Disclaimer : bukan saya yang punya Naruto.
A/N: Halo semua kembali bertemu dengan saya Drak Yagami yang udah lama menghilang entah kemana bukan? Setelah menghilang sekian lama dikarenakan kesibukan dunia nyata saya akhirnya bisa sedikit kembali ke ffn..
Untuk cerita... semoga ngak ada typo, kalau ada saya mohon maaf... ceritanya ini saya kerjakan kilat selama proses jam isitirahat di seolah saya dan baru sempat sekarang saya post
Saya sedikit ragu dengan kemampuan menulis saya karena suda lama tidak menulis lagi, dan maaf jika terdapat banyak kesalahan dan kwalitas cerita yang sudah menurun.
Dan seting Fic kali ini sengaja saya buat melompat-lopat...
Pagi dan sore selalu merindukanmu
Aku akan menjadi bintang untuk melindungimu, tak peduli dimana pertempuran akan membawaku
Saat mencarimu kemarin dan esok harinya, aku tak bisa bertemu denganmu
Aku adalah seseorang yang menentukan takdir
Sekarang aku akan menghapus air matamu yang mengalir
Sebelum kau kembali menghilang dalam deruan angin
Tsunade memukul meja kerjanya yang retak untuk kesekian kalinya. Wanita tua yang kelihatan muda itu mengerutu pelan dalam waktu yang lama. Nafas berat diringi tatapan yang lapar, membuat siapapun segera paham untuk tidak menganggu sang Hokage yang berada dalam kondisi tersebut.
Pandangannya kembali menuju beberapa lembar kertas yang berserakan di atas meja kerjanya. Semua kertas yang merupakan berkas mengenai sedikit Informasi dari desa Uzushiogakure yang baru, tidak banyak yang dia dapat. Para Anbu yang dia tugaskan untuk memata-matai desa tersebut semua berakhir tragis. Hanya Jiraiya yang berhasil membawa sedikit informasi dari desa tersebut. Bahkan apa yang dibawa Jiraiya sekalipun tidak bisa dikatakan sebagai informasi yang berguna.
Menurut Jiraiya, desa Uzushiogakure yang baru terlalu tertutup akan pihak asing, dia bahkan menemukan bahwa Desa tersebut berisikan anggota-anggota Klan yang dikatakan langkah, bahkan dirumorkan telah punah. Tidak hanya itu, Desa yang memiliki perkembangan yang sangat luar biasa itu telah bersatu dengan Otogakure yang kehilangan arah setelah ditinggal Orochimaru. Dan menjadi satu kesatuan di bawah naungan Uzushiogakure sendiri.
Tusnade hanya medengus kesal, semua informasi yang dibawa Jiraiya tidak bergitu berguna. Memijit keningnya sendiri, dia membayangkan apa yang sedang dilakukan tua bangka itu saat ini di Uzushiogakure. Mengingat Konoha belum membuat surat perjanjian kerja sama dengan pihak Uzushiogakure yang baru. Bisa saja ketika ketahuan mereka akan segera mengeksekusi Jiraiya di tempat.
Banyak waktu yang terlewat selama dua tahun ini, Suna sudah tidak berhubungan lagi dengan Konoha. Sepertinya kematian Kazekage secara misterius dan penyerangan desa yang gagal, sudah cukup mencoreng muka Sunagakure untuk kembali mencoba bekerja sama dengan Konoha. Bahkan disaat Konoha secara sukarela memberikan bala bantuan, ketika melihat perekonomian Suna semakin terpuruk. Desa padang pasir itu malah beralih meminta bantuan kepada Uzushiogakure.
Dan tentu saja, semua itu sudah menandakan hubungan Suna-Konoha yang telah dibangun sejak lama putus. Mengingat semua, Iwa, Kumo, dan Kiri... bahkan semakin merapat menuju Uzushiogakure. Tidak tau apa yang ketiga desa itu rencanakan. Semua segera merapat ketika, pembawa pesan dari Uzushiogakure mengirim surat persahabatan kepada tiga desa besar itu. Namun hanya Konoha yang belum mendapat surat tersebut.
Mungkin tidak lama lagi akan segera datang...
Tapi... kesampingkan semua itu.
Entah mengapa pertumbuhan Uzushiogakure kali ini terlalu dipaksakan. Memang itu adalah sebuah pemcapaian yang luar biasa untuk sebuah desa. Namun, Tsunade merasakan firasat lain, bahwa akan ada masalah kedepan.
Dia telah membicarakan pikirannya dengan para dewan dan tetua desa. Namun semua hanya menganggap hal ini wajar. Bahkan ketika dalam pertemua para kage semua memberikan respon yang biasa. Hal ini kembali membuat dia terdiam, apa ini hanya pemikirannya atau bagaimana? Desa yang telah hancur, mampu untuk bangkit kembali secara fantastis... dan hampir menyaingi lima desa besar.
Bahkan jika terus seperti ini, Uzushiogakure akan mengantikan salah satu dari lima desa besar... dan kemungkinan yang paling besar akan tergeser adalah.
Sunagakure.
0o0o0
Naruto mengedipkan matanya untuk kesekian kalinya, matanya menatap bosan pada setiap lembaran kertas yang tak ada habisnya ini. Lembaran dan lembaran dibacanya dan terkadang ditanda tanganinya. Malirik kesamping dari balik topengnya... dia bisa melihat Sasame yang masih setia berdiri di sampingnya dan Guren yang berdiri di pojok gelap ruangan ini.
"Bagaimana dengan para utusan kita?" Naruto membuka suaranya tanpa menoleh, tatapannya masih fokus pada setiap lembaran kertas yang berserakan di meja kerjanya.
"Iwa, Kiri, dan Kumo telah menerimanya." Sasame membacakan sebuah catatan kecil yang selalu dibawanya. "Sedangakan seorang utusan kita belum sampai di Konoha, manurut perkiraan mungkin sekitar tengah hari mereka akan tiba di Konoha."
"Hah.. seharusnya kita menggunakan jasa Ninja pengirim pesan." Naruto mengeluarkan ekspresi kecewa mendengar laporan dari Sasame. "Bukankah begitu Guren?"
"Benar Uzukage-sama" dan wanita yang berdiri di sudut ruangan tersebut hanya memberikan respon yang pasif.
"Dan bagaimana dengan Tayuya?" Naruto kembali membuka suaranya. "Bukankah kau berhasil menyelamatkannya Guren?"
Ya, tidak ada yang salah dengan Tayuya. Anggota dari mantan pengawal Orochimaru itu berhasil selamat, atau lebih tepatnya diselamatkan Guren ketika akan menemui ajalnya... sedangkan Guren sendiri diperintahkan lansung untuk menyusul Tayuya dan yang lain sebagai bala bantuan selain Kimimaru.
"Dia masih belum sadar" Guren kembali menjawab dengan singkat.
"Benarkah?" Naruto membalas jawaban Guren dengan tertarik... dirinya tak sabar dengan kabar sadarnya gadis itu... dia Naruto sangat menginginkan gadis itu, tidak! Dia hanya menginginkan kemampuan Genjutsu dari gadis yang bernama Tayuya tersebut. "Sasame, bisakah kau memberikan dokumen ini kepada Arashi? Bagaimanapun aku inggin dia melatih secara optimal... semua mantan-mantan eksperimen Orochimaru dengan baik." Sabung Naruto seraya memberikan lembaran dokumen tersebut kepada Sasame.
Gadis itu hanya merespon singkat dan mengambil dokumen tersebut. Memberi hormat kepada Naruto sebelum pergi meninggalkan ruangan sang Uzukage.
"Guren, aku juga inggin memberikan misi khusus padamu." Naruto kembali menatap wanita di sudut ruangan itu dengan pandangan lurus. "Mungkin ini sedikit berlebihan. Tapi, aku inggin kau melatih Jugo, Sugetsu, dan Uzumaki Karin secara pribadi... apa kau sanggup?"
"Hai! Uzukage-sama."
Dengan itu Guren menghilang dari hadapan Naruto.
..
..
..
Naruto kembali sendiri setelah kepergian semuanya, pemuda itu menutup matanya akan apa yang telah terjadi belakangan ini. Seperti yang telah dia duga, empat desa besar akan sangat curiga terhadap perkembangan Uzushiogakure yang baru. Bahkan ketika mendengar kabar bahwa sang pemimpin desa adalah seorang Uzumaki... dan seperti perkiraan Naruto, Iwa, Kumo dan Kiri lansung menjadi panik dan khawatir.
Naruto tersenyum sinis, ketika kembali mengingat itu... itu adalah wajar. Tiga desa itu masih akan dihantui oleh bayangan masa lalu mereka. Bahkan untuk mencegah hal yang bukan-bukan... Naruto dengan sengaja merendahkan dirinya hanya untuk mengikat kerjasama dengan tiga desa tersebut.
Dia tidak inggin mengambil resiko jika seandainya tiga desa besar itu khawatir dan terlalu takut hingga akhrinya berniat menyerang Uzushiogakure sekali lagi. Setidaknya untuk saat ini Uzushiogakure miliknya belum siap untuk berperang.
Dan beralih soal Suna, semua sesuai rencana Naruto. Suna semakin sulit untuk keluar dari jerat hutang tanpa mereka sadari. Naruto tidak terlalu bodoh... tidak seperti desa lain yang akan menggunakan emas sebagai pinjaman. Naruto menggunakan mata uang Uzushiogakure sebagai pinjaman. Nilai mata uang berbeda dengan emas, jika emas memiliki harga dan nilai yang tetap. Dan berubah lama sekali.
Mata uang tidak memiliki nilai yang tetap dan setiap saat bisa saja berubah dengan cepat, ditambah ekonomi suna yang sekarang hampir seluruhnya berasal dari pinjaman mereka terhadap Uzushiogakure. Membuat Naruto secara perlahan berusaha menguasai Suna dari sektor perekonomian. Jika sebelumnya Naruto memberi pinjaman kepada Suna tanpa bunga sepeserpun... sekarang Naruto atau setidaknya tahun lalu Naruto mulai memberikan bungan 1,5% kepada Suna. Sebuah pinjaman yang harus dibayar setiap akhir tahun... pinjaman jangka panjang dengan bunga yang bertambah seiring dengan perjanjian pinjaman itu berakhir.
Dan ketika telah jatuh tempo, dan Suna yang sedikit demi sedikit hancur tidak mampu untuk melunasi hutanganya. Membuat Suna mengambil keputusan untuk meminjam dua kali lebih besar kepada pihak Uzushiogakure sebelum jatuh tanggal tempo.
Setengah untuk membayar hutang yang telah menumpuk, dan setengah lagi untuk membiayai dan menjalankan perekonomian Suna.
Mungkin ada yang akan berfikir kenapa Suna tidak meminta bantuang pada Empat desa lainnya. Kenapa tidak meminta bantuan pada Konoha?
Sungguh Naruto terlalu licik mengenai hal tersebut. Pemuda bersurai merah itu, memerintahkan pada ANBU miliknya untuk membunuh setiap utusan Suna yang pergi selain ketempatnya... Naruto telah lama mengincar Suna, tidak ada yang tau alasannya mengincar desa gersang tersebut. Namun jauh sekitar 200KM dari perbatasan terjauh Suna, para ANBU Uzushiogakure senang tiasa mengawasi setiap gerak gerik Sunagakure.
Dan semakin lama, dan semakin menjerat desa padang pasir tersebut.
"Khu khu khu khu... aku memang hebat" Naruto menyeringai jahat ketika mengingat itu semua. Suna... setelah itu masuknya Uzushiogakure dalam lima desa besar, dan tidak lama lagi... seluruh Dunia akan berada dalam genggamannya.
"Seperti biasa kau terlalu sombong" suara Kyuubi berdengung dalam rongga kepala Naruto, menyebabkan pemuda itu sedikit menunjukan ekspresi tidak senang yang tak akan mungkin dilihat oleh orang lain.
"Heh tenang saja, aku akan bergerak secara licin dan tanpa jejak." Naruto berguman sendiri, sebuah gumanan lemah yang hampir sesamar sebuah bisikan.
"Masih banyak yang akan menjadi penghalang terbesarmu, Orochimaru, Akatsuki, Jiraiya dan empat desa besar... ditambah penduduk Uzushiogakure sendiri!" Suara Kyuubi kembali berdengung di dalam kepalanya. "Kau harus berhati-hati, kau sudah kuperingatkan"
"Tenang saja..." ucapan Naruto mengantung, ketika dia memfokuskan perhatiannya kepada sederet hand seal yang sedang dibuatnya. Dan dengan sekali tepukan antar kedua tangannya sebuah dinding bining tercipta menyelimutinya tanpa suara. "Bukankah sudah kubilang, sejauh ini semua sesuai rencanaku."
"Lalu bagaimana dengan ekspedisi kita ketempat yang ditunjukkan Zetzu?"
"Aku akan segera menemui Zetsu, bagaimanapun aku sangat tertarik dengan apa yang dia punya... saat ini hanya dia mata-mata yang kita punya untuk mengorek informasi tentang Akatsuki... terutama Nagato dan Itachi" Naruto menunujukan seringai di balik topeng yang tak mungkin untuk dilihat.
"Ck, di depan mereka kau mengormati mereka dan memanggil mereka berdua Nii-san... namun sangat berbanding terbalik ketika kau berada di belakang mereka." Kyuubi terdiam namun, kembali melanjutkan apa yang dia inggin untarakan. "Sukakhu dan Son Goku bagaimana? Kau tidak bisa mengabaikan mereka bukan?"
"Ck, kau tau, untuk seekor siluman kau terlalu cerewet." Naruto menatap langit ruanganya sebelum melanjutkan. "Zetsu sudah mengurus Son Goku... dan Sukakhu aku yang urus."
Naruto memilih mengabaikan Kyuubi yang mulai berteriak tak jelas dalam pikirnnya. Masih dalam perlindungan kekai kedap suara miliknya, pemuda bersurai merah itu menatap sunset senja tanah Uzushiogakure yang mulai mendekti malam.
Satu dan sedikit demi sedikit apa yang direncanakan mulai terwujud... dia sedikit menyesal telah berbohong pada Kyuubi, sungguh saat ini dia belum mau dan bercita-cita menduduki posisi salah satu lima desa besar... saat ini dia inggin dan sangat berambisi menaklukan desa keduanya selain Sunagakure. Sebuah desa yang bisa ditaklukkan dengan kelicikannya tanpa perlu menggunakan militernya yang secara real belum siap untuk bertempur...
Desa yang sangat inggin ditaklukkannya.
Kirigakure.
0o0o0
Tsunade, membaca sebuah dokumen dengan seksama. Matanya bergerak liar mengikuti setiap deret kata yang ada. Setelah cukup waktu lama berlalu, Hokage ke lima tersebut. Menatap seorang utusan yang berasal dari Uzushiogakure. Pandangannya menyipit melihat pria berambut coklat tersebut masih setia menunduk dihadapannya.
"Jadi, Uzushiogakure memutuskan untuk membangun hubungan kerjasama dengan Konoha?" Tsunade menyipitkan matanya setelah melihat gestur pemuda itu sedikit berubah setelah ucapannya.
"Benar sekali Hokage-sama." Pemuda itu masih berada dalam posisinya. "Uzukage-sama sadar bahwa desa Uzushiogakure tidak bisa berdiri sendiri, dan sadar bahwa desa kami belum cukup matang dan masih memerlukan bimbingan dari lima desa besar yang ada. Dan atas dasar itulah Uzukage-sama... mengadakan hubungan kerja sama antar Konoha dan Uzu..."
Tsunade diam, namun dia tau bahwa utusan ini belum selesai dengan bagiannya.
"Dan mengingat bahwa Konoha dan Uzu adalah saudara jauh dan pernah mengadakan hubungan kerjasama dimasa lalu, Uzukage-sama berfikir bahwa... tidak mungkin Konoha terutama Hokage sendiri, mengabaikan niat baik kami."
Tsunade hanya bungkam memberikan jawaban, walau bagaimanapun... manusia di depannya ini terlalu baik dalam bercakap. Kerjasama ini terlihat menguntungkan Konoha sepihak, dari sudut manapun Tsunade membaca dan kembali mengulang membaca dokumen tersebut... surat perjanjian ini dibuat seakan menguntungkan Konoha secara sepihak.
Tsunade meneguk ludahnya paksa, disatu sisi kerjasama ini sungguh menguntungkan Konoha kedepan... dan bahkan merugikan Uzushiogakure itu sendiri. Namun, entah kenapa dia menangkap hal yang ganjil di sini? Bukan tentang perjanjian... tapi batinnya berteriak keras, bhawa dia harus menolak perjanjian ini.
"Apa isi perjanjian ini serupa dengan yang lain?"
"Maksud Anda Hokage-sama?" pengantar pesan itu menautkan alisnya bingung tidak mengerti.
"Aku dengan Uzushiogakure, bukan hanya mengadakan hubungan kerjasama dengan Konoha saja.. tetapai dengan Iwa, Kumo, dan Kiri." Pandangan Tsunade menyipit setelahnya, dia memberikan tatapan lurus menunggu jawaban dari sang utusan Uzushiogakure.
"Hamba juga kurang tau, Hokage-sama." Utusan itu memberikan respon negatif. "Hamba hanya seorang pengantar... tidak lebih dari itu... dan hamba hanya meggantar dengan tujuan ke Konohal, tanpa mengetahui isi surat perjanjian yang hamba bawa."
'ck!' Tsunade menghirup nafas yang dalam setelah mendengar itu, dia telah memutuskan apakah dia akan menyetujui perjanjian ini atau tidak. Sebuah keputusan yang berada di tangannya...
"Kami Konoha, menolak kerjasama ini!"
Sesuatu yang diluar perkiraan terjadi.
0o0o0
Mungkin untuk pertama kalinya Orochimaru merasa apa yang namanya sakit hati karna telah dimanfaatkan seseorang, apa lagi yang memanfaatkanmu adalah seorang remaja tanggung yang baru masuk dunia Hitam sepertinya.
Tidak ada yang salah, semenjak dia membuat perjanjian kerjasama dengan Naruto. Dia mendapatkan sesuatu yang beharga.. Scroll yang berisikan gulungan tentang Senjutsu Rikudou Sannin. Namun, semanjak pertemuan mereka hidupnya menjadi tak tenang dan membuatnya terpaksa berpindah-pindah tempat dalam waktu yang relatif singkat. Akatsuki, para penjahat kelas S itu tak henti-hentinya memburunya seperti hewan buruan.
Sebuah hal yang mengesalkan yang membuat rencananya tertahan hingga saat ini. Sebuah rencana yang akan membuatnya mencapai apa itu keabadian.
"Hei, kapankah aku mendapat latihan lagi?"
Orochimaru tersentak dan tertarik paksa dari lamuannya ketika seorang remaja dengan surai dark-blue menatapnya dingin, sebuah senyum ganjil tercetak di wajahnya... namun semua tak membuat pemuda itu takut. Dan dia makin tersenyum lebar melihat reaksi muridnya. "Sabar Sasuke-kun... kau harus memulihkan kondisi tubuhmu setelah latihan gila dua hari yang lalu bersama para eksperimentku yang lain."
Orochimaru berusaha seramah mungkin menghadapi tingkah laku sosok di depannya... jika bukan karena pemuda di depannya ini bagian dari rencananya, maka sudah lama dia menelan Uchiha ini hidup-hidup... namun sayang ucapan ramahnya hanya diberi tatapan Lurus oleh Sasuke.
"Aku tidak peduli..." Pemuda itu menatap Orochimaru intens. "Aku inggin segera menjadi kuat dan melampaui batasanku... aku harus cepat, sebelum mereka berdua semakin menjauh."
"Mereka berdua?"
"Ya..." pandangan Sasuke mengeras, menunjukan betapa banyaknya dia menyimpan kemarahan di bola mata itu... bukan hanya kemarahan, juga ada rasa sepi dan dendam. "Uchiha Itachi dan Uzumaki Naruto. Aku akan membunuh mereka berdua!"
Orochimaru hanya bisa menyeringai senang, dia serasa tak sabar menyaksikan bagaimana lingkaran setan ini terus berputar... hanya dia, Sasuke, dan Kabuto yang mengetahui keberanan bahwa... Uzumaki Naruto, masih hidup.
0o0o0
Menma menghela nafas untuk waktu yang lama, pandangannya beralih pada Jiraiya yang sibuk sendiri menulis dengan khitmat di bawah naungan pohon yang rindang... nampaknya setelah mereka meninggalkan Uzushiogakure sang Sensei... tak henti-hentinya menulis sambil memasang wajah mesum yang menjijikan.
Mengabaikan semua itu, kembali pandangannya berfokus pada kedua tangannya. Melakukan konsentrasi sejenak, sebuah putaran dari padatan cakra berada di genggaman tangannya dan menghsilkan bunyi bisinng yang cukup kuat... sedikit berusaha untuk berkonsentrasi... dirinya berusaha untuk lebih memadatkan putaran cakra tersebut.
Bola cakra yang berada dalam ngengamannya sedikit tak stabil seakan, penyot serasa ditekan paksa.. namun menma berusaha tak menyerah... dirinya inggin memiliki jutsu yang sama dengan kakaknya... sebuah jutus yang membuat kakaknya ditakuti dan dihormati. Ya dia inggin memiliki jutsu original sang kakak.
Dai rasenringu.
Dengan antusias Menma terlihat senang bagaimana ketika rasenggan miliknya makin mengecil. Dengan sedikit konsentrasi lagi, Menma mencoba kembali lebih mengecil dan memadatkan rasenggan tersebut.
-!
Namun sayang bukan menjadi seperti yang diharapkan, rasenggan tersebut terus mengecil dan mengecil hingga tak bersisa. "Sial!"
Jiraiya yang sedari tadi sibuk dengan dunianya sendiri, mengalihkan pandangannya menuju Menma yang sedang bertingkah kayak monyoet yang lagi datang bulan. Pria setengah baya tersebut, bergerak menuju sang murid untuk memastikan apa yang terjadi. 'Apa dia baru saja menghamili seorang gadis?'
"OI gaki apa yang kau lakukan?" Jiraiya menatap punggung Menma dan tidak sedikitpun melewatkan gerakan aneh dari anak kedua Minato itu. Dia sedikit menjadi takut jika pikiran nistanya menjadi kenyataan.
"Sial sial!"
"Oi gaki ada apa?"
"Siall!"
"Gaki gaki sadar oi, ada apa ini?"
"Aku tak bisa menguasai Dai rasenring, milik Naruto-nii petapa mesum!"
Hening.
"Jadi hanya itu?" Jiraiya menghela nafas setelah mendengar alasan bodoh dari Menma. "Hanya karena tak bisa menguasainya kau bertingkah ane begitu?" dan secara spontan ucapan Jiraiya diberi anggukan oleh Menma.
"Lalu? Apa kau sudah melihat Jutsu tersebut?" Jiraiya kembali bertanya dan kali ini mendapat gelengan dari muridnya. "Hah? Yang benar saja?"
"Aku pernah mendengar tentang Jutsu itu dari Itachi-nii.." Menma sedikit tersenyum saat mengucapkan itu, pandangannya mengadah keatas awan seperti mengingat masa lalu. "Itu Jutsu yang sangat mengerikan yang hanya dengan sekali serang mampu meratakan dan menghancurkan apa yang dilewatinya."
Jiraiya terdiam dan meletakan tangannya di bawah dagu, dan dia tetap diam dalam kondisi yang demikian untuk beberapa saat. "Bagaimana kalau kau tak usah meniru Jutsu yang tak akan mungkin kau kuasai." Sang Sanin memberikan sebuah usulan yang membuat Menma menatapnya dengan penuh minat.
"Bagaimana kalau kau membuat Jutsu originalmu sendiri namun memiliki efek kerusakan yang sama bahkan lebih." Jiraiya terlihat antusias, dia seakan lupa dengan apa yang tadi dia kerjakan.
0o0o0
"Jadi kita belum mendapat kabar apa-apa dari Konoha?" Naruto berbicara dengan kyuubi yang saat ini berdiri di depannya.
"Belum, sudah ku bilang bukan?" personifikasi dari bijuu tersebut menatapnya malas, gadis itu terlihat sedang tidur tiduran di atas genangan air, dan menatap Naruto dengan santai seraya sembilan ekornya yang bergerak indah. "Bisa kau ubah kembali tempat menyedihkan ini? Tempat ini terlihat seperti dirimu yang sama menyedihkannya."
"Tidak begini lebih baik, aku suka begini..." namun detik kemudian Naruto memberikan sebuah glare. "Dan jangan suka mengalihkan pembicaraan!"
Kyuubi hanya memberikan tanca peace kepada Naruto.
"Lagi pula goa ini sangat panjang ka— hey! Jangan seenak pergi seperti itu!"
..
..
Naruto menutup matanya dan memijit sedikit pelipisnya yang berkedut kesal sedari tadi. Pandangannya menatap lurus dan memperhatikan Zetsu yang sedari tadi diam membisu dan masih berjalan di depannya. Dia tidak tau ini dimana, namun yang pasti tempat bertemu adalah di sebuah reruntuhan jembatan.
Dia ingat jembatan ini, Ayahnya pernah menceritakan misi di jembatan ini menjadi dongeng sebelum tidur. Dia tahu di jembatan ini ayahnya kehilangan murid yang sangat ceria sepertinya—dulu... tapi sekarang mungkin sifat muridnya itu lebih seperti Menma dibanding dirinya.
Dia ingat di jembatan ini, jembatan ini merupakan saksi bisu kenapa seorang Hatake kakashi mendapat sebuah sharingan dan mendapat julukan sharingan no kakashi.
Naruto tiba-tiba berhenti mengikuti Zetsu yang juga ikut berhenti, iris biru kusamnnya sekilas menatap budak genjutusunya itu dengan tatapan lurus. Zetsu membuat sebuah hand seal. Dan kemudian menghentakkan tangannya kedinding batu di depan mereka.
Perlahan bisa dia lihat batu besar dan keras itu lapuk seperti kayu tua yang dimanakan rayap. Batu itu hancur beserta dengan apa yang Naruto lihat di balik sana. Sebuah ruangan besar yang penuh dengan ratusan gulungan jutsu dan sebuah senjata seperti kipas yang mengantung gagah di salah satu sudut rangan. Dan lebih jauh kedepan dia melihat sebuah mayat pria tua yang sudah menjadi tulang.
'siapa?'
"Madara-sama!?"
Naruto terkejut, pupilnya sedikit melebar... begitu juga dengan kyuubi yang berada di alam bawah sadarnya yang sedikit berteriak takut. Tumpukan tulang hang duduk itu adalah Madara? Tidak mungkin! Madara sudah meninggal ratusan tahun yang lalu... pertarungannya dengan mendiang Hokage pertama tercetak dalam buku sejarah dan itu tak mungkin suatu kebohongan.
Jika itu suatu kebohongan, jika momumen di lembah akhir merupakan suatu rekayasa... lalu apa yang sebenarnya terjadi. Rahasia apa yang tidak di ketahui.
"Naruto-sama? Anda baik-baik saja? / Naruto-sama? Anda baik-baik saja?" Zetsu menatap khawatir Naruto yang saat ini mematung dengan ekspresi yang tak dapat dibaca. Iris emas milik mahluk satu tubuh dua jiwa itu melirik apa yang menjadi perhatian Naruto. Dan kemudian dia mengerti. "Seperti yang Anda lihat itu Madara-sama.."
Naruto hanya diam ketika Zetsu mengucapkan sebuah perkataan penuh kerinduan yang membuatnya jijik.
"Madara-sama tetap menunggu kita dan berharap agar kita menjalankan rencananya... Madara-sama sangat percaya dan menaru harapan yang besar kepada kalian berdua."
Naruto yang sempat diam, dengan cepat menautkan alisnya binggung. 'Rencana?' rencana apa? Apa yang dia tidak ketahui dari buku sejarah yang dia baca? Dan mereka berdua? Jika hanya dia sendiri dia mengerti karna dia yang memanipulasi ingatan Zetsu agar menjadi budaknya... tapi jika berdua... pasti ada seorang lagi.. siapa yang seorang lagi? Siapa dia?
Bangsat semua diluar perkiraannya... siapa orang kedua itu.
"Orang kedua?" Naruto sedikit berguman, namun itu cukup jeli untuk ditangkap oleh pendengaran Zetsu.
"Ah, saya baru ingat jika anda belum pernah bertemu dengannya" Zetsu putih mejawab dengan sopan.
"Orang kedua ini payah, saya ragu dia akan cocok dengan anda dan bisa menjalankan rencana Madara-sama... dia terlalu terpaut dengan masa lalunya dengan cintanya." Zetsu hitam, menjelaskan lebih lanjut, nada ketidak sukaan terdengar jelas disana.
"Siapa dia?" Naruto berusaha menormalkan suara sebisa mungkin, bagaimanapun semua cukup mengejutkannya dan terlebih dia belum tau apa rencana dari sisa peninggalan sejarah yang menjadi tumpukan tulang di sana.
"Dia.. Uchi—"
"Uchiha Obito."
-!
Naruto dengan cepat membalikan badannya ketika mendapati sebuah suara asing terdengar dan bedara dibelakang tubuhnya, den detik itu juga dia mendapati seseorang telah berdiri di belakangnya entah sejak kapan.
Surai hitam yang panjang, mata yang tertutup sebelah... tubuh yang seperti remuk dan disambung paksa dengan kayu.. dan yang membuatnya kaget adalah nama itu.
Obito... Uchiha Obito.
"Siapa kau?" Obito, menatap pemuda bersirai merah di depannya dengan dingin, sebuah sharingan telah siap untuk digunakan bertarung saat itu juga.
Naruto hanya diam, matanya semenjak tadi telah berevolusi menjadi sharingan. Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah Obito yang sama sekali tidak terkejut dengan mata yang dimilikinya. Dan yang terparah pria di depannya malah tersenyum.
"Siapapun kau, sepertinya aku akan membunuhmu segera."
Obito maju melesaat, di ikuti dengan Naruto yang melakukan hal yang sama.
Dunia Manusia itu penuh dengan kejahatan
Apa itu keadilan?
Melawan sebelum kau mempertanyakannya
Sebuah bungan bencana
Sebuah impian yang munafik
Menatap kembali ke mata yang lelah
Tak ada cara untuk mengetahui mana yang murni dan tak murni
Cahay berhenti bagai anak yang belum lahir
Kamu tertidur dalam rahim yang gelap
Kesendirian adalah kebahagiaan
Ini pasti akan menjadi satu-satunya temanmu
Satu demi satu, mereka akan berlumuran darah
A/N: Bagaiaman dengan chap kali ini? Apa kalian puas. Sebenarnya yang akan saya post bukanlah fic Maks face and destiny, tetapi fic DayWalkers kalau belum tau silakan baca di profil saya (promosi). Tapi ada sedikit halangan karna saya harus mendapat izin dulu dari seorang author... saya sedikit memakai kata-katanya.
Ok sekarang sesi tanya jawab.
Street up : keren, jarang ada yg bikin kaya gini btw, mindset naruto itu karna kurama?
Answer : ya dia Kurama
Tuteja hikari : Halo drak yagami-san... Em... saya agak bingung tentang alur waktu di sini. Di chap ini ditulis '2 tahun setelah terbentuknya uzugakure' lalu di bawah ditulis 'hubungan konoha dan suna retak...-karena insiden penyerangan d ujian chunin-..bla-bla-bla..' Knpa hubungan konoha suna retak 2 th setelah terbentuknya uzugakure? Bukannya penyerangan di ujian chuunn sebelum Naruto membentuk uzugakure? Saya agak bingung...ng...mungkin saya yang tdk peka membaca chapter ni? Kerena itu, mohon author sudi memberi sedikit penjelasan.
Answer : Halo juga Tuteja hikari-san. Wah maaf ya jika kamu tidak mengerti dengan apa yang saya tulis... yang saya maksud di sana adalah kilasan atau apa saja kejadian yang terjadi sebelum berdirnya uzugakure... ya seperti hubungan suna konoha yang retak.. maafya jika kamu menjadi bingung.
CorePride 666 : umur Naruto disini berapa?
Answer : umur Naruto 16 tahun kk.. maaf kalau tidak dijelaskan secara ditel.
Guets : Thor,, sya mau tanya,..! knp tdk ada yang curiga pada saat Naruto membangun desa (Uzugakure) kembali? Bukankah itu tidak mengundang curiga Konoha yang telah berhubungan dengan Uzugakure... dan juga tidak mengejutkan Iwa, Kumo, dan Kiri yang telah menghancurkan Uzugakure?
Answer : pertanyaan kamu bagus. Pastilah mereka akan curiga, terutama Konoha... tetapi semua belum saya jabarkan... bukan c chap ini... tetapi di chap depan tetang kecurigaan Kumo, iwa, dan Kiri.. dan alasan mereka mengambil perjanjian dengan cepat... kecurigaan Konoha dan alasan mereka menolak perjanjian.
Ya... hanya itu pertanyaa yang ada... walau masih banyak dan kebanyakan menanyakan hal yang sama... tentang usia Naruto. Dan pair... soal usia sepertinya klalian sudah pada tau... dan soal pair itu akan menjadi daya jual.. fic ini sehingga kalian saya tantang untuk menebaknya sendiri.
Dan insyaallah dalam bulan ini Fic DayWalkers juga akan update... do'akan saja semua lancar karna fic itu sudah siap untuk di post... tinggal izin dari auhor Penulis Spriritual-Realita.. karna saya meminjam konsep ficnya untuk salah satu chap Daywalkers saya.
Sampai jumpa lain waktu dan mohon reviewnya, sebagai penanda masih ada yang menunggu kelanjutan cerita ini.
Drak Yagami
