Wajib baca Author Note dulu!
inpirasi: kristoper21
A/N: dalam konsep kali ini saya mencampurkan antara masa saat ini [pertarungan Obito dan Naruto] dengan masa lalu [Pertemuan Naruto dengan Kyuubi]. Di akui chap kali ini akan membuat sebagian besar dari kalian pusing dalam membaca dan memahami. Maka oleh karena itu disarankan membaca dengan konsentrasi penuh.
Pagi dan sore selalu merindukanmu
Aku akan menjadi bintang untuk melidungimu, tak peduli dimana pertempuran akan membawaku
Saat mencarimu kemarin dan esok harinya, aku tak bisa bertemu denganmu
Aku adalah seseorang yang menentukan takdir
Sekarang aku akan menghapus air matamu yang mengalir
Sebelum kau menghilang dalam deruan angin
Bergerak. Tidak berhenti... melawan. Mencoba mencari diantara pecahan kekecewaan, yang pada akhirnya hanya menuju sunyi. Mata yang marah, menatap kedepan dengan penuh dendam membara... mencoba dengan tatapan itu untuk mengubah dunia. Membelokkan takdir... mengubah takdir... mengutuk takdir. Tidak menyalahkan siapapun, memilih tidak memandang siapapun... hanya diam, berpaling dari Manusia. Dan menyalahkan Dunia ini.
Hingga waktu mengubahnya... seperti sekarang.
Sekarang...
Naruto melesat cepat membelah angin, menimbulkan bekas retakan kecil pada tanah yang di pijaknnya. Hanya sebuah Shushin no Jutsu, dan tidak lebih. Bersamaan dengan itu sebuah bola putaran spiral yang berada di tangannya. Mata Obito sedikit melebar sebelum menghindari sebuah serangan yang amat sangat dikenalnya dari Ninja misterius di depannya. Dan asap dari kabut tanah tercipta dari serangan yang sia-sia itu.
Tidak sampai disitu. Ratusan kunai cabang tiga keluar seperti peluru dalam kepulan asap itu. Mengkilap tajam menuju Obito yang mengambang di udara. Sebuah serangan telak yang tak bisa dihindari, dan senjata yang membuat dia tau siapa Ninja di hadapannya.
Dan tidak semudah itu. Obito dengan segala usahanya memblokir hampir seluruh kunai cabang tiga yang menuju padanya seperti hujan. Suatu kecepatan mustahil dan hampir di luar logika dia lakukan. Tapi begitulah adanya. Dia baru saja melakukannya.
"Ohh... Anak Minato?"
Suara merendahkan itu terdengar dan masuk kedalam telinganya. Memandang mantan murid sang ayah, Naruto tersenyum. Senyum yang biasa... senyum merehkan yang telah menjadi topeng pembalut wajahnya. "Obito..
Aku akan membunuhmu"
Naruto kecil tidak tau apa yang saat ini terjadi padanya. Sesaat setelah Guru—Danzo menyatakan bahwa dia sudah cukup untuk dikatakan mapan. Dan satu kata terakhir yang dia ingat adalah ujian mental sebelum siap untuk bergabung dengan root. Saat itulah semua menjadi blur... gelap.. hampa.. dan menghilang. Dan kemudian dia terbangun, di ruang penyiksaan ini.
"993 986 979"
"Sudah sampai mana hitungan mu?"
"9― Akrr!" Naruto berteriak sekuat yang dia bisa disaat dia merasakan salah satu dari jari kakinya dicabut paksa. Bisa dia lihat dengan ekspresi sakit jari kakinya lepas dari kakinya dan darah mengalir deras dari sana... kesakitan yang menjalar kesetiap sarafnya. Dan Naruto hanya bisa berteriak keras melalui kerongkongannya yang kering... suara melengking yang serak.
Air matanya mengalir deras, sederas darah yang mengalir dari anggota tubuhnya yang telah dipotong. Nafasnya memburu dan menatap takut pada sosok pria bertubuh besar dengan topeng putih polos di depannya.
"Arkk!" dia bisa merasakan dua jari tangan kanannya kehilangan sensorik rasa... dua jari tersebut juga telah dipotong. "Arkk!"
Sakit hanya itu yang bisa di rasakan, namun sepersekian detik kemudian. Sebuah tulang mencuat cepat dari jari yang telah dipotong puntung tersebut. Dengan cepat pula jaringan benang otot menjerat dan memadat membentuk susunan otot dengan cepat... kulit timbul dan membungkus jari baru tersebut.
Jari baru telah tumbuh, mengantikan yang lama yang telah dipotong... regenerasi.
"Sudah sampai mana hitunganmu?"
" 853 846 839 832.."
"Bagus teruslah menghitung!"
Tubuh Naruto bergetar takut, pria di depannya terlihat mengambil sebuah ember yang berisi jari-jari hasil mutilasi. Dan sinyal bahanya segera dikirim secepat menuju otaknya ketika pria itu kembali mendekatinya dengan sebuah kelabang yang berada diantara jepitan jari pria root tersebut.
"Maafkan aku, apakah ini boleh? Naruto-sama?"
"776 769 762.."
Tubuh Naruto semakin memberontak keras, ketika kelabang itu semakin diarahkan kepadanya.
"755"
Semakin dekat.
"748"
Kelabang itu diarahkan kepada telinganya.
"74― JANGAN! Arkkkkk!"
Sebuah teriakan kembali melengking keras diruangan tersebu.
..
..
Danzo berdiri tegap menatap semua itu dari balik kaca. Matanya melihat bagaimana penyiksaan itu terjadi di depannya. Dengan suara yang tak dapat di dengar. Tapi cukup dengan hanya melihat dia tau betapa sakitnya itu. Namikaze Naruto... penyiksaan yang bertujuan untuk membentuk mentalnya.
Sebuah taruhan yang harus dimenangkannya.
Ingatannya melayang beberapa saat yang lalu, ketika dua tetua tua Konoha mendatangi dan melabraknya atas ketidak sukaan mereka atas tidakannya. Atas apa yang tidak diperlukan... atas sebuah alasan konyol yang membuat mereka selalu merasa menang. Sungguh itu memuakan... sungguh itu tidak diperlukan. Dihentika? Siapa mereka? Dua orang bodoh itu bisa apa?
Root adalah sisi lain dari Konoha. Root adalah pendukung, pendorong, dan pelindung Konoha itu sendiri dari balik bayang gelap. Disaat semua shinobi berfikir dua kali untuk sebuah misi bunuh diri. Maka root selalu siap untuk mati demi Konoha.
Dan siapapun yang pantas dalam pandangannya harus ada dalam pasukannya. Tidak peduli dia siapa dan keturunan siapa... semua sama... Manusia itu suatu 'kerusakan'.
Lalu..
Awal pertemuan yang tak terduga dengan anak pertama Yondaime. Merupakan pertemuan yang menentukan kedepan bahwa anak itu harus menjadi miliknya. Tidak memiliki apapun diawal... hanya sebuah nol besar, bahkan tidak memiliki cara bertarung ayahnya dan fuinjutsu terkenal ibunya... dia tidak memilliki apa-apa... karna memang tidak ada yang mereka tinggalkan untuknya.
Namun bertahun hidup dalam sisi lain dunia ini, membuat Danzo sadar akan satu hal. Membua dia menyadari ada yang spesial dari seorang anak yang bernama Namikaze-Uzumaki Naruto.
Seorang anak spesial dengan bakat kosong.
Dan Dia memutuskan melatih anak itu secara bertahap. Dan hasilnya mengangumkan... anak itu menyerap semua yang diberikannya seperti spons kering. Dia memang tidak terlalu jenius seperti ayahnya dan tidak terlalu kuat seperti ibu dan adiknya yang merupakan pengekang siluman yang baru. Sudah dikatakan bahwa dia hanyalah sebuah Nol besar.
Tapi disitulah letak keistimewaannya.
Karna dia berbeda..
Dia memiliki mata yang indah... tatapan yang tidak akan dimiliki oleh yang lain.
Dan sesuatu yang harus dimilikiinya.
Tapi sayang tak ada yang sempurna di Dunia ini, dan kesempurnaan adalah hal yang mustahil untuk dicapai. Begitu juga dengan Naruto... walau dia sudah mengajari anak itu semua yang dia punya dan itu masih kurang.. masih kurang sehingga harus ditambah.
..
..
Naruto tak pernah tau lagi... sudah berapa lama dia disini. Sudah tak peduli lagi sudah berapa jari miliknya yang dipotong... karna pada akhirnya dia sudah terbiasa dengan semua ini... rasa sakit itu sudah mulai mengecil dan perlahan hilang... lenyap... rasa sakit yang tidak terasa lagi olehnya.
Membuka matanya.
Ini dimana?
Disini asing, sebuah tempat yang tidak pernah di datanginya. Dia entah bagaimana terseret disini masih terikat dengan bangku dan pakaian yang sama. Di atas genangan air.. namun apakah itu pantas disebut genangan disaat dia sama sekali tidak bisa melihat batas pandang dengan dasar dari apa yang dipijaknya.
Begitu dalam.
"Hallo yang disana." Sebuah suara memasuki pendengaran Naruto. Membuat anak laki-laki itu bereaksi cepat dan menoleh menuju arah sumber suara. Dan dia mendapati seseorang yang sepertinya seusia dengannya. Tersenyum ramah. "Siapa kau?"
Nauruto bertanya, saat dalam pandangannya seorang gadis seusianya datang berjalan kearahnya... gadis dengan surai merah panjang yang mengingatkannya pada ibunya... iris ruby yang berkilau indah dalam gelapnya tempat ini.
"Namaku Kyuubi, salam kenal" gadi itu tersenyum, sangat cantik... namun tersirat bahaya disana.
"K-Kyuubi!" nafas Naruto sedikit tercekat mendengarnya, karna dia tau siapa yang sedang berhadapan dengannya saat ini. Yang membuatnya seperti ini... alasannya seperti ini. Namun dengan cepat semua rasa itu menguap entah kemana "Kyuubi, moster yang mendiami tubuhku!?"
"Yap, itu aku" gadis itu tersenyum, namun sesaat kemudian menatap Nauto lurus.
"Apa yang sedang terjadi? Kau sedang disiksa?" Kyuubi mengelus pelan pipi Naruto dengan lembut. "Itu lucu."
"Kau!" Naruto mengeram rendah, namun gadis itu hanya memberikan senyuman cerah miliknya. Dan berjalan mendekatinya.
"Dan, dia sudah tiba."
Naruto seketika tersadar dia sudah kembali berada dalam kamar pernyiksaan, tidak berada di tempat itu lagi. Dan sekarang di hadapannya pria itu kembali muncul. Membuatnya takut.
"Sudah sampai mana hitunganmu?"
"571 510 Arkkk!"
"503 496 Arkkk!"
"Terus menghitung, aku inggin melihat bagaimana ini sekali lagi tumbuh."
"489 482 475"
Seminggu begitu waktu yang banyak terlewat semenjak dia disini. Dan sejak itu juga dia duduk terikat disini... menunggu agar pria itu mengamputasi bagian tubuhnya sesuka hati. Prita itu meneyuruhnya mengitung mundur dari seribu dikurang tujuh begitu seterusnya
Perintah yang awalnya tidak dia pahami, namun akhirnya Naruto sadar bahwa itu adalah hal yang membuatnya akan tetap sadar... secara tak lansung Naruto mengikat dirinya dengan angka angka tersebut... sementara root di depannya mengambil jari kaki dan tangannya lagi... lagi... lagi... dan lagi.
Dan akan terus berlanjut karena setiap bagian tubuhnya yang dipotong akan tumbuh kembali... bisa dikatakan ini salah satu keistimewaan dari tubuh Kyuubi yang tersegel di dalam tubuhnya.
Dan sudah seminggu dia berada di sini.
"Selamat datang kembali."
"Kyuubi? Apa yang kau inginkan?" Naruto menatap lelah pada Kyuubi yang berjongkok di depannya... dia sadar, secara tak lansung dia telah kembali kesini... alam bawah sadarnya.
"Itu tidak penting Naruto-kun~" Kyuubi berdiri dan memutari tubuh Naruto yang duduk terikat berulang kali sebelum berhenti tepat di belakang pemuda tersebut. Memeluknya dan membisikan sesuatu. "Katakan padaku Naruto... keluargamu seperti apa?"
"Ka―" apapun yang ingin diucapkan Naruto harus tertahan ketika, dia menyaksikan entah bagaimana dia kembali ke tempat ini... rumahnya. Rumah yang dimilikinya sebelum Kyuubi datang dan mengubah semua.
"Tambah Kaa-chan!"
"Apa itu kau, Naruto-kun?" Kyuubi, duduk di lantai kayu ruangan itu melipat lututnya dan mengadah ke atas, melihat sesuatu. "Kau imut sekali... dan masih kecil."
"Saat inipun aku juga masih kecil." Jawab Naruto dengan senyum simpul, matanya lurus menatap kejadian yang berjalan di depannya. Kadang dia sering bermimpi dan berhayal kembali ke masa-masa ini.
"Ah~ hanya tubuhmu yang kecil, tapi pemikiranmu sudah dewasa... itu ngak bagus~" Kyuubi memayunkan bibirnya terlihat lucu, namun Naruto hanya menghiraukan dan tetap melihat lurus kedepan. "Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Hal-hal biasa makan malam bersama keluarga dan menyaksikan Tou-san yang selalu kena pukul kaa-san setiap malam... dan aku selalu tertawa dengan adengan itu." Naruto menjelaskan, sambil masih setia menatap kejadian di depannya.
Naruto dan Kyuubi diam dan menunggu, menyaksikan semua adegan keluarga yang hangat sebagai penonton gratis.. dan benar. Apa yang dikatakan Naruto menjadi kenyataan.
"Minato no baka!" Kushina yang marah memukul kepada kuning sang Hokage dengan keras, dan membentur meja makan tak kalah kerasnya. Rambut wanita itu melayang membentuk sembilan untaian, menakutkan. "Jangan mengajarkan hal yang aneh-aneh pada Naru-chan Baka!"
"hahahaha..." Naruto kecil hanya bisa tertawa, cipratan kuar ramen muncrat dari mulutnya. Menyaksikan penyiksaan tersebut.
"Adu Naru-chan itu kotor..." Kushina yang panik segera membersikan mulut anaknya. Dengan sapu tangan dan mengabaikan bahwa suaminya yang sekarat dengan roh yang terlihat keluar.
"Hihihihi.." Kyuubi tertawa halus di samping Naruto, bahkan dia hampir mengeluarkan air mata melihatnya "Tak kusangka Yondaime yang agung sekonyol itu". Namun dia kembali terdiam ketika melihat reaksi Naruto yang kosong.. "Kau kenapa?"
"Tidak ada." Naruto hanya memberikan jawaban singkat. Matanya masih lurus memandang kedepan. Semakin terlihat semakin membuatnya sakit melihat kebahagiaan itu. Sebuah kebahagiaan yang bukan lagi untuknya.
"Owh~" Kyuubi hanya membalas seadaanya, matanya sekilas menatap mata yang lelah itu dan dia tak dapat menangkap emosi apa yang ada di dalam sana. Terlalu banyak emosi yang ada. Gadis itu memilih melamun, dengan wajah bosan dia mengalihkan pandangannya dan menemukan sesuatu. "Dan kali ini, kenapa?"
Naruto mengikuti arah pandang Kyuubi, dan waktu seakan berputar dengan cepat. Melihat jam... ini sudah jam sebelas malam, saat ini dia seharusnya sudah tidur saat itu.. melihat kedepan, bisa dia pastikan kakek hokage ke tiga datang dan duduk di depan ayah dan ibunya.
"Kita harus, melakukan persalinan di luar Konoha" Biwako berkata dengan tenang, mengabaikan fakta bahwa lawan bicaranya sudah mengeluarkan kesedihan dari tadi. Dia juga sedih, tapi dia harus terlihat kuat.
"Tapi kenapa? Kenapa harus di luar Konoha? Kenapa tidak di dalam Konoha seperti kelahiran Naruto?" Kushina, berucap lirih di depan hokage ketiga dan istrinya... wanita bersurai merah itu hanya bisa bersedih dan menyandarkan kepalanya kedalam dekapan sang suami.
"mengertilah Khusina... situasi saat ini sangat berbeda ketika kelahiran Naruto... Konoha sadang tidak aman saat ini." Biwako, mencoba untuk menyakinkan Kushina sekali lagi... ini harus dilakukan agar tidak terjadi hal yang tidak dinginkan.
"Tenang saja... ratusan ANBU kepercayaanku sudah kutempatkan disana, kau tenang saja Kushi-chan"
"Sandaime―" baru saja Kushina ingin mengucapkan sesuatu, sebuah genggaman kembali memotongnya. Merilik dia melihat Minato di sana. Memberikannya sebuah tatapan teduh yang membuatnya sedikit nyaman.
"Tenang saja, aku akan menjagamu."
"Kelahiran Menma kah?" Kyuubi kembali menyaksikan semua itu dengan penuh minat. Dia bahkan berdiri dan mencoba mendekat kearah orang tua itu. "Aku penasaran bagaiamna kelahirannya?" Kyuubi segera menoleh kepada Naruto. Namun ekspresi diam yang di dapat dari Naruto dalam menyaksikan semua, membuat Kyuubi lebih tertarik.
"Menma adalah segalanya bagimu bukan?"
"Tentu saja," Naruto hanya menatap lurus kedepan, kilas balik tadi sudah hilang dari tadi... sekarang mereka hanya kembali ke lorong air kotor ini kembali. "Menma adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap menjalani hidup ini, dia adalah adikku... hal yang ditinggalkan kedua orang tuaku."
"Aku akan melindunginya, apapun yang terjadi."
"Benarkah?"
"Lebih baik aku suka melindunginya dengan cara apapun, meski harus mengorbankan hidupku sendiri."
" Menma ya... dia sangat berharga bagimu bukan?" Kyuubi berjalan kembali mendekati Naruto. Duduk dan segera menyandarkan tubuhnya di samping kaki Naruto yang terikat... gadis itu memilih memilin milin kecil rambutnya seraya menatap Naruto keatas. "Apa kau senang.?"
"Arkkkk!" Dunia kembali berubah saat Naruto mengeluarkan teriak serak yang sarat dengan sakit. Bau amis kembali mendominasi udara kala rembesan darah yang berasal dari jempolnya yang diamputasi paksa belum menunjukan tanda regenerasi.
"Kau membuatku iri Naruto-sama..." pria root itu membunyikan alat pemotong di dekat telinganya dengan sengaja dan keras. Pria itu menari dan berputar-putar di sekitarnya selayak orang gila. "Tetapi kemampuan regenerasimu sangat luar biasa. Kyuubi yang ada dalam tubuhmu, ayah tercintamu yang menjadikanmu moster pembunuh..."
"Kau membuatku iri..." dan firasat buruk menghampiri Naruto ketika dia mendengar suara benturan logam di dekatnya. "Kau tau tentang, lintah Konoha... lintah ganas yang sangat menyakitkan jika dia menghisap darahmu... bolehkah?"
"Kau... Kau... Jangan! Kumohon!"
Lintah itu semakin di dekatkan.
"Tidak! Tidak!"
Lintah tersebut mengarah pada bagian tubuh Naruto yang putus yang sedang akan beregenerasi.
"TIDAK!"
"ARKKKKK!"
Teriakan keras itu menggema bahkan telah mencapai puncaknya, kaki Naruto naik turun dengan cepat berusaha mengenyahkan lintak itu dari tubuhnya. Tubuhnya bergetar tidak! Memberontak berusaha melepaskan ikatan dari sini.
"HAHAHAH... INI BAGUS NARUTO! TERIAKAN YANG HEBAT. BOLEHKAH? BOLEHKAN AKU MEMBUNUHMU?"
"BERTERIAKLAH... BERTERIAKLAH YANG KERAS! PECAHKAN DAN GETARKAN LANGIT DENGAN ITU!."
"Kumohon bunuh saja aku.."
"Mengorbankan hidup ya?" Naruto diam tidak ada lagi teriakan lantang disana, tidak ada lagi rasa sakit tidak ada lagi gerakan sakit. Hanya sunyi, sepi, diam, dan tenang. Membuka matanya tepat di depan wajahnya dia bisa melihat Kyuubi tersenyum lembut padanya 'Kyuubi'.
"Apa kau bisa bertahan?"
Naruto diam, dia tidak menjawab dan memberikan kediamannya itu sebagai jawaban. Mamandang Kyuubi yang terlihat menunggu jawabannya. Dan.. Naruto tersenyum tipis. "Akan aku coba, karna aku ingin adikku bahagia."
"Apa-apaan pandangan hidupmu itu? Membosankan." Kyuubi sedikit mundur, menatap mahluk di depannya dengan tatapan tidak percaya. Namun gadis itu kembali berjongkok di hadapan Naruto dan menatap wajah pucat yang tertunduk itu. "Kau itu kuat... kau bisa menghabisi nyawa pria menyebalkan itu dengan sekali serang dari kekai genkaimu... dengan rantai cakramu?" Namun Kyuubi kembali menatap Naruto ketika menyadari satu hal yang terlintas secara tiba-tiba dalam kepalanya "Tunggu dulu, apa kau belum memilikinya."
Dan gelengan pelan dari Naruto, membuat Kyuubi ingin tertawa melihatya.
"Apa itu? Bukankah itu aku?"
Naruto melihat lurus kedepan, saat alam bawah sadarnya kembali menampilkan kilas balik masa lalunya... saat penyegelan Kyuubi. Ayahnya yang pergi entah kemana, dan ibunya yang bersusah payah berjuang seorang diri menangani Kyuubi yang mengamuk.
Dan tidak berselang lama, ayahnya datang dengan luka robek yang sangat dalam dan lebar. Melirik dirinya sendiri saat itu... Naruto hanya tersenyum miris melihat dirinya yang saat itu hanya bisa menangis keras, dan bersembunyi di punggung orang tuanya.
Bersamaan dengan itu seorang Pria bertopeng muncul dan mendesak kedua orang tuanya. Mereka bertarung bersamaan dengan menahan Kyuubi dan melindungi dirinya yang tidak berguna dan adik kecilnya. Pertarungan yang panjang baginya... terlhat singkat tapi terasa sebagai pertarungan terpanjang baginya. Meski dia yang tidak melihatnya... meski dia hanya sebagai penonton yang ketakutan.
Pria itu terpukul mundur dan pergi. Dia senang tapi raungan Kyuubi hampir membuatnya menangis. Naruto benci dirinya yang saat itu. Orang tuanya sudah terlalu lelah. Tetapi Konoha tetap harus di selamatkan apapun yang terjadi. Dan itu terjadi, sebuah keputusan yang akan mengubah masa depannya... sebuah masa depan abu-abu yang akan di laluinya. Sebuah keputusan yang membuat adiknya Menma menjadi seperti ini. keputusan itu.
Ya. Penyegelan terkutuk itu.
Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, Naruto hanya diam keitka melihat bagaiaman dirinya sendiri... menangis keras ketakutan dikala itu. Bagaimana dirinya menangis ketika tubuh orang tuanya ditusuk oleh cakar besar Kyuubi setelah penyegelan cakra tersebut kepada Menma.
Bagaimana takutnya dia ketika tubuh Kyuubi disegel padanya. Bagaimana dia takut ketika tubuh besar rubah itu perlahan menyusut dan terserap kedalam tubuhnya.
"Kaa-chan... Tou-chan.." Naruto mengangis melihat orang tuanya yang jatuh tersungkur di hadapannya. Dia berusaha menggenggam tangan ibunya, tapi tangan itu semakin dingin.
"Semua akan baik-baik saja Naru-chan... semua akan baik-baik saja.." wanita itu tersenyum ramah dalam wajah yang menyedihkan, bukan dengan senyum ceria yang biasa. Sebuah senyum yang membautnya takut... rasa takut yang tidak pernah dirasakanya. Ayah tidak jauh berbeda... hanya saja pandangannya Minato sudah tidak lagi menunjukan sinar kehidupan. Pandangan yang kosong mata biru yang mati. "Jadilah anak yang baik, sayangilah adikmu walau apapun yang terjadi... sayangi dia, karna kalian adalah saudara."
Naruto hanya menangis, berusaha memanggil kedua orang tuanya. Namun dia bisa melihat dari kejahuan sosok bertopeng kembali muncul, dan entah kenapa kembali menghilang dalam pusaran udara.
"Tapi, kau tau apa yang terjadi bukan?" Kyuubi mengalihkan pandangannya dan menatap Naruto yang hanya menatap datar kejadian itu. Dia kembali berputar di sekitar kursi itu dan memeluk Naruto dari belakang.
"Ya, kau benar... semua hanya omong kosong belaka."
Naruto melompat jauh kebelakang. Menjaga jarak aman dari lautan api yang siap menenggelamkannya jika saja dia tidak bertindak cepat. Membuat sebuah hand seal satu tangan dengan cepat pemuda itu membuat bola-bola air di udara yang muncul dari ketiadaan. Bola-bola yang menyatu membentuk Naga dan bergerak liar menyerang Obito.
Tapi tidak semudah itu.
Obito dengan segala yang dia bisa dengan cepat membuat deretan hand seal dengan kecepatan tangan yang tak dapat diikuti mata. Menahan nafas di dada... pria Uchiha itu mehembuskan nafas api besar yang menyerupai kepala Naga.
Tidak ada penyebutan Nama Jutsu yang mereka lakukan.
Karna itu memang tidak diperlukan.
Asap, kabut mengepul memenuhi ruangan. Namun jenis mata yang sama kembali bersinar.. dalam keterbatasan jarak pandang. Naruto menghindar dan merasakan deru angin dari sebuah tinjuan. Tidak berselang lama, pemuda bersurai merah itu melayangkan sebuah tendangan tepat mengarah ke ulu hati Obito.
Dan keanehan terjadi.
Tendangan itu menembus tubuh Obito. Sharingannya berputar cepat, tapi tak ada informasi yang di dapan. Tak ada sedikitpun... bahkan perubahan jalur cakrapun tak ada. Serangan kedua kembali di lancarka. Menumpukan berat badannya pada kedua tangannya, pemuda itu menggunakan tangannya berputar dan mengayunkan kakinya... berusaha sekali lagi.
Dan dia yakin serangan itu kena telak.
Tapi kenapa... serangan itu tidak berefek?
Naruto memilih menjauh... berusaha menjaga jarak dan menoca mengopserfasi lawan di depannya. "Kyuubi, a-apa dia itu?"
"Aku tidak tau Naruto. Aku baru pertama kali melihat yang seperti itu" suara gadis itu mendengung di dalam kepalanya. Terdengar jelas bagaimana gadis itu juga khawatir melihat lawan di depannya. "Kita bahkan tidak bisa menyentuhnya! Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?"
"Tenananglah aku sedang berfikir.."
Dengan sekali hentakan kaki ke tanah, tiga rantai cakra muncul dan mencuat dari permukaan tanah. Melata mengejar Obito dengan cepat dengan ujung runcing mengkilat , mereka semakin cepat melata.
Tapi tidak bagi Obito. Ninja itu melompat tinggi dan berupar di udara berusaha tetap menjaga jarak, kedua tangannya kembali siap merangkai sebuah deretan hand seal. Dan gerakan itu kembali tertahan saat ratusan kunai cabang tiga melesat bagaikan peluru menuju kearahnya.
Srak srak srak
Satu kunai menembus tubuhnya... sedangkan kunai yang lain di blokir oleh pria tersebut. Hal yang tak terlewat dari perhatian Naruto.
Legah.
Serasa remuk, Obito kembali merasakan sensasi remuk saat sebuah pusaran bola spiral mengenai punggungnya dengan telak. Tidak sempat berbuat apa-apa... itu terlalu cepat, dan sekali lagi dia tidak menyadarinya. Tidak suara dari orang di belakangnya... diam dan sunyi hanya suara sebuah putaran seperti pusaran. Dan perasaan tulang punggug yang remuk lalu berputar dan beberapa organ yang terputar paksa.
Dengan sekuat tenaga Naruto mendorong pusaran udara itu lebih dalam. Fuuton Rasenggan. Mengakibatkan Obito sedikit mengambang sebelum akhirnya melesat menjahui Naruto bagai peluru. Sangat cepat dan ketika hampir membentur dinding goa...
Sesuatu terjadi.
Sebuah pusaran udara muncul di depan Obito. Tidak terlihat jelas bagi Naruto karna dia di belakang Obito. Berputar, cepat, seperti pusaran air dalam... Obito terhisap kedalamnnya. Tidak menyisakan apapun... tidak ada, dia menghilang.
"Apa-apaan itu? Kyuubi apa kau bisa merasakan hawa keberadaannya (Niat)?"
"Aku tidak tau... aku sama sekali tidak bisa merasakannya." Naruto diam dan berfikir. Kyuubi telah memberi jawaban yang mengecewakan padanya. Saat ini gadis itu tidak bisa diharapkan... pusaran itu, dia tau itu pusaran yang sama dengan pria bertopeng yang bertarung dengan ayahnya. Semua teknik yang sama...
Pria bertopeng.. Obito? Mereka sama... seharusnya dia sudah sadar itu.
"Membunuhnya memang sesuatu." Tersenyum, Naruto menaikan satu jari telunjuknya. Mengakibatkan air dalam volume yang bisa dikatakan cukup untuk mengenangi goa ini muncul di sekitarnya, seakan melindunginya. 'Dimana kau Obito?'
Dan seakan menjawab pertanyaannya, Naruto merasakan sesuatu menembus tubuhnya... kepalanya berdengung hebat efek dari teriakan Kyuubi yang luar biasa. Tubuhnya bergetar, saat sebuah bilah pedang menembus tubuhnya... darah menyembur seperti air mancur dari sana.
Sebuah pedang... menusuknya.
Melirik kebelakang.
"Aku disini.." sepasang Mata merah menatapnya berbahaya.
"Kenapa kau ingin melindungi Menma?" Kyuubi yang bersandar di kaki Naruto yang terikat mengadah keatas dan melihat mata lelah Naruto menatapnya lurus.
"Dia adalah apa yang ditinggalkan Kaa-san dan Tou-san padaku. Dia adalah satu satunya keluarga yang aku miliki." Naruto berkata dengan sebuah senyum di wajah lelahnya. Sudah berkali-kali Kyuubi bertanya hal yang sama... dan dia tidak bosan untuk mengutarakan alasannya.
"Lalu? Apa kau kuat?" Kyuubi berdiri dan berputar-putar di sekeliling pemuda tersebut. Tatapannya tetap mengawasi bagaimana Naruto tidak terlalu merespon ucapannya. Membuatnya memilih berdiri di depan anak kecil tersebut. "Kenapa kau mengorbankan segalanya jika akhirnya kau tidak akan mendapatkan apa-apa?"
"Seluruh kerugian di Dunia ini... adalah dasar dari ketidak mampuan."
Naruto memandang Kyuubi tidak mengerti, kepalanya sedikit miring dan kemudian berkata. "Apa maksudmu!?"
"Semua ini dimulai dengan pilihan Naruto-kun." Kyuubi mendekat dan mengelus pipi yang pucat itu. Gadis itu tersenyum.
"Hidup dimulai dengan sebuah pilihan, lebih baik terluka dari pada melukai orang lain... orang tuamu memilih hal itu. Dan lihat apa yang dia dapat, dan apa yang anak mereka dapat."
"Kau.." Naruto menatap tajam gadis, bersurai merah yang itu... "Jaga ucapanmu siluman."
"Andai saja orang tuamu tidak berkorban, kalian pasti sudah hidup bahagia.." Kyuubi tersenyum manis, latar saluran air ini kembali berubah ketika proses penyegelan Kyuubi... Naruto kembali menonton semua itu. "Andai saja mereka memilih Naruto-kun."
Naruto terdiam melihat bagaimana kejadian itu berputar kembali di depannya. Dia berusaha menahan sesuatu.. seperti bendungan yang menahan air. Dan rubuh.. sesuatu meluncur dari matanya, lintasan kecil yang menyalurkan beberapa tetes air mata.
Dia menangis... tapi kenapa dia tidak bisa merasakan sedih. Padahal air matanya telah jatuh.
"Inilah jalan hidup yang mereka pilih... kenapa kau menangis? Kenapa kau sedih?" Kyuubi berputar dan kembali memeluk Naruto dari belakang. "Mereka yang berkorban bukan? Mereka pahlawannya? Lalu? Kenapa adikmu yang di abaikan?"
"Kenapa mereka tidak bisa menerima kehadiran adikmu? kenapa Konoha seakan tidak menghargai jasa dari orang tuamu.? Kenapa mereka berpaling dan melupakan semuanya... padahal banyak yang mengetahui kenyataan... kenapa mereka berpaling Naruto-kun.?"
"Kau baik, dan kau sangat menyayagi adik dan keluargamu, namun kau lemah.." Kyuubi masih berbisik pelan disana. "Dan akibatnya, disaat kau memiliki semuanya, justru kau malah mengabaikan semuanya."
"Orang tuamu juga begitu, andai saja mereka memerintahkan belasan ANBU untuk menahan diriku... pasti kalian sudah hidup bahagia sekarang..." kemudian Kyuubi sedikit memberi jarak. "Tidak andai saja dia membiarkanku pergi setelah dia meneleportku jauh dari Konoha, mungkin semua tak akan pernah terjadi."
"Mereka tak perlu mati."
"Diam!"
"Mereka bodoh ya~"
"Hentikan" Naruto menjerit kecil, berusaha menghentikan ucapan Kyuubi, namun air mata kesedihan masih mengalir dari kedua matanya.
..
..
..
"Kaa-san... Tou-san... mengapa kalian meninggalkan aku dan Menma sendiri.."
"Kenapa..?"
"Aku ingin kalian memilih kami dibandingkan Konoha.."
Naruto menangis untuk pertama kalinya sejak, peristiwa penyegelan itu... dinding yang dibangunnya runtuh saat itu juga.. menampilkan sosok anak kecil menyedihkan yang tekatung tak tentu arah di dalam hidup..
Latar berganti kembali dengan cepat mengulang kilas balik kehidupan Naruto dari kecil bersama kedua orang tuanya, penyegelan Kyuubi, hingga penyiksaan yang di alami Menma.
Kyuubi muncul dan memengang dagu Naruto dan mengangkatnya keatas. Menyaksikan wajah menyedihkan anak itu. Jarinya berusaha menghilangkan lintasan itu. Kyuubi tersenyum. "Naruto, kau baik dan mengagumkan. Namun ada kalanya dimana kau harus menyerah akan kenyataan dan mencoba merubahnya. Karna kau yang sekarang bukanlah kebaikan. Tapi menjadi lemah!"
"Kau tidak punya kekuatan― keyakinan untuk menolak. Masihkah kau ingin Konoha menerima adikmu apa adanya? Jika mereka akan menerimanya, kapan mereka akan melakukannya? Kapan mereka akan mengangap adikmu Manusia? Sedangkan setiap hari mereka selalu menyiksa Menma. Masihkah kau bisa melihat itu?"
"Masihkah kau masih bisa setia dan tunduk pada Konoha saat melihat adikmu seperti itu? Akankah kau tunduk kepada Konoha? Tunduk kepada manusia lemah seperti Danzo?"
"Tidak! Aku tidak bisa!?"
..
..
..
"Lalu apa kau sudah memutuskan apa yang ingin kau lakukan?" Kyuubi menjauh dari Naruto, menyaksikan dari kejahuan bagaimana tampang bocah itu saat ini. "ketika Konoha tidak akan mungkin menerima Menma apa yang akan kau lakukan?"
"Siapapun yang menyakiti Menma tidak akan aku ampuni!"
"Apa kau punya kekuatan?"
"Punya!"
Kyuubi tersenyum, gadis itu menyisihkan rambut yang menghalangi wajahnya. "Tunjukkan, dan hancurkan Konoha!"
"Tidak, bukan seperti itu."
Tiba-tiba ratusan rantai emas berpijar terang, mencuat dari dalam atau dasar alam bawah sadar Naruto. Kyuubi yang terkejut mencoba untuk melompat, tetapi dengan cepat rantai itu melilitnya keras... hingga gadis itu sedikit menjerit sakit.
Dan pupil merah gadis itu melebar ketika tidak mendapatkan Naruto terikat lagi disana. Dan entah kapan sejak waktu berlalu, Naruto sudah menindihnya.
"Aku tidak akan pernah tunduk pada mahluk sepertimu." Naruto menatap datar Kyuubi yang terlihat menahan sakit dilehernya. Tubuh gadis itu mengeliat, namun percuma karna ikatan rantai itu semakin kencang. "Aku bukan milikmu. Tapi, kau adalah milikku!"
Sebuah pengakuan yang tersirat telah di ucapkan Naruto.
Butuh waktu lama bagi Kyuubi untuk membalas ucapan Naruto, dengan wajah kelelahan karena tidak bisa lagi melepaskan diri. Gadis itu menatap Naruto. "Meski itu adalah keputusan yang salah?"
"Bukan aku yang salah..." pandangan Naruto semakin mengabur dan tubuhnya kian terurai bersamaan dengan riak cahaya yang tericpta. "Yang salah adalah Dunia ini."
"Jika Konoha tidak bisa menerima Menma, maka aku akan menciptakan Dunia impianku dimana Menma bisa hidup dengan tenang... bukan sebagai monter, tetapi sebagai seorang Manusia."
"Tidak buruk Naruto... tidak buruk."
Tubuh Naruto merosot jatuh kebawah, sejalan mengikuti hukum grafitasi yang ada. Dan dia tidak bergerak lagi. Dari mata Obito dia bisa merasakan darah mendidih yang hilang saat membunuh lansung keturunan Hokage tersebut.
Pedang samurai yang berlumuran darahnya menjadi saksi bisu yang tak terbantahkan. Tatapannya mengeras, beralih kearah lain dan melihat Zetsu yang sedari tadi diam melihat semua. "Kenapa dia bisa ada disini?"
"Dia adalah apa yang dipilih Madara-sama dan itu bukan urusanmu!" Zetsu hitam berucap dengan nada serak yang biasa.
"Namun dia lemah dan dengan mudah bisa ku kalahkan." Obito memandang Zetsu remeh... pria itu kembali akan bersiap pergi dengan Jikukan Ido jika ucapan Zetsu berikutnya tidak menahannya.
"Benarkah begitu Obito"
"Apa maksudmu!?" dia berucap, namun isarat tubuh Zetsu segera mengalihkan perhatiannya. Dan benar..
Tubuh Pemuda itu sudah tidak ada lagi.
Dia kembali mempersiapkan kuda-kudanya, tapi tiba-tiba ratusan rantai terang berpijar emas muncul mencuat dari permukaan tanah.
Dunia Manusia itu penuh dengan kejahatan
Apa itu keadilan?
Melawan sebelum kau mempertanyakannya
Sebuah bunga bencana
Sebuah impian munafik
Menatap kembali ke mata yang lelah
Tak ada cara untuk mengetahui mana yang murni dan tak murni
Cahaya berhenti bagai anak yang belum lahir
Kamu tertidur dalam rahim yang gelap
Kesendirian adalah kebahagiaan
Ini pasti akan menjadi satu-satunya temanmu
Satu demi satu, mereka akan berlumuran darah
And Done
Tbc.
A/N: Well, tak ada yang mau aku kata lagi. Akhrnya ujian telah selesai. Kalian tau? Pasti tidak. Tapi sisi baiknya aku sudah mulai mengapdate fic ini satu persatu. Untuk update selanjutnya aku tak mau janji lagi.. ... doakan saja tak ada kegiatan lain dan banyak waktu kosong supaya update fic-ficku bisa lancar.
Sesi tanya jawab yang sebenarnya sangat jarang.
Firdaus Minato : Pair ya? Aku belum terfikirkan. Tapi silakan kamu ikuti aja cerita ini, tapi pairnya pasti ada kok [mugkin.]
Jasmine DaisynoYuki : Maaf aku ngk bsia jawab pertaanmu... itu berhubungan dengan jalan cerita kedepan soalnya.
Arch Uzumaki : Silakan kamu bertebak ria... untuk cerita ini. bahkan belum memasuki setengah jalan jadi kemungkinan muncul tokoh lain itu sangat besar.
Yami uzumaki namikaze : Untuk waktu update saya mohon maaf, saya juga mempunyai berbagai kegiatan dunia nyata yang tak mungkin saya tinggalkan. Di tambah saya sekarang sudah kelas tiga dan pasti kegiatan saya lebih fokus untuk belajar. Meski sebenarnya saya malas belajar, tapi tetap saya usaha untuk di paksa wkwkwkw.
: Untuk kesalahan saya mohon maaf... dan kalo di temukan lagi silakan beri tau saya.
Dan itulah sedikit sekali dari sesi tanya jawab. Secara garis besar pertanyaan readers semua seperti itu. Btw saya memohon untuk reviewnya sebagai tanda fanfic ini masih di tunggu.
Saya tidak munafic tapi saya sangat menanti review kalian... ada kesenangan tersendiri saat membaca review kalian.
Jangan lupa reviewnya saya tunggu.
Out~
Drak Yagami.
