Antara manusia berumur kura-kura dengan manusia berambut singa. Bukan, bukan siluman. Mereka hanyalah dokter hewan. Probably Shounen-Ai?

Complete and Complement

Disclaimer :

WILD LIFE by Fujisaki Masato

I own nothing but this fanfic

Warnings :

Kemungkinan fanfic ini akan berakhir dengan manisnya shounen-ai, tapi tidak menghalangi karakter lain punya cerita cinta. Love is for everyone! Maybe OOC(?)

Matanya melirik arah jam besar didepannya. Jarum jam menunjukkan angka 9 tepat. Pemuda itu menghela nafas. "Kalau setengah jam lagi tidak datang, aku pulang saja deh", ucapnya sambil bersandar di salah satu pagar batu yang ada di taman kota itu. Sesekali pemuda itu melirik handphonenya. Tidak ada tanda-tanda notifikasi panggilan tak terjawab maupun email yang masuk. Dia menghela nafas sekali lagi.

Sedang apa Sabtu pagi begini dia berdiri di taman yang ada banyak sekali pasangan-pasangan yang sedang bermesraan? Ya, Tessho Iwashiro si dokter hewan berbakat itu sedang menunggu Tsukasa Ryoto, si dokter hewan jenius (yang sayangnya mesum) dari jam janjian, jam 8 pagi dan sampai jam 9 ini tapi belum datang juga. Tessho mengecek handphonenya sekali lagi. Membuka Inbox dan melihat email terakhir. Dari siapa? Siapa lagi kalau bukan Ryoto.

From : Ryoto

Subject: On the way

Message : Tessho, kalau 5 menit lagi aku belum datang, baca email ini sekali lagi ya~

Tessho hanya bisa mendengus, sebenarnya sih Ryoto bukan termasuk tipe orang yang sering telat, dan kalaupun dia telat, pasti alasannya bermacam-macam. Entah itu karena bis atau kereta yang penuh lah (padahal dia sering sekali bawa mobil pribadi), lupa sarapan lah, meladeni fans nya di jalan lah, menyebrangkan orang tua saat lampu merah lah (yang ini mencurigakan) dan lainnya.

Bukannya apa-apa, menunggu sendirian di tengah tempat pasangan yang hilir mudik bermesraan itu sangatlah tidak enak, ya memang sih ada juga segerombolan anak sekolah atau keluarga yang sedang jalan-jalan, tapi tetap saja, 80% isi taman ini adalah pasangan. Lagi, Tessho menghela nafas.

Tiba-tiba telinga Tessho menangkap jeritan gadis-gadis muda dari arah kanannya, otomatis kepalanya mengikuti arah asal jeritan itu, dan benar saja, para gadis muda itu sedang mengerubungi lelaki tinggi dan tampan berambut semi-pirang yang sepertinya familiar di mata Tessho, siapa lagi kalau bukan Ryoto.

"Aduh, maaf ya tuan putri-tuan putriku yang cantik, kita jalan-jalan dan mainnya lain kali saja", ucap Ryoto sambil tersenyum. Gombal maksimal.

"Aaaaah~ sebentar saja tidak bisa?", gadis berambut coklat sebahu itu menarik-narik baju Ryoto.

"Iya nih, paling tidak satu atau dua lagu di karaoke kan bisaaa~", timpal gadis manis yang memakai baju terusan pink.

"Atau kita makan kue saja? Aku tahu toko kue enak di dekat sini", ucap gadis cantik bermake-up tebal dan berdada besar yang memeluk lengan Ryoto.

"Kafe di blok C itu juga bagus, kita bisa ngobrol-ngobrol dengan tenang disitu", ajak gadis berlipstik merah menyala.

"Aaah, aku senang sekali dengan ajakan kalian, tapi aku sudah punya janji, mungkin lain waktu kita bisa pergi bersama-sama, nah, aku permisi dulu ya", Ryoto menjawab sambil melepas lengannya pelan-pelan dari si wanita berdada besar tadi dan berjalan agak menjauh dari kerumunan gadis-gadis muda itu.

Tapi para gadis itu tidak mau kehilangan kesempatan begitu saja. Beberapa gadis itu pun berteriak.

"Huh! Setidaknya beritahukan namamu!".

"Kau kuliah atau bekerja?".

"Beritahukan alamat emailmu!".

"Rumahmu dimanaaa?".

"Kau ini model ya?".

"Apa kau punya pacar?"

"Berapa ukuran boxermu?". (?)

"Hey, jawab dong!".

Ryoto hanya menoleh dan melempar senyum-bak-pangerannya ,"ra-ha-si-a", dan lanjut berjalan meninggalkan mereka yang menjerit histeris, pingsan, mimisan dan lainnya.

Tessho hanya bisa bengong. Lihat apa dia barusan?

Ryoto melihat Tessho dan berlari menghampirinya,"huuf...maaf ya aku telat, hehe...jangan salahkan mereka ya, aku telat karena aku lupa taruh dompet dimana", Ryoto nyengir. Urat-urat di kepala Tessho pun bermunculan.

"Satu jam! Aku menunggumu satu jam tahu!", ucap Tessho kesal.

"Iya, iya...aku traktir makan deh", Ryoto menepukkan kedua tangannya, meminta maaf.

"Baiklah", jawab Tessho tanpa babibu.

Ini anak...murahan banget sama makanan.

Tessho melihat kerumunan gadis-gadis muda tadi yang sudah pergi menjauh, mereka cantik-cantik, sepertinya mereka murid-murid SMA atau mahasiswi.

Ryoto memperhatikan Tessho,"ada apa?".

Tessho menoleh,"ah tidak", Tessho menggaruk kepalanya.

"Kau tidak menyesal tuh menolak ajakan mereka? Biasanya kau ini paling tidak bisa menolak perempuan, apalagi tadi mereka cantik-cantik, kalau kau pergi sama mereka kan aku jadi bisa pulang dan tidur", tanya Tessho sambil menunjuk ke arah kerumunan itu.

Ryoto hanya bisa tertawa kecil sambil mengacak-ngacak rambut Tessho,"tentu saja aku tolak, aku kan janji kencan denganmu".

Tessho terdiam, mencerna kata-kata Ryoto.

Psshh...warna merah langsung menyelimuti wajah Tessho. Entah Ryoto tadi gombal atau tidak, tapi kata-katanya sukses membuat wajah dokter andalan RED itu merah padam.

Menghilangkan pikirannya yang aneh-aneh, Tessho langsung mengalihkan pembicaraan,"ya-yasudah kalau begitu, aku lapar nih", bicaranya saja jadi terbata-bata begitu, ada yang aneh dengannya.

"Iya deh, ayo kita makan dulu", ucap Ryoto sambil membalikkan badan. Entah dia menyadari muka merah Tessho atau tidak.

"Kau mau makan dimana?", tanya Ryoto. Mereka mulai berjalan keluar taman.

"Dimana saja deh, aku makan apa saja kok", kata Tessho sambil mengelus-ngelus perutnya.

"Haha, apa itu, memangnya kau ini beruang?", Ryoto terkekeh.

Mereka memasuki salah satu tempat makan (atau bisa dibilang kafe) yang berdiri di deretan restoran dan kafe. Mereka mengambil posisi meja menghadap jendela, jadi mereka bisa melihat lalu lalang di jalanan.

Setelah memesan makanan dan minuman (yang pesanannya didominasi oleh Tessho), mereka mulai ngobrol. Topiknya acak, tapi sebagian besar isinya tentang kebun binatang, rumah sakit dan lainnya.

Makanan dan minuman pun datang, Ryoto menghentikan obrolannya dan menyuruh Tessho fokus ke makanan agar menghindari omongan Tessho yang tidak jelas saat mengunyah. Setelah kenyang, mereka melanjutkan obrolan. Masih seputar dunia hewan.

Lama-lama Ryoto mendengus.

"Hei Tessho, kita ini kan sedang kencan, jangan bawa-bawa perihal pekerjaan dong saat kencan", ucap Ryoto sambil menopang dagunya dengan sebelah tangan, cemberut bohongan.

Tessho yang sedang menyeruput minumannya hanya mengedipkan matanya,"he...lalu kita bicarakan apa? A..aku kan tidak tahu kalau kencan itu harus bicara tentang apa", jawab Tessho malu-malu sambil menggaruk kepalanya. Masa iya mereka harus membicarakan rahasia awet muda keluarga Ryoto. Tessho menyeruput kembali minumannya.

Ryoto menyeringai, "tentu saja kita harus bicara soal cinta! Cinta!".

Kalau saja minuman tadi belum ditelan Tessho, mungkin minuman itu sudah tersembur dengan indah ke wajah tampan Ryoto.

"A-apa maksudmu?", wajah Tessho kembali memerah.

"Orang kencan itu harus flirting dong! Buat apa kencan kalau tidak flirting! Itu tujuan kencan tahu!", Ryoto menjawab dengan semangat, ada kobaran api di matanya.

"Flirting? Apa lagi itu...Kalau-", tiba-tiba mata Tessho mendapati dua sosok yang familiar di kafe seberang jalan.

Tiba-tiba Tessho terdiam, melihat kombinasi yang sedikit aneh di depan matanya.

"Eh, Ryoto...bukannya itu Seno dan dokter Kikiki?".

Heee?

Author's Note :

Gyaaaaaaaaa maafkan akuuuuuuuuuuuuuu, updatenya lama sekaliiiiiii 8'D tugas-tugas ini membunuhku OTL semoga aku update lebih cepat 8'D semoga kalian masih membaca! Semoga ada aran, ide dan review! Terima kasih telah membaca! (aku akan bales review-reviewnya 8'D)