Tadaima!

Maaf menunggu lama, saya habis menyelesaikan prioritas mingguan utama (kuliah). Sedikit curi-curi waktu untuk menyelesaikan fic ini, hihihi.

Sebelumnya, saya khilaf. Karena tema A/B/O sepertinya sudah banyak jadi kirain semua sudah tahu dasar dari cerita ini. Sekali lagi saya minta maaf.

Jika ada yang salah tolong dibenarkan, soalnya A/B/O verse ini berasal dari fanwork, dan saya menjabarkannya sesuai dengan pengetahuan saya saja. Kemudian saya sesuaikan sedikit sesuai dengan isi cerita.

Foreword:

Alpha/Beta/Omega verse atau seringkali hanya Alpha/Omega (terkadang juga Alpha/Beta) adalah suatu plot di mana makhluk hidup memiliki peran dan perilaku biologis layaknya hewan tertentu (biasanya serigala atau hewan bertaring lainnya), tetapi lebih ke arah perilaku seksualnya. Karakternya bisa sepenuhnya hewan, manusia setengah hewan seperti werewolf, atau murni manusia (di fanfiksi ini saya pakai yang murni manusia).

Dalam sistem A/B/O ada 3 peranan penting:

- Alpha: mereka yang memiliki kedudukan tertinggi, sangat dominan, dan dapat membuahi omega. Lelaki alpha sama seperti manusia biasa kecuali pada一ehem一alat vitalnya. Alat vital alpha memiliki kemampuan khusus (seperti pada hewan bertaring) yaitu knotting*, menghasilkan lebih banyak sperma dibanding manusia pada umumnya, dan dapat membuat keturunan dengan mudah.

- Beta: sebenarnya adalah sub dari alpha (kedudukannya lebih lemah dari alpha), dia bisa atau tidak bisa membuahi omega. Role ini sering dihilangkan, namun sesekali juga bisa digunakan untuk menggantikan omega.

- Omega: memiliki kedudukan yang paling rendah, tetapi terkadang justru digambarkan sebagai makhluk langka yang paling dicari dan berharga. Omega lelaki memiliki kemampuan untuk dibuahi dan mengandung, biasanya ketika masa in heat. Jika omega sudah menjadi mate seorang alpha, maka sang alpha akan selalu posesif padanya. Omega memiliki kemampuan melubrikasi dirinya sendiri sebelum mating.

Istilah-istilah lain:

- In heat: fase di mana hasrat biologis untuk berhubungan seks mulai menjadi-jadi dan sampai berada di luar kontrol diri.

- Mating: proses perkawinan/penyatuan, sekaligus menandai satu sama lain sebagai mate.

- Mate: pasangan resmi. Ketika seorang alpha menjadikan seorang omega sebagai mate-nya, maka bau/aroma omega tersebut sudah tercampur dengan aroma sang alpha, sehingga ia tidak akan didekati alpha lain.

- Feromon: bau-bauan khas yang dihasilkan oleh masing-masing individu. Baunya akan lebih kuat di saat-saat tertentu, misal ketika A/B/O sedang mengalami fase in heat.

Sebenarnya masih ada lagi istilah lain kayak knotting*, soulbond dll, tapi saya rasa yang di atas itu cukup membuat yang belum tahu untuk memahami lebih lanjut jalan cerita fic ini.

. . .

Special thanks and review replies: (^人^)

- Just-Sky: Salam kenal juga Sky-san ^^. Tidak, tidak, tidak, fic Tisa masih belum ada apa-apanya dibanding fic senior KnB lain, hehe. Terima kasih sudah menunggu :D

- Flow . L: Aww, lemon ya... temukan sendiri di bawah ne... ^^. Semangat dong, Flow-san. Mungkin ini fic nggak seberapa, tapi semoga bisa bikin mood kamu sedikit lebih baik lagi. Terima kasih sudah menunggu :D

- Freyja Lawliet: Ini settingnya AOB verse, sudah baca penjelasan di atas kan? Jujur, niat nulis A/N itu ada karena Tisa pernah baca flame nonsense dari flamer anon yg bikin pusing. Dilihat dari perspeksi Tisa, Tisa berusaha nggak menyudutkan pihak manapun. Jika ada yg tersulut, malah bagus. Berarti kelihatan kan siapa yg sebenarnya tidak respect? Begitu Tisa baca 'bales2an', Tisa mikir 'balesan apa nih?' dan dari situlah baru tau kalau ternyata ada yg duluan bikin A/N semacam ini. Olalah... Tisa bikin trouble, kah? Gomen ne~ Untuk usulah Freyja-san, Tisa nggak janji banyak karena dari awal sudah ada warning non-con, tapi semoga fic ini bisa sedikit menghibur. Terima kasih sudah menunggu ^^

- Evelyn: Lyyyyn, maaf kalo ficnya jelek ;P Iyo seh, gak gitu mikirin juga sebenernya, hehe... cuma Tisa ini orangnya persistent, jadi begitulah :D Haiii, itsumo ganbatte imasu yo! Terima kasih sudah menunggu ;D

- fachan desu: Nee, fachan-san udah bersedia ikhlas kasih review juga Tisa udah senang banget kok :D Ini udah kilat? Selamat membaca ya, dan terima kasih sudah menunggu ^^

- Wyda: Hai juga Wyda-san, selamat datang di dunia AkaKuro XD Iyaa, makasih udah ingetin Tisa yg khilaf ini. Udah dibaca penjelasan di atas kan? Dan terima kasih sudah menunggu ^^

- Heika-zue: Fic ini manis? Oh my... Yup, ini AkaKuro ^^ Tisa selalu semangat! Kamu juga ya~ Selamat membaca dan terima kasih sudah menunggu :D

- Caffeine NL: Mereka manusia kok, sudah baca catatan di atas kan? :3 Lalu untuk kekasihnya Akashi, dia cuma cameo anonymous, nggak usah dipikirin XD Makasih ya sudah menunggu lanjutan fic ini ^^

- Bona Nano: Sudah nggak bingung lagi kan? ^^ Tisa bikinnya agak nggak sabaran, hehe. Fetish Tisa itu uke yg lemah diluar tapi tangguh di dalam, jadi... begitulah #plak. Terima kasih Bona-san, udah nunggu lanjutan fic ini ^^

- kagurra amaya: Well, kita lihat saja apa yang terjadi :3 Terima kasih sudah menunggu ^^

- purikazu: Hola juga, puri-san, udah baca catatan di atas kan? Yg jadi pasangan Akashi sebelumnya itu cuma orang numpang lewat XD Terima kasih sudah menunggu ^^

- ikizakura: AkaKuro dua-duanya manusia kok, cuma settingnya ABO verse :3 Ini dah asap belum, Iki-san? Terima kasih ya sudah menunggu :D

- Akashi lina: Sudah baca catatan Tisa di atas, Lina-san? Semoga udah mudeng ya :D Ini udah lanjut, dan terima kasih sudah menunggu ^^

- ShinChunjin: Oke, ini udah update ^^ Terima kasih sudah menunggu ;D

- Ran-O-chan: Eeh, Tisa senang sekali :)) Hoho, (mantan) calon mate-nya Akashi itu bukan siapa2 kok, cuma orang numpang lewat aja. Yosh, ganbatte imasu yo! Terima kasih sudah menunggu ^^

- Akashi Tetsuya-chan: Salam kenal juga Akashi Tetsuya-chan-san(?) hehee... Ini udah diupdate ;) Selamat membaca dan terima kasih sudah menunggu ^^

- Ritsu Syalalalala: Yup, AkaKuro di sini memang manusia kok ^^ Kalo Tisa sukanya bikin Kuroko jadi tipe submissive yg strong dan gak mudah tunduk. Terima kasih Ritsu-san untuk telah memberi dukungan pada AkaKuro, dan terima kasih juga sudah menunggu update fic ini ^^

- kufufufu-chan: Aah, gomen ne... :3 Ini sudah update kok. Terima kasih sudah menunggu ^^

- Couphie: Okke, ini sudah diupdate ^^ Dia itu cuma cameo kok. Terima kasih sudah menunggu ;D

- Lya93: Salam juga, Lya-san. Hai, issho ni ganbatte imashou! Terima kasih sudah menunggu lanjutan fic ini ^^

- The Red Bloody Scissors: Yuhuu... ini sudah dilanjut kok. Terima kasih sudah menunggu ^^

- saphire always for onyx: Ya ampun, kamu mecum ya XD #plak. Ini NC-nya sudah update *loh?*. Terima kasih ya sudah menunggu ^^

- ahofangirl: Hai, salam kenal juga Riri-san. Ga papa, panggil saya Tisa aja :D Terima kasih banyak atas dukungannya, dan terima kasih juga sudah menunggu lanjutan fic ini ^^

- Zero Bloody Blue: Pehape? Ih, kamu juga mecum yah~ :3 Ini lanjutannya sudah Tisa update, terima kasih sudah menunggu ^^

- L: Yosh, sudah dilanjut! Terima kasih sudah menunggu ^^

- S . Hanabi: Haha, Akashi emang serigala, dalam artian tertentu XD Terima kasih, selamat menikmati update-annya ^^

- efi . astuti . 1: Sudah baca catatan Tisa di atas, efi-san? Tenang aja, calon mate-nya Akashi yang tapi gagal itu cuma tokoh gak penting ok :3 Terima kasih sudah menunggu ^^

- GlowingBlue: Nee GlowingBlue-san, Tisa kok jadi ikutan sedih sih T.T Tisa yakin kok masih banyak yg bertahan jadi AkaKuro shipper. Kita kan kuat, kita nggak akan runtuh hanya dengan keegoisan segelintir orang. Biarpun waktu Tisa bakal banyak habis buat kuliah, tapi Tisa bakal nyempetin update/publish fic AkaKuro lain. Terima kasih sudah menunggu ^^

- Tetsuya Ran: Waah, makasih sudah fav & follow fic Tisa :)) Itu bukan siapa-siapa kok, cuma cameo, hehe. Selamat membaca dan terima kasih sudah menunggu ^^

- Orzz: Halo juga Orzz-san, wkwkwk njirrr... kamu napcu yah :3 *diseret ke jurang* Ooh... banyak yg penasaran, tapi dia bukanlah siapa-siapa, cuma orang ga penting #plak. Ini sudah lanjut, terima kasih sudah menunggu ^^

- 3nd4h: Mereka manusia kok, cuma ini cerita settingnya ABO verse. Udah baca penjelasan di atas, kan? Terima kasih ya sudah menunggu update-an fic ini ^^

- kim . ariellink: Terima kasih sudah menunggu update fic Tisa ini, kim-san ^^

- Guest: Tenang, ini udah update. Terima kasih sudah menunggu ^^

- November With Love: Hehee, Tisa bisa kok bikin lemon pada akhirnya, walaupun ya... gitu deh XD Terima kasih sudah menunggu ^^

- hakyuu: Wah, Tisa merasa tersanjung :D #plak. Terima kasih sudah menunggu ^^

- babyberrypie: Terima kasih sudah ikut mengingatkan, Tisa memang pikun :P Selamat menikmati dan terima kasih sudah menunggu ^^

Terima kasih juga untuk yg sudah fave, follow, dan kalian yg membaca fic ini diam-diam (笑). Selamat menikmati ^^

. . .

Title: Bad Day Akazukin (Hari Buruk Si Tudung Merah)

Author: Tisa's Flower

Disclaimer: Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi-sensei

Rating: R-18

Warnings: Lemon non-consent (rape), NSFW, typos, OOC, impregnation, mention of mpreg. Buat yang dibawah umur dan yang mungkin tidak suka, tolong perhatikan peringatan dari saya secara serius.

. . .

Hari terburuk dalam hidup Kuroko Tetsuya diawali ketika ia merasa kasihan pada teman satu sekolah sekaligus partner basketnya, Aomine Daiki, yang memampang raut wajah memelas di depan rumahnya dan berkata jika ia harus melakukan mating secepatnya dengan Kise Ryouta, kekasihnya.

Tanpa pikir panjang, Kuroko hanya memberi respon anggukan sebagai tanda persetujuan. Anak itu sudah dapat mencium semerbak feromon Aomine yang nyaris membuatnya sesak nafas, dan ia sudah ingin melenyapkan jauh-jauh raut memelas yang sama sekali tak cocok berada di wajah sahabatnya itu.

"Yosh, kutunggu nanti di pos jam setengah 7 tepat, seperti biasa. Jangan terlambat!"

Kuroko mendengus sambil menutup pintu rumah secara brutal. Barusan Aomine mengganggu tidur siangnya yang amat berharga dan ia harus segera melanjutkan kembali. Ditambah, perlu menimbun tenaga ekstra untuk berjaga di hutan nanti malam.

Agaknya anak bermuka tembok itu harus berterima kasih pada dirinya sendiri yang memutuskan istirahat siang lebih lama dari biasanya, karena pada malam hari nanti ia akan benar-benar mengurai tenaga yang jauh lebih banyak dari yang pernah ia pikirkan, disebabkan ulah serigala sebentuk manusia bernama Akashi Seijuurou.

. . .

"Nijimura-senpai!?"

Gedoran sekuat tenaga pada permukaan pintu kayu jati membuahkan getar yang merambat hebat hingga membuat hewan-hewan malam yang beristirahat di atap pondok mulai berteriak melengking dan meninggalkan tempat kejadian perkara.

"Sumimasen, Senpai? Apa kau ada di dalam?!"

Ritme gedoran-gedoran gugup tersebut semakin cepat. Jika bukan karena kokohnya fondasi sederhana pondok kayu berukura meter itu, mungkin saja untuk saat ini temboknya sudah runtuh akibat dorongan menggebu kepalan tangan Kuroko yang mulai memerah.

Merasa tidak punya lagi waktu dan kesabaran, Kuroko memutar kenop pintu dan segera masuk ke dalam pondok, menutup kembali pintu dengan rapat tanpa menguncinya. Pemuda bertudung merah itu duduk di tepi ranjang yang berkasur keras dan dingin sambil mengatur nafasnya yang masih amburadul. Sekujur badannya menegang akibat kontraksi otot selepas berlari.

Tubuh kecil sang pemuda yang lemah jatuh menindih kasur. Mata biru menjajakan pandangannya mengitari ruangan yang kosong tanpa penghuni. Setelah mengerahkan kemampuan untuk lepas dari jerat alpha bernama Akashi yang sedang in heat itu, Kuroko terus berlari ke dalam hutan tanpa menoleh ke belakang. Tujuannya memang menuju tempat ini, pos 4, tempat Nijimura Shuuzou berada. Nijimura adalah senior Kuroko di sekolahnya, ketua klub basket yang ia masuki, dan juga part-timer sebagai penjaga hutan sama seperti Aomine. Biasanya ia selalu ada di pondok, menulis sesuatu atau memotret night life yang langka di sekitar pondok. Tapi kali ini nihil. Bau maskulin khas alpha milik Nijimura tidak tertinggal barang sedikit pun di dalam ruangan.

Kuroko beringsut membenarkan posisi rebahnya yang kurang nyaman. Ia menaikkan tubuhnya agak ke atas agar kepalanya dapat beristirahat di atas bantal一

Prak.

一yang tak diduganya ternyata lebih keras dari kayu. Merasa ada yang kurang enak dan janggal di bawah bantal, Kuroko meraba dan menemukan potongan benda bening nan tajam.

"Kaca?" gumam sang iris biru sambil membuka keseluruhan bantal. Ternyata Nijimura menaruh sebuah figura berisi foto ukuran 3R di sana, sehingga frame yang melapisi tak sengaja pecah ketika Kuroko menindihnya.

Anak itu memperhatikan objek sepasang pemuda yang ada di dalam serpihan frame. Dua orang berseragam SMA Teikou yang sedang bergandengan tangan itu tak lagi asing di mata Kuroko. Pemuda berambut hitam yang berdiri kalem sambil tersenyum tipis adalah senpai tahun kedua yang sangat ia hormati, Nijimura. Sementara pemuda yang agak pendek di sampingnya, dengan rambut silver acak-acakan yang menyeringai lebar adalah teman seangkatannya, Haizaki Shougo. Mereka berdua adalah pasangan kekasih.

Kemudian Kuroko terhenyak. Benar juga, alasan mengapa Nijimura tidak ada di markasnya ini mungkin dikarenakan musim kawin serempak yang tengah melanda mayoritas alpha dan omega, tentu saja maka Nijimura pasti sedang menghabiskan malam dengan sang kekasih.

Sebersit helaan nafas menyebar melalui lubang hidung Kuroko yang mulai berespirasi normal. Fokus mata biru itu terkunci pada langit-langit, berpikir tentang mating.

Kuroko adalah omega normal. Ia mengalami masa in heat setahun sekali semenjak tiga tahun lalu, masa di mana ia dinyatakan resmi mampu bereproduksi. Pada saat itu juga setiap alpha dan omega dapat melakukan mating dengan pasangan yang mereka inginkan masing-masing. Secara umum, alpha dan omega memiliki insting akan siapa yang akan menjadi mate mereka. Insting ini dapat tersirat dalam perasaan, maupun dalam nafsu. Diantaranya, opsi kedua lebih menjadi pemandu utama.

Akan tetapi berbeda dengan omega lain, Kuroko mungkin satu-satunya yang tidak ingin melakukan mating. Ia benci dengan takdir yang membuatnya menjadi omega rendahan. Ah, tidak. Tidak hanya omega. Namun juga alpha, beta, semuanya itu rendahan. Bagaimana bisa dua insan manusia terikat menjadi satu hanya karena nafsu semata? Sama saja seperti hewan, bukan? Kuroko benar-benar tidak habis pikir. Manusia itu memiliki hati dan perasaan, untuk apa jika tidak digunakan?

Untuk sekarang, anak itu hanya ingin sendiri sampai fase in heat ini selesai. Sedikit menyiksa, tapi itu lebih baik. Daripada harus melepasnya bersama dengan orang asing yang tak dikenal? Kuroko tak peduli sekalipun Akashi adalah benar mate-nya.

Namun jika benar-benar terdesak sebenarnya tak apa untuk melakukan mating. Asal tidak hari ini. Sekali lagi, tidak hari ini. Tidak di puncak masa in heat, atau ia akan hamil. Meski masa in heat omega seringkali berbarengan, namun puncak in heat mereka berbeda-beda. Kuroko banyak belajar dari omega lain seperti Kise bahwa ketika melakukan mating, sebaiknya tidak pada puncak masa in heat karena sangat berbahaya. Di kota mereka akhir-akhir ini banyak omega muda yang hamil tidak kuat mendapat tekanan dari lingkungan hingga frustrasi dan mereka mulai jadi gila sampai banyak yang melakukan jisatsu一bunuh diri. Mereka dianggap sebagai omega jalang yang tidak dapat menjaga kehormatan. Entah dari mana awalnya anggapan itu berasal.

Oleh karena itu, Kuroko akan mati-matian berusaha lolos dari kejaran Akashi. Ia pun tahu bahwa alpha yang sedang dalam masa in heat itu lebih berbahaya dari hewan buas manapun. Tetapi tidak ada salahnya mencoba.

Di tengah pemikiran itu mendadak Kuroko berguling sampai tengkurap dan membenamkan wajah memerahnya ke dalam bantal ketika merasakan sebuah sengatan di bagian bawah tubuhnya.

"Ugh..."

Kedua telapak tangan dengan gemetar menelusur garis celana pendeknya menu titik pusat organ vitalnya yang seperti tersetrum.

Kuroko mendesis tertahan. Segelintir keringat dingin menetes dari dahi menuju hidung, dan menetes dari ujung ke permukaan bantal. Anak lelaki 16 tahun itu menggigit bibir ketika mengendus aroma feromon maskulin pekat yang mendekat tersapu angin.

'Akashi-kun?!'

Aroma lelaki tampan berambut merah itu sudah dihafalnya meski mereka baru bersentuhan sekali beberapa saat yang lalu. Sentuhan tersebut berdampak besar bagi Kuroko. Gejolak nafsunya semakin kuat dan seperti ingin memberontak kala ia mencium bau Akashi. Ini yang pertama kali. Masa-masa in heat sebelumnya selalu Kuroko lalui seorang diri, meskipun banyak alpha yang mengajak untuk mating, tapi Kuroko tak pernah bergairah. Untuk yang satu ini... entahlah. Kuroko tidak tahu kenapa bisa tubuhnya bereaksi dengan sangat sensitif pada friksi terkecil yang dijalarkan sang pemuda Akashi.

Mungkin Akashi memang alpha yang ditakdirkan untuk menjadi mate-nya. Mungkin. Dan kemungkinan itu semakin membuat Kuroko takut.

Kuroko一dengan tertatih menahan tekanan di vital bawahnya一berjalan menuju sisi tembok di mana jendela yang terbuka berada dan menutupnya dengan rapat. Lampu neon yang menyala sepanjang malam lebih dibuatnya agar lebih terang. Kuroko mengencangkan ikat jubah merah di lehernya dengan simpul ganda dan menutup kepalanya dengan tudung yang sempat terlepas, kemudian beranjak menuju pintu, menutupnya rapat dari luar. Sepatu boot hitam yang sedari tadi dikenakannya pun dilepas, diletakkannya rapi berjajar pada samping pintu masuk. Setelah memastikan semuanya sesuai seperti apa yang diinginkan, Kuroko berjingkat ke belakang pondok dan berjongkok mencoba bergeming. Namun tegangan di antara kakinya semakin menjadi saat feromon Akashi semakin tercium jelas. Kuroko menahan nafas sekuat yang ia bisa dan memilih untuk mengintip melalui semak belakang pondok yang sedikit dapat menyembunyikan keberadaannya. Seandainya sepasang kaki miliknya masih kuat diajak kompromi, Kuroko akan memilih meneruskan pelariannya sampai di pos 5, akan tetapi saat perutnya kram dan ditambah tekanan tidak mengenakkan di selangkangan, ia mencoba untuk diam dan membiarkan.

Kuroko benar-benar tidak bisa bergerak ketika sosok Akashi muncul di kejauhan di depan sana. Tak ada kotoran sedikit pun yang tertinggal di wajah rupawannya yang selalu tenang. Anak itu melangkah dengan santai, terkadang memperhatikan sekelilingnya sambil tersenyum kecil. Kuroko menutup mata dan menggigit bibirnya lebih kuat. Bahkan hanya dengan melihat sekilas ke arah sang alpha, tubuhnya semakin terangsang. Kuroko tidak suka. Ia tidak suka jika nafsu mulai mengambil alih kerja syarafnya. Ia sungguh-sungguh ingin pergi ke mana saja, sejauh mungkin dari Akashi... kalau saja bisa. Tapi nyatanya, ia rasa semua sudah terlambat.

. . .

Akashi menghentikan langkahnya di depan pintu pondok pos 4 yang tertutup rapat. Cukup mencurigakan. Dengan pencahayaan terang benderang yang tembus dari kaca jendela, dan sepatu boot milik mangsanya berdiri rapi di samping pintu, ia yakin sekali bahwa sesuatu yang dicarinya sedang bersembunyi di dekat sini.

Jemari panjang dan lentik itu meraih gagang kenop pintu, memutarnya dan mendorong terbuka. Langkah demi langkah ia jajaki. Wangi searoma vanilla yang kuat mengudara dalam indra penciuman sang alpha, membuatnya menjilat bibir dalam seringai yang manis. Ia mengedarkan penglihatannya ke sekeliling, mencari tanda-tanda keberadaan Kuroko.

"Aku tidak pernah menyangka dapat bertahan sesabar ini, Tetsuya."

Akashi lantas melangkah agak tergesa menuju tembok belakang, menaruh satu kaki pada salah satu di antara barisan kayu selebar satu meter yang menyusun tembok dan menendangnya kuat sampai roboh. Terpampang di hdapannya, rimbunan pohon mencekam tempat makhluk-makhluk nokturnal terbang dan berloncatan akibat gaduh yang ia perbuat. Tapi Akashi tidak peduli. Kakinya tak akan berhenti sebelum menemukan mangsa yang dalam sepersekian detik saja sudah dapat ia temui di balik rimbunan semak bergerigi setinggi setengah meter.

Jika Kuroko melemparkan tatapan melawan, maka Akashi menghadiahkannya senyum menawan.

"Ke manapun kau lari, aku pasti akan menemukanmu," ucap Akashi pelan sambil berjongkok, muka ke muka dengan pemilik tampang datar yang membuatnya tak lagi dapat menahan diri. "Kita ditakdirkan menjadi mate, bukan?"

Kuroko menepis tangan Akashi yang hendak menyentuh wajahnya. Sedikit banyak ia kesal kenapa Akashi bisa secepat ini menemukannya? Padahal ia sudah berniat mengunci pintu sialan itu dari depan ketika Akashi sudah masuk ke dalam.

"Maaf, tapi kumohon mengertilah, Akashi-kun. Aku tidak merasakan apapun yang sama seperti apa yang kau rasakan. Memang aku seorang omega yang sedang berada dalam fase in heat, tapi bukan berarti aku mau melakukan mating denganmu." Sejujurnya Kuroko mengatakan hal tersebut dengan gugup dan waswas, ditambah tatapan Akashi yang seolah-olah menelanjanginya itu...

"Hm?" Akashi memiringkan kepala. Tangannya terlipat di depan dada. "Bagaimana jika aku tidak percaya?"

"Terserah Akashi-kun saja. Aku lelah bermain kejar-kejaran denganmu. Kuharap Akashi-kun bisa mengerti. Permisi." Dengan itu Kuroko bangkit berdiri dan melenggang melewati Akashi seakan-akan tak ada apapun yang terjadi. Langkah Kuroko semakin cepat meski tak didengarnya derap kaki Akashi mengikuti di belakang. Ia tiba-tiba merasa jika berbicara seperti tadi adalah hal yang seharusnya tidak ia lakukan.

"Argh..."

Kuroko mengerang tertahan kala tudung merahnya secara mendadak tertangkap dari belakang, dan dalam satu tarikan kuat, tubuh itu ambruk menengadah di atas tanah berumput yang dingin. Beberapa senti di atas wajahnya, Kuroko menemukan wajah Akashi dalam posisi terbalik一tersenyum puas. Tanpa menunggu pemberontakan lebih lanjut, Akashi dengan sigap menduduki perut Kuroko dan mensejajarkan posisi mereka.

"Kau manis sekali," puji Akashi pada sang pemuda bermata biru yang nafasnya terdengar berat serta putus-putus, akibat Akashi menimpakan seluruh berat badan ke tubuhnya.

Akashi terkesima akan reaksi yang dikeluarkan omega di bawahnya. Anak berparas rata itu membuka mulutnya untuk menarik nafas yang tak cukup ditariknya melalui lubang hidung, dan salivanya mulai mengalir dari sudut bibir. Akashi menggeser mundur posisi duduknya sehingga kedua organ vital mereka yang bersitegang mulai memberontak ketika menemukan pasangannya.

"Nnnh一" Pupil Kuroko membesar ketika alunan nada ganjil dari belahan bibirnya keluar begitu saja. Ia segera membekap mulutnya dengan tangan dan menggunakan tangan sebelahnya untuk mendorong tubuh Akashi menjauh. Meski percuma.

"Aku suka suaramu, jangan ditahan..." Akashi mencondongkan badannya ke depan dan mengubah posisi. Kedua tungkai kaki berlutut di antara kaki Kuroko yang gemetar, sementara tangannya digunakan untuk memerangkap omega yang nampak ketakutan itu agar tidak kabur ke mana-mana.

Kuroko tidak tahu mengapa tubuhnya tak melakukan aksi seperti apa yang dipikirkan di dalam otaknya. Ia kehilangan kontrol akibat nafsu yang tak kuat dibendung. Pertahanan yang dibuat oleh telapak tangannya melemah. Tangan itu sudah digenggam oleh tangan alpha di atasnya dan dipenjarakan di permukaan tanah, tepat di samping kepalanya. Tangan yang tersisa ikut kena batunya. Kuroko menggigit bibir dengan bengis mengetahui lawannya nampak bahagia.

"Lepaskan aku," sentak Kuroko. Ia menggeliatkan badan mencoba melepaskan diri.

"Ya, ya, tentu saja. Nanti," jawab Akashi seenaknya. Satu lututnya menekan penis Kuroko di dalam celana yang mengeras. "Jangan bersikap tsundere."

Kungkungan kedua tangan Kuroko berpindah ke atas kepala, ditahan oleh cengkeraman luar biasa kuat tangan kiri Akashi dan tangan kanannya mulai diarahkan untuk sesi pembukaan.

"Ayo keluarkan lagi Tetsuya..." Semakin wajah Akashi mendekat, semakin keras Kuroko menggigit bibir. Wajah pucatnya berkeringat deras, nafasnya memburu cepat... sangat cepat hingga nyaris menimbulkan hipervelanting, seperti yang ia rasakan ketika kelelahan di tengah latihan basket.

Lidah basah Akashi terjulur, menjilat sudut bibir Kuroko dari ujung ke ujung. Omeganya masih tangguh dengan pertahanan diri. Namun itu tak bertahan lama saat tangan nakal sang alpha sudah menyusup ke dalam baju untuk menggoda dua chikubi yang tak kalah tegang. Benda kecil dan kenyal itu dipelintirnya keras secara bergantian, menghasilkan kejut yang memaksa tubuh Kuroko untuk menggelinjang liar merasakan sensasi aneh yang baru ditemuinya.

"I-iya da"

Penolakan yang membuahkan kesempatan emas bagi Akashi. Persis ketika Kuroko lengah membuka oralnya, lidah milik sang lawan menerobos mulus tanpa hambatan menuju ke dalam sana, meninggalkan jejak kepemilikan di setiap gerak rotasinya, menekan-nekan lidah lawan main yang masih bergerak pasif. Kuroko tersengal lagi. Ia tidak punya pengalaman seperti ini sebelumnya, ditambah apa yang Akashi lakukan padanya adalah pemaksaan. Sugestinya masih menolak mengikuti laju permainan, dan hal itu membuatnya tersiksa.

Saliva panas layaknya erupsi mengalir tanpa henti dari kedua sudut bibir merah si omega yang tengah terkunci serta diklaim sepihak oleh milik sang alpha. Kuroko tak mampu melawan meski beberapa kali saliva Akashi tertelan menuruni tenggorokan dan memaksanya kembali tersedak.

Sebelah manik biru itu tertutup refleks ketika pusat sensitivitas di dadanya dicubit keras, dipelintir, dan diremas seperti orang memilin adonan roti. Ingin berteriak, bibirnya masih disandera oleh bibir diktator Akashi yang seperti tak pernah puas menyiksa. Hanya geraman samar dan desahan patah-patah yang terkadang lolos melalui celah kecil.

Sudut bibir seksi sang alpha yang terkenal mampu menggaet omega manapun hanya dengan satu kerlingan mata itu pun menukik saat merasakan tekanan darah pada pergelangan tangan Kuroko yang dicengkeramnya mulai melemah. Ia juga merasakan nafas Kuroko yang dibagi dengannya makin pendek dan pelan. Iris heterokrom menusuk kuat pada iris sang lawan yang berkilau sayu, antara masih keras kepala untuk melawan atau terpaksa untuk menyerah. Dari sudut bola mata beriris langit yang besar, nampak seberkas jalur air yang mengering. Akashi tertegun. Ia tidak menemukan Kuroko terisak sebelumnya. Mungkinkah anak itu mengeluarkannya secara tidak sadar?

Kuroko menarik nafas panjang ketika Akashi membebaskan bibirnya yang membengkak dan melepaskan pergelangan tangannya yang memerah. Ia senang sesaat. Ia harus bangkit dan menyelamatkan diri sekarang, mumpung Akashi sedang memberinya kesempatan.

"Pergilah jika kau ingin, Tetsuya." Dengan lembut telapak tangan sang pemuda merah membelai serta menyeka dahi omeganya dari keringat yang mengganggu. Kuroko mencoba menggerakkan badan, hanya untuk menemukannya tetap bergeming. Tubuhnya tak mau menuruti perintah sama sekali. Akashi menyeringai lebar. "Kau yakin tidak mau pergi? Soalnya, aku tidak akan lagi menahan diri. Aku yakin sekali bahwa kau adalah mate-ku. Kau yang membuatku lebih bergairah dan bernafsu dari omega manapun."

Suara Akashi semakin parau, tenggelam bersama nafsunya sendiri. Sebelah tangannya menarik cepat simpul jubah merah di leher Kuroko hingga ujung-ujungnya terlepas ke samping. Akashi menenggelamkan wajahnya menuju ceruk leher Kuroko dan mengecupi, menggigit, menjilat mesra permukaan epidermis yang pori-porinya tak henti menaburkan feromon merangsang.

"A-Akashi一nggh..." Kuroko kembali mengeluarkan air mata frustrasi. Ia ingin melawan, sungguh, tapi apapun aksi yang dirancang dalam otaknya tak pernah terealisasikan dengan benar. Ia benar-benar menyesal. Seharusnya saat di mana masa in heat-nya sedang dalam puncak seperti ini, ada baiknya ia tetap di rumah dan mengasingkan diri dari dunia luar.

Sekarang, tak ada lagi celah untuk melarikan diri dari kenyataan.

"Hentik一annh... nggh一" Satu perintah untuk menggigit bibir setelah desahan memalukan itu keluar telah terealisasi. Akashi, yang tengah membubuhkan kissmark merah menyala kebirun ke-6 di bawah telinga kiri Kuroko menghentikan aktivitasnya dan menatap Kuroko dengan cemberut.

"Jangan gigit bibirmu, Tetsuya. Kau tahu? Itu tadi sangat erotis."

Tapi Kuroko kukuh dengan pendiriannya. Ia tidak mau seolah-olah menikmati perbuatan alpha pemaksa itu. Yang terangsang hanyalah tubuhnya, bukan hatinya.

Melihat omega di bawahnya hanya balas memelototinya dengan pandangan menantang, Akashi menghela nafas pelan. Ia sudah lelah bermain dengan appetizer, saatnya menuju hidangan utama一di samping itu celananya sendiri sudah sesak bukan main. Ia meraih garis pinggang celana pendek Kuroko, memastikan bahwa semua yang Kuroko pakai telah ia raih dan dalam satu sentakan. Kain penutup bagian paling privat milik Kuroko telah terenggut seutuhnya, membuat pemuda berkulit pucat itu menahan nafas mengetahui dirinya telah setengah telanjang.

"Menakjubkan, ya..." komentar Akashi saat menemukan organ vital berukuran standar milik Kuroko yang berdiri tegak, berdenyut perlahan, dan berkilat akibat cairan bening tipis yang melapisi. Wajah Kuroko merah padam, semakin tak terkendali ketika Akashi memperhatikannya tanpa kedip bagaikan singa lapar. Namun tak menggertak maupun melempar kata-kata memohon, Kuroko teguh menahan bibirnya terbuka, menghalangi alunan melodi yang dapat membuat Akashi makin tertawa di atas penderitaannya.

Dua tangan Akashi meraih betis Kuroko yang gemetar dan menekuknya ke atas, mempertontonkan portal berbentuk cincin kemerahan yang akan menjadi destinasi finalnya. Lubang portal itu berdenyut-denyut dan begitu basah, mengingat semua omega memiliki kemampuan untuk melubrikasi diri ketika hendak melakukan mating. Entah mengapa, hal ini membuat Akashi tersenyum kecil, senyum berbeda dari yang sering ia tunjukkan sejauh ini. Jika Kuroko telah melubrikasi dirinya itu berarti Kuroko memang percaya bahwa ia adalah alpha yang ditakdirkan untuk dijadikannya mate. Lantas, jika mereka memang jodoh, mengapa Kuroko harus menolak sekeras itu?

"Tetsuya?"

Deru nafas Akashi memburu tepat di samping telinga kiri si lawan. Kuroko tahu, Akashi pasti sedang berusaha membuatnya mendesah lagi. Ia menguatkan kuncian rentetan gigi depan pada bibirnya, tak peduli jika itu bisa melukai atau bahkan merobek. Kuroko memejamkan matanya kuat-kuat ketika tangan Akashi menggerayang nakal, bermain dengan kejantanannya.

"Tetsuya, bersuaralah..."

Bibir Akashi mengecup ujung kepalanya, turun menuju hidung, dan berhenti di depan bibir Kuroko yang terkunci dan bergetar. Ia mengecupnya berkali-kali, menjilatnya, dan ikut menggigiti. Kuroko bertahan. Satu-dua tetes air mata menyelip di celah kedua lensa yang tertutup.

Sungguh Akashi tidak paham mengapa, tapi pemandangan Kuroko yang kelihatan takut dan berusaha melindungi diri justru membuat tekanan libidonya meningkat. Feromon manis Kuroko semakin menguat dan menggelitik nafsu birahi Akashi untuk segera menggagahi anak manis yang terkulai tak berdaya di bawah kekuasaannya. Pemuda 16 tahun itu mengelap keringat di bawah dagunya yang berkumpul dan menahan nafas. Diangkatnya kedua tungkai kaki Kuroko tinggi agar bertumpu pada kedua pundaknya. Liang surgawi kemerahan pun berdenyut mengikuti irama jantung yang menggila.

Akashi memperhatikan Kuroko sekali lagi, seutuhnya. Mulai dari rambut biru acak-acaknya yang telah terbebas dari tudung merah pengganggu itu, kedua kelopak mata yang menutup paksa menyembunyikan dua kristal biru, hidung mungil dan mancung yang tersengal merampas oksigen, bibir merah menyala yang terlalu sering ia nodai一masih terkatup rapat dalam pertahanan terakhir, leher dengan bercak-bercak kepemilikan, dua lengan yang terkulai lemah, dada yang terekspos bebas akibat kaus yang tersibak, perut rata yang menarik, kejantanan yang berani menantang seperti pemiliknya, dua kaki putih mulus yang sudah tak bertenaga, dan satu lingkaran rektum tempat ia akan mengunci dan menyatukan diri bersama Kuroko Tetsuya. Omeganya. Mate-nya. Semua yang ada pada diri sang submissive akan segera dikuasainya.

Untuk pertama kali, Akashi merasa gugup一meski hal itu tidak tersurat jelas pada raut wajahnya yang selalu tenang. Meski apa yang menguasainya pada saat ini hanyalah nafsu belaka, namun secercah rasa hangat muncul di dalam dada. Wajah Akashi dibuatnya memerah. Ia menggeleng-gelengkan kepala, mencoba mengusir perasaan yang aneh. Sebelah tangannya membebaskan organ vital miliknya sendiri yang sudah begitu tersiksanya terjebak di dalam celana. Ia mendekatkan ujung tumpul benda keras itu pada lubang kecil Kuroko yang siap menerima. Sang omega meloloskan satu isakan lirih, Akashi tertawa kecil.

"Dengan ini, kau sepenuhnya milikku."

Akashi mendorong pinggulnya dalam satu hentakan kuat, menarik Kuroko menuju kenyataan yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Pemuda yang lebih kecil melebarkan mata ngeri saat rektum sesaknya dipaksa menelan bongkahan daging yang keras hingga membuatnya merasa mual. Kuroko tak mampu menggambarkan seperti apa rasa ngilu itu sampai-sampai belahan bibirnya langsung terbuka tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun ketika Akashi menusuknya semakin dalam, memaksakan seluruhnya untuk muat.

"Hei, kau menangis lagi dan lagi, Tetsuya. Secengeng itukah dirimu yang sebenarnya? Kemana tatapan penuh intimidasi itu pergi?"

Ejekan Akashi tidak Kuroko tanggapi, karena bahkan ia tidak tahu jika selama ini ia menangis. Pandangannya masih dan makin berkabut. Ia melihat kerumunan warna merah dan hitam di depannya, seperti kegelapan... dan darah, penggambaran rasa takut dan sakit di waktu yang bersamaan.

Akashi membenarkan posisi kaki Kuroko yang sedikit melorot dan lunglai karena serangan asing yang baru saja ia lancarkan. Pemuda itu mencondongkan tubuhnya lebih ke depan, mencoba beradu pandang dengan mata Kuroko yang kosong. Bibir pemuda itu merapalkan sebuah kalimat.

"Aku membencimu... Akashi一"

Memilih tak ingin membuang waktu demi ceplosan Kuroko yang tak menguntungkannya, Akashi mulai bermain dengan organ miliknya yang telah terkunci rapat di dalam liang Kuroko yang panas. Ia dapat merasakan betapa nikmatnya dinding sempit nan licin yang mengapit memanjakannya, melentur dan merapat kembali secara fleksibel ketika ia melakukan penetrasi dalam dorongan dan tarikan hebat yang membuat Kuroko merintih.

"Ngghh一ah! Ah, ahnn..."

Akhirnya Kuroko menyerah saat kejantanannya sendiri menembakan sperma akibat penetrasi tiada henti dari Akashi yang membuat titik pusat sensitif dalam dirinya membara. Akal sehatnya telah kalah. Ia ingin menutup mata dan melupakan segalanya, tetapi gerak otoriter di area bawah sana memaksanya tetap terjaga. Benda milik Akashi bekerja tanpa mengenal kasihan, menyodok tanpa ampun一membuat perutnya sakit akibat terlalu penuh. Kuroko tak perlu dan tak ingin tahu seberapa besar ukuran penis Akashi untuk bisa membuat permukaan abdomennya yang rata terlihat seperti hamil tiga bulan.

"Akas一aah! A-Aah... j-jangan..." Dengan sisa-sisa tenaga yang berhasil Kuroko kumpulkan, ia berusaha mendorong dada Akashi menjauh. Kedua matanya berkaca-kaca. "Kumohon..."

Sebelah alis sang alpha terangkat. Ia menghentikan sejenak prioritas utamanya dan membiarkan seluruh kejantanannya terbenam di dalam rektum Kuroko, membiarkan lawan di bawahnya mengungkapkan sesuatu.

Kuroko merasa tidak nyaman. Pipinya terasa semakin terbakar saat sesuatu milik Akashi itu terasa membesar dengan cepat di dalamnya dan berdenyut meresahkan. Detak jantung Kuroko berpacu dengan cepat. Hal ini yang paling ia takutkan.

"Jangan..." ucap Kuroko pelan. Tampang datarnya kembali menyiratkan rasa takut. Keringat dingin semakin banyak menetes hingga membuat separuh jubah merah dalam tindihan mereka basah dan kotor oleh tanah yang melekat di bawahnya. Akashi terlihat tak sabar menunggu. Ia membingkai kedua pipi Kuroko dengan lembut, kemudian mengecup pipinya. Bagian bawahnya kembali bergerilya.

"Tetsuya..."

Geraman tertahan Akashi membuat Kuroko panik. Organ Akashi semakin membesar dan meyesaki perutnya. "A-Akashi-kun... j-jangan... di dalam一"

Raut wajah Akashi berubah serius. Diraihnya mulut Kuroko yang terbuka dan mengajaknya perang lidah, mencampurkan saliva, dan mendesahkan nama masing-masing dalam perasaan yang berbeda. Akashi mempercepat dorongan pinggulnya yang tak tertahankan. Ia memegangi pinggang Kuroko yang semakin naik akibat dorongannya yang tanpa ampun. Kepala Kuroko pusing. Kelopak matanya kembali sayu ketika Akashi melepaskan bibirnya, meninggalkan untaian benang saliva yang segera terputus saat Akashi beralih menenggelamkan wajah dalam ceruk hangat leher berpeluh sang omega.

"A-akh..."

Setitik air meleleh di ujung lensa Kuroko. Sebersit saliva mengalir ke dagunya saat mulut mungil pemuda biru itu terbuka lemah tak berdaya menerima sensasi aneh di mana benda keras Akashi yang tertanam di dalam tubuhnya telah berhenti bergerak disusul dengans mengeluarkan sesuatu yang kental dan panas secara terus-menerus, membuat permukaan perutnya semakin naik dan terlihat sedikit lebih membuncit dari sebelumnya. Dari lubang hidung Kuroko, dalam samar ia dapat menangkap aroma yang asing namun entah bagaimana familiar, aroma feromonnya sendiri yang telah menyatu bersama feromon Akashi. Membaur di atmosfer, mengikat mereka dalam untaian benang merah tak kasat mata. Kuroko tumbang dalam ketidaksadaran.

Satu hal yang telah resmi. Bagi Akashi, ia telah menemukan pasangan yang selama ini dicarinya, yang benar-benar telah ditakdirkan untuknya. Akashi mulai mencintainya. Kuroko Tetsuya一

一miliknya, seluruhnya.

. . .

おわり

. . .

A/N: Bikin sambil baca doujin biar dapet feel tapi hasilnya entahlah, dan saya nggak berani baca ulang :v jadi maaf ya kalau banyak typo. Karena ini cuma 2shot dan fokus di adegan 'ehem', jadi perkembangan feel AkaKuro nggak bisa saya explore lebih. Silakan berimajinasi. Entah kapan mungkin saya akan bikin erotic fairytale yang lain kalau yang ini memuaskan XD #dimuntahin reader.

Thanks for reading. Dan oh, di bawah ada omake yang agak cheesy, boleh dibaca boleh juga tidak XD

Mata itsuka!

. . .

Omake

Sudah 3 bulan semenjak orang-orang satu sekolah mempertanyakan perihal aroma tubuh Kuroko yang berubah. Kuroko tak pernah menanggapinya sampai mereka malas sendiri. Sedikit sisi positifnya mungkin, kini banyak alpha genit yang tak lagi mengganggunya一meski yang begitu masih tetap saja ada. Kuroko tetap berusaha berperilaku normal seperti ia apa adanya. Di sekolah, ia masih belajar dan bermain basket bersama kawan-kawan yang agaknya mengerti perihal kondisinya.

Tiga bulan yang lalu, Aomine dan Nijimura menemukannya pingsan di tengah hutan dalam keadaan tak berbusana dan penuh bercak noda di mana-mana. Kuroko memilih tak banyak bicara dan hanya berkata bahwa ia kehilangan ingatan. Dan seburuk apapun Kuroko dalam berbohong, Aomine serta Nijimura tak akan bertanya lebih lanjut, membiarkan anggota basket bertubuh kecil itu yang akan membuka kartunya sendiri suatu hari nanti.

Kuroko sendiri... ia masih mencoba melupakan Akashi sepenuhnya. Akashi Seijuurou, alpha brengsek bermulut manis. Akashi Seijuurou, yang telah memperkosanya lalu hilang tanpa jejak entah kemana. Akashi Seijuurou yang semenjak kejadian itu, entah bagaimana bisa一

Duakkk!

"Mau sampai kapan kau melamun di sana, Kuroko?!" Hantaman dahsyat bola basket di ubun-ubun plus teriakan murka Nijimura membuat Kuroko bangun dari lamunan dan menatap balik sang kapten dengan tatapan datar.

"Senpai, aku ingin ke ruang kesehatan," ujar Kuroko dengan seenaknya. Anak itu bangkit dari duduk dan berjalan pelan menuju pintu keluar gym.

Nijimura menyilangkan tangan di depan dada, wajahnya sedikit memerah. "Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Melamun sendiri, mengabaikan latihan, dan melakukan hal lain seenaknya, itu tidak seperti kau yang biasanya."

Kuroko tak mengacuhkan ocehan kapten berambut hitam itu dan membuka pintu sedikit demi sedikit. Terdengar suara ramai dan ribut dari arah depan gym.

Merasa tidak dipedulikan, Nijimura ancang-ancang melempari kepala Kuroko sekali lagi menggunakan bola basket dengan kecepatan yang lebih tinggi.

"Ugh!"

Kuroko merasa tercekik ketika ia membuka pintu kemudian seseorang menghambur masuk dan merangkul lehernya kuat dengan sebelah lengan. Tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang, membuat bola yang dilempar Nijimura melenceng dan membentur tembok.

Semua orang baik yang ada di dalam maupun di luar gym terdiam mengamati orang asing namun一entah mengapa familiar一berseragam Teikou yang tengah merangkul Kuroko dengan sok akrab. Orang itu, pemuda berambut merah menyala dan iris mata merah-emas itu, hanya memberi sekilas senyum mencurigakan pada manusia lain di sana, terutama pada sang kapten basket Teikou.

"Akashi Seijuurou desu, yoroshiku," ucapnya mantap. Kuroko melotot sambil berusaha melepaskan rangkulan tangan kiri Akashi di lehernya. Sementara orang lain yang ada di sana lantas terkesiap mendengar nama yang lebih dikenal sebagai nama seorang anak perdana menteri. Untuk apa dia ada di Teikou? Bukannya sekolah anak itu seharusnya adalah sekolah privat super elit nomor 1 yang letaknya jauh dari sini?

Nijimura berjalan mendekat sembari mengamati Akashi dari atas sampai bawah. Anak ini dari gaya-gayanya adalah seorang alpha. Alpha dari kalangan borjuis... yang berteman dengan Kuroko? Seingatnya, kouhai-nya yang satu itu tak pernah berteman dengan orang-orang kalangan atas. Bagaimana mereka bisa berteman?

Senior tahun kedua berambut gelap itu mengendus. Bau Akashi pun sepertinya merupakan bau... tunggu! Ia mencium bau yang tidak asing. Bau yang mirip seperti milik... Kuroko?!

Dahi pemuda tinggi itu berkeringat. Semoga tebakannya salah. Masa sih bocah pendek dan ngesok ini一Eh?! Barusan Akashi menyeringai padanya!?

"Nijimura-senpai... sekedar informasi, Tetsuya adalah mate-ku," terang Akashi sambil melonggarkan rangkulan di leher sang omega. Satu tangan yang lain kemudian menjalar pada abdomen Kuroko yang sensitif. Pemuda bermata biru itu menahan nafas kala merasakan sensasi yang menggelitik. "Dan dia sedang mengandung calon anak-anakku, jadi kalau kau menyakitinya, aku tak akan segan untuk mencacah dagingmu menjadi potongan-potongan kecil."

Nijimura, anggota tim basket, dan siapapun yang mendengar deklarasi semena-mena dari Akashi lantas mematung untuk mencerna kata per kata yang diucapkannya, sampai beberapa menit kemudian teriakan serta jeritan tidak terima menggema liar di dalam dan luar gym.

Akashi meraih tangan Kuroko dan tersenyum. "Aku tahu Tetsuya tidak akan memaafkan sekalipun aku meminta maaf sambil berlutut. Tapi harus kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Kau tidak tahu betapa tersiksanya aku selama 3 bulan ini. Aku selalu mengkhawatirkan Tetsuya. Dan meski aku tahu Tetsuya membenciku, tapi aku janji..."

Raut Kuroko tak berubah, namun tetes demi tetes air mata mengalir di pipi pucatnya. Ia sendiri tidak tahu kenapa. Semuanya berjalan terlalu cepat dan tiba-tiba. Perasaan marah mulai berkecamuk. Apa ini? Akashi Seijuurou selalu melakukan apa yang dimau seenaknya! Kuroko merasa sedang dipermainkan.

"...aku tidak akan pernah meninggalkan Tetsuya."

"Sekalipun aku tidak mencintai Akashi-kun?"

Akashi tertawa kecil, lantas merengkuh tubuh ringan yang hangat itu masuk ke dalam pelukan, tak peduli sang omega malah memberontak. Akashi mantap mengunci pemuda sang pencuri hati dalam hidupnya untuk selama-lamanya.

"Ya. Sekalipun kau belum mencintaiku, Tetsuya."