarna putih tulang.
"Kau duduk di sofa itu dengan kaki yang sepenuhnya naik keatas sofa sambil berselimut ini seakan-akan kau tengah kedinginan." Terang Sasuke menjelaskan.
Sakura menganggukkan kepalanya dan lekas berpose seperti yang Sasuke perintahkan. Tak begitu sulit berpose seperti itu, karena menurutnya semua orang pasti sudah pernah mengalami posisi yang memeluk diri sendiri dengan selimut yang membungkus tubuhnya.
Sasuke tersenyum kecil melihat gadis merah muda itu yang terlihat menurut padanya. Tangan besarnya tanpa di komando lagi sudah mengacak pelan rambut berwarna seperti bunga kebanggaan Jepang. Terasa halus dan harum cherry yang begitu menguar dari sang gadis membuat Sasuke nyaris kehilangan kendali. Digelengkannya kepalanya guna mengusir pemikiran itu. Diraihnya selimut putih tulang itu dan membetulkan posisi selimut di tubuh mungil Sakura.
Setelah merasa pas dengan posisi Sakura, pria tampan itu berjalan menuju tempat kerjanya dengan beberapa peralatan lukis yang sudah tersaji disana.
"Sasuke-san, ekspresi wajahku harus bagaimana? Senyum, tertawa atau menggigil kedinginan?"
"Kerucutkan bibirmu."
Bola mata hijau itu terlihat mengerjap, "nani?"
"Kerucutkan bibirmu, Sakura."
"Kerucutkan bibir?"
"Hn." Kata Sasuke mempertegas. Sakura cepat-cepat mengerucutkan bibirnya. Melihat itu Sasuke jadi tersenyum geli. Ya ampun, gadis itu jadi terlihat begitu menggemaskan dengan biir pink yang mengerucut dan pose imut dengan selimut yang membungkus tubuh mungilnya itu.
Tangan terampil Sasuke dengan cepat mengambil pencil lukis dan membuat sketsa gambar terlebih dahulu dan berlanjut ke tahap selanjutnya.
Setelah satu jam berlangsung, Sasuke berhasil member warna sebagian lukisan Sakura walau hanya bagian rambut merah muda Sakura dan sofa merah marun.
"Sasuke-san, aku lelah mengerucutkan bibirku." Keluh Sakura ketika merasakan kaku di bibirnya karena terlalu lama berpose yang sama.
"Tahan beberapa menit lagi, Sakura."
"Baiklah," desah Sakura kembali berpose dengan bibir yang mengerucut dan bola mata besar yang terus mengarah ke Sasuke. Sepertinya gadis merah muda itu melupakan bahwa ia masih ada pekerjaan yang menunggunya.
Setelah beberapa saat kemudian Sasuke telah menyelesaikan lukisannya. Pria raven itu merentangkan tangannya untuk merenggangkan ototnya yang pegal.
"Hn, Selesai."
Sakura melihat Sasuke dengan mata besarnya itu dengan bibir yang mengeluarkan desahan pelan. "akhirnya selesai juga… rasanya aku tidak bisa merasakan kakiku lagi."
Pria tampan berambut raven itu tersenyum kecil, "itu wajar karena kau duduk dengan posisi itu hingga beberapa jam."
Sakura cemberut saja, tangan mungilnya memijat pelan kakinya guna melemaskan otot kaku disana.
"Aaah," Sakura terpekik pelan ketika ia memaksakan kakinya untuk berdiri. Rasanya ngilu sekaligus geli secara bersamaan.
"Pelan saja, Sakura."
Sakura meringis pelan, "boleh aku lihat lukisannya?" tanyanya pula.
Sasuke berjalan menghampiri Sakura dengan membawa hasil lukisannya. Sakura melebarkan matanya ketika melihat hasil lukisan Sasuke yang sangat bagus, solah-olah lukisan itu hanya hasil foto seorang professional bukan hasil dari lukisan.
"Cantik," gumamnya tanpa sadar.
"Hn, cantik." Sasuke menanggapi juga. Sakura menolehkan kepalanya dan langsung bersemu merah saat menyadari onyx Sasuke sedang mengamatinya dengan intens.
"Maksudku lukisanmu cantik, Sasuke-san. Kau pelukis yang berbakat." Terang Sakura gelagapan. Atau memang dilubuk hatinya ia berharap pujian Sasuke mengarap padanya bukan pada lukisannya itu. Konyol sekali kau, Sakura meggelengkan kepalanya.
"Hn."
"Ngomong-ngomong aku membaca interview-mu di majalah."
"Hn. Itu Interview minggu lalu."
Sakura menganggukkan kepalanya, "benar kau sudah berumur 25 tahun Sasuke-san?"
"Hn. Kenapa?"
Ditanya balik seperti itu membuat Sakura terdiam. Kenapa ia sampai menanyakan itu sih? Pertanyaan tak bermutu, gadis itu mendumel dalam hati. "err…kenapa kau belum menikah?"
Crap! Pertanyaan yang lebih bodoh lagi, Sakura kembali mendumel kesal.
"Bukankah kau membaca Interview itu? Aku belum menemukan yang cocok." Kata Sasuke acuh.
"iI'm searching for the perfect person," tambahnya lagi membuat Sakura kembali menganggukkan kepalanya mengerti.
"Err…Sasuke-san? Apa kau tidak merasa ini semua aneh? Maksudku, kita baru saja kenal kemarin tetapi kau sudah mengajakku untuk menjadi model lukisanmu."
Sasuke mengangkat bahunya. "ku pikir tidak."
Gadis itu memutar bola matanya, "aah Sasuke-san," keluhnya pula
"Sasuke-san akan menjual berapa lukisannya?" Sakura kembali bertanya karena pensaraan. Jangan-jangan lukisan yang ia menjadi modelnya hanya laku dengan harga rendah?
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya, I'm keeping it for myself."
Sakura mengerjapkan matanya merasa kurang jelas dengan kalimat terakhir Sasuke, "nani, Sasuke-san?"
"Tidak,"
Sakura mengangkat bahunya, "omong-omong ini jam berapa ya?" Gadis itu baru menyadari ia belum melihat jam setelah Sasuke menyelesaikan lukisannya tadi.
Pria itu melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya, "7.30 pm. Kenapa?"
Sakura melebarkan matanya kaget. Sial, ia lupa dengan pekerjaannya di café. Tadi itu ia hanya ijin sebentar dengan Ji-san, tetapi ini hampir waktunya tutup café.
"Aku harus pergi. Terimakasih ya Sasuke-san." Kata Sakura. Saat gadis itu mencoba berdiri, ia kembali meringis nyeri karena kakinya masih kram dan itu membuat keseimbangannya goyah dan menimpa tubuh Sasuke yang berada di sampingnya.
Kedua manusia berbeda jenis itu saling menatap kedua bola mata masing-masing. Nafas hangat mereka membaur menjadi satu.
"Sasuke-san….."
to be continued
words for story only: 2,424
terimakasih review/follow/fav-nya yak temen2. Gomen baru update sekarang hehe lumayan panjang kan? Sorry pengen saya panjangin lagi sampe 3K lebih tapi kok udah buntu dijalan. Padahal saya sendiri paling suka baca fanfic yang panjang2 hehe. Next chap diusahain lebih dipanjangin target sampe 3K lebih yaa #praying.
Dan benar sekali untuk yang menebak ceritanya bakal ringan2 aja hehe paling dikit masalah dipertengahan juga ga panjang2 deh janji takut buntu ditengah jalan soalnya. Saya masih amatir bikin yang complicated story, nanti belajar lagi deh sama author SS disini. Thanksssss.
Baby628, blaueFEE, An Uchiha Fan, vinestash, Kiera Uchiha, UchihaCherryHaruno12, SSL: maaf pendek yaa, dan maaf saya putuskan melanjutkan ffnya lol *keraskepala*, UchiHaruno Misaki, LoveSasuSaku, Vierra, gapunya akun, Azi-chan, undhott, GaemSJ, Cherry Ryl-chan, caesarpuspita, Aoi Yukari, , suket alang alang
Terimakasih sekali lagi. Kalau ga keberatan minta review lagi yaa :D
Arigato, xoxo
KimmyR
.
