Antara manusia berumur kura-kura dengan manusia berambut singa. Bukan, bukan siluman. Mereka hanyalah dokter hewan. Probably Shounen-Ai?
Complete and Complement
Disclaimer :
WILD LIFE by Fujisaki Masato
I own nothing but this fanfic
Warnings :
Kemungkinan fanfic ini akan berakhir dengan manisnya shounen-ai, tapi tidak menghalangi karakter lain punya cerita cinta. Love is for everyone! Maybe OOC(?)
"Nah, Tessho, kau duduk yang manis disini ya, biar aku yang beli tiketnya". Ryoto mengucapkannya sambil tersenyum, tidak lupa menepuk-nepuk pundak juniornya supaya terlihat menyakinkan. Ya, rayuan maut seorang pria tampan bernama Tsukasa Ryoto mulai muncul ke permukaan.
"Eh, tunggu! Aku ikut!", bujukan tadi ditepis dokter muda tersebut, perasaan Tessho tidak enak. Dia tidak bermaksud berpikiran negatif, hanya jaga-jaga saja.
Jaga-jaga kok.
Serius deh.
...
Baiklah, dia memang berpikiran negatif tentang seniornya itu. Jangan-jangan dia mau beli tiket film horror.
Ryoto berkacak pinggang,"kau bisa lihat kan Tessho? Bioskop ini ramai sekali, kalau kau hilang bagaimana?".
"Mana mungkin aku hilang! Badanku besar! Kan beli tiket tidak akan memakan waktu!".
"Yakin tidak makan waktu? Hari ini pemutaran film perdananya Queensgirl lho, pasti ngantri deh".
"A-apa iya?".
"Tentu saja! Nurut deh. Nanti aku belikan popcorn dan cola".
"Baiklah". Lagi, Tessho langsung memberi respon positif kalo sudah mendengar makanan.
"Bagus, tunggu disini ya, aku tidak akan lama kok".
"Lho? Katanya ngantri? Hoi, Ryoto!". Percuma, Ryoto sudah menghilang dari hadapannya.
.
.
.
"Ah, permisi tuan, bila ingin memesan tiket, silahkan mengantri dari belakang", kata seorang wanita cantik di balik counter penjualan tiket. Ryoto yang berdiri disamping meja counter hanya mendecak. Menyerobot antrian bukan hal baik. Tolong jangan ditiru.
"Hem...maaf ya kalau aku menyerobot...aku tidak sabar mengantri setelah melihat wanita cantik menjual tiket di counter ini, habisnya aku ingin cepat-cepat bertemu denganmu...yah, walaupun durasi kita bertemu hanya sepanjang pembelian tiket saja sih", Ryoto tersenyum. "Sekali lagi maaf ya, aku akan kembali mengantri di belakang".
Tiba-tiba lengannya digenggam dengan kuat,"e-e-eh, anu, kalau tidak keberatan, anda bisa memesan tiket sekarang".
Ya, jika anda tidak setampan Ryoto, tolong jangan tiru perbuatan di atas.
.
.
.
Tessho mengamati sekelilingnya, banyak orang disini, mungkin karena hari ini hari libur. Sesekali dia memejamkan mata dan menghirup wangi popcorn manis yang menyebar di seluruh ruangan. Harusnya tadi dia minta popcorn rasa karamel sebelum Ryoto pergi. Hm...popcorn asin juga tidak masalah sih.
"Oi Tessho, jangan melamun, nih popcornnya", tanpa dia sadari, Ryoto sudah berdiri di hadapannya sambil membawa tiga keranjang popcorn berukuran besar, tidak ketinggalan 3 gelas cola berukuran jumbo. "Hehe, aku tahu kalau satu keranjang saja pasti tidak akan cukup untukmu", ucap dokter tampan itu sambil duduk di samping Tessho.
"Uwaaaah, terima kasih Ryoto!", mata Tessho berbinar-binar melihat isi keranjang popcorn. Ternyata Ryoto membeli semua rasa, manis, asin dan campuran. Tentu saja Tessho tidak komplain. Sepetinya dua keranjang popcorn akan habis saat intro film selesai.
"Ngomong-ngomong, kok beli tiketnya cepat sekali? Padahal pas aku ke toilet tadi, antriannya lumayan panjang".
"Sudah, jangan dipikirkan, anggap saja kita ini pakai jalur VIP", jawab Ryoto cuek sembari menyeruput minumannya. "Kita beruntung tidak perlu menunggu lama, filmnya akan dimulai 10 menit lagi".
"Film apa? Queensgirl?".
"Yaah...pokoknya film yang lagi nge-hits...".
.
.
.
Ini perangkap.
Kalimat itu langsung terlintas di kepala Tessho ketika judul film yang mereka tonton muncul di layar lebar didepannya.
INCIDIYUZ 5.
Tidak lupa dengan efek suara yang hampir membuat jantungnya copot.
Tessho yang mati-matian menahan suaranya langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Ryoto.
Suaranya setengah berbisik,"Ryotooo! Apa-apaan ini! Kau bilang tidak akan beli tiket film horror kan!". Tangan Tessho yang mencengkram lengan kiri Ryoto sedikit gemetar.
"Maaf Tessho, tiket Queensgirl habis, hanya ini yang tersisa", bohong, perbuatannya menyerobot antrian tadi bisa memberikannya kursi barisan E nomor 11 dan 10 di studio 1, alias studio yang menayangkan Queensgirl.
"Aaarrghhh...Tapi kenapa ini? Aku lebih memilih nonton Waw the Sheep daripada ini!".
"Kan aku bilang tiketnya habis. Sudah Tessho, nikmati saja film ini, kalau takut, kau boleh memelukku kapan saja".
"Tidak akan! Lebih baik aku peluk singa buas daripada memelukmu!". Tessho kembali ke posisinya semula, dengan kedua tangannya menutupi wajah, dan celah-celah jari yang terbuka supaya dia bisa mengintip film tanpa melihat keseluruhannya.
"Buuuu...Tessho tidak seru ah".
"Berisik!".
.
.
.
Tiba-tiba layar tersebut menampilkan hantu wanita tua yang merangkak-rangkak di langit-langit , mengejar tiga tokoh perempuan dengan kecepatan tinggi. Seisi bioskop, khususnya para wanita, menjerit ketakutan.
Tessho tanpa sadar langsung menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, melupakan dua keranjang popcorn yang kosong berjatuhan di karpet studio.
"Hantunya sudah pergi Tessho, tuh lihat". Ryoto menunjuk layar sambil mengunyah popcorn.
"Ugh...", Tessho mengintip di balik jemarinya, benar, adegannya sudah berganti dengan adegan salah satu wanita tadi yang pingsan dan penuh luka akibat dikejar si hantu. Tapi tentu saja adegan seram tadi masih berlanjut.
Tiba-tiba ada sesuatu yang hangat menggenggam tangan Tessho.
Kaget, Tessho langsung menghadap Ryoto sedang terkekeh.
"Ada apa? Bergenggaman tangan akan mengurangi ketakutanmu".
Belum sempat Tessho protes, efek suara yang bisa membuat darah berhenti kembali muncul.
Otomatis Tessho memejamkan mata dan menggenggam kuat tangan Ryoto.
"Oi oi Tessho, genggamanmu kuat sekali".
Tessho yang menyadari tindakannya langsung melepaskan tangannya. Wajahnya memerah. "Ma-maafkan aku! Yang tadi tidak sengaja!", ucapnya berbisik.
"Sengaja juga tidak apa-apa, kau takut sekali ya? Hahahaha".
"Kau pikir ini salah siapa?!".
"Sshh...di dalam studio tidak boleh berisik Tessho".
Kalau ada tongkat baseball disini, mungkin Tessho akan menambahkan paku pada ujungnya dan mengayunkannya dengan indah ke arah Ryoto.
.
.
.
Adegan-adegan klimaks yang menyeramkan sudah mulai terlihat. Seisi studio diwarnai oleh jeritan-jeritan wanita dan juga pria.
Walapun seram, kau harus bertahan Tessho! Sedikit lagi filmnya pasti selesai!
Ya, walaupun terdengar menyedihkan, tapi dokter berbakat kesayangan kita,Tessho, sedang menyemangati diri sendiri.
Pertahanan Tessho sudah mencapai batasnya saat si hantu menampakkan wajah secara tiba-tiba dan kembali mengejar tokoh utama.
Reflek, Tessho menyembunyikan wajahnya di lengan seniornya. Mungkin kata malu atau gengsi sedang menghilang di kepala Tessho saat itu.
Ryoto hanya melirik dokter muda tersebut dan tertawa kecil. Tangannya yang besar dan hangat mengelus kepala Tessho. Selama adegan klimaks, diam-diam dia menikmati kelembutan helaian rambut Tessho satu persatu. Tidak selembut rambut wanita, tapi cukup lembut untuk ukuran pria yang berambut jabrik seperti singa.
Fuh...langka sekali kesempatan seperti ini. Mungkin aku harus membawanya nonton film horror lagi.
Tanpa mereka sadari, nama-nama pemain film muncul dengan perlahan di dalam layar. Lampu studio pun kembali menerangi ruangan. Para pengunjung pun satu persatu menuruni tangga dan berjalan menuju pintu keluar. Wajah-wajah sembab dan pucat terlihat dimana-mana. Ada pula pasangan yang masih berpelukan, entah karena efek ketakutan dari film tadi atau bukan. Ada pula segerombol anak muda yang tertawa-tawa dan mengatakan kalau film tadi tidak menakutkan sama sekali. Padahal beberapa diantara mereka hampir saja ngompol.
Ryoto mengecek handphonenya. Ada beberapa email dan sms yang belum dia buka. Dia melihat jam di layar handphone, mengunci layar dan memasukkannya kembali ke saku.
"Tessho, ternyata sudah jam 7 malam, filmnya lama juga ya, kamu lapar tidak?".
Hening.
"Tessho?".
Tidak ada jawaban.
"Ah...anak ini...tidur atau pingsan?".
Author's note : ahhh terima kasih atas review-reviewnya! Maafkan author karena updatenya super lelet, makasih banget kalo masih ada yang nunggu dan baca, author sangat bersyukur! 8'D btw film film di atas itu pledetan semua, ada yang bisa tebak itu film apa aja? 8D gomong-ngomong ada ide lanjutannya gimana? Tessho ketiduran atau pingsan ya? hehehe~~ mohon kritik dan saran! terima kasih sudah membaca!
