A/N : Pada Maks Face and Destiny... pertarungan bukanlah unsur yang terlalu utama dalam Fic ini. sebagaimana kita tau bahwa Fic ini lebih menonjolkan manipulasi Naruto dalam menjalankan rencananya.

Mungkin sekitar 2 atau 3 chapter kedepan. Adengan pertarungan mungkin sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Ini menceritakan perkembangan Naruto melalui jalur yang lain.

Bukan harus dia selalu bertarung untuk bisa berkembang... ini berkembang dengan cara dia sendiri.

Jadi yang berharap, Narutonya setiap chpter selalu bertarung dan bertarung. Maaf, ini bukan Fic yang tepat untuk kalian.


Pagi dan sore aku selalu merindukanmu.

Aku akan menjadi bintang untuk melindungimu, tak peduli dimana pertempuran akan membawaku.

Saat mencarimu kemarin dan esok harinya, aku tak bisa bertemu dengamu.

Aku adalah seseorang yang menentukan takdir.

Sekarang aku akan menghapus air matamu yang mengalir.

Sebelum kau menghilang dalam deruan angin.


Bertahan di dalam Luka.

Menatap jauh kedepan, menyaksikan bagaimana lawannya masih berdiri tegap seakan tak pernah jatuh. Pandangan mata setengah yang tajam, menimbulkan rasa muak akan yang melihat. Remeh.

Tanpa suara, mereka kembali bergerak menimbulkan blur ketidak jelasan bagi mata yang menyaksikan. Suara dentingan besi yang berbunyi menggema mengisi kekosongan goa. Bunga api yang tercipta dari benturan dua besi yang saling menekan. Tidak akan kalah atas yang lain... mencoba membunuh apa yang ada di depannya.

Demi Dunia yang sama, dengan tujuan yang jauh berbeda.

Dan dia Obito, menyaksikan bagaimana tatapan void akan emosi itu berusaha mengintimidasinya. Memaksanya untuk terpuruk, memaksanya untuk berada dibalik titik jatuh mental terlemahnya. Memaksanya untuk kalah, sharingan yang bahkan bukan milik Manusia itu merah kental yang nyata.

Menahan lajuan kunai yang mengarah lansung titik vitalnya. Menyerang dengan elemen alaminya saat ada kesempatan. Sebuah lautan api menyebar luar, keluar dengan volume yang tidak bisa dikatakan sedikit dari mulutnya.

Membakar apa saja.

Menenggelamkan apa saja dalam panas yang melelehkan.

Tapi pemuda di depannya juga membalas dengan elemen alami yang berbeda. Sharingan itu melihat bagaimana dia hanya mengacungkan sebuah telunjuk, dan tiga Naga air raksasa tercipta dari kehampaan. Naga air yang kemudian menerjang lautan apinya... dan hanyalah asap uap panas yang tercipta setelahnya.

Obito membawa tangannya kedepan, siap mengeluarkan Jutsu baru saat melihat sebuah pergerakan. Lima titik hitam yang semakin jelas terlihat. Dari kecil menjadi jelas dan mendekatinya.

Lima kunai yang amat dikenalnya.

Melesat melewatinya begitu saja... tidak terjadi apa-apa.

Melonggarkan rapalan Hand Seal, menyangka sesuatu akan muncul seiring lajuan kunai tersebut. Lajuan semua teknik yang amat dikenalnya dari Mendiang sang Guru yang telah dieleminasi oleh tangannya sendiri. Namun setelah sekian detik berlalu dia menyadari.

Tidak ada apa-apa yang terjadi.

Tidak terjadi yang namanya teleportasi. Dan akhirnya menyadari bahwa ini sebuah tipuan.

Tapi sudah terlambat.

Naruto melesat dengan kecepatan tinggi, dalam waktu dia bergerak dari tempatnya meninggalkan retakan di tanah menyadari bagaimana tekanan cakra yang dikeluarkan untuk lompatan itu. Mata Obito membuat sempurna sebelum menghindari sebuah tendangan yang diarahkan padanya.

Dan tidak sampai disitu, menjadikan kedua tangannya sebagai penahan beban. Naruto melontarkan dirinya ke udara. Secara cepat melepaskan ratusan kunai bercabang tiga dari balik jubahnya.

Tapi tidak semua itu.

Obito kembali dengan apa yang dia punya menerima serangan itu. Membiarkan ratusan Kunai itu menembus tubuhnya begitu saja. Seperti hantu... tapi itu Jikukan.

Dan masih belum berhenti, Naruto melesat cepat secara vertikal menuru Obito. Delapan rantai cakra dipunggungnya melambai liar bak ekor, mengacungkan setiap ujung tajam miliknya pada pria itu.

Obito tidak tinggal diam, dengan sebuah kunai dia berusaha menjaga jarak dari pemuda bersurai merah di depannya ini. menyaksikan bagaimana gerakannya tidak menunjukkan tanda akan lelah. Uzumaki.. sialan... dengan cakra mereka yang setara iblis.

Sharingan berputar gila, setiap putara tercipta bagaimana prediksi akan gerakan lawan kedepan. Memiliki mata yang sama. Dan untuk pertama kalinya Obito dapat menyaksikan wajah pemuda itu dari depat.

Wajah void akan ekspresi, mulut melengkung keatas penuh keangkuhan, dan mata merah darah yang kental... sebuah mata merah yang sama dengannya. Tapi yang ini lebih indah dan kental... sesuatu yang ingin dimilikinya.

Menahan tinjuan yang di arahkan padanya. Namun terlambat menahan sebuah tendangan yang diarahkan padanya.

"Bajingan—!"

Sesuatu yang patah berbunyi di dalam tubuhnya.

Namun dia tidak sempat berbuat lebih, ketika Naruto bergerak lebih dahulu dengan memukul wajahnya. Meretakkan topengnya dan membuatnya menyaksikan butiran cairan merah melayang di udara. Itu darahnya sendiri, tendangan pemuda itu kuat sekali. Mencoba melakukan Kamui, tapi tak bisa... seperti akses yang dibatalkan paksa.

Dan beralih membuat Jutsu pertahanan.

Tapi dengan sikap yang sudah sangat terlambat, sebuah tendangan keras dengan intensitas cakra yang luar biasa menghantam dadanya. Memaksanya memuntahkan darahnya sendiri. Membuatnya melesat jauh menabrak dan tertanah di dinding Goa. Dan tidak disitu saja.

"Rasengan!"

Pusaran dengan putara super cepat mengantam dadanya dengan telak. Mengoyak kulit otot dan apapun yang akan dilewatinya, meretakkan tulang dan memutar habis organ apapun yang berlindung di baliknya. Bekas spiral yang permanen terukir di atas tubuh orang itu.

Mulut bergerak terbata mengeluarkan umpatan yang tak terdengar, mata melotot yang menuntut ketidak terimaan. Darah yang merembes keluar.

Obito jatuh begitu saja, hanya begitu.. kalah seketika di depan mata Naruto.

Dan menatap mayat yang jatuh di depannya pada akhirnya.

"Sepert yang diharapkan dari Naruto-sama." Sebuah tumbuhan muncul disampingnya. Perlahan tumbuh dan berdiri membentuk tubuh Manusia.

Menyadari bagaiaman ucapan itu, Naruto menatap mayat Obito. Memahami bagaimana waktu terlewat dan berjalan. Menyaksikan bagaimana apa yang dia susun mulai berjalan setahap demi setahap. Menyadari ada beberapa bagian yang tidak terduga yang harus dihapuskan demi rencana ini.

Mulai menyadari bagaimana ini akan berkembang menuju apa yang dia impikan.

Sedikit lagi...

Sediki demi sedikit mulai mengumpulkan kekuatan.

Mengeliminasi satu persatu lawan...

Demi Dunia Impiannya...

Menma.

"Dia mati karena dia lemah." Naruto berjalan menuju mayat Obito, tangannya bergerak mengambil sesuatu yang terpasang pada tubuh Uchiha itu. Sebuah mata. Dan dengan gerakan cepat detik kemudian, mata itu sudah berpindah kedalam sebuah toples kecil.

Mengabaikan Zetsu yang diam melihat bagaimana semua terjadi. Diam dan membiarkan bagaimana Tuan barunya mengambil mata murid Madara.

"Di Dunia ini, saat pertarungan terjadi... hanya akan ada dua jawaban. Bertahan atas kekuatan, dan mati karena lemah."

0o0o0

Menma mengangkat tangannya tinggi keatas, berusaha memberikan fokus terbaik untuk mengalirkan cakra yang dia punya pada permukaan tepalapak tangannya. Berkonsentrasi dan berusaha untuk menenangkan semua yang ada termasuk sistem pernafasan. Berusa berkonsentrasi. Tidak berselang lama dari itu semua kumpulan cakra yang kian banyak memadat dan membentuk sebuah rotasi stabil di atas permukaan tangannya. Rotas cakra stabil yang tenang dan bulat terasa nyata berputar di atas permukaan tangannya. Meski tak bersentuhan, gesekan itu tersa nyata bagi kulitnya.

Dan mencoba ketahap selanjutnya, pemuda itu mulai menambahkan elemen yang dia punya dalam rotasi putaran itu membayangkan dan memaksa bagaimana elemen alaminya bisa menerobos dan menyatu dengan putaran cakra padat tersebut. Menghasilkan putaran udara tak stabil di sekitar tubuhnya.

Putaran udara padat yang bahkan tak stabil.

"Gah!" geraman dari gigi yang beradu keluar dari mulut Menma. Merasakan bagaimana tangannya juga ikut akan berputar mengikuti pusaran itu. Merasakan sakit akan tekanan yang dia terima, sebuah penolakan dari elemennya. Suara dari dalam tubuh, Menma berteriak keras saat merasakan tulang tangannya mulai terputar kasar darah merembes dari sana.

Tangannya terputar, tulang tangan yang hancur remuk.

"INGAT MENMA BERIKAN GARIS TIPIS, SETIPIS DAN SETAJAM MUNGKIN!" dari kejahuan Jiraiya berteriak keras menyemangati muridnya itu. Pria itu bahkan melakukan sebuah tarian aneh yang tak pantas dilihat untuk Shinobi sekaliber dirinya.

"Arrrkk!" Menma berteriak, menumpahkan semua rasa sakitnya saat sudah tak mampu menahan beban Jutsu itu. Bergerak diantara tangan yang sudah remuk, pemuda itu memaksa untuk melempar Jutsu tak stabil itu keras.

Dan sayangnya Jutsu itu mengarah pada Jiraiya.

"Buset!"

BLAARRR!

"Murid Durhaka! Apa kau ingin membunuh Gurumu sendiri!?" Jiraiya meraung kalap bagaimana Jutsu itu hampir membunuhnya. Melihat kebelakang, menyaksikan sebuah kawah raksasa dari Jutsu itu sudah cukup untuk membuat dia mengerti.

"Ugh.."

Namun menyadari Muridnya yang merintih sakit, pria itu segera datang menghampiri Menma. Melihat bagaiamana tangan kanan muridnya itu berada dalam kondisi yang menyedihkan. Luka robek yang dalam, danging koyak, dan tangan yang terpelintir kasar... tulang terputar paksa.

"Gaki!" Jiraiya mendatanginya, pria itu berjongkok di depan muridnya dan memperhatikan tangan kanan Menma lebih intens. Sedikit meringis membayangkan bagaimana sakitnya tangan itu sekarang.

"Kau tak apa?" Dia mulai berdiri, menepuk pakaiannya dan kembali menatap Menma yang masih meringis sakit. "Kita perlu istirahat sejenak."

"Tidak perlu Sensei," Menma masih mencoba memberikan sebuah ekspresi menenangkan, meski tak memungkiri beberapa ringisan kecil sering lolos dari mulutnya. "Semua baik-baik saja."

"Baik dengkulmu!" Jiraiya mendesah melihat bagaimana anak itu kembali tidak mengindahkannya, memang seperti Minato menma terlalu baik untuk dikhawatirkan. Dan seperti Khusina dia keras kepala. Dengan beberapa sikap yang mungkin mirip dengan keduanya. Buah memang tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.

Namun menyadari beberapa kesamaan itu membuat Jiraiya menghitam. Membuatnya memaksa untuk mengingat beberapa kejadian masa lalu yang menyedihkan atas keegoisannya. Rasa sakit dan sesak yang muncul dari waktu kewaktu dan semakin sakit. Meski sempat hilang beberapa kali dalam berjalan waktu. Tapi semakin sakit saat rasa itu muncul kembali. Rasa saat mengingat bagaiaman orang-orang disekitarnya mati satu demi satu atas keegoisannya seorang.

Menjadi Hokage yang harusnya diembankan untuknya—dia menolak dan menyarankan untuk memilih muridnya. Diminta untuk tinggal di Desa—dia kembali menolak dan memilih menjelajah Dunia untuk menulis Novel, yang mungkin sebetulnya tidak berguna. Tidak pernah ada saat Desa membutuhkannya. Tidak pernah ada saat muridnya mengalami kesulitan hingga tiada dan hanya meninggalkan nama—semua adalah keegoisannya.

Dan terburuk, menunda dan menyebabkan salah satu hal yang diwariskan muridnya menjerat nyawa adalah penyesalan terbesarnya.

Menyisakan seseorang. Menyisakan apa yang ada di depannya untuk diperlihara dan dipoles agar menunjukkan sinarnya pada Dunia. Melindungi dan mengajarkan hal apapun dari warisan Minato sekuat mungkin. Melatih dan mendidik Menma untuk menjadi Shinobi terkuat yang pernah diciptakannya. Melatih anak itu agar menjadi semakin kuat kuat dan kuat. Menekatkan dalam hatinya yang paling dalam jangan sampai penyesalan itu datang kembali padanya. Jangan sampai kesempatan terakhir ini hilang darinya.

Melakukan apapun untuk kesempatan terakhir ini.

Meski nyawa adalah hal yang harus dia bayar untuk kesempatan ini.

"... karna sesuatu yang berada dalam tubuhku akan menyembuhkanku dalam sekejap." Lamunan Jiraiya berhenti ketika Menma membuka suaranya, menyaksikan pemuda itu tersenyum teduh menunjukan warna sejatinya. Benar saja cakra yang tak seharusnya menjadi milik Manusia keluar merembes dari setiap pori-pori kulitnya. Cakra yang berwarna orange yang mengalir tenang bagaikan air dan mulai membungkus seluruh tangan kanannya. Membalut dan memberikan kehangatan dan menyembuhkan setiap luka yang ada. Menyatukan danging yang robek dan mengatur kembali putaran tulang tangannya sebagaimana mestinya.

Mengembalikan tangannya seperti sedia kala.

"Lihat Sensei, seperti yang aku bilang tangan ini sudah sembuh." Menma tersenyum mendapati bagaimana tangannya sudah kembali seperti sediakala. Namun senyum itu perlahan luntur saat bagaiaman tangannya mendapati... sinar mata tidak bisa dari Gurunya. Gurunya tersenyum, tapi tidak dengan pancaran matanya yang lain. "Sensei, ada apa?"

"Tidak ada." Jiraiya berusaha memberikan tatapan biasa kepada muridnya itu. Mencoba menenangkan walau tidak berhasil lagi. "Kau mirip dengan ayahmu, meski kalian berdua tidak pernah bertemu. Namun kalian mirip, dari wajah yang nyaris sama dan bahkan sifat... ya walau itu tidak semirip mungkin dalam sifat tapi bolehlah. Meski aku bilang kau mirip dengan ayahmu. Kau masih memiliki apa yang diwariskan ibumu, garis wajah dan tatapan itu... semua milik Kushina. Bahkan sikap urakan dan keras kepala itu... itu milik ibumu."

Menma diam, ada sedikit rasa bahagia yang datang padanya disaat perkatan seperti itu terdengar dan serasa menyusup kedalam hatinya. Sebuah perasaan aneh yang muncul namun menyenangkan. Sebuah rasa bahagia. Namun, pemuda itu menutup matanya sesaat. Menarik naafas dalam dan memandang Jiraiya yang masih terjebak masa lalu.

"Terimakasih Sensei." Menma mulai bangkit dan mepuk pakaiannnya yang kotor oleh debu yang menempel. "Aku sangat senang jika kau mengatakan bahawa aku mirip dengan kedua orang tuaku. Kau orang kedua yang telah mengatakan itu.. itu sangat berarti bagiku. Namun kau yang saat ini menyedihkan, terjebak dalam bayang masa lalu tanpa bisa melihat kedepan. Apa yang kau harapkan Sensei, masa lalu tidak bisa berubah... masa lalau tidak akan bisa kau ubah. Mereka akan berlalu meninggalkanmu... tidak pernah menjadi berarti, selain menjadi kenangan."

Masa lalu bukan sesuatu yang harus disesali... dia telah belajar hal itu.

Dia juga merasakan kehilangan. Merasakan bagiamana sakitnya saat mengetahui saat orang orang yang berada disekitarnya mulai berjalan meninggalkannya dan menghilang selamanya. Menyadari akan kehilangan yang tak kembali, bahkan walau dengan semua kehendakknya. Semua tidak akan kembali.

Karna pada akhirnya. Waktu hanya akan memberikan dua jawaban pada Manusia kelak. Itu bisa berupa kesenangan maupun kesedihan.

"Jangan menangis! Menangis tidak akan mengubah apapun. Dunia tidak pernah baik pada siapapun!"

Itu benar, Dunia tidak pernah baik pada siapapun.

Dia juga kehilangan, dia juga kehilangan kakaknya yang bahkan bayangannyapun tidak bisa dia kejar.

"Kurasa ada benarnya juga." Jiraiya menghirup nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Pria itu tersenyum, menjadi lebih cerah. "Terimakasih."

Menatap dan kembali memberi jalan pada muridnya untuk berlatih.

"Pastikan kali ini berhasil gaki!"

"Ya, aku tau.."

xxxxxxxxx

Jiraiya kembali mencatat sesuatu di dalam buku tua yang entah apa itu. Matanya menyaksikan sendiri bagaimana Menma sedang atau kembali berkonsentrasi mengumpulkan udara dan berusaha menciptakan bilah tipis disana. Kembali megoreskan beberapa kata di atas kertas itu dia kemudian tersenyum dengan senyum kebapakan.

Tinggal sedikit lagi, pemuda itu akan menjadi seorang Shinobi yang kuat. Bahkan sudah cukup untuk melampauinya dan dia yakin akan hal itu. Dan kembali mengalihkan pandangannya dia kembali mencatat sesuatu di buku tuanya dan sesaat kembali mengalihkan pandangannya.

"Jangan mencoba untuk mengendalikannya, tetapi coba untuk mengikuti alirannya." Dia berteriak ketika melihat ketidak seimbangan dari Jutsu itu.

"Ya!" dan Dia tersenyum mendapat balasan singkat itu.

Itu sudah cukup.

Diam sebentar ketika mendengar nasehat itu. Mencoba kembali mengalirkan cakra di tangannya lalu memadatkannya, mencoba mendengarkan nasehat gurunya... menyadari kesalahannya memaksakan dan menekan udara. Karna udara itu bebas, mereka tidak terikat dan tidak bisa dikekang.

Menyadari bahwa setiap elemen alam yang dikendalikan Manusia lewat cakra mempunya sifat dan karakteristik masing-masing.

Menutup matanya, Menma mencoba menyatukan diri dengan udara. Mendengarkan bagaimana gesekan angin menerbangkan daun-daun disektarnya. Mendengarkan suara angin, merasakan bagaimana angin mulai berkumpul disekitarnya... sesuatu yang dingin—tidak, ini menyejukkan. Mencoba mengerti akan karakteristik elemen alaminya. Merasakan bagaimana aliran itu mengalir dan menumpuk dipermukaan tangannya. Tidak mengendalikan namun mengikuti alirannya. Tidak memaksakan tapi mendorong secara perlahan. Membayangkan sebuah bidang tipis... setipis mungkin, sebuah bidang yang mampu memotong apa saja. Membelah apa saja. Menghancurkan apa saja.

Merasakan udara tidak menyakiti tangannya lagi, merasakan udara menerimanya. Merasakan ketenangan dan kebebasan udara itu sendiri, merasakan mereka membentuk bidang tipis sesuai keinginannya.

Dan Menma membuka matanya ketika merasakan bunyi bising keras yang menganggu pendengarannya. Mengadah keatas, sesuatu telah membuat senyumnnya terkembang lebar. Karna sebuah suriken raksasa telah berputar konstan seperti baling-baling pesawat. Siap untuk dilempar kapan saja.

Sedangkan jauh di bawah naungan pohon rindang disana Jiraiya tersenyum, menutup buku tua yang sejak dulu dibawa olehnya. Pria tua itu mendekati Menma yang telah menetralkan Jutsu tersebut, mendekat dan kemudian menepuk pundak pemuda itu.

"Ayo, latihan kita sudah selesai." Pria itu memberikan sebuah senyum, namun bagi Menma itu senyum teraneh yang pernah dia lihat. Sebuah senyum yang menjijikan, tapi pemuda itu tak kuasa untuk menyampaikan apa yang dia pikirkan. "Mari kita kembali ke penginapan.."

Dan sejak itu Jiraiya benar-benar yakin, cukup sedikit lagi Menma akan sangat melampauinya. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk melampaui Naruto.

"Dan berisiap-siap kembali ke Konoha. Dan Nama Jutsu itu apa?"

"Futon : Rasengan Shuriken"

0o0o0

Naruto membuka mata untuk kesekian lakinya sahabis merasakan sensasi jatuh yang sudah sering dia rasakan. Melihat ini dimana, pemuda itu seharusnya sudah paham bahwa ini di dalam alam bawah sadarnya. Melihat ke bawah, pantulan dirinya sendiri tergambar jelas di atas permukaan air yang jernih. Gelombang-gelombang air kecil ketika kakinya melangkah. Terang benderang, langit cerah yang indah di dalam alam bawah sadarnya.

Alam bawah sadarnya yang dapat disetting sesuka hati oleh Kyuubi.

Melangkahkan kakinya melewati permukaan air. Menimbulkan gelombang tersendiri saat kaki melangkah. Naruto menaikkan alisnya heran saat kakinya melewati ratusan perahu kertas yang mengambang di atas air alam bawah sadarnya tanpa terjatuh.

Origami perahu kertas dengan ukuran yang sama, namun warna yang berbeda.

Itu indah..

Tapi mengapa baru sekarang?

Terus melanjutkan langkah, matanya menatap jauh kedepan. Disana Kyuubi dengan rambut merah darahnya yang kelewat panjang terlihat dengan wajah senang sedang melihat kertas origami—membuat kapal dan menjalankannya di atas permukaan air. Senandung senang yang bisa dia dengar—suara yang berada dalam frekuensi yang lain yang bisa didengarnya.

"Kenapa kau memanggilku?" Naruto membuka suara, bertanya pada gadis di depannya. Mengabaikan lawan bicaranya sedang sibuk dengan Dunianya sendiri.

"Duduklah kau perlu bersantai." Kyuubi tidak menoleh pada Naruto, setiap jari tangannya dengan telaten melipat kertas selanjutnya. Membuat sebuah kapal kertas dan mulai menjalankannya di atas air.

Dan mendengar tidak ada jawaban. Kyuubi menatap keatas dan mendapati Naruto yang masih berdiri tegak, pemuda itu melipat tangan di dada—berdiri angkuh dihadapannya. Kyuubi tersenyum.

Itu sebuah topeng dari topeng yang lain milik Naruto.

"Jadi bagaimana keputusanmu? Zetsu sudah memberi tau informasi tentang rencana Bulan. Tentang Uchiha Madara, tentang Juubi, dan tentang seseorang wanita yang bernama Kaguya."

"Itu tidak berarti."

Masih menyibukkan diri dengan kertas miliknya, Kyuubi kembali membuka suara. "Bukankah kau ingin segera kuat? Bukankah kau ingin, segera menyelesaikan semuanya? Menciptakan Dunia impian adikmu dan membayar hutangmu padaku?"

"Bukankah sudah kukatakan semua yang kau ucapakan tentang Zetsu tidak berarti. Jika Juubi bangkit, maka kau harus dikorbankan untuk itu. Dan aku tidak peduli pada perkataan Zetsu karna itu bukan dari bagian rencanaku."

Kyuubi tersenyum, sebuah senyum tipis cantik yang dapat ditangkap oleh mata Naruto.

"Saudaraku yang kau tangkap untuk rencana kita... semua tidak berarti pada akhirnya." Kyuubi mulai menatap Naruto. Gadis itu tidak berdiri, memilih tetap bersimpuh seraya menatap Naruto dari atas.

"Tidak! Semua pion yang aku kumpulkan... semua memiliki tujuan masing-masing. Mereka semua pion yang berguna untuk rencanaku. Uzu, Suna, Ichibi, Younbi, Zetsu, dan kau Kyuubi." Naruto membuka suara, penuh akan keangkuhan... sebuah topeng yang menutup topeng yang lain. Menatap Kyuubi yang memilih tidur dan menatapnya—gadis itu tersenyum tipis. "Adalah pionku."

"Dan sebentar lagi Kiri juga akan sama!"

"Aku bahkan tidak berguna untuk aku sebut sebagai Pion. Meski aku tidak akan menolak untuk itu."

"Tidak ada yang tidak berguna.." Naruto memandang Kyuubi. "Jika kau tidak berguna bagiku, aku sudah lama melenyapkanmu tahu."

Tidak merasa takut, Kyuubi tersenyum untuk itu.

"Rasa cintamu yang besar akan adikmu menyebabkan kau begini." Kyuubi memeluk lututnya dan masih pandangannya sama menatap Naruto. "Berbohong dan menipu sudah biasa bagimu. Mungkin itu akan menyelamatkanmu untuk sementara. Namun itu akan membunuhmu suatu saat."

"Tapi kau tak akan pernah bisa membohongiku Naruto. Menguasai Dunia. Bahkah saat hal tersebut diletakan ditelapak tanganmupun kau bahkan tidak akan mampu mengenggamnya."

Suara keras memasuki pendengaran Kyuubi. Bisa dia lihat pemuda itu tertawa, menertawai dirinya tertawa dengan cara angkuh yang memuakkan. Tapi tidak! Bisa gadis itu tau bahwa pemuda itu menertawai dirnya sendiri. Menertawai dirinya sendiri yang menyedihkan. Naruto yang malang.

"Kau lucu Kyuubi, sungguh lelucon yang menyedihkan. Ketahui Kyuu, ada banyak cara untuk mengenggam Dunia ini. dan soal cinta... seperti kau tidak mengenalnya saja."

Namun Kyuubi hanya memilin rambut merahnya dan kembali menatap Naruto. "Memang, sejak terlahir dari pecahan Ibu. Aku tidak diajarkan akan emosi Manusia itu. Namun dalam waktu yang lama berlalu... aku mengerti definisi akan perasaan itu, dan akibatnya. Mengerti akan konsep yang aku pelajari dari pengalaman. Tapi tidak mengerti rasanya.

Naruto menghembuskan nafas lelah. Dan menatap Kyuubi yang balas balik menatapnya. Seperti menuntut suatu jawaban.

"Jika kau tidak bisa merasakan cinta kepada siapapun, kau cukup mencintai apa yang ada padamu saat ini."

"Aku tidak memiliki apapun, aku adalah milikmu. Bisakah aku mencintaimu?" Kyuubi dengan cepat membalas pernyataan Naruto. Gadis itu tersenyum, menunggu akan jawaban pemuda itu.

"Aku tidak peduli jika kau mencintaiku... itu tidak menguntungkanku tidak pula merugikanku. Tapi satu hal, kau tidak akan mendapatkan apapun dariku atas rasa cintamu itu." Naruto mulai berjalan dan berpaling meninggalkan Kyuubi. Melagkah jauh sebelum akhirnya menghilang menjadi partikel cahaya. Meninggalkan Kyuubi yang masih tiduran dan memeluk lututnya sendiri menatap kepergian pemuda itu.

"Tidak perlu apapun..." gadis itu berguman, menatap ratusan perahu kertas yang mengambang dan terkadang melintasinya secara pelan.

"Cukup dengan kau lahir di Dunia ini, aku sudah merasa bahagia."


Dunia Manusia itu penuh dengan kejahatan.

Apa itu keadilan?

Melawan sebelum kau mempertanyakannya.

Sebuah bunga bencana.

Sebuah impian yang munafik.

Menatap kembali ke mata yang lelah.

Tak ada cara untuk mengetahui mana yang murni dan tak murni.

Cahaya berhenti bagai anak yang belum lahir.

Kamu tertidur dalam rahim yang gelap.

Kesendirian adalah kebahagiaan.

Ini pasti akan menjadi satu-satunya temanmu.

Satu demi satu, mereka akan berlumuran darah.


AoRizuki : Kamu memang benar, chapter kemarin memang terinspirasi dari anime Tokyo Ghoul. Kata teinspirasi mungkin salah ya... lebih tepatnya aku nyalin secara bulat-bulat adengannya. He he he...

: Memang itu memang adengan Tokyo Ghoul kok.

Emperor Of Shadow : Maafkan saya itu memang dari anime Tokyo Ghoul kok.

Rezaa : Terimakasih atas masukannya, saya mencoba menjadi lebih baik pada chapter ini. semoga saya Typonya bisa dikurangin. Amin...

m. : Sep, makasih masukannya.

Temma : Memang mengambil dari Anime tersebut, Naruto pake Genjutsu... dan ya, pertarungan masih berlanjut pada chapter ini.


Silahkan berika Reviewnya, baik itu merupakan saran, kritik, hinaan, cacian, bakan pujian jika ingin. Berikan review dan isi pikiran kalian akan chapter ini... menandakan masih ada yang menunggu akan cerita ini.

Drak Yagami.